November 15, 2016

Shopping King Louis Episode 15 - 2



Bersama Louis, Tuan Baek pergi ke kantor polisi. Sebelum Tuan Baek menyerahkan diri, dia meminta Louis untuk menjaga Jae Suk dan Ma Ri dan Louis pun mengiyakan. Dia meminta Tuan Baek tak perlu mengkhawatirkan mereka. 

Tuan Baek masuk kantior polisi dan terlihat bingung, jadi detektif Nam pun menghampirinya. Pada detektif Nam, Tuan Baek mengaku kalau dia datang untuk menyerahkan diri. Detektif Nam pun mengangguk .





Tuan Goo sadarkan diri, namun kali ini dia tak bisa kabur, karena detektif Nam sengaja menungguinya sendiri dan tangan Tuan Goo juga sudah di borgol. 

Tuan Baek sudah berada di ruang interogasi dan detektif Nam berterima kasih padanya karena sudah mengaku. Namun, apa yang Tuan Nam katakan , ada yang tidak konsisten dengan pernyataan Tuan Goo, jadi dia ingin meng-kroscek kembali.


Tuan Baek dan Tuan Goo dipertemukan. Tuan Goo mengaku kalau mulai dari kecelakaan Louis sampai penculikan Bok Sil, semua itu adalah perintah dari Tuan Baek. Tentu saja Tuan Baek membantah dan mengatakan kalau Tuan Goo sudah mengancamnya supaya memberikannya uang. Namun Tuan Goo berkata kalau dia tak pernah meminta uang pada Tuan Baek. 

“Dia berbohong. Dia mencoba menyalahkan semuanya padaku. Dia mencoba menculik putriku, tapi dia salah orang dan malah menculik Bok Sil,” ucap Tuan Baek. 

“Aku hanya mengerjakan apa yang diperintahkan. Semua yang kulakukan adalah apa yang dia perintahkan untukku,” jawab Tuan Goo dan tUan Baek membantah hal tersebut. 


Tuan Baek sudah disel dan dia mengatakan pada Louis kalau dia tak pernah menyuruh Tuan Goo untuk menculik Bok Sil. Louis sendiri sudah mendengar semuanya dari detektif Nam, karena dia ingin membantu Tuan Baek, jadi dia bertanya apa ada cara untuk membuktikan kalau Tuan Baek tidak bersalah. 

“Aku datang ke toko buku dengan membawa uang, tapi itu setelah Tuan Goo menghilang. Tidak ada kamera CCTV di sekitar toko buku. Aku tidak punya apapun untuk membuktikan diriku sendiri,” aku Tuan Baek.

“Toko buku?” ucap Louis dan kemudian dia teringat sesuatu. Louis langsung menghubungi Joong Won dan mengajaknya untuk melakukan sesuatu.


Mereka berdua sekarang sudah berada di toko buku Jae Suk dan mengintip mobil putih yang selalu diparkir di depan toko Jae Suk. Itu adalah mobil yang Louis lihat sebelumnya dan Louis sedikit merasa curiga saat melihatnya, namun saat itu Louis tak menghiraukannya. 


Joong Won kemudian pergi menghampiri mobil itu. Di dalam mobil, Joong Won melihat sebuah kamera dengan lensa panjang. Dia kemudian mengaku sebagai polisi dan ingin mengeledah mobil itu. Si pemilik mobil tak mau dan hendak melarikan diri, namun Joong Won dengan cepat menangkap tangan si pemilik mobil.



Dari kamera si pemilik mobil, Joong Won dan Louis mendapatkan bukti kalau Tuan Baek benar-benar datang ke toko Jae Suk dan membawa uang untuk Tuan Goo. Saat ditanya dari mana mereka mendapat foto-foto itu, Louis menjawab kalau Jae Suk punya penguntit dan mereka menyita semua foto yang sudah dia ambil di depan toko Jae Suk. 

“Detektif, tolong selesaikan masalah ini,” pinta Louis dan detektif Nam mengiyakan. 

“Mereka berdua mengobrol dalam foto ini. Hari selanjutnya, Tuan Baek ada di toko buku membawa uang,” jelas Louis dan bertanya apa foto itu bisa menjadi bukti yang cukup untuk Tuan Baek?

“Kau harus menjadi detektif. Kemampuan observasimu hebat,” puji detektif Nam. 


Joong Won kemudian bertanya kenapa detektif Nam berada di toko buku Jae Suk dan dalam foto itu, dia terlihat sangat dekat dengan Jae Suk. 

