February 8, 2016

High End Crush Episode 4

Se Hoon menjatuhkan diri. Capek jiwa raga. Badan kucel, dokumen yang dibawanya juga lecek. Terdengar suara gema anjing menggonggong, membuat Se Hoon menoleh dan menajamkan pandangannya.


Di tengah hutan, ada rumah yang tersembunyi, terpencil di seberang sana. Hahaha.. gondok sekaligus senang karena Se Hoon akhirnya bisa menemukan rumah Yi Ryung. Tapi pasti pe-er banget buat Se Hoon agar bisa sampai di rumah itu.




Kalau ditarik garis lurus sih, deket. Tapi ini kan harus balik lagi, turun terus naik lagi hingga ke rumah Yi Ryung. Jadi dapat dipastikan kaki Se Hoon gempor saat tiba di rumah Yi Ryung. Udah gitu, ternyata rumahnya terkunci. Se Hoon memanggil-manggil Yi Ryung, tapi yang membalasnya hanyalah gonggongan si anjing.


Yi Ryung sedang tak ada di rumah. Haduhh.. Se Hoon jadi lemas, terduduk di depan gerbang. Saat duduk di bawah itulah ia melihat ada piring isi kue beras yang ditutup koran.


Wahh.. apa itu berarti Yi Ryung sudah tahu kalau Se Hoon akan ke rumah? Atau Yi Ryung memang menyajikan makanan untuk para pendaki yang tersesat dan ingin istirahat?


Apapun itu, Se Hoon tergoda untuk memakannya. Tapi Se Hoon mengurungkan niatnya. Ia kan punya harga diri dan bukan pengemis. Walau lapar, ia akan menahannya.



Di kantor, Chief Jo heran melihat Se Hoon tak kunjung datang ke kantor. Chief Heo baru sadar kalau Se Hoon tak memberitahu jadwal kerja untuk hari ini. Ia mencoba menelepon Se Hoon.


Temannya muncul di belakang dan melihat Chief Heo memasukkan nama Se Hoon di contact list sebagai CEO Terhormat  dengan foto Se Hoon yang terbaik. Tapi setelah panggilan terhubung, fotonya berubah menjadi foto Se Hoon yang mendelik, lengkap digambari dengan tanduk dan tulisan Setan. Hahaha..


Chief Heo menjelaskan kalau Se Hoon kadang suka membuka handphone-nya, memeriksa apa yang ia tulis untuk nomor handphone Se Hoon.


Chief Heo tak berhasil menghubungi Se Hoon dan melihat sikap bosnya yang mulai terlihat aneh. Sering membicarakan si Jackpot (Yi Ryung). Rekannya bercanda, “Daebak! Mungkin ia pergi ke Odaesan untuk membawa Si Jackpot itu!” Chief Jo tertawa dan rekannya menambahkan kalau Se Hoon mungkin capek-capek mendaki gunung tapi ternyata Yi Ryung sedang tak ada di rumah. “Jadi bayangkan ia meringkuk di luar berjam-jam.”

Mereka tertawa kegirangan membayangkan Se Hoon tersiksa di luar sana.


Malam hari Se Hoon, yang terbangun karena kedinginan, heran melihat Yi Ryung belum juga pulang. Apalagi sekelilingnya gelap, tak pada penerangan sama sekali.

Se Hoon mulai complain pada PLN yang tak pasang listrik di sini. Apa mereka pikir Korea Selatan itu hanya Seoul? Se Hoon terus mengomel dan baru berhenti saat mendengar suara kecipak air.


Dengan bantuan lampu dari handphone, Se Hoon mulai mencari sumber suara itu. Betapa kagetnya ia melihat Yi Ryung terapung di danau tak sadarkan diri.


Tanpa pikir panjang, Se Hoon melompat terjun ke danau.


Apa yang terjadi dengan Yi Ryung? Kita kembali ke beberapa menit yang lalu, dimana Yi Ryung termenung di pinggir sungai, memikirkan saat-saat ia dirias dan memakai gaun putih.


Tak bisa mengenyahkan pikiran itu, Yi Ryung memutuskan untuk mendinginkan badannya. Ia melepas baju dan roknya dan menceburkan diri ke kolam. Ia menenangkan diri dengan mengapungkan badannya. Tapi yang muncul di kepalanya malah sosok CEO bossy yang pemarah yang mengejarnya.


Jadi bisa ditebak betapa kagetnya ia melihat CEO itu terjun dan menghampirinya. Ia menjerit sekeras-kerasnya dan mendorong Se Hoon agar menjauhinya. Dengan cepat ia kembali ke pinggir danau dan menutupi badannya.


