September 21, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 9 - 2


Ra On menemukan Putri Yeung Eun terduduk lesu di pojokan. Ia menyapanya dengan riang dan berniat cerita tentang kisah hidupnya. Tapi Yeung Eun tetap menekuri lengan bajunya. Menggunakan cara lain, Ra On menawari untuk mengajarinya dengan bahasa tangan.

Ra On mengacungkan jempolnya, memberitahu kalau itu tanda suka. Tapi Yeung Eun tetap menunduk sedih, membuat Ra On berhenti berkata dan menyadari perasaan Yeung Eun. “Lupakan, tidak apa-apa. Meski saya bertanya, Nona tak perlu menjawabnya. Sebenarnya.. saya juga banyak sekali rahasia.”



Kali ini Yeung Eun mendongak, menatap Ra On. Ra On merasa ia bisa memahami apa yang Yeung Eun rasakan. “Karena saya juga masih terperangkap. Saya berusaha keras untuk bersembunyi, khawatir ada orang yang membuka pintunya. Saya takut ketahuan, saya gemetar ketakutan. Kapan kita bisa membuka pintu itu dengan tangan kita sendiri dan melarikan diri?”
.

Yeong memanggil Perdana Menteri Kim dan memberitahukan niatnya untuk melanjutkan ujian nasional yang tertunda jadi para pejabat diminta untuk bekerja kembali di istana. Perdana Menteri Kim terlihat skeptis, tapi Yeong mengungkapkan alasan penundaan ini karena ingin pelaksaanan ujian bisa adil seperti di masa-masa lampau, bukan karena ingin melawan para pejabat senior.


Hati-hati Perdana Menteri berkata tidaklah baik kalau menangani masalah tanpa mengikuti prosedur. Tapi jika Yeong memang mengijinkan ujian berjalan sesuai proses yang yang sudah ada, para pejabat bersedia kembali ke istana dan melayani Yeong.

Yeong tersenyum dan menenangkan Perdana Menteri. “Aku akan melanjutkan pelaksanaan ujian mengikuti aturan dan prinsip yang benar yang sesuai kalian inginkan.”


Maka ujian pun berlangsung, dengan salah satu peserta adalah Tuan Muda Jung Duk Ho, teman Ra On. Pertanyaan yang diberikan pada ujian itu adalah Milik siapakah Joseon? Sebagian besar peserta tersenyum jumawa dan menarik kertas contekan dari dalam saku lengannya, dan mulai menyalin jawabannya.

Walahh.. sudah tahu pertanyaannya, jawabannya juga harus nyontek? Ga bisa menghafal, ya? Pantes Yeong membatalkan ujian.

Duk Ho bengong melihat peserta lain yang curang, tapi tak bisa berbuat apapun. Mendadak terdengar pengawal berseru, “Yang Mulia Putra Mahkota tiba!”


Semua orang kaget, termasuk Yoon Sung yang ikut mengawasi ujian. Yeong masuk diikuti oleh Kasim Jang yang membawa gulungan kertas ujian yang kemudian memberikan soal ujian pada pengawas. Gulangan pun dibuka, menutupi soal sebelumnya, dengan pertanyaan Melawan lawan : Bagaimana caramu meyakinkan mereka?

Semua terkejut melihat pertanyaan yang tak terduga ini, termasuk Duk Ho yang mulai berpikir.


Yeong mengumumkan kalau tak ada jawaban yang benar atau salah. Yang perlu mereka lakukan adalah meyakinkannya melalui pendapat mereka. “Aku akan menunggu jawaban segar dan beragam yang bisa mencerahkan masa depan Joseon. Ujian dimulai.”


Larut malam, Ra On masuk ke perpustakaan dan memandangi gelang abadinya. Perlahan ia melepas gelang itu dan menggenggamnya dengan penuh kesedihan. Ia menoleh karena mendengar suara langkah kaki dan terkejut karena melihat Yeong muncul di hadapannya.


