September 6, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 5 - 2

Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 5 - 2

Utusan Qing meminta pendapat Perdana Menteri Kim. Apakah setuju jika Putra Mahkota Yeong menjadi pejabat sementara menggantikan Raja? Perdana Menteri Kim setuju, tapi tidak sekarang. Semuanya tertawa, setuju dengan pendapat Perdana Menteri Kim.



Yoon Sung yang hadir dalam pertemuan ini, pamit pergi untuk mengurus acara berikutnya. Kakeknya memperhatikan sikap Yoon Sung ini. Sementara Kasim Ma diam-diam mendengarkan percakapan mereka.


Yoon Sung ternyata kembali ke wisma tempat tinggal Ra On, Jahyeondang. Bukan untuk menunggui Ra On, tapi mengingat masa kecilnya.


Ya, masa kecilnya ternyata dihabiskan di tempat itu bersama Yeong dan Byung Yun. Ia tersenyum senang mengingat betapa mereka bermain bersama, tak terpisahkan. Saling memberi semangat, saling bercanda.


Yeong muncul, tampak tak suka akan kehadiran Yoon Sung. Yoon Sung bertanya apa Yeong sering datang kemari. Yeong mengiyakan. Ia kan kerjanya hanya tidur dan main. Yoon Sung pun bertanya, “Kalau begitu, kenapa kau menerima tawaran menjadi pejabat sementara menggantikan Raja?”


“Apa kau ingin tahu?” kali ini Yeong tak tampak main-main dan berjalan menghampiri Yoon Sung. “Karena aku ingin membersihkan Joseon dari semua musuh.”

Ucapan itu tampak menohok Yoon Sung. Dan itu membuat saya bertanya-tanya apakah hal ini penyebab Yeong memusuhi Yoon Sung? Apakah Yoon Sung pernah kedapatan memiliki niat berkhianat?


Yeong memandangi kepergian temannya. Ternyata yang masih mengingat kenangan masa kecil itu tak hanya Yoon Sung. Yeong ingat saat belajar bersama dulu, guru mereka pernah bertanya. Jenis hubungan apa yang akan mereka lakukan saat besar nanti. Garis vertikal, yang menandakan atasan dan bawahan atau garis horisontal, yang berarti setara seperti teman.


Saat itu Yoon Sung membuat tanda tambah, yang berarti ia akan menjadi teman dan juga bawahan di saat yang sama. Teman yang akan menghentikan langkah Raja jika mengambil jalan yang salah dan sekaligus menjadi bawahan yang akan membantu langkah raja. “Seumur hidup saya, saya akan menjadi teman dan bawahan Yang Mulia.”

Yeong tersentuh mendengar ucapan Yoon Sung. Ia berkata dengan memiliki teman yang baik dan bawahan seperti Yoon Sung, ia percaya akan menjadi Raja yang hebat. Dan keduanya saling tersenyum satu sama lain.


Ra On mengintip ke ruangan Yoon Sung dan terlihat lega melihat ruangan itu kosong. Padahal Yoon Sung baru datang dan ada di belakangnya, mengagetkan Ra On. Hahaha.. Yoon Sung tersenyum geli melihatnya.


Yoon Sung bisa menebak kalau kedatangan Ra On adalah untuk mempertanyakan nama Dong Ki yang dicoret dan diganti dengan kasim Ma sebagai kasim bertugas melayani Utusan Qing. Yoon Sung juga merasa keanehan itu dan memang berniat mengirim orang ke Komite Disiplin Kasim.

Ra On berterima kasih walau merasa malu karena terus dibantu. Yoon Sung merespon, “Jadi terima kasihnya hanya basa-basi?”

“Hah? Apa?” Ra On pun sadar. “Bagaimana aku harus membalas semua kebaikanmu?”














Yoon Sung terlihat berpikir dan kemudian mendapat jawabannya. Ia dengar kalau Ra On mendapat cuti khusus di hari Chuseok. Ia minta waktu setengah hari Ra On untuk pergi bersamanya. Ra On menolak karena ia sudah punya rencana sendiri. Tapi Yoon Sung bersedia menunggu sampai Ra On selesai dengan urusannya. Ra On terdiam dan Yoon Sung menganggap diamnya Ra On sebagai tanda ya.


Yoon Sung kemudian mengambil kotak berisi pil dan memberikannya pada Ra On. Tapi Ra On menjawab kalau Yeong sudah memberikannya satu hari ini. Yoon Sung terkejut mendengar Yeong memberi obat. Tapi Ra On berkata kalau Yeong memberikan obat itu agar ia tak menularkan penyakitnya. “Ia bahkan meneriakiku untuk jauh-jauh darinya.”


