April 6, 2016

Jackpot (Daebak) Episode 3 - 1


Man Geum datang dan menggantikan Bok Soon memilih kartu terakhir. Dia meminta In Jwa untuk tidak mengganggu anaknya lagi, jika dia mendapat kartu 10. Bok Soon memanggil Man Geum, dia masih menyebutnya dengan sebutan “Yeobo”. Man Geum menjawab kalau wanita terhormat seperti Bok Soon tak seharusnya berada di tempat seperti itu, jadi dia menyuruh Bok Soon pulang saja. 

Gae Ddong-a, jangan khawatir. Ayahmu akan menyelamatkanmu,” janji Man Geum dalam hati. 




In Jwa menyanggupi permintaan Man Geum, namun dia merasa dirugikan kalau hanya menerima penawaran itu begitu saja, jadi diapun menggunakan nyawa Bok Soon juga sebagai taruhan. Sekarang Bok Soon sudah diikat pada sebuah pohon sambil menggendong Gae Ddong. Tentu saja Man Geum jadi geram pada sikap In Jwa, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk melawannya.


Untuk membuat Man Geum semakin gelisah, In Jwa memberitahunya kalau anak panah yang akan dia gunakan itu adalah anak panah yang digunakan suku barbar saat invasi Manchu, dimana anak panah itu mampu menembus pohon yang berumur ratusan tahun, jadi pohon saja bisa ditembus, apalagi hanya tubuh seorang wanita. 


In Jwa menarik busurnya dan Man Geum langsung memilih kartu bernomor 10. Ditengah kepanikannya, Man Geum memilih kartu yang berada di tengah. Namun dia teringat dengan ucapan In Jwa kalau dia sudah dijebak oleh Raja. Man Geum lalu mencoba menelaah kata-kata In Jwa, dia berpendapat kalau In Jwa tidak mengatakan kalau kartu no 10 tidak ada diantara kelima kartu itu, jadi Man Geum pun mengambil kartu yang ada di tumpukan. 


Man Geum membalik kartu dan berteriak senang. Dia berkata kalau dia sudah mendapat kartu 10 dan meminta Bok Soon dilepaskan.

“Tidak, itu kartu 0,” ucap In Jwa dan melepaskan anak panahnya ke arah Bok Soon. 


Anak panah In Jwa tertancap dan tak lama kemudian Bok Soon membuka mata. Ternyata anak panah itu tidak tertancap pada Bok Soon, melainkan pada pohon yang ada di belakang Bok Soon. 


In Jwa terkejut dan dia teringat pada saat dia memanah, tiba-tiba busur panahnya patah. “Menakjubkan.... Dia beruntung...,” ucap In Jwa dan tertawa.


Man Geum hendak mengambil celuritnya, namun In Jwa lebih cepat bertindak, dia memukul Man Geum dengan menggunakan busur panahnya, sampai Man Geum tak bisa bergerak lagi. 

“Suatu hari, anak itu akan datang padaku. Ini takdir yang tak bisa dia hindari sebagai anak raja. Jangan lupa... jika dia sampa kabur... nyawamu taruhannya...,” ucap In Jwa pada Man Geum yang sedang merasa kesakitan.


Bok Soon muncul dan bertanya apa In Jwa tidak takut akan dihukum oleh langit, karena In Jwa sangat kejam pada mereka. Tak mau di salahkan, In Jwa menyuruh Bok Soon untuk bersyukur karena anaknya sekarang masih hidup. 

Dengan marah, Bok Soon berkata kalau mulai sekarang dia takkan akan lagi menurut pada In Jwa. Selain itu, dia takkan akan memaafkan apa yang sudah In Jwa lakukan padanya hari ini. Namun In Jwa tidak perduli dengan apa yang Bok Soon katakan, karena di kerajaan -tanpa dukungan Raja, tanpa keluarga ataupun silsilah- Bok Soon hanyalah mantan pelayan air.


“Katakan padaku, apa yang bisa kau lakukan?” tanya In Jwa dan mengangkat dagu Bok Soon. “Aku sudah membuangmu. Malam ini hubungan kita berakhir,” ucap In Jwa dan pergi. Namun sebelum pergi, dia memberikan obat penguat janin pada Bok Soon. “Ini hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu.”


Setelah In Jwa pergi, Bok Soon terduduk lemas dan menangis. Man Geum terbangun dan menyebut Bok Soon sebagai wanita bodoh. Dia sudah membuang Man Geum dan memilih Raja, seharusnya Bok Soon menjalani hidup dengan baik. Kenapa dia malah datang ke tempat seperti itu?

“Anak itu sudah kau buang. Dia bukan tanggung jawabmu,” ucap Man Geum.


