September 21, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 10 - 2


Yeong berlatih pedang dengan Byung Yun sebagai lawan tandingnya. Sama seperti Byung Yun, ia meluapkan emosinya pada setiap jurus pedang yang ia keluarkan. Ucapan ayahnya yang memberikan alasan demi alasan untuk mengumpulkan kekuasaan dengan pernikahan, terus terngiang di telinganya.


Hingga ia teringat perintahnya pada Ra On yang melarangnya bergerak sedikitpun dari tempatnya. Ia menghentikan gerakan pedangnya. Byung Yun yang sadar kalau Yeong berhenti tanding, segera mundur.




Yeong menyudahi latihan mereka dan bergegas pergi menemui Ra On. Hari sudah malam saat ia tiba di tempat Ra On. Ra On cemberut melihatnya baru datang, “Kau memintaku untuk tak bergerak sedikitpun, tapi kenapa kau bisa datang sangat terlambat?”


Yeong mencoba tersenyum agar Ra On tak marah, tapi Ra On semakin kesal, “Kenapa kau malah tersenyum?”

Akhirnya Yeong berbalik dan berlutut, “Naiklah.”

“Apa?” Ra On berseru kaget. “Tidak mau. Bagaimana mungkin seorang kasim bisa naik di atas punggung Putra Mahkota? Aku tak boleh melakukannya,” tolak Ra On, tapi dari nada suaranya terlihat ia sudah tak marah lagi.

“Jangan salah paham. Bahkan kalau kaki Kasim Jang terluka aku juga melakukan hal yang sama,” sahut Yeong. Tapi Ra On tetap menolak, membuat Yeong berkata keras, “Ini titah.”

“Kau itu selalu menyuruhku untuk memperlakukanmu sebagai teman kalau kita hanya berdua, tapi setiap ada kesempatan, kau selalu berkata, ‘ini titah, ini titah!”

“Jadi, apa kau bermaksud untuk melawan perintahku?” tantang Yeong. Ra On berdehem, menyadari konsekuensi yang terjadi jika ia melawan titah Putra Mahkota. Ia pun menoleh kiri kanan.


Yeong menggendong Ra On di punggung dan berkomentar kalau Ra On sangat ringan sekali. Walau Yeong tak melihat, tapi ia dapat merasa Ra On tersenyum saat bertanya apa Yeong berkata jujur? “Aku merasa lenganmu sudah gemetar sekarang.” Ha.. Yeong cemberut mendengarnya.

Ra On masih khawatir kalau ada orang yang melihat mereka. Tapi Yeong menenangkannya. Ia tumbuh besar di istana, jadi tak terhitung jalan kosong tanpa pengawalan yang ia ketahui. Yeong meminta Ra On untuk menceritakan akhir kisah putri duyung dan pangeran, karena ia sudah ketiduran di tengah cerita.

Ra On pun bercerita kalau sang pangeran tak pernah tahu isi hati putri duyung dan menikah dengan wanita lain. “Jadi putri duyung itu menjadi buih ombak dan lenyap selamanya.”


Yeong menghentikan langkahnya dan berkata kalau ceritanya menyedihkan. Ia termenung, membuat Ra On mengingatkan kalau mereka sudah sampai di wismanya. Tapi Yeong malah berbalik, mengajak Ra On untuk kembali ke Istana Timur dan kembali lagi kemari.

Ra On panik. Bagaimana jika nanti ada orang yang melihat mereka? Yeong tak menjawab malah mempercepat langkahnya.


Ratu memasuki ruangan yang terkunci. Di dalam ada seorang wanita, dayang yang dulu pernah muntah saat menyajikan makanan ratu. Dayang Ratu menyajikan makanan dan menyuruh wanita itu untuk makan banyak. Harusnya wanita itu bersyukur karena Ratu memperlakukannya dengan baik walau ketahuan hamil.

Wanita itu masih ketakutan, ragu akan nasibnya setelah ini. Tapi Dayang Ratu menenangkan, kalau wanita itu bisa tutup mulut, maka tak akan ada hal buruk yang akan terjadi.


Ratu memandangi wanita itu, teringat pada pertemuannya dengan peramal. Saat itu Perdana Menteri Kim hadir untuk mendengar ramalan jenis kelamin bayinya. Peramal mengatakan kalau jenis kelamin bayinya adalah laki-laki. Perdana Menteri Kim sangat senang mendengarnya dan meninggalkan ruangan Ratu.