Putri Myeung Eun bersama dayangnya, mendatangi ayunan tempat dulu katanya Tuan Jung bertemu dengannya pertama kali. Dan kita baru tahu apa yang membuat Putri Myeung Eun emosi hingga berdiri dan membuat Ra On tercebur di danau.


Jadi saat itu Putri Myeung Eun memang bermain ayunan. Tapi hari itu ia tak sakit. Ia ingat kalau saat itu dayangnyalah yang batuk-batuk. Hahahaha … kasihan sekaligus lucu. Jadi Myeung Eun berpikir kalau Tuan Jung itu naksir dayang dan bukan dirinya. LOL. Pantes saja dia marah.


Putri Myeung Eun menatap dayangnya dengan kesal. Dayang yang tak tahu apapun, melihat mood putri yang jelek, mengajaknya untuk menerbangkan lampion. Ahh.. hari itu ternyata adalah Hari Raya Chuseok.


Mereka tak menyadari kalau Tuan Jung juga datang ke ayunan itu, sedih dan merasa kalau Putri Myeung Eun pasti sudah melupakannya. Pelayannya menjawab, “Tentu saja. Kan Tuan Muda sudah tak pernah menulis surat lagi padanya.” LOL.

Sambil duduk di ayunan, Tuan Jung mengucapkan harapannya agaria bisa bertemu sekali lagi dengan Putri Myeung Eun.


Perdana Menteri Kim kedatangan tamu, mantan Gubernur Gyeongsang yang menjadi Menteri Pendidikan, Jo Man Hyung, yang juga sahabat lamanya. Perdana Menteri Kim memperkenalkan Yoon Sung pada Menteri Jo. Menteri Jo mengenali Yoon Sung yang sangat terkenal hingga ke Gyeongseong. Perdana Menteri Kim berkata kalau kepopuleran Yoon Sung belum bisa mengalahkan putri Menteri Jo yang cantik.

Hmm… apa mereka mau dijodohkan, ya?

Yoon Sung yang sudah ingin pergi karena janji pergi dengan Ra On, mencoba pamit dengan alasan memberi ruang bagi para tetua untuk temu kangen. Tapi Perdana Menteri Kim melarang Yoon Sung pergi dan tetap tinggal di sini. Dengan terpaksa, Yoon Sung mematuhi perintah kakeknya.


Walau masih siang, kota sudah dipenuhi dengan lampion. Bukannya menikmati keramaian kota, Ra On hanya berdiri, celingukan seperti menunggu seseorang. Astaga.. apa Ra On sedang menunggu kedatangan ibunya? Sepertinya tempat dia berdiri adalah tempat terakhir kali ia bertemu dengan ibunya. Dan apakah setiap tahun Ra On melakukannya?


Hari sudah senja, dan Yeong berdiri menatap kota. Ia teringat rintihan Ra On yang terus bermimpi hari dimana ia berpisah dengan ibunya, karena di hari itu setidaknya ia bertemu dengan ibunya.


Dan kita melihat apa yang terjadi di hari setelah ibu Ra On meninggalkannya. Ra On kecil menangis mencari ibunya. Dan ia mengusap matanya, memandang ke depan..


Kita kembali ke masa kini, dengan Ra On yang berdiri menatap arah yang sama. Dalam bayangannya di depannya ada sosok ibunya, tersenyum memandangnya.


Namun ia tersadar, karena sosok ibu itu tergantikan .. menjadi Yeong yang berdiri di depan dan berjalan ke arahnya.


Ra On berkaca-kaca melihat Yeong, larut dalam perasaannya. Yeong mendecih, heran melihat cara Ra On menghabiskan waktu cutinya. Ia mengira sekarang Ra On sedang bersenang-senang. Tapi apa coba yang dilakukan Ra On sekarang?


Ra On berkilah kalau ia bersenang-senang. Yeong mengolok, mungkin seperti ini memang cara anak anjing bersenang-senang. Bermain dengan salju, melihat cahaya di langit..

“Kau sendiri juga bilang tak mau pergi keluar. Terus sekarang apa yang sedang kau lakukan?” Ra On ganti mengolok. “Tanpa pengawalan pula.”


“Aku kan bersamamu,” jawab Yeong santai. Tapi Ra On berkata kalau ia ada janji ketemu orang. Yeong tak percaya. “Anggap saja kau memang akan bertemu dengan seseorang.”

