September 28, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 12 - 2

Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 12 - 2

Duk Ho mengintip dari luar pagar batu, mencari keberadaan Putri Myeung Eun. Tahu kalau Myeung Eun tak ada, ia menaruh rantang bambu (iya.. rantang, karena bersusun sama seperti rantang alumunium yang ada di dapur kita) di depan pintu.

Saat berbalik, ia terkejut karena melihat Myeung Eun ada di hadapannya, menatapnya dengan marah. Gagapnya langsung muncul, tergagap-gagap beralasan mengapa ia ada depan istana Myeung Eun, meracau tak jelas tentang awan dan cuaca. Tapi melihat tatapan tajam Myeung Eun, Duk Ho akhirnya menjelaskan kalau ia tak bisa melupakan gadis cantik yang ada dulu tinggal di istana itu.



Myeung Eun langsung berpikir, siapa gadis cantik yang dulu tinggal di istananya dan bukan dia tapi orang yang cantik? Ia langsung memikirkan Wol Hee, dayang yang akhirnya pergi bersama kasim Ma. Duk Ho menjelaskan kalau gadis itu sekarang tirus, tapi gadis itu sudah tak ada lagi.


Myeung Eun menyuruh dayang untuk mengambil keranjang yang tergantung di pintu. Duk Ho berkata kalau ia membawa makanan kesukaan gadis itu. Mata Myeung Eun membulat dan bernafsu saat melihat isinya. Yakgwa atau biskuit madu kesukaannya -yang ukurannya jauh lebih besar dari yang disajikan oleh istana-.

Myeung Eun langsung mengambil satu dan memasukkan ke mulut, tapi ia langsung ingat dietnya. Ia urungkan niat untuk memakan yakgwa itu dan berkata kalau Wol Hee tak menyukai yakgwa. Ia mengembalikan keranjang itu pada Duk Ho dan menyuruh Duk Ho untuk menyingkirkan makanan itu.

“Siapapun dia, kau pasti menyukai seseorang yang seleranya sama denganku. Aku minta maaf karena salah paham denganmu. Jadi pergilah,” kata Myeung Eun dengan penuh keanggunan. Ia berjalan meninggalkan Duk Ho, tapi kemudian menoleh dan menatap lapar pada keranjang isi yakgwa itu.


Ibu Ra On terkejut melihat kedatangan Kasim Han dan bertanya apa maksud kedatangan Kasim Han. Sebenarnya Kasim Han mencari keluarga Hong Gyeong Nae adalah untuk mencari tahu apakah sahabatnya itu masih hidup atau tidak. Ibu berkata karena alasan itulah maka ia dan Ra On berusaha memisahkan diri. Kasim Han tentu tak tahu betapa menderitanya ia dan Ra On selama 10 tahun suaminya menyiapkan pemberontakan.

Kasim Han berjanji kalau ia akan melindungi keduanya. Tapi ibu tak mau. Apa yang sebenarnya Kasim Han rencanakan setelah menemukan Ra On? Kasim Han meminta bantuan Ibu agar perjuangan ribuan orang tak sia-sia. Tapi Ibu tak mau dan melarang Kasim Han melibatkan ia dan anaknya lagi.


Yeong mencari Byung Yun di Jahyeondang. Alih-alih menemukan temannya, ia menemukan baju yang penuh darah dan topeng putih. Ia terkejut melihat topeng itu dan teringat saat dulu ia juga menemukan topeng saat membantu pertempuran Byung Yun dengan orang tak dikenal.


Byung Yun muncul dan menyapa Yeong. Yeong menunjuk baju penuh darah itu dan bertanya apakah Byung Yun terluka? Byung Yun menjawab ia terluka oleh salah satu prajurit baru yang salah sasaran saat latihan kemarin.


Keesokan harinya, Yeong mendapat laporan kalau Byung Yun meninggalkan istana, ijin tak mengikuti latihan karena tidak enak badan. Yeong menduga mungkin Byung Yun sakit setelah terluka karena latihan kemarin. Betapa kagetnya ia saat komandan latihan menjawab kalau kemarin tak ada latihan.


Saat Yoon Sung berjalan di kota, ia bertemu dengan orang suruhan kakeknya. Orang itu memberitahukan kalau ia sudah menemukan keberadaan Hong Ra On, yaitu di istana. Dan ia akan ke rumah Yoon Sung untuk melaporkan hal ini pada kakek Yoon Sung.


