October 19, 2016

Shopping King Louis Episode 7 - 1



Setelah membaca catatan yang ditinggalkan Louis, Joong Won pun langsung pergi ke rumah Bok Sil. Namun dia tak menemui Louis dan menyeretnya kembali pulang, karena saat dia sampai depan rumah Bok Sil, dia melihat Louis sedang memeluk Bok Sil. Melihat mereka berdua berpelukan, Joong Won merasa tak nyaman. 

Joong Won teringat kembali pada pertemuan pertamanya dengan Bok Sil, dimana Bok Sil terus menyebut namanyanya sendiri untuk meyakinkan Joong Won kalau dia tak berbohong tentang gingsengnya. 

Dia juga teringat pada pertemuan keduanya dengan Bok Sil serta saat-saat dia melihat senyuman Bok Sil. 

“Aku ingin tahu...apa yang aku rasakan ini,” ucap Joong Won dalam hati.





Bok Sil pergi ke Royal Billiard, karena 3 gadis berandal memberitahunya kalau Bok Nam biasa pergi ke sana untuk bermain billiard dan tidur disana sekitar 3 sampai 4 kali seminggu. Di tempat billiard itu dia langsung berusaha mencari Bok Nam di antara pria-pria yang ada di sana. Namun Bok Sil tak menemukan Bok Nam, disisi lain ada pria misterius masuk ke dalam rumahnya.

Karena Bok Sil terus melihat wajah-wajah pria yang ada ditempat itu, seorang pria kemudian menghampiri Bok Sil dan bertanya apa Bok Sil sedang mencari seseorang?

“Apa kau kenal Bok Nam? Aku kakaknya,” tanya Bok Sil dan pria itu menjawab kalau sudah lebih dari sebulan dia tak melihat Bok Nam dan dia juga tak tahu dimana keberadaan Bok Nam sekarang. 

Pria yang masuk rumah Bok Sil tadi, tiba-tiba memukul orang yang sedang berada di kamar Bok Sil. Pria itu memukulnya dengan menggunakan palu.

Bok Sil berjalan dengan langkah sedih karena masih tak menemukan Bok Nam. Dia kemudian menelpon 3 gadis berandal, namun tak diangkat. Bahkan nomor Bok Sil mereka block agar tak mengganggu. 

Sampai depan rumah, Bok Sil bingung melihat begitu banyak polisi dan ada seseorang ditandu dari dalam kamarnya. Dia juga mendengar tetangga bicara kalau ada orang yang mati lagi di kamar atas, mereka juga berkata kalau pria yang di tandu itu adalah Louis. Mendengar itu, Bok Sil pun langsung mengaku pada si petugas kalau dia adalah wali korban, jadi dia ikut bersama korban naik ambulans. 



Ambulans berjalan dan saat melihat wajah korban, Bok Sil langsung bernafas lega, karena korban yang ditemukan di kamarnya bukan Louis. Kemana Louis?

Louis baru sampai dan dia bertanya pada tetangga tentang apa yang terjadi. Tanpa tahu kalau Louis adalah penghuni kamar atas, mereka pun memberitahunya kalau ada seseorang terbunuh di dalam kamar. Mendengar itu, Louis pun langsung naik ke atas dan hendak masuk rumah, namun di larang oleh polisi. 

In Sung datang dan bertanya Louis darimana saja? Tak langsung menjawab, Louis balik bertanya tentang apa yang terjadi sebenarnya. In Sung sendiri tak tahu harus menjelaskannya bagaimana, yang hanya dia tahu adalah dia menemukan orang asing yang terbunuh di kamar Louis dan Bok Sil. 

“Bukan Bok Sil, kan?” tanya Louis dan tepat disaat itu, ponselnya bunyi. Namun Louis tak bisa mengangkatnya, karena ponsel Louis ada di dalam rumah dan dia tak diperbolehkan masuk ke dalam. Ternyata yang menelpon adalah Bok Sil.



Tak bisa menelpon Louis, Bok Sil kemudian menelpon In Sung dan langsung di angkat. Mendengar kalau Bok Sil yang menelpon, Louis langsung merebutnya dan bertanya keberadaan Bok Sil. Tak menjawab, Bok Sil berkata kalau dia duluan yang bertanya dimana Louis. 

