September 27, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 11 - 1


Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 11 - 1

Kasim Han kaget melihat Yeong ada di belakangnya, menanyakan hal yang sama seperti yang ditanyakan Ra On. Tapi ia bisa menutupi kekagetannya dan menjawab sopan kalau Ra On mungkin tak ingat kalau ia pernah menemuinya saat kecil dulu.



Di ruangannya, Yeong bicara berdua dengan Kasim Han. Yeong tak menyangka akan bertemu dengan Kasim Han dengan cara seperti ini. Ia ingin tahu mengapa Kasim Han sangat ingin menemukan Ra On. Kasim Han menjawab kalau ia berhutang budi pada ibu Ra On dulu, sehingga ia ingin merawat Ra On untuk membayar hutangnya, tapi ia berpisah dengan ibu dan anak itu.


Yeong sadar berarti Kasim Han berhubungan dengan mereka sebelum Ra On terpisah dengan ibunya. Yang berarti Kasim Han juga mengetahui rahasia Ra On. Kasim Han menjawab, “Tentang dia yang tak pantas menjadi kasim?”


Yeong meminta Kasim Han membalas budi ibu Ra On dengan menjaga Ra On menggunakan kekuasaannya sebagai Kasim Utama di istana. Kasim Han akan melakukan perintah Yeong.


Saat Kasim Han keluar ruangan, Ra On sudah menunggunya untuk bertanya. Tapi Kasim Han meminta Ra On untuk bersabar karena ia yang akan menghubungi Ra On nanti.


Yeong mengurungkan rencana mereka untuk bertemu dengan Guru Dasan. Ra On penasaran, orang seperti apa Guru Jung itu. Yeong menggambarkan Guru Dasan sebagai orang yang bisa menjadi panutan, kecuali satu hal. Kebiasaan minumnya. Ra On semakin penasaran, memang seperti apa Guru Jung kalau mabuk? “Ia akan mendekati setiap makhluk dan bercakap-cakap dengan mereka.”


Ra On tertawa karena kakeknya pun seperti itu. Setiap kakeknya mabuk, semua orang di kota bahkan anjing pun akan menghindarinya. Yeong tersenyum dan memanggil namanya. Ra On mendongak dan kaget karena melihat wajah Yeong ada di dekatnya.


Ia tenggelam dalam tatapan mata Yeong, dan terperanjat saat Yeong menitik keningnya dengan tinta. Yeong tertawa terbahak-bahak. Tapi Ra On menatapnya tajam, “Kau pikir ini lucu?”


Yeong menghentikan tawanya dan berkata serius, “Itu adalah ungkapan perasaanku.”


“Ini datang dari hatimu?” Ra On menunjuk keningnya gemas.


Yeong mengangguk jahil, “Sudah lama aku ingin menandaimu sebagai milikku.” Yeong tersenyum dan kembali menulis serius. Ra On hanya bisa cemberut, gemas sambil menutupi keningnya.


Byung Yun bertanya pada Kasim Han, apakah Kasim Han tetap di istana karena berencana menghukum para pengkhianat? Tapi Kasim Han tak pernah menganggap Byung Yun akan berkhianat karena Byung Yun tahu siapa yang telah menghancurkan keluarganya.

Kasim Han menjelaskan kalau selama ia menjadi kasim dan melayani tiga raja, ia melihat ada harapan di setiap pengangkatan Raja, tapi selalu berakhir dengan kemarahan dan kekecewaan. Tapi kerajaan Joseon yang diperintah oleh Dinasti Lee sekarang sudah tak berdaya lagi.


Byung Yun bertanya apa yang direncanakan Kasim Han untuk mencipatakan harapan baru?  Apakah menggerakkan pemberontakan lagi? Kasim Han bertanya balik, bagaimana pemberontakan tak bisa menciptakan harapan. Ia bertanya apakah Ra On mengingat kejadian 10 tahun yang lalu? Byung Yun menjawab tidak. Sepertinya Ra On lupa akan kejadian itu.


Yeong menunjungi penjara, tempat anak penjual lentera itu ditahan. Ia mendengar anak itu menangis dan teringat jawaban anak itu yang mengatakan Raja yang tahu persis bagaimana sebuah negara menjadi negara yang baik.


