September 30, 2016

Shopping King Louis Episode 3 - 1


Bok Sil bangun di pagi buta dan hujan. Dia kemudian pergi menemui Geum Ja untuk meminjam uang, sebagian uangnya dia tinggalkan untuk Louis dan sebagian lainnya dia gunakan untuk naik bis. Louis bangun dan mengambil uang yang di tinggalkan oleh Bok Sil. Karena ini adalah kali pertama Bok Sil naik bis, jadi dia pun salah naik bis. Tak punya uang lagi untuk naik bis, alhasil Bok Sil pun memutuskan untuk lari. 


Sampai di kantor Bok Sil langsung mengepel lantai dan disaat itulah akhirnya Bok Sil bertemu dengan Joong Won, karena Joong Won memintanya untuk membersihkan lantai. 





Sendirian di rumah, Louis hanya duduk diam sambil menggigiti kukunya. Tapi dia kemudian melihat serangga di dinding, jadi diapun langsung keluar rumah dan duduk di tangga. Tepat disaat itu, seorang pria dengan jaket yang mirip dengan punya Louis datang, dia menawarkan diri sebagai payung Louis dan mau mengantarkan Louis kemana pun. Pria itu kemudian bertanya tentang nama dan umur Louis, tapi Louis menjawab tak tahu. Tanpa keduanya sadari, ketika mereka pergi, ada seorang pria berjaket hitam yang mengawasi Louis. Hmmm... pria misterius. 

Bertemu dengan Joong Won, Bok Sil langsung emosi dan menyebut Joong Won sebagai pencuri dan penipu. Karena tak mau orang-orang jadi curiga, Joong Won pun langsung melepaskan cengkraman Bok Sil dari bajunya, tapi dia terlalu keras menghempaskan tangan Bok Sil sampai Bok Sil jatuh ke lantai dan pingsan. Melihat itu, Mi Young dan Hye Joo pun langsung terkejut. Joong Won panik dan langsung meminta bantuan untuk dipanggilkan ambulans.

Hye Joo langsung masuk kantor dan memberitahu pegawai yang lain tentang Joong Won yang membuat seorang cleaning servis pingsan dan sebelum pingsan si cleaning servis menyebut kalau Joong Won adalah seorang penipu. 

Do Jin  mengatakan kalau Joong Won tak mungkin menipu orang tapi Kyung Kook yang notabennya tak suka pada Joong Won langsung berkata kalau Joong Won itu adalah penipu misterius dimalam hari, seperti Jekyll dan Hyde, ucap Kyung Kook sambil minum air mineral yang yang tadi sebagian sudah tumpah di lobi dan membuat Joong Won jatuh terpental. 



Ma Ri pergi ke ruang kontrol dan meminta petugas melihatkan rekaman CCTV di lift pukul 10 pagi kemarin. Dia melakukan itu untuk memastikan apa pria gelandangan itu Louis atau bukan. Walaupun hanya melihat Louis dari samping Louis bisa menebak kalau pria itu berwajah sama dengan Louis.



Louis sendiri sudah berada di kedai bersama pria yang baru dia kenal, mereka makan sup kue ikan. Louis juga sudah menceritakan tentang apa yang terjadi pada dirinya, dimana saat dia tersadar dia sudah mengenakan jaket milik Bok Nam. Mendengar cerita Louis, pria itu menyimpulkan kalau Louis terkena amnesia anaplastik dan karena Louis juga punya luka di kepalanya. Sebuah bagian dari otak Louis mungkin terluka oleh kerusakan fisik.

Karena pria itu bisa tahu mengenai hal tersebut, Louis pun bertanya apa pria itu seorang dokter dan si pria langsung menjawab bukan. Dia kemudian bertanya apa Louis hanya punya uang 3 dolar saja dan Louispun menganggung iya. Pria itu juga bertanya tentang Bok Sil yang bekerja menjadi cleaning servis di Glodline dan ketika Louis mengangguk, dia langsung berkata kalau Bok Sil tak lama lagi akan mendapat uang.

