November 12, 2016

Shopping King Louis Episode 13 - 2



Ketiga gadis SMA itu bersiap menyerang Jung Ran dan Jung Ran masih santai menanggapinya. Ketika mereka semua hendak mendekat ke arah Jung Ran, Jung Ran langsung membuka mulut dan keluarlah suara harimau. Beberapa saat kemudian, ketiga gadis itu sudah berlutut pada Jung Ran dengan kedua tangan di angkat ke atas.

“Kau siapa?” tanya gadis berambut pendek.

“Aku?” jawab Jung Ran dan Tuan Kim tersenyum melihatnya.




Ketiga gadis itu sekarang sudah berada di rumah Louis, mereka ditugaskan untuk mengupas bawang putih. Diperlakukan seperti itu, si rambut pendek langsung mengumpat. Louis datang dan meminta Jung Ran untuk menambah jatah bawang mereka sampai 10 kg lagi  jika mereka mengumpat. Melihat Louis, tentu saja ketiga gadis itu kaget dan Louis kemudian memperkenalkan diri pada mereka semua.


“Ini Aku, si Bokek yang hilang ingatan,” ucap Louis dan mereka bertiga kemudian ingat kalau mereka pernah mengatai dan hendak merampok Louis yang saat itu tak membawa uang sama sekali. “Kau mengambil uangnya Bok Sil'.Lakukan sampai kau bisa mengembalikannya.Upahnya 30 dolar perkilo.Kalau setiap orang mengupas 20 kilo,kalian akan daat 90 dolar sehari.Kalian mengambil uang Bok Sil 1.000 dolar dan mengambil 180 dolar lagi jadi totalnya1.180 dolar.Kupas selama 3 hari, akan kudiskon 10 dolar,” jelas Louis.

Menyadari kalau takdir mereka bersama Louis benar-benar menyebalkan, Hyun So Ri pun langsung mengumpat. Mendengar itu, Louis langsung memberitahu untuk menambah bawang putih milik So Ri.

“Lanjutkan. Aku menjadi dewasa setelah mengupas bawang,” ucap Louis dan kemudian meminta Tuan Kim untuk memberi makanan yang enak untuk mereka bertiga.

Louis pergi dan Song Yeon Ah mengumpatnya. Mendengar itu, Jung Ran langsung mencatat kalau untuk menambah bawang putih untuk Yeon Ah. Karena Yeon Ah mendapat tambahan bawang, keduanya langsung memberinya semangat.

Waktunya pembagian uang atas hasil mengupas bawang yang mereka lakukan, tentu saja mereka senang karena mendapatkan uang dari jerih payah sendiri. Namun uang itu langsung lenyap ketika mereka melewati Tuan Kim, karena Tuan Kim yang bertugas mencatat pengembalian uang dari mereka.



Di kantor, Hae Joo berteriak mengatakan “Big News”. Apa yang akan Hae Joo bagikan pada teman-temannya? Ternyata dia menyebarkan berita tentang Bok Sil yang sekarang menjadi bos sebuah perusahaan. Perusahaan Bok Sil bernama “Singsingline” yang menjual produk pertanian. Tak hanya itu berita yang Hae Joo bawa untuk teman-temannya, dia juga mengatakan kalau direktur perusahaan Bok Sil adalah Joong Won. Mendengar kabar itu, semua orang langsung kaget begitu juga dengan Ma Ri.

Do Jin kemudian menanyakan pendapat Kyung Kook tentang semua itu dan Kyung Kook berkata kalau alasan Joong Won pindah ke perusahaan Bok Sil karena dia ingin mengikuti Bok Sil. Tentu saja Do Jin dan kawan-kawan tak percaya pada apa yang Kyung Kook katakan. Ma Ri yang tak mau mendengar hal itu lebih banyak lagi, langsung menyuruh semuanya untuk kembali kerja.