Yoon Sung bertanya apakah ada orang lain yang sudah mendengar rahasia ini? Orang itu menggeleng dan mengeluarkan surat dari balik bajunya. Informasi ini akan ia berikan nanti di rumah Yoon Sung. Yoon Sung mengangguk dan meminta orang itu untuk berjalan lebih dulu. Ia akan menyusul kemudian.


Orang itu mematuhi perintah Yoon Sung. Di jalan kecil, ia merasa dibuntuti seseorang. Ia mencabut pedangnya dan berbalik. Ternyata orang yang mengikutinya adalah Yoon Sung. Ia kembali tenang.
Yoon Sung berkata kalau ia lupa mengatakan sesuatu dan meminta orang itu mendekat. Sekejap, ia sudah memotong nadi leher orang itu. Ia mengambil surat yang tadi ditunjukkan dan terkejut membaca isinya.


Ada dua orang bertopeng putih mengendap-endap di atas atap. Saat penjaga sadar ada orang di atas, penjahat bertopeng itu turun dan membunuh para penjaga itu. Mereka membuka gerbang dan masuklah beberapa orang bertopeng putih dan dua orang berbaju pengawal. Mereka segera menggantikan posisi pengawal yang tadi terbunuh.


Yeong kedatangan Yoon Sung yang bertamu malam-malam. Sudah menebak maksud kedatangan Yoon Sung, Yeong menegaskan kalau Yoon Sung ingin membicarakan masalah Ra On, maka lebih baik Yoon Sung diam saja. Jika Ra On membutuhkan sesuatu, ialah yang akan menolongnya.

Tapi Yoon Sung mengatakan kalau yang dibutuhkan Ra On adalah keluar dari istana. Ra On tak seharusnya ada di istana. Jika Yeong dan Ra On terus bersama, maka nyawa Yeong juga berada dalam bahaya.


Ucapan Yoon Sung itu mengingatkan Yeong pada peringatan Guru Dasan. Yeong bertanya bahaya apa yang akan dihadapinya? Yoon Sung nampak ragu menjawabnya membuat Yeong tak akan menganggap ucapan Yoon Sung dengan serius. Kalau ia gentar hanya karena ucapan Yoon Sung, maka dari awal ia tak mungkin akan memulainya. Ia minta Yoon Sung segera meninggalkan ruangannya.


Ra On membawa teh untuk Yeong. Tapi ia disergap oleh seseorang, membuat baki berisi poci teh jatuh dan pecah menggelinding ke arah beberapa dayang yang tergeletak sudah tak bernyawa..


Yeong mendengar suara itu dan bertanya siapa yang ada di luar? Tak ada yang menjawab. Ia pun waspada dan mengambil pedangnya. Perlahan ia berjalan menuju pintu dan membukanya.


Nampak Ra On sedang ditawan dengan pedang di leher, dikelilingi oleh sekelompok orang bertopeng putih.


Yoon Sung hendak meninggalkan Dongungjeon tapi curiga karena melihat tangan salah satu penjaga pintu belepotan darah. Ia langsung siaga. Benar saja, kedua orang itu tiba-tiba menyerangnya. Untung Yoon Sung sudah bersiap dan dengan mudah melumpuhkan kedua pengawal itu. Pedang berhasil ia rampas dan ia pun kembali ke istana.

Yeong mundur selangkah demi selangkah ketika para penjahat itu maju dengan menyandera Ra On. Ra On sudah semakin memucat. Yeong akhirnya membuang pedang. “Kalian lihat sekarang, aku sudah tak bersenjata. Aku tak tahu apa yang kalian inginkan tapi lepaskan dia sebelum kita mulai.”


Sekarang tanpa senjata, Yeong maju perlahan dan mengulurkan tangan pada Ra On. Ra On mengulurkan tangan dengan gemetar. Sepersekian detik kemudian Yeong langsung menarik Ra On dan memeluknya. Para penjahat itu sadar dan langsung menyerang Yeong. Yeong menangkis sabetan pedang dengan sarung pedang yang masih ia pegang.