Pria itu kemudian memperhatikan wajah Louis dan menebak kalau Louis berasal dari keluarga kaya, karena selain tampan, Louis juga punya kulit yang bagus. Dia yakin 100% pada tebakannya. Mendengar tebakan pria itu, Louis pun bertanya apa dia peramal dan lagi-lagi pria itu menjawab bukan. Saat di tanya apa pekerjaan si pria, diapun menjawab kalau dia adalah “si pencari kerja,” orang yang terus belajar untuk mencari pekerjaan. Jadi itulah sebabnya, pria itu banyak tahu termasuk penyakit yang Louis alami sekarang. Pria itu kembali memesan sup ikan yang lebih banyak, dia ingn mentraktir Louis.


Bok Sil sudah berbaring dirumah sakit dan Joong Won yang membawanya. Dokter yang memeriksa Bok Sil berkata kalau Bok Sil pingsan karena kekurangan nutrisi. Tak lama kemudian Geum Ja pergi ke rumah sakit dan dia terkejut menemukan nama Ko Bok Sil di ruang VIP. Tepat disaat dia hendak masuk, Joong Won keluar dari kamar rawat Bok Sil. Joong Won pun kemudian mengajak Geum Ja untuk bicar.


Mereka berdua sekarang sudah berada di cafetariat dan Geum Ja mengaku tak punya hubungan apa-apa dengan Bok Sil. Semua itu dia lakukan agar terhindar dari biaya rumah sakit Bok Sil. Joong Won pun kemudian berkata kalau dia yang akan membayar biaya rumah sakit Bok Sil, jadi dia minta pada Guem Ja untuk bicara dengan bebas. 

“Aku mendengar Bok Sil telah bekerja di perusahaan kami selama satu bulan,” ucap Joong Won dan Geum Ja membenarkan karena besok gajian jadi Bok Sil genap bekerja sebagai cleaning servis selama satu bulan. Geum Ja juga mengatakan tentang Bok Sil yang selalu meminjam ponselnya dan juga mencarikan tempat tinggal. 

“Hari ini, dia bahkan meminjam uang dariku. Dia juga mengatakan penipu mengambil ginsennya yang bernilai 5.000 dolar. Astaga, dia adalah seorang gadis pemberani, tapi dia menangis. Aku merasa kasihan padanya. Seorang macam apa yang menipu seorang gadis muda... Yang baru saja pindah ke Seoul dan mengambil ginsengnya? Seseorang seperti itu harus dilemparkan ke sungai, Atau mendorongnya ke lubang api. Dia harus dihukum,” ucap Geum Ja tanpa sadar kalau penipu gingseng yang dia bicarakan adalah Joong Won sendiri. Tak terima di sebut penipu, Joong Won pun reflek berteriak kalau tidak ada yang ditipu oleh orang itu (pembeli gingseng). Melihat sikap Joong Won, Geum Ja pun bertanya kenapa Joong Won memihak pada penipu itu dan Joong Won pun menjawab kalau setiap orang memiliki sisi lain dari cerita mereka. 

Walaupun Joong Won sudah berkata seperti itu, Geum Ja tetap mendumel dan menyumpahi si penipu itu. Bahkan dia berjanji akan membunuh si penipu itu, ketika dia menemuinya.


Joong Won membawa barang-barang Bok Sil ke kemar rawatnya dan Joong Won langsung merasa prihatin pada nasip Bok Sil ketika dia melihat sepatu Bok Sil yang sudah kumal. Joong Won duduk di samping Bok Sil dan tepat disaat itu, Bok Sil akhirnya membuka mata. Saat melihat Joong Won, Bok Sil langsung bangun dan mencengkram baju Joong Won. Dia kembali menyebut Joong Won penipu dan dia meminta Joong Won mengembalikan gingsengnya. Joong Won pun meminta Bok Sil tenang dan saat tenang Bok Sil baru sadar kalau dia ada di rumah sakit. Setelah diingat-ingat, Bok Sil ingat kalau dia pingsan gara di dorong Joong Won ke lantai. 

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak pernah melemparkan kau ke tanah... Atau mengambil ginsengmu tanpa membayar. Ini. Buka. Kau bilang kau akan menjualnya 1.000 dolar. Tapi aku membayarmu dengan harga yang tepat,” ucap Joong Won dan memberikan uang pada Bok Sil. 

“Ahjussi..”