Maka betapa kagetnya ia saat mendengar anak itu akan mendapat hukuman jepitan kayu. Orang dewasa saja akan patah kakinya, jadi bagaimana mungkin anak sekecil itu bisa tahan. Ia menolak menentang hukuman itu karena tak ada bukti dan meminta agar anak itu dibebaskan. Para para menteri kompak menentang penolakan Yeong, mereka akan menginterogasi anak itu untuk mendapatkan buktinya.

Menteri Jo memperhatikan dinamika yang terjadi di aula, melihat bagaimana perlawanan yang dialami Putra Mahkota.


Saat makan siang dan tes makanan, tiba-tiba sumpit perak yang digunakan menjadi coklat. Dayang-dayang kaget. Begitu pula Raja dan kasim Han. Raja segera menyuruh memanggil dokter kerajaan.


Kasim Sung  yang melihat betapa paniknya para dayang dan dokter berdatangan ke wisma Raja, kaget mendengar kalau makanan Raja telah diracun. Ia kesal karena pasti Departemen Kasim akan disalahkan.


Penyelidikan dilakukan pada sayuran yang dikirim ke kerajaan. Ternyata ada satu orang luar istana yang masuk ke dapur dan sekarang orang itu menghilang. Orang itu adalah ayah dari anak penjual lentera.


Duk Ho menunggu Putri Myeung Eun di luar kediamannya. Tapi ia malah bersembunyi saat Myeung Eun keluar rumah.

Dayang mengejarnya, meminta Myeung Eun untuk makan dulu sebelum jogging. Myeung Eun menolak. Apa dayang tak tahu kalau mempertahankan berat badan itu lebih susah daripada menurunkannya? Ia pun memulai larinya.

Tapi baru beberapa meter, ia mengeluarkan cermin untuk mengagumi ketirusan wajahnya. Mendadak ia melihat ada bayangan seseorang yang mengintipnya. Ia pun buru-buru menyingkir.


Duk Ho yang ketahuan bersembunyi. Sesaat kemudian ia mengintip lagi, dan terkejut karena Myeung Eun ternyata ada di hadapannya, memergokinya. Myeun Eun bertanya siapa dia. Duk Ho buru-buru minta maaf, mencoba menjelaskan. Tapi karena gugup, gagapnya muncul kembali, membuat Myeung Eun ketakutan apalagi melihat Duk Ho mengambil sesuatu dari balik bajunya.


Myeung Eun mundur dan terus mundur, tak sadar ada batu yang membuatnya terpeleset dan terjengkang ke belakang. Hampir saja ia terjatuh jika Duk Ho tak meraihnya pinggangnya dan memeluknya.


Aww.. Myeung Eun terpana menatap Duk Ho. Tapi lutut Duk Ho malah lemas karena tak dinyana ia bisa memeluk  gadis pujaannya dan ia pun terjatuh, membawa Myeung Eun ikut terjatuh pula. Hahaha..


Mereka berdua langsung berdiri. Myeung Eun langsung menampar Duk Ho. Duk Ho tak merasakan tamparan itu, malah bertanya apakah Myeung Eun baik-baik saja. 


Myeung Eun menampar Duk Ho lagi, tapi Duk Ho tetap melontarkan pertanyaan yang sama. Myeung Eun hendak menampar Duk Ho lagi, tapi ia urungkan dan memerintahkan, “Jika aku melihatmu lagi, aku tak akan pernah memaafkanmu!”


Duk Ho memandang kepergian Myeung Eun dengan sedih. Ia mengeluarkan kotak yang sebenarnya ingin ia berikan pada Myeung Eun, sekotak biskuit madu yang dihiasi bunga-bunga. Aww… kasihan Duk Ho..


Yeong terkejut mendengar kalau pengirim sayur beracun adalah ayah dan anak yang kemarin dibebaskan Yeong dan sekarang kabur dari istana.. Para pejabat meminta Yeong untuk memerintahkan penangkapan ayah dan anak itu dan menghukum mereka seberat-beratnya karena merencanakan pembunuhan Raja. Yeong terdiam mendengar permintaan itu.


Walau penggeledahan ruang kasim sudah selesai, Kasim Sung menggeledah satu ruang kasim yang belum diperiksa. Kasim yang menurutnya aneh, yaitu Kasim Hong Sam Nom. Kasim Sung membawa beberapa orang untuk menggeledah Johyeondang dan kaget saat menemukan hanbok ungu Ra On.


