September 13, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 7 - 1

Love in Moonlight Chapter 7 : Pengakuan


Mereka bertiga kembali ke istana saat malam tiba. Yeong menyuruh keduanya pulang tapi Byung Yun merasa tugas mereka belum selesai jika mereka belum mengantarkan Yeong ke Dongganjeong. Yeong menatap Ra On dan bertanya, “Apa kau tidak bisa melihat kalau dia sudah hampir mati kelelahan?”



Ra On mendongak dan berkata kalau ia baik-baik saja, tapi Yeong tak percaya. Kasim Jang muncul dengan full team, bersyukur melihat kehadiran Yeong yang menghilang sejak kejadian tadi pagi. Ia melihat Ra On kembali dengan selamat dan mulai ribut bertanya-tanya


Yeong menyuruh Kasim Jang untuk menyimpan pertanyaannya hingga besok, karena ia ingin beristirahat. Pada Ra On, ia minta agar Ra On pergi ke ruangannya besok pagi.


Ra On bersiap-siap tidur dan melihat luka-luka Byung Yun saat ganti baju. Ia bertanya apa Byung Yun terluka karenanya? Byung Yun meminta Ra On tak mengkhawatirkannya karena luka-luka ini karena ia melakukan sesuatu yang lain dan bukan karena Ra On. Ra On berkata ia pantas khawatir karena Byung Yun juga selalu menjaganya, bahkan merawatnya saat ia sakit.

Byung Yun membantah kalau bukan ia yang merawat Ra On. Ra On tak percaya. Kalau bukan Byung Yun, lantas siapa lagi?

Ra On terdiam saat menyadari sesuatu. Harapan Yeong yang dituliskan di lampion yang  hanya pernah ia ceritakan saat ia sakit dan bermimpi.


Dan sosok buram yang dilihatnya saat sakit dulu menjadi jelas, membentuk sosok Yeong yang menjaganya sepanjang malam. Ra On tersenyum dan berkata pada Byung Yun, “Rasanya menyenangkan sekali. Kenapa hatiku terasa nyaman setelah aku kembali ke sini? Dulu kau pernah katakan kan kalau tak ada yang menyukai istana? Tapi begitu kau mulai menyukai seseorang, istana menjadi tempat yang lebih menyenangkan.”


Byung Yun mengatakan mungkin saja, dan menyuruh Ra On untuk segera tidur. Ra On mematuhi namun masih sempat berkata, “Kim Hyung, sekarang aku khawatir karena aku mungkin akan menyukai istana lebih dari yang kurasakan sekarang.” Ra On menarik selimutnya dan senyum muncul di wajahnya.


Esok harinya, Yoon Sung berlari-lari di koridor istana, tindakan yang tak pantas dan membuatnya ditegur oleh penjabat yang lewat. Tapi Yoon Sung tak peduli, ia ingin menemui Ra On dan lega melihat kondisi Ra On baik-baik saja. Ra On sedikit terkejut karena Yoon Sung ternyata mengkhawatirkannya.


Dengan nada serius, Yoon Sung meminta Ra On untuk tak pernah membuatnya cemas lagi, karena Ra On adalah orang yang spesial baginya. “Kau ini satu-satunya kasim di istana ini yang bisa membuatku berlari.”

Ra On tertawa lega, ternyata Yoon Sung hanya bercanda.


Terdengar deheman dan percakapan mereka terhenti. Yeong muncul dan situasi menjadi lebih dingin. Yeong berterima kasih karena Yoon Sung berperan besar dalam membawa Inspektur Qing. Ra On baru mendengar tentang hal ini. Yoon Sung berkata kalau ia melakukannya karena hal ini juga merupakan hal yang penting untuknya.


“Hal yang cukup penting hingga kau tidak mematuhi kakekmu?” Yeong melirik Ra On. “Kurasa kau ingin memberitahu aku untuk tak berpikiran terlalu jauh karena kau tak melakukannya untukku, kan?”