“Aku pergi keluar untuk menjemputmu,” jawab Louis dan Bok Sil pun merasa lega.

“Kau baik-baik saja, kan?” tanya Bok Sil dan Louis mengiyakan kemudian bertanya Bok Sil ada dimana?

Bok Sil menjawab kalau sekarang dia ada di ambulans dan dia berpesan pada Louis untuk tidak kemana-mana, “Diamlah di tempat In Sung Oppa,” dan Louis pun mengiyakan.


Tepat disaat itu, detektif yang menangani kasus pembunuhan keluar dari kamar Louis. Melihat Louis, diapun langsung menghampirinya dan bertanya beberapa pertanyaan. 

“Kau darimana saja?” tanya detektif.

“Aku pergi ke halte bus,” jawab Louis.

“Siapa namamu?”

“Louie.”

“Nama panjangmu?” tanya detektif dan Louis menjawab tidak tahu. In Sung kemudian memberitahu detektif kalau belum lama ini Louis hilang ingatan, jadi dia tak ingat apapun tentang dirinya. Selain itu, polisi juga berkata kalau sidik jari Louis tidak terdaftar. 


Mendengar fakta tentang Louis, si detektif malah menatap curiga padanya dan itu membuat Louis bertanya kenapa?

Tak mau mendapat masalah, In Sung pun menyuruh Louis minta maaf saja dan Louis pun meminta maaf. Si detektif kemudian berkata kalau dia akan mengambil sidik jari Louis. Detektif Nam baru sampai ke tempat lokasi dan melihat alamat yang tertera di dinding, diapun langsung memeriksa alamat rumah yang pernah Bok Sil berikan padanya. Dia kemudian bertanya-tanya apa tempat itu adalah tempat tinggal Bok Sil.

In Sung bertanya apa Louis merasa baik-baik saja setelah diabil sidik jarinya dan interogasi oleh detektif? Dan Louis menjawab kalau dia merasa tak terlalu baik. 


Detektif Nam muncul dan bertanya apa Louis baik-baik saja? Dan dimana Bok Sil? Louis menjawab kalau Bok Sil dalam perjalanan pulang. Mendengar kalau Louis dan Bok Sil tidak apa-apa, Detektif Nam pun bernafas lega. 

“Ah. Kalau saja aku tahu,aku pasti sudah melakukan sesuatu.Kenapa kau tidak memberitahuku tentang tempat ini?” tanya detektif Nam dan Louis menjawab kalau dia juga tidak tahu dengan cerita tempat itu sebelumnya. Begitu juga dengan In Sung, pada detektif Nam dia berkata tak tahu dengan kasus pembunuhan sebelumnya. Merasa asing pada In Sung, Detektif Nam pun bertanya siapa dia?

“Aku Jo In Sung, tetangga yang tinggal di bawah,” jawab In Sung memperkenalkan diri. 

“Dia seorang pencari kerja,” tambah Louis dan In Sung langsung menyingkir malu karena Louis terlalu jujur. Louis menambahkan kalau menurutnya pencari kerja itu keren. LOL


Di ruang kerjanya, Tuan Baek teringat kembali pada ucapan Ma Ri yang berkata kalau mayat yang ditemukan di mobil Louis adalah adiknya Bok Sil dan Bok Sil mengajak Louis tinggal agar bisa menemukan adiknya, sebab saat dia menemukan Louis, Louis mengenakan jaket adiknya. Tuan Baek lalu membahas tentang Joong Won, namun Ma Ri merasa kalau mereka berdua tak ada hubungannya dengan Joong Won.

“Lalu kenapa Joong Won keluar masukke tempat mereka?” gumam Tuan Baek dan kemudian menelpon pria suruhannya, tapi yang mengangkat teleponnya adalah seorang perawat. Si perawat memberitahu Tuan Baek kalau pria pemilik ponsel sedang menjalani operasi darurat. Karena pria itu tidak punya tanda pengenal, jadi pihak rumah sakit tidak tahu nama dan alamatnya. 