“Maaf... aku pikir dia akan mati. Anak pelayan air, lahir prematur. Dia tak ditakdirkan hidup di istana, karena itu kukirim padamu. Tapi sudah ketahuan, jadi kupikir dia akan mati,” ucap Bok Soon dan meminta maaf pada Man Geum. 

Man Geum lalu berkata kalau dia sudah memberi nama anak Bok Soon, yaitu Gae Ddong. Mendengar nama itu, Bok Soon pun tertawa sambil menangis. Dia kemudian berterima kasih pada Gae Ddong karena sudah bertahan dan tetap hidup. 


Gae Ddong dibawa pulang oleh Man Geum dan Tuan Nam. Dia merasa lega karena Man Geum ternyata masih peduli pada Gae Ddong. Dia pun bertanya apa yang membuat Man Geum berubah pikiran dan Man Geum menjawab semua itu karena Gae Ddong hanya bayi polos yang tak tahu apa-apa. 

Tuan Nam senang dengan pemikiran Man Geum yang makin dewasa. Dia bertanya lagi apa Man Geum sudah memaafkan Bok Soon karena sudah meninggalkannya. Mendapat pertanyaan itu, Man Geum terdiam dan teringat saat Bok Soon berkata kalau dia lelah hidup bersama Man Geum yang hobi berjudi. 

“Aku masih benci padanya. Aku masih benci pada ibumu,” ucap Man Geum dan melihat anaknya. 

Sebagai selir raja, Bok Soon sudah diberi gelar Sukwon, jadi sekarang kita panggil dia dengan sebutan “Choi Sukwon” atau “Selir Choi”.


Selir Choi  sampai di istana dengan selamat, namun masalah kembali menghampirinya. Karena  Permaisuri Jang mengetahui kepergiannya, dia pun sengaja menunggu kepulangan Selir Choi di kamar. Dia menuduh Selir Choi menemui suami rahasianya.



Alih-alih menegakkan peraturan di istana, Permaisuri Jang  pun menghukum Selir Choi dengan hukuman kurung di dalam gentong. Para pelayan Selir Choi  hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa. Setiap hari mereka menangis di samping gentong yang berisi Selir Choi. 


Berita tentang Selir Choi di hukum sampai ke telinga Raja Sukjong dan diapun langsung mengeluarkan Selir Choi dari dalam gentong. Saat di keluarkan dari dalam gentong, Selir Choi sudah dalam kondisi lemas dan pingsan.


“Permaisuri, kenapa hal ini terjadi padanya?” tanya Raja saat melihat Selir Choi di periksa oleh tabib istana. Dengan santai Permaisuri Jang menjawab kalau dia melakukan semua itu karena Selir Choi sudah meninggalkan istana dan kembali tengah malam.

Namun Raja tahu, alasan Permaisuri Jang melakukan semua itu karena alasan pribadi, bukan karena peraturan. Raja kemudian bertanya pada salah satu pelayan Selir Choi tentang kebenaran yang dikatakan Permaisuri Jang dan pelayan itu mengiyakan tentang kepergian Selir Choi.


Permaisuri Jang kemudian menyuruh pelayan itu untuk mengatakan apa saja yang dia tahu dan pelayan itu langsung mengeluarkan obat penguat janin pemberian In Jwa. 

“Selir Choi harus segera menemui tabib,” jawab pelayan itu dan Raja pun langsung melihat dengan tatapan marah pada Permaisuri Jang, karena sudah menghukum Selir Choi tanpa bertanya alasan kepergiannya. Ingin mencari pembenaran, Raja pun beranjak dari duduknya dan hendak pergi. 

Permaisuri Jang bertanya kenapa Selir Choi pergi tengah malam hanya untuk menemui tabib. Belum ada jawaban untuk pertanyaan itu, tiba-tiba tabib istana memberi selamat pada Raja, karena Selir Choi hamil. 


Mendengar kabar kehamilan Selir Choi, Raja yang tadinya hendak pergi jadi menghentikan langkahnya dan berkata, “Permaisuri Jang.. aku tahu kau ingin menegakkan peraturan istana. Tapi perbuatanmu kali ini sudah kelewatan.”


Selir Choi sudah sadarkan diri dan dia terus melihat obat penguat janin yang diberikan In Jwa. Diapun akhirnya mengerti maksud perkataan In Jwa yang mengatakan kalau obat itu adalah bantuan terakhirnya untuk Selir Choi. 

“Tuan, kau orang yang sangat menakutkan. Tapi demi anak ini, takkan kuserahkan anak ini padamu. Akan kulindungi anak ini, lalu akan kubalas rasa malu yang kau berikan padaku,” janji Selir Choi dalam hati sambil memegangi perutnya.


