September 13, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 7 - 2


Yeong dan Ra On melihat Kasim Jang sedang berkelahi dengan kasim-kasim lainnya. Yeong berteriak dan berhasil menghentikan mereka. Kasim Jang pun diinterogasi oleh Yeong. Mulanya Kasim Jang tak mau cerita, tapi setelah diancam akan dibawa ke kantor administrasi, Kasim Jang pun mengaku kalau ia berkelahi karena hal-hal sepele saja.



Yeong tahu kalau hal yang diributkan itu yang membuatnya gerah, tapi ia tetap ingin mendengarnya. Kasim Jang  pun menjawab lirih, “Paduka .. menyukai.. pria.” Kasim Jang langsung berlutut dan berkata kalau teman-temannya itu mengucapkan hal yang tak masuk akal.


Yeong melirik Ra On yang terlihat shock dan ia pun tertawa. “Kupikir yang diributkan itu masalah apa. Kenapa kau naik darah mendengar guyonan seperti itu?”


Seperti air tumpah, Kasim Jang terus berkata kalau cara Yeong memandang Ra On sangat berbeda. Yeong menyuruh Kasim Jang untuk tidak cerita lagi. Tapi Kasim Jang terus cerita kalau gosip itu sudah menyebar ke seluruh istana. Yeong menghardiknya untuk berhenti, tapi Kasim Jang terus bicara, khawatir pada nasib Yeong yang nantinya mewarisi tahta kerajaan.

Yeong menghela nafas dan menatap Ra On yang masih shock dan bingung.


Di perpustakaan, Ra On menjatuhkan boneka kasim yang sedang ia jahit saat ia sedang menata buku. Ia memungut boneka itu, tapi ternyata Yeong juga memungutnya. Yeong bertanya apa maksud boneka itu. Ra On tak mau menjawab, membuat boneka itu ditarik-tarik oleh mereka berdua. Namun Yeong lebih kuat sehingga lengan baju yang dipegang Yeong sobek.


Walau merasa bersalah, Yeong bertanya apa rencana Ra On sebenarnya. Begitu tahu kalau boneka itu untuk Kasim Ma, Yeong marah. Ia sudah mengingatkan Ra On untuk tak ikut campur urusan Kasim Ma. Ra On berjanji kalau yang akan dilakukan ini tak melanggar hukum. Tapi tetap saja. Bagi Yeong, walau perasaan Kasim Ma sudah tersampaikan tapi tetap tak akan ada yang berubah.


Ra On tahu kalau semua dayang adalah milik Raja, tapi apa yang bisa dilakukan jika perasaan itu tetap tumbuh? “Walau tak ada yang berubah, aku berharap perasaanku bisa tersampaikan.”

Ehmm… apa mereka masih membicarakan tentang cinta terlarang Kasim Ma dan Wol Hee?


Yeong bertanya sinis, “Sebuah pengakuan untuk seseorang yang akan meninggalkanku agar hatiku terasa lebih baik? Kedengarannya sangat egois.”


“Apakah salah untuk menyatakan sebuah cinta yang tak sampai? Perpisahan yang baik-baik rasanya akan sehangat perasaan cinta itu, kan? Siapa tahu kenangan pernah dicintai menjadi kekuatan untuk menjalan hidup ini. Tapi Paduka memang tak akan pernah mengalami hal seperti ini,” kata Ra On dan berbalik pergi meninggalkan Yeong yang terdiam.


Ra On senang menemukan Yoon Sung, karena ia juga butuh berada di pohon itu. Saat ditanya siapa yang membuatnya marah, Ra On menjawab kalau dirinya sendiri. Ia merasa tak enak selalu menjadi beban bagi Yeong.

Yoon Sung bertanya apa karena Ra On menjadi kasim? Ra On membenarkan. Yoon Sung pun membuka kotak yang ia pegang, yang berisi hanbok. Ra On masih ingat kalau Yoon Sung ingin memberikan hanbok itu pada seseorang yang spesial. Yoon Sung menjawab kalau hari ini ia ingin menanyai orang itu.


Ia memberikan kotak itu pada Ra On dan bertanya, “Apa kau ingin hidup sebagai wanita?” Ra On kaget, namun berkata kalau ia tak masalah kalau tetap menjadi kasim. Tapi Yoon Sung berkata kalau menyamar menjadi lak-laki itu sangat berbahaya. Ia akan membantu Ra On untuk keluar dari istana dan hidup sebagai wanita. “Aku sudah ingin mengatakannya sejak aku membeli hanbok itu. Apakah kau bisa melakukannya demi aku?”


