October 2, 2016

Just An Ordinary Love Episode 4 - 2 (Final)


Just An Ordinary Love Episode 4 - 2 (Final)


Jae Gwang duduk di samping Nyonya Shin. 

"Apakah aku harus mendengarmu berada di sini dari kantor polisi?" tanya Nyonya Shin yang tidak habis pikir. Anak sendiri, tapi dia harus mendengar kabarnya dari orang lain. Sakitnya tuh di sini :P

Nyonya Shin datang untuk membujuk Jae Gwang ikut dengannya. Akan ada rekonstruksi kejadian pembunuhan Jae Min, katanya. Tapi Jae Gwang membalas tidak akan pergi. Apa lagi yang mau dilihat?

 

"Aku ingin mengingat momen terakhir putraku. Aku harus tahu bagaimana hidupnya berakhir. Kesepiannya pasti akan berkurang." Tidakkah Jae Gwang ingin tahu bagaimana kakaknya dibunuh? Ayah Yun Hye yang membunuhnya dan Jae Gwang harus melihat sendiri agar bisa menerima kenyataan ini, juga melupakan gadis itu. 


Jae Gwang menolak. Ia bangkit berdiri meninggalkan ibunya. "Aku tidak akan lagi terlibat kasus ini."



Tapi permintaan Nyonya Shin menghentikan niatnya."Kumohon pergilah denganku. Aku takut."



Mereka kemudian saling berhadapan. Nyonya Shin akhirnya menyampaikan alasannya yang menjadi gila sejak kepergian Jae Min. Bukan seperti yang Jae Gwang sangka. Mana ada ibu yang ingin anaknya mati. Baik itu Jae Min atau Jae Gwang, sebagai ibu dia lebih memilih dirinya yang mati daripada puteranya. 

"Yang membuatku gila adalah...dirimu." Iya. Jadi yang Nyonya Shin tunggu selama 7 tahun ini bukan Jae Min, tapi Jae Gwang. Jae Gwang yang keras kepala memungguinya. Jae Gwang yang tidak pernah pulang. Karena puteranya yang lain terbunuh, ia tidak bisa menatap Jae Gwang. Mungkin Nyonya Shin merasa bersalah tidak bisa melindungi anaknya. Apalagi menyuruh Jae Gwang pulang. Maka ia pun hanya menunggu. Penantian yang tidak membuahkan hasil sebab Jae Gwang tidak pernah kembali padanya.


Jae Gwang terdiam. Ia trenyuh mendengar ibunya mengatakan hal ini. Oke, kita ganti Nyonya Shin dengan panggilan Ibu mulai sekarang^^



Jae Gwang memberikan makanan yang sebelumnya ia beli ke Yun Hye. Ia pamit pergi. Ada yang mau ia lakukan. Kepada Yun Hye ia berpesan untuk menunggunya. Ia akan kembali segera.

"Jika ada perubahan, hubungi aku." 



Rekonstruksi alias reka ulang perkara dimulai. Para reporter ramai meliputnya hingga Detektif Kang perlu meminta bawahannya menertibkan mereka. Bertempat di Gunung Meonjisan kini, di luar garis polisi Jae Gwang dan Ibu melihat bagaimana Kim Ju Pyeong membunuh Jae Min. Kaki Ibu sempat melemah mengetahui puteranya dipanggul ke atas gunung untuk dikubur sendiri oleh ayah Yun Hye tersebut.

Ibu seolah meminjam kekuatan dengan menggenggam tangan putera di sampingnya.


Sementara di tempat lain kita bisa melihat Yun Hye juga menggenggam tangan Nenek. Dan mulai dari sini scene itu gonta ganti Yun Hye-Jae Gwang. Takdir mereka keliatan makin miris karena mereka ngalamin ini bersamaan, namun nggak bisa saling dukung setelahnya. WHY??? TT.TT 


Nenek siuman. Yun Hye sontak memanggil-manggil dokter, tapi Nenek memberi isyarat untuk tidak melakukannya. Ia ingin mengatakan sesuatu. Yun Hye lalu mencodongkan tubuhnya.