“Ini adalah 4.000 setelah komisi. Ada biaya transaksi untuk setiap produk di dunia ini. Itu adalah aturan. Jangan menangis,” jelas Joong Won dan Bok Sil sangat berterima kasih padanya. Joong Won kemudian berpesan agar Bok Sil tidak lagi menyebut dia penipu melainkan orang yang sudah menyelamatkan gingsengnya dam Bok Sil setuju. 

“Mulailah bekerja di departemen merchandise dari minggu depan,” tambah Joong Won dan Bok Sil jadi bingung. Dia tak mengerti apa yang Joong Won maksud untuk datang ke departemen merchandise, Joong Won tetap menyuruhnya datang, jadi Bok Sil pun mengiyakan. Sebelum pergi, Joong Won berpesan pada Bok Sil untuk istirahat sampai akhir pekan dan banyak makan daging.


Di rumah, Louis terus menunggu kepulangan Bok Sil dan saat Bok Sil pulang, Louis langsung menyambutnya. Bok Sil kemudian memberitahu Louis kalau dia sudah menemukan pembeli gingsengnya dan orang itu sudah memberinya uang. Mendengar itu Louis terlihat sedikit kecewa karena sebelumnya dia berjanji pada Bok Sil kalau dia lah yang akan menemukan orang itu, tapi sekarang malah Bok Sil sendiri yang menemukannya. Bok Sil pun tak mempermasalahkannya, karena yang harus Louis lakukan hanyalah mengembalikan ingatannya dan menemukan Bok Nam. 

“Oke. Aku akan menemukan Bok Nam untukmu tidak peduli apa. Kau bisa mempercayai aku,” janji Louis yang kemudian bertanya apa yang Bok Sil bawa. Mencium bau Hotteok yang Bok Sil bawa sangat enak, Louis pun langsung naik ke atas dan memakannya. 


Saat ditanya kenapa Louis makan diluar padahal hari sudah malam, Louis menjawab kalau ada serangga di rumah. Bok Sil memeriksanya dan ternyata hewan yang di maksud serangga oleh Louis adalah kelabang rumah. Dengan berani dan santai Bok Sil pun menangkap kelabang itu dan kemudian membuangnya. 



“Apa kau baik-baik saja sekarang?” tanya Bok Sil dan Louis tiba-tiba melihat Bok Sil begitu bercahaya dengan senyum yang mengembang manis. Melihat itu, Louis kembali teringat kalau dia pernah melihat Bok Sil tersenyum seperti itu. 

Mengingat hal itu, Louis kemudian bertanya apa mereka berdua sudah pernah bertemu sebelumnya. Tentu saja Bok Sil tak mengerti apa yang Louis katakan, dia bertanya apa Hotteok yang Louis makan sudah membuatnya jadi gila. Bok Sil kemudian mengajak tidur karena besok ada banyak hal yang harus mereka lakukan. 


Jung Ran menyiapkan sarapan untuk Nyonya Choi, namun Nyonya Choi tak nafsu makan. Tak lama kemudian Tuan Kim datang dengan menu sarapan yang biasa Loui makan dan ketika mendengar kalau Louis selalu makan sarapan itu setiap pagi, Nyonya Choi pun mau memakannya. 



Merasa tak senang Tuan Kim merebut tugasnya soal makanan Nyonya Choi, Jung Ran langsung mengajaknya bicara. Dengan mengancam akan memukul Tuan Kim, Jung Ran pun menyuruh Tuan Kim untuk tidak pamer lagi padanya, untuk tidak ikut campur lagi tentang makanan yang disajikan pada Nyonya Choi. Tepat disaat itu, Nyonya Choi memanggil Jung Ran, jadi Jung Ran pun meninggalkan Tuan Kim yang terlihat ketakutan karena ancaman Jung Ran.



Kita beralih ke Louis yang sedang sarapan dengan Bok Sil di minimarket. Setelah mereka sarapan, mereka pergi ke pasar untuk berbelanja perabotan rumah tangga. Saat berada di pasar, insting Louis dalam berbelanja muncul kembali. Dia menyuruh Bok Sil membeli semua barang-barang yang memanggilnya. Setelah berkeliling membeli perabotan rumah tangga, mereka berdua makan jajanan pasar yang di jajakan disana. 


