November 7, 2016

Shopping King Louis Episode 12 - 2


Sebelum semua rencana itu di laksanakan, Louis sempat mengumpulkan mereka semua di sebuah cafe, kecuali detektif Nam. Ya, secara dia polisi jadi pasti sibuk. Louis kemudian bertanya apa semuanya setuju dengan rencana yang sudah dia buat. In Sung, Jung Ran dan Bok Nam menjawab setuju, namun Joong Won mengaku tak setuju dengan alasan kalau Bok Sil akan terkejut ketika melihat Louis menjadi gelandangan, padahal yang dia tahu Louis sedang berada di Prancis.

Mendengar alasan Joong Won, In Sung langsung menjawab kalau memang itulah tujuannya, mereka semua memang ingin memberi kejutan untuk Bok Sil.  “Ketika dia terkejut saat melihat Louis, kita akan mengejutkannya sekali lagi dengan kehadiran Bok Nam. Ini rencana yang bagus untuk  membuatnya terkejut dengan adanya Bok Nam,” tambah In Sung.

“Aku juga tidak setuju,” ucap Tuan Kim tiba-tiba.





“Kenapa tidak?” tanya Louis kesal.

“Apa harus... sampai kau berpura-pura jadi gelandangan? Kau terlalu berharga untuk melakukan itu.”


“Lagipula aku juga gelandangan saat aku pertama kali bertemu Bok Sil. Bok Sil menyelamatkanku meskipun  aku miskin saat itu. Dengan mengulang kejadian saat pertama kali kami bertemu, aku ingin dia mengingat saat pertama kali kami bertemu. Aku akan menggunakan Bok Nam untuk membuktikan kalau... pertemuanku dan Bok Sil adalah anugerah,” jelas Louis dan diakhir penjelasan Louis mengangkat tangan dan kakinya, reflek Joong Won dan In Sung mengikuti gerakannya. Mendengar penjelasan Loui, Jung Ran berkomentar kalau rencana Louis sangat romantis dan bahkan membuatnya merasa tersentuh.


Louis kemudian memohon pada semuanya untuk membantu dia dalam rencana itu. Dengan senang hati, Jung Ran, Bok Nam dan In Sung menjawab “Oke”. Hanya Tuan Kim dan Joong Won yang menjawabnya “Oke” dengan setengah hati.


Louis lalu meminta In Sung untuk merekam dirinya karena dia  ingin menyampaikan kata-kata pada Bok Sil untuk menyempurnakan kejutan ini.



“Bok Sil. Apa kau terkejut? Aku berjanji untuk menemukan Bok Nam, kan? Aku menepati janjiku. Apa kau tahu masalah apa yang kulalui? Aku harus berlari-lari selama berjam-jam. Kau bilang Bok Nam adalah Katak Lamban, tapi dia sangat cepat. Dia terus berlari kesana-kemari. Aku bahkan memanjat 168 anak tangga. Sebanyak 168 anak tangga. Dan juga, aku harus menggunakan jaket tipis ini untuk acara hari ini. Aku memakai lebih banyak baju di dalamnya. Bok Sil. Hari dimana aku menemukanmu adalah.... hari paling beruntung dalam hidupku. Terima kasih... karena bertemu denganku lagi hari ini,” ucap Louis dalam video rekamannya dan Bok Sil menangis haru mendengarnya.



Kapal Bok Sil menuju pelabuhan dan di pelabuhan, Louis dan yang lain sudah menunggunya dengan senyum kebahagiaan. Bahkan In Sung juga membawa kertas yang bertulisan, “SELAMAT! PROYEK MENCARI BOK NAM SELESAI.”


Ketika melihat Louis yang tersenyum padanya, Bok Sil pun teringat kebali pada pernyataan Louis yang berkata, “Hari dimana aku menemukanmu adalah... hari paling beruntung dalam hidupku. Terima kasih...karena bertemu denganku lagi hari ini.”




Turun dari kapal, Bok Sil langsung berlari ke pelukan Louis yang sudah merentangkan tangannya. Semua orang merasa senang, kecuali Joong Won, jelas... semua itu karena dia merasa cemburu. Tapi walaupun merasa cemburu, Joong Won tetap melakukan permintaan Louis karena itu demi kebahagiaan Bok Sil.

“Aku berjanji padamu untuk menemukan Bok Nam. Aku bilang padamu untuk mempercayaiku,” ucap Louis.

“Terima kasih, Louis,” jawab Bok Sil dan kembali memeluk Louis.



