June 25, 2016

Dear My Friend Episode 9 - 1

Episode 9: Bukankah Hidup Ini Sangat Indah?


Wan bertanya pada Nan Hee kenapa dulu Nan Hee berniat untuk membunuhnya saat dia berumur 6 tahun. Dalam flashback, Wan kecil tampak meminum yogurt dengan menatap takut-takut pada Nan Hee dan tampak ada sebuah botol racun di dekat mereka. Wan kecil pingsan dan muntah darah lalu ayahnya berlari menggendongnya dengan panik.


Nan Hee shock dan gemetaran mendengar pertanyaan Wan. Tapi kemudian, dia agak tergagap dia berpura-pura mengklaim tak pernah ada kejadian seperti yang Wan maksud dan menuduh Wan sudah gila lalu cepat-cepat mengalihkan topik kembali membahas hubungan Wan dengan Dong Jin.

June 23, 2016

Dear My Friends Episode 8 - 2


Nan Hee pergi ke rumah Wan dan lagi-lagi dia tak bisa langsung masuk rumah karena Wan mengganti password rumahnya. Wan kemudian membukakan pintu untuk Nan Hee dan setelah itu dian langsung masuk ke kamar mandi, untuk membasahi rambutnya. Melihat apa yang Wan lakukan, Nan Hee pun bisa menebak kalau Wan habis minum-minum. Dia lalu menyuruh Wan mandi agar kepalanya kembali fresh. Namun Wan tak mau, karena dia sudah melakukan hal tersebut tapi tubuhnya masih lemas dan pikirannya kacau. 


Wan terus teringang pada ucapan Nan Hee yang melarangnya menikah dengan dua jenis pria, yang pertama pria beristri dan yang kedua pria cacat. Dia juga teringat kembali pada saat Yeon Ha kecelakaan dan ucapannya yang berkata,” Wan, aku mencintaimu selamanya. Tak perlu kesepian, ada aku.”

Ternyata yang membuat Wan frustasi seperti itu adalah harus memilih antara Ibu atau Yeon Ha dan Wan tidak bisa memilih salah satunya.  


“Kau butuh apa supaya bangun?” tanya Nan Hee.

“Rokok. Aku kehabisan, ibu mau belikan?” jawab Wan dan Nan Hee shock mengetahui kalau selama ini Wan sering merokok. Namun, walaupun tak setuju dan tak suka Wan merokok, Nan Hee tetap pergi ke supermarket dan membelikan rokok untuk Wan.


Setelah mendapat rokok dari Nan Hee, Wan pun langsung menyalakannya dan merokok. Selesai merokok, Wan mengambil air putih tapi ketika dia sedang minum air putih, Nan Hee tiba-tiba mengambil gelas yang Wan pakai dan melemparnya ke lantai. Dengan penuh emosi, Nan Hee juga memukuli Wan dan memakinya. Nan Hee emosi karena Wan merokok dan berselingkuh dengan suami orang. 


Tepat disaat itu ponsel Wan berdering dan terjatuh sehingga tanpa sengaja menerima panggilan tersebut. Orang yang ada di seberang sana pun mendengar Wan sedang diamuk ibunya. Puas mengamuk, Nan Hee pun langsung pergi.


Ternyata yang menelpon Wan adalah Yeon Ha. Dia terlihat sedih mendengar apa yang terjadi pada Wan. Tak lama kemudian teman baru Yeon Ha keluar dan membawakan minum untuknya. Dia bertanya kenapa Yeon Ha tak jadi menelpon Wan, padahal sebelumnya Yeon Ha berkata ingin membuat Wan cemburu. 

“Dia sedang ada masalah,” jawab Yeon Ha.

“Kalau begitu hibur dia,” sarannya dan Yeon Ha menjawab tak bisa karena jarak mereka yang jauh. Yeon Ha kemudian meneruskan olahraga, tapi baru beberapa kali angkat barbel, Yeon Ha menyudahinya.

Kita kembali pada Wan yang langsung berdiri dan minum air putih. 

Young Won sedang dalam perjalanan menuju suatu tempat, dia mengendarai mobilnya sendiri. 


Nan Hee pergi ke supermarket dan membeli beberapa soju. Si penjaga supermarket adalah pria yang sebelumnya pernah Nan Hee sapa, tapi karena malam itu, Nan Hee sedang tidak mood, jadi dia tak melihat ke arah si pria penjaga supermarket. Tapi ketika si penjaga memberikan tambahan obat pereda mabuk secara gratis, Nan Hee langsung menoleh ke arahnya. 

“Minum ini dulu,” pesan si penjaga, namun Nan Hee tak menjawab, dia langsung pergi.


Young Won pergi ke rumah Nan Hee dan dia menemukan Nan Hee sedang minum soju di kamarnya. “Kau, mengerti bahwa bagiku wanita yang, menggoda suami orang adalah rubah betina, kan? Aku, Bahkan menyumpahimu gara-gara, Wanita yang selingkuh dengan suamiku... Juga karena kau memacari suami orang. Semua selingkuhan suami orang adalah rubah betina. Semuanya! Tapi aku tidak bisa menyebut anakku sendiri begitu. Karena itu aku memanggilmu. Aku, harus bagaimana dengan Wan? Apa yang harus kulakukan padanya? Harus bagaimana?” ucap Nan Hee frustasi dan menangis. 