Namun sebenarnya tidak demikan. Ucapan peramal itu hanya untuk menenangkan hati ayahnya, karena sebenarnya Ratu mengandung bayi perempuan. Peramal itu sudah memeriksanya hingga dua kali. Tapi Ratu tak ingin melepaskan kesempatan ini. Ia sudah menunggu agar bisa hamil selama 6 tahun ini dan langit telah memberinya kesempatan ini.


Memandangi dayang hamil yang sedang makan, ia berkata dalam hati, “Menggunakan cara apapun, aku akan membuat seorang pangeran baru untuk Joseon.”


Kasim Sung mengumpulkan para kasim baru dan mengumumkan akan menunjuk satu kasim untuk mempersiapkan pernikahan kerajaan. Ia menunjuk Do Gi. Ra On bertanya siapa yang akan menikah. Kasim Sung menjawab tajam, “Siapa? Masa kau tak tahu? Tentu saja Pangeran T**i-mu!”


Ra On terkejut, patah hati mendengar jawaban Kasim Sung.  Ra On akhirnya menyadari arti ucapan Yeong setelah mendengar akhir cerita putri duyung dan pangeran. Cerita yang menyedihkan.


Yoon Sung memanggil Ra On dan duduk di sampingnya. Dengan suara riang, Yoon Sung berkata kalau ia ingin bolos bekerja setiap melihat Ra On. Ra On tersenyum, merasa kalau Yoon Sung pasti sangat sibuk sekali. Yoon Sung mengiyakan, “Aku diberitahu kalau akan dibentuk panitia baru secara mendadak..”


Yoon Sung menghentikan ucapannya, sadar kalau ia akan keceplosan kata pernikahan. Tapi Ra On juga menyadari dan berkata kalau ia juga sudah tahu karena dibutuhkan kasim untuk menjadi salah satu panitia.


Yoon Sung melihat bagaimana Ra On memaksakan senyum dan terlihat kuat. Ia mendesah dan berkata kalau ia ingin pura-pura tak tahu, tapi ia tak bisa pura-pura karena semuanya jelas terlihat di wajah Ra On. “Aku akan mencari alasan agar terlihat sibuk, agar kau bisa beristirahat lebih lama.”


Ia pun meninggalkan Ra On, namun ia menoleh kembali pada Ra On dan berkata dalam hati, “Bersedihlah sepuasmu, menangislah sebanyak mungkin dan rasakan patah hati. Setelah itu datanglah padaku.”


Guru Jung/Guru Dasan memastikan tawaran yang diberikan Yeong padanya. Jika ia memihak pada Yeong, maka ia akan diberi jabatan yang tinggi. Yeong meminta Guru Dasan untuk mendampinginya, bukan menjadi orangnya. Guru Jung bertanya apa yang sebenarnya Yeong inginkan darinya?


Yeong menjawab, “Pekerja yang setia, tetap jujur dalam situasi apapun dan teguh tak tergoda.” Guru Dasan mengingatkan kalau sebuah busur ditarik terlalu dalam, akan membuat busur itu patah. Yeong tersenyum dan berkata, “Ya, sama seperti yang sekarang ini, kumohon ingatkan aku dan didiklah aku. Inilah yang aku inginkan darimu, Guru Dasan.”


Ada satu lagi masalah yang ingin dibicarakan oleh Yeong, tentang seorang wanita. Guru Dasan terkejut. Yeong menjelaskan, “Agar aku tak kehilangan wanita itu, aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.”


Ra On membawakan buku ke ruangan Kasim Kepala (Kasim Han). Ia melihat saputangan di meja kasim dan meraba sulaman bunga di atasnya. Kasim Han masuk dan bertanya apa yang sedang Ra On lakukan di sini. Ra On berkata kalau ia disuruh Kasim Sung membawakan buku dan tak sengaja melihat sulaman anggrek burung kuntul putih di saputangan Kasim Han.


Kasim Han berkata tak banyak orang yang bisa mengenali bunga itu. Ra On menjawab ia bisa tahu karena ibunya suka sekali dengan anggrek burung kuntul putih. Kasim Han tersenyum  menjelaskan kalau saputangan ini milik sahabatnya yang disulam oleh istri sahabat itu.