Yeong tahu kalau Ra On menghindarinya. “Karena kau memahami diriku jauh lebih baik dari yang lain dan menghindar di saat dan waktu yang tepat, tak mungkin aku bisa menang jika kau memang memutuskan untuk bersembunyi.”

Ra On menjelaskan alasannya. Karena banyak mata dan telinga yang mengawasi Yeong, maka jika ia bersama Yeong maka tak ada ketenangan semenitpun.

“Tapi .. apa kau pikir aku bahagia tanpa kau di sisiku?”


Ra On merasa sedikit berguna saat ia berada di sisi Yeong dengan menjadi kasim. “Tapi sekarang tidak lagi. Jika Yang Mulia dalam bahaya atau terluka karena hamba. Hamba takut melangkah karena penuh dengan kekhawatiran.” Yeong maju, tapi berhenti karena Ra On mundur.


Ra On menaruh gelang pemberian Yeong ke atas meja. “Hamba tahu tak pantas bagi hamba meminta hal ini. Tapi jika diperbolehkan, biarkan hamba keluar dari istana.” Mata Yeong melebar mendengarnya. “Hamba akan hidup dengan baik, tak akan melupakan budi baik Paduka Yang Mulia. Maafkan hamba.”


“Apakah itu benar-benar keinginanmu?” tanya Yeong. Ra On mengiyakan. “Aku punya ratusan bahkan ribuan hal yang ingin kulakukan dan dapat kulakukan untukmu.. dan malah itu yang ingin kau lakukan? Melarikan diri dan hidup terasing tanpa melihatku.. apakah itu permintaan pertama dan terakhir yang bisa kau ucapkan padaku?!!”

Ra On menunduk, tak berani menatap Yeong, namun membenarkan. Yeong tersenyum penuh luka. “Sekarang aku mengerti. Kau boleh pergi.”

Ra On menahan air matanya agar tidak tumpah saat menatap Yeong namun ia berbalik pergi. Yeong mengambil gelang Ra On dan menggenggamnya.


Yeung Eun pergi ke sebuah ruangan kosong dan membuka sebuah lemari. Kenangan 3 tahun yang lalu membanjir dalam ingatannya.


Tiga tahun yang lalu, ia bermain petak umpet dan bersembunyi dalam lemari itu. Tiba-tiba seorang dayang masuk ruangan untuk bersembunyi, tapi beberapa saat kemudian pintu terbuka.


Perdana Menteri Kim muncul dengan dua pengawal, bertanya apa yang ingin diberikan dayang itu pada Putra Mahkota. Dayang bertanya apa ia tak boleh memberitahukan kebenaran pada Putra Mahkota? “Jika kau yakin bisa menyembunyikan kebenaran dengan membunuhku, maka lakukanlah maumu!”

Dan Perdana Menteri Kim mengisyaratkan pada salah satu pengawalnya yang langsung menancapkan pedang ke perut dayang itu. Yeung Eun menutup mulutnya, menangis diam ketakutan dari dalam lemari melihat pembunuhan di depan matannya.

Dengan maut di ujung nafasnya, dayang itu bersumpah tak akan meninggalkan tempat ini. “Akan kuungkap semua.. kematian Ratu… yang tidak adil..“


Yeung Eun semakin ketakutan saat melihat mata Perdana Menteri ke arahnya, curiga pada lemari yang tertutup itu. Perdana Menteri Kim mendekat dan terus mendekat. Yeung Eun sekuat tenaga menahan suaranya, tapi Perdana Menteri Kim sudah memegang pintu lemari..


.. namun terhenti karena mendengar suara dayang-dayang cilik yang mencarinya. Maka ketiga orang itu buru-buru meninggalkan ruangan, meninggalkan Yeung Eun yang masih tetap menahan suaranya agar tidak keluar, tetap merasa ketakutan.

Dan hari ini, Yeung Eun mencoba mengatasi rasa takutnya dengan membuka lemari itu. Tapi sepertinya hasilnya tak memuaskan, karena setelah itu kita melihat Yeong panik dan bergegas untuk menemui Yeung Eun.