Hee Jaa menelpon Jung A dan protes karena Jung A tak mau hidup bersama dengannya. Jung A tetap pada pendiriannya untuk tidak tinggal bersama Hee Ja, karena menurutnya mereka berdua tidak akan pernah bisa akur jika tinggal bersama. 


Setelah menutup telepon dari Jung A yang membuatnya kecewa, Hee Ja kemudian menelpon Sung Jae dan mengajak Sung Jae jalan-jalan. Tentu saja hal itu membuat Sung Jae senang sampai-sampai dia langsung menari kegirangan setelah menutup telepon dari Hee Ja. 

Sung Jae kemudian mengirim sms pada Choong Nam, dia mengucapkan terima kasih karena Choong Nam sudah membujuk Hee Ja untuk mau jalan-jalan dengannya. Sung Jae tidak tahu kalau Hee Ja menerima ajakannya bukan karena bujukan dari Choong Nam, melainkan karena Hee Ja sedang merasa stres gara-gara di tolak Jung A. 


Menerima sms seperti itu, Choong Nam pun langsung menelpon Hee Ja dan bertanya Hee Ja lebih memilih Sung Jae atau Choong Nam. Tentu saja Hee Ja memilih Choong Nam. 

“Kalau begitu jangan pergi. Kita bisa terlibat cinta segitiga. Karena aku menyukai Seong Jae Oppa,” ucap Choong Nam dan Hee Ja pun mengerti. Hee Ja kemudian hendak curhat tentang Jung A, tapi Choong Nam sedang sibuk belajar, jadi dia pun langsung menutup teleponnya. 


Tepat disaat itu, Choong Nam mendapat kiriman guci dari Prof. Park. Melihat itu kedua ponakannya langsung meminta Choong Nam untuk tidak menerimanya, tapi Choong Nam tetap ingin menerimanya, karena dia sangat menyukai guci itu lebih dari dia menyukai teman-temannya. 


Karena Choong Nam tak mau mendengarkan curhatannya, Hee Ja pun menelpon Gi Ja dan menceritakan tentang penolakan Jung A. Tapi bukannya memberi saran atas curhatan Hee Ja, Gi Ja malah lebih penasaran dengan berapa uang yang sudah Hee Ja berikan pada Jung A, karena kemarin Hee Ja sudah memberikan uang pada dirinya sebesar 1 juta. 


Hee Ja kemudian menelpon Min Ho dan yang mengangkat istrinya. Istri Min Ho membohonginya dengan mengatakan kalau Min Ho sudah tidur, padahal Min Ho sedang makan di sampingnya. Tak bisa berbicara dengan Min Ho, Hee Ja pun mencoba berbicara dengan teman yang lain, tapi tak ada yang bisa mendengarkan curhatannya. Hanya nama Jung A yang muncul ketika dia sedang merasa seperti itu, tapi dia tak mau menghubungi Jung A.

Hee Ja lalu mengirim sms pada Sung Jae yang berisi, “Aku tidak jadi jalan-jalan. Choong Nam lebih berharga dari pada dirimu.”

Membaca sms Hee Ja tentu saja membuat Sung Jae bingung, dia bingung kenapa Hee Ja bisa dengan cepat berubah pikiran seperti itu. Sung Jae berusaha menghubungi Hee Ja untuk bertanya tapi tak diangkat, dia juga mencoba menghubungi Choong Nam dan tak diangkat juga.


Kita beralih lagi pada Young Won dan Nan Hee yang sekarang sudah bersiap tidur. Nan Hee kembali mengeluh kalau hidupnya sangat menyedihkan, mendengar itu, Young Won berkata kalau Nan Hee tak pantas mengatakan hal tersebut di depan orang yang menderita kanker. 

“Kapanku kau berpikir hidupmu menyedihkan. Pikirkan saja aku. Aku punya kanker. Betapapun beratnya hidupmu, masih lebih baik daripada penderita kanker sepertiku. Aku punya kanker. Ada hikmahnya, aku sakit kanker. Semua orang di dunia ini, memiliki keberanian setelah melihatku. Aigoo, setidaknya aku lebih baik daripada artis itu. Dia bercerai, nikah lagi, dan cerai lagi. Lalu sekarang dia kena kanker. Lihatlah di internet, katanya aku beruntung. Saat aku berjuang melawan kanker, orang-orang menulis postingan. Dan mereka menge-like dan postingan itu,” aku Young Won. 

“Aigoo. Kau senang dikatakan beruntung? Menurutku kau tidak beruntung sama sekali,” jawab Nan Hee dan Young Won tertawa senang. Dia pun menyuruh Nan Hee ikut tersenyum karena Nan Hee tak punya kanker. Nan Hee pun mulai menyunggingkan senyumannya. 


“Kau minum hari ini?” tanya Nan Hee. 

“Sedikit.”

“Aku memberi alkohol pada penderita kanker.”

“Dasar jahat.”

Kupikir, Wan tidak akan melakukan hal seperti itu. Kupikir aku sudah mendidiknya dengan benar,” ucap Nan Hee kemudian. 