Ra On akhirnya menyerah. Yeong tersenyum melihatnya. Apa Ra On memang berniat untuk berdiri di sini semalaman. Waktu liburan Ra On hanya tersisa 4 jam saja. Ia mengajak Ra On pergi. 


Tapi Ra On tak mau beranjak. Ia sudah mulai mengucapkan berbagai alasan, tapi Yeong merangkul lehernya, memitingnya dan meremas pipinya, “Astaga.. kau ini tak pernah bisa patuh. Apa sih yang diajarkan Kasim Jang pada anak-anak magang ini?”

Dan Yeong menarik Ra On dan mendecakkan lidahnya, seperti memanggil anjing. Hahaha… mong-mong beneran nih..


Yeong membawa Ra On ke riuhnya kota. Melihat kembang api yang berpijar, menonton pertunjukkan seni, Mereka tertawa bersama, sepertinya ingat saat mereka pertama kali bertemu dulu. 


Ra On mencoba memanah salah satu boneka. Tapi gagal walau sudah dibantu oleh Yeong.  Ia mencoba lagi, dan mulanya ia mengira gagal lagi. Tapi ternyata ada panah yang mengenai salah satu boneka!


Ra On menoleh girang pada Yeong. Hahaha.. ternyata bebarengan dengan panah yang ia tembakkan, dari belakang Yeong juga menembakkan panah dan kena! Tapi Yeong mengangkat bahu, pura-pura tak tahu. Aww..

Akhirnya Yoon Sung berhasil keluar dari rumah dan mulai mencari-cari Ra On. Tapi ia tak kunjung menemukan gadis itu.


Yeong berjalan dan bertemu dengan seorang gadis kecil yang menjual lampion buatannya sendiri. Yeong yang tak berniat membeli lampion, memberikan uang kepada gadis itu. Tapi gadis itu tak mau, ia menjual lampion dan tidak mengemis. Yeong minta maaf dan bertanya apa yang gadis kecil itu harapkan jika bisa menerbangkan lampion.

Gadis itu berkata kalau ia berharap bisa bertemu dengan Raja. Yeong tersenyum mendengar permintaan itu. Memang apa yang akan dilakukan jika gadis itu bertemu dengan Raja. Gadis kecil itu berkata kalau ia akan meminta Raja untuk menjadikan Joseon menjadi kerajaan yang lebih hebat.

Senyum Yeong semakin lebar saat bertanya apa yang menjadikan sebuah kerajaan itu hebat? Gadis itu tak punya jawabannya, tapi dengan cerdik ia menjawab, “Kupikir Raja pasti lebih tahu karena ia peduli pada rakyatnya.”


Yeong tersenyum dan membelai rambut gadis kecil itu. Percakapan mereka terhenti karena ada seorang gadis, Jo Ha Yeon, yang berniat membeli lampion. Tapi Ha Yeon ternyata kehilangan dompetnya. Melihat hal itu, Yeong berkata akan membeli semua lampion yang dijual gadis kecil itu.
Ha Yeon terkejut tapi merasa kege-eran dan berkata, “Ah.. kau tak perlu melakukan hal itu.”


Yeong menoleh cuek pada Ha Yeon. Pada gadis kecil itu, ia berkata kalau ia akan mengambil satu lampion saja dan sisanya diberikan pada gadis kecil itu. Gadis kecil itu bisa menuliskan harapannya di lampion itu. Ha Yeon membenahi tatanan rambutnya, bersiap untuk diberi lampion oleh Yeong.


Tapi Yeong hanya berkata,  “Dan sisanya, berikan pada mereka yang tak mampu beli.” Yeong memberi kode pada gadis kecil itu untuk memberikan pada Ha Yeon. Hahaha.. Ha Yeon gondok disebut ga mampu beli. 

Ia menatap punggung Yeong yang menjauh pergi, namun akhirnya tersenyum.


Tuan Jung berpapasan dengan Putri Myeung Eun. Saat sadar, ia terbata-bata memanggil Myeung Eun. Kedua gadis itu menoleh pada Tuan Jung yang menatap penuh kerinduan. Tapi tatapan mereka malah tatapan ketakutan. Tuan Jung berjalan menghampiri mereka, tapi kedua gadis itu malah lari.


Tuan Jung terduduk lemas, kecewa.. dan kita melihat Yeong berdiri di belakangnya. Hahaha.. ternyata yang ditakuti Myeung Eun bukanlah Tuan Jung, melainkan kakaknya. 


Yeong yang melihat adiknya lari terbirit-birit hanya terkekeh geli.


Myeung Eun menangis menyadari lampionnya hilang. Sementara Tuan Jung yang menemukan lampion Myeung Eun menerbangkannya dengan harapan agar mereka bisa bertemu lagi.

