April 24, 2016

Jackpot Episode 8 - 1


Dae Gil bekerja keras seorang diri memotong pohon, lalu memotong kayunya jadi kecil-kecil, lalu menggunakannya sebagai kayu bakar untuk memasak makanan. Sementara sang guru Che Gun asyik tidur sambil mendengkur. Dia lalu belajar panahan dan bermain pedang di tengah hutan sambil dihujani oleh reruntuhan kelopak-kelopak bunga yang cantik sampai tangannya berdarah.




Saat Che Gun terbangun dan tak lama kemudian, dia mendapati Dae Gil sedang tidur siang. Awalnya dia mengira Dae Gil bermalas-malasan, tapi dia langsung berubah begitu melihat tangan Dae Gil berdarah. Saat Dae Gil tidur, Che Gun diam-diam mengganti perbannya Dae Gil yang berlumuran darah dengan yang baru.


Che Gun merasa pelatihan dasar Dae Gil sudah cukup lalu membawa Dae Gil ke tengah-tengah hujan kelopak bunga. Dengan mata tertutup, Che Gun menebaskan pedangnya ke udara dan sukses membela sebuah kelopak bunga jadi dua "Jika kau bisa memotong kelopak bunga jadi dua dengan mata tertutup maka pelatihan usai"


Selanjutnya Che Gun memanah tepat ke tengah-tengah lubang koin nyang yang tergantung terayun-ayun di papan target "Jika kau bisa menembak melewati lubang koin, pelatihan selesai"


Selain itu, pelatihan Dae Gil juga akan usai jika Dae Gil bisa mengalahkannya dalam duel pedang. Dae Gil mencoba menyerang Che Gun, tapi Che Gun berhasil melumpuhkannya dengan mudah. Pelatihannya Dae Gil juga akan usai jika Dae Gil sudah bisa melakukan push-up 1000 kali, tapi bukan push-up biasa karena Che Gun harus duduk di atas punggung Dae Gil.

Dae Gil mencoba tapi baru dua kali, dia sudah mengeluh duluan. Che Gun langsung mengomelinya dan Dae Gil pun berusaha lagi. Tapi Dae Gil bertanya-tanya ada berapa banyak orang yang jauh lebih kuat dari Che Gun. Che Gun mengklaim tidak ada tapi Dae Gil tidak percaya. Che Gun bersikeras tidak ada... sebelum akhirnya ingat, iya memang ada, satu orang. Orang itu tidak selevel dia sebenarnya, tapi orang itu hampir menyamainya.


Di sebuah gua, beberapa prajurit tampak ketakutan melihat seseorang yang berjalan menghampiri mereka dari dalam gua. Saat orang itu keluar, dia tampak berdarah tapi masih cukup kuat lalu mengaum penuh amarah. Sementara kita mendengarkan Che Gun bercerita bahwa orang itu dulunya prajurit kerajaan yang kekuatannya sangat hebat. Dia orang yang bisa mengalahkan harimau hanya dengan tangan kosong. Orang itu adalah Hwang Jin Gi.


Dae Gil jadi penasaran apakah Che Gun juga bisa mengalahkan harimau dengan tangan kosong. Che Gun beralasan kenapa juga dia melakukan hal seperti itu kalau dia punya pedang. Lalu bagaimana jika seandainya Che Gun harus berhadapan dengan harimau saat dalam keadaan tangan kosong.

"Kau pelototi dia. Kau harus menakutinya dengan tatapan matamu. Bahkan seekor harimau pun akan ketakutan dengan tatapan semacam itu" ujar Che Gun.


Dam Seo memberikan beberapa koin nyang untuk dua orang anak kakak-beradik yang mengemis di jalan. Anak yang paling tua memperhatikan sepatunya Dam Seo yang indah dan membandingkannya dengan kakinya sendiri yang berdarah tanpa alas kaki.


In Jwa membawa dua batang emas sebagai sogokan untuk seorang pejabat, Jo Il Soo. Sementara di rumah Il Soo, Dam Seo membawakan jauh lebih banyak sogokan dalam berbagai bentuk. Semua sogokan itu agar Il Soo membantunya memberi akses pada Dam Seo dan Moo Myung untuk bisa menerobos kedalam penjara.