Kedua orang tua Joong Won pergi ke rumah Bok Sil. Young Ae memang sengaja datang ke rumah Bok Sil disaat Bok Sil tak ada, namun dia sudah meminta izin pada Bok Sil sebelumnya, bahkan dia mendapatkan pasword rumah Bok Sil. Young Ae benar-benar ingin menjadikan Bok Sil seorang ahli obat tradisional. Sebelumnya, Young Ae juga berhasil menjadikan Tuan Cha sebagai pengirim surat, padahal sebelumnya Tuan Cha tak punya ambisi sama sekali.


Masuk rumah Bok Sil, Young Ae kemudian meminta Tuan Cha untuk meletakkan makanan yang mereka bawa ke dalam kulkas. Tak lama kemudian Geum Ja masuk dan bertanya siapa mereka? Geum Ja mencurigai mereka karena mereka masuk ke dalam rumah orang yang kosong dan membuka kulkas. Tanpa berbalik Young Ae bertanya siapa Geum Ja sendiri? Bagaimana Geum Ja bisa mengenal Bok Sil?

“Kau mengenal Bok Sil?” tanya Geum Ja dan Tuan Cha menjawab dengan anggukan.


Mereka bertiga kemudian duduk bersama untuk bicara, menyelesaikan salah paham. Geum Ja kemudian berkata kalau dia adalah tetangga yang sudah seperti ibu sendiri bagi Bok Sil. Sekarang giliran Young Ae yang memperkenalkan diri, dia memperkenalkan diri sebagai calon mertua Bok Sil. Mendengar itu tentu saja Geum Ja kaget.

“Ibu mertua? Tapi Louis bilang dia hanya memiliki nenek dan tidak punya orangtua,” ucap Geum Ja.

“Siapa Louis?” tanya Young Ae.

“Bukannya kau ibunya Louis?”

“Aku ibunya Cha Joong Won.”

“Omo. Apa yang terjadi?” ucap Geum Ja bingung.

“Maksudmu, Louis... calon penerus Gold Group?” tanya Tuan Cha yang sedari tadi diam dan Geum Ja mengiyakan.

“Maksudmu... dia dan Bok Sil sedang  berkencan atau sesuatu seperti itu?” tanya Young Ae memastikan.

“Lebih dari itu. Mereka dulunya tinggal bersama disini,” jawab Geum Ja keceplosan dan itu membuat kedua orang tua Joong Won kaget.



Ma Ri sudah berada di Busan, menunggu pria yang hendak ibunya jodohkan pada dia. Jae Suk melakukan semua itu karena tak mau Ma Ri terluka karena hanya menunggu Joong Won dan Louis yang sama sekali tak menyukainya.  Tak lama kemudian, seorang pria tampan datang dan Ma Ri dengan senang menyambutnya. Namun kesenangan itu hanya berlangsung lama setelah mendengar pengakuan si pria kalau dia sudah punya seseorang yang dia sukai.

“Kalau begitu kenapa kau datang kesini? Jika kau mengatakannya sejak awal, aku tidak perlu sampai datang kesini,” ucap Ma Ri kesal dan sampai berdiri. “Aku jauh-jauh datang kesini dari Seoul. Beraninya kau mempermainkanku?” ucap Ma Ri dan benar-benar emosi, dia mengambil gelas dan hendak menyiram si pria. Namun Baek Ma Ri menahannya, mengingat si pria adalah anak dari teman ibunya, selain itu karena image Baek Ma Ri yang merupakan orang paling baik di Goldline. Ma Ri pun kemudian meminum airnya untuk meredakan kemarahannya.

In Sung membiarkan Louis pulang ke Seoul bersama Bok  bersaudara dan Joong Won, karena dia sendiri ingin menikmati pemandangan di Busan dulu.


Setelah  In Sung menutup teleponnya, kebetulan dia melihat Ma Ri sendirian. Tentu saja In Sung langsung menghampirinya. Melihat Ma Ri menangis, In Sung pun bertanya kenapa, namun Ma Ri tak mau memberitahunya. Ma Ri hendak pergi, tapi In Sung terus mengikuti dan itu membuat Ma Ri tak nyaman, sampai-sampai dia tak sengaja memukul wajah In Sung.

Karena In Sung terus mengikutinya, Ma Ri pun bertanya kenapa? Tahu kalau suasana hati Ma Ri sedang tidak baik, In Sung pun berkata kalau ulmyeon baik untuk mereka yang sedang merasa tertekan dan jajangmyeon ketika mereka sedang kesal.

