March 29, 2016

Page Turner Episode 1


Ini adalah kisah menyentuh tentang 3 anak muda. Seperti pembalik halaman yang membalik partitur musik, mereka membantu pertunjukkan dari tempat yang paling dekat dan melakukan yang terbaik agar sang bintang menjadi bersinar. Mereka akan menjadi partner terbaik.

Itulah awal pembuka drama ini. Tiga orang itu adalah Yoon Yoo Seul (Kim So Hyun) -rangking 1 sekolah seni Hoojung-, Lee Jin Mok (Shin Hae Ja) -si rangking 2 sekolah seni Hoo Jung- dan Jung Cha Sik (Ji Soo) -atlit sekolah Woojae dan menjadi atlit nasional.

Bagaimana kisah mereka bermula? Fanny sudah membuat bagian 1-nya


Page Turner Episode 1-2


Jin Mok selesai berdoa saat ada teman yang meneleponnya, terdengar panik. “Jin Mok-ah, kemana saja kau? Yoo Seul mengalami kecelakaan mobil dan ia sekarang dalam kondisi kritis!”

“Apa?” Jin Mok kaget dan berdiri. “Seberapa parah ia terluka?”

“Ia tak akan mati, tapi kepala dan matanya terluka, bahkan mungkin bisa jadi buta. Tadi ia dalam perjalanan menuju kampus dengan ibunya saat kecelakaan terjadi..”

Jin Mok shock, tak mendengarkan rentetan laporan temannya. Hanya satu yang bisa ia pahami. Permintaannya terkabulkan.



Dari hasil pemeriksaan, Yoo Seul tak bisa melihat apapun walau masih bisa melihat cahaya lampu senter jika diarahkan padanya. Saraf matanya terluka parah akibat kecelakaan itu, dan hanya sedikit kasus dimana pasien bisa melihat kembali. Tapi kondisi Yoo Seul sendiri tak begitu baik.

Ibu Yoo Seul tak terima dengan kondisi ini. Ia mengusulkan transplantasi kornea, ia bersedia mendonorkan matanya bahkan kedua matanya. Tapi dokter mengatakan mustahil karena kornea Yoo Seul baik-baik saja, yang masalah adalah saraf matanya.

Ibu semakin panik karena itu berarti Yoo Seul tak bisa main piano lagi. “Bagaimana kau bisa membaca partitur? Bagaimana kau bisa latihan?!”

“Ibu..”

“Nyonya, harusnya Anda mengkhawatirkan kondisi putri Anda dan bukannya pianonya,” tegur Dokter.

“Piano itu anakku dan anakku adalah piano!” bentak Ibu mengagetkan si Dokter, tapi ibu terus menjerit, “Piano itu segala-galanya bagi dia. Bagaimana mungkin kau meremehkannya seperti itu?!”

Yoo Seul hanya terdiam, sama seperti Dokter. Ibu menenangkan dirinya tapi menyimpulkan kalau dokter itu tak kompeten dalam diagnosa dan akan mencari rumah sakit lain.


Ia membawa Yoo Seul pulang dan berjanji akan mencarikan cara agar Yoo Seul bisa melihat kembali. “Jadi jangan berpikir untuk menyerah main piano. Kau sudah lama tak berlatih piano, jadi kita pulang sekarang dan mulailah berlatih. Tetaplah kuat.”

Ibu memakaikan mantel pada Yoo Seul yang diam mendengarkan. “Bahkan jika nanti penglihatanmu tak bisa kembali,“ Ibu sedikit tercekat sebelum kemudian berkata, “Tetaplah optimis. Telingamu akan semakin peka dan kau akan menjadi pianis yang lebih baik lagi.”

Ibu langsung pergi untuk membayar biaya rumah sakit, tak menunggu jawaban Yoo Seul yang menjawab lirih, “Oke..”