Perdana Menteri Kim melaporkan hasil investigasi makanan beracun pada Raja dan meminta Raja memikirkan Yeong yang walau sudah cukup dewasa untuk menjadi Raja tapi temperamennya masih harus dikurangi. Ia mengusulkan untuk mempercepat pernikahan Yeong.


Raja merasa keberatan karena mempertimbangkan keberatan Yeong. Tapi Perdana Menteri Kim menegur Raja yang terus menuruti keinginan Yeong. Ia akan membuat daftar calon istri yang layak untuk Yeong. Raja tak perlu mengkhawatirkan hal itu.


Mood Yeong sangat jelek. Ia memikirkan tentang masalah racun dan nasib anak penjual lentera itu. Ia ingat saat ia ibunya masih hidup, ia bertanya, “Ibunda menginginkan aku menjadi Raja seperti apa?”


Saat itu ibunya menjawab, “Aku berharap kau menjadi raja dengan mata yang baik.” Yeong tak mengerti arti kata mata yang baik. Ibunya pun menjelaskan, “Kalau kau terlalu tinggi, kau tak akan bisa melihat orang di bawahmu. Kau juga harus punya telinga yang baik. Jangan hanya mendengar orang yang bicara di hadapanmu saja. Jangan merendahkan pegawaimu, dan bedakan antara pujian dan nasihat. Lindungilah semua orang karena mereka adalah orang-orangmu. Bisakah kau berjanji padaku untuk menjadi Raja seperti itu?”


Saat itu Yeong kecil berjanji. Tapi ia sekarang tak tahu lagi. Ia bingung, mana yang harus ia percayai. Ia bertanya pada Ra On bagaimana jika hal yang ia yakin sesuatu yang benar ternyata malah salah? “Apa yang kau lakukan jika semua terasa sulit?”


Ra On meletakkan penanya dan berkata optimis, “Kakekku dulu pernah berkata, kalau hatimu sedih, kau akan meragukan semuanya.”


Yeong mengulang ucapan itu. Ia tersenyum dan menopang dagunya. Wajahnya lebih berseri saat menatap Ra On. “Kalau begitu aku harus mengurangi kecurigaanku dengan kegembiraan (Ra On).”


Ra On tersenyum dan meniru tindakan Yeong, bertopang dagu. “Seperti ini, Yang Mulia?”


Yeong tersenyum dan menjawil pipi Ra On, “Sekarang aku penuh kegembiraan (Ra On).”


Sambil minum teh, Perdana Menteri Kim membicarakan tentang pernikahan Putra Mahkota yang sudah jelas siapa calonnya dengan Menteri Jo. Tanpa basa-basi ia mengatakan kalau calon Putri Mahkota sudah jelas, yaitu orang dari Keluarga Kim. Keluarga mana lagi yang mampu duduk di posisi itu?


Menteri Jo bergerak gelisah ketika Perdana Menteri Kim berkata kalau ia tahu tentang pertemuan Menteri Jo dengan Raja. “Aku merasa tak enak denganmu. Aku sudah katakan sebelumnya, kan? Jangan dibuat rumit. Kau boleh meraih tanganku atau berdiri berhadapan denganku. Hanya itu pilihanmu.”


Ratu kaget melihat penemuan Kasim Sung. Ia penasaran untuk mengetahui siapa Hong Sam Nom sebenarnya, karena iapun juga sadar kalau Hong Sam Nom kelihatan lebih cantik dari seorang gadis. Kasim sung mengingatkan Ratu kalau Yeong pasti menentang pada apa yang akan direncanakan Ratu.  

Ratu menyadari hal itu, tapi sikap Yeong pasti akan menarik, apalagi sekarang ini adalah masa-masa persiapan pernikahan Putra Mahkota.


Ra On memikirkan masalah yang dihadapi Yeong. Pada Do Gi yang kabarnya ahli dalam masalah racun, ia menanyakan masalah makanan beracun itu. Makanan beracun itu dicoba diberikan pada hewan, tapi tak ada hewan yang mati.


Do Gi pun menguji peralatan makan yang sudah terkena makanan beracun dengan air yang sudah direbus dengan lebah madu. Peralatan makan itu memang menjadi coklat, tapi noda coklat itu bisa dihapus. Hal itu tak bisa dilakukan jika makanan itu memang beracun. Do Gi menyatakan makanan itu sebenarnya tak beracun.

Ra On bertanya apa yang menyebabkan sumpit berubah warna? Do Gi tak tahu, dan hal itu harus dicari tahu.