Yoon Sung membenarkan. Yeong berjalan masuk ruangan dan menunggu Ra On untuk mengikutinya. Ra On buru-buru pamit pada Yoon Sung untuk kemudian menyusul Yeong.


Ratu tertawa mendengar kejadian kemarin dan bertanya-tanya mengapa Yeong mau bersusah payah hanya demi seorang kasim. Kasim Sung (bukan Jung ternyata) mulai menggosip, memberitahukan rumor yang beredar di luar kalau Yeong itu mungkin suka pada pria. Ratu mulai tertarik dengan hal ini dan menanyakan nama Ra On.


Salah satu dayang memberikan mangkuk obat dan terlepas suara hoekk dari mulutnya. Semua kaget dan Ratu marah karena dayang itu berani merasa mual pada obat yang akan ia minum. Dayang itu minta ampun dan  berkata kalau perutnya sedang tak enak. Tapi Ratu sudah melempar mangkuk itu dan menyuruh yang lain untuk menyeret dayang itu keluar.


Do Ki dan Sung Yeol sedang praktek akupunktur yang bisa membuat wajah jadi lebih bersinar. Sambil praktek, mereka menggosip tentang kabar ruangan pembakaran yang sekarang sedang ‘panas-panasnya’ padahal sudah tak dinyalakan lagi karena sekarang musim panas. Tempat kosong itu digunakan oleh kasim dan dayang yang kesepian untuk bersembunyi.


Wol Hee, dayang Putri Myung Hee, mendadak gugup mendengarnya dan buru-buru mengalihkan percakapan mereka, kalau hari sudah malam dan mengajak dayang lainnya untuk kembali. Do Ki gagal paham dengan gosip itu. Kasim dan dayang itu sembunyi untuk apa? Untuk makan? Hahaha.. Sung Yeol langsung menjitak Do Ki.


Kasim Sung menceritakan kejadian di ruangan Ratu pada kasim utama. Kasim Utama heran karena Raja sudah tak pernah tidur dengan Dayang sejak beberapa tahun yang lalu. Kasim Ma menduga, jika bukan Raja, berarti ini adalah perbuatan salah satu pejabat atau pegawai pemerintahan. Kasim Sung menambahkan dugaan dengan banyaknya kasim yang sering ‘hidup kembali’.


Untuk membuktikan kepercayaan pada Kasim, maka Kasim Utama menyuruh semua kasim untuk melakukan tes kesehatan. Kasim Sung setuju, karena hal ini akan mengusir kecurigaan pada kasim. Kasim Ma bertanya apakah tes itu juga dilakukan pada kasim yang baru (yang baru saja melakukan tes kesehatan)?



Ra On heran melihat Yeong belum makan makanannya. Yeong tak mau karena belum ada yang menguji coba makanan itu dan menyuruh Ra On untuk mencobai semua makanan itu. Karena tak ada satupun dayang, ia akhirnya duduk dan mengambil sesuap setiap hidangannya.


Mata Ra On melebar mencicipi nikmatnya semua hidangan itu. Diam-diam Yeong tersenyum melihat wajah Ra On. Setelah semua makanan dicicipi dan lolos uji, Yeong pun mulai makan. Tapi adaa aja keluhannya. Yang terlalu asin lah, yang amis lah, membuat Ra On takjub bin heran pada Yeong yang pilih-pilih makanan.


Yeong menolak makan dan menyuruh Ra On untuk memakannya. Ra On langsung menceramahi Yeong tentang menghargai usaha para juru masak itu. Yeong berkata kalau Ra On tak mau, ya sudah. Ia akan menyuruh para dayang untuk membersihkan semuanya.

Ra On langsung menghalang niatnya. Ia akan makan.


Ra On makan dengan lahap. Kali ini Yeong tersenyum lebar memandangi gadis itu dan bahkan menyodorkan piring daging yang langsung dimakan Ra On dengan wajah ceria. Sekejap, semua makanan itu ludes, membuat Yeong heran, bagaimana perut Ra On bisa muat makanan sebanyak itu?


