September 23, 2016

Shopping King Louis Episode 1 - 1


Shopping King Louis Episode 1 dibuka dengan kesibukan masyarakat Korea dengan segala aktifitasnya, namun walaupun begitu mereka tetap menyempat-nyempatkan diri untuk berbelanja online melalui gadget mereka masing-masing. Dengan berbelanja online, semua orang bisa berbelanja kapan saja dan di mana saja. Selain itu barang yang di beli juga akan di kirim pada si pembeli kapan saja dan dimanapun mereka mau. Inilah yang disebut era masyarakat konsumif, perilaku konsumtif yang tiada akhirnya membuat dunia berputar. 



Kita kemudian diperlihatkan pada seorang pria yang sedang berlari pagi dengan anjingnya dan ternyata dia adalah Lee Min Ho. Melihat jaket keren yang Lee Min Ho pakai di TV, orang-orang pun langsung berebut mencari barang serupa di online shop. 



Shopping King Louis Episode 1



Joong Won berjalan bersama staf-nya dan para staf-nya berpendapat kalau mereka tidak akan bisa memasarkan jaket Louis Ssaton karena semenjak di pakai oleh Lee Min Ho di dramanya, banyak yang sudah membuat dan membeli barang imitasinya. Dan salah orang yang membeli jaket KW-nya adalah Bok Nam, adik dari Bok Sil. Walaupun semua staf-nya merasa pesimis, Joong Won tetap optimis untuk menjual jaket Louis Ssaton yang mewah dengan harga mahal.


Di sebuah ruangan, kita melihat seorang pria memakai kacamata sedang fokus melihat-lihat jaket Louis Ssaton yang mewah dan mahal.

Kembali lagi pada Joong Won yang menjelaskan pada semua staf-nya kalau tepat pada tanggal 15 Agustus pada sore hari di Korea, di bagian produk merk ternama di website mereka, mereka hanya akan menjual 100 buah jaket Louis Ssaton Special Edition. Karena ini edisi terbatas, maka mereka akan memberi nomor punggung 1 sampai 100 di belakang jaketnya. 



“Nomor 1 akan dihargai 10 ribu dolar. Nomor 2 akan dihargai 9.900 dolar. Setiap nomornya bertambah, harganya akan berkurang 10 dolar. Nomor 100 akan dihargai 9 ribu dolar. Ini akan menjadi sistem pertama yang membedakan harganya. Setelah satu menit, orang-orang yang gila belanja akan berlomba-lomba untuk membeli jaket ini di website kita. Mereka semua ingin membeli nomor terendah dengan harga yang paling tinggi. Kenapa? Begitu jaketnya diberi nomor, itu akan jadi jaket satu-satunya di seluruh dunia. Itulah kekuatan dari edisi terbatas,” jelas Joong Won tentang strateginya  dan mereka sekarang sudah berada di ruang rapat, dia memperlihatkan kalau pada website pribadi mereka, terpampang waktu pembelian tinggal 29 detik lagi. Semua orang di seluruh penjuru dunia yang hobi berbelanja barang unlimited sedang menghitung waktu berbelanjanya di buka. Salah satu orang yang menunggunya adalah pria yang memakai kaca mata tadi. 



5, 4, 3, 2, 1.... semua orang mulai menekan kotak bertulisan beli dan setelah mereka semua diminta menunggu sejenak, layar gadget mereka bertuliskan, “TUAN LOUIS, TERIMA KASIH KARENA SUDAH MEMBELI NOMOR SATU.”


Ya, Pria bernama Louis yang mendapatkan jaket bertuliskan nomor 01 di punggungnya. Pria yang bernama Louis itu adalah pria yang berkaca mata tadi. Dia langsung berjoget kegirangan saat membaca layar komputernya yang menyatakan kalau dia yang mendapatkan jaket nomor 01-nya. 

“Aku terlalu bagus untuk memakai nomor dua. Iya Kan, Pak Kim?” tanya Louis pada Tuan Kim yang berdiri di belakangnya. Tuan Kim adalah pelayan Louis dan diapun memberi ucapan selamat pada Louis karena berhasil mendapatkan jaket 01. 


Berkat strategi penjualan Joong Won, jaket sebanyak 100 buah yang sebelumnya di rasa susah mendapat tanggapan di pasaran, sekarang langsung ludes dalam waktu 10 detik. Mereka pun sekarang jadi penasaran siapa sebenarnya orang yang berhasil mendapatkan jaket nomor 01. 