“Itu bukan hal yang bisa diajari. Kau pikir ibuku menyuruhku, menggoda suami orang karena aku melakukannya? Tak henti-hentinya dia bilang, untuk menikahi pria single. Kau jadi janda seperti ini... karena diajari oleh ibumu? Seperti apapun kau mendidik anakmu, hidup ini tidak akan bis kita kendalikan. Wan hanya harus, berhenti merokok dan berhenti menemuinya.”

“Operasi kanker itu, membuatmu jadi fisolofis,” koment Nan Hee dan Young Won pun mengajaknya tidur. Mereka tidur sambil menyanyikan lagu pengantar tidur. 


Di rumah, Wan mulai merapikan rumahnya dan setelah rumahnya rapi, dia mulai bersiap menulis novel tentang cerita ibu dan teman-temannya. Kisah pertama yang akan Wan tulis adalah tentang Nan Hee. 


Jam menunjukkan pukul 2 pagi, tapi Hee Ja belum bisa tidur. Dia kemudian menelpon anak sulungnya, namun nomornya sudah tak aktif. Hee Ja lalu menelpon Jung A dan bertanya Jung A sedang apa, tentu saja Jung A menjawab kalau dia sedang tidur. 

“Mau kututup?” ucap Hee Ja dan Jung A menyuruhnya bicara. “Kenapa tidak mematikan telpon? Takut kalau Soon Young menelpon?” tanya Hee Ja lagi. 

“Mereka hanya menelpon saat butuh sesuatu. Siang saja tidak menelpon, apalagi malam?” jawab Jung A. 

“Matikan telponmu. Aku mengganggumu, kan?”

“Kubiarkan hidup supaya bisa menjawab telponmu.”

“Telponku?” tanya Hee Ja tak mengerti. 

“Kau sendirian. Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Kau marah karena aku tidak mau tinggal bersamamu? Hee Ja. Aku hanya ingin sendirian, sepi dan tenang. Kita masih bisa bertemu meski tidak bersama. Dan masih bisa membantu saat ada masalah. Kita tidak perlu tinggal bersama.”

“Iya. Meski tidak bersama, kau selalu bersamaku. Iya, kan? Seperti sekarang,” ucap Hee Ja dan Jung A membenarkan. Hee Ja merasa lega dan senang, dia bahkan mendukung keputusan Jung A untuk pergi dari Suk Kyun. Jung A pun menyuruh Hee Ja cepat tidur agar terhindar dari dimensia. 


Telepon di matikan dan tak ada hitungan menit, Hee Ja kembali menelpon Jung A dan menceritakan tentang Choong Nam yang mengaku suka pada Sung Jae. Sebagai teman yang baik, Hee Ja pun lebih memilih Choong Nam dan membatalkan janji jalan-jalan dengan Sung Jae. 

Wan sudah berada di mobilnya dan perjalanan menuju suatu tempat. Nan Hee membaca catatan kecil dari Young Won yang pamit pergi syuting, Young Won juga mengungkapkan rasa senangnya bisa tidur bersama Nan Hee seperti dulu. Ternyata Wan pergi ke rumah Nan Hee dan saat melihat Wan, Nan Hee langsung masuk ke kamar tanpa berkata sepatah katapun. 


Wan membuka laptopnya dan beberapa bukunya di meja. Tak lama kemudian Nan Hee keluar kamar dengan mengenakan jaket dan bersiap pergi keluar.

“Kau sudah putus dengan Dong Jin?” tanya Nan Hee.

“Tidak perlu melakukan itu.”

“Bukannya memilih Yeon Ha, Kenapa memilih Dong Jin?” tanya Nan Hee lagi, tapi Wan enggan menjawabnya, dia memberitahu sang ibu kalau tujuan dia datang adalah untuk mewawancarai ibunya. 


“Keinginan ibu, kan? Menulis buku. Tentang ibu dan teman-teman ibu. jadi aku mau wawancara,” ucap Wan dan Nan Hee masih penasaran kenapa Wan putus dengan Yeon Ha, padahal sejauh yang Nan Hee tahu, Wan sangat menyukai Yeon Ha. 

Lagi-lagi Wan enggan membahas hal tersebut, dia ingin memulai wawancaranya jadi dia bertanya darimana cerita tentang Nan Hee dimulai. “Mulai ibu lahir atau aku lahir? Tidak... mungkin dari yang ibu ingat? Bagaimana?”

“Kalian pacaran, kan? Dari yang kulihat, kalian seperti kekasih. Kenapa kau putus dengannya? Dia tidak selingkuh, kan? Apa dia selingkuh seperti Dong Jin?” tanya Nan Hee yang masih penasaran dengan Yeon Ha. 


“Dia lumpuh,” jawab Wan akhirnya dan membuat Nan Hee kaget. “Ibu melarangku menikahi orang cacat. Karena itulah kami putus. Tidak, aku membuangnya. Karena aku mendengarkan ibu,” aku Wan dan ingin memulai wawancaranya. 


“Lalu bagaimana? Mulai dari ibu... kerumah nenek saat aku umur 6 tahun. Ingat, kan? Aku ingat dengan jelas. Ibu, kenapa ibu ingin membunuhku? Di sawah,” tanya Wan dan Nan Hee terdiam mendengar pertanyaan itu.