Ra On hanya nyengir dan mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya. Ia sudah mau bicara berputar-putar jika Yeong tak menyuruhnya bertanya secara langsung. Maka Ra On pun bertanya. Apa maksud permintaan Yeong untuk selalu tetap di sisinya?


“Maksudnya? Ya seperti itu,” jawab Yeong. “Apa anehnya menempatkan kasim yang kusuka untuk berada di sisiku?”


Ra On terlihat kecewa mendengar jawaban itu. Yeong beranjak pergi, tapi kemudian berhenti dan berkata, “Kau sudah berada 5 langkah jauhnya dariku.” Ra On tersadar dan buru-buru mengikuti Yeong. Yeong diam-diam tersenyum melihatnya.


Yoon Sung melukis Ra On dalam berbagai pose. Saat Ra On menari dan saat memakai kerudung. Ia segera menyembunyikan semua gambarnya saat mendengar kedatangan kakeknya.

Ia terkejut mendengar kakeknya tiba-tiba mengumumkan kalau ia akan mengajukan pernikahan Yoon Sung dengan putri Menteri Kebudayaan dan akan mengajukan salah satu gadis dari keluarga Kim untuk dinikahkan dengan Putra Mahkota.


Yoon Sung mencoba menolak karena ia belum siap. Tapi Perdana Menteri Kim tak mau mendengar dan menyuruh Yoon Sung untuk melakukan perintahnya. Calon Yoon Sung itu cantik dan pintar, jadi Yoon Sung tak perlu khawatir.

Ra On sedang ada di ruang rempah-rempah saat mendengar suara bisik-bisik rahasia. Pintu terbuka dan reflek ia menundukkan badannya, buru-buru sembunyi. Ternyata yang datang adalah Kasim Ma dan Wol Hee, yang sedang bertengkar.


Wol Hee ingin menghentikan hubungan terlarang mereka, karena khawatir bernasib sama dengan dayang yang hamil dan sekarang menghilang tanpa jejak. Kasim Ma berjanji kalau ia akan lebih berhati-hati mulai sekarang. Tapi Wol Hee menolak bertemu secara diam-diam, kayak mereka ini pencuri atau tikus.

Tapi Kasim Ma mengingatkan posisi mereka. Kasim dan dayang. Tak ada pilihan lain karena semuanya juga bertemu dengan diam-diam seperti mereka juga. Wol Hee menantang Kasim Ma untuk mengatakan ‘aku mencintaimu’ dihadapan banyak orang. Tentu saja Kasim Ma menganggap tantangan itu gila. Bagaimana jika Wol Hee terluka?

Wol Hee menjawab, “Begitulah hubungan kita sekarang. Karena kita saling menyukai, kita akan terluka.”


Terdengar suara langkah kaki, membuat Kasim Ma menarik Wol Hee untuk menyembunyikan diri. Karena sama-sama sembunyi di bawah, Kasim Ma dapat melihat sosok Ra On. Ra On yang melihat hal itu hanya bisa membatu, tak tahu harus berbuat apa.


Suara langkah kaki itu menjauh dan Wol Hee langsung pergi, marah melihat betapa pengecutnya Kasi Ma. Kasim Ma berdiri dan Ra On buru-buru minta maaf karena tak sengaja mendengar percakapan mereka. Kasim Ma menyuruh Ra On untuk tutup mulut.


Putri Myeung Eun rupanya memang terobsesi menjadi kurus. Ia sit up dengan susah payah, ditemani oleh tiga gadis. Gadis ramping yang tergambar di lukisan dihadapannya (ambisinya untuk menjadi langsing gadis itu kayaknya), Wol Hee yang sedang memikirkan masalah cintanya dan Ha Yeon yang sedang melamunkan Yeong.