Malam harinya, Moo Myung dan Dam Seo diberi kunci masuk dan Moo Myung berhasil melumpuhkan kedua penjaga penjara dengan mudah. Dan orang yang mereka bebaskan dari penjara itu adalah Hwang Jin Gi. Mereka memberitahunya kalau tuan mereka mencarinya. Tapi begitu tangannya bebas dari belenggu, Jin Gi langsung mencekik Moo Myung dan menuntut siapa tuan mereka itu.

"Sarjana Baek Myun" jawab Dam Seo


Jin Gi langsung mengenali nama itu sebagai Lee In Jwa dan akhirnya melepaskan cekikannya. Jin Gi memutuskan kalau dia butuh pedang lalu dengan santainya keluar dan menuntut penjaga untuk mengembalikan pedangnya. Tentu saja para penjaga langsung menyerangnya dengan tombak-tombak mereka. Tapi Jin Gi mampu mengalahkan mereka semua dengan mudah.

Dengan ganas dia membanting salah satu penjaga ke arah pintu ruang penyimpanan senjata sampai pintu itu roboh. Dan di sana lah, dia menemukan pedangnya. Salah satu penjaga membunyikan peluit tapi Jin Gi langsung menendangnya sampai pingsan dan mereka pun bisa melarikan diri dengan mudah.


Walaupun sebenarnya belum pernah bertemu dengan In Jwa, tapi begitu bertemu In Jwa, Jin Gi langsung berlutut hormat pada In Jwa. Ternyata dia berhutang budi pada In Jwa karena selama dia dipenjara, In Jwa lah yang merawat ibunya bahkan sampai membantunya menggelar pemakaman bagi ibunya saat beliau meninggal dunia. Begitu berterima kasihnya dia pada In Jwa hingga dia berjanji untuk melakukan apapun untuk membantu In Jwa.

In Jwa membantunya berdiri dan berkata bahwa mulai sekarang memang ada banyak hal yang harus Jin Gi lakukan. Tapi sebelum itu... Moo Myung tiba-tiba menebas pedangnya ke arah Jin Gi tapi Jin Gi sudah memproteksi dirinya dengan pelindung besi.


Dengan antusias karena sudah lama tidak berduel, dia mengeluarkan pedangnya sendiri lalu mengayun-ayunkannya dengan ganas ke arah Moo Myung hingga dia sukses memotong pedangnya Moo Myung jadi dua. Dia hampir saja membunuh Moo Myung. Untunglah In Jwa menghentikan segalanya. Semua itu hanyalah ujian dan In Jwa puas dengan hasilnya lalu mengajak Jin Gi minum-minum.

Hong Mae menggerutu kesal karena In Jwa menyuruhnya untuk mengirimkan arak ke rumahnya, dia tidak terima diperlakukan seolah dia pelayan. Begitu arak itu sudah ada dihadapannya, Jin Gi langsung menenggak satu gentong arak, langsung dari gentongnya.


Puas melegakan dahaganya, Jin Gi mulai menggerutui raja yang kejam. In Jwa bertanya-tanya apakah Jin Gi semarah itu pada raja sampai dia berusaha menghancurkan gerbang istana Gwanghwamun. Dengan sedikit canggung dan malu, Jin Gi berkata kalau dia tidak bisa melakukannya karena benda itu sangat kuat dan keras.

"Tapi tetap saja, petarung hebat sepertimu seharusnya sulit ditangkap"


Mendengar itu, Jin Gi langsung menggerutui dirinya sendiri, menyesal karena waktu itu dia kebanyakan minum alkohol. Dalam kilas balik, kita melihat Jin Gi pernah kalah dari duel dengan Che Gun yang waktu itu masih bekerja sebagai prajurit kerajaan.


Dia benar-benar menyesal, seandainya saja dia tidak kebanyakan minum arak maka Che Gun pasti sudah kalah darinya waktu itu. In Jwa akhirnya berhenti berbasa-basi dan memberitahukan apa tugas Jin Gi. Yaitu, dia harus menangkap Che Gun dan penggal kepalanya.


Sementara itu, Che Gun melatih Dae Gil panahan dengan apel sebagai targetnya. Dia mengintruksikan berbagai hal pada Dae Gil, membenarkan posisinya dan lain sebagainya. Tapi tetap saja Dae Gil gagal memanah apelnya berkali-kali sementara Che Gun berhasil melakukannya hanya dengan satu kali tembak.