Sedangkan harapan Myeung Eun adalah agar ia bisa secantik gadis itu. Ah.. poor Myeung Eun, merasa tak pede dengan dirinya sendiri.


Raja melihat lampion yang berterbangan itu dan menyadari kalau semua harapan yang terbang itu ditujukan untuknya, sementara ia sendiri tak bisa menerbangkan lampionnya. 


Ia meminta pada kasim untuk mengabulkan permintaannya. “Jagalah Putra Mahkota. Bantulah dia dan bimbinglah dia, sehingga ia tak pernah kalah atau tunduk seperti yang aku, Raja bodoh ini, lakukan.”


Luka Byung Yun sepertinya berkaitan dengan pria yang ia temui malam ini. Ia mendapat jadwal dan jalur keberangkatan Utusan Qing yang membawa upeti dari Joseon yang jumlahnya tak terhingga itu. Upeti itu didapat dari hasil keringat rakyat dan harus dikembalikan ke rakyat pula. Melihat keraguan Byung Yun, pria itu bertanya apakah Byung Yun takut kalau nanti Putra Mahkota yang akan disalahkan?

Byung Yung meminta agar mereka menunggu hingga Putra Mahkota memberi keputusan. Tapi pria itu mengingatkan siapa Byung Yun sebenarnya dan bukan teman Putra Mahkota.


Ra On menatap lampion yang berterbangan dengan mata berkaca-kaca saat Yeong muncul dari belakang. Melihat mata Ra On, Yeong tahu apa yang diingikan Ra On. 


Ia mengulurkan lampion dan Ra On tersenyum penuh haru.


Ra On sudah kembali ceria dan meminta Yeong menulis harapannya, tapi Yeong tak mau. Tapi Ra On memaksa, “Kalau satu dari harapan kita yang akan terwujud, akan lebih baik kalau harapanmu yang menjadi kenyataan.” Yeong pun mengikuti saran Ra On.


Akhirnya Yoon Sung menemukan Ra On. Tapi wajahnya menjadi suram saat menyadari kalau Ra On ternyata bersama Yeong.


Yeong dan Ra On sama-sama memegang lampion. Dan ketika Yeong melihat Ra On yang sebagian wajahnya tertutup lampion, ia terpaku. Wajah itu, mata itu mengingatkannya pada gadis penari misterius. Lamunannya terhenti karena terdengar aba-aba untuk menerbangkan lampion.


Lampion warna-warni berterbangan di kegelapan malam. Bersiap-siap menerbangkan, Ra On berkata kalau ia berharap agar harapan Yeong dapat menjadi kenyataan. Dan lampion itu terbang, memperlihatkan harapan yang ditulis Yeong di sana.


Aku berharap Kasim Hong akan menemukan ibunya.


Ra On terpana membaca harapan itu. Apakah itu memang keinginan Yeong? Yeong membenarkan, “Harapanku adalah membuat harapanmu menjadi kenyataan.”

Aww… mendadak merasa menjadi Olaf yang tidak keberatan meleleh di musim panas demi Elsa dan Anna..


Yoon Sung merasa kecewa. Ia sudah berhasil menyembunyikan Ra On dari Yeong saat turun hujan, dan ia juga berbagi rahasia bersama Ra On.


Sementara itu, Ra On mulai berpikir dan menanyakan apa yang mengganggu pikirannya. Darimana Yeong tahu kalau ia sedang mencari ibunya? Yeong tak menjawab, hanya terus menatap Ra On, membuatnya jengah. Kenapa Yeong menatapnya seperti itu?


“Aku tahu yang kukatakan ini sepertinya tak masuk akal.  Entah mengapa aku terus melihat orang lain dalam dirimu.” Ra On bertanya ragu, orang lain? Yeong menjawab lirih, “Seorang wanita.”


Ra On terbelalak, tak tahu harus menjawab apa. Apalagi Yeong terus memandanginya. Ra On semakin merasa canggung, dan kita seperti mendengar otak Yeong yang berpikir..


Hingga seseorang memanggil nama Ra On. Ternyata Yoon Sung yang minta maaf pada Ra On karena keterlambatannya. Ia memberitahu Yeong kalau ia ada janji dengan Ra On dan sekarang akan mengajaknya pergi.

Ra On melihat Yoon Sung memberinya kesempatan untuk menghindari pertanyaan Yeong, dan meminta ijin pada Yeong untuk pergi.