Apa yang akan Nan Hee jawab? Apa yang sebenarnya membuat Nan Hee melakukan semua itu? Tunggu jawabannya di episode 9 ya...

Bersambung ke sinopsis Dear My Friends Episode 9


June 22, 2016

Jackpot Episode 22 - 2


Para pemberontak anak buahnya In Jwa bersorak gembira atas kemenangan mereka menguasai benteng yang lain. Sekarang tekad dan semangat juang In Jwa semakin kuat "Raja, tunggu saja. Aku akan segera menjejakkan kaki ke tanah Hanyang"

Dear My Friends Episode 8 - 1


Nan Hee shock melihat Dong Jin mencium kening Wan dan kemudian memeluknya. Setelah membuktikan sendiri kalau Wan berselingkuh dengan pria beristri, Nan Hee pun berjalan pergi dengan lemas. Dia tidak tahu kalau malam ini Wan dan Dong Jin sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Beralih pada Dong Jin yang bertanya mereka harus bagaimana lagi? Karena diantara mereka sekarang sudah terlihat canggung, Wan pun menjawab kalau mereka harus pulang dan Dong Jin setuju. 


Wan memutuskan pulang duluan dan sebelum keluar dari ruangan, Wan kembali berbalik dan berkata, “Selamat tinggal, cinta pertama.”

“Pergilah ke Yeon Ha, jangan berkeliaran,” pesan Dong Jin dan Wan menjawab kalau Yeon Ha sudah punya cinta baru. Setelah Wan pergi, Dong Jin menelpon seseorang dan mengajaknya minum bersama.



Dalam perjalanan pulang, Wan melewati jalan yang terdapat banyak pohon sakura dan tepat disaat itu bunga sakuranya mulai berguguran. Bunga-bunga sakura yang berguguran merupakan pemandangan yang indah dan Wan membagi pemandangan itu dengan Yeon Ha melalui video call. Tentu saja Yeon Ha senang melihatnya. Wan dan Yeon Ha masih saling mencintai satu sama lain.


Paginya, Nan Hee tak nafsu makan karena kepikiran dengan apa yang sudah Wan lakukan. Nan Hee kemudian pergi ke kantor Dong Jin, dimana saat itu kantor Dong Jin sedang sangat sibuk karena mereka sedang mengejar deadline. Tapi karena yang datang adalah Nan Hee, Dong Jin pun meluangkan waktunya untuk berbicara dengan Nan Hee. Sebelum bicara, Nan Hee minta dibuatkan kopi. 


Dong Jin membawa Nan Hee keruangannya dan disana, Nan Hee melihat foto Dong Jin bersama keluarganya. Karena ruangan Dong Jin sedang sangat berantakan, Dong Jin pun mengajak Nan Hee pindah ke ruang rapat saja. 


Baru keluar ruangan Dong Jin, Nan Hee di beri kopi oleh pegawai Dong Jin dan ketika Dong Jin berbalik ke arah Nan Hee, dia langsung disiram dengan kopi panas oleh Nan Hee.  Bukan hanya menyiram Dong Jin dengan kopi panas, Nan Hee juga memaki dan memukuli Dong Jin karena sudah menggoda Wan. Melihat itu, tentu saja semua pegawai Dong Jin langsung berusaha menyelamatkan bos mereka dari amukan Nan Hee.


Wan sendiri, sekarang sedang berada di toko buku, dia membeli banyak buku dan ketika dia membawa buku-buku tersebut ke kasir, ponselnya berdering. Wan pun kesulitan mengambil ponsel. Ketika dia bisa menjawab teleponnya, orang yang menelpon sudah mengakhiri panggilannya. Orang yang menelpon Wan adalah Hye Min. Namun Wan tak menelpon balik karena dia memang sedang sibuk, dia harus membayar buku-buku yang dia beli. Ketika Wan sudah berada di depan kasir, ponsel kembali berdering dan Wan membiarkannya karena dia tak bisa mengambil ponselnya.


Hye Min adalah salah satu pegawai Dong Jin, karena Wan tak mengangkat telpon, Hye Min pun memutuskan kembali masuk kantor. Di tangga Hye Min berpapasan dengan rekan kerjanya yang bertanya tentang keberadaan Dong Jin. Hye Min pun menjawab kalau Dong Jin sekarang berada di rumah sakit dan ingin sendiri. 


Dalam perjalanan pulang, Nan Hee menelpon Choong Nam dan memberitahunya kalau dia sudah memberi pelajaran pada Dong Jin. Tepat disaat itu, Choong Nam melihat Sung Jae yang mengacungkan bunga padanya. Sung Jae sudah menunggu Choong Nam di sebuah cafe dengan membawa bunga untuk Choong Nam. 


Namun Choong Nam harus merasa kecewa di saat dia mendengar Sung Jae berencana liburan dengan Hee Jaa dan yang lebih parahnya lagi, Sung Jae meminta bantuan Choong Nam.

“Liburan? Pergi dengan Hee Ja unni bukan aku?” tanya Choong Nam kecewa.

“Kenapa juga aku liburan denganmu?” tanya Sung Jae tak mengerti dan Choong Nam pun langsung menolak permintaan Sung Jae. Dia tak mau membantu Sung Jae dengan alasan kalau dia sebentar lagi akan menghadapi ujian. 