Dae Gil teringat bagaimana dulu In Jwa berhasil menangkap anak panahnya padahal dia menembaknya dalam jarak dekat. Dia lalu bertanya pada Che Gun, apakah dia bisa menghindari anak panah dari jarak dekat. Sebagai jawabannya, Che Gun langsung berdiri dalam jarak dekat dan menyuruh Dae Gil untuk memanahnya.

Dae Gil shock tapi kemudian mengangkat busurnya. Tangannya gemetaran dan dia menutup mata saat melepas anak panahnya yang sukses ditangkap Che Gun.


Che Gun memberitahu Dae Gil bahwa dalam bela diri tangan dan kaki tidak akan lebih cepat daripada insting tapi ada yang lebih cepat dari insting, yaitu mata.


Setelah selesai berlatih bela diri, Dae Gil bermain-main dengan kartu-kartunya. Che Gun bertanya apa sebenarnya tujuan Dae Gil menjadi muridnya. Dae Gil berkata kalau dia ingin menggorok leher In Jwa. Mendengar itu, Che Gun langsung menyuruh Dae Gil untuk pergi saja sekarang. Kalau dia ingin menggorok leher In Jwa maka dia bisa melakukannya pada tengah malam.

"Kau pikir kenapa aku mau melatihmu? Aku pernah bilang kan? Orang seperti Lee In Jwa tidak akan bisa kau kalahkan seorang diri"

Itu juga kata-kata yang pernah Che Gun ucapkan pada Dae Gil saat dia berusaha membebaskan para budak dari jeratan Si iblis.


Tak lama kemudian, Dae Gil keluar dan memikirkan ucapan Che Gun yang menyuruhnya untuk mengubah tujuannya dan mencari tujuan lain yang jauh lebih besar dan menjadi harimau yang hebat. Ucapan itu, mengingatkannya akan ucapan In Jwa padanya bahwa dia akan menunggu Dae Gil kembali menjadi harimau yang hebat.


Pangeran Yeoning merenung memikirkan pertemuannya dengan raja saat dia menangis di hadapan raja. Saat itu Raja berkata bahwa dia akan memberi Pangeran Yeoning sebuah pedang pusaka kerajaan.


Tiba-tiba pengawalnya terburu-buru datang dan mengabarkan bahwa tahanan bernama Hwang Jin Gi kabur dari penjara. Selain itu, ada sebuah surat yang ditinggalkan dan surat itu ditujukan untuk Pangeran Yeoning dari In Jwa yang memintanya untuk bertemu.


Pangeran Yeoning lalu pergi sendirian. Di tengah jalan, dia bertabrakan dengan seorang wanita yang kemudian meminta maaf padanya, lalu melangkah mundur saat ada dua orang prajurit memacu kuda dengan kecepatan tinggi ke arahnya, lalu beberapa sarjana berjalan melewatinya sambil bilang "Permisi"


Dam Seo diam-diam membuntuti Pangeran Yeoning. Tapi di tengah jalan, dia melihat orang-orang berkumpul di melihat sesuatu yang pada akhirnya membuat Dam Seo berhenti membuntuti Pangeran dan lebih memilih untuk menghampiri kerumunan orang itu. Sementara Pangeran Yeoning terus berjalan pergi.

Kerumunan orang-orang itu ternyata sedang melihat seorang anak pengemis yang dulu pernah diberinya uang, sekarang mati dibunuh. Anak itu dibunuh karena ketahuan mencuri sepatu. Sepatu cantik yang saat ini ada dipakai si adik yang meratapi kematian unnie-nya. Dam Seo sangat sedih melihatnya.


Pangeran Yeoning akhirnya tiba di tempat ketemuan dimana In Jwa sudah menunggunya di sana. Pangeran Yeoning bertanya tahanan yang In Jwa bebaskan itu akan dia gunakan untuk apa. Bukannya menjawab, In Jwa malah bertanya balik, apakah Pangeran Yeoning takut dengan pedangnya Jin Gi.

"Kau pikir aku takut dengan pisau seperti itu?" dengus Pangeran Yeoning


"Bagaimana kalau bukan cuma satu pisau? Saat berjalan kesini, apa pangeran tidak terluka?" tanya In Jwa sambil menatap ke arah bajunya Yeoning yang ternyata sobek di beberapa bagian.

Dalam flashback, sobekan bajunya itu ditorehkan oleh beberapa orang yang tadi bertabrakan dengannya di tengah jalan. In Jwa dengan santainya berkata bahwa semua itu adalah peringatan untuk Pangeran.


