November 1, 2016

Shopping King Louis Episode 11 - 2



Bok Sil berada di lobi Goldline, tepat disaat itu Louis keluar bersama rombongan. Reflek Bok Sil langsung bersembunyi di balik tanaman. Tak lama kemudian Geum Ja datang dan bertanya kenapa Bok Sil sembunyi. Tentu saja Bok Sil menjawab kalau dia tidak sembunyi, dia hanya merasa nyaman berdiri di tempat itu. 



Bok Sil datang membawakan manisan persik dari gunung Jiri untuk Geum Ja dan teman-temannya. Tentu saja Geum Ja senang menerimanya dan berterima kasih. Bok Sil kemudian menyarankan kalau Geum Ja seharusnya berhenti kerja dan istirahat di rumah karena In Sung sudah kerja sekarang. Geum Ja menjawab kalau dia melakukan semua itu agar tetap sehat, kalau dia tiba-tiba berhenti kerja, bandannya malah akan jadi sakit semua. 

Geum Ja kemudian mengajak Bok Sil makan malam, namun Bok Sil menolak dengan alasan dia punya janji malam ini. 


Ma Ri menemukan setangkai bunga mawar orange di mejanya. Diapun bertanya-tanya dari siapa bunga tersebut. Pertama dia mengira kalau bunga itu dari Do Jin, tapi sepertinya tidak mungkin karena Do Jin adalah copy-an-nya Joong Won. Kedua dia mengira Kyung Kook, tapi dia langsung membuang prasangka itu karena dia tak suka pada Kyung Kook. 



Ma Ri kemudian teringat kalau Louis pernah membawa setangkai bunga mawar orange saat dia hampir menabraknya. Mengingat hal itu, Ma Ri pun sangat yakin kalau orang yang sudah memberi mawar itu adalah Louis. Dia mengira kalau Louis sudah melupakan Bok Sil dan beralih suka padanya. Mengira hal tersebut, Ma Ri pun sangat senang sampai-sampai dia terus mencium bunganya. Tanpa Ma Ri sadari, In Sung melihat dirinya. Hmmm... yang memberikan bunga itu adalah In Sung dan tentu saja atas ide Louis, karena hanya Louis yang punya ide untuk memberikan setangkai mawar orange pada kekasih.



Ma Ri bertemu dengan Louis di lift dan Ma Ri pun mengajaknya makan malam, namun Louis menolak dengan alasan kalau dia ada les malam ini. Mendengar Louis masih ikut les di umur sekarang ini, Ma Ri pun bingung dan bertanya dia ikut les pelajaran apa? Namun Louis tak menjawab, dia berjalan pergi karena pintu lift sudah terbuka.


Les apa yang Louis lakukan? Ternyata dia les menulis dari Tuan Kim. Baru beberapa kalimat yang Louis tulis, Louis merasa bingung dan langsung menyerah. Tuan Kim pun berkata kalau ejaan Louis sudah mendekati benar dan kalau sampai dia bisa menulis dengan ejaan yang benar plus keahlian 10 bahasa, maka Louis akan menjadi pria yang luar biasa. 


“Kalau ejaanku sudah master aku harus tulis surat untuk Bok Sil. Tentu saja, aku tak akan memberikannya padamu, Bok Sil,” ucap Louis pada boneka anjingnya. Tuan Kim hanya diam melihat Louis yang seperti itu.



Bok Sil sudah bersama Joong Won dan orang tuanya. Hmm... ternyata janji yang Bok Sil katakan pada Geum Ja adalah janji makan malam bersama orang tuan Joong Won. Saat mencoba minuman yang disajikan, Bok Sil langsung tahu kalau itu adalah air rebusan bunga betony. Young Ae sedikit bingung karena Bok Sil tahu bunga betony. 

“Kau tahu bunga betony?” tanya Young Ae. 

“Tentu saja, herbal yang bagus untuk mencegah pikun. Anda harus lebih berhati-hati masaknya, supaya nutrisinya tidak hilang. Lain waktu, biar aku yang mengeringkannya,” jelas Bok Sil dan Joong Won sedikit merasa bangga karena wanita yang dia perkenalkan pada orang tuanya adalah wanita yang pandai. 

Bok Sil kemudian mencoba makanannya dan dengan cepat Bok Sil menebak kalau Young Ae tidak menggunakan gula dalam memasaknya, tapi menambahkan Maesil Chung (sirup plum) ke dalam masakannya. 

