February 6, 2016

Remember : War of the Son Episode 14 - 1

Sebelumnya di blog Lilik :


Remember : War of the Son Episode 14 – 1

In Ah tak kuasa menahan air matanya saat Jin Woo mendongak dan memanggilnya penuh nada bersahabat, “Noona! Kenapa kau ada di sini? Aku sedang menunggu ayahku di sini.” Air matanya bercucuran melihat Jin Woo yang kedinginan karena terus menunggu kedatangan ayahnya yang tak kunjung datang.




Ia memeluk Jin Woo dan menangis tersedu-sedu, membuat Jin Woo bingung melihat sikap noona-nya.


In Ah kembali ke kantor. Manajer Yeon yang lembur heran karena In Ah tak bersama Jin Woo. In Ah menjawab Jin Woo ada di rumahnya. Tanpa basa-basi ia bertanya apakah Jin Woo menderita penyakit yang sama dengan ayahnya? Ia sudah mengetahui semuanya jadi ia minta Manajer Yeon berkata sejujurnya.


Manajer Yeon pun mengiyakan. Ia tahu In Ah pasti shock mendengarnya, karena itu Jin Woo melarangnya untuk memberitahu In Ah. In Ah tahu Manajer Yeon pasti tahu dokter yang menangani Jin Woo. Ia minta Manajer Yeon menemaninya pergi menemui dokter itu karena ia tak tahan berdiam diri tak tahu apapun yang terjadi pada Jin Woo.


Pagi hari, Jin Woo terbangun dan seperti horor saat ia bangun di tempat yang pernah ia tinggalkan 4 tahun yang lalu, yaitu kamarnya. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya. Dan ucapan Gyu Man-lah yang terngiang di telinganya. Tentang kenyataan kalau ayah Dong Ho-lah penyebab kecelakaan mobil yang menewaskan ibu dan kakaknya.


Jaksa Hong yang sekarang menjadi Pengacara Hong memberi laporan apa yang telah dilakukan untuk menekan pemberitaan jelek tentang grup Ilho. Ia berhasil meyakinkan media kalau dana kotor yang mereka keluarkan hanyalah 100 juta won dan bukannya 300 juta won dan media juga memberitakan tentang kerjasama Ilho dengan para subkontraktor.  Presdir Nam merasa usaha Pengacara Hong sudah bagus.


Gyu Man memuji tindakan Pengacara Hong yang jauh lebih efektif daripada Dong Ho. Tahu begitu ia sudah menarik Pengacara Hong dari dulu, katanya dengan nada bercanda. Tapi senyumnya hilang saat ayahnya menatapnya tajam. Gyu Man akhirnya tutup mulut, sadar kalau semua ini adalah salahnya.


Jin Woo masuk ke ruang Dong Ho dan langsung memukulnya. “Kau sudah tahu tentang kecelakaan Yongin sejak awal, kan?” Dong Ho mencoba menjelaskan tapi Jin Woo memotongnya, “Dan kau menyebut dirimu itu manusia? Bagaimana bisa kau menghadapiku setelah mengetahui kejadian itu?”


Dong Ho berlutut, berkata kalau kejadian itu adalah kecelakaan. Ia pun juga kehilangan ayahnya jadi kejadian itu tak disengaja.

Jin Woo berteriak, tak sudi mendengar ocehan Dong Ho lagi. Ia menyesal pernah bertemu dengan Dong Ho dan memohon Dong Ho untuk menjadi pengacara ayahnya. “Jika aku tak melakukannya, aku tak akan mengasihani atau membenci diriku sendiri seperti sekarang ini. Sekarang, aku tak akan pernah memaafkanmu.”


Jin Woo beranjak pergi tapi Dong Ho berseru kalau kecelakaan itu terjadi karena Nam Il  Ho. Jin Woo kaget mendengar nama ayah Gyu Man. Dong Ho berkata, “Aku kehilangan ayahku karena Nam Il Ho dan kau juga kehilangan ibu dan kakakmu. Jin Woo-ya.. Hari ini aku berlutut padamu, tapi aku berjanji akan membawa Nam Il Ho dan Nam Gyu Man untuk berlutut di hadapanmu dan aku. Aku berjanji.”