“Sulit bagi seorang wanita menjalankan sebuah toko buku sendirian. Lagipula, dia membantu kita menemukan Louis. Sebagai rasa terimakasihku,  aku sering membantunya... membawa buku-buku berat,” jawab detektif Nam.

“Kau senang membongkar sesuatu, kan? Kau harus mengurus urusanmu sendiri,” ucap Joong Won kesal karena sifat detektif Nam yang selalu mengurusi urusan orang lain.

Detektif Nam sekarang sudah berada di ruang interogasi bersama Tuan Goo, dia bertanya kenapa Tuan Goo mengambil resiko menculik Ma Ri? Dan bagaimana dengan uang yang sudah Tuan Baek berikan sebelumnya? Tuan Goo pun menjawab kalau dia tak punya pilihan lain, karena uangnya sudah dicuri oleh wanita tua yang kemampuan mencopetnya hebat. 

Detektif Nam kembali ke meja kerjanya dan merasa pusing karena tugasnya bertambah lagi, dia harus menemukan wanita tua yang sudah mencuri uang Tuan Goo. Melihat ekspresi frustasi detektif Nam, rekannya langsung bertanya kenapa? Tak menjawab, detektifk Nam bertanya balik, dia bertanya apa rekannya sudah mendapatkan rekaman CCTV di sekitar minimarket tempat tUan Goo kecopetan. Rekannya mengiyakan, bahkan dia juga mendapatkan identitas si pencopet itu. 

“Dia adalah Cho Ha Ni dengan sembilang kasus pencopetan sebelumnya. Aku pernah menangkapnya sebelumnya,” ucap rekan detektif Nam dan detektif Nam memintanya untuk mencari wanita tua yang bernama Cho Ha Ni tersebut. Rekannya pun menyanggupi, karena hal tersebut memang keahliannya, bahkan dia sudah mengirim orang untuk menangkapnya. 


Nenek Cho sudah berada di kantor polisi dan ditanyai oleh detektif Nam, namu Nenek Cho tak mau mengaku kalau dia sudah mengambil uang Tuan Goo, walau sudah jelas-jelas dia tertangkap basah di kamera CCTV. Nenek Cho berkata kalau wanita yang ada di rekaman hanya wanita yang mirip dengannya.


Bok Sil merasa lega karena gips ditangannya sudah di lepas. Louis kemudian berpesan kalau Bok Sil harus lebih berhati-hati lagi mulai sekarang. Setelah dari rumah sakit Louis mengajak Bok Sil ke kantor polisi, karena dia sudah meminta Tuan Baek untuk langsung meminta maaf pada Bok Sil. 

“Tapi dia tidak menculikku,” ucap Bok Sil, jadi dia lebih memilih untuk mengunjungi Tuan Baek saja, daripada memintanya untuk meminta maaf. Louis pun setuju.



Detektif Nam mulai frustasi karena Nenek Cho tak mau mengaku kalau dia yang sudah mengambil uang Tuan Goo. Tak hanya menyangkal Nenek Cho malah menyalahkan detektif Nam karena sudah menahan dirinya di kantor polisi tanpa bukti yang jelas. Tepat disaat itu Bok Sil dan Louis datang menyapa detektif Nam. Bok Sil melihat nenek Cho dan dia pun langsung mengenalinya. Nenek Cho juga masih mengenali Bok Sil, karena hanya Bok Sil satu-satunya orang yang bisa mengejarnya dan meminta baju yang dia curi. 

Karena Detektif Nam tak berhasil menginterogasi Nenek Cho, jadi Bok Sil lah yang melakukannya. Namun nenek Cho masih mengelak, dia tak mau mengaku kalau dia lah yang sudah mencuri uang Tuan Goo. Ingin menghindari Bok Sil, Nenek Cho kemudian pergi untuk menemui detektif Nam.

“Kakimu sudah membaik. Aku lega,” ucap Bok Sil ketika melihat Nenek Cho berjalan dengan baik. 


Flashback!
Nenek Cho mengeluh harus mengenakan pakaian Bok Sil, karena Bok Sil meminta pakaian yang dia pakai. Dengan kesal Bok Sil pun menyuruh nenek Cho untuk memakain pakaian dalam saja kalau dia tak mau mengenakan pakaian itu. 

“Aku tidak pernah bertemu seseorang... yang sangat terobsesi dengan bajunya!” ucap Nenek Cho.

“Ini milik mendiang ibuku,” jawab Bok Sil.