Bok Sil kemudian bertanya kenapa Louis sangat baik soal belanja dan Louis pun menjawab kalau barang-barang itu seperti berbicara padanya untuk minta dibeli. Mendengar itu tentu saja Bok Sil tak percaya, dia menyebut Louis gila. Louis kemudian mengajak Bok Sil belanja pakaian, karena dia merasa tak nyaman terus memakai jaket imitasi. Jaket adiknya di bilang imitasi, tentu saja Bok Sil tak terima karena dia membeli jaket itu seharga 20 dolar. 

“Tidak, tidak. Itu bagian dari koleksi SS Louis Ssaton ini. Sebagai edisi terbatas, tambahan 100 jaket diluncurkan. Jaket ini diberi nomor... Dari 1 sampai 100. Jaket dengan nomor 1 adalah lebih dari 10.000 dolar,” jelas Louis yang ternyata masih ingat tentang hal tersebut, tapi dia melupakan hal terpentingnya, bahwa dialah pemilik jaket nomor 1-nya. 

“Aku tidak tahu apa yang kau katakan,” ucap Bok Sil dan Louis hendak menjelaskannya namun tak jadi, dia kemudian menyebut Bok Sil tak banyak tahu tentang banyak hal. Tentu saja di bilang seperti itu, Bok Sil tak terima. Tapi Louis tak mau memperpanjang masalah tersebut, dia kemudian mengajak Bok Sil belanja baju. 



Louis mencoba beberapa baju, hmmm.... karena selera Louis memang bagus, jadi baju-baju yang dia pilih sangat cocok dan pas untuknya. Sekarang giliran Bok Sil dan pilihan bajunya biasa saja. Hehehe

Karena barang yang mereka beli lumayan banyak, mereka berdua pun sedikit kesulitan membawanya. Bok Sil pun jadi mengeluh karena bawaan mereka sudah banyak, padahal mereka belum membeli beras. Mendengar itu, Louis pun mengajak Bok Sil membeli ponsel karena dengan ponsel mereka bisa membeli barang-barang sambil berbaring di rumah. Tentu saja Bok Sil tak percaya dan dia tak mau membelinya. Namun Louis terus membujuk Bok Sil untuk membelikannya ponsel. 

Mendengar rengekan Louis yang minta dibelikan ponsel, Bok Sil pun teringat pada Bok Nam. Saat masih berada di rumah, Bok Nam merengek minta di belikan ponsel karena semua teman di sekolahnya punya ponsel untuk internet, chatting, nonton TV dan bermain game mobile. 

“Kau mengatakan hal yang sama seperti yang Bok Nam katakan,” ucap Bok Sil dan ngomong-ngomong tentang Bok Nam, Louis pun kemudian berkata kalau mereka bisa melacak lokasi Bok Nam melalui ponsel. Mendengar sesuatu yang sangat meyakinkan untuk menemukan sang adik, Bok Sil pun langsung setuju untuk membeli ponsel.


Bukan hanya satu, Bok Sil membeli dua ponsel atas namanya semua. Satu untuk Louis dan satunya untuk dia sendiri. Saat memegang ponsel barunya, Louis langsung mengambil gambar Bok Sil dan tentu saja Bok Sil tak mau, dia merasa tak nyaman. 

Selesai beli ponsel, keduanya pun pulang dan Louis merasa kelelahan membawa semua barang-barang itu. Melihat itu, Bok Sil pun bertanya-tanya kemana perginya energi yang dihasilkan dari makanan yang Louis makan, padahal Louis begitu banyak makan. 

Louis juga merasa heran pada dirinya, dia sepertinya tak pernah merasakan hal seperti itu. “Hal ini berat, lenganku sakit, aku berkeringat dan napasku pendek. Gosh, itu melelahkan,” keluh Louis dan duduk.


Tepat disaat itu pria yang sebelumnya mengajak Louis makan sup ikan muncul. Pada Bok Sil, Louis mengatakan kalau pria itu adalah tetangga mereka, dia tinggal di lantai bawah. Pria itu bernama Jo In Sung. Saat Louis membahas pekerjaannya, In Sung sedikit tak nyaman, tapi setelah melihat respon Bok Sil yang biasa saja dan bahkan malah kagum seperti Louis, In Sung jadi bingung sendiri. 