Dokter menjelaskan penyakit Jin Woo memang sama seperti ayahnya. Tapi kondisi Jin Woo jauh lebih cepat menurun dibandingkan pasien lain karena sindrom hypertimesia-nya. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan, yang ada hanyalah obat untuk memperlambat.


Tapi Jin Woo tak akan kehilangan semua ingatannya sekaligus, kan, tanya In Ah. Dokter menjawab  bisa dan kemungkinan terburuknya adalah Jin Woo akan kehilangan ingatan dalam 6 bulan. Dan pada stadium akhir, pasien semakin sulit untuk bekerja dan tak mampu memahami ucapan lawan bicaranya.


In Ah berjalan gontai di koridor rumah sakit. Manajer Byun mengikutinya dari jauh, memberi kesempatan In Ah sendiri.


Dong Ho masih berada di ruangannya, hatinya berat memikirkan Jin Woo. Sang Ho melapor kalau kemarin Nam Kyu Man menelepon Jin Woo, mengajak ketemuan di kantor. Kemungkinan Jin Woo mengetahui kecelakaan itu dari Gyu Man.


Gyu Man marah luar biasa dan menemui Gyu Man yang mengorek masa lalunya. Gyu Man santai menghadapinya dan berkata Dong Ho pun juga mengorek rahasia ayahnya. Dong Ho memperingatkan Gyu Man kalau ia tak akan tinggal diam. Tapi Gyu Man merasa Dong Ho mengancamnya.


“Ini adalah peringatan. Tapi aku tak yakin apakah ini peringatan atau ancaman,” kata Dong Ho sambil menjatuhkan lampu di meja Gyu Man. Semua itu tergantung dari Anda,”

Gyu Man berkata Dong Ho ini seperti lele kecil yang mencoba mencipratkan lumpur tapi hanya membuat air sedikit beriak. Tak peduli seberapa kerasnya Dong Ho mencoba ia dan ayahnya tak akan terganggu. Tapi Dong Ho meminta Gyu Man melihat seberapa banyak lumpur yang akan ia cipratkan.


In Ah menemui ayahnya dan menceritakan masalahnya. Dengan tak memberitahu jati diri Jin Woo, In Ah bertanya apa yang harus ia lakukan ketika mengetahui temannya ternyata sangat sakit. Ia sangat sedih dan tak mengerti kenapa hal-hal yang buruk selalu terjadi pada temannya itu.



Ayah menjawab tak ada yang berubah. Ayah tahu In Ah pasti sedih tapi ia meminta In Ah kuat. “Coba bayangkan betapa sulitnya jika kau menjadi temanmu itu. Penyakit temanmu itu adalah bagian dari dirinya. Perlakuka dia secara normal seperti sebelumnya.”


Manajer Byun menunggu kedatangan In Ah untuk memintanya pura-pura tak akan penyakit Jin Woo. Jika Jin Woo tahu kalau In Ah tahu, akan semakin berat bagi Jin Woo. “Saya ingin membiarkan dia hidup dengan pilihannya sendiri, bagaimana mempergunakan sisa waktu yang ia miliki.”


In Ah nampak ragu. Jin Woo tiba-tiba muncul dan Manajer Byun berbalik untuk menyembunyikan air mata. Jin Woo sedang mencari-cari alasan tapi In Ah memotongnya, mengatakan kalau ia menikmati makan malam kemarin dan tasnya juga sangat bagus.

Jin Woo memasang senyum dan berkata lain kali ia akan ganti mentraktir In Ah. Ia pun masuk ke dalam ruangannya. Seketika itu juga senyum In Ah lenyap dan memandang Manajer Byun.