“Maafkan aku. Jangan memperhatikan... seorang wanita tua sepertiku. Aku doakan semoga kau beruntung. Hidup di Seoul bisa jadi sangat sulit,” ucap Nenek Cho sambil jalan dengan menahan sakit kakinya. Melihat si nenek yang susah berjalan karena kakinya sakit, Bok Sil pun memberinya uang untuk makan dan sebelum pergi, Bok Sil berpesan padanya untuk menjaga diri.
Flashback End!

Nenek Cho mengeluh kesal karena mengingat hal itu dan karena kebaikan Bok Sil itulah, Nenek Cho mengubah keputusannya. Dia akan memberitahukan dimana uangnya. Saat Bok Sil memanggil detektif Nam, Nenek Cho tersenyum dan bergumam, “Siapa yang tahu... kalau aku akan menukar 10 juta dolar dengan 10 dolar?”


Kita beralih ke teman detektif Nam yang menginterogasi Tuan Baek. “Untuk membuktikan kalau kau tidak bersalah, Tuan Kang Ji Sung sudah menemukan buktinya. Kau harus jujur sekarang. Seseorang tewas dalam kecelakaan itu. Siapa yang akan percaya kalau kau tidak bermaksud untuk membunuh seseorang?” tanya detektif itu. 

“Aku mengatakan yang sejujurnya,” jawab Tuan Baek. 

“Bukankah kau meminta bantuanku... karena kau merasa bersalah?” tanya detektif itu lagi. 

Flashback!
Si detektif menemui Tuan Baek di kantornya dan Tuan Baek memberinya uang dengan syarat si detektif harus menghubunginya jika Tuan Goo sudah sadar dari komanya
Flashback End!


Tuan Baek mengaku kalau dia melakukan semua itu karena dia khawatir Tuan Goo tidak akan bangun lagi. Dia tak punya maksud lain lagi. Tepat disaat itu detektif Nam masuk dan membawa tas uang milik Tuan Goo, di dalam tas itu juga terdapat ponsel milik Tuan Goo. Dalam ponsel itu terdapat rekaman percakapan antara Tuan Goo dan Tuan Baek, saat Tuan Baek meminta Tuan Goo untuk membuat kecelakaan kecil pada Louis.

Isi percakapannya:

“Yang perlu kau lakukan adalah membuat sedikit keributan,” ucap Tuan Baek. 

“Kenapa kau tidak melenyapkannya?” tanya Tuan Goo. 

“Tidak. Jika Ji Sung terluka sedikit, Nyonya Choi akan langsung mengirimnya kembali ke Prancis. Tidak perlu menciptakan kekacauan besar,” jelas Tuan Baek.

Mendengar isi percakapan itu, Tuan Baek ingat kalau Tuan Goo pernah berkata kalau dia tak menyalin isi USB yang diberikan padanya, tapi ternyata Tuan Goo masih meninggalkannya di ponselnya. Namun Tuan Baek cukup bersyukur, karena dengan bukti rekaman itu, dia benar-benar terbukti tak merencanakan untuk membunuh Louis. 

Tuan Baek pun mengucapkan terima kasih pada detektif Nam karena detektif Nam sudah mendapatkan bukti yang meringankan hukuman untuknya. 

“Bok Sil membantuku menemukan ini, kau harus berterima kasih padanya. Hukumanmu akan dikurangi karena ini,” ucap detektif Nam dan Tuan Baek langsung menemui Bok Sil dan Louis. 


Tuan Baek berterima kasih pada Bok Sil dan mengatakan kalau dia sudah berhutang banyak pada mereka berdua. Tuan Baek menangis dan Bok Sil kemudian menggenggam tangannya lalu tersenyum. Melihat kebaikan pasangan itu, Tuan Baek semakin menangis karena rasa bersalahnya. 



Tuan Cha memberitahu Young Ae kalau Tuan Baek di tahan karena melakukan tindakan yang memalukan. Mendengar itu Young Ae jadi mengkhawatirkan Jae Suk, karena suaminya masuk penjara. 


Di rumah, Jae Suk dan Ma Ri membaca surat yang sudah ditinggalkan Tuan Baek untuk mereka berdua. Isi suratnya:

“Jae Sook.
Aku minta maaf karena aku selalu  merasa tersingung karenamu.
Aku sudah menjadi orang lain selama ini... karena aku terlalu sibuk menutupi apa yang sudah kulakukan.
Tapi kau harus tahu kalau aku juga merasa tertekan selama ini.
Aku harus dihukum atas apa yang kulakukan, tapi aku ingin kau dan Ma Ri tetap sehat.
Aku juga ingin mengatakan padamu kalau aku berterima kasih padamu...karena selalu berbuat baik pada Louis.
Apakah aku akan bisa...membayar semua yang kau lakukan untukku?”