Mobil pengirim paket memasuki halaman sebuah rumah megah dan Tuan Kim yang menerima paketnya, ternyata itu adalah rumah Louis. Di dalam rumah, Louis sudah mempersiapkan ruangan khusus untuk barang-barang unlimited yang dia beli. 

Semua orang yang ikut membeli jaket sudah bisa menebak kalau orang yang mengalahkan mereka semua dan mendapatkan jaket dengan nomor punggung 01 adalah si “Raja Belanja”.


Ma Ri memberitahu rekan kerjanya, kalau yang mendapatkan jaket nomor 01 adalah si Rajanya Belanja, Louis. 


Pria bernama Louis itu pun sekarang sudah mengenakan jaket nomor 01-nya dan sampai sekarang dia masih asik berada di depan komputernya, dia masih membuka-buka website online shop, sampai Tuan Kim muncul dan memberitahu Louis kalau sudah waktunya sarapan. 


Louis pun beranjak dari tempat duduknya dan kemudian membuka kacamata. Apa yang terjadi? Ternyata mata si Louis sampai berubah jadi mata panda karena begadang berjam-jam di depan komputer. Ngantuk, Louis pun memberitahu Tuan Kim kalau dia ingin tidur sejenak, jadi dia akan makan siang nanti saja. 

Baru sempat membaringkan badan,  Tuan Kim langsung berkata kalau produk baru akan segera sampai di butik, jadi kalau Louis tak pergi ke butik sampai siang nanti, maka dia tidak akan mendapatkan kacamata yang sangat dia inginkan. Mendengar informasi itu, Louis langsung bangun dan berkata kalau mereka harus segera pergi.



Louis menyegarkan diri dengan berendam di bathtub dan kemudian dia memakai pakaian, jam dan kacamata bermerk miliknya. Merasa sudah “perfect”, Louis pun keluar kamar untuk sarapan. Melihat begitu banyak menu sarapan, Louis pun minta dibuatkan sandwich, namun Tuan Kim tidak mau memberikannya. Dia mengharuskan Louis sarapan nasi hari ini, karena itu adalah perintah dari Nyonya Choi. Mendengar nama Nyonya Choi, Louis pun tak bisa membantah. Dia dengan cepat memakan sarapannya, karena ingin buru-buru pergi ke butik. Louis tak mau kalau dia sampai kehabisan kacamata yang dia inginkan. 


Dengan mulut penuh, Louis menggerutu karena pelayannya memberikan dia nasi yang banyak, sehingga membuat Louis lama menghabiskannya. Selesai sarapan, Louis kemudian meminta kopi Panama Geisha, tapi Tuan Kim malah memberinya minuman herbal, agar Louis lebih semangat lagi di musim panas ini. Selain itu, Nyonya Choi yang melarang Louis untuk meminum kopi selama dua minggu ke depan. 


Baru memasukkan minuman ke dalam mulut saja Louis sudah memuntahkan, tentu saja dia tak mau menghabiskan minuman herbal yang diberikan Tuan Kim. Saking tak maunya, Louis sampai lari dan harus di kejar-kejar oleh Tuan Kim. LOL kayak ngejar anak kecil yang gak mau makan. Mereka berdua kejar-kejaran sampai ke luar rumah dan itu membuat keduanya sama-sama lelah. 


Merasa sangat lelah, Tuan Kim pun duduk sebentar dan melihat itu, Louis langsung menghampiri dan berkata kalau dia akan minum, tapi saat hendak meraih gelas minumannya, Louis langsung lari lagi. Dia tak sanggup meminum minuman herbal itu. Masih tak menyerah, Tuan Kim kembali mengejar Louis dan berkata kalau dia tak mau membawa Louis berbelanja kalau Louis tak mau menghabiskan minumannya. 



Mendengar ancaman itu, Louis pun protes. Dia berkata kalau hal itu tak adil. Karena berbelanja adalah hal yang sangat penting untuknya, jadi Louis pun menyerah, dia mau meminum minuman itu. Namun saat dia hendak menghampiri Tuan Kim, dia tersandung dan jatuh. Tuan Kim hendak menolong, tapi dia malah tersandung kakinya sendiri dan ikut terjatuh. Tuan Kim terjatuh tepat diatas Louis. Di tindih Tuan Kim, hidup Louis jadi terkena tanah dan berdarah.


