September 13, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 6 - 2


Keesokan harinya, Yeong berlutut di depan istana Raja, memohon agar ayahnya membebaskan Ra On. Tapi Raja menolak menemui Yeong dan malah menyuruh pengawal untuk mengurung Yeong di dalam rumah.



Tak hanya Yeong yang khawatir, Yoon Sung pun juga khawatir memikirkan nasib Ra On yang ada di penjara. Kasim Jung menghibur kasim Jang yang terus kepikiran akan Yeong. Tapi menghiburnya basa-basi, karena ia malah mengatai Yeong yang bermasalah dan sebentar lagi pasti gelar Putra Mahkota akan dicopot karena meributkan masalah satu kasim saja. Tentu saja Kasim Jang membela Yeong.

Tapi Kasim Jung malah menantang, jangan-jangan gosip yang beredar itu benar, kalau Yeong punya selera yang beda.  Kasim Jang meluap marahnya dan tak akan tinggal diam jika Kasim Jung menyebarkan gosip tak benar itu.

Kasim Ma yang mendengarkan perdebatan itu mengkoreksi kalau Yeong itu tidak gay. “Tapi orang lainnya itu mungkin yang bukan pria.”

Kasim Jang penasaran dengan ucapan temannya. Dan Kasim Ma sudah mau bergosip, jika Yoon Sung tidak muncul dan meminta untuk ikut dengannya.


Yoon Sung membawa Kasim Ma ke ruangannya dan bertanya apakah Kasim Ma yang menugaskan Ra On untuk bertugas di wisma Utusan Qing. Kasim Ma membenarkan, karena kasim yang bertugas sedang berhalangan. Yoon Sung membuka kotak berisi pistol untuk ditunjukkan pada Kasim Ma.. Pistol itu selalu ia bawa saat di Qing. Namun tiba-tiba ia mengarahkan pistol itu ke arah Kasim Ma.

Kasim Ma terkejut melihat pistol itu terarah padanya. Yoon Sung menyuruh Kasim Ma menutup mulut tentang Kasim Hong. Kasim Ma tersenyum licik, apa Yoon Sung mengetahui rahasia yang ia tahu?

Dor! Kasim Ma menjerit mendengar tembakan pistol. Tapi ia masih hidup. Ternyata pistol itu tak berpeluru. Yoon Sung memperlihatkan peluru itu dan dengan nada paling dingin ia berkata, “Jangan cari tahu, jangan beritahu. Mulai sekarang, jika ada orang yang mengancam untuk menguak rahasia Kasim Hong, aku akan membunuh mereka, siapapun orangnya. Sekarang hanya tersisa satu peluru lagi. Aku berniat menyimpan peluru ini, hanya untukmu.”


Yeong Gyu dan Dong Ki diam-diam mengunjungi Ra On untuk melihat keadaannya. Ra On tercenung saat tahu kemungkinan Yeong akan diturunkan tahtanya.  Belum sempat mereka bicara, penjaga muncul dan mengejar mereka. Untung bisa kabur.


Byung Yun melaporkan kalau Utusan Qing akan berangkat lusa jam 8, sementara belum ada kabar mengenai kedatangan Inspektur Qing.  Yeong meminta Byung Yun untuk menemukan bukti yang bisa melemahkan Utusan Qing. Byung Yun teringat akan buku yang sempat ia ambil, tapi ia tak memberitahukan hal itu.


Yeong tiba-tiba bertanya berapa orang yang berjaga di depan kamarnya? Apa Byung Yun bisa membuka jalan untuknya?


Dan berikutnya kita melihat sosok pria berbaju Putra Mahkota melompat dengan lincahnya keluar kamar dan melompati tembok. Kasim Jang berteriak kalau Putra Mahkota telah kabur. Semua penjaga berlari mengejar, tapi Kasim Jang hanya diam di tempat dan celingak-celinguk, melihat situasi.


Seseorang memasuki penjara dan membuka gembok sel Ra On. Ra On terpana melihat kedatangan Yeong yang memakai baju Byung Yun, duduk di sampingnya dan melemparkan kunci gembok ke luar sel. Kenapa Yeong ada di sini?