“Kenapa jadi marah? Apa hubungannya ujianmu dengan liburanku?” tanya Sung Jae tak mengerti.

“Tentu saja ada, soalnya aku suka oppa,” aku Choong Nam dan Sung Jae menanggapinya dengan tertawa lucu. 

“Aigoo, aku sudah mengenalmu... sejak kau masih suka lari-lari sambil telanjang,” ucap Sung Jae dan Choong Nam tak ingin membahas hal itu. Dia meyakinkan Sung Jae kalau dia serius dengan apa yang dia katakan tadi. Choong Nam kemudian secara blak-blakan bertanya apa Sung Jae tak suka dengan dirinya karena  dia bodoh, seperti dua pria yang datang menghampiri mereka. Salah satu pria yang datang adalah Prof. Park. Dia datang membawa guci untuk di jual pada Choong Nam.


Prof. Park minta maaf pada Choong Nam tentang apa yang mereka lakukan sebelumnya. Namun mereka minta maaf di situasi yang salah, bukannya memaafkan Choong Nam malah marah-marah pada mereka berdua. 

“Kalian tahu sebodoh apa aku, kan? Kalau begitu beritahu yang jelas. Harusnya kalian bilang rumah putih, jangan Casa Blanca, aku jadi bingung. Kalian berlagak dan merendahkanku...menganggapku bodoh? Dimana kalian belajar itu?” ucap Choong Nam kesal.

“Tidak perlu marah,” pinta Prof. Park.

“Di depan muridmu sok jadi profesor, tapi di depanku tidak,” jawab Choong Nam dan prof. Park jadi kesal. 

“Kau sendiri bagaimana? Perlakuanmu buruk karena umur kami dibawahmu. Selalu menyuruh ini itu. Itu tidak keterlaluan namanya?” ungkap prof. Park kesal.

“Iya, aku memang kasar. Tapi kalian beda denganku, kalian ini profesor,” balas Choong Nam dan prof. Park langsung pergi dengan membawa guci-nya. Si murid pun ikut pergi bersamanya. 


Choong Nam langsung minum untuk meredakan emosinya, Sung Jae juga berusaha menenangkan Choong Nam dengan berkata kalau mereka bukan anak-anak, mereka itu profesor. Dia juga menasehati Choong Nam untuk tidak menyuruh-nyuruh profesor itu, karena itu kasar. 

“Aku tahu kau bodoh, kau juga kekanak-kanakan?” tambah Sung Jae.

“Kenapa tak suka padaku?” tanya Choong Nam dan masih berdiri. Sung Jae menyuruhnya duduk, tapi Choong Nam tak mau, dia malah balik menyuruh agar Sung Jae yang berdiri. Sung Jae pun berdiri dan berkata kalau dia menyukai Hee Ja, sedangkan Choong Nam sudah dianggapnya sebagai adik. Sung Jae sepertinya masih tidak percaya kalau Choong Nam benar-benar menyukai dirinya, jadi dia tetap meminta bantuan Choong Nam untuk mendekatkan dirinya dengan Hee Ja. 


“Oppa protagonis dan aku pemeran sampingan? Dulu aku sering mengantar suratmu pada Hee Ja unni. Sekarang juga begitu... Apa aku pesuruh? Jangan meremehkanku. Aku protagonis dalam hidupku. Beraninya minta bantuanku?” ucap Choong Nam dan pergi, tapi sebelum pergi dia mengambil bunga yang Sung Jae bawa. LOL

“Dasar kepala batu. Awalnya tidak apa-apa. Kerasukan apa dia?Dia sudah gila?” keluh Sung Jae melihat tingkah Choong Nam. Sung Jae kemudian menelpon Young Won dan menceritakan apa yang terjadi. Young Won pun menanggapinya dengan tertawa dan berkomentar kalau Sung Jae adalah pria yang beruntung karena punya dua pacar. Sung Jae lalu bertanya kenapa Choong Nam bersikap seperti itu padanya dan Young Won mengaku tidak tahu kenapa. 


“Kalau oppa menggangguku terus, nanti aku ikutan suka padamu,” ucap Young Won dan menutup teleponnya.

“Aku sudah terlalu tua untuk menerima perhatian sebanyak ini,” gumam Sung Jae karena merasa banyak wanita yang menyukai dirinya.

Young Won kemudian berbicara dengan Choong Nam di telpon. Choong Nam mengaku kalau dia tak menginginkan Sung Jae lagi, namun dia tak akan mau melepaskannya. “Akan kupastikan bukan Cuma aku yang kena. Jeong A unni, Hee Ja unni, Nan Hee dan kau. Kalian akan kubawa,” janji Choong Nam karena seumur hidupnya, baru kali ini dia mendapatkan kesempatan. 

“Kejam sekali. Bagaimana kalau Hee Ja unni pingsan? Bagaimana?” tanya Young Won. 

“Pasti lucu, panggil ambulan saja,” jawab Choong Nam dan tepat di saat itu dia melihat anak yang ikut les bersama dengannya, jadi Choong Nam langsung menutup telepon dan membujuk anak itu agar memperlihatkan PR mereka. Awalnya anak-anak itu tak mau memberikan PR mereka, tapi karena Choong Nam janji akan membelikan 2 hamburger, mereka pun bersedia memberikan PR mereka. 