Jung Ran dengan panik langsung membangunkan Nyonya Choi dan memberitahukan kalau hidung Louis berdarah. Mendapat kabar itu, Nyonya Choi langsung khawatir dan meminta Jung Ran untuk memanggil dr. Ko. Saat sendirian, Nyonya Choi mengambil foto Louis dan berkata kenapa Louis sampai bisa terluka. Nyonya Choi jadi sedih karena Louis terluka. Diapun menangis sambil menempelkan foto Louis ke pipinya. 


Hal aneh pun terjadi, foto Louis bergerak dan memperlihatkan ekspresi tak senang pada neneknya.


Hidung Louis sudah disumpal kapas untuk menyumbat darah yang keluar dan dia masih membahas untuk segera pergi ke butik, karena kalau tidak dia bisa kehabisan. Namun Tuan Kim tak mau, mereka harus menunggu sampai dr. Ko datang dulu.

“Aku bilang aku baik-baik saja. Kenapa kau menelpon Nenek dan ribut tentang hal ini?” keluh Louis dan Tuan Kim menyalahkan Louis sendiri, kalau saja Louis tak melarikan diri, kejadian ini tidak akan terjadi. Namun Louis tak mau disalahkan, karena Tuan Kim lah yang menimpa dia gara-gara minuman herbal itu. 

“Sudah jadi tugasku untuk mengikuti  perintah Nyonya Choi dan menjagamu. Aku hanya melakukan tugasku,” jawab Tuan Kim dan Louis berkomentar kalau Tuan Kim adalah orang yang keras kepala, karena itulah Tuan Kim masih sendiri sampai sekarang. 

“Tuan. Kau tidak boleh bilang begitu,” ucap Tuan Kim dengan ekspresi sedih dan mengikuti Louis jalan. “Aku mengabdikan masa mudaku untuk melayanimu. Aku terlalu sibuk mengikutimu, dan tahu-tahu aku sudah tua dan belum pernah berkencan dengan siapapun.”


“Aish bukan begitu. Aku tidak bisa punya teman atau kekasih karena kau selalu mengikutiku kemanapun. Saat kuliah, kau bahkan mengikutiku ke kantin dan toilet. Siapa yang ingin menjadi temanku? Aku diejek di sekolah. Mereka menyangka kalau aku ini anak mama,” keluh Louis dan Tuan Kim meminta Louis jangan berkata seperti itu. Dia mengaku kecewa mendengarnya. Melihat Tuan Kim seperti mau menangis, Louis pun langsung berkata kalau mereka harusnya bisa mendapatkan kacamata itu sekarang, agar mereka berdua merasa lega. Karena kalau mereka berdua terus berdebat, maka mereka hanya akan saling menyakiti satu sama lain. 

Louis kemudian membisikkan sesuatu pada Tuan Kim dan Tuan Kim menyetujui rencana yang Louis buat. 


Tuan Kim kemudian melakukan video call dengan Nyonya Choi dan mengadukan kalau Louis terus menangis. Tak tega melihat Louis menangis, Nyonya Choi pun bertanya apa yang bisa dia lakukan agar Louis berhenti menangis. Setelah mendengar pernyataan itu dari Nyonya Choi, Tuan Kim pun menutup teleponnya dan Louis berhenti menangis dalam selimut. Ya... mereka berdua hanya berakting agar mendapatkan persetujuan dari Nyonya Choi untuk pergi berbelanja. 


Mereka berdua pergi dengan mobil sport yang keren, tapi mobil itu jadi terasa tak keren karena Tuan Kim mengemudikannya dengan kecepatan 60 km/jam. Tuan Kim beralasan kalau dia memang harus berkendara dengan kecepatan yang aman. Louis ingin menggantikannya menyetir, namun Tuan Kim tak mengizinkannya, bahkan Tuan Kim melarang Louis menyetir selamanya. 


“AKu sudah bilang padamu jutaan kali. Kau tidak mengizinkanku menyetir, pergi berlibur... atau memakan makanan yang kuinginkan. Aku tidak boleh melakukan apapun. Kau benar-benar cerewet,” keluh Louis. 

“Kau yang membuatku jadi cerewet,” jawab Tuan Kim yang kemudian berkata kalau hal itu tak penting sekarang, yang terpenting sekarang adalah Louis akan pergi berbelanja. Louis membenarkan, tak ada hal yang lebih menyenangkan dari pada belanja bagi Louis. 