Tapi ternyata ibu tak sekuat penampilannya. Ia masuk ke toilet dan akhirnya menangis tersedu-sedu. Ada suster di luar yang mendengarnya dan mengetuk pintu toilet. Setelah beberapa saat, Ibu keluar dan saat ditanyai apakah ia baik-baik saja, Ibu menjawab penuh tekad, “Aku baik-baik saja. Aku harus baik-baik saja. Aku akan membuatnya baik-baik saja.”


Sementara di ruang dokter yang lain ada Cha Sik dan ibunya yang sedang konsultasi dengan dokter. Ada kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya, kondisi Cha Sik baik-baik saja, tak perlu menjadi kasim (dikebiri). Cha Sik bisa menikah dan punya anak. Tentu saja hal ini sangat melegakan Cha Sik dan ibunya.

Tapi kabar buruknya adalah Cha Sik mengalami spondylolysis akibat Cha Sik terlalu keras berlatih sehingga mencederai tulang belakang kelima. Dan insiden barusan semakin memperburuk sehingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi untuk menyambung kedua ruas tulang belakang dengan pen. Setelah operasi, Cha Sik bisa beraktivitas seperti biasa tapi..

“Bagaimana dengan olah raga?” potong Cha Sik.

“Kurasa kau harus berhenti,” jawab dokter. Cha Sik bertanya bagaimana jika ia mengikuti program rehabilitasi? Ia akan giat mengikutinya siang dan malam.

Tapi dokter mengatakan kalau Cha Sik terus memaksa berolah raga, maka akan semakin merusak bagian lain tulang belakangnya. Ia memperbolehkan Cha Sik pulang hari ini dan akan menjadwalkan operasi dalam bulan ini. Ibu melirik Cha Sik yang terdiam mematung dan bertanya apakah Cha Sik baik-baik saja?


Cha Sik tersenyum lebar dan berkata lebih keras dari sebelumnya. “Tentu saja. Aku sangat lega mendengar kalau bagianku yang itu baik-baik saja. Jika yang terjadi sebaliknya, hadeuhhh.. aku pasti sangat depresi. Ya kan, Bu? Wahh.. aku sangat beruntung sekali.”


Jin Mok tak bisa mengenyahkan perasaan bersalah yang menghantuinya. Ia bermain piano, tapi malah musik suram yang terdengar. Akhirnya Jin Mok pergi ke toko bunga dan disapa oleh pegawai toko yang menduga ia ingin membeli bunga untuk pacarnya.

Tentu saja Jin Mok langsung menolak mentah-mentah. “Dia hanya teman,” Jin Mok mengernyit menyadari dia salah bicara. “Bukan, dia juga bukan teman. Dia itu musuhku.” Jin Mok asal menunjuk satu jenis bunga dan memintanya untuk membuatkan buket dengan bunga itu.

Pegawai itu geli, “Ah, katanya dia bukan pacarmu. Kau tahu kan kalau bunga ini artinya adalah ‘selamanya cinta’?”

“Tidak,” Jin Mok cemberut. “Aku hanya ingin menemuinya karena ia sakit. Apa kau punya bunya yang artinya ‘Semoga lekas sembuh’?” Si pegawai mengerti dan mulai mencarikan bunga yang berarti itu. Jin Mok berpikir sebentar dan bertanya, “Apa ada bunga yang artinya ‘maafkan aku’?”

“Kenapa kau berpikir untuk minta maaf padahal dia sedang sakit? Apa kau pernah berbuat jahat padanya?” tanya si pegawai. Jin Mok hanya diam, tak tahu harus menjawab apa.


Cha Sik masih merasa murung saat dikagetkan oleh tongkat yang menyentuh kakinya. Menyadari kalau tongkat itu milik dari seorang gadis buta, ia tak jadi memarahi.

Yoo Seul buru-buru minta maaf dan bertanya arah menuju atap gedung. Ia diberitahu kalau tangga menuju atap gedung di sekitar sini.

Cha Sik memandangi Yoo Seul dan berkata kalau tangga itu ada di sisi lain rumah sakit. Ia menawari untuk mengantarkan gadis itu ke sana dan minta ijin untuk memegang tangan Yoo Seul. Yoo Seul sedikit ragu, maka Ji Soo pun menawari yang lain, “Atau kau bisa berpegangan padaku.”


