September 20, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 8 - 2


Ra On yang membawakan makanan kecil, terus memperhatikan Yeong yang membuka-buka buku.

Tanpa mendongak Yeong berkata, “Aku tahu kalau wajahku ini membuatmu ingin terus memandang,” dan ia mendongak geli, “Tapi apa kau tak merasa kalau kau sudah terlalu terus terang?”



Ra On bergumam kalau ia melihat wajah Yeong sangat suram. Yeong mengisyaratkan Ra On untuk duduk di sebelahnya. Ra On meminta Yeong untuk makan yakgwa (biskuit madu). “Ketika merasa kesal, yang manis-manis adalah obat yang paling mujarab.”


Yeong tersenyum dan terus memandangi Ra On, membuat Ra On malu. Iapun bertanya jika Ra On menghadapi lawan tangguh, apa yang akan dilakukan Ra On? Ra On menjawab ia akan melawan sekuat tenaga. Tapi jika tak berhasil, ia akan mengikuti arus.


Yeong kembali tersenyum dan mengambil satu biskuit. Ra On pun berdiri dan pamit. Tapi Yeong malah menarik tangannya dan memeluknya. Sesaat Ra On tak bergerak karena tindakan Yeong yang terduga ini.

Dan sepertinya saat itu baterai semangat Yeong langsung tercharge full 100%, karena ketika Ra On menjauhkan diri Yeong pun membiarkan dan malah memasukkan biskuit itu ke mulut gadis itu sambil berkata, “Kau benar. Obatnya sangat mujarab.”

Ra On mengeluarkan biskuit itu dari mulutnya dan protes, “Dimakan saja belum..”

“Maksudku itu, kamu.”     

Mata Ra On melebar mendengar pujian itu dan berdeham. Yeong tersenyum, dan tiba-tiba ia seperti mendapat ide. Ia segera menyuruh Ra On untuk memanggil kasim yang menangani obat untuk menemuinya.


Para menteri yang absen sakit itu ternyata sedang berkumpul di rumah Perdana Menteri Kim. Mereka bingung melihat sebuah gerobak yang berisi tumpukan kotak obat tiba-tiba muncul, lengkap dengan masing-masing nama mereka di tiap kotak.

Belum sempat mereka bereaksi, mendadak Yeong muncul dan menyapa mereka dengan ramah. “Aku khawatir harus mengirimkan satu-satu ke rumah kalian masing-masing. Untungya kalian semua berkumpul di sini.”

Para menteri hanya bisa diam karena tertangkap basah. Perdana Menteri Kim muncul dan mengajak Yeong masuk.


Byung Yun menemukan seorang nenek, tetangga yang dulu tinggal bersebelahan dengan Ra On. Walau sadar kalau ia dibuntuti oleh orang suruhan Perdana Menteri Kim, ia tetap bertanya. Nenek itu ingat kalau istri Hong Gyeong Nae memiliki bayi perempuan yang sangat cantik dan akhirnya ingat namanya. Ra On.


Yeong memuji feng shui ruangan Perdana Menteri Kim sehingga terasa nyaman. Karena tadi ia melihat semua menteri sudah sembuh, ia mengusulkan untuk mengadakan rapat kerajaan di ruangan Perdana Menteri saja.


Perdana Menteri Kim menguliahi Yeong tentang Joseon yang berdiri karena didukung oleh 4 fraksi politik selama 400 tahun dan sudah menjadi tugas mereka untuk membimbing Putra Mahkota yang mengabaikan sejarah dan membawa Yeong ke jalan yang benar.


Dengan suara manis, Yeong berkata persepsi ‘jalan yang benar’ yang dimiliki Perdana Menteri Kim dan dirinya mengarah ke tujuan yang berbeda.

Perdana Menteri Kim berkata kalau ada bunga merah tumbuh di tengah rumput hijau, sehingga lumrah jika ada manusia yang ingin memetiknya. Yeong menangkap ancaman yang tersirat, yaitu kita akan terluka jika terlalu menonjol. Perdana Menteri Kim melanjutkan kalau ingin memetik bunga itu maka rumput sekitar harus diinjak.

Ia kemudian mengingatkan kalau dulu Raja sangat menyesal setelah kehilangan Ratu 7 tahun yang lalu. “Mohon jangan sia-siakan kesetiaan hamba. Jika Paduka membutuhkan bantuan, Paduka dapat menemui hamba kapan pun itu. Ada pepatah yang mengatakan cincin saja sudah cukup. Dan melakukan dengan biasa-biasa saja bukanlah hal yang memalukan.”