“Maesil chung?” ucap Joong Won dan Tuan Cha secara kompak, karena itu adalah satu-satunya bahan makanan yang selama ini mereka hindari. 

“Yang ini kutambahkan Maesil chung dari mana kau bisa tahu?” tanya Young Ae. 

“Aku... merasakan bumbu dorajinya begitu meresap itu sebabnya menurutku Anda menambahjab maesil chung. Tapi kalau Anda tanya kenapa, kukatakan Anda menambahkan maesil chung...,” jelas Bok Sil dan Young Ae melihat Bok Sil seperti Go Jang Geum. Dia benar-benar menyukai Bok Sil.


Selesai makan, Joong Won hendak mengantarkan Bok Sil, namun Bok Sil tak mau, dia lebih memilih pulang dengan naik bis. Sebelum Bok Sil pergi, Joong Won pun berpesan agar Bok Sil menelponnya begitu sampai rumah, agar Joong Won tahu kalau Bok Sil sampai rumah dengan selamat. 


Setelah Bok Sil pulang dan Joong Won masuk kamar, Young Ae berkata kalau dia ingin membuat Bok Sil jadi Jang Geum. Dia ingin membuat Bok Sil menjadi ahli pengobatan tradisional. Young Ae tertawa senang membayangkan punya menantu seorang Jang Geum, saking senangnya dia sampai menyanyikan lagu untuk soundtrack Jewel In The Palace. 


Detektif Nam mendapat telepon dari Jae Suk yang meminta bantuan dirinya. Jae Suk meminta detektif Nam mengangkat beberapa buku. Saat mengangkat buku-buku itu, detektif Nam hanya mengenakan kaus pendek ketat dan itu benar-benar membuat Jae Suk terpesona. Selesai mengangkat buku, Detektif Nam hendak pergi, namun Jae Suk mencegahnya dengan meminta bantuan untuk memindah-mindahkan barang yang lain. Karena hanya fokus pada badan detektif Nam yang besar, Jae Suk sampai tak sadar kalau dia malah membuat ruangannya berantakan dan tak teratur. 

Melihat ruangannya jadi aneh, detektif Nam pun memberitahu Jae Suk dan Jae Suk baru menyadarinya. 

“Hatiku...jadi aneh sekali, Joon Hyeok-ssi,” ucap Jae Suk dalam hati. 

Karena ruangan Jae Suk jadi aneh, detektif Nam pun menawarkan diri untuk mengembalikan posisi barang-barangnya ke tempat semula, namun Jae Suk berkata tidak perlu dan membiarkan semuanya jadi sepert itu. Tepat disaat itu, hujan tiba-tiba turun dan Detektif Nam bertanya apa Jae Suk punya payung. Jae Suk pun menjawab tidak. 

“Kalau begitu, akan kuantar pulang. Hawanya dingin, Anda bisa kena flu kalau kehujanan,” ucap Detektif Nam dan mendengar hal itu Jae Suk malah menangis, sehingga membuat detektif Nam bingung sendiri. 


“Ke-ke-kenapa menangis? Apa aku salah?” tanya detektif Nam bingung.

“Kata-kata yang hangat seperti tadi entah berapa lama tak kudengar aku tak ingat. Anda begitu baik padaku terima kasih,” ucap Jae Suk dan mengusap air matanya. Tanpa keduanya sadari, ada yang melihat mereka dari luar.


Hujan plus petir, membuat Louis teringat pada Bok Sil dan merasa khawatir. Dia khawatir, karena dia tahu Bok Sil takut dengan hujan plus petir, Bok Sil akan demam mendadak. Bok Sil benar-benar demam, dia keringat dingin. 


Di sisi lain, Joong Won juga merasa khawatir pada Bok Sil karena Bok Sil berjanji akan menelpon tapi sampai sekarang dia tak menelpon. Jadinya, Joong Won yang menelpon Bok Sil, saat menjawab telepon Joong Won, Bok Sil tiba-tiba tak sadarkan diri. 


Di rumah, Louis benar-benar merasa khawatir karena Bok Sil pasti merasa ketakutan. Tak punya pilihan lain, Louis langsung pergi ke rumah Bok Sil dengan membawakan obat, namun langkah Louis langsung terhenti saat dia melihat Joong Won datang lebih dulu ke rumah Bok Sil dengan membawa obat. Melihat orang lain yang menjaga Bok Sil ketika dia sakit, benar-benar membuat Louis sakit hati, dia menangis dan dalam hati berkata, “Bok Shil. Hatiku sakit sekali.  Saking sakitnya, kupikir aku akan mati.”