Tanpa menunggu jawaban, ia meraih tangan Yoo Seul dan meletakkan di lengannya. Kemudian ia langsung membawanya pergi, menjauhi pintu yang mengarah ke tangga atap gedung. Ha.

Hampir saja Yoo Seul menabrak seorang yang berjalan menggunakan kursi roda jika Cha Sik tak buru-buru menariknya.


Mereka berlalu, tak menyadari ada Jin Mok yang tak percaya saat melihat Yoo Seul berjalan dengan dituntun. “Tak mungkin.. Apa ia jadi buta?”


“Kita sudah sampai atap,” kata Cha Sik. Yoo Seul bertanya apakah ada orang lain di atap dan Cha Sik menjawab tidak. Yoo Seul menunduk untuk berterima kasih juga sebagai tanda kalau Cha Sik boleh pergi. Cha Sik memandang Yoo Seul sebentar dan kemudian berlalu pergi.


Setelah yakin pria yang membantunya pergi, Yoo Seul menaiki pagar pembatas dan berdiri di balik pagar. Angin semilir menyibak rambutnya. Ia bersiap-siap melangkahkan kaki saat terdengar suara..


“Yoon Yoo Seul! Apa yang kau lakukan?” Yoo Seul mengenali suara Jin Mok. Ia melarang Jin Mok mendekat. Tapi Jin Mok malah bertanya, “Apa kau benar-benar tak bisa melihatku? Sama sekali”

“Tidak! Apa kau datang kemari untuk mencari tahu hal ini? Apa kau senang sekarang?”

“Bukan itu. Aku hanya mengkhawatirkanmu,” jawab Jin Mok bingung.

Yoo Seul berbalik menghadap Jin Mok dan berkata kalau ia sekarang merasa bahagia. Ia bahagia karena tak bisa melihat. Ia tak perlu melihat wajah Jin Mok yang menyebalkan, ia tak perlu melihat not-not balok yang berderet seperti kecoa. Mataya berkaca-kaca saat mengatakan kalau ia sekarang merasa senang. “Tapi ia tetap menginginkanku tetap bermain. Ibuku malah menyuruhku untuk berlatih semakin keras! Ibu seperti apa itu?”


Yoo Seul menangis tersedu-sedu. Jin Mok terkejut mendengarnya dan memanggil Yoo Seul, tapi Yoo Seul malah menyalahkannya. “Hari itu kau meremehkan ibuku dan ia menjadi berubah,” kata Yoo Seul dan melempar alat untuk melatih jarinya.


Cha Sik yang ternyata masih ada di sana mendengar semuanya namun terus berjalan pergi. Yoo Seul menangis, mengeluh kalau ia sudah lelah menghadapi semuanya. Ia lelah berpura-pura suka bermain piano dan ia lelah harus membenci Jin Mok. “Kau mungkin juga lelah menghadapiku. Begitu juga dengan aku. Karena itu aku memutuskan untuk berhenti.” Ia menutup mata dan berkata, “Selamat tinggal, Jin Mok.”


Dan ia melepaskan tangannya dari pagar dan menghempaskan diri ke belakang. Jin Mok berteriak memanggilnya tapi terlambat. Yoo Seul melayang..


.. dan kemudian jatuh dalam pelukan Cha Sik. Hahaha.. Astaga, ternyata Cha Sik sudah menduga kalau Yoo Seul mau bunuh diri makanya ia membawa Yoo Seul ke parkiran mobil dan bukannya ke atap gedung.

Yoo Seul marah-marah dan memukul tak tahu arah. Cha Sik dengan mudah menghindarnya, “Jadi bagaimana rasanya ditusuk dari belakang? Rasanya tak enak, kan? Begitu juga yang dirasakan ibumu jika ia mendengar ucapanmu.”

“Apa?”