Kabar tentang kehamilan Selir Choi sampai juga ke telinga In Jwa melalui Hwanggoo Yeomeom. Hwanggoo Yeomeom adalah seorang peramal, jadi berita kehamilan Selir Choi juga masih perkiraannya saja. Dia kemudian memberitahu In Jwa kalau hari ini dia akan bertemu dengan permaisuri dan In Jwa menyuruhnya untuk melakukan apapun yang dia mau. 

“Anda selalu punya jawaban untuk semua hal. Anda tidak takut pada apapun?” tanya Hwanggoo Yeomeom yang merasa penasaran, apakah seorang Lee In Jwa tidak punya rasa takut. In Jwa menjawab kalau dia punya rasa takut dan itu hanya pada satu orang.

“Dia duduk di puncak dunia dan selalu meremehkan orang lain. Tak gentar menghadapi seribu tentara, dia bahkan sanggup membelah gunung. Monster dengan seratus mata dan seribu telinga. Dia adalah raja,” aku In Jwa dan kita pun langsung dialihkan pada sosok yang ditakutinya itu.


Raja memanggil Selir Choi untuk menemuinya. Saat hanya berdua, Raja langsung meminta Selir Choi untuk menghentikan semuanya. 

“Apa maksud Paduka?” tanya Selir Choi tak mengerti dan Raja pun memperjelas,. Dia ingin Selir Choi berhenti untuk berhubungan dengan pendukung Selir Choi selama ini. Orang yang Raja maksud adalah Lee In Jwa. 

Ternyata Raja selama ini tahu tentang apa yang dilakukan In Jwa, mulai dari membuat Baek Man Geum terpuruk, menyuruh Bok Soon menjadi selir Raja dan membuat Yi Soo begitu setia pada In Jwa. Namun, Raja tetap memilih diam dan membiarkan In Jwa hidup, karena satu alasan dan alasan itu adalah Selir Choi.

“Aku takut kau tidak bisa bertahan disini jika tak punya penyokong,” ucap Raja dan Raja juga memberitahu Selir Choi, kalau Permaisuri Jang juga sama berharganya untuk Raja, seperti Selir Choi. Selir Choi pun mengerti akan hal itu.


“Aku merasa bersalah padamu. Masalah anak yang kau sembunyikan di luar istana aku tidak akan ikut campur. Sebagai ibu, kau pasti menderita, begitu lah hati seorang ibu,” aku Raja dan Selir Choi pun berterima kasih dengan terbata-bata karena menahan tangis. 


Selir Choi kemudian menemui Permaisuri Jang di kamarnya dan disana sudah ada Hwanggoo Yeomeom. Permaisuri Jang kemudian  memperkenalkan Hwanggoo Yeomeom pada Selir Choi sebagai orang dari Wolhyanggak. Mereka kemudian bermain Seung Kyung Do dan permaisuri Jang yang pertama memainkannya. Saat bermain, Permaisuri Jang berkata kalau permainan itu sangat cocok untuk menentukan kedudukan.


Orang kedua yang bermain adalah Hwanggoo Yeomeom, namun ada yang aneh saat Hwanggoo Yeomeom mengocok kayunya, dia seperti orang yang kesurupan. Melihat Hwanggoo Yeomeom seperti itu Permaisuri Jang meminta dia untuk tenang dan hanya memikirkan bayinya saja.


Hwanggoo Yeomeom kemudian melihat ke arah Selir Choi dan disaat itu, dia melihat bayangan seorang anak laki-laki yang berpakaian Raja dan duduk di singgasana. 


Setelah sadarkan diri, Hwanggoo Yeomeom langsung memberitahu Permaisuri Jang tentang apa yang dia lihat tadi. Mendengar hal tersebut, raut wajah Permaisuri Jang tambah terlihat tak senang pada Selir Choi dan kemudian menyuruh Hwanggoo Yeomeom keluar.


Setelah hanya berdua, Permaisuri Jang memberitahu Selir Choi tentang apa yang Hwanggoo Yeomeom lihat tadi. Karena memang tak pernah punya pikirkan untuk merebut tahta, Selir Choi pun meminta Permaisuri Jang untuk tidak percaya pada ucapan peramal itu, namun Permaisuri Jang tetap mempercayai peramal itu.

Ingin mempersimple hubungan di antara mereka, permaisuri Jang kemudian mengajak Selir Choi bermain lagi. Kalau Permaisuri Jang kalah, maka dia akan memperlakukan Selir Choi sebagai teman, tapi sebaliknya, kalau Selir Choi yang kalah maka Permaisuri Jang akan menghentikan udara yang Selir Choi gunakan untuk bernafas. 