Ra On tertawa dan hendak menjawab, tapi Yoon Sung sudah keburu berdiri, memintanya untuk tak buru-buru menjawab. Ia meminta Ra On untuk memberikan jawabannya nanti.


Ha Yeon kaget mendengar kalau ia akan dinikahkan dengan keluarga Perdana Menteri Kim. Ia berkata kalau ia harus menikah, ia ingin menikah dengan orang yang ia sukai.


Pertunjukan boneka dimulai malam itu dengan Ra On memainkan musik dan dibantu oleh Do Ki dan Sung Yeol. Begitu Wol Hee datang, Ra On memberi isyarat pada kasim Ma untuk tampil dengan boneka kasimnya.


Pertunjukan boneka itu bercerita tentang Do Hwa, wanita tercantik yang menjadi dayang-dayang. Walau sudah menunggu, tapi Raja (Wang) tak pernah meliriknya dan malah berhubungan dengan Kasim Wang. Tapi hubungan mereka tak bisa terbuka karena mereka adalah kasim dan dayang. Do Hwa mengancam akan meninggalkan Kasim Wang, dan kasim Wang mengijinkan, “Karena jika kau tetap berada di sisiku, kau tak akan memperoleh apapun kecuali kematian.”


Wol Hee terbelalak, marah karena tahu ini cerita tentangnya. Ia berdiri dan meninggalkan tempat. Tapi ia berhenti saat kasim Wang berseru, “Tapi.. aku ingin memberitahukan padamu untuk terakhir kalinya.. di depan orang banyak. Aku mencintaimu! Aku benar-benar mencintaimu!!”


Wol Hee berbalik dan melihat kasim Wang menangis di hadapan Do Hwa yang juga sudah berbalik, “Bagi Yang Mulia, kau mungkin hanya salah satu dayang dari sekian banyak dayang, tapi bagiku..kau adalah seluruh duniaku!”

Yeong tidak melihat seluruh pertunjukkan, tapi ia melihat bagaimana Kasim Wang mengucapkan kata cintanya. Ia melihat Wol Hee, dayang adiknya, menangis terisak-isak. Dan ia melihat Ra On berkaca-kaca melihat semua ini. Ia teringat pertanyaan Ra On.

Apakah salah untuk menyatakan sebuah cinta yang tak sampai? Perpisahan yang baik-baik rasanya akan sehangat perasaan cinta itu, kan? Siapa tahu kenangan pernah dicintai menjadi kekuatan untuk menjalan hidup ini.

Yeong tersenyum, menyadari arti ucapan Ra On. Ia meninggalkan tempat pertunjukan. Ra On sempat melihat sosoknya dan kecewa merasa Yeong tak suka dengan yang ia lakukan.


Kasim Sung yang mendengar kalau ada pertunjukan yang diadakan Ra On, memberitahukan pada Ratu. Dan Ra On pun ditangkap. Ratu sepertinya memang menunggu kedatangan Yeong, yang langsung datang setelah mendengar kabar Ra On ditangkap.

Ia menyindir Yeong yang tak pernah mau mengunjunginya. Yeong menjawab manis, kalau ia sekarang sudah memakan umpan yang dilempar Ratu dan mengikuti umpan itu hingga sampai di sini. Karena Ratu sudah bisa melihat wajahnya, maka ia bisa membawa pulang kasimnya.


Tapi Ratu belum mengijinkan karena ia belum mengajari kasim yang bertindak tak kurang ajar. Apa Ra On tak tahu kalau semua wanita di istana ini adalah milik Raja? Dan Ratu menampar pipi Ra On keras-keras, yang bahkan membuat Kasim Sung pun berjengit.  


Ratu menatap Yeong, menunggu reaksinya. Tapi Yeong tak bergerak dan berubah ekspresi walau terdengar Ra On yang menahan tangis. Yeong kemudian malah tertawa kecil. Kisah kasim dan dayang itu selalu terjadi dan banyak sekali kisah-kisah satir yang beredar di istana. “Dan banyak orang yang berkata kalau Raja adalah orang bodoh yang suka main wanita tapi tak bisa lari dari bawah rok Ratu. Apa aku harus menangkap semua orang itu dan membawa mereka ke hadapanmu?”