Jae Suk menangis setelah membaca surat Tuan Baek, dia bertanya kenapa Tuan Baek melakukan semua itu.


Tuan Kim dan Louis sudah berada di Busan untuk mengambil kotak harta karun yang Louis sembunyikan dan ternyata kotak itu benar-benar ada disana. Tuan Kim pun bingung karena sebelumnya dia sudah membuka tempat rahasia itu, namun dia tak menemukannya disana. Tapi sekarang kotak harta karun itu benar-benar ada. 

“Kau sudah semakin tua. Kau harus memakai kacamata baca,” ejek Louis dan Tuan Kim tak terima dikatai tua, dia mengatakan kalau penglihatannya masih sangat bagus. Tuan Kim meminta Louis berhenti mengatainya tua, karena itu sangat menyakiti perasaannya. 

“Tuan Baek mengatakan padaku kalau semakin tua membuatmu berkeringat ketika kau makan. Apa menjadi tua juga membuatmu gampang menangis?” tanya Louis. 

“Tuan Louis, kumohon.”

“Baiklah,” ucap Louis dan mereka berdua tertawa. Louis membuka kotak dan menemukan kotak musik yang dibawahnya dia beri nama “Koboshi.”

Dari kecil, Louis sangat menyukai kata “Koboshi” sampai-sampai dia menulis dibawah kotak musik miliknya. Tuan Kim pun jadi penasaran pada arti Koboshi. 

“Itu adalah nama seorang anak yang memiliki senyum yang indah. Anak itu pasti baik-baik saja, kan?” tanya Louis. 

“Ya, mungkin,” ucap Tuan Kim dan mengaku senang karena ingatan Louis sudah kembali. “Setelah kabar tentang kematianmu, Nyonya Choi mencari kotak ini kemana-mana,” jelas Tuan Kim dan alasan Nyonya Choi mencari kotak itu, karena dalam kotak itu terdapat banyak kenangan berharga. 



Sampai di Seoul, Tuan Kim langsung memberikan kaset yang ada di dalam kotak harta karun Louis pada Nyonya Choi dan Nyonya Choi langsung menontonnya. Ternyata isinya adalah rekaman Louis bersama kedua orang tuanya, ketika mereka sedang bermain di pantai. Nyonya Choi menangis menonton rekaman itu, dia benar-benar merindukan anak dan menantunya. 


Tuan Kim melihat Nyonya Choi menangis dan diapun ikut terharu. 



Louis sudah berada di rumah Bok Sil dan mereka minum kopi bersama. Louis kemudian bertanya keberadaan adik iparnya dan Bok Sil menjawab kalau Bok Nam sedang keluar. 

“Pasti rasanya menyiksa baginya untuk terus duduk di ruangan ini,” ucap Bok Sil.

“Dia bisa pergi keluar dan bermain. Aku dulu selalu ingin berlari-larian dan bermain ketika aku seusianya. Aku sedih karena aku tidak pernah bisa melakukan itu,” jawab Louis dan Bok Sil kemudian memberikan celengannya pada Louis. Dia berkata kalau itu adalah gaji pertama Louis, jadi Louislah yang harus memilikinya dan membeli sesuatu yang Louis inginkan. 

Louis berpikir sebentar dan kemudian berencana membeli sesuatu untuk Nyonya Choi. Saat Bok Sil bertanya Louis mau membeli apa, Louis tak mau menjawabnya, dia berkata kalau itu rahasia. 


Ternyata dia membelikan sepasang sepatu high heels berwarna merah untuk sang nenek dan Nyonya Choi senang menerimanya, apalagi Louis berkata kalau uang yang untuk membelinya adalah gaji pertamanya saat belum kembali ke rumah dan bekerja di Goldline. 

“Bok Sil menyuruhku untuk membeli long johns merah, tapi aku membelikanmu ini. Aku pikir sepasang sepatu hak tinggi ini akan bagus dipakai olehmu,” aku Louis dan meminta sang nenek untuk mencobanya. Nyonya Choi mencobanya satu dan sangat menyukainya, Louis bahkan berkomentar kalau sepatu itu sangat perfect di kaki sang nenek. 

“Sepasang sepatu hak tinggi ini dibawa ke dunia ini untukmu,” ucap Louis.