Permainan dimulai dan Permaisuri Jang yang menang. Permaisuri Jang terlihat senang dan dia mulai membahas tentang gosip asal usul Selir Choi dan gosip tentang pangeran yang mati. 


“Mereka bilang kau punya suami lain dan bayi prematur itu bukan putra raja. Ada yang bilang bayi itu masih hidup. Gosip seperti itu,” ucap Permaisuri Jang dan Selir Choi memintanya untuk tidak mempercayai gosip seperti itu. Namun Permaisuri tetap meneruskan kata-katanya dan  menyebut nama Baek Man Geum.


Para prajurit langsung mendatangi rumah Man Geum dan rumah Man Geum sedang dalam keadaan kosong. Namun tak lama kemudian Man Geum pulang dan dia tak sadar di rumahnya ada banyak prajurit. Saat melihat Man Geum, para prajurit itupun langsung menangkapnya dan membawanya ke istana untuk disidang oleh Permaisuri Jang. 

Man Geum sudah berada di kursi dengan tubuh diikat tali dan wajah babak belur. Permaisuri Jang mengumumkan pada semua orang kalau bayi yang dia gendong itu adalah anak dari Selir Choi yang seharusnya sudah mati dan selain itu Permaisuri Jang juga mengatakan kalau anak itu bukanlah anak Raja, melainkan anak Man Geum. 


Di depan semua orang, Permaisuri Jang menyuruh Man Geum untuk mengaku pada semua orang kalau dia adalah suami asli dari Selir Choi dan ayah dari bayi yang seharusnya mati itu. Namun Man Geum tak menjawab, dia hanya melihat Selir Choi sekilas.

Karena  Man Geum tak mau bicara, ia mula disiksa. Kakinya diberi besi  panas. Jang Hee Jee (kakak dari Permaisuri Jang) menyuruh Man Geum untuk segera mengakui semuanya. Dia menyuruh Man Geum berkata 'Aku suami selir Sukwon dan dia anakku'.


“Bukan. Aku tidak kenal wanita itu. Aku tak tahu siapa anak raja. Aku tak mengerti yang kalian katakan,” aku Man Geum dan itu membuat Hee Jee kesal sampai-sampai dia sendiri yang menyiksa Man Geum dengan besi panas. Namun, walau sudah disiksa sampai sebegitunya, Man Geum tetap menjawab kalau dia tak mengenal Selir Choi.  Karena Man Geum masih tak mau mengaku, Permaisuri Jang pun menyuruh Selir Choi yang bicara. 


Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?” ujar Selir Choi dalam hati. Ingin cepat menyelesaikan semuanya, Permaisuri Jang pun mengancam Selir Choi dengan nyawa anaknya. Tepat di saat itu Raja muncul dan menyuruh Permaisuri Jang menghentikan semuanya. 


Raja kemudian bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan Permaisuri Jang menjelaskan kalau pangeran yang sudah mati itu bukanlah anak Raja melainkan anak dari suami Selir Choi. Tak menanggapi ucapan Permaisuri Jang, Raja langsung bertanya pada semuanya tentang siapa yang sudah menyebarkan gosip seperti itu.

Namun tak ada satupun yang berani mengakui, sehingga Raja kembali meminta penjelasan pada Permaisuri dan jika Permaisuri Jang terbukti mengada-ada maka dia akan mendapatkan hukuman yang sesuai atas kesalahannya. 


Permaisuri Jang kemudian memanggil dua bidan bersalin yang membantu persalinan Selir Choi dan yang merawat bayi Selir Choi sebelum meninggal, jadi mereka berdua dipastikan bisa mengenali bayi selir Choi.


Ketika dua bidan itu memeriksa wajah si bayi, Raja terlihat melirik ke arah Selir Choi yang sedari tadi hanya diam saja. 

Apa yang akan terjadi? Apakah dua bidan bersalin itu bisa mengenali anak Selir Choi? Apakah Selir Choi akan dihukum karena ketahuan ? Tunggu jawabannya di sinopsis Jackpot pada part selanjutnya

Bersambung ke sinopsis Jackpot episode 3 - 2

2 comments :

  1. ternyata drama ini menarik juga wkwkwkwk
    padahal sebelumnya nggak niat mau ngikutin drama ini
    cerita sukjong dibumbui judi jadi gini ternyata wuih
    keren mbak ima sama mbak lilik, rating drama yang direcap dua duanya tertinggi di slotnya entah ya ke depannya gimana pokoknya terima kasih :D
    semangaaaaaaaat

    ReplyDelete