Tutor yang Louis maksud untuk mengajari Bok Nam adalah Tuan Kim. Tapi tetap saja, Bok Nam tak bisa mengerjakan soal-soal Matematika yang diberikan padanya. Dia hanya melihat dan menatap soal tanpa berusaha mengerjakannya. Melihat apa yang Bok Nam lakukan, Tuan Kim jadi frustasi sendiri, jadi dia menyuruh Bok Nam pulang dan dia akan membelikan buku baru untuk besok.

Saat Bok Nam hendak pulang, Tuan Kim kemudian berkata kalau dia merasa tak asing pada Bok Sil ketika mereka pertama kali bertemu, dia juga merasa tak asing pada wajah Bok Nam. Jadi dia bertanya pada Bok Nam, apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Dengan ekspresi bingung, Bok Nam menjawab kalau dia merasa mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Tak ada lagi urusan, Bok Nam pun pamit pulang. Namun Tuan Kim merasa kalau dia pernah melihat mereka sebelumnya.


Bok Sil dan Joong Won sedang mengecek barang saat Louis datang. Melihat Louis, Joong Won langsung berteriak dan menyuruh Louis untuk tidak datang terus. Louis kemudian menjawab kalau dia datang ke Singsingline karena ada urusan bisnis. Untuk membahas hal itu, Louis pun mengajak Bok Sil dan Joong Won duduk dulu. Urusan bisnis yang Louis maksud adalah, dia ingin mengajak Singsingline kerja sama dengan Goldline. Sebelum menjelaskan konsep yang Louis ajukan, dia memberitahu Bok Sil dan Joong Won kalau dia mengajak kerjasama ini bukan karena Bok Sil.



“Aku menyarankannya karena Goldline sekarang sedang masa pembaharuan dan kami perlu perusahaan yang menjual secaralangsung hasil pertanian.Kami punya beberapa cabang dan setiap cabangdiatur sendiri-sendiri.Juga, catatan marchanisernya akan dibuka untuk umum.Kau  bisa mempertahankan konsep perusahaanmu seperti biasa,” jelas Louis dan tak ada respon dari Bok Sil dan Joong Won. Mereka hanya diam saja, sehingga Louis bertanya kenapa mereka diam saja?

Bok Sil pun kemudian menjawab kalau mereka akan memikirkannya lagi, Bok Sil tak bisa langsung mengambil keputusan karena Singsingline diinvestasikan oleh Joong Won dan dijalankan oleh Bok Sil. Merasa mendapat penolakan dari Bok Sil, Louis langsung sedih dan Joong Won kemudian bertanya isi kontrak yang akan Louis buat.

“Kau harus menggunakan layanan pesan antar Goldline dan keuntungannya, kami akan dapat 20%,” jawab Louis dan Joong Won langsung setuju untuk kerjasana dengan Goldline, karena singsingline akan dapat banyak keuntungan dengan kerjasama itu. Bok Sil pun jadinya ikut setuju, tapi dengan catatan harga produk yang dijual tidak diubah, agar konsumen tidak merasa keberatan. Louis menerima kesepakatan itu dan mereka pun berjabat tangan sebagai tanda “deal” nya.

Namun Joong Won tak mau berjabat tangan dengan Louis, dengan alasan Joong Won ingin cuti kerja selama 1 tahun, karena Louis yang sudah membantu Bok Sil, jadi dia ingin benar-benar istirahat. Tapi Louis ingin Joong Won tetap ingin ikut ke Goldline, dia menyuruh Joong Won beristirahat di kantor. Tentu saja Joong Won langsung bertanya bagaimana bisa dia beristirahat di kantor?

“Akan kuberikan kau ruanganku.Itu adalah yang terbesar di Goldline.Ada penutup mata, jadi kau bisa tidur kapan saja.Semua yang ada di dapur tentu saja gratis,” jelas Louis tentang ruangannya, mendengar itu Joong Won jadi ingat kalau sebelumnya dia juga pernah menjelaskan kondisi rumahnya yang besar juga pada Louis. Hmmmm.... Kondisi mereka berdua sekarang terbalik.