"Yun Hye-ah...jalani jalanmu. Tidak apa-apa..." ujar Nenek lemah. Setelahnya ia menutup mata. Hembusan nafas itu, apakah yang terakhir? Mata Yun Hye berlinang melihatnya. Bola matanya bergerak-gerak takut.

 


"Kau berbalik dan ia memegangi kakimu, lalu apa yang kau lakukan?" pandu Detektif Kang menuntun scene demi scene yang dibuat Kim Ju Pyeong.

Begitu melihat Ju Pyeong memukuli anaknya yang sekarat bertubi-tubi dengan batu, Ibu sudah tak mampu lagi berpijak. Ia jatuh terduduk tak percaya. Jae Gwang yang masih memegangi ibunya ikut terbelalak.

 

"Clear!"

Dokter berusaha membangunkan Nenek dengan memberikan kejutan listrik. Yun Hye sudah membeku saja rasanya. 

"200 joules!"

 

Jae Gwang tidak tahan. Ia memasuki lokasi rekonstruksi dan menghajar Ju Pyeong. "Lepaskan dia! Kau sebut dirimu manusia? Kau bukan manusia!"

***

Peralatan medis dilepaskan dari Nenek. "3.54" Dokter menyebut waktu kematiannya. Yun Hye bisa apa :((

***

Polisi menarik Jae Gwang yang meraung-raung kesal sambil menangis. Aiiiiiiiiiiiih...

 

Yun Hye mendekati neneknya. Ia menangis sama seperti Jae Gwang. Wajah cantiknya itu haduh *bingungngasihemotsedihapalagi

 

"Anakku yang malang...Jae Min-ah..." Ibu sampai berbicara pada boneka rekonstruksi. Perumpamaan puteranya. Lukanya dan Jae Gwang terbuka lagi dan semakin besar. Tumpah sudah semua emosi yang memenuhi dada. 


Sedih banget scene ini. Dapet pokoknya! 


 

Biar tak ada kata yang terucap, ekspresi mereka sudah berbicara banyak. 

 

Yun Hye menelepon Jae Gwang namun tidak tersambung.

 

Ia rupanya menitipkan pesan suara. Baru ketika malam, Jae Gwang membukanya...

"Kau di mana? Nenek..."

Kalimatnya terpotong. Mungkin tidak kuat pula. Jae Gwang terkejut mendengarnya. Ia lihat kontak Yun Hye. Tangannya sudah hendak menekan layar untuk menelepon, namun ia urungkan. 


Ibunya mengajaknya ke Seoul. Mereka harus pergi karena semua ini sudah selesai.


 

Tampaknya Yun Hye menunggu Jae Gwang. Ia terlihat sedikit kecewa melihat yang datang adalah Da Eung. 


Dae Eung berdiri di depan pintu untuk menemui Yun Hye yang sudah menyebar abu Nenek. Ia menyesal tidak bisa menemani Yun Hye. Dan Yun Hye memaklumi itu.


"Aku putuskan akan melarikan diri bersamamu," kata Da Eung selanjutnya.

Menanggapi pernyataan Da Eung, Yun Hye memujinya. Tapi ia pikir ia tidak ingin melarikan diri. Yun Hye lebih ingin pergi bersama Jae Gwang.

Mendengar nama Jae Gwang, Da Eung pun bercerita kalau pria tersebut dan ibunya segera pergi ke Seoul setelah rekonstruksi. Yun Hye lantas berkomentar, "Begitu ya...syukurlah." 