Ha Yeon mencoba mengorek keterangan dimana Putra Mahkota jika sedang ingin sendiri. Dengan polos Myeung Eun menjawab kalau kakaknya sering pergi ke kebun. Tanpa ba bi bu, Ha Yeon pun langsung meninggalkan ruangan, membuat Myeng Eun kesal.


Dan benar. Ha Yeon menemukan Yeong sedang duduk sendirian sedang membaca buku. Ia menyapa Yeong yang menatapnya datar dan bertanya apa Yeong sudah lupa padanya? Yeong menjawab kalau ia masih ingat tapi kenapa Ha Yeon kemari? Apa ia tersesat?


Ha Yeon menjawab kalau ia datang kemari karena melihat bunga-bunga yang cantik. Tapi Yeong tak percaya dan bertanya apa mungkin adiknya menceritakan  pada Ha Yeon tentang lobang yang menjadi jalan pintas ke kebun ini?


Ha Yeon gondok karena itu berarti Yeong mengatakan kalau ia masuk ke kebun ini lewat lobang anjing. Rusak sudah semua rencananya yang seolah-olah pertemuan ini adalah sebuah jodoh. Yeong geli mendengarnya. Tapi Ha Yeon masih belum putus asa. Ia melihat buku yang dibaca Yeong dan membahasnya secara pintar, yang intinya adalah mengajak Yeong untuk beristirahat dalam membaca, “Dan maukah Paduka berjalan-jalan dengan saya sebentar?”


Yeong tersenyum mendengarnya. Dan senyum itu tertangkap oleh Ra On yang baru saja datang ke kebun. Ia terkejut karena melihat Yeong sedang bersama dengan seorang gadis dan memutuskan untuk mundur.


Ha Yeon meninggalkan kebun dengan kesal. Menanggapi ajakannya, Yeong hanya menjawab : Aku tak punya alasan penting kenapa aku harus melakukannya. Sebenarnya ia merasa tersinggung, tapi Yeong tadi menjawab dengan penuh senyum, membuat hatinya malah berdebar-debar.


Kasim Ma yang mabuk, berteriak-teriak mengungkapkan perasaannya di kediaman dayang, membuat Wol Hee terbangun. Tapi suara itu menghilang karena Ra On menutup mulutnya dan menariknya pergi.


Kasim Ma marah dan mencekik leher Ra On. Kenapa Ra On menghentikannya? Ra On mencoba melepaskan diri tapi gagal. Dengan suara terputus-putus ia menjawab kalau ia khawatir akan keselamatan Kasim Ma. Cekikan Kasim Ma semakin erat, “Siapa yang mengkhawatirkan siapa? Orang yang menyamar sebagai kasim..”


Bugg! Tiba-tiba Byung Yun muncul dan memukul Kasim Ma hingga pingsan. Ra On terbatuk-batuk, lega karena lepas dari cekikan. Byung Yun bertanya apa Ra On baik-baik saja? Tangannya terulur untuk memeriksa leher Ra On, tapi tangan itu ditepis oleh Yeong.


Byung Yun dan Ra On bengong melihat kelakuan Yeong. Yeong berdehem, menyadari perbuatannya dan berkata, “Kalau kau tidak mati, berarti kau baik-baik saja. Pria apa ini, cuma karena hal kecil,” kata Yeong dan berbalik pergi.

Byung Yun pun buru-buru mengikuti Yeong, diikuti oleh Ra On. Ra On bertanya pada Byung Yun apakah jika sudah masuk istana, maka nasib kasim ataupun dayang sudah tak bisa diubah lagi? Byung Yun menjawab tidak bisa kecuali mendapat ijin dari Raja.

Yeong berhenti berjalan dan berkata kalau ia akan menganggap tak mendengar percakapan mereka dan lebih baik mereka tak mengurusi hal-hal itu. Ra On malah menanyakan hal itu lagi pada Yeong. Yeong menjawab kalau hal itu melanggar hukum.