Melihat mereka berdua kesulitan membawa barang, padahal masih mau berbelanja bahan-bahan makanan, In Sung pun memberikan solusinya. Dia mengajak mereka berdua ke mini market dan membeli semua yang mereka perlukan, setelah itu dia memberikan alamat pada si penjaga minimarket dan meminta untuk mengantarkan barang-barang itu kesana. Melihat semua itu, Louis dan Bok Sil secara kompak berkata, “Wuaaaah.” Mereka berdua sama-sama kagum pada In Sung.



Selesai berbelanja Bok Sil pergi ke kantor polisi dan menemui detektif Nam untuk memberitahunya kalau dia sudah punya ponsel sendiri dari hasil menjual gingseng. Mendengar itu detektif Nam ikut senang, karena akhirnya Bok Sil bisa hidup dengan baik. 

“Detektif. Aku dengar jika kau memiliki ponsel, kau dapat menemukan Bok Nam. Tolong temukan dia,” ucap Bok Sil dan detektif Nam sedikit terkejut mendengarnya. 

“Bok Sil. Ini sebaliknya. Bok Nam yang harus memiliki ponsel agar kita bisa melacak dia,” jelas detektif Nam dan kemudian menayakan tentang tunawisma yang Bok Nam rawat. 


Bok Nam sudah berada di rumah dan memasang tirai antara tempat tidur mereka. Melihat itu, Louis seperti tidak terima, dia tak suka ada tirai antara mereka berdua. Tepat disaat itu, In Sung datang dengan membawa kiriman barang untuk mereka berdua, itu adalah kiriman barang dari minimarket. Melihat tirai milik Bok Sil, In Sung menyebutnya bagus, karena yang di pasang di rumahnya hanya tirai plastik. 


In Sung kemudian membantu memasangkan gas dan Bok Sil langsung terlihat kagum karena baru pertama kalinya dia melihat kompor gas. Selama ini dia memasak dengan menggunakan tungku. Setelah merapikan rumah, Bok Sil pun mencuci baju dan Louis sendiri masih terlihat cemberut karena Bok Sil memasang tirai. 


Melihat Bok Sil yang punya tangan cekatan, In Sung pun berkata kalau Bok Sil sangat baik dalam segala hal. Dia bahkan sangat dewasa untuk wanita se-usianya. Louis membenarkan dan dia berkata kalau Bok Sil bisa jadi pembantu yang hebat. 

“Seorang pelayan?” tanya In Sung tak percaya Louis bisa berkata hal seperti itu pada orang yang sudah menolongnya. 

Saat hendak mencuci pakaian dalam Louis, Bok Sil merasa penasaran dengan tulisan “Louis” yang tertulis di belakangnya. Melihat Bok Sil melihat-lihat pakaian dalamnya, Louis jadi malu dan langsung mengambilnya. Bok Sil pun mengatakan kalau dia penasaran dengan tulisan bahasa inggris yang ada dibelakang celana. In Sung memeriksanya dan menebak kalau itu adalah label desainer, In Sung semakin berdecak kagum saat melihat ada permata di celana itu. 


Louis melihat kembali celananya dan dia berkata kalau label bernama “Louis” tidak membuat produk pakaian dalam. Mendengar itu, In Sung jadi bingung dan bertanya dari mana Louis tahu, tapi Louis tak menjawab, karena Louis sedang berusaha mengingat tentang nama apa Louis itu.  Bok Sil yang mendengarkan percakapan mereka berdua jadi ikut berpikir dan kemudian dia berkata kalau kemungkinan Louis itu adalah namanya. 

“Ya’... Bok Sil. Dia tidak di tentara. Tidak ada yang memiliki nama mereka di underwear mereka,” jawab In Sung. “Tapi nama Louis cocok untukmu. Kau harus menamai dirimu sendiri dengan itu,” saran In Sung dan Louis menyukainya.


Saat makan malam Ma Ri bertanya apa Louis punya saudara kembar, tentu saja ibunya menjawab tidak karena Louis anak tunggal. Tapi Ma Ri yakin ada sesuatu rahasia di balik kelahiran Louis. Mendengar itu, Tuan Baek pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku melihat seorang pengemis di perusahaan yang tampak seperti Louis,” ucap Ma Ri.

