September 21, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 10 - 1

Moonlight in Love Chapter 10 : Seperti Sebuah Dongeng


Ra On tersipu-sipu mendengar Yeong memanggilnya akrab. Ra On-ah. Yeong bertanya apa kata Ra On berasal dari kata gembira? Ra On membenarkan. Ayahnya yang memberi nama itu dengan harapan ia bisa terus hidup dengan penuh kegembiraan. Yeong merasa kata itu tepat sekali untuk Ra On.



Keesokan paginya, Yeong sudah bangun dan menunggu-nunggu saat ia berganti pakaian. Ia bahkan mengintip ke luar. Haduhh… jadi ikut senyum melihat Yeong senyum-senyum saat menunggu kedatangan para kasim.

Tapi memang salah satu kasim juga tak dapat menyembunyikan senyumnya saat membawa nampan berisi baju kebesaran Putra Mahkota. Langkah Ra On lebih ringan dan cepat saat berjalan menuju pintu kamar Yeong.


Kasim Jang sudah bersiap untuk memanggil Yeong, tapi Ra On mendahuluinya dengan berseru, “Yang Mulia, apa sudah bangun?”

Yeong gembira mendengar suara Ra On dan membalas seruannya, “Ya, masuklah!”
Tanpa disuruh dua kali, Ra On langsung masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Kasim Jang bengong, sedikit sakit hati sepertinya karena Putra Mahkota tak pernah seperti itu padanya. Hahaha..


Sambil memakaikan baju, Yeong bertanya dengan nada senormal mungkin, “Kira-kira bagaimana cuaca hari ini.. Ra On-ah?” Ra On kaget mendengar namanya disebut dan tersipu menjawab kalau cuaca cerah. Yeong tersenyum dan bertanya lagi, “Jadi apa kau sudah mempersiapkan buku untuk dibawa bersamaku.. Ra On-ah?”

Hahaha… cute..  Ra On bertanya apa Yeong akan terus memanggilnya dengan nama itu? Bagaimana jika ada orang yang mendengarnya?

Yeong membungkuk dan berbisik, “Aku hanya akan memanggilmu seperti jika kita hanya berdua.. Ra On-ah..” Yeong akan terus memanggil nama Ra On untuk menebus saat-saat ia tak bisa melakukannya.


Jawaban itu kembali membuat Ra On tersipu. Kebahagiaan menyelimuti keduanya, dan senyum tak pernah hilang dari wajah mereka saat Ra On memakaikan sabuk, membuatnya hampir memeluk Yeong.


Ketika Ra On yang biasanya harus berjinjit untuk memakaikan topi, tak disangka Yeong membungkuk di hadapannya, membuat wajah mereka berhadapan dan Ra On bisa memakaikan topi tanpa kesusahan. Ra On kembali tersipu-sipu.


Yeong tersenyum, puas dengan semua yang dilakukan Ra On dan berjalan pergi. Ra On bergegas mengikutinya, tapi tiba-tiba Yeong berbalik dan bertanya, “Sebagai ahli percintaan, coba kau katakan padaku. Apakah kisah cinta dengan Pangeran itu adalah impian dari para wanita?”


Ra On mencibir mendengar kepedean Yeong, tapi Yeong hanya menggodanya. Ia menarik sabuk Ra On dan merangkul bahunya.




Pimpinan Byung Yun bertanya tentang informasi yang Byung Yun dapat dari tetangga sekitar, seperti bagaimana wajah dan siapa namanya. Byung Yun menjawab belum dan bertanya apa yang terjadi jika gadis itu ditemukan. Pemimpin itu menjawab akan melindungi gadis itu sebagai bagian dari kelompok mereka.

Orang-orang bertopeng putih menyebarkan selebaran tentang pemilik Joseon ini bukanlah Raja yang lemah melainkan rakyat yang telah hidup sepanjang sejarah. Keturunan Hong akan muncul kembali dan memastikan tak akan terjadi kegagalan seperti 10 tahun yang lalu.