Walau sebenarnya Jin Woo merasa aneh karena ia hanya ingat saat mengajak In Ah makan malam, tapi ia tak bisa mengingat selanjutnya. Ia menceritakan hal ini pada Manajer Byun. Ingatannya akan kejadian kemarin hanya sampai ia bertemu dengan Nam Gyu Man. Tapi ia tak ingat kejadian setelah itu.


Manajer Byun malah bertanya alasan kepergian Jin Woo menemui Gyu Man. Jin Woo menjawab bukan hal yang penting.Manajer Byun khawatir penyakit Jin Woo semakin bertambah parah. Tapi Jin Woo melarang dirinya sakit hingga Gyu Man diadili.


Seok Kyu akhirnya mendapatkan laporan forensik Jung Ah. Senjata yang digunakan untuk membunuh Jung Ah adalah pisau pembuka wine namun sidik jari Seo Jae Hyuk tak ditemukan di sana. Seok Kyu merasa kasus ini penuh bukti tapi tak ada yang kuat.


Moo Suk mengunjungi Jae Il di penjara. Jae Il mengira Moo Suk akan mengeluarkannya seperti janji Tuan Nam sebelumnya. Tapi Moo Suk berkata, “Apa kau pikir pengabdianmu selama beber,  apa tahun bisa menganulir masa lalumu yang berkubang lumpur? Dengarkan baik-baik. Aku di sini hanya atas perintah Tuan Nam. Habiskan waktumu dengan berteman dengan teman-temanmu di penjara.”


Gyu Man kembali makan siang, kali ini atas ajakan Seok Kyu. Ia ingat laporan dari Man Suk kalau Seok Kyu masih mencurigai putusan kasus Seo Jae Hyuk. Mereka berbasa basi dan Seok Kyu menawarinya minum wine. Saat melihat pelayan membuka wine, Seok Kyu bertanya santai, “Gyu Man-ah, menurutmu alat pembuka wine apa bisa digunakan untuk membunuh orang?”


Gyu Man menyembunyikan kekagetannya dan menjawab tenang kalau ia tak tahu karena tak pernah membunuh orang. Gyu Man balik bertanya apa yang dilakukan Seok Kyu jika tahu temannya membunuh. Menghakiminya atau menyelamatkannya dari tuduhan itu? Seok Kyu menjawab, “Sebagai hakim aku akan membuatnya membayar kejahatannya. Tapi sebagai sahabat, aku tak akan menutupi jejaknya. Itu adalah tugas utama seorang teman.”

Sayang kita tak melihat reaksi So Bum mendengar jawaban Seok Kyu.


Jin Woo membidik target baru. Teman kongkow Nam Gyu Man. Ia menemui Han Soo (yang sebelumnya kita panggil dengan Detektif Gwak) dan memintanya untuk mengenalkan pada bandar narkoba dan sebagai balasannya ia berjanji akan menempatkan Gyu Man di sebelah ruang penjara Detektif Gwak.


Karena dikenalkan oleh Han Soo, si bandar mau memberikan informasi tentang pesta narkoba yang diadakan sebulan sekali di Imperial Class jam 9 malam, walau tentu sulit bagi Jin Woo untuk bisa masuk.


In Ah menemui mantan atasannya, Jaksa Tak, memintanya untuk terus berusaha menguak kasus ayah Jung Ah walau jejak-jejaknya sudah dihilangkan oleh Jaksa Hong Man Suk. Jaksa Tak kadang merasa iri pada Jaksa Hong yang keluar dari kejaksaan tapi masih bisa hidup enak dari Ilho. In Ah menangkap nada cemburu dari suara Jaksa Tak dan menggodanya. Tak disangka Jaksa Tak mendapat telepon dari Presdir Nam.


Gyu Man berniat menghancurkan Jin Woo. Tapi berdasar laporan Moo Suk, tak ada yang berharga dari Jin Woo yang bisa dihancurkan. Tak ada harta maupun aset berharga. Tak ada sanak keluarga yang bisa diancam. Kecuali..


Moo Suk mengeluarkan foto In Ah dan menyebutnya sebagai Achilles heel-nya Jin Woo. Gyu Man memandangi foto In Ah dan setuju kalau titik lemah Jin Woo adalah In Ah.