Tapi Se Hoon pun juga tak kalah kagetnya. Karena terkejut, ia tak menghindar saat didorong keras oleh Yi Ryung hingga tenggelam. Tapi kondisi tubuhnya yang lemah dan lelah setelah seharian mendaki, membuatnya kram, tak bisa berenang naik. Sekejap ia pun pingsan.


Se Hoon mengerang kesakitan. Tapi saat ia membuka mata, ia melihat ia tak lagi ada di danau tapi di sebuah rumah dengan suara ketus wanita yang menyuruhnya tak bergerak dulu. Ia menoleh dan terkejut melihat Yi Ryung.


Lebih terkejut lagi melihat tak sehelai bajupun melekat di badannya. Ia menjerit panik dan bertanya kenapa ia telanjang? Hahaha.. tapi Yi Ryung malas menanggapi dan berlalu pergi. Tapi Se Hoon mencekal tangannya, bertanya, “Tunggu! Apa yang terjadi? Kenapa aku ada di sini?”


Yi Ryung mendesah kesal, “Kau ini mengagumkan, ya karena kau selalu bisa menanyakan hal yang aku ingin tanyakan. Apa yang kau lakukan? Mengapa kau kemari?


Se Hoon mulai menggali ingatannya dan samar-samar ia ingat kalau Yi Ryung menyelamatkannya bahkan menggendongnya yang pingsan hingga  ke rumah. Haha.. ia mengernyitkan wajahnya, menolak percaya dengan ingatannya yang aneh. Yi Ryung yang menjawab, “Aku tak tahu, tapi jika kelihatannya benar-benar aneh, mungkin semuanya itu memang terjadi.”


Ucapan itu bukan untuk menyindir Se Hoon, tapi lebih ke pengalamannya sendiri. Ia mengingat bagaimana beratnya Se Hoon saat ia gotong di punggungnya. Ia juga harus melepas baju Se Hoon yang basah kuyup agar Se Hoon tak sakit. Tapi bagaimana dong, Se Hoon kan cowok.


Seorang budiman tak perlu memikirkan kesopanan. Peribahasa itu yang membuat Yi Ryung ‘tega’ melepas baju, celana..


“Cukup. Tak perlu kau teruskan,” potong Se Hoon jengah. Hahaha.. Se Hoon juga ga berani mendengar lanjutannya. “Bagaimana mungkin seorang gadis bisa tak tahu malu dan melepas baju pria seperti ini..”


“Harusnya aku tadi membiarkanmu mati saja dengan baju basahmu!” bentak Yi Ryung kesal. “Pria macam apa yang langsung pingsan setelah masuk ke air?! Uh.. dasar lemah tak berguna!”


Se Hoon langsung membantah ucapan Yi Ryung. Ia bukan pria lemah, apa perlu ia buktikan? Tapi pembelaan itu berhenti ketika Yi Ryung menyodorkan cermin. Se Hoon menjerit melihat ada goresan luka di wajahnya dan malah menuduh Yi Ryung memukulinya saat ia pingsan.


Haha.. Yi Ryung menyindir, “Apa dengan kondisimu sekarang, kau masih perlu dipukuli?” Se Hoon menyadari hal itu dan menggerutu kenapa ucapan Yi Ryung selalu benar. Ha.


Yi Ryung bertanya ada urusan apa Se Hoon ke rumahnya. Se Hoon menjawab kalau ia khawatir pada Yi Ryung yang hidup sendirian di gunung. Yi Ryung tak percaya bualan Se Hoon yang katanya hanya mampir (bok! Mampir sejauh ini??), tapi Yi Ryung memilih tak peduli dan meninggalkan Se Hoon sendiri.


Se Hoon hanya bisa membodoh-bodohkan dirinya sendiri. Padahal ia ahli berenang. Mau gaya apa, gaya dada, gaya bebas, gaya punggung. Tapi kenapa tiba-tiba ia kram?


Mendadak pintu terbuka, mengagetkan Se Hoon karena Yi Ryung masuk lagi. Yi Ryung ternyata masuk untuk membawakan baju kakeknya untuk dipakai Se Hoon. Se Hoon hanya bisa bengong melihat baju jadul itu.


Di Seoul, Chief Heo masih belum bisa menghubungi Se Hoon. Hal yang belum pernah terjadi. Tapi rasanya menyenangkan karena boss mereka absen seperti ini. Mereka tertawa kegirangan.