Ra On mendengarkan dan tampak menyesal telah mengungkit hal itu. Ia pun undur diri. Kasim Han mengambil saputangan itu dan memikirkan sesuatu.


Anak penjual lentera dituduh menyelundupkan selebaran pemberontak di dalam gerobak. Anak itu menangis, memohon ampun, ia tak tahu sama sekali tentang selebaran itu. Tapi pengawal tak percaya dan menduga kalau anak itu adalah bagian dari para pemberontak. Ia menyuruh anak buahnya untuk menahan anak itu.


Byung Yun melihat kejadian ini dan tertegun. Kejadian masa lampau yang pahit kembali teringat. Saat dimana ayahnya dituduh sebagai pemberontak karena ketahuan memberi makan pada rakyat pemberontak.


Ayahnya membela diri, karena ia hanya memberi makan rakyat yang kelaparan. Tapi tentara istana tak mau tahu dan membunuh ayahnya di depan matanya.


Byung Yun menangis dan baru berhenti saat seorang bercaping bambu mengulurkan tangan padanya.


Kasim Han memikirkan pengakuan Ra On saat di penjara dulu, yang katanya terpisah dengan ibunya 10 tahun yang lalu dan usianya sekarang adalah 18 tahun.


Yeong mencoba membela anak penjual lentera itu, mengatakan kalau anak itu masih kecil. Tapi ayahnya malah mengatakan karena anak itu masih kecillah yang bisa membuat para pemberontak bersembunyi di belakang anak itu. Yeong meminta ayahnya untuk bersimpati karena mungkin saja anak itu melakukan demi sesuap nasi. “Anak itu tak tahu caranya membaca. Bagaimana mungkin tindakan untuk memenuhi rasa lapar bisa menjadi pemberontakan?”


Raja mengingatkan Yeong, jika Yeong mulai lemah, maka saat itulah pintu istana bisa dirobohkan. “Hukum dia tanpa belas kasihan dan jadikan dia sebagai contoh!”

Yeong diam, tak percaya ayahnya memutuskan hal seperti ini.


Yoon Sung teringat semua keposesifan Yeong pada Ra On selama ini. Ia menunggu Yeong di depan kamarnya. Saat Yeong lewat, ia minta waktu untuk bertemu. Yeong menjawab acuh, mengajaknya masuk ke ruangannya.


Yoon Sung berkata kalau ia merasa ragu, apakah ia akan mengajukan permintaan selaku pembantu Putra Mahkota atau menyatakan perang sebagai teman. Yeong tersenyum malas dan bertanya apa yang akan ia pilih. Yoon Sung menjawab pilihannya tergantung pada reaksi Yeong. Yeong minta Yoon Sung meneruskan.


Yoon Sung tahu kalau persiapan pernikahan Yeong sudah dimulai. Dan ada orang yang akan patah hati berada di samping Yeong, tapi pura-pura tetap baik-baik saja di hadapan Yeong. Yeong sudah tak tersenyum lagi dan bertanya apa sebenarnya maksud Yoon Sung.

Yoon Sung menjawab, “Aku jatuh cinta pada orang itu. Aku tak ingin melihat gadis itu terluka karena ambisimu. Bukan, aku tak akan membiarkan gadis itu terluka karenamu.”


Rahang Yeong mengeras menahan marah.


Byung Yun ke markas untuk menemui pemimpinnya. Mendadak ia dipukul jatuh dan dikepung oleh beberapa orang dengan pedang terhunus ke arahnya. Pemimpin itu menyebut sebuah nama. Hong Ra On. Kenapa Byung Yun tak memberitahukan hal ini padanya. Apa Byung Yun menyerahkan informasi ini pada Putra Mahkota? Atau pada Perdana Menteri Kim?


Byung Yun menjawab kalau gadis itu sudah menjalani hidup yang sangat keras dan tak ingin gadis itu mengalami rasa sakit yang pernah ia alami. Ra On bahkan tak mengenal siapa ayahnya. “Jadi bisakah kita biarkan dia hidup tanpa mengetahui kebenarannya?”


Pemimpin itu mengarahkan pedang pada Byung Yun. Ia yang mengutus Byung Yun agar ada di sisi Putra Mahkota dan Byung Yun diperintahkan untuk melakukan apapun tanpa berpikir. Karena Byung Yun sudah menyalahi perintahnya, maka ia memutuskan untuk membunuh Byung Yun.