Pengacara Song mengumumkan kalau untuk pertama kalinya, ia akan maju ke pengadilan sebagai pengacara. Wahh.. ketiga rekannya tak menyangka kabar baik itu dan menyelamati Pengacara Song.


Jaksa Tak menemui Presdir Nam dan Moo Suk. Presdir Nam sudah mendengar kalau Jaksa Tak adalah kandidat kuat menggantikan Moo Suk dan menawarkan ‘kerja sama’ yang bisa mengubah hidup seperti yang dilakukan Moo Suk yaitu bekerja untuk Presdir Nam.


Jaksa Tak menerima minum yang disodorkan Moo Suk. Tapi saat akan mengambil hidangan, Jaksa Tak membanting sumpitnya. Ia tak bisa menelan makanan karena merasa muak. Ia menolak bekerja untuk Presdir Nam dan mencemooh Moo Suk yang tak pantas bekerja di bidang hukum. Ia pergi setelah mengeluarkan uang untuk minuman yang ia teguk tadi.


Di kedai mie, Jaksa Tak makan mie dengan lahap. Walau menolak, ia mengaku sedikit menyesal menolak tawaran itu. Tapi Dong Ho memberitahu kalau keputusan Jaksa Tak tepat karena kehidupan yang disesalkan Jaksa Tak itu nanti akan berbalik menghantuinya.


Dong Ho memberitahu kalau ia sedang menngumpulkan bukti tentang ledakan Seogwang 17 tahun lalu yang akan ia gunakan untuk menjatuhkan Presdir Nam Il Ho. “Apa kau tertarik untuk bergabung denganku?”


Cengiran Jaksa Tak melebar. “Jika hal itu bisa menghancurkan Nam Il Ho, mana bisa aku tolak.”


Hari persidangan Pengacara Song tiba. Dan seperti dulu, Pengacara Song mulai gugup. Jin Woo menguatkan, kali ini hanya Pengacara Song saja yang bisa membebaskan terdakwa dari penjara. “Terdakwa akan diganjar 10 tahun penjara jika kau tak berdiri dan melawan.Kumohon, lindungilah dia dengan hukum, sebagai pengacara.”


Kasus yang ditangani Pengacara Song adalah pengadilan naik banding dimana seorang orang ibu rumah tangga diputuskan bersalah membunuh suaminya. Si suami sering menyiksa anaknya yang cacat karena mempermalukan si suami dan ketika suami yang sedang mabuk pulang ke rumah dan ia mencekik anaknya hingga hampir mati. Si ibu pun menyelamatkan anaknya dengan membunuh si suami.


Mulanya pembelaan Pengacara Song terbata-bata seperti biasanya. Tapi setelah melihat dukungan dari Jin Woo, ia berhasil memfokuskan pikiran pada penderitaan ahjumma itu dan kegugupannya mulai menipis. “Yang Mulia, saya mohon Anda mempertimbangkan siapa yang paling bersalah antara ayah yang mencoba membunuh anaknya dan ibu yang ingin menyelamatkan anaknya.”


Pembelaan selesai dan Pengacara Song menatap Jin Woo yang mengangguk, memujinya. Hakim pun memutuskan si istri bersalah, tapi mengurangi hukuman 10 tahun menjadi 2 tahun saja. Hal ini membuat si ibu menangis haru dan berterima kasih pada Pengacara Song. 

Selanjutnya : Remember of the Son Episode 14 - 2

2 comments :

  1. yah....sedih banget liat keadaan jin woo yg hilang akan hilang ingatan....kenapa penyakit itu menurun pada jin woo....gimana akhirnya jin woo ya????
    wah sekarang dong ho udah mulai berani melawan langsung di depan gyu man... lanjut terus dong ho....tegakkan keadilan,,,,

    ReplyDelete
  2. sedih kok ji won sakit juga... slam kenal mbk dee,aku dah lama baca blokmu cm br brkomentar.. trimakasih untuk sinopnya

    ReplyDelete