“Kau mengejekku sekarang?” tanya Joong Won tak senang, tapi Louis hanya tersenyum dan kemudian tiba-tiba memeluk Joong Won. Tak senang dipeluk Louis, Joong Won terus memberontak dan berusaha melepaskan diri. Bok Sil pun hanya tertawa melihat tingkah kedua pria itu. Louis lalu mengaku kalau dia memeluk Joong Won, karena dia menyukai Joong Won. Mendengar pernyataan Louis, Joong Won pun terdiam.

“Kalau kubilang keberadaanmu membuatku tenang, apa kau akan percaya?” tanya Louis dan pipi Joong Won langsung memerah. Dia terdiam beberapa saat dan kemudian menyuruh Louis melepaskannya.



Louis kembali ke Goldline dan menyapa semua pegawainya. Melihat Joong Won, semua pegawai langsung berkumpul menyambutnya. Louis kemudian berkata kalau dia akan memperkenalkan anggota baru pada mereka semua. Siapa anggota barunya? Mereka adalah Bok Sil dan Joong Won.

“Mereka berdua akan mengatur salah satu cabang kita, Singsingline. Ini dia CEO-nya, Bu Ko, dan direkturnya, Pak Cha,” ucap Louis.


“Aku menunggu untuk bisa bekerja sama denganmu,” sambut Bok Sil.

“Kalian bodoh. Bagaimana kabarmu?” tanya Joong Won dengan gaya lamanya dan semua pegawai menjawab “bagus” dengan setengah hati. Mereka seperti antara senang dan berat harus bekerja dengan Joong Won lagi.

Louis kemudian mengatakan kalau ruang rapat bisa di gunakan sebagai kantor Singsing dan Joong Won bisa menggunakan ruangan lamanya. Sedangkan Louis sendiri, dia akan duduk di ruangan pegawai dengan meja tambahan. Louis lalu mengajak Bok Sil dan Joong Won rapat bersama.


Di rumah Louis, Bok Nam kembali belajar dan lagi-lagi Tuan Kim merasa geram karena Bok Nam tak hapal kalian dan tak bisa menghitung dengan cepat. Melihat Bok Nam belajar, Yeon Ah mengeluh karena Bok Nam bisa belajar dan duduk di kursi yang nyaman sedangkan mereka harus mengupas bawang. Namun So Ri menjawab kalau dia lebih memilih mengupas bawang dari pada belajar dan teman yang satunya setuju dengan pendapat SO Ri. Melihat ketiga gadis ini malah ribut, Jung Ran langsung meneriaki mereka untuk bekerja lebih giat.


Tepat disaat itu, Louis bersama Bok Sil, In Sung dan Geum Ja datang ke rumah Louis. Melihat Bok Sil, Bok Nam hendak menghampirinya, namun di cegah oleh Tuan Kim karena Bok Nam harus menyelesaikan pelajarannya. Nyonya Choi kemudian keluar dan menyambut kedatangan mereka.

Louis menghampiri ketiga gadis dan bertanya apa mereka butuh bantuan. Mendapat tawaran itu, mereka bertiga secara kompak membuka kacamata mereka dan berkata iya. Namun tawaran bantuan Louis bukan tawaran bantuan seperti yang mereka harapkan, karena bantuan yang Louis berikan hanya bantuan berupa pemberi semangat dengan bernyanyi agar mereka bisa bekerja lebih  semangat. 



Louis pergi ke piano dan mulai memainkannya lalu bernyanyi. Semua orang menyukai lantunan lagu dari Bok Sil. Begitu juga dengan Nyonya Choi, dia sampai terlihat terharu melihat semuanya.


Nyonya Choi sekarang hanya berdua saja dengan  Tuan Kim. Dia berkata pada Tuan Kim kalau rumahnya sekarang jadi berisik semenjak kedatangan Louis, namun dia merasa hal itu menyenangkan. Karena selama ini dia selalu menghabiskan waktunya di rumah besar sendirian. Bahkan sebelumnya, dia malah mengirim Louis jauh darinya.