Tapi Yeong mencekal tangannya dan berkata, “Aku tak memberi ijin.” Ia menarik Ra On mendekat ke arahnya dan berkata pada Yoon Sung, “Dia adalah orangku.”

Komentar :


Wahh… entah kenapa pas ngeliat akhir episode ini seperti merasa Yeong membalas Yoon Sung atas kejadian saat hujan itu. Apakah saat ini Yeong sudah bisa menyimpulkan kalau Ra On adalah penari itu dan gadis yang sama dengan yang dibawa Yoon Sung?

Di episode ini, ia sudah mulai mencurigai kalau Ra On adalah gadis penari itu. Tapi seperti Kasim Ma yang heran bagaimana Ra On bisa lolos ujian fisik, tentu Yeong juga yakin kalau Ra On pasti sudah melewati ujian fisik sebelum menjadi kasim. Jadi seharusnya kasim yang ada disekitarnya pasti pria yang dikebiri.

Tapi kemiripan yang semakin dirasa dan tak ada bukti kalau Ra On itu cewek pasti akan sangat mengganggu Yeong. Entah apa yang terjadi dalam episode 6 nanti.



Saat melihat Ra On kecil menangis dan terdiam saat melihat satu sosok -yang saat dewasa seperti melihat ibunya, dan ternyata adalah Yeong- saat itu saya berpikir. Apa jangan-jangan Ra On kecil melihat Yeong kecil di jembatan itu?


Hahaha.. saya paling senang dengan kisah dimana seseorang sebenarnya sudah pernah bertemu dengan pasangannya jauh sebelum mereka bertemu dengan sekarang ini. Banyak sekali kan, cerita seperti itu. Moon Embraces The Sun, Healer, Six Flying Dragon, dan apa lagi, ya?

Jadi saya tak keberatan kalau hal ini juga terjadi pada Ra On dan Yeong.


Dan sudah berapa kali Yeong yang menghampiri Ra On? Saat memperkenalkan namanya, saat mendatangi Ra On di dalam penjara, saat berenang menyelamatkan Ra On, saat menghampiri untuk memasukkan obat, mendatangi Ra On saat sakit dan berjaga semalaman.

Sepertinya sebuah simbolis kalau sekarang ini, Yeong lah yang selalu mendatangi Ra On, menyelamatkannya, secara diam-diam maupun terang-terangan. Mungkin ada saatnya nanti Ra On yang mendatangi Yeong, menyelamatkannya. 

Selanjutnya : Preview Moonlight Drawn By Clouds Episode 6

7 comments :

  1. Episode slanjutnya g sbar nunggu,
    TOP bgt KYJ & PBG

    ReplyDelete
  2. Episode slanjutnya g sbar nunggu,
    TOP bgt KYJ & PBG

    ReplyDelete
  3. Awww...who loves...he comes first^^

    ReplyDelete
  4. mba lanjutkan! tiap habis nonton moonlight aku selalu mampir kesini sampai kadang bolang-balik kesini tiap jam ^^

    mba itu blogger favoritnya aku, suka banget sama sinopsis bikinan mba, singkat,padat dan jelas terus yang paling penting komentar mba tentang sinopsis drama yg mba bikin sinopsisnya ga terkesan menghakimi+menggurui+sok bijak nyantai aja gitu kalem ga banyak kritikan jadi makin suka bacanya~~

    soalnya pernah baca sinopsis bikinan blogger yang terkesan banyak kritikan+ada energi negatifnya gitu mba soal dramanya jadi kurang suka aku baca sinopsisnya. .

    mba aku ngarepnya juga gitu ra on pernah ketemu yeong di jembatan itu waktu kecil >_<

    oke mba lanjutkan episode 6nya aku dengan setia menunggu sinopsis buatan mba,
    semangat ya mba bikin sinopsis lanjutannya :)

    ReplyDelete
  5. Smakin suka ama drama ini. Apa mungkin ra on dulu pernah tinggal di dalam istana? Anak salah satu menteri yang difutnah dan dikejar-kejar?? Smakin penasaran...di mana ibu ra on skarang?

    ReplyDelete
  6. ckckck baru baca dan malah keinget so-ya di drama sebelah
    habis...yeong nyekal ra on dan bilang dia orangnya. kan so-ya juga gitu waktu soo dihukum yeon hwa ^^
    scene terakhir itu school banget ya, yang nonton mungkin inget waktu so hyun juga dicekal gitu sama joo hyuk aka yi ahn padahal mau dibawa pergi sung jae aka tae kwang
    swnim ya, belum lepas nih. second lead malenya masih dari idol :P
    cuma yang ini ada pasangannya kan swnim??? please...

    ReplyDelete