Yeung Eun masih menangis saat ditanyai Ra On, kenapa pergi ke rumah itu. Tapi Ra On menenangkannya, Yeung Eun tak perlu menjawab pertanyaannya kalau tak mau. Yeung Eun mengambil bukunya dan menulis. Bukankah kau pernah berkata kalau kita dapat membuka pintu dengan tangan kita sendiri dan pergi keluar?


Ra On tersenyum menatap Yeung Eun. Di luar, Yeong terdiam melihat keduanya.


Ra On mengikuti Yeong pergi. Yeong mengaku kalau ia menyesal telah memberitahu Ra On kalau ia mengetahui rahasia gadis itu. Jika ia tahu Ra On akan melarikan diri setiap saat, seharusnya ia tetap pura-pura tak tahu. 


”Jadi aku tak perlu khawatir mengenai dirimu yang kasim atau wanita. Aku hanya perlu memikirkan bagaimana cara mempertahankanmu di sisiku lebih lama. Maafkan aku yang tak memahamimu lebih jauh.”


Ra On menunduk dan mengucapkan selamat tinggal. Tapi Yeong menyambar tangannya dan meminta, “Meskipun demikian, bisakah kau menahannya? Bukan di tempat lain.. tapi di sini.. di sisiku.”


Yay.. Duk Ho ternyata lulus dan menjadi pejabat. Walau begitu, ia tetap khawatir. Tapi pelayannya memintanya untuk tidak mengkhawatirkan apapun, kecuali gadis dari bukit bunga. Duk Ho tersentak dan tergagap-gagap menjawab kalau Putri itu tak mengenali wajahnya.


Dan tepat pada saat itu, muncul Putri Myeung Eun yang sudah langsing dan berjalan penuh percaya diri. Tapi baru berjalan beberapa langkah ia tersandung oleh roknya sendiri. Duk Ho mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.


Sesaat Myeung Eun terpesona namun ia segera tersadar dan memasang wajah ningratnya untuk kemudian berjalan pergi. Duk Ho mencemooh gadis yang menurutnya judes karena tajam di sana sini. “Yang benar, perempuan itu harus montok seperti Tuan Putriku.”


Haha.. bahkan pelayannya saja sampai bengong dan bertanya apa ada masalah dengan mata Duk Ho.


Yeong bertemu dengan Perdana Menteri Kim untuk membicarakan hasil ujian. Perdana Menteri mendengar kalau Yeong mengganti soal ujian dan meminta kertas jawaban secara langsung. Yeong memuji kemampuan keluarga Perdana Menteri. Bahkan dengan mengikuti prosedur yang benar, 7 dari 33 sarjana yang lulus adalah keluarga Perdana Menteri Kim.

Perdana Menteri Kim berterima kasih atas pujian itu. Yeong berjanji, mulai sekarang akan mengikuti aturan dan kebiasaan yang adil. Dan yang berbakat saja yang akan lulus menjadi kandidat
Perdana Menteri Kim mengangguk tanpa senyum.


Raja merasa lega karena masalah ujian telah selesai, semua pejabat kembali ke posisi masing-masing pula dan pertemuan di aula juga sudah berjalan. Ia tahu ia adalah Raja yang lemah dan bertanya pada kepala kasim alasan mengapa ia menjadi raja yang lemah. Karena ia tak memiliki orang. Tak satupun pejabat pemerintahan yang sungguh-sungguh menjadi orangnya. Semuanya adalah orang Perdana Menteri Kim.


Ia tak akan membiarkan Yeong mengalami nasib yang sama sepertinya. Mereka harus menciptakan orang-orang yang akan menjadi orang-orang Putra Mahkota. Karena itu ia memutuskan, “Kepala kasim.. siapkan pernikahan Putra Mahkota.”


Yeung Eun berlari sambil menarik tangan Ra On. Setelah itu ia meninggalkan Ra On seorang diri. Ra On bingung, tapi kemudian ia melihat Yeong sedang bicara dengan beberapa pejabat dengan kasim Jang cs yang mengekori Yeong.


Ra On membungkuk memberi hormat dan berbalik pergi. Tapi Yeong mengangkat tangannya, dan mengatupkan kedua tangannya seperti berdoa. Ra On mengenali isyarat itu.