Mendengar informasi itu, Tuan Baek terkejut dan kemudian bertanya dibagian mana pria itu terluka dan seberapa parah lukanya? Si perawat menjawab kalau pria itu memiliki luka yang cukup parah pada kepalanya. Tuan Baek shock dan langsung menutup teleponnya. 

“Apa yang sebenarnya terjadi sekarang?” tanya Tuan Baek penasaran.


Detektif Nam memberitahu atasannya kalau dia tak bisa menemukan identitas korban penyerangan. Diapun menebak kalau korban sepertinya imigran gelap, selain itu ponselnya juga terdaftar atas identitas palsu. Sang atasan pun menyuruhnya untuk memeriksa riwayat panggilan ke nomor telepon si korban, karena perintah itu detektif Nam pun langsung pergi ke rumah sakit untuk mengambil ponselnya. 

Sang atasan kemudian bertanya pada detektif lain yang memeriksa sidik jari pada alat penyerangan dan detektif itu menjawab kalau dia sedang memeriksanya. 


Karena rasa bersalahnya sudah berbohong, jadi Geum Ja pun membiarkan Louis dan Bok Sil tinggal di rumahnya. Di ruangan sempit itu, mereka tidur berempat dan Geum Ja mengungkapkan rasa penyesalannya karena sudah berbohong pada mereka. Seperti biasa Bok Sil selalu memaafkan, karena menurutnya yang penting adalah mereka semua dalam keadaan baik-baik saja. Geum Ja kemudian bertanya Bok Sil darimana saja, karena mereka semua panik mencari dirinya. 

“Aku pergi karena... beberapa orang gadis mengatakan mereka akan  memberitahu dimana Bok Nam jika aku membayar mereka,” aku Bok Sil dan Louis langsung bertanya apa Bok Sil sudah bertemu dengan Bok Nam? Dengan nada sedih Bok Sil menjawab kalau dia tak menemukan Bok Nam ditempat itu. 


In Sung lalu bertanya berapa Bok Sil membayar si informan dan Louis menjawab 1.000 dolar. Mendengar itu, In Sung dan Geum Ja langsung terkejut. 

“Apa kau hidup untuk selalu ditipu?Kenapa kalian berdua sangat bodoh?” tanya Geum Ja dan In Sung berkata kalau Bok Sil seharusnya memberitahu dia tentang hal itu, karena dia sangat pintar. 

“Pintar apanya. Kau juga sama saja,” ucap Geum Ja dan In Sung mengakuinya. “Membayangkan aku harus menjaga kalian semua... membuatku sangat putus asa. Oh, malangnya aku,” keluh Geum Ja. 

“Bok Sil. Aku akan mendapatkan kembali uang itu untukmu. Percayalah padaku,” ucap Louis dan Bok Sil mengiyakan. Mendengar ucapan Louis, Guem Ja kembali mengeluh kalau semua itu sangat menyebalkan. Dia merasa geram karena Bok Sil terus percaya pada Louis. 

“Biarkan saja mereka. Mereka memiliki semacam... sistem kepercayaan yang tidak akan bisa ibu mengerti. Sudah tidur saja,” ucap In Sung.

“Ah. Aku bisa sakit jika terus melihat kalian,” ucap Geum Ja yang kembali berbaring. Bok Sil kemudian bertanya apa kira-kira pria yang menjadi korban itu sedang berniat merampok di rumahnya. 

“Kenapa orang mau merampok orang  miskin seperti kalian? Siapa orang yang menyerang perampok itu? Tunggu. Dia bukan penjahat yang belum tertangkap itu, kan?” ucap Geum Ja bertanya-tanya dan In Sung menjawab kalau ada kemungkinan pembunuh berantai memang tinggal di sekitar mereka, karena yang terjadi barusan adalah kejadian ketiga.

Louis kemudian jadi penasaran kenapa detektif begitu banyak bertanya padanya dan In Sung membenarkan, karena hal itu rasanya membuat tak nyaman. 


“Hei. Bagaimana jika...mereka mencurigaimu?” ucap In Sung. Bok Sil dan Louis secara kompak bangun dan bertanya, “Apa?”