Selebaran itu sampai juga di istana. Raja yang panik ketakutan, merasa Hong Gyeong Nae terus menghantui tahtanya.  Yeong meminta ayahnya bersabar dan menyerahkan masalah ini padanya. Ia tak ingin melihat ayahnya jatuh sakit.

Tapi Raja seperti tak mendengarnya, malah yakin kalau banyak pengkhianat di antara mereka dan istana sudah tak aman lagi. Ia menyuruh pengawal untuk menyelidiki semua ruangan di istana dan menangkap setiap orang yang mencurigakan.


Yeong tampak khawatir dengan sikap ayahnya yang paranoid. Pada Byung Yun, ia mengungkapkan kekhawatirannya, berharap kecemasan ayahnya itu hanya kecemasan yang tak berdasar. Ia bertanya apakah Byung Yun sudah menemukan jejak putri Hong Gyeong Nae.

Byung Yun menjawab sewajar mungkin kalau ia belum menemukannya. Yeong berniat akan memutus takdir yang mengikat ayahnya, Perdana Menteri Kim dan Hong Gyeong Nae. Ia menatap Byung Yun, “Bantulah aku.” Byung Yun mengiyakan.


Mereka berpapasan dengan Perdana Menteri Kim yang menyindir, “Kerusuhan bermula dari sesuatu yang lemah.” Yeong berbalik, sadar akan sindiran yang ditujukan padanya. Ia yang lemah ditunjuk untuk menjadi wali raja sehingga terjadi kerusuhan di masyarakat.

Perdana Menteri Kim tahu kalau Yeong berniat membuat perubahan, tapi hasilnya hanyalah kebingungan dalam masyarakat. “Semakin berat masalah, semakin banyak bantuan dari para ahli yang berpengalaman. Jadi kenapa Paduka tidak berpura-pura tak sanggup menyelesaikan masalah dan datanglah untuk berlindung di bawah pohon hamba?”



Yeong nampak berpikir, “Entahlah.. berada di bawah bayang-bayang, apa aku mampu melihat kakiku yang terbenam dalam lumpur?” Yeong tersenyum memberi hormat pada Perdana Menteri yang kesal mendengarnya.


Semua orang di istana diperiksa termasuk barang-barang bawaannya. Kasim Jang memberitahu kalau hal ini terjadi karena ada selebaran yang mengajak rakyat untuk menurunkan Raja dan menjadikan Joseon sebagai negara rakyat. Ra On dan Do Gi terkejut mendengar penjelasan tersebut. Apa itu bukan berarti pemberontakan?

Kasim Jang mengatakan saat pemberontakan terjadi 10 tahun yang lalu, tak ada yang menyadari kalau ada mata-mata dari pemberontak yang menyusup masuk istana. Ia menyuruh yuniornya untuk berhati-hati karena jika terlihat mencurigakan, mereka bisa langsung ditangkap dan disiksa.


Malamnya, Ra On mempersiapkan tempat tidur Yeong saat Yeong muncul dan duduk memandanginya. Kali ini Ra On tak canggung dan malah menatap Yeong. Ia tahu kalau Yeong pasti lelah sekali, kecewa karena terjadi kekacauan dalam istana. Yeong membenarkan, “Dan karena aku tak bisa melihatmu seharian.”


Hahaha… capek-capek masih sempat ngegombal juga.


Ra On tersenyum dan duduk di tempat tidur, meminta Yeong untuk segera berbaring. Yeong menurut, dan meletakkan kepalanya di pangkuan Ra On. Ra On terkejut tapi membiarkan, bahkan menepuk-nepuk pelan dada Yeong, menidurkannya. “Apa aku perlu cerita sesuatu yang menarik hingga kau tidur?”


Yeong mau. Maka Ra On menceritakan kisah dari barat yang pernah ia baca. Bukankah Yeong tadi bertanya apakah impian setiap wanita untuk jatuh cinta dengan seorang pangeran? Ia pun bercerita tentang putri duyung yang tinggal di lau dan jatuh cinta kepada seorang pangeran.