“Aku akan seperti ini selama 1 jam ke depan,” jawab Yeong pendek. Aww.. di luar Byung Yun berjaga di luar. Para penjaga semuanya dibuat pingsan olehnya. Ra On meminta Yeong kembali saja, karena tak seorangpun boleh menengoknya. “Apa kau lupa kalau aku ini adalah Putra Mahkota?”

“Maka dari itu. Kau tak boleh menyalahgunakan kekuasaan sebagai Putra Mahkota hanya karena seorang kasim.”

“Kau boleh menyalahgunakan kekuasaan, kok. Kalau kau adalah Putra Mahkota,” jawab Yeong sambil nyengir. Ra On tak kuasa untuk tak tertawa mendengarnya. Yeong senang melihat Ra On bisa tertawa lagi. Ia menatap Ra On lama, namun kemudian ia mengalihkan pandangannya.


Ra On merasa kalau Yeong masih marah padanya. Tapi Yeong bukan marah karena Ra On, “Tapi aku marah pada diriku sendiri karena tak dapat menahan marahku setiap aku melihatmu. Berjanjilah padaku, mulai sekarang, apapun yang terjadi kau tak akan bertahan demi orang lain. Apalagi demi diriku.”

Ra On mulanya enggan, tapi Yeong memaksanya untuk berjanji tak akan melakukan hal ini lagi. Setelah terdiam cukup lama, Ra On pun berjanji. Yeong tersenyum lega.


Utusan Qing yang merasa dipermalukan sebagai perwakilan Kaisar, sangat marah. Ia tahu sulit untuk membawa membawa Putra Mahkota ke Cina, oleh karena itu ia berniat untuk membawa kasim Hong dan menghukumnya sesuai hukum Qing. 

Yoon Sung yang mengikuti perundingan itu marah dan menolak tuntutan itu. Tapi Menteri Han yang memimpin perundingan itu, sepertinya menyetujui hal itu.


Yoon Sung memutuskan untuk pergi ke Donggeunjong. Tapi Byung Yun sudah menghentikannya di depan pintu dan bertanya ada urusan apa Yoon Sung kemari. Yoon Sung datang sebagait teman dan bertanya apa Byung Yun harus memperlakukannya seperti orang asing? Byung Yun menurunkan pedangnya dan bertanya kembali tapi dengan bahasa banmal seperti mereka kecil dulu.


Mulanya Yoon Sung bertanya apakah ada yang bisa ia bantu. Tapi ia langsung mengubah pertanyaannya dengan, “Aku butuh bantuanmu.”

Sementara Ra On terus teringat bagaimana Yeong menyelamatkannya malam itu dan betapa marahnya Yeong saat itu. Semua prebuatannya malam itu membuat Yeong mungkin akan diturunkan. Janjinya untuk tak mau menderita demi Yeong, membuat dia lmenghela nafas panjang.



Tiba harinya Ra On untuk berangkat ke Qing. Kasim Utama khusus menemuinya, untuk minta maaf karena nasib Ra On akhirnya jadi begini. Bahkan Putra Mahkota sudah berlutut di lantai dingin demi meyelamatkan Ra On. Ia bertanya apakah Ra On masih memiliki keluarga? Ia akan membantu menghubungi anggota keluarga Ra On.

Ra On menggeleng. Dulu saat perang saudara, ia ditemukan oleh seseorang yang akhirnya membesarkannya tapi ia tak tahu dimana keberadaannya. Kasim Utama terlihat tertarik saat mengetahui kalau Ra On adalah korban dari perang saudara 10 tahun yang lalu dan terpisah oleh ibunya. 


Kasim Utama bertanya berapa umur Ra On saat itu. Ra On menjawab 18 tahun. Kasim Utama terlihat berpikir dalam-dalam saat mendengar angka itu.


Ra On digiring dan diikat tangannya. Utusan Qing senang melihatnya dan menyuruh untuk segera berangkat. Tiba-tiba ada panah melesat dan menancap ke tandunya. Semua terkejut, termasuk Ra On karena menyadari kalau Putra Mahkotalah yang menghadang mereka.


Yeong menghunus pedang ke tandu Utusan Qing dan menyuruh mereka untuk meninggalkan Ra On sekarang juga. Tapi Perdana Menteri Kim dan kroninya muncul dan mengentikan Yeong. Beraninya Yeong mengancam Utusan Qing hanya karena seorang kasim.