Yeong pergi keluar istana menuju sebuah rumah pengobatan. Ia berpapasan dengan seorang wanita. Ibu Ra On! Wahh… ternyata wanita itu masih hidup. Yeong menoleh sepintas tapi tak punya pikiran apa-apa pada wanita itu. Ia pergi ke rumah itu untuk menemui Guru Dasan.


Guru Dasan terkejut mendengar kasus makanan beracun, tapi ia tetap menolak permintaan Yeong untuk kembali bekerja di istana karena ia sibuk menyembuhkan rakyat yang sakit. Yeong membujuk Guru Dasan karena ia membutuhkan pertolongan Guru Dasan untuk menolong anak yang tak bersalah.


Ra On dibawa ke hadapan Ratu dan kaget melihat hanbok miliknya dilempar ke hadapannya. Ia tak bisa berkata apapun. Ratu juga tak membutuhkan jawaban karena ia akan memeriksa dengan mata kepalanya sendiri. “Telanjangi dia!”


Tak hanya Ra On, Kasim Sung juga kaget mendengar perintah itu.


Yeong yang sedang berpikir di depan taman, tak menyangka melihat Ha Yeon di hadapannya. Ia berkata kalau Ha Yeon tak punya takut.


Ha Yeon merasa tersindir dan minta maaf kalau ia telah mengganggu Yeong. Yeong menjelaskan ucapannya, kalau Ha Yeon tak takut karena sendirian padahal sudah malam seperti ini. Ha Yeon tersenyum lega dan berkata kalau ia berani berkata Yeong. Ia memberanikan diri untuk bertanya. “Apa Paduka tak menyukai hamba karena aku tak sopan saat kita pertama kali bertemu? Apakah Paduka merasa hamba membosankan karena hamba menunjukkan perasaan hamba?”


Yeong terdiam, kemudian menjawab. “Ada gadis yang kusuka. Jadi ini bukan kesalahanmu.”


Ha Yeon terkejut dan bertanya gadis seperti apa yang Yeong sukai. Belum sempat Yeong menjawab, kasim Jang muncul, memberitahukan kalau ada masalah dengan kasim Hong dan meminta Yeong untuk segera ke kediaman Ratu. Yeong langsung panik dan meninggalkan Ha Yeon tanpa pamit.


Ratu tersenyum mendengar Yeong datang. Untung Ra On masih belum ditelanjangi. Yeong bertanya kalem, sekarang ada masalah apa lagi hingga Ratu memanggil kasim dari istananya. 


Ratu membungkuk dan memegang pipi Ra On, menyayangkan wajah secantik ini milik seorang pria. Dengan dingin, Yeong meminta Ratu untuk melepaskan tangan dari wajah Ra On.

Ratu melepaskan tapi juga menyindir kalau pantas saja Yeong tertarik dengan wajah Ra On, karena wajah kasim itu lebih cantik dibanding gadis manapun. “Dan anehnya, kami menemukan hanbok ini di antara barang-baranya.”


Ratu berdiri dan menghadap Yeong. “Aku tahu betapa menderitanya dirimu karena gosip aneh itu. Kalau ibumu masih ada, dia pasti akan mengusir jauh-jauh gosip itu.” Pada Ra On ia bertanya mengapa Ra On menyimpan hanbok itu dan Ra On tak bisa menjawab, maka ia berteriak. “Kau tak perlu menjawab. Buka saja bajumu!!”


Ra On panik. Tapi Yeong malah berseru, “Kasim Hong! Lakukan seperti yang diperintahkan Yang Mulia Ratu!” Semua terkejut, menatap Yeong tak percaya. Tapi Yeong mempersilahkan Ratu melakukannya. “Anda menganiaya ksim ini dan menyuruhnya membuka baju. Sampai kapan Anda akan mempermainkan para pekerja istana dengan gosip-gosip murahan itu?”


Ratu menatap Yeong marah. Tapi Yeong menantang untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. “Dan aku akan menghukum yang salah dengan seberat-beratnya.”



Ratu merasa gentar, tapi ia menerima tantangan Yeong dan menyuruh Ra On untuk membuka bajunya sekarang juga. Karena Ra On tak juga bergerak, ia menyambar pita baju Ra On dan membukanya dengan kasar. 

Bersambung ke bagian 2

No comments :

Post a Comment