“Tidurlah!” teriak Geum Ja dan mereka semua langsung baring untuk tidur.


Keesokanharinya, lingkungan rumah Bok Sil dipenuhi dengan polisi dan reporter. Sedangkan Louis dan lainnya masih berada di rumah Geum Ja. Mereka bersiap sarapan dan Louis tiba-tiba berkata pada Bok Sil kalau dia ingin ham. Dengan perasaan tak enak, Bok Sil kemudian bertanya pada Geum Ja apa dia punya ham. 

“Tapi sebelumnya aku ingin kopi Maxim Gold,” tambah Louis tanpa rasa malu sedikitpun dan tentu saja Geum Ja merasa tak senang. Tapi walaupun begitu Geum Ja tetap melakukan apa yang Louis minta. 

Saat makan, Louis tak hentinya menyuruh teman-temannya. Dia meminta diambilkan minum dan ham lagi pada Bok Sil, bahkan dia juga menyuruh In Sung untuk mengambilkan minuman dingin. Tentu saja Geum Ja merasa tak senang dengan sikap Louis yang penyuruh. 


Dengan mulut penuh makanan, Louis meminta ikan untuk makan malam pada Geum Ja. Mendengar itu Geum Ja semakin kesal dan langsung berteriak. Louis terkejut dan tak sengaja menjatuhkan mangkuk makanan. Kesal, Geum Ja langsung membersihkan semuanya, sedangkan Louis malah melanjutkan makannya. 

Melihat adegan ini, seolah-olah Louis jadi Raja dengan tiga pelayan. LOL


Di rumah, Tuan Baek sekeluarga nonton berita dan ternyata pembunuhan di kamar Bok Sil jadi tranding topik. Semua channel TV menyiarkan berita tentang pembunuhan itu. Tak mau Jae Suk dan Ma Ri mengetahui apa yang terjadi pada Louis, Tuan Baek terus memindah channel TV, tapi karena tak menemukan channel yanng tidak menayangkan berita pembunuhan dan ada salah satu channel juga menangkap gambar Louis, jadi Tuan Baek langsung mematikan TV nya. 

Melihat ayahnya pucat, Ma Ri pun bertanya apa sang ayah baik-baik saja. Namun Tuan Baek tak menjawab, dia malah menyuruh  Jae Suk pergi ke Busan beberapa untuk beberapa hari dan pastikan Nyonya Choi tidak menonton berita. Kalau Nyonya Choi menonton berita, maka Jae Suk harus mengubah channel-nya. 


Karena di suruh kembali ke Busan dengan perintah yang aneh dan tak jelas, Jae Suk pun pergi dengan perasaan kesal. Untuk mengobati rasa kesalnya, Jae Suk melakukan selfie dan mengupload fotonya di akun sosmed.


Young Ae melihat foto yang di upload oleh Jae Suk. Melihat mobil Jae Suk yang mewah dan Jae Suk juga menjadi pelanggan VVIP di pusat perbelanjaan, Young Ae pun jadi penasaran dengan pekerjaan suami Jae Suk . Dia kemudian berjanji pada diri sendiri untuk mencaritahu semuanya pada pertemuan mereka yang berikutnya. 

Young Ae kemudian bertanya apa Tuan Cha  butuh batuan untuk memasak dan dengan cepat Tuan Cha menjawab tidak. Dia menyuruh Young Ae bermain ponsel saja dan untuk urusan masak biar dia saja yang mengurus. 


Detektif Nam memberikan daftar nomor yang menelpon ponsel korban pada atasannya dan semua panggilan terdaftar atas nama orang lain. Melihat fakta itu, detektif Nam pun menerka-nerka kalau korban adalah pembunuh bayaran. Sang atasan kemudian bertanya apa korban sudah sadar dan Detektif Nam menjawab belum. 