“Kecuali dia bereinkarnasi sebagai pengemis, itu bukan dia. Pasti hanya seseorang yang terlihat mirip,” jawab Jae Suk dan mendengar, itu Tuan Baek jadi teringat pada pria yang terlihat mirip dengan Louis dari belakang. 


Flashback!
Saat Louis sampai di bandara, Tuan Baek menyuruhnya mengemudi sendiri dengan alasan Tuan Baek harus pergi ke kantor untuk mengurus sesuatu. Setelah Louis pergi dengan mobilnya, Tuan Baek menelpon seseorang untuk membuat Louis kecelakaan. Huwaaa.... ternyata yang mengatur kecelakaan Louis adalah Tuan Baek. Semua itu karena Tuan Baek ingin menguasai perusahaan Nyonya Choi.
Flashback End!

Tuan Baek pergi ke ruang kerjanya dan meyakinkan diri kalau Louis sudah mati. 


Bok Sil sudah membiasakan diri memanggil Louis dengan namanya. Dia memanggilnya untuk makan malam dan karena In Sung sudah banyak membantu jadi mereka pun mengajaknya serta. Daging yang Bok Sil panggang belum sepenuhnya matang, tapi In Sung langsung melahapnya. Karena In Sung terus makan, sedangkan Louis menunggu daging matang jadi dia pun tak kebagian, semua daging yang sudah dipotong, habis dilahap oleh In Sung. 

Bok Sil kemudian berkata kalau dia diminta oleh orang yang membeli gingsengnya untuk bekerja di Departemen Merchandise mulai besok. Dia kemudian bertanya pada In Sung tentang apa yang di lakukan orang-orang di departemen itu. Bukannya memberitahu apa yang orang-orang disana kerjakan, In Sung malah menjawab kalau itu hanya trik untuk memecat Bok Sil. Orang yang memberi jabatan itu pada Bok Sil hanya ingin mencari kesalahan Bok Sil lalu memecatnya. Namun Louis punya pandangan yang berbeda, kalau memang orang itu mau memecat, kenapa harus berbelit-beli. Jadi bisa dipastikan kalau Bok Sil direkrut karena Bok Sil sangat baik dalam pekerjaannya. Bok Sil juga setuju dengan pendapat Louis, karena orang yang merekrutnya adalah orang baik, sebab dia sudah membayar uang gingsengnya. Tapi mereka tetap kalah dengan pendapat In Sung yang berpendapat kalau pria itu pasti hanya ingin membuat Bok Sil diam, jadi dia membayar uang gingsengnya.



Tepat disaat itu Geum Ja muncul dan ternyata In Sung adalah anak Geum Ja. Karena mereka semua sedang makan daging, jadi Geum Ja pun ikut bergabung dengan mereka. Tapi sebenarnya yang sedari tadi makan daging itu hanya In Sung, Louis dan Bok Sil belum sempat sedikitpun mencicipinya. 

Tanpa malu sedikitpun, ibu dan anak itupun terus memakan dagingnya, sampai Louis yang menghentikannya dengan berkata kalau Bok Sil lah yang harus memakannya. Di bilang seperti itu Geum Ja malah marah dengan berkata kalau itu hanya beberapa potong daging saja.

“Baik. Aku tidak akan memakannya,” ucap Geum Ja dengan mulut penuh dan terus makan. Setelah hanya tinggal 4 potong daging saja, Geum Ja pun beranjak pulang dan kemudian berkata pada Bok Sil kalau “Si Beban” Bok Sil tak membiarkannya makan, jadi dia memilih langsung pulang. 

“Beban? Aku?” tanya Louis.

“Iya, kau,” teriak Geum Ja dengan mulut yang masih penuh. Karena ibunya pulang, In Sung pun ikut pulang. 

Walaupun dagingnya habis dan tinggal 4 potong, Bok Sil pun tetap tersenyum dan berkata tidak apa-apa. Tapi tidak dengan Louis yang terlihat sedih dan lesu.

Bersambung Shopping King Louis Episode 3 - 2

No comments :

Post a Comment