“Kau membodohi ibumu dengan berpura-pura suka main piano. Ini adalah salahmu karena berbohong padanya dan bukan salahnya kalau ia tertipu. Jangan menyalahkan ibumu dan jangan menyalahkannya juga,” Cha Sik menunjuk Jin Mok. Melihat ekspresi kesal Yoo Seul, Cha Sik hanya bisa minta maaf karena telah menghentikan niat Yoo Seul. “Mungkin lebih baik kalau kau tadi langsung mati saja.”

Cha Sik berlalu pergi. Jin Mok yang tak terima pada dan berteriak menghentikan Cha Sik, “Hei! Beraninya kau berkata seperti itu. Apa kau sadar apa yang terjadi padanya?”


“Jadi apa kau sadar apa yang terjadi, sehingga kau membelikan bunga untuk gadis yang buta?” balas Cha Sik menyindir. “Kelihatan dari wajahmu kalau kau ini bodoh.” Cha Sik meninggalkan mereka, tapi sebelumnya ia memungut barang yang dibuang gadis itu. Setelah beberapa lama mengamati barang itu, ia menoleh pada Yoo Seul, mulai paham apa yang terjadi pada gadis itu.


Ia bercerita pada ibunya kalau ia menyelamatkan seorang gadis yang sepertinya ingin bunuh diri. Dari suster, ia tahu kalau gadis itu adalah gadis yang sangat terkenal di dunia piano. Makanya ia heran kenapa gadis itu bertindak bodoh ingin bunuh diri.

Ibunya menjawab kalau orang seperti gadis itu yang biasanya mempunyai pikiran bodoh. “Cukuk cerita tentang gadis itu. Kau sendiri kenapa ada di atap gedung?”

Ahh.. alasan kenapa Cha Sik ada di depan tangga sebelum bertemu Yoo Seul itu adalah karena baru turun dari atap gedung.

Cha Sik buru-buru membela diri kalau tak ada alasan khusus ia naik ke atap gedung. “Kenapa? Apa Ibu pikir aku sedang merokok? Aduhh.. Ibu jangan khawatir, aku kan tak akan pernah melakukan sesuatu yang membuat Ibu khawatir.”

Ibu memandang Cha Sik dan dengan sabar berkata kalau ia sangat memahami Cha Sik. Di luar hujan turun, maka Ibu pun mengeluarkan payung. Tapi ternyata payungnya malah copot dari pegangannya.
Cha Sik tertawa terbahak-bahak melihatnya. Semakin terbahak-bahak ketika ibu memungut payung dan mencoba memasangnya tapi kembali lepas. “Lihatlah itu, kenapa bisa rusak seperti tiu? Hahahaha.. Payung itu rusak, tapi kenapa lucu sekali?”


Ibu menatap putranya khawatir, tahu alasan mengapa Cha Sik tertawa keras hingga menangis. Ibu memegang Cha Sik dan memberitahu kalau semua akan baik-baik saja.

Cha Sik mulai terisak namun tetap berkata dengan nada ceria, “Aku baik-baik saja, Bu. Ini lucu sekali, melihat payung itu rusak. Payung itu kelihatan sama sepertiku.” Sekuat tenaga Cha Sik mencegah air matanya turun. “Astaga, kenapa aku menantis padahal lucu sekali? Memalukan.”

Air mata Cha Sik tumpah saat ibu memeluknya. Ia terdengar putus asa saat bertanya apa yang akan ia lakukan sekarang karena ia tak punya hal lain kecuali olah raga. “Aku hanya punya satu hal itu saja. Kenapa mereka mengambilnya dariku?!”

“Kau benar! Kau hanya punya itu saja, kenapa mereka mengambilnya?!”

Cha Sik menangis tersedu-sedu. Tak ada yang bisa Ibu lakukan saat ini selain memeluk putranya erat-erat.


Di kamar, terdapat surat pengunduran diri sekolah yang ditulis oleh Cha Sik. Tapi kondisi mental Cha Sik semakin memburuk. Ia terus mengurung diri di kamar dan hanya bergelung di tempat tidur. Kesibukannya hanyalah memenceti bubble wraps yang tertempel di jendela.