Yeong sudah tak tersenyum lagi dan kali ini berusaha menahan kemarahannya mendengar ucapan Perdana Menteri Kim.


Ha Yeon bertemu dengan Yoon Sung. Memang tak biasanya seorang wanita meminta untuk bertemu tapi ia melakukan hal ini karena penasaran akan Yoon Sung. Dengan sopan dan manis ia memberitahukan kalau sepertinya ia tak pantas bagi Yoon Sung yang sangat hebat karena ia banyak kekurangan, seperti egois karena ia anak tunggal, dan kurang sabar, tak suka menyulam dan hanya suka membaca buku bahkan mengingat banyak cerita rakyat yang mungkin bisa menakuti Yoon Sung.


Yoon Sung pura-pura terkejut, tapi berkata kalau ia juga tak sehebat yang digosipkan. Ha Yeon bengong, tak menyangka kalau usahanya tak berhasil. Yoon Sung tersenyum geli dan akhirnya berkata kalau ia memahami apa maksud Ha Yeon sebenarnya -aku tak ingin menikah, tapi takut akan akibat yang terjadi jika aku menolaknya., jadi jangan khawatir.

Ha Yeong akhirnya menyadari kalau mereka mempunyai kesamaan, “Apa kau sudah memiliki wanita di dalam hatimu?” Ia pun tertawa lega dan bertanya bagaimana cara mereka bisa keluar dari dilema ini. Yoon Sung menenangkan kalau pasti ada caranya.


Yeong sedang berjalan-jalan di kota dan berhenti ketika ada seorang penjual menawarkan gelang abadi yang dapat mengikat cinta sepasang kekasih untuk selamanya. “Jika ini dipakai dengan kekasihmu, walaupun berpisah, kalian akan saling mencari hingga kalian akan bertemu lagi.”

Yeong mengambil gelang yang berwarna biru dan di saat yang bersamaan ada seseorang yang mengambil gelang merah muda. Ha Yeon terkejut melihat ia bertemu lagi dengan Yeong dan reflek melepaskan gelangnya.


Tapi Yeong menatapnya skeptis dan bertanya apakah pertemuan ini juga kebetulan yang direncanakan seperti yang sebelumnya? Ha Yeon langsung membantah, kalau kali ini benar-benar kebetulan. Menyadari kalau pertemuan ini adalah sebuah kebetulan, Ha Yeon langsung senang. “Jadi.. ini benar-benar takdir?”

Yeong berdecak, bergumam kalau Ha Yeon itu blak-blakan sekali. Perhatiannya segera teralih karena melihat Byung Yun yang sedang dikejar oleh sekelompok orang. Ia heran karena seharusnya Byung Yun sedang melakukan pelatihan pengawal seharian penuh. Tapi mengapa Byung Yun ada di sini? Ia segera mengikuti Byung Yun dengan Ha Yeon mengekor di belakangnya.


Di jalan yang sepi, ia melihat Byung Yun sudah dikepung oleh banyak orang. Byung Yun segera menyadari kehadiran Yeong, tapi ia diam saja dan mulai bertempur. Beberapa orang muncul lagi dari arah belakang Yeong. Ha Yeon sekarang berada dalam posisi yang berbahaya. Ketika mereka sudah dekat, Byung Yun melemparkan pedang pada Yeong yang langsung disambut untuk menangkis pedang yang menghunus Ha Yeon.


Ia mencekal tangan Ha Yeon dan melindunginya sambil terus menyerang orang-orang itu. Ia memutar Ha Yeon hingga tersembunyi aman di gang sempit. Bersebelahan dengan Byung Yun, Yeong bertanya siapa orang-orang itu. Byung Yun tak menjawab dan meminta Yeong untuk menyerang setelah ia melompat maju.

Pertempuran tak terelakkan lagi, tapi orang-orang itu bukanlah tandingan Yeong dan Byung Yun. Dalam waktu singkat mereka semua sudah terkapar di jalan, kecuali satu orang yang berhasil melarikan diri. Byung Yun segera mengejar orang itu.