“Aku tidak menyangka Louis-ku... akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah kulakukan. Kehilangan ingatan.. mengajarkannya untuk hidup dengan baik dan bergaul dengan orang-orang,” ucap Nyonya Choi dan Tuan Kim setuju dengan hal itu. Nyonya Choi kemudian bertanya apa Tuan Kim sudah mencari tahu apa yang dia minta dan Tuan Kim menjawab kalau mereka belum akan mendapatkan Louis Junior.  Mendengar itu, Nyonya Choi merasa aneh karena menurutnya semua pertanda yang dia dapatkan menjuru ke sana.

“Omong-omong, bagaimana dengan kotak rahasia Louis?” tanya Nyonya Choi.

“Tuan Louis akhirnya ingat di mana dia meletakkannya,” jawab Tuan Kim. “Dia bilang di rumah yang di Busan. Aku akan ke Busan sekarang,” ucap Tuan Kim dan Nyonya Choi setuju, dia harus segera ke Busan dan mencarinya.


Keluar kamar Nyonya Choi, Tuan Kim langsung menghampiri Jung Ran dan bertanya apa Jung Ran hamil? Jung Ran langsung menutup mulut Tuan Kim dan berkata bagaimana bisa Tuan Kim bertanya seperti itu, padahal mereka berdua saja baru pulang dari Busan.

“Begini.. Ny Choi menceritakan padaku tentang mimpinya. Mimpinya biasanya jadi nyata, kau tahu?” jelas Tuan Kim dan Jung Ran menyuruhnya diam saja.


Louis mengantar Bok Sil pulang dan mereka tak mengajak Bok Nam pulang agar Bok Nam lebih bisa fokus belajar disana. Lagi pula Tuan Kim berkata pada Louis kalau Bok Nam tak bagitu banyak kemajuan, walau dia dikurung disana dan disuruh belajar seharian. Bok Sil terkejut mengetahui kalau adiknya begitu bodoh. Louis kemudian bertanya apa Bok Sil kedinginan dan Bok Sil menjawab dia baik-baik saja, namun Louis tetap berpendapat kalau Bok Sil kedinginan karena dia ingin berbagi jas dnegan Bok Sil.


Sampai rumah, mereka mendapati meja makan Bok Sil ada di tengah dan ada penutup sajinya. Pada Bok Sil, Louis mengaku kalau dia yang meminta In Sung menyiapkan cemilan untuk mereka berdua. Louis kemudian meminta Bok Sil membuka tudung sajinya dan ternyata isinya bukan makanan, melainkan sebuah cincin. Itu adalah cincin dengan berlian model dari Bulgari yang pernah Louis janjikan pada Bok Sil dan sekarang Louis benar-benar membelikannya dan kemudian memasangkannya ke jari Bok Sil.

“Sejujurnya, aku akan beli cincin itu kalau aku punya uang 30 dolar. Terima kasih, Louis,” ucap Louis dan Bok Sil berterima kasih. Louis kemudian mencium tangan Bok Sil dan ketika Louis hendak mencium bibir Bok Sil, Bok Sil langsung meminta Louis menunggu sebentar. Bok Sil mengeluh kepanasan. Tentu saja Louis sedikit kecewa karena momennya tadi sudah cukup romantis.

Bok Sil yang polos kemudian mengajak Louis membeli kopi di luar, namun Louis tak mau, dia ingin minum kopi di rumah saja, bahkan Louis yang ingin membuatnya. Melihat Louis tahu dimana letak kopi dan semuanya, Bok Sil pun bingung dan bertanya bagaimana Louis tahu, karena Bok Sil sudah banyak melakukan perubahan semenjak tak tinggal lagi bersama Louis.

Louis pun akhirnya mengaku kalau sebenarnya dia selalu datang ke rumah Bok Sil setiap hari. “Aku membersihkan kamar.. dan minum kopi setiap hari. Aku memasukkan koin ke celenganmu juga.... Dan aku pergi... sebelum kau pulang kerja. Dari tempat kau naik bus untuk kerja... sampai lampu kamarmu mati... Aku memperhatikanmu setiap haru.  Maaf aku memperhatikanmu diam-diam setiap hari,” aku Louis dengan sedih. Bok Sil langsung menghampiri Louis dan memeluknya dari belakang. Dia juga berterima kasih pada Louis karena sudah melaukan semua itu.