“Apa kau mau menonton film bersamaku?” tanya In Sung pada akhirnya. Dia pun mengaku kalau dia tahu tempat yang bagus jadi dia menyuruh Ma Ri untuk mengikuti. Ntah di pelet apa sama In Sung, setiap In Sung mengajak Ma Ri selalu menurut, walaupun Ma Ri sebenarnya merasa tak suka pada In Sung.

Louis mempersilahkan Bok Sil masuk dan hendak duduk bersama Boik Sil namun di cegah oleh Joong Won, karena Joong Won mau, orang yang duduk di samping Bok Sil adalah Bok Nam.

“Kenapa? Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya,” protes Louis.

“Bok Nam bisa saja mati,” ucap Joong Won.

“Aku juga.”

“Diamlah. Ini mobilku,” jawab Joong Won dan Louis sudah tak bisa berkata-kata lagi, dia membiarkan Bok Nam duduk di samping Bok Nam dan Louis sendiri di bangku depan.  Di dalam mobil, Joon Won kembali mendumel, “Memangnya aku supirmu atau apa? Gosh, ini sangat menyedihkan.”



Joong Won kemudian menyuruh semuanya untuk memasang sabuk pengaman mereka. Secara kompak mereka pun  langsung memakai sabuk pengaman.


“Supirku, ayo jalan,” teriak Louis.

“Hei! Beraninya kau memamanggilku begitu?” teriak Joong Won tak terima, namun Louis tak perduli dia malah menambah Joong Won dengan berteriak, “Go Go Go!’ Bok Sil hanya tersenyum melihat perdebatan dia pria itu.



Bukan hanya In Sung yang belum pulang dari Busan, Jung Ran dan Tuan Kim juga masih berada di Busan. Mereka berdua melihat mercusuar yang berbentuk seperti botol susu bayi. Tuan Kim menjelaskan kalau yang dia dengar, para wanita banyak mendatangi tempat ini ketika mereka menginginkan seorang bayi. Membahas tentang bayi, Tuan Kim kemudian berkata kalau Jung Ran harus segera memiliki bayi sebelum dia bertambah tua.

“Ho Joon. Biarkan aku mengingatkanmu. Kita bukan pasangan menikah dan kau juga belum melamarku. Dan apa? Bayi? Lakukan langkah-langkah yang berurutan! Kau lihat betapa baiknya Tuan Louis memperlakukan Bok Sil. Dia merencanakan sebuah event yang menyentuh untuknya. Kau harusnya belajar darinya!” ucap Jung Ran dengan kesal dan kemudian berjalan pergi.

“Jung Ran. Jung Ran. Aku hanya khawatir kalau kau melahirkan saat sudah tua,” ucap Tuan Kim dan Jung Ran tambah kesal mendengarnya.

“Jangan khawatirkan aku dan urusi saja urusanmu! Jangan ikuti aku!” ucap Jung Ran dan memukul dada Tuan Kim.


Mi Ran masih terus berjalan menuju tempat yang In Sung bilang bagus. Namun dia sudah merasa lelah karena dia berjalan dengan sepatu high yang lumayan tinggi. Melihat Mi Ran kesakitan, In Sung langsung meminjamkan sepatunya pada Mi Ran, awalnya Mi Ran tak mau memakainya, karena sepatu In Sung tak cocok dengan pakaiannya yang elegan. Tapi karena In Sung memaksa, bahkan dia melepas secara paksa sepatu yang Ma Ri dan menggantinya dengan sepatu miliknya.


Agar Ma Ri tak mengganti sepatunya lagi, In Sung langsung membawa lari sepatu Ma Ri, sedangkan In Sung  sendiri berjalan hanya dengan menggunakan kaus kaki. Melihat In Sung berjalan tanpa sepatu, Ma Rii bergumam kalau kaki In Sung bisa kedinginan jika seperti itu dan dia juga bertanya-tanya apa In Sung sedang berpura-pura baik.

“Ah, hanya dengan melihatnya membuatku sangat kesal,” ucap Ma Ri dan kemudian berjalan sambil menangis, karena harus memakai sepatu In Sung.



Mereka akhirnya sampai di tempat yang dituju. In Sung menghampiri Ma Ri dengan membawa dua botol minum. Walaupun sudah pergi bersama, Ma Ri tetap tak mau di dekati In Sung, jadi In Sung pun melangkah beberapa langkah menjauh dari Ma Ri.

In Sung hendak meminta maaf atas kejadian dimana dia BAB di mobil Ma RI, namun sebelum In Sung menyelesaikan kata-katanya, Ma Ri memintanya berhenti, karena Ma Ri tak mau lagi mengingat kejadian itu.