Yeong menghampiri Ha Yeon dan bertanya apa Ha Yeon baik-baik saja. Ha Yeon memegang tangan Yeong dengan air mata mengalir di wajah Ha Yeon, bersyukur kalau Yeong tidak kurang suatu apapun. Yeong tak menjawab. Perhatiannya teralih pada topeng putih yang tergeletak di tanah.
Byung Yun melihat dari kejauhan dan tampak panik melihat Yeong memegang topeng miliknya.


Yeong berjalan diikuti oleh Byung Yun yang terus menunduk. Byung Yun bertanya mengapa Yeong tak bertanya sedikitpun padanya. Dengan kalem Yeong menjawab, “Maksudmu tentang siapa yang tadi mengejarmu? Kau tak akan menyembunyikannya jika hal itu bukan rahasia yang bisa kau ceritakan padaku.”

Byung Yun membuka mulutnya, tapi Yeong memotong dan berkata kalau ia ingin sendirian dulu. Byung Yun tampak kalut mendengarnya. Apalagi saat Yeong menambahkan, “Byung Yun ah, jika aku dapat mempercayai seseorang, orang itu adalah dirimu. Kau tahu, kan?”


Yeong pergi ke makam ibunya. Ia teringat pada ibunya yang kemungkinan meninggal tak wajar dan permohonannya agar ayahanda Raja mengusut kematian itu, tapi Raja malah memarahinya. Dan wejangan separuh ancaman Perdana Menteri Kim yang tadi siang ia temui, membuatnya tak tenang.


Mengetahui kalau Yeong pergi ke makam ibunya, Ra On bertanya bagaimana ibunda Yeong dulu. Yeong bercerita kalau ibunya suka kebebasan dan merasa sesak jika berada di istana. Para pelayan selalu kerepotan menghadapi keantikan ibunya. Ra On geli, karena semua sifat Ibunda Yeong mirip dengan Yeong sendiri.

Yeong berkata kalau ibunya lebih bijaksana dan lebih hangat dibanding semua orang yang ia kenal. Tapi ia tak bisa melindungi ibunya. “Tapi kemudian aku tahu kalau aku harus menjadi kuat untuk melindungi mereka yang berarti untukku.”


Ra On tak tahu harus berkata apa untuk menghibur Yeong. Tapi Yeong menyentil kepala Ra On, dan berkata kalau Ra On tak perlu berkata apapun, karenda dengan berdiri seperti ini saja sudah cukup. “Bukankah kau adalah biskuit maduku?”


Semalaman, Ha Yeon menyulam kain untuk dijadikan sampul kotak buku. Suatu pekerjaan yang tak disukai Ha Yeon, tapi ia melakukannya dengan penuh suka cita.


Keesokan paginya, kotak buku yang dibungkus kain dengan sebuah surat beramplop merah muda itu diserahkan Kasim Jang pada Yeong. Bingkisan itu dari rumah Perdana Menteri.  Yeong mengambil amplop itu.


Ra On yang sedang membawa buku, melihat Yeong pergi ke kebun dengan membawa sebuah bungkusan. Ia mengikuti Yeong dan hendak menyapanya. Tapi ia terkejut karena melihat Yeong menemui Ha Yeon. Gadis yang dulu pernah berkonsultasi padanya tentang cinta.


Ia melihat betapa cantiknya Ha Yeon, kemudian ia memandangi dirinya sendiri dengan memakai baju kasim. Ia melihat Yeong memberikan sebuah bingkisan pada Ha Yeon, seketika itu juga ia merasa sedih.


Ha Yeon terkejut melihat Yeong mengembalikan hadiah yang ia kirimkan. Apa Yeong tak menyukai hadiahnya? Yeong menjawab kalau ia bahkan tak membukanya, jadi tak tahu apa isi bungkusan itu. Ha Yeon memberikan hadiah karena Yeong telah menyelamatkan nyawanya. Yeong berkilah kalau kejadian itu hanya kebetulan saja, jadi tak perlu memberi hadiah.


Ha Yeon tampak kecewa. Ia sudah menjahit semalaman walau ia tak pandai menjahit. Ia melakukan hal ini karena selalu memikirkan dan merindukan Yeong. Yeong terkejut, walau lebih terlihat tak enak hati daripada tersanjung mendengar pengakuan Ha Yeon.


Tapi Ra On tak melihat tatapan Yeong tersebut. Ia hanya melihat dari samping, bagaimana Yeong menatap Ha Yeon cukup lama. Ia merasa sedih melihatnya.