Louis berbalik dan dengan perlahan mendekatkan wajahnya pada Bok Sil lalu mencium bibir Bok Sil. Dia juga mencium kening Bok Sil dan kemudian memeluknya.

“Kita jangan berpisah lagi, ya,” pinta Louis.


Tuan Kim sudah sampai di Busan dan mencari kotak harta karun di tempat yang Louis katakan, namun kotak itu sudah tak ada lagi disana. Jadi Tuan Kim langsung menelpon Nyonya Choi memberitahukan kotaknya sudah hilang atau Louis yang salah ingat.


“Di aman kau sembunyikan itu, Ji Sung?” tanya Nyonya Choi setelah menutup telepon Tuan Kim dan ternyata Louis tidak salah ingat, karena kotak itu sudah diambil oleh Tuan Baek lebih dulu.



Louis sekarang sedang berada di toko Jae Suk dan Jae Suk memberikan coklat. Jae Suk bertanya apa Louis masih ingat dengan coklat itu dan Louis mengiyakan. Saat mencoba coklat-nya, Louis terlihat sangat senang. Ada apa dengan coklat itu?


Flashback!
Ji Sung menangis dan Jae Suk datang dengan membawa sekotak coklat. Dengan suara pelan, Jae Suk kemudian menyuruh Ji Sung makan coklat kesukaannya sebelum Nyonya Choi dan Tuan Kim melihat, karena kalau mereka melihat, Jae Suk pasti akan di marah. Ji Sung memakan satu coklat dan tangisnya pun langsung berhenti. Tepat disaat itu Tuan Kim masuk dan Jae Suk langsung menyembunyikan coklatnya. Namun Tuan Kim bisa tahu kalau Ji Sung habis makan coklat karena mulut Ji Sung masih penuh dengan coklat.

“Bu Hong. Apa kau memberikan makanan manis lagi pada Louis?” tanya Tuan Kim dan Jae Suk membantahnya. Jae Suk berjalan keluar dan sebelum keluar dia sempat mengedipkan matanya pada Ji Sung. Melihat itu Ji Sung tertawa dan coklat di mulutnya langsung terlihat semua.



Setelah Jae Suk pergi, Tuan Kim bertanya pada Ji Sung  apakah coklatnya enak dan Ji Sung menjawab “iya.”
Flashback End


Louis tersenyum mengingat hal itu dan kemudian berkomentar kalau coklat yang Jae Suk berikan sekarang, rasanya sama dengan yang biasa Jae Suk berikan ketika dia masih kecil. Jae Suk lalu berkata kalau sekarang Louis tak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk makan coklat, dia juga berkomentar kalau Nyonya Choi dan Tuan Kim terlalu protektif pada Louis dan Louis mengiyakan pendapat Jae Suk.

“Semenjak kau kembali, Ibu kelihatan lebih bahagia dari sebelumnya dan semuanya jadi lebih ceria di rumah. Luar biasa,” ucap Jae Suk.

“Aku juga bahagia,” jawab Louis.

“Berkunjunglah ke toko bukuku lebih sering,” pinta Jae Suk dan Louis mengiyakan. Tepat disaat itu, Tuan Goo datang dan Jae Suk langsung mengampirinya karena mengira dia adalah pelanggan yang hendak membeli buku.


“Kita bicara di telpon kemarin. Aku Pak Goo,” aku Tuan Goo dan Jae Suk mengingatnya, dia bahkan ingat kalau Tuan Goo saat itu berkata bahwa dia bekerja pada Tuan Baek. Mendengar nama Tuan Goo, Louis juga ingat kalau itu adalah orang yang menelponnya malam itu.


bersambung


No comments :

Post a Comment