Mereka berdua tiba di butik dan semua perhiasan-perhiasan yang termahal dan terbaru langsung memanggil-manggil Louis. Tanpa pikir panjang, semua barang yang Louis suka langsung dibeli olehnya. Bahkan disaat dia bingung harus memilih daru dua barang, dia langsung membeli dua-duanya. Banyak barang yang Louis beli, mulai dari cincin, jam, kacamata, sabuk dan masih banyak lagi yang lain. Pokoknya yang Louis lihat berkilau, langsung dia beli. Selesai memilih, tiba-tiba sebuah syal melayang ke arahnya dan langsung dia tangkap. 


“Senang bertemu denganmu,” ucap Louis pada syal tersebut.


Waktunya membayar dan Louis disuguhkan segelas wine, namun saat Louis ingin meminumnya, Tuan Kim langsung memberi kode padanya untuk tidak minum. Tak mau cari masalah, Louis pun mengurungkan niatnya untuk minum wine.


Si pemilik toko kemudian memuji kepandaian Louis dalam memilih barang, karena semua barang yang Louis pilih adalah barang unlimited. Diapun bertanya apa rahasia Louis dalam hal memilih barang. 

“Kau pernah dengar "inframince"?” tanya Louis dan ketika dia hendak menjelaskannya, Tuan Kim langsung mengambil alih bicara. 

“Itu yang dikatakan Marcel Duchamp. Tn. Louis memiliki mata yang bisa membuatnya melihat perbedaan sekecil apapun diantara benda-benda,” ucap Tuan Kim dan Louis menambahkan kalau rahasia sebenarnya adalah... semua barang-barang itu seperti bicara padanya. Tuan Kim menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Louis. 



SI pemilik butik kemudian memberikan hadiah pada Louis dan menjadikannya rajanya belanja di butik miliknya. Hadiah itu berupa sepasangan pakaian dalam terbaik yang dibuat khusus untuk Louis, jadi hanya satu-satunya di dunia. Awalnya, Louis terliht tak terlalu tertarik pada pakaian dalam itu, tapi karena di pakaian dalam itu ada berliannya, jadi Louis pun menerimanya. 


Nyonya Kim datang ke perusahaannya dan tanpa dia tahu semua pegawainya mulai membicarakan tentang dirinya. Cerita hidup tentangnya mulai menjadi konsumsi publik, mulai dari kehilangan suami di usia 42 tahun dan kemudian kehilangan anak semata wayangnya berikut istrinya di usia 52 tahun. Jadi satu-satunya keluarga yang Nyonya Choi punya hanyalah Ji Sung. 

“Dia kadang mengunjungi Tuan Hong di Gunung Gyeryong. Seorang peramal yang hebat. Dia mendengar kalau... takdirnya sangat kuat dan itu membunuh keluarganya. Takdirnya memiliki banyak energi dari harimau putih atau apalah itu,” ucap Jae Sook pada teman-temannya dan dia menambahkan kalau karena alasan itulah, Nyonya Choi memilih hidup jauh dari Ji Sung. 


Mi Young dan temannya juga membicarakan hal yang sama. Mendengar kisah Nyonya Choi, Mi Young pun jadi penasaran, kira-kira berapa umur cucu dari Nyonya Choi. Tepat disaat itu Ma Ri keluar dari toilet dan memberitahu Mi Young kalau cucu Nyonya Choi berusia 25 tahun. 


“Oh iya. Kau tahu pelanggan dengan ID "Louis", yang disebut rajanya belanja, kan? Dia... adalah cucunya Nyonya Choi,” ucap Ma Ri pada kedua rekan kerjanya.


Tuan Kim memberikan telepon dari Ma Ri pada Louis. Namun Louis tak mau mengangkatnya, tapi Tuan Kim berkata harus, karena dia sangat yakin... Louis akan menikahinya sekitar musim gugur depan. 

“Apa? Ayolah. Apa kau sudah gila? Kenapa aku harus menikahinya?” tanya Louis dan panggilan dari Ma Ri pun mati karena tak diangkat. 

“Tekad dan ketekunannya untuk memenangkan hati anda pasti akan membuat kalian segera menikah. Lihat saja. Dia akan menelponmu lagi sebentar lagi,” ucap Tuan Kim dan baru selesai Tuan Kim bicara, ponsel Louis kembali berbunyi. Tepat! Itu adalah panggilan dari Baek Ma Ri lagi. 