Di laci meja rias, Yun Hye menemukan bungkusan kain yang dulu Nenek letakkan sebelum hendak mengunjungi Ju Pyeong di penjara dan berakhir jatuh pingsan. Ia temukan sebuah cincin serta selembar kertas yang ditulis Nenek. Mbayangin itu tulisannya Nenek udah bikin saya tersentuh. Tulisannya besar, memang seperti punya nenek-nenek. Meski ya nggak sebagus ini juga hehe. 


"Yun Hye-ah...kau tak melakukan kesalahan apa-apa. Jalani hidupmu. Tidak apa-apa."


Yun Hye kembali tertunduk sedih. Menangis sendirian.

 

Kamar Jae Gwang sangat berantakan. Sepertinya ia habis minum-minum dan menghabiskan waktu di kamar saja sepanjang hari. Telepon pagi itu dari perusahaan penerbitan saja ia reject.



Matanya kemudian tertumbuk pada selembar fotobox Yun Hye yang ada di mejanya. Tapi ia hanya mengambil untuk dilihat sejenak sebelum kembali membaringkan diri. 



Yun Hye sedang membersihkan laci-lacinya kala mememukan sekotak penuh uang receh yang mengingatkannya pada Jae Gwang...

Dan tak beda dengan pria yang ia pikirkan, Yun Hye juga hanya menaruhnya di atas meja rias.

 

Halah...keduanya masih kepikiran satu sama lain. Saat minum sendirian, atau makan sendirian.


Sampai Jae Gwang sengaja menyimpan foto Yun Hye di kulkas agar tak terlihat olehnya. 



Yun Hye menumpuk uang, berkonsentrasi agar tidak runtuh untuk mengenyahkan isi pikiran yang membuatnya kalut. Demikianlah hingga sudah habis uang koin yang ia tumpuk, ia jatuhkan lagi. 

 


Pertahanan Jae Gwang tidak bertahan lama. Saat ia melihat hasil jepretannya, ia teringat Yun Hye yang memahami dirinya. "Mengapa kau hanya mengambil dari belakang?"

 

Malamnya Jae Gwang mendatangi Yun Hye. Ia terkejut Yun Hye mengajaknya menginap, "Apakah kau punya tempat untuk berisitrahat?"

 

Mereka makan mie yang tadi dibeli Yun Hye. Berbasa-basi sambil menunggu mie matang. 


"Mengapa kau kemari?"

"Apa lagi? Aku ingin menemuimu." Yun Hye menghentikan suapannya. 

Jae Gwang meminta maaf. Ia tidak datang saat Nenek meninggal. Tapi Yun Hye mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Jae Gwang makan saja. Nanti mienya mengembang

 

Jae Gwang mulai tegas. Ia tidak ingin Yun Hye begini terus. Yun Hye tidak salah apa-apa, jadi mengapa tidak bisa menerima permintaan maafnya. Harusnya dia kecewa Jae Gwang melanggar janjinya untuk kembali cepat dan justru melarikan diri seperti pengecut. Sebelum Yun Hye menjadi seorang puteri, Yun Hye adalah Yun Hye, wanita yang ia rindukan. 

"Karena itu, jangan hanya makan ramen dan nyalakan pemanasnya."

Yun Hye tidak membalas apapun. Mereka tenggelam dalam diam yang sangat lama.

 


walau malam berlalu sangat larut....



pagi bahkan menyapa dengan sinar suryanya...


hal paling maksimal yang bisa Yun Hye lakukan pada pria di depannya adalah mendekatinya yang masih menutup mata. Memandanginya sebentar. 

 

Ah...Yun Hye rupanya ingin pergi ke tempat itu lagi. Ia bertanya pada Jae Gwang apakah berkenan ikut dengannya.


Berdua seperti ini, Jae Gwang cukup senang. Seolah mereka memang pasangan. 


"Mengapa aku selalu memotret dari sisi belakang? Sebab aku selalu dilewati. Berpura baik-baik saja, tapi sebenarnya aku selalu menoleh ke belakang. Aku ingin menahan seseorang yang melewatiku..." Jae Gwang mengaku di depan Yun Hye. Yun Hye tersenyum. Jae Gwang melanjutkan lagi, 

"Aku ingin menahanmu. Maukah kau berpacaran denganku?"