Film-nya sudah mulai, jadi In Sung mengajak Ma Ri nonton. Ternyata mereka bukan nonton di bioskop melainkan di ruang terbuka dengan layar putih dan proyektor. Kayak layar tancep gitu lah.

Karena Ma Ri tak mau In Sung berada dekat dengannya, jadi In Sung memilih duduk di bangku belakang. Saat nonton, In Sung terus melirik ke arah Ma Ri dan senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba, Ma Ri merasa sedikit tak nyaman pada perutnya. Melihat itu, In Sung mengira Ma Ri kedinginan sehingga dia langsung memakaikan jas miliknya pada Ma Ri. Mendapati hal itu, Ma Ri kaget dan langsung menyuruh In Sung untuk menjauh darinya.

Ma Ri merasa tambah tak nyaman pada perutnya. Mengira kalau Ma Ri kehausan, In Sung pun memberikan minuman yang tadi dia beli. Lagi-lagi Ma Ri kaget karena In Sung mendekatinya, karena itu dia langsung menyuruh In Sung menjauh.


Sambil memegang botol minuman, Ma Ri menahan rasa sakit perutnya. Tak tahan, Ma Ri hendak pergi, namun saat dia mengangkat badan, tiba-tiba terdengar suara kentut. In Sung tahu kalau yang kentut adalah Ma Ri dan semua orang yang ada disana juga mengarah ke arah Ma Ri, karena saat itu hanya Ma Ri yang hendak berdiri. Namun sebagai pria yang bertanggung jawab, In Sung langsung mengaku kalau dialah yang kentut. Ma Ri sendiri hanya terdiam tak bisa berkomentar apa-apa.


Louis ikut makan bersama Bok bersaudara dan juga Geum Ja. Gaya makan Bok Nam sangat sama dengan Louis. Mereka berdua sangat lahap ketika makan. Geum Ja kemudian bertanya pada Bok Sil, kalau Bok Nam bukan hantu, tentu saja Bok Sil mengiyakan. Masih penasaran, Geum Ja tiba-tiba mencubit pipi Bok Nam, sampai Bok Nam merasa kesakitan.

“Dia benar-benar bukan hantu,” ucap Geum Ja dan membuat semuanya tertawa. “Kami kira kau sudah mati. Kau harus berbuat baik pada kakakmu. Dia melewati banyak hal yang sulit karena kau. Kau mengerti?” pesan Geum Ja dan Bok Nam pun mengiyakan.

“Aku juga sudah melewati hal sulit. Apa kau mengerti perkataanku?” tanya Louis dan Bok Nam mengiyakan.

“Dua pria dalam hidupmu awalnya dikira sudah meninggal. Astaga. Aku harus bilang, hidupmu penuh dinamika,” ucap Geum Ja pada Bok Sil dan Bok Sil mengiyakan.


Selesai makan, Louis langsung tepar karena kekenyangan, sedangkan yang lain menyiapkan tempat tidur. Karena Louis tak mau minggir, Geum Ja pun menepuk punggungnya, sampai membuat dia kesakitan lalu duduk. Geum Ja kemudian menyuruh Louis pulang, namun Louis tak mau. Dia ingin tidur bersama Bok Sil dan Bok Nam.

“Ruangan ini terlalu kecil untuk kalian bertiga,” ucap Geum ja.

“Kita berempat tidur di kamarmu waktu itu,” jawab Louis.


“Aku hanya membiarkanmu bersama kita karena kau tidak punya tempat lagi. Kau hidup di rumah yang mewah sekarang. Kenapa kau mau tidur di ruangan kecil ini?”

“Karena Bok Sil ada disini,” jawab Louis dan Bok Nam setuju kalau Louis tidur bersama mereka. Namun Geum Ja tetap tak mengizinkan Louis tinggal, dia mengajak Louis pergi karena Bok Sil dan Bok Nam harus berdua untuk melepas rindu.


Setelah Louis dan Geum Ja pergi, Bok bersaudara langsung mempersiapkan tempat dan berbaring. Sambil berbaring Bok Sil bertanya apa Bok Nam sudah tahu tentang kabar bahwa nenek mereka meninggal? Bok Nam pun mengiyakan.

“Dia sangat mengkhawatirkanmu. Sebelum aku pergi ke Seoul, aku berjanji padanya... kalau aku pasti akan menemukanmu... dan memasakkan makanan yang enak untukmu,” aku Bok Sil.

Flashback!
Bok Sil berkata pada foto sang nenek, “Nenek. Jangan khawatirkan Bok Nam dan istirahatlah dengan tenang. Aku pastikan aku akan menemukannya. Aku akan memasakkan makanan yang enak dan menjaganya. Nenek, jadi... jangan khawatir tentang kami... dan istirahatlah dengan tenang.”
Flashback End!

