September 7, 2016

Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 6 - 1

Chapter 6 : Ketika kau ingin mengucap rahasia yang tak boleh terucapkan.


Ra On tak tahu harus menjawab apa saat Yeong mengatakan kalau dia melihat sosok wanita di dirinya. Untungnya Yoon Sung muncul dan mengajak Ra On untuk pergi sesuai janji mereka. Melihat kesempatan untuk menghindari pertanyaan Yeong, Ra On meminta ijin untuk pergi.

Tapi Yeong mencekal tangannya, “Aku tak beri ijin.” Ia menarik Ra On mendekat ke arahnya dan berkata pada Yoon Sung. “Dia adalah orangku.”



Keduanya bertatapan, saling menantang tak ada yang mau mengalah. Yoon Sung mengakui kalau Ra On memang bekerja di kediaman Putra Mahkota. “Tapi apakah Paduka melarang dikarenakan hambalah yang akan menemani Kasim Hong?”

“Apa kau ini sepenting itu?” sindir Yeong sinis.

“Kalau begitu apa alasannya?” tantang Yoon Sung.


Yeong melirik Ra On yang menunduk bingung. Tiba-tiba ada dua gisaeng menyapa Ra On dan Yoon Sung. Sepertinya para gisaeng itu teman lama Sam Nom saat jadi penulis. Dengan genit mereka mengajak Ra On dan Yoon Sung untuk main-main.


Hahaha.. kelihatan sekali kalau Yoon Sung malu terlihat kenal dekat dengan para gisaeng. Apalagi Yeong hanya bisa berdecak sinis, tak suka melihat para gisaeng itu. Melihat hal itu, Ra On mulai berpikir cepat. Sepertinya ia akan menggunakan kesempatan ini untuk kabur dari pertanyaan Yeong. Ia pun memeluk salah seorang gisaeng  dan berkata, “Ayo kita pergi!”


Yeong dan Yoon Sung kaget melihat Ra On malah mengajak mereka untuk bersenang-senang malam ini. Gisaeng itu memuji Ra On yang walau wajahnya cantik ternyata jantan juga. Wajah Yeong langsung sinis dan menyuruh Ra On pergi bersenang-senang.


Tanpa menunggu jawaban, Yeong berbalik pergi dan menggelengkan kepalanya tak suka. Ra On kaget melihat reaksi Yeong dan terlihat galau. Dan Yoon Sung melihat kegalauan itu.


Byung Yun yang memakai topeng terlihat menggeledah sebuah rumah yang pengawalnya sudah ia bunuh dan berhasil mendapatkan setumpuk buku yang ia cari. Terdengar suara pengawal, tanda bagi Byung Yun untuk segera melarikan diri.


Yoon Sung meminta agar Ra On tak salah paham kepadanya. Normal bagi para bangsawan untuk menjalin network dengan menggunakan gisaeng. Ra On mengangguk, tentu saja ia mengerti. “Walau aku baru tahu kalau kau sering mengunjungi rumah gisaeng sendirian saja. Apanya yang harus disalah pahami?”


Hahaha.. muka Yoon Sung langsung ditekuk, terpukul oleh sindiran Yeong. Ra On bertanya mereka mau melihat-lihat karena sekarang kota sudah sepi. Yoon Sung mulai menggombal, “Memang kata siapa aku ke sini mau melihat lampion?” Yoon Sung memandang Ra On penuh makna, tapi Ra On tak merasa. Yoon Sun pun mengeluh, “Aduh.. aku tak bisa berjalan lagi.”

Ra On khawatir mendengarnya. Memang Yoon Sung kenapa? Yoon Sung menoleh pada Ra On dan berkata, “Tidak.. kakiku ini terasa berat. Ini pertama kalinya aku merasa tiap langkahku sangat berharga.”


Ra On terpana mendengar gombalan Yoon Sung yang bertub-tubi, apalagi Yoon Sung berkata seperti itu sambil mendekatkan wajahnya. Tak dinyana, ganti Ra On mendekatkan wajahnya hingga Yoon Sung sedikit mundur, dan bertanya, “Apa kau juga melakukan hal ini di rumah gisaeng?”

Hahaha… merasa gagal, Yoon Sung meninggalkan Ra On dengan kesal.


 Di tengah jalan, terdengar suara keributan. Seseorang lari dikejar oleh banyak tentara dan orang itu berlari sangat kencang dan akan menabrak Ra On jika Yoon Sung tak memeluknya, melindunginya. Orang itu mencoba melompat ke atap rumah, tapi digagalkan oleh panah para tentara dan ia turun lagi. Topengnya lepas.