Dan kita kembali ke waktu Yeung Eun memberitahu Yeong kalau Ra On telah mengajarinya bahasa isyarat. Yeong meminta Yeung Eun mengajarinya.


Ra On menerjemahkan gerakan Yeong. Aku suka kamu. Tidak.. aku mencintaimu.



Yeong melanjutkan isyaratnya dan berkata dalam hati. Jadi kumohon.. Ia mengatupkan kedua tangannya seperti berdoa.


Kita kembali saat Yeung Eun bertanya bagaimana tanda untuk mengatakan ‘jangan pergi’? Berpikir sebentar, Ra On pun punya ide. Ia membuka tangannya untuk kemudian mengatupkan kedua tangannya seperti berdoa.


Jangan pergi, tetaplah di sisiku.


Mata Ra On berkaca-kaca melihat permohonan Yeong yang sekarang menatapnya dengan tersenyum.
Kasim Jang sepertinya tak melihat Ra On, karena ia bertanya apa maksud Yeong mengatupkan kedua tangannya.  Yeong segera tersadar. Ia membuka telapak tangannya dan mendorongnya keluar, “Maksudnya menjauhlah dariku.”


Hahaha.. kasim Jang manut lagi dan menyuruh pasukannya untuk mundur.


Malam itu, Ra On membuka bungkusan hanbok berwarna ungu muda dan merabanya. Pertanyaan yang pernah ia lontarkan pada Yeung Eun kembali padanya. Kapan kita bisa membuka pintu itu dengan tangan kita sendiri dan melarikan diri?


Ia ingat jawaban ibunya saat ia bertanya kapan ia bisa hidup seperti perempuan pada umumnya. Sampai kau bisa melindungi dirimu sendiri. Saat kau sudah bisa tumbuh besar tanpa ibu. Saat itu hiduplah sebagai perempuan.


Ia teringat permintaan Yeong tetap bertahan dan berada di sisinya. Ia bertanya dalam hati, pada ibunya, apakah sekarang ia sudah boleh melakukannya. Selama 10 tahun tanpa ibu, ia sudah hidup dengan berani dan bisa melindungi diri sendiri. Dan ia tersenyum.


Yeong sedang membaca di taman bunga saat seorang gadis mendekatinya. Yeong mengangkat wajahnya dan terpesona menatap Ra On yang sekarang berdiri di hadapannya, tampak cantik dan malu-malu.


Ia menghampiri dan  bertanya, “Kau .. sebagai perempuan.. Bagaimana aku harus memanggilmu?”
“Hong Ra On, Yang Mulia.”


Yeong menyebut nama itu sekali lagi, merasakan nama itu di lidahnya. Dan kemudian ia tersenyum dan menyapa, “Ra On-ah..”

Ra on tersenyum mendengar sapaan itu.


Komentar:

Duh.. ketika Yeong menyebut Ra On dengan panggilan Ra On ah.. di belakang kepala saya sepertinya ada yang suara sama yang memanggil, “Deok Sun-ah.. Sung Deok Sun.”


Dan brak!! Pintu terbuka dan ada suara gadis dari dalam rumah yang berseru, “Namaku Soo Yeon,!! .. dasar bodoh..!!” 

Hahahaha… *abaikan*

3 comments :

  1. hahahaha .. mbak dee .. jangan jangan akun instagramnya yg kimchidrama_lovers bukan?
    komentarnya sama nih ... tentang cara pangilan Ra On dengan Sung Deok Sun

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. nggaaakk... kutudrama ga punya instagram. hihihi.. kuper ya.. jadi kepo kan liatin instagramnya kimchidramalovers. eh..tapi berarti ga cuman aku aja yang dengernya begitu. :D

      Delete
    2. owwh nga punya insta toh ... kirain ... owh iya berarti bukan lah yah hahaha iyaa berati bukan mbak dee aja yg beranggapan bgt ..hehehe iya mayan kepoin gambar aja walau blm ada sub..

      Delete