Ibu memandang putranya dengan khawatir. Ia kembali ke kamar dan membuka album foto. Bukan, ia bukan ingin mengenang masa-masa dulu, tapi untuk mengambil sebuah foto. Terus terngiang di telinganya pertanyaan Cha Sik yang tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

“Bisakah ini menjadi alasan baginya?” tanya Ibu sambil memandangi foto itu.


Di rumah Yoo Seul, Ibu mulai memasangi peralatan pada piano agar bisa dimainkan oleh orang buta. Ibu melarang Yoo Seul untuk minta bantuan pada teman sekolahnya karena akan kelihatan Yoo Seul perlu belas kasihan. Ia yang akan mengantarkan Yoo Seol ke sekolah. Ibu juga sudah menemukan guru piano yang bersedia mengajar siswa buta dan.

Yoo Seul mendengarkan semua ucapan ibunya dengan diam dan hanya menjawab ya dengan nada pasrah. Jawaban yang sama yang terus ia ucapkan selama bertahun-tahun. Ia teringat ucapan Cha Sik yang menuduhnya membohongi ibunya dengan berpura-pura menyukai piano jadi semua itu adalah kesalahannya sendiri dan bukan salah ibunya.


Maka ketika ibunya berkata kalau akan mengurangi jadwal mengajar dan menjadi pemandunya –mencatat dan hadir di setiap pelajaran-, Yoo Seul menyela, “Bu, ada yang ingin aku bicarakan dengan Ibu..”


Hati-hati, Ibu mengajak Cha Sik bicara. Ia menunjukkan foto lamanya dengan seorang pria, yang ia kenalkan sebagai ayah Cha Sik. Sepertinya ini baru pertama kali Cha Sik melihat wajah ayahnya karena ia mengerutkan kening melihat foto itu. “Ini ayahku? Dia tidak mirip denganku sama sekali, dia malah kelihatan kaya dan pintar.”

“Ya. Ketika muda, semua orang menjulukinya jenius. Lihatlah ini,” Ibu membuka handphone-nya untuk menggoogle nama Hyun Myung Sae dan menunjukkan profil pria itu pada Cha Sik.
Cha Sik bengong melihat ayahnya adalah pianis terkenal, “Aku anak dari orang seperti dia? Ehh.. Nggak mungkin.”

Tapi mungkin saja. Ibu mengangkat tangan Cha Sik yang sejak dulu sering diejek oleh anak-anak lainnya karena jar-jarinya sangat panjang dan lentik, tidak seperti tangan atlit. Dan juga nada dering handphone Cha Sik adalah Fur Elise, lagu yang tidak kekinian.


Cha Sik terperangah, “Benar! Ibu ingat kan, drama Park Shin Yang yang main piano? Tanpa alasan aku menangis saat melihat adegan itu. Ternyata alasannya adalah karena aku sangat mencintai musik!”

Hahaha… aduhh duh duh..


Cha Sik merinding mengingat semua ini. Ia ternyata mewarisi bakat ayahnya. Ibu membenarkan. Walaupun Cha Sik mewarisi sepersekian dari gen ayahnya, tapi itu membuat Cha Sik lebih pintar 10 kali lipat dari anak-anak lainnya. “Jadi jangan berpikir kau ini adalah sampah dan kau ini barang rusak. Jangan pernah sama sekali. Oke?”

Cha Sik mengangguk bersemangat. Ia bertanya apa Ayah tahu tentang kehadirannya? Ibu menggeleng. Saat ia hamil, ia sudah putus dengan Myung Sae dan ia tak memberitahukan tentang kehadiran Cha Sik karena Myung Sae sudah terkenal. “Saat aku hamil, aku bukanlah apa-apa jika dibandingkan dirinya. Aku terlalu malu. Dan sekarang..”