Ratu berteriak marah. Yeong menyuruh Ra On bangkit, dan memerintahkan lebih keras saat Ra On belum juga berdiri. Akhirnya Byung Yun membantunya berdiri. Dengan nada mengancam, Ratu bertanya apa Yeong tak takut akan skandal yang akan muncul setelah ini?


Tapi Yeong tak takut dan malah meminta Ratu tidak marah hanya karena kesalahan sepele dari kasim baru. Kalau Ratu tak bisa menjaga emosinya, maka situasi akan semakin tak terkendali. Ia tersenyum kecil dan memberi hormat pada Ratu sebelum pergi dengan membawa Ra On.



Ratu mengawasi kepergian mereka dan berkata kalau pandangan Yeong itu bukan pandangan kepada kasim, tapi pandangan pria kepada kekasihnya.


Kasim Jang lega karena kali ini Yeong bisa menahan diri, tak memperlihatkan emosi apapun pada Ratu.  Ratu sengaja memancing Yeong dengan menangkap Ra On.


Yeong menoleh pada Ra On yang terus menunduk, namun tak ada yang bisa ia lakukan dengan banyaknya kasim yang mengelilinginya.


Sendirian, Ra On terus mengingat ucapan kasim Jang, Ratu dan Yeong yang mempermasalahkannya sebagai kasim dan gosip yang sudah menyebar luas. Dipandanginya boneka kasim yang terus dipegangnya, dan akhirnya memukulnya dengan sedih.

Keesokan harinya, cobaan baru muncul. Kasim Sung akan melakukan tes kesehatan pada Ra On dan menyuruhnya untuk membuka celananya. Ra On mencoba menunda dengan tak mau mencopot celananya. Tapi Kasim Sung terus memaksa.


Hampir saja Ra On keceplosan rahasianya, jika Kasim Ma tiba-tiba tidak masuk. Kasim Ma diperintahkan oleh Ratu untuk membawakan hantaran ikan untuk rumah ayahnya, Perdana Menteri Kim. Tapi karena melihat Kasim Sung sibuk, ia akan mengantarkan ikan tersebut.

Tentu saja Kasim Sung tak mau, karena itu adalah tugasnya. Ia menyuruh Kasim Ma untuk menggantikannya memeriksa Ra On.


Kasim Ma hanya sekilas menatap Ra On dan berjalan melintasi ruangan. Ra On sudah mau menerangkan tentang kondisinya. Tapi berhenti saat melihat Kasim Ma mengambil stempel dan mencap kolom lolos. Ra On bengong. Kasim Ma berbalik dan menatapnya kalem.


Ra On bertanya sejak kapan Kasim Ma tahu tentang dirinya. Kasim Ma menjawab sejak perayaan ulang tahun Raja. Ra On minta maaf karena telah berbohong. Kasim Ma membalasnya dengan berterima kasih. Aww… Ra On berkata kalau melihat Kasim Ma dan Wol Hee membuatnya senang.

Walau begitu, Kasim Ma tetap khawatir karena istana itu adalah tempat yang berbahaya bahkan untuk Raja sekalipun. Ra On menyadari hal itu dan berkata muram kalau ia akan pergi jika ia bisa.


Yeong berjalan-jalan bersama dengan Ra On. Tapi Ra On selalu berjalan agak jauh di belakang dengan selalu menunduk. Yeong menyuruh Ra On untuk menegakkan badannya dan tidak menunduk. Tapi Ra On tak melakukannya karena ini adalah sikap kasim yang seharusnya. Apa Ra On marah padanya? Bukannya biasanya Ra On berjalan sembrono di sebelahnya dan berani menatap matanya?


Ra On kembali membantah, membuat Yeong yakin kalau Ra On sedang marah padanya. Ia menunduk untuk menggoda Ra On. Tapi tak seperti biasanya, kali ini Ra On mundur selangkah. Yeong sadar, kalau kali ini Ra On tak sedang bercanda.


Dengan masih tak menatap, Ra On meminta agar Yeong tak memperlakukannya seperti dulu. Mereka tak bisa menjadi teman atau menjadi yang lain. Posisi kasim selalu berada satu langkah di belakang Yeong. Ia tidak boleh lebih jauh atau lebih dekat.


Yeong berkata kalau Ra On adalah orangnya, dan siapa yang berani menentukan jarak diantara mereka? Yeong meminta dengan hormat agar Yeong memperlakukannya seperti kasim lainnya, dan ia akan sangat berterima kasih. Yeong berbalik, tanpa menjawab.