Tapi Yeong sudah memejamkan mata mendengar ceritanya. Ra On sejenak memandangi Yeong dan mengulurkan tangan untuk membelai setiap bagian wajahnya. Tapi jarinya tak berani menyentuh wajah Yeong.  Yeong menangkap tangan Ra On dan membuka matanya, “Apakah Pangeran dari Barat itu setampan aku?”


Ra On kaget namun tersenyum geli, “Iya mungkin, karena si putri duyung jatuh cinta kepada pangeran pada pandangan yang pertama.”

“Maksudmu seperti dirimu?” goda Yeong.


Ra On tertawa dan melanjutkan kalau putri duyung itu bersedia menukar suaranya untuk mendapatkan sepasang kaki agar bisa terus berada di sisi Pangeran. Tapi putri duyung itu tak bisa memberitahukan pada satu orangpun tentang siapa dirinya.


Byung Yun mendengarkan cerita Ra On dari luar kamar. Wajahnya semakin galau saat mendengar Yeong berkata, “Teruskanlah ceritamu, Ra On-ah..”


Pada kasim kepala, Raja mengungkapkan kekhawatirannya jika Yeong akan bernasib sama sepertinya. Kasim kepala bertanya apa perlu mereka menunda pernikahan Yeong. Raja malah menjawab kalau ia berniat mempercepat rencana itu. Pernikahan adalah perayaan yang menggembirakan. Mereka harus bisa menangkap hati rakyat yang ragu dan memastikan semua orang tahu kalau keluarga kerajaan masih tetap kuat.

Kasim kepala bertanya, apakah Raja memiliki calon istri Putra Mahkota? Raja menjawab, “Panggil Mentri Jo Man Hyung secara diam-diam.”


Yeong menemui juara pertama yang lulus di ujian nasional, dan ternyata dia adalah Jung Duk Ho! Jung Duk Ho berlutut dan mulai bersumpah setia panjang lebar dengan suara keras. Yeong bertukar pandang dengan kasim Jang, geli. Yeong memotong ucapan Duk Ho, memintanya untuk bekerja menggunakan kepintarannya di jabatannya yang baru.


Ra On masuk dan matanya bertatapan dengan Duk Ho. Keduanya sama-sama terkejut dan Ra On sudah hampir keceplosan memanggil Tuan Muda Jung tapi segera tersadar, berhenti karena Yeong memandangi mereka. Bisa-bisa Yeong langsung bisa mengenali siapa pengagum Putri Myeung Eun.

Maka, saat Yeong bertanya apa Ra On dan Duk Ho saling mengenal, Ra On langsung membantah. Mereka hanya sering berpapasan di kota. Yeong mengerutkan kening curiga, tapi tak mendesak lebih jauh.


Ra On mengejar Duk Ho yang tergagap-gagap meminta Ra On tak membongkar rahasia mereka. Ra On berjanji dan mereka ngobrol santai tanpa Duk Ho tergagap-gagap. Putri Myeung Eun kebetulan melintas di hadapan mereka dan memanggil Ra On.

Ra On kaget melihat Putri Myeung Eun. Duk Ho lebih kaget lagi kalau gadis itu adalah Putri Myeung Eunnya.

Ra On menoleh pada Duk Ho, tapi pria itu sudah menghilang entah kemana. Putri Myeung Eun menghampirinya dan heran karena sepertinya ia tadi melihat Ra On bersama seseorang. Ia juga heran melihat Ra On yang seperti terkejut.


Tentu saja Ra On terkejut karena ia baru sadar kalau hidung Myeung Eun ternyata mancung. Myeung Eun terkikik mendengarnya, tapi kemudian memasang wajah ningratnya dan berkata, “Aku juga baru tahu kalau aku memiliki hidung yang mancung.” Kemudian keduanya tertawa bersama.


Myeung Eun berjanji akan menemui Ra On lagi. Dengan gaya yang kembali anggun, ia melangkah pergi.

Dan seketika itu juga Duk Ho sudah berada di samping Ra On dan sedih memandangi arah Myeung Eun pergi, “Kenapa dia jadi sangat kurus dan tampak sakit-sakitan?”