Young Won menelpon lagi, tapi tak diangkat oleh Choong Nam. “Boleh saja tak suka padaku. Tapi kenapa harus Hee Ja unni? Menyebalkan,” keluh Choong Nam dan melanjutkan jalannya. 


Karena sudah tak bisa diberitahu lagi, Young Won pun tak mau ambil pusing, dia membiarkan Choong Nam melakukan apapun yang dia suka, toh hidup mereka sudah tidak akan lama lagi. Tepat disaat itu, Young Won mendapat kiriman bunga. Melihat nama si pengirim, Young Won menghela nafas dan bergumam, “Aku lebih senang melihat wajahmu...bukan bunga darimu.”

Awalnya Young Won tak mau peduli dengan bunga itu, tapi akhirnya dia ambil lagi dan minta vas bunga pada pegawainya. 


Wan sudah berada di rumah ketika dia mengangkat telepon dari Hye Min. Dia langsung shock ketika mendengar cerita dari Hye Min tentang apa yang sudah Nan Hee lakukan pada Dong Jin. Setelah menutup telepon dari Hye Min, Wan teringat kembali saat Nan Hee datang ke rumahnya dan berkata kalau semua yang Nan Hee lakukan, semua itu demi Wan. 


“Sampai kapan aku harus hidup seperti kemauan ibu?” tanya Wan dalam hati. Wan teringat kejadian ketika dia masih kecil, saat itu Wan kecil dibawa Nan Hee ke tempat yang sepi dan di sana Nan Hee memberikan susu pada Wan. Mengingat kejadian itu membuat Wan tak kuat menahannya, dia berusaha melupakan dengan melanjutkan pekerjaan. Tepat disaat itu, Nan Hee menelpon dan Wan menjawabnya dengan setengah hati. Terlihat rasa benci di wajahnya ketika berbicara dengan Nan Hee di telpon. 


Apa sebenarnya yang terjadi pada malam itu? Ternyata malam itu, Nan Hee sengaja memberikan susu basi pada Wan dan membuat Wan keracunan. Untungnya saja ayah Wan datang dan langsung membawa Wan ke rumah sakit. 

Malam itu sangat jelas di ingatanku, ..tapi aku tak pernah bertanya...kenapa ibu lakukan itu padaku. Haruskan kulakukan hal yang sama malam ini? Lalu pura-pura tak pernah terjadi apa-apa?” ucap Wan dalam hati.


Nan Hee sedang mencuci piring di kedainya, sambil mencuci dia terus mencaci Wan karena berani pacaran dengan pria beristri. Saking emosinya, Nan Hee sampai tak mendengar pegawainya sedang berbicara padanya.

“Tidak, aku tak bisa melakukannya.  Saatnya membuat segalanya jelas. Aku harus bilang pada ibu untuk tidak mencampuri hidupku.  Sekaranglah saatnya... untuk mengambil alih hidupku. Aku tidak akan lari. Aku harus berhenti pura-pura...seolah tak terjadi apa-apa,” ucap Wan dalam hati.

 [Seolah tak terjadi apa-apa]


Suk Kyun begitu senang ketika mendapat SMS dari Sun Young yang mengucapkan rasa terima kasih atas bantuan Suk Kyun yang memberi pelajaran pada Se Ho. Dia begitu bangga karena sudah melakukan tugasnya sebagai ayah dengan baik. Namun apa yang Suk Kyun lakukan, tak terlalu membuat Jung A senang,  karena dia pusing mendengar Suk Kyun yang terus-terusan membanggakan diri dan minta di bacakan terus isi SMS dari Sun Young. 


Tepat disaat itu, Choong Nam datang untuk bertemu dengan Jung A. Lagi-lagi Suk Kyun mengeluarkan ponselnya dan menyuruh Choong Nam membaca SMS dari Sun Young, tapi karena Choong Nam tak membawa kacamata, Suk Kyun pun tak jadi menunjukkan sms dari Sun Young. Sebelum berangkat kerja, Suk Kyun berpesan pada Jung A untuk memberitahu pada Choong Nam tentang sms Sun Young. 

Setelah Suk Kyun pergi, Choong Nam memberikan sertifikat yang sebelumnya Jung A berikan, dia memberitahu Jung A kalau bangunan itu ada penghuninya dan kalau mau di jual hanya 50 juta won. Jung A pun berkata kalau dia masih ada lagi yang bisa dijual dan langsung ke kamar untuk mencari sertifikatnya, namun tak ketemu.


Choong Nam masuk dan memberikan sertifikat yang Jung A cari. “Kemarin aku ke kantor pajak. Oppa punya 4 rumah. Semua atas nama adik-adiknya. Yang tersisa cuma bangunan atas nama unni itu... dan rumah atas nama oppa ini. Memangnya dia menikahi adik-adiknya? Dia tidak bilang pada unni, kan? Kalau unni mengizinkan, akan kusumpahi dia. Dia itu perampok,” ungkap Choong Nam dan Jung A pun meminta bantuan Choong Nam untuk mendapatkan 50 juta itu. 

“Soon Young sudah dapat uangnya, kan? Untuk apa uang itu?” tanya Choong Nam.