Bok Sil melihat kearah Bok Nam dan Bok Nam sudah tidur dengan nyenyak. Dia kemudian membenahi selimut Bok Nam dan dalam hati berkata, “Nenek. Aku menepati janjiku. Kau tidak perlu mengkhawatirkan kami lagi.”


Kita beralih pada Joon Won yang sedang bersantai di rumah, sambil minum minuman hangatnya, dia membatin, “Pria yang aku kenal, Raja Belanja, Louie, terlihat naif, mudah ditipu dan tidak kompeten. Tapi, dia adalah pria yang tidak suka menghakimi orang lain. Ketulusannya yang tidak terbatas...mengubah kesedihannya menjadi kebahagiaan...dan membuat keajaiban terjadi.”




Tuan Goo membuka mata dan kabar itu langsung diberitahukan pada Detektif Nam. Setelah menutup telepon, Detektif Nam dan rekannya langsung bergegas menuju rumah sakit, namun sebelum ikut pergi, rekannya diam-diam menelpon Tuan Baek dan memberikan informasi mengenai sadarnya Tuan Goo. Detektif itu juga berjanji akan mengabari Tuan Baek lagi, setelah mendapatkan identitas korban (Tuan Goo).

Mengetahui Tuan Goo sudah sadar, membuat Tuan Baek cemas, dia takut Tuan Goo akan memberitahu yang sebenarnya pada polisi.

Detektif Nam dan rekannya sampai di rumah  sakit, namun sayang Tuan Goo sudah tak ada lagi di kamarnya, dia melarikan diri. Ketika detektif Nam sibuk mencari Tuan Goo di sekitar rumah sakit, rekannya sekali lagi menelpon Tuan Baek dan memberitahu kalau Tuan Goo melarikan diri.


Kemana Tuan Goo? Ternyata dia pergi ke telepon umum dan kemudian menelpon telepon rumah Tuan Baek. Kebetulan saat itu Jae Suk yang mengangkatnya. Pada Jae Suk, Tuan Goo mengaku kalau dia adalah orang yang bekerja untuk Tuan Baek, bahkan Tuan Goo juga menyebutkan namanya. Ingin menjadi majikan yang baik, Jae Suk dengan ramah menyuruh Tuan Goo untuk berkunjung ke rumahanya kapan-kapan, karena Jae Suk ingin mengundangnya makan bersama. Tepat disaat itu Tuan Baek masuk dan dia mendengar pembicaraan Jae Suk dan Tuan Goo.

Tak mau Tuan Goo nanti mengatakan sesuatu pada Jae Suk, Tuan Baek langsung merebut telepon dan menyuruh Jae Suk  keluar dari ruangannya. Di bentak seperti itu, Jae Suk langsung mengingatkan Tuan Baek, kalau tidak akan bagus jika Tuan Goo mendengar Tuan Baek berteriak-teriak seperti itu, namun Tuan Baek tak perduli, dia malah tambah menaikkan volume suaranya dan menyuruh Jae Suk keluar.


“Kenapa kau selalu marah-marah padaku setiap saat?” tanya Jae Suk dengan kesal dan kemudian pergi keluar.



Tuan Baek kemudian menjawab telepon dan dia mengajak Tuan Goo bertemu. Tuan Goo kemudian membahas tentang Louis yang sudah kembali ke Gold Group saat dia masih koma.

“Apa kau... mencoba mengancamku sekarang?” tanya Tuan Baek.

“Ah, apa yang kau bicarakan? Lagipula aku tidak datang untuk bertemu Ny Choi. Jika kau terus bersikap seperti itu padaku, aku tidak tahu kapan aku berubah,” ucap Tuan Goo dan Tuan Baek bertanya berapa jumlah uang yang Tuan Goo inginkan, atau Tuan Goo ingin dia melakukan apa?

Ditanya seperti itu, Tuan Goo tak menjawab, dia langsung menutup teleponnya. Mendapati hal tersebut, Tuan Baek terpikir akan satu hal.



Louis sudah berada di rumahnya dan tepat disaat itu telepon di rumahnya berdering, sehingga diapun langsung mengangkatnya. Baru berkata “halo” pada si penelpon, Tuan Baek muncul dan dia terkejut melihat Louis mengangkat telepon, karena Tuan Baek tahu kalau yang menelpon adalah Tuan Goo. Louis pun melihat dengan tatapan bingung, dia bingung kenapa Tuan Baek tiba-tiba datang.
bersambung


No comments :

Post a Comment