Louis sekarang sudah kembali ke kamarnya, dalam hati dia bergumam, “Orang bisa saling menyiksa dan menyakiti hati orang lain hingga sesakit ini. Karena suatu alasan, kurasa aku melihat hal itu terjadi.”

Flashback!
Louis meminta Bok Sil untuk tidak membalas perasaan Joong Won, walau Joong Won suka padanya. Bok Sil kemudian bertanya kenapa dan Louis menjawab kalau dia akan sedih jika Bok Sil melakukannya. 
Flashback End!


“Waktu itu, aku sudah tahu,” sambung Louis.


Paginya, Louis mengatakan pada Nyonya Choi kalau dia ingin kembali ke Chateau Bourron-Marlotte. Namun sang nenek tak mengizinkannya, karena dia sekarang tak mau lagi tinggal jauh dari Louis. 

“Sebentar. Hanya sebentar saja. Aku butuh waktu sendiri,” ucap Louis. Jung Ran melihat ke arah Tuan Kim dengan sedih karena mereka juga akan berpisah, secara Tuan Kim harus berada dimana Louis berada.


Sebelum pergi, Louis pamitan pada Geum Ja dan In Sung, namun In Sung tak mau menemui Louis, karena tak ingin Louis pergi. Dia bahkan menyumpahi Louis sakit, agar dia tak jadi pergi. 

Louis kemudian meminta Geum Ja untuk menjaga Bok Sil seperti putri sendiri dan Geum Ja mengiyakan, karena selama ini Bok Sil juga sudah dia anggap seperti putri sendiri. Geum Ja kemudian meninggalkan Louis sendiri.


Saat sendirian, Louis terus melihat sekitar rumah Bok Sil dan kemudian berkata, “Sampai bertemu lagi, lingkungan indahku.”



Tuan Baek tertawa senang ketika mendapat informasi kalau Joong Won keluar dari Goldline dan pindah ke perusahaan yang Bok Sil bentuk. Dia dan Tuan Choi menganggap Joong Won sudah tak waras.

“Choi Isa . Harus kukatakan, aku suka pada gadis bernama Go Bok Sil. Aku tak pernah sebahagia ini,” ucap Tuan Baek senang. 



Di kantornya, Bok Sil sedang membaca-baca komentar pembeli tentang Kol Go Joon Pyo dan di akhir komentar ada yang menulis, “Good Bye” si pengirim bernama Kang Ji Sung. Melihat itu, Bok Sil langsung membuka isi pesannya. 

“Bok Sil... aku kembali ke Chateau Bourron-Marlotte. Kau harus tetap sehat dan semangat. Louis-mu,” isi pesan Louis dan Bok Sil merasa sedih mengetahui Louis akan pergi jauh. 

“Louie-ah. Kuharap kau tak pergi sejauh itu.  Setidaknya di Korea, di bawah langit yang sama,” ucap Bok Sil dalam hati dan tepat disaat itu dia mendapat kiriman paket. Isi paketnya adalah catatan ingatan Louis. 



Louis menulis kata-kata di setiap lembarnya, “Bok Sil....Roti panggang.... Maxim Gold.... Busan... 500 won.... Mawar.... Cup ramen....Cuci piring..... Halte bus.... Petir dan guntur.... Payung..... Sepatu kets.... Kriting.” Bok Sil tersenyum melihatnya. 



Bok Sil membuka catatan yang lain, “Halo..... Bok Sil.... Lagi ngapain?... Kabarmu baik?... Aku merindukanmu.... Aku merindukanmu..... Aku ingin makan ramyeon bersamamu..... Ayo makan.... Maafkan aku..... Aku benar-benar minta maaf..... Aku sangat berterima kasih..... Aku sangat menyukaimu.... Aku rindu sekali padamu..... Bok Sil... Selamat tinggal.”

Bok Sil menangis membaca buku catatan yang kedua ini. Dia juga merasakan hal yang sama dengan apa yang Louis rasakan dan mengetahui kalau Louis pergi dari Korea, benar-benar membuatnya sedih. Louis sendiri sudah dalam perjalanan menuju bandara. 

Tanpa Bok Sil sadari, Joong Won melihat dia menangis. Bukan waktunya dia untuk ikut campur, Joong Won pun membiarkan Bok Sil sendiri.


Di bandara, Tuan Kim mencari-cari Louis dan tak menemukannya. Dia kemudian pulang dan memberitahu Jung Ran kalau Louis hilang. 