Ra On khawatir karena mulai sekarang Duk Ho akan sering berada di istana. Duk Ho paham hal itu. Jika Putri mengenalinya, maka akan menjadi bencana besar. Karena itu ia akan menghindarinya. Dan ia mengeluh lagi, “Tapi kenapa ia jadi sangat kurus?”


Yeong melewati dapur istana dan melihat ada anak perempuan penjual lentera yang sedang menumpuk sayuran. Ia senang bertemu gadis itu lagi dan menyapanya. Apa anak itu datang ke istana untuk menemui Raja? Anak itu menjawab kalau ia datang ke istana karena membantu ayahnya membawa sayuran. Dayang dapur muncul dan hampir saja menyebut Putra Mahkota jika Yeong tak langsung menghentikannya.


Ia berbisik, meminta dayang untuk memberikan kudapannya hari ini pada anak itu. Ia juga membelai rambut anak itu dengan penuh sayang.


Menteri Jo menemui Raja yang memintanya secara langsung untuk menjadi kekuatannya dan Putra Mahkota. Ia ingin menikahkan Yeong dengan putri Menteri Jo.


Walau pertemuan itu rahasia, tapi kabar itu sampai juga ke telinga kubu Perdana Menteri. Mereka pun berpikir kalau Menteri Jo menunda pernikahan putrinya dengan Yoon Sung karena hal ini. Pernikahan ini harus dihentikan, apalagi sejak tahu kalau Ratu mengandung anak laki-laki. Jika Menteri Jo dan Putra Mahkota menggabungkan kekuasaan mereka dan Putra Mahkota memiliki ahli waris, maka akan sulit bagi mereka.


Tapi Perdana Menteri Kim menenangkan mereka. Keputusan pemilihan Putri Mahkota tak bisa diputuskan sendiri. Ia bertanya pada Menteri Han, berapa umur putri bungsunya.


Yeong sedang berjalan saat melihat Do Gi dan Sung Yul mengangkat badan Ra On dan mereka tertawa-tawa. Ia berdehem membuat mereka segera berhenti dan menurunkan Ra On. Do Gi menjelaskan kalau kaki Ra On terkilir dan mereka mengangkat Ra On agar Ra On merasa lebih nyaman.

Haduh.. jika tatapan bisa membunuh..

Sung Yul mencoba menjelaskan kalau mereka membawa Ra On kembali ke wisma, tapi Yeong menatapnya tajam dan mengisyaratkan untuk pergi. Sung Yul mengerti dan langsung menarik Do Gi yang kebingungan.

Ra On menghampiri Yeong yang menatapnya tanpa senyum. Yeong berkata, “Lihat apa yang baru saja kau lakukan.” Ra On merasa bersalah dan berkata kalau ia tadi memanjat pohon karena ingin memetik buah kesemek, tapi malah jatuh.

Yeong mengulang kata-katanya lebih keras, “Lihat apa yang baru saja kau lakukan! Membiarkan orang lain merangkul bahumu, tersenyum seperti itu pada setiap orang dan juga terluka. Hah?!”


Hahaha… ciee.. ada yang cemburu. Ra On cemberut mendengarnya. Tapi Yeong juga cemberut dan melarang Ra On untuk terluka. Ini adalah titah. Ra On berkilah kalau di luar kemauannya hingga bisa terluka.

“Dan tahan tawamu kalau kau bersama dengan orang lain. Ini juga titah!”


Banyak kaleee titah Yang Mulia ini... Ra On mendelik dan menolaknya. Yeong balas mendelik, kesal karena Ra On membantah perintahnya.

Ia sudah hampir menjitak Ra On, tapi Ra On buru-buru memejamkan mata dan memegangi kepalanya.


Yeong tersenyum jahil dan mengangkat buku yang dipegangnya untuk menutupi wajah mereka dan mengecup pipih Ra On.


Ra On terpana merasakan kecupan itu. Tapi Yeong tersenyum, “Itu adalah hukuman. Hukuman karena tak mematuhi perintah Putra Mahkota.”