Malam itu di ruang baca, ia diam-diam memperhatikan Yeong yang sedang membaca. Mendadak Yeong menoleh dan tersenyum lebar, tahu kalau diperhatikan olehnya. Ra On buru-buru menundukkan wajah dan berjalan pergi. Tapi Yeong menghalangi jalannya, mengikuti kemanapaun ia melangkah dan menggodanya, “Kau bahkan tak ingin menjauh dariku walau selangkahpun. Iya, kan?”

Ra On hanya memberi hormat, menunduk dan berbalik pergi, membuat Yeong bingung. Tapi kemudian ia berhenti dan berbalik lagi untuk bertanya. Apa Yeong pernah mencintai seorang wanita?
Sesaat Yeong ragu, tapi kemudian mengangguk yakin. “Aku punya.” Hati Ra On mencelos mendengarnya. Pernah? Kapan dan bagaimana wanita itu? Yeong tersenyum, “Sekarang. Seorang wanita yang sangat cantik.”


Perasaan Ra On campur aduk, dan tumpah ruah dalam ucapannya, “Jadi.. kenapa kau terus-terusan seperti ini?”

“Itu..”

“Seharian ini aku merasa bahagia, marah dan terluka. Dan rasanya sulit bagiku,” suara Ra On bergetar menahan emosi. “Apa aku tak boleh bertanya, perasaan apa yang sebenarnya kau miliki? Walau aku adalah kasim istana, tapi bukan berarti perasaanku adalah milikmu.”


Yeong tertegun mendengar suara Ra On yang bergetar menahan tangis dan wajahnya yang tersisa. Ia tak menghentikan Ra On yang melangkah pergi.


Ra On sudah di tempat tidur, tapi tak bisa tidur karena terus terbayang pertemuan Yeong dengah Ha Yeon. Sementara Yeong terus terngiang nada sakit hati Ra On barusan.


Byung Yun akhirnya berhasil menemukan jejak ayah Ra On, walau ia juga menyadari kalau ia dibuntuti oleh beberapa orang. Ia berhasil melepaskan diri dari mereka dan menarik ayah Ra On, mengisyaratkan kalau ia bukan orang berbahaya dan memintanya untuk diam.

Mereka kembali ke rumah Ra On. Mulanya ayah curiga pada Byung Yun. Tapi Byung Yun meyakinkan Ayah Ra On kalau ia mencari Ra On tidak dengan niat mencelalakai tapi melindungi.


Yeong menemui Ra On dengan menggenggam gelang abadi warna merah muda. Ia mengambil tangan Ra On dan memakaikan gelang itu pada tangan kirinya, sama seperti tangan kirinya yang memakai gelang abadi warna biru.


Ra On tak mengerti, apa maksud gelang ini? Yeong tersenyum, “Ini adalah perhiasan untuk seorang wanita cantik. Apa kau tak melihatnya?”

“Wanita cantik? Siapa.. “

“Sudah kubilang kalau aku memiliki seorang wanita yang membuatku jatuh cinta. Wanita yang sekarang berdiri di hadapanku.”


Ayah Ra On bertanya sekali lagi apakah Byung Yun benar-benar akan melindungi Ra On? Byung Yun mengangguk. Ayah Ra On pun berkata, “Sam Nom-i.”

Byung Yun terkejut mendengar nama itu. Ia berbalik dan mendengar Ayah Ra On mengulang nama itu. “Hong Sam Nom. Dia ada istana, dijual untuk melunasi hutang-hutangnya. Itu yang aku dengar.”


Ra On terkejut dan refleks mundur. Tapi Yeong meraih tangannya dan menggenggamnya, “Mulai sekarang aku akan memperlakukanmu sebagai wanita yang paling berharga. Bolehkah aku melakukannya?”


Komentar :

Duhh… nulis sinopsis episode ini, buat saya senyum-senyum sendiri. Nulis adegan yang ada Yeong dan Ra On itu bisa buat tersipu-sipu loh.. Hahaha..


2 comments :

  1. Yang di tunngu" akhirnya rilis juga
    Makasih ya mbak di tunggu episode selanjutnya

    ReplyDelete
  2. bener2 mba ,chemistry bogum sama yoo jung emang bikin senyum2 dan gemes...... mba dee mksh sinopsisnya,,, semangatttt

    ReplyDelete