“Sekarang aku yang memalukan, kan?” potong Cha Sik. Tapi ia tak menyalahkan ibunya, ia menyalahkan dirinya terus menangisi nasib karena sebuah kecelakaan dan malah memenceti bubble wrap.

Ibu mengangkat dagu Cha Sik dan berkata, “Tapi kau lebih tampan dari ayahmu.” Aww… Bahkan Cha Sik sangat senang menengar pujian ibunya. Ibu melanjutkan, “Kau mungkin belum tahu orang seperti apa kau ini, tapi aku tahu. Kau sangat hebat sehingga sulit rasanya percaya kalau kau ini anakku. Itu karena kau mewarisi gen ayahmu.”


Yoo Seul bersikeras untuk pergi ke sekolah sendiri. Ia tak bisa terus bergantung pada ibu karena matanya. Tapi Ibu meminta Yoo Seul tak memikirkan hal itu karena ibu tak keberatan. Yoo Seul berteriak, “Tapi aku yang keberatan! Bertahun-tahun, Ibu telah mengorbankan hidup Ibu untukku. Sekarang aku buta, jadi kalau terus begini Ibu tak pernah punya waktu untuk Ibu sendiri.”

Ibu hendak menjawab tapi Yoo Seul kembali berkata, “Aku.. untuk pertama kalinya memutuskan sesuatu sendiri. Jadi mulai sekarang, jangan mengabaikan dan dengarkanlah permintaanku.”

Ibu heran mendengar ucapan Yoo Seul yang tak seperti biasanya. Tapi Yoo Seul sudah memutuskan. Ia akan pergi ke sekolah sendiri, belajar dengan giat agar bisa lulus dengan nilai bagus. Hanya saja ia juga akan berhenti main piano.

Ibu sudah hendak marah mendengarnya, tapi Yoo Seul berkata dengan kondisi matanya ini, ia tak akan bisa mencapai seperti keinginan ibunya, dan ibu pasti juga menyadari hal itu. “Aku tak ingin maju perang dalam sebuah pertempuran yang tak mungkin kumenangkan. Jadi aku akan berhenti main piano.”


Sementara itu Cha Sik kembali tergugah. Ibunya memberi semangat kalau ayahnya telah memberinya banyak bakat yang bagus dan dari semuanya itu, lompat galah adalah bakat yang paling tidak menonjol. Hal itu berarti ia bisa melakukan segala yang ia inginkan. “Jadi jika aku menemukan sesuatu yang baru dan menjadi hebat, bisakah aku bertemu Ayah?”


Ibu mengiyakan. Dan Cha Sik berlari menuju sebuah gedung pertunjukkan dimana Hyung Myung Sae akan perform di sana. Cha Sik mengulurkan tangan, menempelkan jemarinya yang panjang sama seperti ayahnya ke gambar tangan ayahnya dan bertekad untuk bisa menemui ayahnya.


Matanya berbinar-binar memandang gambar piano yang ada di poster, “Piano, senang bertemu denganmu.”


Komentar :

*Tepok jidat*

Di akhir episode 1 ini, rasanya pengen ketawa tapi juga pengen teriak, “Cha Sik, bukan itu maksud Ibu!” Kayakna sih ibu Cha Sik ingin menunjukkan pada putranya kalau satu jendela tertutup, akan ada jendela lain yang terbuka. Tapi mungkin Cha Sik memang sedikit lemot, dan menganggap kalau ia mewarisi bakat musik ayahnya. Fur Elise, gitu loh..

Tapi melihat kedua ibu yang menyikapi musibah yang dialami anaknya dengan cara berbeda membuat saya membuka mata. Setiap orang mengungkapkan kasih sayang pada anaknya dengan cara yang berbeda.

Sikap yang ditunjukkan oleh ibu Cha Sik patut diacungi jempol. Saya sendiri jika dalam posisi ibu Cha Sik belum tentu bisa bersikap seperti itu. Ibu tak pernah menunjukkan sedikitpun perasaannya. Ia tak pernah menyalahkan Cha Shik sedikitpun, yang terlalu percaya diri, yang setelah itu mengurung diri, yang memutuskan untuk drop out dari sekolah. Ibu membiarkan Cha Sik untuk memutuskan sendiri. Ibu bahkan juga ikut memenceti bubble wrap seperti yang dilakukan Cha Sik.