Tapi Pangeran Yeoning pun dengan santainya menjawab, "Bukannya kau tidak membunuhku, tapi kau tidak bisa. Orang yang paling kutakuti sama dengan orang yang kau takuti. Orang itu adalah ayahanda raja."

In Jwa setuju, raja memang monster. Tapi karena itulah, dia juga menjadi monster agar dia bisa menandingi raja. Lalu apakah Pangeran Yeoning pikir dia bisa menghentikannya yang sudah jadi monster ini. Pangeran Yeoning dengan penuh percaya diri berkata kalau dia pasti bisa melakukannya dalam waktu tak lama lagi.

Tapi In Jwa tidak mau menunggu dan mengusulkan "Bagaimana kalau hari ini kita bertarung sampai mati, Pangeran?"


In Jwa sudah menyiapkan beberapa pedang dalam berbagai tingkatan. Mulai dari pedang raja, pedang besar, pedang prajurit, pedang tajam, pedang lengkung dan pedang kayu, tapi semua pedang tertutup jadi Pangeran Yeoning tidak akan tahu yang mana pedang apa. Pangeran Yeoning setuju untuk bertarung dan mempertaruhkan nyawa mereka dengan menggunakan pedang-pedang itu. Mereka lalu saling mengambil sebuah pedang.


Saat Pangeran Yeoning membuka pedangnya, ternyata dia mendapatkan pedang raja sementara In Jwa mendapatkan pedang kayu. Tapi walaupun begitu, In Jwa berhasil melumpuhkan Yeoning dengan mudah. "Dibandingkan pedangnya, kemampuan petarung lah jauh lebih penting"


Sama dengan Pangeran Yeoning, Dae Gil juga sedang duel dengan Che Gun. Dia memakai pedang asli sementara Che Gun memakai pedang kayu. Tapi Che Gun berhasil mengalahkannya dengan mudah "Inilah bedanya aku dan kau. Dengan kemampuanmu ini, kau takkan bisa membunuh monster itu. Dia akan membunuhmu dengan cakarnya"

"Yi In Jwa!" geram Dae Gil


Dan pada saat yang bersamaan Pangeran Yeoning juga menggeramkan hal yang sama langsung dihadapan orangnya, "Yi In Jwa!"

In Jwa tersenyum licik lalu pergi tanpa mempedulikan protesnya Pangeran Yeoning yang tidak terima dengan kekalahannya.
 

Dam Seo menghampirinya tak lama kemudian dan terang-terangan menyinggung Pangeran Yeoning yang marah hanya karena kalah dalam hal kecil seperti ini.

"Apa Pangeran tidak melihat darah dan air mata rakyat?" geram Dam Seo


Ucapannya itu mengingatkan Pangeran Yeoning saat tadi dia melewati kerumunan orang dan melihat si gadis kecil menangis meratapi kakaknya yang sudah meninggal dunia. Pangeran Yeoning sempat melihatnya waktu itu dan ikut sedih, tapi kemudian dia memutuskan untuk pergi dan tidak mempedulikannya.


"Hanya karena mencuri sepatu, anak kecil tak berdaya dibunuh. Apa Pangeran tidak melihatnya?"

Pangeran tidak menjawabnya dan pergi.


In Jwa bicara dengan Dam Seo setelah itu. In Jwa mengerti kalau Dam Seo pasti merasa frustasi dan merasa mereka tidak membuat kemajuan apapun. Dia memperhatikan Dam Seo sangat mirip ayahnya dalam hal ini. Tapi dia mengingatkan Dam Seo bahwa mereka bukannya takkan balas dendam dan tidak punya rencana besar, justru balas dendam lah rencana besar mereka. Dan karena itulah, In Jwa menyuruh Dam Seo untuk mencoba mengendalikan Yeoning.


Pangeran Yeoning memerintahkan prajurit untuk mengurus pemakaman gadis kecil pengemis itu. Dia berlutut di hadapan sang adik yang tak henti-hentinya menangisi unnie-nya dan berkata dengan penuh penyesalan. "Maafkan aku. Setelah kau dewasa nanti, dunia ini akan jadi tempat yang jauh lebih baik. Tolong maafkan aku, karena hanya ini yang bisa kulakukan"

Bersambung ke episode 8 - 2

3 comments :