Menteri Jo menceritakan permintaan Raja pada Ha Yeon. Ia bingung harus berbuat apa. Tapi Ha Yeon menyatakan bersedia. Ia tahu kalau Putra Mahkota sekarang sedang berjuang dan ia berharap bisa membantu. “Bahkan kalau yang ia butuhkan bukan aku tapi keluargaku yang dia butuhkan, tidak masalah untukku.”

Menteri Jo masih tetap khawatir dan bertanya apa Ha Yeon benar-benar yakin? Karena jika Ha Yeon gagal dipilih karena Perdana Mentri Kim ikut campur, maka Ha Yeon tak boleh menikah dan akan hidup sendirian seumur hidupnya. Ha Yeon mengangguk yakin. “Apapun yang terjadi, aku tak akan menyesalinya.”


Yeong membuka sarung kaki Ra On dan mendesis melihat bengkak di kaki gadis itu. Ia melarang Ra On untuk bergerak, dan menyuruhnya tetap duduk di sana hingga ia kembali. Ra On mencoba membantah karena ia pasti akan dicari-cari oleh Kasim Jang. Tapi Yeong malah mengatakan karena itulah Ra On tak boleh pergi. Jika Ra On terus bekerja, maka ia khawatir kalau kaki Ra On akan semakin parah.

Ra On membantah kalau kakinya tak separah itu. Yeong langsung kesal. “Apa kau tak mematuhi perintahku lagi?”


Yeong mencondongkan badannya seperti hendak mencium, membuat Ra On berteriak, “Tidak boleh,” dan memegang pipinya. Dengan suara pelan Ra On berkata kalau ia mengerti.


Yeong tersenyum geli dan memakaikan sepatu Ra On kembali. Dengan lebih perlahan, ia mencondongkan badannya lagi, tapi efeknya sama, membuat Ra On berteriak lagi dan memegang pipinya.


Kali ini Yeong tersenyum mencemooh. Ia semakin mencondongkan badannya, dan mengambil buku yang tergeletak di samping Ra On. Ia menepuk bukunya, seolah berkata ini loh yang mau aku ambil. Dan ia berbalik pergi dengan geli.


Ra On tersipu malu karena ketahuan berpikir macam-macam.


Yeong terkejut mendengar perintah ayahnya untuk menikahi putri Menteri Kebudayaan dan menolaknya. Tapi Raja bersikeras karena keluarga itu adalah satu-satunya keluarga yang bisa membantu Yeong tanpa dikendalikan oleh Perdana Menteri Kim.

Yeong mengingatkan kalau dengan cara ini, akan muncul klan baru yang berkuasa. Tapi bagi Raja, pernikahan Yeong akan membantu menstabilkan kerajaan dan mengambil hati banyak orang. Jika Yeong terlihat lemah, maka rakyat akan bisa dimanipulasi oleh para pemberontak lagi seperti dulu.


Yeong minta maaf, tapi ia tak mau menikah demi mendapatkan kekuasaan politik. Ia akan mengumpulkan pendukung dengan caranya sendiri. “Jadi saya mohon, tarik kembali perintah Ayahanda.”


Ratu marah mendengar rencana pernikahan Putra Mahkota dan kesal melihat ayahnya tenang-tenang saja. Apa ayahnya tak memikirkan anak laki-laki yang sedang ia kandung? Perdana Menteri Kim mengingatkan kalau pihak lawan pasti berniat untuk menang juga. Tapi Ratu benar-benar khawatir. “Jika Putri Mahkota berasal dari klan keluarga Jo, maka..

“Aku adalah orang yang bisa menjadikanmu, anak dari seorang gisaeng, di posisi Ratu,” potong Perdana Menteri Kim mengingatkan. 


Ratu terkejut mendengar ucapan tajam ayahnya. Perdana Menteri Kim melanjutkan, “Jangan mengkhawatirkan hal yang tidak penting. Konsentrasi sajalah untuk melahirkan dengan mudah. Apa kau mengerti?”

Komentar :

Kalo nonton awal episode ini dan gak pake senyum-senyum, berarti temennya Perdana Menteri Kim. Hehee...

1 comment :