Malam harinya, ia terus teringat permintaan Ra On dan ia membuka kertas kosong dan mulai menulis.


Sementara itu Ra On memandang hanbok pemberian Yoon Sung dan permintaannya untuk keluar dari istana dan menjadi seorang wanita.


Keesokan harinya, Ra On menemui Yeong di kebun, memenuhi perintahnya. Ra On bertanya ada apakah Yeong memanggilnya.


Yeong mengaku kalau dulu ia berbohong. Ia tak menginginkan Ra On berada di sampingnya dengan hanya menjadi sebagai kasim.  Ia sendiri tak tahu mengapa berkata seperti ini. Tapi ia ingin menjernikan permasalahan ini dan terus bertanya pada diri sendiri setiap malam. “Dan aku menemukan jawabannya.”


Yeong menarik tangan Ra On dan berkata, “Sebelum aku menjadi Putra Mahkota, aku adalah seseorang dan pria. Aku jatuh cinta padamu. Itulah jawabanku.”


Ra On terpana dan menarik tangannya. Ia tergagap saat menjawab. Yeong adalah Putra Mahkota, dan tak pantas memiliki perasaan pada seorang pria sepertinya, seorang kasim sepertinya. Yeong tak boleh melakukannya.


“Jangan mengatakan perasaanku ini salah. Bukankah kau yang mengatakan demikian? Bagaimana mungkin cinta yang muncul itu benar atau salah?”

Ra On terkejut mendengar ucapannya dulu berbalik mengarahnya. “Ya.. tapi ada cinta yang baik dan cinta yang buruk.. dan ini.. siapapun yang melihatnya pasti akan menilai.. ini bukan sesuatu yang ..”

“Aku tahu,”potong Yeong. “Tapi aku akan mencobanya. Cinta yang buruk itu.”


Yeong maju selangkah, Ra On mundur selangkah. Yeong maju lagi, dan Ra On mundur lagi. Maka  Yeong meraih pinggang Ra On, membawanya lebih dekat. Topi Ra On terjatuh tapi Yeong tak mempedulikan. Ia menatap Ra On, tapi Ra On terus menunduk, menghindari tatapan Yeong.


Dengan tangan satunya, Yeong memegang kepala Ra On, memaksa untuk menatapnya. Yeong terus menatap Ra On, membujuknya meski tanpa kata.


Dan akhirnya Ra On memejamkan matanya, pasrah menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Yeong tersenyum melihat wajah Ra On.


.. untuk kemudian menciumnya.


Komentar:

Awww…. Ga nyangka ada kissing di episode ini. Bukannya biasanya kissing itu di episode belasan ya? Dan sebenarnya pas liat Yeong tersenyum itu, saya ngiranya kalau Yeong cuman mau godain Ra On. Kan biasanya formulanya gitu. Kalau si cewek udah mau, eh ternyata cowoknya cuman ngegodain. Eh ternyataa… Putra mahkota yang ini bandel yaa…

Dan pertanyaan paling penting itu adalah sebenarnya Yeong udah sadar belum sih kalau Ra On itu cewek? Soalnya kan di episode-episode sebelumnya belum terucap kata-kata Yeong yang mengaku kalau ia tahu Ra On itu cewek.  Tapi pas di penjara itu, kayaknya Yeong udah tau, karena tatapannya pada Ra On itu loh.. 

3 comments :

  1. Mbak dee lagi lagi ngomongin tatapan ra on di penjara heheee

    ReplyDelete
  2. hahaha awalnya aku nyangka yeong blm tahu.. tp geli juga kalau belum
    tau main kiss aja .. syukurnya sih yeoung udah tahu makanya berani
    nyatain cinta .. semoga berakhir bahagia nih kisahnya mereka ..

    ReplyDelete
  3. tp kalo menurutku min si yeong udh tau pas si ra on nari itu deh.soalnya pas festival lentera dya kaya kget gtu ngliat muka ra on yg cma keliatan matanya gara" ketutupan lampion,dan juga sebelum"nya jga dy masih mencari" sosok penari itu k ra on..tp entahlah yg jelas ni film bkin greget and penasaran HABIS ..haaa..smoga ada flasbacknya kapan pertma kali yeong sadar kalo kasim HOng itu ada si ra on yg sangat cantik.haaa..and GOMAWA min sinopsinya...

    ReplyDelete