Tapi saat ia mengayunkan pedang, ada suara yang menghentikannya. Byung Yun terkejut melihat orang itu. Orang itu adalah orang bercaping bambu yang mengulurkan tangan di hari kematian ayahnya. Kasim Han.


Kasim Jang membawa surat dari Guru Dasan yang memberitahu kalau ia sudah menemukan jawaban atas masalah Yeong dan ia ingin menemui Ra On. Yeong tersenyum membaca surat itu.


Byung Yun tak percaya melihat kalau pemimpin pemberontakan ini adalah Kasim Kepala, orang yang membawanya 10 tahun yang lalu. Kasim Han membenarkan kalau ia selama ini terus memperhatikan Byung Yun. Ia mengumumkan kalau pertemuan Baek Woon Hoi akan segera berlangsung dan semua orang akan datang. “Kita akan membawa putri Hong Gyeong Nae ke pertemuan itu.”

Byung Yun terkejut mendengarnya.


Ra On tersenyum lebar melihat kedatangan Yeong. Yeong menggoda, apakah Ra On sangat senang bertemu dengannya. Ra On mengiyakan. “Tak peduli berapa kali aku sudah menemuimu, aku selalu bahagia saat menatap matamu.”


Yeong tetap tersenyum walau suaranya sudah tak menggoda lagi. “Kenapa kau pura-pura tidak tahu? Bukan, kenapa kau pura-pura baik-baik saja?”


Ra On menunduk dan matanya mulai berkaca-kaca saat meminta Yeong untuk tidak berusaha keras. Ia tahu ada hal yang tak bisa dirubah seberapa kerasnya ia berusaha. “Aku tentu tak bisa terus-terusan menangisinya, kan?”

“Kenapa? Setelah berpura-pura baik-baik saja seperti sekarang ini, apa kau nanti akan menghilang seperti buih?” tanya Yeong kecewa.

Ra On menunduk tak bisa menjawab. Tapi Yeong mengulurkan surat dan berkata kalau ia menemukan cara untuk membuat Ra On terus bersamanya sebagai seorang wanita. “Aku tak suka cerita yang kau ceritakan padaku. Aku berniat untuk merubahnya. Dua orang itu akan hidup bahagia selama-lamanya. Seperti kita.”


Ra On tersenyum, kali ini lebih lepas dan bahagia. Yeong mengusap kepala Ra On, juga merasa bahagia.


Keesokan harinya, ia menunggu kedatangan Yeong yang berjanji mempertemukannya dengan orang yang akan memberi mereka jalan keluar. Ia berbalik saat mendengar gemerisik rerumputan dan menoleh. Senyumnya luntur saat melihat orang itu.


Yeong berjalan menuju gerbang istana dengan perasaan bahagia.


Ra On terkejut melihat Kasim Han ada di hadapannya dan berkata padanya, “Aku sudah mencarimu sekian lama.” Ra On bingung, tak mengerti arah pembicaraan Kasim Han. Mencarinya? Kasim Han melanjutkan, “Ada banyak yang ingin kuceritakan padamu, Ra On-ah.”


Ra On terkejut mendengar namanya disebut. Bagaimana Kasim Han bisa tahu namanya? Kasim Han mendekat, tapi Ra On melangkah mundur ketakutan.


Dan terdengar suara Yeong yang menyuarakan pertanyaan yang sama dengan Ra On. “Bagaimana kau bisa tahu nama itu?”


Kasim Han berbalik, terkejut melihat Putra Mahkota ada di hadapannya dan menyebut nama lengkap gadis itu. “Hong Ra On.”

Bersambung ke episode 11

3 comments :

  1. Makin seru aja...
    Senangat ya lanjut tulis sinopsisnya sampe tamat!
    Semamgat!!!

    ReplyDelete
  2. emang Yoon Sung tau ya, kalo Yeong udah tau Ra On itu cewek? dibagian ya, aku kok ga liat..hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. dari liat gelagat pandangannya yeongg ke ra on, sama yg jawabannya ra on ga mau ikut yoon sung keluar istana. yg waktu buku yg dibawa ra on jatoh terus yoon sung bantuin angkat, trus yoon sung liat ra on tersipu gitu liat yeong n kebalikannya.

      Delete