Menerima pertanyaan itu, Yun Hye malah menolaknya. Meski di lain waktu ketika semuanya berlalu dan terlupakan? Tetap tidak. Yun Hye bilang Jae Gwang bukan tipenya. Ia tidak suka cowok yang plin plan dan tidak bertanggung jawab. Punya masalah komplek pula. Apalagi pekerjaan yang tetap. Sangat mengkhawatirkannya. 

Jae Gwang membalas ia pun tak menyukai wanita yang keras kepala. Sungguh tidak menawan. Tapi ia sadar Yun Hye tidak berkata dari hatinya. Ia hanya ingin mengakhiri hubungan mereka. Sayang...padahal Jae Gwang pikir mereka pacaran.

"Kita sudah melakukannya dan sekarang aku memutuskanmu," tandas Yun Hye riang.

Jae Gwang meminta Yun Hye meneruskan.


Tangan Yun Hye terulur. Jae Gwang menjabatnya. 

"Han Jae Gwang...selamat tinggal."

Jae Gwang tersenyum pahit, "Berbahagialah...Kim Yun Hye."

 

Tangan mereka agak enggan memisah. Namun lebih baik begini. Meski keduanya tampak sedih setelah memasang raut cerah beberapa menit lalu, keduanya tetap menerima perpisahan ini. 


Jae Gwang lagi-lagi dilewati...dan dia tidak menahan Yun Hye pergi.


Esoknya, Yun Hye dengan tampilan berbeda, rambut digerai dan rok, mengambil recehan pemberian Jae Gwang dari dalam kotak. 

 

Jae Gwang mengangkat telepon pihak penerbit yang menanyakannya yang tidak memberi kabar dan foto untuk pameran. Sedang apa? 

"Aku membersihkan kamarku."

"Tumben. Kau tidak pernah membersihkan kamarmu."

"Aku diputuskan seseorang."

"Kau benar-benar pacaran to. Seperti apa dia?"

"Dia hanya seorang wanita biasa," tutupnya sembari mentup kulkas. Ia ambil foto Yun Hye dari sana.

 

Yun Hye gunakan uang receh untuk membayar burgernya. Ia memakan burger dengan membuka mulutnya lebar. Yun Hye sudah berubah. Ia pandangi lowongan kerja yang tertempel di sana dengan ragu awalnya. 


Tapi terpancar keoptimisan sesudah ia keluar. 

 


Jae Gwang juga berubah. Ia memotret beberapa anak tampak depan hingga tampak wajah mereka yang sangat cerita. Ia ikut tersenyum.

 


Keduanya hanya terpisah sebaris rumah. Berada sangat dekat. Yun Hye melewati Jae Gwang yang berada tak jauh di sampignya dengan senyum mengembang. Tanpa mereka tahu, mereka sama-sama tersenyum sekarang. 

TAMAT


Mau ngomong apa lagi? Kalo udah ngeliat ending macam ini biasanya saya suka dibuat speechless wkwkwk. Berasa udah cukup drama ini bercerita banyak. Plongnya...^^

Sambut hari baru, mulai langkah baru. Terimakasih.  

3 comments :

  1. Aacchkk. .. aku jg speechlees mbk .. Kok gt endingnya .. Tp klo dipkr lg gmn dgn perasaan ibunya klo mereka berdua jadian beneran apa gk tambah runyam ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. begitulah...makanya saya suka sih
      kalau endingnya ga gini mungkin saya malah banyak komen haha. Saya ngeliat yun hye soalnya lebih bahagia kan dan jae gwang juga. Ikutan plong ngeliat senyum meraka, lega akhirnya bisa melepas yang berat buat mereka^^

      Delete