Ra On yang akhirnya melepaskan diri bisa melihat wajah orang itu.Tapi entah Ra On bisa mengenali kalau orang itu Byung Yun atau tidak, karena Byung Yun buru-buru menundukkan wajahnya dan segera melompat ke atap rumah, melarikan diri.

Ra On memungut topeng yang tadi jatuh. Salah satu tentara meminta topeng itu.


Di wisma, Byung Yun sedang membalut luka di lengannya ketika Ra On muncul dan menyapanya. Buru-buru ia memakai bajunya kembali dan menyuruh Ra On untuk segera tidur, mengacuhkan usaha Ra On yang ingin ngobrol dengannya.


Kabar tentang pembunuhan dan penggeledahan rumah di tiga rumah di malam yang sama membuat cemas kubu Perdana Menteri Kim. Dan pelakunya memakai topeng putih. Topeng yang sama yang menembakkan anak panah saat makan malam di rumah Perdana Menteri Kim.

Mereka curiga, apalagi ada gosip yang beredar di kota kalau pasukan Hong Gyeong Nae (pemimpinan pemberontakan di masa pemerintahan Raja yang sekarang, Raja Sunjo) telah muncul kembali. Apalagi pembagian jenis barang yang dibagi-bagi ke rakyat miskin sama seperti yang jenis barang kerajaan yang dicuri. Kemungkin pasukan Hong Gyeong Nae dan perampok itu berhubungan.
 

Setelah kejadian semalam, Yeong bersikap dingin pada Ra On. Ia bahkan menepis sabuk yang akan dipakaikan padanya. Ra On minta maaf karena membuat Yeong tak nyaman. Yeong bertanya sinis, “Apa kau kemarin puas bersenang-senang di rumah gisaeng?”


Ra On kaget dan hanya tersenyum, bingung menjawab apa. Melihat reaksi Ra On, Yeong menyadari kalau ia lupa jika Ra On itu adalah pria. Dan kasim pun juga seorang pria yang ingin dipeluk wanita cantik. 


Ia memerintahkan Ra On untuk tidak memikirkan kata-katanya semalam. “Mulai sekarang, tak akan ada lagi kesalahpahaman akan dirimu lagi.”


Yeong mengambil sabuk yang akan dipakaikan padanya dengan kasar. Ia memanggil kasim Jang dan menyuruh Ra On pergi. Ra On terkejut melihat sikap Yeong yang biasanya tak seketus ini.


Menteri Jo datang ke istana bersama putrinya Ha Yeon, yang disambut oleh Perdana Menteri Kim. Sepertinya Ha Yeon adalah teman bermain Putri Myeung Eun, tiga tahun yang lalu.


Yeong sepertinya sudah benar-benar tak peduli pada Ra On. Ketika kediaman Raja kekurangan kasim dan minta Kasim Jang untuk meminjamkan kasim, Yeong menyuruh kasim Jang untuk menugaskan Ra On saja. Ia hanya membutuhkan kasim Jang. Ra On merasa sedih mendengar hal itu.


Yeong berlatih memanah dan dua anak panahnya kena tepat di sasaran. Ketika dia menarik anak panah ketiga, ia mendengar suara Ra On memanggilnya. 


Ia menoleh dan terpana melihat Ra On yang tersenyum memujinya. Dan sosok Ra On menghilang.


Aww.. walau sudah bersikap ngeselin, ternyata Yeong tetap tak bisa mengenyahkan Ra On dari pikirannya. Saking terpananya, ia tak sengaja melepaskan anak panahnya, hingga nyasar menancap di tiang bendera.


Tiang itu jatuh, hampir mengenai Ha Yeon kebetulan lewat karena kesasar. Ha Yeon berteriak kaget dan menjatuhkan diri, takut terkena tiang bendera. Ia mulai menyindir ketidakbecusan Yeong dalam memanah dan gaya bicara Yeong yang banmal, sebelum menyadari sosok yang ada di hadapannya. Si lampion!


Ha Yeon mengulurkan tangan, minta ditarik bangun. Ia tersenyum malu-malu saat Yeong mengulurkan tangan, membantunya berdiri dan baru menyadari kalau ia sedang bicara dengan Putra Mahkota saat mendengar kasim Jang memanggilnya.

Ha Yeon memperkenalkan diri sebagai putri Menteri Jo, dan yakin kalau ia ingin bertemu lagi di lain kesempatan.