Detektif lain datang dan memberitahu atasannya kalau sidik jari yang ditemukan di alat pembunuhan hanya sidik jarinya Louis. Detektif itu menambahkan kalau Louis adalah penghuni kamar itu dan dia menderita amnesia. Saat sang atasan bertanya berapa lama Louis tinggal di kamar itu, Detektif Nam yang menjawab, dia berkata kalau Louis tinggal disana baru beberapa bulan. Dia juga memberitahu atasannya, kalau dia kenal dengan Louis dan dia sangat yakin kalau bukan Louis yang memukul si korban. Walaupun begitu, sang atasan tetap ingin menginterogasi Louis, jadi dia menyuruh mereka untuk membawa Louis ke kantor polisi. 


Louis dan Bok Sil sudah berada di kantor polisi dan di interogasi oleh teman detektif Nam, “Ayo selesaikan ini. Kau tidak tahu namamu. Kau tidak tahu usiamu. Kau tidak punya pekerjaan. Alamatmu berada di TKP. Saat kejadian berlangsung, kau pergi ke halte bus, tapi kau tidak memiliki alibi. Kau meninggalkan ponselmu di rumah, kan?” ucap detektif dan Louis langsung bersumpah kalau dia tidak membunuh orang. 

“Palunya ditemukan dengan sidik jarimu. Bagaimana kau akan menjelaskan itu?” tanya detektif dan Louis menjawab kalau dia menggunakan palu itu untuk mengupas bawang putih. 

“Bagaimana kau mengupas bawang menggunakan palu?” tanya detektif tak percaya.

“Aku pikir akan berhasil. Itu pertama kalinya aku mengupas bawang. Aku bukan orang jahat,” jawab Louis. 

“Detektif. Dia bahkan tidak bisa membunuh serangga. Itu benar,” ucap Bok Sil membela Louis dan Detektif pun merasa bingung karena dia sendiri juga merasa wajah-wajah seperti Louis tidak akan membunuh. 



Kita beralih pada Joong Won dan kedua orang tuanya, dimana Joong Won dan ayahnya sudah disiapkan sarapan oleh Young Ae. Saat mencicipi makanan, Joong Won bisa menebak kalau ayahnya lah yang memasak. Mendengar itu, Young Ae pun sadar kalau suaminya tidak memasukkan ekstrak plum ke dalam masakannya, jadi diapun langsung pergi untuk mengambil ekstrak plum. Sebelum Young Ae datang membawa ekstrak plum, Joong Won dan Tuan Cha langsung menghabiskan makanan mereka, sebelum rasa makanan mereka hancur gara-gara ekstrak plum. 

Young Ae kemudian bertanya tentang hubungan Joong Won dan Louis. Joong Won pun menjawab kalau dia sudah berkali-kali memberitahu ibunya kalau dia mengajak Louis tinggal karena merasa kasihan padanya, lagi pula sekarang Louis sudah pindah, jadi dia tak akan hidup bersamanya lagi. Mendengar itu, Young Ae merasa lega dan Tuan Cha langsung mengajak Joong Won nonton TV.



Saat nonton TV, kebetulan mereka menonton berita percobaan pembunuhan di rumah Bok Sil. Menyadari kalau lokasi pembunuhan itu adalah rumah Bok Sil, Joong Won pun langsung menelpon Bok Sil dan menanyakan keberadaannya. 

Mengetahui Bok Sil sedang berada dikantor polisi, Joong Won pun langsung pergi ke sana dengan menggunakan sepeda-nya. 


Kembali ke kantor polisi, dimana ada beberpa preman yang baru ditangkap dan mereka duduk menghadap ke arah Bok Sil dan Louis. Sedangkan Bok Sil dan Louis sedang ditinggal pergo oleh si detektif.

Louis kemudian bertanya tentang berapa kira-kira usianya. Bok Sil kemudian membandingkannya dengan usianya sendiri, karena Bok Sil berusia 21 maka Louis pasti sekitar 20 tahun. 

“Apa aku lebih muda darimu?” tanya Louis. 

“Kau bertingkah seperti anak kecil, tapi karena wajahmu, sepertinya kau 20 tahun,” jawab Bok Sil dan Louis mengaku kalau tak tahu tentang diri sendiri rasanya menyeramkan, dia taku kalau dia yang sebenarnya adalah seorang penjahat. Bok Sil kemudian berkata kalau Louis bisa saja adalah seorang biksu yang tak tahu apapun tentang dunia ini.