Merasa berisik dengan bunyi ponselnya sendiri, Louis pun menjawab panggilan dari Ma Ri. Tapi saat dijawab teleponnya, Ma Ri malah bicara sendiri. 


“Ji Sung, bagaimana kabarmu? Aku baik-baik saja. Bagaimana cuaca di sana? Di Seoul sangat panas. Aku harap kau tidak jatuh sakit karena lupa mematikan AC. Aku sangat khawatir padamu.”

“Hei, Baek Ma Ri. Kau mencintaiku?” potong Louis yang ternyata nama Koreanya adalah “Ji Sung”. 

“Apa?” tanya Ma Ri tak mengerti. 

“Kau selalu menelponku dan menanyakan kabarku, bagaimana keadaanku dan bagaimana cuacanya. Semua yang kau tanyakan hanyalah tentangku. Apa kau sebegitu tergila-gilanya padaku? Kau sangat merindukanku? Kau bisa menyukaiku sesukamu, tapi aku tidak menyukaimu. Jadi tolong, jangan berani bermimpi untuk menikah denganku. Aku tutup,” ucap Louis dan benar-benar langsung menutup teleponnya. 

“Dia terlalu percaya diri,  padahal yang dilakukannya hanyalah menghamburkan uang. Siapa dia berani bilang tidak menyukaiku? Ini tidak masuk akal,” ucap Ma Ri kesal dan bertanya-tanya apa Louis masih bisa bicara seperti itu setelah mereka berdua menikah. 


Louis kemudian bertanya apa menurut Tuan Kim, Ma Ri benar-benar menyukainya. Tuan Kim pun menjawab kalau menurut analisisnya, Ma Ri selalu menelpon Louis dalam waktu sekali seminggu di jam yang sama dan bertanya tentang Louis dna keadaannya juga tentang cuaca. 

“Dengan kata lain, itu adalah percakapan palsu dan dia hanya melakukannya karena merasa harus melakukannya,” jelas Tuan Kim dan Louis membenarkan. Diapun menghela nafas dan bergumam kalau selama ini dia tak punya teman, sekalinya ada orang yang menelponnya, orang itu seperti Ma Ri.



Louis masuk rumah dan menyalakan TV. Tepat disaat itu acara yang ditayangkan adalah tentang Bok Sil, gadis berusia 21 tahun yang hobinya mengumpulkan obat herbal dan menjualnya ke pasar. Semua itu dia lakukan untuk menghidupi tiga anggota keluarganya. 

Bok Sil kemudian menemukan ular dan dia meminta pada kameramen untuk berhati-hati. Dengan berani, Bok Sil menangkap ular itu dan kemudian melemparnya. Tapi Bok Sil salah melempar, dia malah melempar si ular ke kamera, sehingga membuat Louis merasa takut karena seolah-olah ular itu di lempar ke arahnya.  Ularnya masih hidup dan melilit di kamera. Dengan santai Bok Sil kembali mengambil ularnya dan bertanya apa si kameramen baik-baik saja. Bok Sil pun kemudian tersenyum lebar di depan kamera.



Melihat senyuman Bok Sil, Louis seperti langsung terpesona. Dia terdiam dan terus memperhatikan Bok Sil.


Melihat Louis seperti itu, mata sensor Tuan Kim langsung bekerja. Dalam hati Tuan Kim berkata, “Hal unik terdeteksi. Pupil mata membesar. Tidak. Ada perbedaan yang halus.”

Tuan Kim memanggil Louis beberapa kali, tapi Louis hanya fokus pada layar TV-nya. Louis yang sedari tadi diam, kemudian berbicara, dia bertanya apa masih ada orang yang tinggal di tempat seperti itu di Korea? Tuan Kim pun membenarkan, karena itulah alasan kenapa program seperti itu masih ada di TV. 

“Kau lihat judul acaranya, "Pedalaman Korea", iya, kan?” tanya Tuan Kim tapi Louis malah tak tahu arti pedalaman. Tuan Kim kemudian menjelaskan kalau pedalaman itua dalah tempat-tempat seperti yang ada di acara itu. Louis pun mulai mengerti dan kemudian dia fokus kembali pada acara TV-nya. 

Bok Sil menemukan akar tanaman yang bisa di jadikan obat batuk dan itu sangat ampuh, dia mengetahui informasi tersebut dari sang nenek. Menurut neneknya, akar itu bisa meredakan peradangan di paru-paru. Mendengar hal itu, Louis langsung meminta Tuan Kim untuk mencarikan akar itu, karena Bok Sil berkata akar itu adalah obat yang ampuh. Tuan Kim pun mengingatkan Louis, kalau program TV yang sedang dia tonton sekarang adalah acara dokumenter bukan home shopping, jadi tak bisa seenaknya memesan. 