Byung Yun menaruh buku-buku yang berhasil ia rampok malam itu. Teringat perintah Yeong untuk mencari informasi tentang tindakan ilegal yang dilakukan Utusan Qing, ia mengambil satu buku dan memasukkannya ke dalam baju. Pada pimpinannya, Byung Yun berbohong kalau semua buku yang ia ambil ada di atas meja.


Pemimpinnya percaya dan kemudian memberikan tugas lain lagi. Di dalam amplop yang diberikan ada kertas berisi daftar anak yatim yang dijual menjadi budak selama perang saudara 10 tahun yang lalu. Ia ingin Byung Yun mencari tahu apakah ada anak yang didaftar itu yang merupakan keturunan Hong Gyeong Nae. Mereka harus bisa menemukan anak itu segera agar bisa memberi kekuatan untuk mengumpulkan anggota yang sudah tercerai berai.


Ha Yeon menemui Putri Myeong Eun, dan astaga.. si putri ini lucu banget. Ia ngiler melihat kue yang dihidangkan, tapi saat tangannya sudah hampir memegang, ia menatap horor pada kue itu dan menyuruh agar kuei itu disingkirka. Si dayang menjelaskan pada Ha Yeon kalau Putri Myeung Eun sedang berusaha untuk menguruskan badan.

Myeung Eun melarang dayang untuk memberitahu hal itu pada Ha Yeon. Ia masih mengingat waktu mereka kecil dulu. Berlagak sok kecakepan, Myeung Eun berkata, “Aku ini yang lebih mirip seorang Putri. Itu yang ada dalam pikirannya!”

Ha Yeon tertawa dan berkilah kalau ia hanya bercanda waktu kecil dulu. Ia malah memuji Myeung Eun yang semakin cantik dan semakin kurus. Ha.. Myeung Eun heran melihat sikap dan ucapan Ha Yeon yang tak seperti dulu lagi. Ha Yeon hanya tersenyum dan berkata kalau mulai sekarang mereka akan semakin sering bertemu dan berjanji akan membawakan teh yang bisa menguruskan badan.
Myeung Eun bengong, “Kau ini lagi kerasukan apa?”

Ha.. jadi penasaran, Ha Yeon dulu sejutek apa, ya? Kayaknya dulu Putri sering diejek kali ya sama Ha Yeon.


Tanpa ada Ra On, Yeong seperti tak punya semangat untuk membaca. Ia hanya tiduran dan membalik-balik bukunya. Tapi ia kemudian melihat gambar yang ada di pojok atas buku. Gambar seseorang berekspresi marah, yang di topinya tertulis kalau itu dirinya. Dibaliknya lembaran berikut, lembaran berikut dan lembaran berikutnya.


Ia membayangkan Ra On yang biasanya duduk di hadapannya sambil menulis saat menemaninya bekerja. Ia teringat senyum lucu yang menghias wajah Ra On yang coreng moreng oleh tinta. Dan ia ikut tersenyum saat membalik-balik halaman itu, yang di dalamnya ada penuh gambar berurutan, menceritakan saat jarinya digigit oleh Ra On yang mabuk.


Namun senyumnya hilang saat memandangi ruangannya yang sepi, tanpa ada sosok Ra On  yang suka ribut.


Kasim Ma menghadap Utusan Qing untuk memberitahu kalau ia adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan apa yang diinginkan Utusan Qing. Uhh.. ternyata Kasim Ma jahat.


Yeong baru saja diperiksa oleh dokter kerajaan. Rupanya Yeong merasa susah tidur. Ia bertanya apakah dokter sudah menemukan apa penyakitnya yang juga memiliki gejala susah bernafas, wajah seperti terbakar dan lidahnya terasa tak enak. Dokter ragu untuk memberitahukan  jenis penyakitnya.

Yeong meminta Dokter untuk blak-blakan saja. Dokter memberitahu kalau di jurnal kedokteran, nama penyakitnya adalah sindrom janda atau sindrom suster. Yeong bengong, karena ia baru mendengar ada nama penyakit itu.


Maka Dokter menjelaskan tentang keseimbangan yang terjadi karena yin dan yang. Tapi jika Yeong mencintai seseorang yang tak seharusnya boleh dicintai, maka keseimbangan ini terganggu. Yin adalah warna putih yang dikonotasikan dengan feminitas dan Yang adalah warna hitam yang dikonotasikan dengan maskulinitas.


Kasim Jang langsung cegukan mendengarnya. Tak ada ucapan dokter tentang menyukai yang sejenis, tapi, dokter itu menyiratkan hal itu. Yeong yang juga bisa menangkap maksud Dokter langsung marah mendengar diagnosa ngawur itu dan mengusir Dokter itu pergi.