“Kau benar. Tak seorangpun bisa mengambil apa yang menjadi milikku, jadi aku sekarang sangat kesal. Lepaskan dia sekarang juga!” seru Yeong.

Perdana Menteri Kim menghardiknya yang hanya memikirkan seorang rakyat saja. “Paduka harus memikirkan banyak rakyat yang hidup dalam ketakutan karena Pangeran yang kekanak-kanakkan!”
Yeong menjawab sinis, “Ketakutan rakyat adalah senjatamu yang nomor satu, kan? Kalau kau menginginkan sesuatu, kau menggunakannya sebagai pedang, dan jika kau takut kau akan menggunakan mereka seperti perisai. Benar, kan?”

“Sampai kapan kau bersikap kekanak-kanakkan seperti ini? Jatuhkan senjatamu sekarang juga!”

Keduanya bergeming sama sekali, hingga terdengar suara, “Hamba akan pergi.”


Yeong menatap marah pada Ra On. Apakah Ra On sudah lupa janji yang mereka buat sebelumnya? Ra On ingat kalau ia tak akan lagi menahan penderitaannya, apalagi demi Yeong. Jadi ia sekarang yang akan meminta Yeong untuk bertahan, “Bukan demi hamba tapi demi seluruh rakyat. Karena Paduka adalah Putra Mahkota.”

Yeong melihat mata Ra On berkaca-kaca dan tentara mulai mengepung mereka. Ia menyuruh mereka untuk mundur, tapi para tentara tak bergerak.


Semuanya menunggu Yeong, tapi Yeong hanya terus memandang Ra On yang berusaha keras menahan tangisnya. Yeong tak bergerak sedikitpun.


Byung Yun akhirnya muncul, dan Yeong pun menjatuhkan pedangnya. Utusan Qing tampak puas dan menyuruh mereka segera berangkat. Ra On berjalan dan dalam hati mengucapkan selamat tinggal pada Yeong.

Perdana Menteri Kim dan para menterinya tersenyum menang.

Di sepanjang perjalanan, Ra On berjalan dengan kaki telanjang dan badan terikat. Di tengah hutan Utusan Qing menghentikan perjalanan, dan dengan membawa beberapa tentara, ia pergi ke suatu tempat.


Perdana Menteri Kim dan Menteri Jo membicarakan Yeong yang mirip dengan Raja saat muda dulu, ingin melakukan perubahan dan inovasi, tapi ternyata hasilnya biasa-biasa saja. Menteri Jo berkata kalau inovasi selalu muncul seiring dengan resiko.

Perdana Menteri Kim berkata kalau Joseon berdiri dengan golongan sadaebu sebagai pilar utama. Jadi jika seorang Raja mulai berpikir sebagai Raja, maka saat itulah menjadi berbahaya.


Menteri Jo memikirkan ucapan Perdana Menteri Kim hingga tak sadar kalau ikan sudah memakan umpannya dan lepas. Mereka tertawa. Perdana Menteri Kim meminta Menteri Jo untuk memberikan kekuasaannya demi kelangsungan hidup rakyat dan Joseon dan menawarkan untuk berbesan.


Utusan Qing ternyata melakukan perdagangan ilegal dengan menjual sebagian upeti pada pedagang pasar gelap. Belum selesai mereka bertransaksi, tiba-tiba beberapa pengawal terpental dan muncullah Byung Yun.


.. dan Yeong yang tersenyum di belakangnya. Dengan nada usil, Yeong berkata, “Aku sebenarnya tadi sudah menyiapkan hadiah perpisahan, tapi lupa memberikannya.” Para pengawal mengeluarkan pedangnya, diikuti oleh Yeong. Byung Yun berkata kalau ia akan menghadapi mereka sendiri dan meminta Yeong mundur. Tapi Yeong menjawab santai, “Harusnya kau mengatakan hal itu sebelum aku mengeluarkan pedangku.”


Byung Yun pun menyerang maju. Ada beberapa pengawal yang lolos dan menyerang Yeong. Tapi Yeong bisa menangkis dan mengalahkan mereka semua sama mudahnya seperti serangan Byung Yun.
Utusan Qing ketakutan dan mencoba kabur, tapi Byung Yun melempar belatinya ke arah Utusan Qing, tepat di atas kepala Utusan Qing dan menancap di tiang. Utusan Qing itu terduduk ketakutan.