Setelah mendapatkan beberapa obat herbal, Bok Sil pulang dan memasak dengan peralatan masak yang sangat tradisional. Di kameramen berkata kalau apa yang Bok Sil kerjakan pasti sangat berat dan dia bertanya apa Bok Sil tak punya keinginan untuk pindah ke tempat yang lebih dekat dengan kota. Bok Sil pun mengaku kalau dia sebenarnya ingin saja pindah, namun dia tak bisa tinggal dimana saja karena neneknya.


Seseorang bernarasi, “Di rumah yang tidak nyaman ini, Bok Sil menjaga neneknya dan adiknya. Hal yang paling diinginkannya adalah kulkas.”

Bok Sil beralasan ingin kulkas karena membuat makanan saat musim panas sangat sulit. Makanannya jadi cepat basi, jadi dia harus memasak setiap hari. 

Mendengar pengakuan Bok Sil, Louis langsung meminta Tuan Kim untuk membelikan kulkas dan mengirimkannya untuk Bok Sil. Dia ingin memberikan kulkas yang besar dan keluaran terbaru. 

“Tuan. Disana tidak ada listrik. Itu artinya dia tidak akan bisa menggunakan kulkasnya. Kulkasnya hanya akan jadi pajangan di dapur. Juga, acara itu bukan salah satu acara amal UNICEF. Itu hanya program dokumenter... Dokumenter, ” ucap Tuan Kim kembali mengingatkan Louis.



Tuan Cha dan Young Ae pergi ke rumah Joong Won yang saat itu dalam keadaan kosong. Ketika melihat isi kulkas, Young Ae melihat Joong Won tak menghabiskan makanan yang dia buat. Namun, Young Ae tetap mengganti semua makanannya dengan makanan yang baru. Tuan Cha berkomentar kalau apa yang istrinya lakukan hanya sia-sia belaka, karena sepertinya Joong Won tak pernah makan di rumah, dia selalu makan di luar. Selain itu, Joong Won juga orang yang pemilih dalam hal makanan, dia tak suka makan makanan dari bahan organik seperti yang selalu Young Ae buat. 

“Sayang.. kau tahu aku bekerja keras membuat semua makanan ini. Kenapa kau bicara begitu?” tanya Young Ae dan meminta Tuan Cha memberitahunya tentang makanan mana yang tidak dia sukai.
Melihat istrinya yang mulai terlihat kesal, Tuan Cha langsung berkata kalau Young Ae sudah salah paham. Tuan Cha mengaku kalau dia menyukai semua masakan yang Young Ae buat, tapi Tuan Cha tetap menyarankan agar Young Ae tidak menambahkan plum untuk belut, karena menurut Tuan Cha, hal itu berlebihan. Menurutnya, belut lebih enak jika di sajikan dengan biji perilla. 

“Sayang. Aku bahkan pergi ke Gwangyang dengan ibunya Sang Yeob untuk membeli bahan-bahan organik agar makanannya tetap sehat. Apa kau lupa semua itu?” tanya Young Ae dan Tuan Cha menjawab kalau dia ingat semua itu. 

“Bagaimana mungkin aku tidak menggunakan semua itu? Makanan itu sangat baik untuk tubuhmu,” ucap Young Ae dan Tuan Cha akhirnya mengalah. Dia berkata kalau Young Ae lah yang benar.


Young Ae kemudian memeriksa semua ruangan dan dia tak menemukan tanda-tanda kalau Joong Won mengajak seorang wanita ke rumahnya.



Mengetahui hal tersebut, Young Ae pun terduduk lemas, “Dia akan berusia 40 tahun sebentar lagi. Kenapa dia tidak pernah membawa seorang gadis ke rumah? Aku ingin dia cepat menikah jadi kita bisa segera mendapatkan cucu,” ucap Young Ae sambil melihat foto besar Joong Won. 

“Dia bisa melakukan apapun. Kenapa sangat sulit baginya menemukan orang yang tepat?” gumam Tuan Cha dan Young Ae sepertinya langsung mendapat sebuah ide. Dia kemudian mengajak suaminya untuk pergi kesuatu tempat.


1 comment :