Tapi diagnosa Dokter itu membuat Yeong frustasi dan memegang kepalanya. Tambah pusing, saya rasa.


Sudah malam, tapi Byung Yun melihat Ra On bersiap-siap pergi. Ternyata Ra On ditugaskan untuk berjaga di wisma Utusan Qing dan sepertinya tak akan kembali malam ini. Ia minta Byung Yun untuk tidur lebih dulu. 


Kasim Ma mengantarkan Ra On ke ruangan Utusan Qing. Dan tanpa penjelasan, ia langsung menutup pintu dari luar. Ra On terkejut dan berkata sopan kalau ia akan berjaga di luar. Tapi Utusan itu langsung bertanya apakah Ra On adalah wanita penari itu, dan bahkan berani memegang pipinya. Uhhh!

Utusan itu berkata ia akan memeriksa apakah Ra On ini adalah pria dengan wajah cantik atau seorang gadis yang menyamar sebagai kasim. Ra On menepis tangan itu, tapi utusan itu balik menampar Ra On. Ia mengancam akan memberitahukan identitas Ra On pada Yeong. Ia juga berkata kalau nasib Putra Mahkota berada di tangannya dan seharusnya seorang kasim harus mau berkorban demi Putra Mahkota.


Ia menyuruh Ra On untuk tak bergerak. Tapi Ra On terisak dan mendorong utusan itu hingga terjatuh. Utusan itu marah dan bangun untuk memukulnya. Tak disangka, pintu didobrak dan Yeong menendang Utusan itu hingga terjatuh.


Yeong menghunuskan pedang dengan marah, dan mengarahkan pada leher utusan itu. Yeong mengangkat pedangnya, membuat utusan itu semakin ketakutan. Tapi Yeong membanting pedang itu ke samping dan menarik Ra On pergi. Setelah sadar, utusan itu berteriak-teriak memanggil pengawal. Kasim Jang dan yang lainnya berusaha mencegah Yeong, tapi Yeong terus berjalan pergi.


Kabar itu dengan cepat menyebar hingga ke telinga Raja. Raja marah dan ketakutan. Ratu menggunakan kesempatan ini untuk menenangkan suaminya sekaligus menyatakan kalau ia sudah tahu kalau Putra Mahkota akan berbuat onar. Ia akan meminta ayahnya, Perdana Menteri Kim, untuk membenahi masalah ini.


Di tempat sepi, Yeong mulai meluapkan kemarahannya. Beraninya Ra On datang tanpa tahu tempat seperti apa wisma utusan itu. Tak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti. Ra On gemetar dan hampir menangis saat minta maaf. ia hanya mematuhi perintah.


“Kalau ada yang aneh, harusnya kau tak mematuhi perintah itu dan keluar saat itu juga!!” bentak Yeong. Ra On tak bisa karena pelayan sepertinya tak mungkin bisa menolak perintah, apalagi perintah utusan yang mendapat mandat dari Kaisar Cina.


Ucapan itu semakin membuat Yeong kesal. Kenapa juga Ra On berpikir seperti itu. “Memang apa hebatnya utusan itu. Apa yang kau perbu..” Yeong berhenti berkata-kata. Ia memandang Ra On dan dengan frustasi ia bertanya, “Sebenarnya kenapa kau membuatku jadi sangat marah?”


Pertanyaan itu tak terjawab karena pengawal telah menemukan mereka dan menangkap Ra On. Mereka diperintahkan untuk menjebloskan Ra On ke dalam penjara. Yeong menyuruh mereka melepaskan Ra On sekarang juga karena ia akan menemui Raja sekarang juga. Tapi para pengawal itu menunduk, mereka tak bisa memenuhi perintah Yeong.


Yeong menatap Ra On yang balik menatapnya dengan penuh tangis dan takut.                                                                  

5 comments :

  1. Kk episode bagian kedua belom ada. Jadi ampe ke babak mimpi dechh nunggu cerita berikutnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha sabar...
      mbak dee juga punya kerjaan lain dengan waktu yang nggak sebentar^^

      Delete
  2. pandangannya bogum always ya...hhhhhh meleleh kayak olaf

    ReplyDelete
  3. drama ini melebihi ekspektasi ,,, semoga rating nya bagus teruss, amieeenn,, soalnya ep 6 kemarin rating nya turun ,,,,

    ReplyDelete
  4. rating 07 naik lagi 20.04% .. daebak..
    bolak balik menunggu sinopsis mbak yang part 02 ... hehehe

    ReplyDelete