“Satu-satunya yang datang ke dunia ini untukku... adalah kau, Louie. Terima kasih banyak... karena sudah datang padaku,” ucap Nyonya Choi dan kemudian memeluk Louis.



Pagi tiba dan waktunya sarapan, karena Nyonya Choi belum keluar maka Louis yang pergi untuk memanggilnya. Di kamar, Nyonya Choi masih tidur dan dia tetap tak bangun saat Louis memanggilnya. Melihat itu, Louis pun langsung menangis dan terus memanggil neneknya. Tak lama kemudian Jung Ran dan Tuan Kim masuk. Jung Ran ikut menangis terisak-isak dan Tuan Kim masih bisa menahan tangisnya. 


Di samping makam Nyonya Choi, Louis meletakan sepatu merah yang dia belikan, “Selamat tinggal, Nenek,” ucap Louis yang saat itu mendatangi makam Nyonya Choi bersama Bok Sil. 

Kita kemudian melihat Nyonya Choi yang masuk Goldline bersama Tuan Baek dan para petinggi Goldline yang lain. Juga saat Nyonya Choi bertemu dengan Bok Sil di Busan, kemudian saat Nyonya Choin menikmati keramaian di rumahnya berkat Louis.

Dalam sebuah voiceover kita mendengar percakapan antara Louis dan Nyonya Choi:

“Nenek. Kenapa kau memakai sepatu hak tinggi padahal kau punya masalah punggung?” tanya Louis.


“Aku menggunakan sepatu hak tinggi...karena aku ingin selalu terlihat muda. Itu seperti sikapku terhadap hidup. Ketika kau memakai sepatu hak tinggi, ini akan meluruskan punggung bungkukmu... dan membuat langkahmu lebih hidup. Aku ingin berjalan seperti itu selamanya. Dengan cara yang muda dan percaya diri,” jawab Nyonya Choi dan kita melihatnya berjalan menyusuri jalan yang dipenuhi pepohonan. Dia kemudian berhenti sejenak dan melambaikan tangannya. 

Louis kemudian teringat pada ucapan Nyonya Choi kalau satu-satunya yang datang ke dunia untuknya adalah Louis. 


Louis masuk ke kamar Nyonya Choi dan duduk di ranjangnya. “Waktu sudah berlalu, tapi aku masih bisa merasakan kekosongan yang ditinggalkan Nenek.”


“Lalu suatu hari...,” sambung Louis bernarasi dan saat itu Jung Ran dan Tuan Kim sedang menemani Louis minum kopi. Melihat kopi, Jung Ran tiba-tiba mual dan muntah. 

Sebuah kehidupan baru datang pada rumah kami. Rasanya seperti Nenek memberikan hadiah bagi kami,” tambah Louis dan tersenyum ketika menyadari kalau Jung Ran hamil. 

Kehamilan Jung Ran benar-benar membuat Tuan Kim bahagia. “Teman kesayanganku, Tn Kim, belum melamarnya karena dia belum selesai menganalisisnya,” sambung Louis. 


Bok Sil, yang keras kepala, menolak tawaranku untuk hidup bersama di rumahku. Dia masih tinggal di rumah lama kami,” tambah Louis bernarasi dan dia kemudian pergi ke rumah Bok Sil. Saat itu Bok Sil sedang  memasak ramen untuk dirinya dan Bok Nam. Melihat Bok Nam ada di rumah, Louis terlihat tak senang, namun dia tetap menerima tawaran Bok Sil untuk makan ramen bersama, walaupun dia sebenarnya ingin makan diluar bersama Bok Nam.  Mereka bertiga kemudian makan ramen bersama dengan lahap.


Di rumah, Jae Suk memanggil tukang membenari barang elektronik untuk membenahi DVD-nya. Setelah DVD-nya selesai di benari, Jae Suk kemudian menonton rekaman dari kaset yang Ma Ri tinggalkan di dalam DVD. Melihat rekaman dalam kaset itu, Jae Suk langsung terlihat senang dan bertanya darimana asalnya kaset itu?



Louis masih asik makan ramen bersama dua Bok Sil dan Bok Nam. Tepat disaat itu Louis mendapat telephone dari Jae Suk yang mengatakan kalau dia punya hadiah untuk Louis. Louis pun bertanya hadiah apa? Ingin tahu apa hadiah yang Jae Suk akan berikan? Jangan kemana-mana, tunggu di sinopsis berikutnya...
Bersambung

No comments :

Post a Comment