Ia mendorong Ra On ke samping, bersamaan dengan itu pintu terdobrak dan Yoon Sung muncul, menyerang dari belakang. Berdiri bersisian, Yoon Sung menyerang sementara Yeong bertahan, menerima serangan para penjahat itu dengan hanya menggunakan sarung pedang. Akhirnya Yeong berhasil merampas salah satu pedang yang berhasil ia lumpuhkan.

Pertarungan berlangsung sengit dan semakin banyak yang menyerang Yeong. Yeong berhasil menahan pedang satu orang, tapi ada celah yang terbuka, dan penjahat lainnya menggunakan kesempatan itu menghunuskan pedang ke dada Yeong.

Yeong terkesiap, tak ada waktu lagi untuk menghindar. Yoon Sung melihat itu segera melompat dan menangkap pedang terhunus itu dengan tangan kosong. 


Yeong terbelalak melihat Yoon Sung tanpa takut menangkap pedang. Tangan Yoon Sung sekarang berdarah-darah, tapi Yoon Sung seperti hulk, seakan tak merasa kesakitan tetap menggenggam pedang tajam itu.

Ra On melihat pedang yang dibuang Yeong berada di lantai. Ia segera melempar pedang itu ke kaki Yeong dan Yeong langsung mengambil dengan kakinya dan menebas si pemilik pedang yang digenggam Yoon Sung.

Pertempuran kembali dan semakin sengit dengan semakin banyak lawan berguguran. Yoon Sung mengejar beberapa orang yang mencoba kabur. Salah seorang penjahat menyerang Ra On, tapi Yeong langsung meloncat menahan pedang itu dan membunuhnya. Punggungnya terbuka dan seseorang menebasnya. Darah terciprat ke dinding.


Yeong masih bisa berdiri, tapi penjahat lainnya menusuk pedangnya ke perut Yeong. Yeong terjatuh ke lantai, tapi masih bisa bertahan. Ia melihat satu penjahat berdiri dihadapannya. Berambut panjang berantakan dan memakai topeng. Dan ia melihat sosok sahabatnya di sana, mengkhianatinya.


“Byung Yun-i.. apa itu kau?” tanya Yeong gemetar tak percaya.

Penjahat itu tak menjawab, hanya mengangkat pedangnya bersiap membunuh Yeong. Tapi belum sempat pedang itu menyentuh tubuh Yeong, penjahat itu tersungkur karena ditebas oleh orang di belakangnya.


Orang itu adalah Byung Yun yang sekarang ada di hadapannya, tanpa topeng dan berkata, “Ini aku, Paduka. Maafkan aku yang telah terlambat.” Salah seorang penjahat berhasil kabur dan Byung Yun mengejarnya.


Ruangan itu sekarang sepi, yang tersisa hanyalah Yoon Sung, Ra On dan Yeong. Tapi Yeong makin lama makin hilang kesadaran dan terjatuh. Ra On menangis, berteriak memanggil-manggil Yeong dan memeluknya.

Yoon Sung yang melihat Ra On tersedu-sedu menangisi Yeong, hanya bisa tertunduk dan meninggalkan ruangan.


Raja panik mendengar usaha pembunuhan Yeong yang dilakukan komplotan topeng putih. Perdana Menteri Kim membenarkan. Ia frustasi karena ia harus melakukan saran dari Perdana Menteri Kim adalah mengunci rapat-rapat insiden ini. Seharusnya ia menyuruh biro investigasi menyelidiki kejadian ini. 

Perdana Menteri Kim mengingatkan kalau tak ada gunanya memberitahu pihak luar, yang terjadi nanti malah timbul kekacauan dalam masyarakat dan mendorong mereka untuk membuat pemberontakan yang lebih besar.

Kasim Han menatap Perdana Menteri Kim yang berjanji akan menangani hal ini secara baik agar tak terjadi keributan di masyrakat.


Perdana Menteri Kim kembali dengan disambut oleh dua biang kerok kejadian ini. Euh Gyo meyakinkan kalau mereka berhasil membersihkan jejak yang menghubungkan dengan para penjahat itu.


Tapi dua orang itu tak melapor kalau dari 10 pembunuh yang dikirim, hanya ada 9 mayat yang kembali. Kemana satu orang lainnya? Mereka ragu harus melapor kejadian ini pada Perdana Menteri Kim atau tidak.