Kemana Louis? Ternyata dia pergi ke Busan. Dia naik bis Busan dan berkeliling Busan. Melihat Busan, Louis teringat kembali pada hari-harinya bersama Bok Sil. Dari atas bis, Louis kemudian melihat seorang pria yang sangat mirip dengan Bok Nam. Merasa kalau pria itu benar-benar Bok Nam, Louis pun langsung turun dari bis dan menghampiri Bok Nam. 


Pria itu benar-benar Bok Nam dan Louis langsung memeluknya. “Jadi kau masih hidup, Bok Nam. Aku kesana-kemari mencarimu! Kau benar Bok Nam, kan?” ucap Louis senang dan Bok Nam kemudian ingat siapa Louis. Dia adalah pria yang sudah dia rampok. 


Takut di bawa ke kantor polisi, Bok Nam pun langsung melarikan diri. Mereka kejar-kejaran dan Louis kesulitan menangkapnya. Louis kemudian teringat saat dia bertanya pada Bok Sil tentang julukan untuk Bok Nam dan Bok Sil menjawab kalau Bok Nam diberi julukan, “Kodok Odaesan.”



“Bok Nam dipanggil begitu oleh halmeoni karena lemot,” jelas Bok Sil.

Mengingat hal itu, Louis pun yakin kalau dia bisa menangkap kodok. Louis terus memanggil-manggil Bok Nam dan dalam persembunyian, Bok Nam bingung darimana Louis tahu namanya? Tapi karena rasa takut dibawa ke kantor polisi, Bok Nam pun memilih terus melarikan diri dari Louis.



Sambil lari, Bok Nam meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan pada saat itu, Louis pun menjawab kalau dia tak perlu meminta maaf. Tapi sepertinya, Bok Nam tak mendengarnya, dia terus berlari meninggalkan Louis.




Tiba-tiba ada sepeda melintas dan hampir menabrak Louis, Louis yang mencoba menghindar malah jatuh dan kepalanya terbentur lantai. Kepala terbentur, Louis merasa kepalanya sakit lagi. Sambil menahan sakit kepalanya, Louis melihat Hydrant yang ada di depannya. Melihat hydrant, Louis kembali teringat pada kejadian malam itu, malam itu dia hampir tertabrak motor dan karena menghindar, dia jatuh dan kepalanya membentur hydrant. Sakit kepala Louis semakin menyiksa dan akhirnya membuat Louis pingsan.



Joong Won dan Bok Sil juga sedang berada di Busan untuk melakukan bisnis mereka. Saat menunggu pesanan mereka datang,  Bok Sil berkata kalau setelah ini, dia akan melanjutkan dengan rumput laut Kim Gi Jang. Ternyata mereka berdua memesan bubur. 

“Pertama melihatmu dan Louis di kontrakan, kau menumpahkan bubur kan?” tanya Joong Won. 

“Iya.”

“Louis kembali ke Perancis kau tahu?” tanya Joong Won dan dengan ekpresi sedih dia menjawab kalau Louis sudah menulis ucapan selamat tinggal padanya. Joong Won kemudian berkata kalau Louis akan baik-baik saja dimana pun dia berada, karena dia pasti bisa bertahan.

“Louis cerita kalau dia dibesarkan di rumah kaca, apa mungkin itu bohong?” tanya Joong Won dan tertawa. Bok Sil pun ikut tertawa. Mereka kemudian makan dan Joong Won hampir menyemburkan buburnya, karena dia memasukkan suapan bubur ke dalam mulutnya dalam keadaan panas. 


Setelah makan, Joong Won dan Bok Sil kemudian berpisah, karena mereka harus mengerjakan perkerjaan mereka masing-masing. “Kalau naik kereta Donghae Nambu Line daro Stasiun Haeundae, kau akan sampai di Pohang,” pesan Joong Won. 

“Baiklah. Aku akan cari tahu ikan hering dan bayam Gokgang, lalu kembali,” jawab Bok Sil.



Bok Sil berjalan sendiri dan ketika melewati sebuah gedung yang ada tangganya, Bok Sil melihat Louis disana dengan penampilan sama seperti pertama kali mereka bertemu. Tentu saja Bok Sil langsung menghampirinya dan bertanya kenapa Louis ada di tempat itu, karena seharusnya Louis berada di Prancis?



“Aku Louis?” tanya Louis.

“Louie-ah,” panggil Bok Sil kaget karena Louis sepertinya hilang ingatan lagi.
bersambung



1 comment :