Ra On cemberut, tentu saja kalau dilihat dari sisi hukum, Yeong benar. Tapi bagaimana sebuah hati –yang tak bisa dikendalikan- bisa disebut salah ataupun benar? Yeong mendelik, menyuruhnya diam. Byung Yun menatap Yeong, tapi tak terucap suatu kata.

Ra On duduk di bawah pohon besar dan masih kepikiran pada gadis yang bersama dengan Yeong di kebun. Rupanya pohon itu menjadi tempat istirahat banyak orang, karena terlihat Kasim Ma duduk di bawah pohon satunya dan menghela nafas panjang.

Melihat Ra On, kasim Ma memarahi Ra On yang berani memukulnya hingga pingsan. Ra On tidak memberitahukan kalau yang melakukan adalah Byung Yun dan malah berkata kalau malam itu Kasim Ma melakukan sesuatu yang sangat buruk. Ia menirukan gaya Kasim Ma yang mabuk dan berteriak ‘keluarlah..’ membuat Kasim Ma malu dan menghardiknya.


Ra On bertanya apa yang akan dilakukan Kasim Ma sekarang. Kasim Ma terduduk lesu dan berkata kalau tak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Ra On tersenyum dan bertanya, “Apa aku harus membantumu?”

Kasim Ma menganggap tak mungkin karena hal itu bisa membuatnya mati. Tapi Ra On bertanya lagi, kalau ada cara yang lebih baik untuk mengungkapkannya, apa Kasim Ma mau melakukan?


Perdana Menteri Kim menyampaikan laporan tentang stok gandum yang dirampok, yang membuat Menteri Kim Jang Suk mengundurkan diri. Raja bertanya mengapa laporan yang ia terima mengenai Kim Jung Suk hanyalah masalah perampokan dan pengunduran diri, padahal yang ia dengar adalah Kim Jung Suk juga mengkorupsi gandum dan menjualnya di pasar Won Sang.

Perdana Menteri Kim mengkritik Raja yang mengungkit kesalahan kecil Kim Jung Suk hanya berdasarkan rumor? Apakah Raja belum mendengar siapa perampok tersebut? Raja segera lupa akan masalah korupsi itu dan bertanya siapa. Perdana Menteri Kim mengeluarkan topeng putih, yang dulu dikenal dengan Hong Gyang Nae.

Raja kaget, tapi berkata kalau Hong Gyeong Nae sudah mati. Tapi Perdana Menteri Kim mendengar kalau kelompok itu masih mencari keturunan Hong Gyeong Nae yang masih hidup. Raja menyuruh untuk menangkap semua orang yang terkait dan tak akan membiarkan kelompok itu hidup lagi.


Ra On sedang menjahit boneka dan sering tertusuk. Melihat Byung Yun melamun, ia meminta Byung Yun untuk turun dan membantunya membuat boneka karena menjahit itu bisa menghilangkan beban pikiran. Byung Yun menyuruh Ra On diam.

Tapi Ra On tidak diam, malah menduga kalau Byung Yun pasti tak bisa menjahit, memasukkan benang ke lobang jarum saja mungkin tak bisa.


Dan yang terjadi berikutnya adalah Ra On bengong melihat betapa terampil dan cekatannya Byung Yun menjahit. Dalam waktu dekat, boneka wanita pun sudah jadi. Ra On bertepuk tangan melihatnya, mengakui kalau Byung Yun ini banyak bekerja, irit bicara.


Byung Yun menaruh boneka itu dan menyuruh Ra On untuk tidur. Tapi Ra On menantang Byung Yun. “Kalau seorang pria sudah memasukkan benang ke dalam jarum..” Ra On mengangkat boneka pria yang masih berantakan dan memohon, “yang ini juga, ya..”

Hahaha.. wajah Byung Yun setelah mendengar permintaan Ra On itu loh, priceless.. Ia mengeluarkan belati dan menebas lilin hingga ruangan padam. Terdengar rengekan Ra On, “Kim Hyu-uungg….!”


1 comment :