“Aku mau cari rumah,” jawab Jung A yakin dan kemudian mengajak Choong Nam ke rumah Hee Ja untuk membicarakan maslaah itu lebih lanjut, selain itu di rumah Hee Ja banyak makanan yang bisa mereka makan. 


Nan Hee kembali menelpon Wan dan bertanya apa dia sudah selesai bekerja? Namun Wan tak menjawab, dia meletakkan ponselnya di meja dan membiarkan Nan Hee berteriak memanggil. Sampai akhirnya Wan mau bicara juga.

“Sudah bicara dengan Dong Jin?” tanya Nan Hee dan Wan menjawab sudah. “Kalau begitu kita harus bicara.”

“Tentu saja,” jawab Wan datar.

“Kapan? Dimana?”

“Kapanpun, dimanapun.”

“Aku akan kesitu, tetap dirumah,” perintah Nan Hee dan menutup teleponnya. Di rumah, Wan terus minum sendiri walau hari masih pagi.


Nan Hee rupanya sedang berada di rumah orang tuanya, dia mencucikan baju ayah, ibu serta adiknya. Ketika Nan Hee tengah sibuk menjemur pakaian, Nyonya Oh mengomeli In Bong karena menyukai wanita yang tak cocok untuk dirinya. Dia tak setuju dengan pacar In Bong yang bernama Jacques itu, karena wanita itu adalah seorang janda.  Selain itu, yang membuat Nyonya Oh marah adalah karena tak ada yang mengurus ladang, sebab In Bong sibuk bermain dengan pacarnya. 


Kesal, karena terus-terusan dimarah, In Bong pun memilih pergi. Nan Hee kemudian memberitahu sang ibu untuk tak mempermasalahkan hubungan asmara In Bong, karena In Bong memang menyukai wanita itu, lagi pula wanita itu hanya menikah sebentar dan kabur karena suaminya melakukan kekerasan. 

“Ibu bilang dia wanita baik... dan bekerja di restoran dengan rajin. Umur 22 tidak terlalu muda. Aku yakin In Bong ingin menikah. Dia itu pipisnya jauh loh. Kenapa tak ingin dia menikah? Hah? Hah? Kenapa? Ibu merasa anak ibu dicuri? Karena itu?” tanya Nan Hee dan Nyonya Oh tak bisa menjawabnya. 


Nyonya Oh kemudian melihat suaminya melepas selang oksigen dan itu membuat Nyonya Oh marah. “Kenapa kau lepas, lagi? Kau membuatku gila. Kau ingin masuk UGD lagi? Kau ingat waktu itu... kita sampai habis 480.000 won? Musim dingin dan musim panas lalu juga begitu. Tiap musim selalu naik ambulan. Kalau tak suka pakai ini, mati saja! Kau hidup saja sudah menyiksa,” teriak Nyonya Oh pada suaminya. 

Melihat sang ayah di marahi seperti itu, tapi tetap tersenyum, membuat Nan Hee berkomentar kalau ayahnya adalah pria yang penyabar. Tanpa berkata sepatah katapun, Nyonya Oh langsung pergi dengan menggunakan traktornya. 


Nan Hee pun menghampiri sang ayah dan memberinya buah. “Ayah. Semoga hidup panjang. Meski tak nyaman, jangan dilepas. Nanti bisa sakit. Kalau ayah tiada, semangat ibu bisa turun. Ayah paham?” pesan Nan Hee pada sang ayah, tapi ntah sang ayah mengerti atau tidak dengan apa yang dia katakan. 


Nyonya Oh menyusul In Bong dan langsung bertanya berapa hutang Jacques? Dan In Bong menjawab 20 juta won. Namun Nyonya Oh tak bisa mendengar dengan jelas, dia mengira kalau In Bong menyebut 10 juta won. 

“20 juta! 20 juta!” teriak In Bong.


“Tidak masuk akal. Meski kau kujual pun takkan dapat 20 juta won. Bagimu dia lebih penting dibandingkan sawah, kan? Kau ini enaknya kuapakan?” keluh Nyonya Oh dan pergi.

“Kita bisa jual sawah! Bisa minta noona!” teriak In Bong. Hadeeeuh... wajar saja Nyonya Oh tak setuju. Tepat disaat itu, wanita yang bernama Jacques lewat dengan sepeda motornya.


Kita beralih pada Jung A yang mengaku pada teman-temannya kalau dia ingin bercerai dengan Suk Kyun. Tentu saja Hee Ja shock mendengarnya. 

“Umur segini mau cerai? Jambak saja rambutnya atau gigit tangannya. Datangi adik-adiknya dan minta kembali bangunannya,” saran Young Won. 

“Dia sudah membantu Soon Young? Kenapa harus cerai?” tanya Hee Ja. 

“Itu sudah tugasnya sebagai ayah. Tak ada hubungannya denganku,” jawab Jung A. Berbeda dengan Young Won dan Hee Ja yang membujuk Jung A untuk mengurungkan niatnya, Choong Nam mendukung keputusan Jung A. 

“Kalau unni cerai, kita semua sama. Janda mati ( Hee Ja) , janda cerai (Young Won), tidak menikah (Choong Nam), janda cerai ( Jung A)... Nan Hee janda mati.Pas,” ucap Choong Nam dan Jung A tertawa membenarkan pendapat Choong Nam.