Yeong dirawat di wisma yang terpisah dan tak ada yang bisa mengunjunginya kecuali para dokter. Ra On memohon untuk bisa menjenguk Yeong sebentar untuk melihat kondisinya, tapi tak diijinkan. Ra On hanya bisa berharap kalau Yeong selamat.


Yoon Sung hendak melukis, tapi pikirannya juga penuh sehingga tangannya tak bisa menggerakkan kuasnya.


Yeong masih belum sadar juga. Dokter masih merawat luka-lukanya. Sementara Ra On terus menunggu kabar yang tak tentu kapan datangnya.

Akhirnya Yeong membuka mata. Dokter sangat lega melihatnya. Karena Dongungjeon penuh mayat dan berdarah-darah, perawatan Yeong dipindah kemari dan Raja tak mengijinkan satu orang pun mengunjungi Yeong kecuali para dokter.


Wajah Yeong masih pucat saat meminta pada Dokter, “Aku membutuhkan sesuatu dari Dongungjeon. Panggil seseorang dari Dongungjeon untuk menemuiku.”


Ra On berdiri di depan kamar Yeong, tapi tak berani masuk. Ia memanggil Yeong dan bertanya apakah Yeong baik-baik saja. Ia bertanya apa Yeong masih ingat kalau ia takut karena merasa terlalu bahagia. “Melihat Yang Mulia jatuh, aku takut sekali. Akhirnya kebahagiaanku terampas.”

Air matanya menetes saat berkata itulah yang ia pikirkan saat itu. “Jangan pernah lepaskan tanganku. Aku juga.. tak akan melepaskanmu.” Ra On mengulurkan tangan dan menyentuh pintu dengan penuh kerinduan pada Yeong.


Dan sebuah tangan terulur, menggenggam tangan Ra On. Ra On terkesiap merasakan pelukan dari belakang. Yeong berkata, “Lancang sekali. Tanpa seijinku.. tak ada yang bisa merampas kebahagiaanmu. Jadi janganlah menangis.”


Yeong menggenggam tangan Ra On semakin erat dan meminta, “Jangan pernah lepaskan tangan ini.”


Yeong sudah pulih seperti sedia kala dan mengijinkan Ra On untuk keluar istana untuk menemui ibunya. Sebelum memberikan tanda ijin keluar, Yeong bertanya kapan Ra On akan pulang?

Ra On menjawab sebelum jam malam berakhir. Yeong menarik tanda ijin itu. Ia tak mau. Ra On harus pulang sebelum matahari tenggelam. Ra On cemberut, kesal.

Tapi Yeong bersikeras kalau Ra On harus sudah ada istana sebelum matahari tenggelam. Akhirnya Ra On menyetujui dan Yeong memberikan tanda ijin keluar istana.


Ibu Ra On sudah berkemas-kemas untuk pergi. Guru Dasan bertanya mau kemana Ibu Ra On membawa Ra On pergi. Ibu tak menjawab. Menurutnya, Ra On tak boleh berada di istana apalagi di sisi pangeran. Mungkin ia paranoid karena selalu hidup dalam ketakutan. Tapi yang pasti ia tak akan tinggal diam. “Ra On dan Putra Mahkota saling mencintai satu sama lain. Kau tahu kan apa artinya ini?”


Ra On masuk ke halaman rumah dan mendengar percakapan ibu dan Guru Dasan. 


Yeong menghabiskan waktu dengan membaca buku. Ia menyadari kalau hari sudah malam saat dayang memasang lilin penerangan. Ia kesal karena Ra On tak menepati janjinya untuk pulang sebelum matahari tenggelam. Tapi terlihat kalau ia tak benar-benar marah.

Ibu berkata kalau selama ini ia berusaha keras untuk keluar dari takdir yang kejam. Ia memukul Ra On dan memaksanya hidup sebagai laki-laki. Jadi ia tak bisa membiarkan Ra On tetap tinggal di istana lagi. “Jika ada yang tahu kalau Ra On adalah putri dari Hong Gyeong Nae..”


Pintu terbuka. Ibu dan Guru Dasan terkejut melihat Ra On berdiri di sana dengan wajah shock.