Louis kepikiran juga, bagaimana kalau dia adalah orang yang sedang di kejar-kejar rentenir dan Bok Sil berkata kalau sepertinya Louis adalah orang kaya yang suka menghabiskan banyak uang. Louis kembali menebak kalau sepertinya dia adalah yatim piatu dan Bok Sil membenarkan kemungkinan itu, tapi dia yakin ada sebuah keluarga yang baik yang menjaga Louis selama ini. 

“Aku bisa saja sudah menikah,” ucap Louis.

“Aku harap bukan seperti itu,” jawab Bok Sil langsung. 

“Seseorang dengan segala kemungkinan dan ketidak mungkinan. Itu aku,” tambah Louis dengan ekspresi sedih. 



“Louis. Kau orang yang baik dan menyenangkan. Aku tahu itu. Semua orang menunjukkan... sifat sebelumnya di masa kini,” ucap Bok Sil dan Louis langsung memeluknya lalu mengucapkan terima kasih. Melihat Louis dan Bok Sil berpelukan, para preman yang ada di depannya merasa ikut senang, mereka seperti dapat tontonan live. 


Joong Won datang dan langsug menyuruh mereka berhenti berpelukan. Joong Won kemudian menemui atasan detektif Nam dan mengatakan bahwa Louis tak bersalah, bahkan dia bersedia menjadi jaminannya. Tepat disaat itu detektif Nam muncul dan berkata kalau dia juga akan menjadi jaminan untuk Louis, karena detektif Nam sangat yakin Bok Sil dan Louis tidak akan membunuh. 

“Detektif,” panggil Bok Sil senang. 

“Bok Sil. Kau akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Kau juga, Louis,” pesan detektif Nam yang kemudian memberikan jejak pelaku yang mereka dapatkan di kamar Bok Sil. Louis tak sengaaja melihat jejak sepatunya dan saat atasa detektif Nam bertanya sepatu apa yang pembunuh gunakan, Louis langsung mencarinya dalam ingatan. 


“Itu adalah sepatu khusus anti-panas Bont Riot. Itu adalah sepatu untuk bersepeda. Mereka melindungi sepatunya dengan bahan karbon yang sesuai dengan... kaki penggunanya. Kau tidak akan menemukan pola yang sama dimanapun. Karena itu dipesan secara khusus. Ini. Sepatu itu terlihat seperti ini,” ucap Louis sambil menunjuk sepatu milik Joong Won. 

“Tidak semua tempat menjual sepatu seperi ini. Kau bisa memulainya dari sana. Mungkin pelakunya adalah seseorang yang ahli bersepeda,” sambung Louis. 



Dengan jaminan dari Joong Won dan detektif Nam, serta penjelasan yang Louis katakan, akhirnya Louis dan Bok Sil dibebaskan. Di luar kantor polisi Bok Sil bertanya bagaimana Louis tahu semua itu? apa mungkin Louis adalah pembalap sepeda? Dan untuk memastikannya, Bok Sil meminta izin pada Joong Won untuk membiarkan Louis mencoba sepeda Joong Won. 

Louis mencoba menaiki sepeda namun dia tak bisa mengendarainya. Melihat itu, Joong Won pun jadi bertanya-tanya bagaimana Louis tahu tentang sepatu sepeda padahal Louis sama sekali tak bisa bersepeda. 

“Apa kau sangat menyukai sepatu?” tanya Joong Won.
“Apakah aku begitu?” jawab Louis dan Joong Won kemudian memutuskan agar Louis dan Bok Sil tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. 




Bok Sil dan Louis mengambil barang-barang mereka. Louis membawa banyak barang dan Louis hanya membawa dua pot bunga saja. Louis melakukan itu, karena badannya masih merasa sakit jadi dia tak bisa membawa barang yang berat-berat. Melihat itu Joong Won pun merasa kesal dan akhirnya dialah yang membawa barang-barang Bok Sil dan Louis, sedangkan mereka berdua hanya membawa pot masing-masing satu dan Bok Sil ditambah satu tas ukuran sedang. 