Di tempat lain, Yoon Sung muncul dengan seseorang berseragam kerajaan Cina, membuat semua tentara tertunduk.


Yeong bertanya sopan, apakah Utusan Qing menyukai hadiah perpisahannya? Ia bertanya pada Byun Yun apakah setelah ini Utusan Qing akan diasingkan karena kedapatan mencuri upeti, bahkan menjualnya secara ilegal. Byung Yun mengkoreksinya, biasanya yang kedapatan hal itu akan dibunuh.

Walau gugup, Utusan Qing menjawab kalau ia akan menjelaskan pada Kaisar kalau ia dijebak dan tentu Kaisar akan lebih percaya padanya. Yeong juga sadar akan hal itu, karena itu ia membawa seorang saksi.


Dan muncullah seseorang yang tadi dibawa Yoon Sung. Ternyata dia adalah Inspektur Qing.


Byung Yun diam-diam mengangguk pada Yoon Sung yang bersembunyi di balik pohon. Kita kembali ke beberapa waktu sebelumnya. Yoon Sung ternyata memberikan rute perjalanan Inspektur Qing pada Byung Yun, yang kemudian diberikan pada Yeong berikut dengan buku dagang yang ia sembunyikan. Dengan peta itu, Byung Yun berhasil menemukan keberadaan Inspektur Qing dengan penambahan waktu yang diberikan Yeong dengan cara menghadang Utusan Qing tadi pagi.


Ahh.. jadi tiga sahabat masa kecil bekerja sama untuk menyelamatkan Ra On.


Utusan Qing mencoba membela diri, mengatakan kalau semua ini adalah salah paham tapi Inspektur Qing menjawab kalau Utusan Qing akan membayar semua ini dengan nyawanya.


Ra On sedang duduk terikat di sebuah pohon, saat dua tentara yang berjaga mendadak mati kena panah. Mulanya ia ketakutan hingga ia melihat seseorang berjalan mendekatinya, wajahnya tertutup oleh bendera yang berkibar. Dan Ra On terpana, begitu melihat kalau pria itu adalah Yeong.


Yeong menebas tali yang mengikat Ra On ke pohon, berlutut di hadapan Ra On. Dipandanginya Ra On dari atas ke bawah, melihat kaki Ra On yang lecet-lecet penuh darah. Ia membuka ikatan tali Ra On dan semakin kalut saat melihat tangannya pun juga berdarah karena tali yang mengikat sangat kencang.


Ra On tak percaya mendengar kalau ia sudah bisa pulang sekarang. Ia sudah bebas. Yeong tersenyum dan mengangguk. Ra On terisak, ia sudah takut akan dibawa pergi selamanya. Yeong mengaku kalau iapun merasa takut kalau ia sudah terlambat. Tapi dari senyumnya, Yeong memastikan kalau semua baik-baik saja.


Byung Yun membawakan kuda Yeong. Ra On pun naik kuda bersama Yeong. Setelah mereka berdua ada di atas kuda, Yeong mengungkit kejadian tadi pagi. “Beraninya kau ingkar janji padaku. Kalau kita sudah sampai di istana, bersiaplah untuk menerima hukuman.”

Ra On kaget, apakah ia bisa kembali ke istana? Bukankah sebelumnya Yeong tak bisa menahan kemarahannya saat Yeong melihatnya? Yeong menjawab kalau sampai sekarangpun ia masih merasakan hal yang sama. “Saat aku melihatmu, aku jadi marah. Tapi aku tak tak tahan, karena sejak aku tak bisa bertemu denganmu, aku menjadi semakin marah hingga rasanya seperti mau gila.”


Ra On terpana dan menoleh pada Yeong. Yeong menatap mata Ra On dan meminta, “Jadi, tetaplah selalu di sisiku.” Keduanya saling berpandangan, hanyut dalam dunia mereka sendiri.

Dan Yeong menghela kudanya, bersama-sama dengan Byung Yun kembali menuju istana.

Bersambung ke Episode 7


No comments :

Post a Comment