Sementara di gunung, Se Hoon mulai ketakutan mendengar suara-suara. Setelah menyalakan lilin, ia malah merasa ada bayangan di belakangnya. Ia menyalakan satu lilin lagi. Dan ia menjerit keras-keras melihat seekor ular merah ada di atas lemari, siap menerkamnya.


Ia naik ke atas meja dan menjerit memanggil Yi Ryung. Yi Ryung muncul dan Se Hoon mulai menceritakan kalau ada ular. Tapi jaim tetap jalan, dan dengan suara (pura-pura) tenang, Se Hoon berkata, “Aku sih sudah akan menangkapnya. Tapi aku khawatir kalau itu sebenarnya adalah binatang peliharaanmu. Jadi aku bertanya dulu padamu.”


Yi Ryung bingung tapi segera paham, “Ah.. yang kau maksud si Baek Sa. Aku juga heran, kemana ya perginya? Kau harus hati-hati karena dia beracun. Baek Sa.. Baek Sa..”


Se Hoon kaget karena tebakan ngawurnya ternyata benar. Yi Ryung memelihara ular, beracun pula. Yi Ryung berbalik dan berkata kalau ia hanya bercanda. Se Hoon masih ragu. “Kau bercanda tentang kau memelihara ular atau kau bercanda kalau ular itu beracun?


Yi Ryung hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengambil sesuatu berwarna merah muda dan melemparkan ke Yi Ryung. Tentu saja Yi Ryung menjerit seperti cewek dan melompat dari meja. Haha.. ternyata itu hanya seutas tali yang sering digunakan kakek Yi Ryung untuk mendaki gunung.


Se Hoon menatap tali itu seolah tak percaya. Ia tadi benar-benar melihat ular di atas lemari. Yi Ryung hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan orang kota di depannya ini dan beranjak pergi, “Selamat tidur..”


Tapi Se Hoon meraih tangan Yi Ryung, memintanya jangan pergi. “Aku tak pernah berada di tempat segelap ini Aku tak biasa di tempat gelap. Aku takut,” ujar Se Hoon sambil menarik Yi Ryung hingga terduduk di depannya dan ia menyandarkan kepalanya ke pangkuan Yi Ryung. “Bisakah kau memegang tanganku dan aku tidur di pangkuanmu?”


Err.. kayaknya nggak mungkin deh. Masa Se Hoon gitu?


Ternyata itu hanya imajinasi Se Hoon saja. Dan ia tak mau melakukan dengan cara itu. Maka caranya adalah ia bersikap tahu tentang kemauan Yi Ryung yang sebenarnya. Mau dalam tanda kutip. Ehem.  Se Hoon minta Yi Ryung tak malu-malu. Dengan sok kecakepan, Se Hoon berkata kalau ia ini digandrungi oleh banyak orang. Semua orang di Cheomdamdong mengenalnya, mungkin hanya Yi Ryung saja yang tak tahu karena tinggal di gunung.


Tapi Yi Ryung berkata tidak. “Kakekku mengajarkan kalau laki-laki dan perempuan harus tidur terpisah jika menginjak usia 7 tahun.”


Se Hoon tetap memaksa Yi Ryung tinggal di kamarnya. Tapi Yi Ryung tak mau karena sudah capek dan pingin tidur sekarang. Melihat Yi Ryung cemberut, Se Hoon berkata ia melakukan ini bukan karena ia takut tidur sendirian. “Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau selalu memasang wajah jutek seperti itu jika melihatku. Aneh.”


“Dan kau selau nempel padaku dan tak mau melepasku pergi! Ayo lepaskan aku,” ujar Yi Ryung kesal.


“Hahaha.. kau ini ge-er sekali. Apa aku gila? Kenapa juga aku terus nempel padamu?” tanya Se Hoon. Yi Ryung tak sabar dan menarik tangannya. Se Hoon mendelik dan menarik tangan Yi Ryung.
Yi Ryung semakin kesal dan menarik tangannya lebih kuat sehingga Se Hoon tertarik ke atas. Se Hoon tak mau kalah dan menarik Yi Ryung sekeras mungkin..


.. membuat mereka terjatuh di kasur bersama-sama.



Komentar :

Kok bisa, Se Hoon narik Yi Ryung hingga terjatuh, Yi Ryung malah bisa berada di bawah Se Hoon? Haha.. hanya di dramaland adegan terakhir ini bisa terjadi.

Se Hoon ternyata penakut banget. Haduhh… tali disangka ular. Berarti saat ada bayangan tangan saat Se Hoon menyalakan lilin itu juga hasil imajinasinya yang penakut, ya..

Selanjutnya : High End Crush Episode 5

No comments :

Post a Comment