Ia bahkan mengatakan kalau bakat lompat tinggi Cha Sik adalah bakat yang paling kecil. Padahal kita juga melihat kalau Cha Sik tak punya keahlian lain selain olahraga. Pintar, nggak. Musik?  Err.. entahlah, tanya saja pada gelandangan yang hanya bisa memutar bola matanya saat Cha Sik mengatakan piano biasa adalah keyboard.

Semangat dan kepercayaan yang diberikan Ibu pada Cha Sik membuat saya terus berdoa agar saya bisa terus menyemangati anak saya seperti itu, di kala menang atau kalau dan di kala senang ataupun sedih.

Tapi apakah Ibu Yoo Seul salah? Apakah rasa cinta Ibu Yoo Seul lebih sedikit daripada ibu Cha Sik? Semua ibu ingin yang terbaik untuk putrinya. Ia ingin putrinya berhasil di jalur musik yang ditekuni dan ia tahu Yoo Seul anak yang jenius. Maka ia menumpahkan semuanya untuk Yoo Seul. 

Ibu tak ingin nasib Yoo Seul sama sepertinya. Ia pintar bermain piano tapi ia tak punya uang untuk perform hingga ke luar negeri. Sebelumnya ia tak ingin menjadikan anaknya pianis tahu kalau nasibnya akan seperti dirinya, yang hanya memberi kursus pada anak-anak kaya. Tapi ia melihat bakat Yoo Seul. Yoo Seul bisa mendapat kehidupan yang lebih baik darinya jika Yoo Seul menjadi yang terbaik di sekolah terbaik.

Yoo Seul menyadari kalau cowok aneh yang menyebalkan karena membuatnya bunuh diri itu benar. Ia tak pernah berkata jujur pada ibunya. Yoo Seul mengiyakan saja semua permintaan ibunya karena ingin membahagiakan ibunya. Tapi itu membuat dirinya tak bahagia. Maka kali ini ia berkata jujur.

Saya tak mengira kalau drama ini penuh melonya, tapi juga banyak yang buat ketawa. Kelima tokoh –Cha Sik, Yoo Seul, dua ibu, dan Jin Mok- semuanya memiliki alasan sendiri-sendiri dan sulit untuk membenci kelimanya. Saya bahkan bisa menerima kalau ternyata Jin Mok yang nanti jadian dengan Yoo Seul.


Tapi.. tapi… masak Ji Soo tetap ga bisa jadian sih? Andwee.. lah.. 

Page Turner Episode 2-1 akan ditulis oleh putri dari kheartbeat ya..

3 comments :

  1. Halah...kebawa perasaan tuh mbak dee. Ya sama mbak kayak saya yang pingin banget ga ada junghwan kedua wkwkwkw oot bentar.
    Wah wah nggak nyangka yang comeback bukan mbak fanny, atau duet mbak fanny mbak dee, tapi trionya mbak fanny mbak dee dan mbak poetri ><
    Duh duh tiga ahjumma mencari pelampiasan hehe pelampiasan hobi maksudnya ^^
    Keliatan kan, nggak hanya dari tulisan, bahkan komennya juga bisa beda padahal yang dibahas sama ttg pandangan penulis trhdp sikap kedua ibu remaja itu mengasuh anaknya. Jadi siapa yang ga betah mantengin sinop trio ahjumma ini? *kedip-kedip ngode

    ReplyDelete
  2. Salam kenal, Mbak Dee! Hm, sudah diputuskan: mengikuti sinopsis ini! Halah. Hiks, hanya dan hanya membaca cerita karena tak bisa menonton. Semoga Mbak Dee, Mbak Fanny, dan Mbak Poetri selalu sehat selama menulis sinopsis Page Turner! ^.*

    ReplyDelete