Tetap ingin Jung A mengurungkan niat cerainya, Young Won pun mengajak Jung A piknik, agar setelah itu pikiran Jung A menjadi lebih baik. Namun Jung A langsung menolak dengan berkata kalau dia tidak ingin hidup yang lebih baik, dia hanya ingin hidup yang berubah. 

“Aku tak ingin seperti ibuku mati dulu baru bebas. Aku ingin hidup bebas seperti burung. Aku memutuskannya saat ibuku mati. Ibu bukan masalah rumah,” aku Jung A dan kemudian mengajak mereka semua makan. 


Jung A kemudian pergi ke dapur dan memberesi dapur Hee Ja yang berantakan. Ketika Jung A sibuk di dapur, Hee Ja berpendapat kalau sepertinya Jung A serius dengan apa yang dia katakan. Young Won pun membenarkan, kalau tekad Jung A untuk bercerai sudah bulat. 


“Itu sifat aslinya. Dia memang agak menjengkelkan,” ucap Choong Nam dan tepat disaat itu, telepon rumah Hee Ja berbunyi. Hee Ja pun langsung mengangkatnya dan ternyata itu telepon dari Sung Jae yang menelpon Hee Ja sambil masak. 

“Hee Ja. Makan buchimgae dan pikniklah denganku,” ajak Sung Jae dan Hee Ja langsung menutup telepon tanpa mengatakan sepatah katapun. 

Hee Ja kembali ke tempat duduknya dan berkata kalau dia sangat mengenal karakter Jung A yang kadang agak keras kepala. Namun Choong Nam langsung meralat kalau Jung A bukan agak keras kepala, tapi sangat keras kepala. 

“Iya, sangat keras kepala. Aku kenal dia, dia serius. Bagaimana kalau Suk Kyun tidak mau?” tanya Hee Ja.

“Tentu saja ke pengadilan, jadikan Sung Jae pengacaranya. Kau juga harus jadi saksi mata,” saran Choong Nam. Bingung, Hee Ja pun hendak menelpon Nan Hee, namun di cegah oleh Young Won dengan alasan kalau Nan Hee sekarang sedang susah juga. 

“Suaminya muncul di mimpinya lagi?” tanya Hee Ja yang tak tahu mengenai masalah Nan Hee. 

“Putrinya...,” ucap Choong Nam.

“Tutup mulutmu,” pinta Young Won. 

“Wan kenapa?” tanya Hee Ja penasaran dan Choong Nam menjawab kalau Wan berpacaran dengan pria yang tak seharusnya. 

“Nan He yang malang. Wan bagaimana? Jung A juga bagaimana?” tanya Hee Ja bingung.


“Dia tinggal cerai lalu tinggal dengan unni,” jawab Choong Nam. 

“Jung A tinggal denganku?”

“Belum pasti, cuma kemungkinan,” jawab Choong Nam dan Hee Ja merasa senang karena akan tinggal bersama Jung A. Mendengar itu, Choong Nam bergumam agar dia dan Hee Ja tidak bertemu lagi, karena dia merasa mereka berdua tidak nyambung saat berbicara. 

“Unni, sudah cukup. Suk Kyun oppa bagaimana?” tanya Young Won dan Jung A dengan senang menjawab kalau dia tetap pada keputusannya. Kalaupun Suk Kyun tak mau bercerai, dia akan tetap pisah rumah dan hidup seperti burung yang bebas. 


“Sepertinya Seok Gyun oppa yang akan merasa kehilangan,” gumam Young Won. “Unni, pokoknya aku sudah bilang...aku tidak setuju, mengerti?” ucap Young Won pada Jung A, tapi Jung A pura-pura tak dengar. 


Hee Ja menemui Jung A dan bertanya apa Jung A akan tinggal bersamanya setelah bercerai. Jung A pun menjawab tidak karena semuanya nanti akan jadi ribet. “Aku tak tahan hidup dengan suami yang kunikahi selama 50 tahun. Mana mungkin aku tinggal denganmu?” jawab Jung A dan menyuruh Hee Ja menyiapkan meja makannya. Namun Hee Ja enggan melakukannya, karena dia merasa kecewa Jung A tak mau tinggal bersamanya.


“Kalian semua pulang saja, aku tidak makan,” ucap Hee Ja dan membuat semua orang kaget. “Kau merasa hebat sebagai istri? Kau tersenyum dan pura-pura baik. Tapi semua orang kau tusuk dari belakang,” teriak Hee Ja pada Jung A. “Kau pura-pura patuh, tapi kau mengasah pisaumu. Semua saudara dan teman bilang kau baik, tapi aku tahu aslimu. Kau bukan wanita baik, kau seram, bermuka dua,” ungkap Hee Ja emosi dan masuk kamar. 


Mendengar pernyataan Hee Ja, Young Won dan Choong Nam jadi bertanya-tanya maksud perkataan Hee Ja yang mengatakan kalau Jung A bermuka dua. Jung A yang mendengar bisik-bisik mereka langsung menjawab kalau pernyataan Hee Ja benar. 

“Kita makan saja sendiri, makanannya enak,” ajak Jung A. Choong Nam dan Young Won pun langsung pergi ke dapur. 

Bersambung ke Dear My Friends episode 8 - 2