Yeong menunggu kedatangan Ra On di Jahyeondang, kali ini dengan kecemasan yang mulai muncul. Ia teringat kalau ia minta Ra On berjanji untuk tak pernah melepaskannya apapun yang terjadi. Ra On juga pernah berjanji padanya untuk tak akan pernah pergi tanpa ijinnya.


Terdengar suara rumput terinjak dan suara Ra On, “Apakah kau lama menungguku, Yang Mulia?”

Komentar :

Agak deg-degan melihat adegan terakhir. Ra On balik ke istana memang untuk tetap tinggal bersama Yeong atau bersiap-siap untuk meninggalkannya?


Episode ini berjudul Kepercayaan yang Menjadi Takdir. Apakah benar Ra On benar-benar akan tetap di sisi Yeong? Beberapa kali Ra On menjadi noble idiot dengan mengorbankan dirinya agar Yeong bisa aman. Sementara ratusan kali (lebaay…) Yeong mengorbankan posisi dirinya bahkan nyawanya untuk menyelamatkan Ra On.

Semoga kali ini Ra On benar-benar membuktikan janjinya untuk tak pernah meninggalkan Yeong, apapun yang terjadi.

Rasanya seneng sekali melihat Byung Yun muncul di akhir pertempuran. Pahlawan pasti muncul terakhir ya? Saat Yeong down, patah hati merasa Byung Yun telah mengkhianatinya, ternyata tidak. Byung Yun malah menyelamatkannya.

Dan jangan lupa akan Yoon Sung. Akhirnya Yeong melihat betapa Yoon Sung berani mengorbankan dirinya untuk keselamatan Yeong. Ekspresi Yeong saat melihat Yoon Sung dengan tangan kosong menahan pedang yang akan membunuhnya, benar-benar priceless.

Semoga dengan ini, Yeong sudah tak berburuk sangka pada Yoon Sung. Sedangkan Yoon Sung sendiri mungkin juga menyadari kalau keinginannya untuk mengambil Ra On akan sia-sia. Bagaimana bisa merebut jika Ra On tak pernah sekalipun menatap padanya?

Yang saya sesali dari dua episode terakhir ini, sepertinya banyak adegan yang harusnya ada, ternyata tidak ada. Seperti saat Yeong berhasil memecahkan kasus anak penjual lentera, kayaknya saya pingin banget melihat Yeong memberi pelajaran pada para pejabat dan membalikkan tuduhan mereka.

Saat Yeong meregang nyawa, saya ingin melihat Ratu melakukan tarian syukur (ini juga lebaay..) karena Putra Mahkota akan mati. Dan betapa kecewanya saat mengetahui Yeong masih hidup. Saya juga ingin melihat reaksi Kasim Jang, bahkan juga Ha Yeon.

Kalau dikata waktunya tidak cukup, sepertinya nggak juga karena adegan pelukan Ra On dan ibunya diulang cukup lama.

Tapi mungkin drama ini sudah masuk live shooting, sehingga banyak adegan yang seharusnya ada jadi tidak ada. Saat Kim Yoo Jung ulang tahun tanggal 22 September (Jung-iee.. happy birthday!), shooting baru sampai pertengahan episode 11, saat Ratu berniat membuka baju Ra On. Padahal episode 11 – 12 adalah tanggal 26 – 27 September. Berarti hanya 4 hari mereka harus syuting untuk satu setengah jam.

Gila kan..


Di beberapa scene, saya sempat menangkap kantung mata di wajah Bo Gum. Fiuhh.. pantas saja mereka menolak dramanya diperpanjang. Gila aja kalau mau.. Bisa pingsan dan diinfus kayaknya. 

3 comments :

  1. Anyong mb Dee.. ya ampun lama banget gak ksni. Krn lg suka banget sm Moonlight akhirnya tiba dgn selamat disini hehehe...
    Btw, udh mikir aneh2 pas liat prev ep 12 yg abis ujan2an itu lho, tau2 cmn smpe di saling tatap menatap wkwkwk..
    Tp ntah kenapa yah,satu adegan lovey dovey Yeong-Ra on seperti 10 kiss scene di drama lain ahayy...
    Semangat mb Dee..

    ReplyDelete
  2. Yoon sung dan yeong dipuji netizen...acrion scene merka itu
    Novelnya jg udah laris manis sampe mau diterbitin bahasa cina thai sama jepangnya

    ReplyDelete