“Apa yang kulakukan disini? Dia dan aku pastilah bermusuhan di kehidupan sebelumnya. Sial,” gerutu Joong Won sambil melihat Louis yang melenggang santai sedangkan dia keberatan membawa barang. 


Jae Suk sudah sampai di tempat Nyonya Choi. Dia memberikan jam tangan Louis yang sudah diperbaiki dan juga sebuah topi pink kesukaan Nyonya Choi. Tuan Kim kemudian menyela dan mengajak Jae Suk bicara berdua. Mendengar Tuan Kim ingin berbicara dengan Jae Suk, Jung Ran pun merasa curiga.



Saat hanya berdua, Tuan Kim bertanya kenapa Jae Suk menyentuh kotak tempat Tuan Kim menyimpan gigi Louis dan salah satu gigi Louis juga hilang. Tertangkap basah seperti itu, akhirnya Jae Suk pun mengatakan yang sebenarnya. Dia berkata kalau dia melakukan semua itu karena diminta suaminya, tapi dia sendiri tak mengerti maksud perintah suaminya tersebut, sebab suaminya tidak mengatakan padanya.


Diam-diam Jung Ran mendengar pembicaraan mereka dan Jung Ran langsung memberitahu Tuan Baek. Tentu saja Tuan Baek kaget mendengarnya, tepat disaat itu Ma Ri  masuk dan membawakan teh untuk Tuan Baek. 


“Ayah. Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Ma Ri ketika melihat ekspresi panik sang ayah. Tuan Baek kemudian menyuruh Ma Ri untuk menelpon Jae Suk. Pada Jung Ran, Tuan Baek berkata kalau apa yang Jae Suk katakan bukanlah masalah penting. Ma Ri menelpon ibunya namun tak diangkat.

Apa yang Jae Suk lakukan? Ternyata dia sedang ngobrol bersama Nyonya Choi dan dia selalu tertawa pada semua yang Nyonya Choi katakan. Merasa bosan, Nyonya Choi kemudian menyuruh Tuan Kim untuk menyalakan TV, karena dia ingin menonton berita. Mendengar itu, Jae Suk langsung kelihatan cemas, karena tugas dia di Busan adalah untuk membuat Nyonya Choi tidak menonton berita.


Louis dan rombongan sampai di rumah Joong Won. Layaknya seperti pemilik rumah, Louis langsung menyalakan ini dan itu. Saat melihat Joong Won kelelahan membawa barang, dengan entengnya dia berkata, “Apa kau lelah? Padahal kau seorang pria.”



Sambil menunggu air di gelasnya penuh, Louis kemudian menyuruh Bok Sil untuk menyiapkan air mandi untuknya. Mendengar itu, Joong Won langsung menyuruh Louis yang melakukannya, karena dia ingin mandi. Karena Bok Sil memberi kode padanya untuk melakukan hal tersebut, Louis pun dengan malas menghampiri Joong Won untuk bertanya apa Joong Won mau mandi air dingin dan Joong Won menjawab kalau dia ingin mandi dengan suhu air 36,5 derajat. 


Setelah Louis masuk kamar mandi, Bok Sil meminta maaf atas nama Louis pada Joong Won, namun Joong Won tak menerimanya. Dia menyuruh Bok Sil berhenti meminta maaf. Karena Joong Won tak mau dia meminta maaf, jadi Bok Sil pun mengucapkan terima kasih, atas kesediaan Joong Won membawa mereka kerumahnya. Lagi-lagi Joong Won menolak, dia menyuruh Bok Sil berhenti mengucapkan terima kasih padanya, kalau Bok Sil benar-benar ingin mengucapkan terima kasih, Joong Won ingin Louis yang mengatakannya.

Joong Won kemudian menunjuk sebuah ruangan yang bisa digunakan Bok Sil untuk tidur, sedangkan Louis bisa menggunakan kamarnya yang sebelumnya. 

“Aku benci ketika orang-orang menghalangiku, jadi jangan coba-coba melakukannya. Kau mengerti?” ucap Joong Won dan pergi setelah menyuruh Bok Sil membereskan semuanya.

Bersambung

No comments :

Post a Comment