September 21, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 9 - 1


Ra On mundur selangkah, “Kau sudah tahu?” Yeong mengangguk. “Kalau begitu, saat di taman bunga itu..?” Yeong kembali mengangguk. “Apa kau ingin mengejekku saat mengetahui semuanya?”

Yeong tertegun melihat mata Ra On berkaca-kaca tersinggung.

Byung Yun kembali ke jangeondang dengan satu tujuan, mencari Hong Sam Nom seperti yang dikatakan ayah Ra On.



Yeong minta maaf. Bukan maksudnya untuk meremehkan Ra On, tapi karena awalnya dia merasa benci, tapi kemudian merasa senang dan setelah itu tak bisa mengatakan hal itu pada Ra On. Ia memegang lengan Ra On dan menjelaskan.

Selama ini, setiap ia duduk nyaman di tandu, Ra On berjalan kaki. Saat ia berjalan, Ra On berada di sebelahnya memegang payung sampai rasanya tangan hampir copot. Saat ia duduk di atas sutra, Ra On duduk di alas berdebu. “Mana mungkin aku bisa mengatakan kalau aku menghargaimu sebagai seorang wanita?”

Ra On menunduk dan menjawab hal itu wajar karena ia adalah kasim yang melayani Putra Mahkota. Yeong meraih tangan dan menggenggamnya, “Tapi ini tidak seharusnya dilakukan laki-laki pada kekasihnya. Mulai sekarang aku akan memperlakukanmu sebagai wanitaku yang paling berharga di dunia. Aku akan melindungimu saat diterpa angin ataupun sinar matahari. Aku akan menyayangimu. Bolehkah aku melakukannya?”


Ra On terharu mendengar pengakuan Yeong dan tak sadar meneteskan air mata. Yeong perlahan menghapus air mata itu dan tersenyum. 


Ketika mereka bertatapan, Byung Yun ada di depan pintu dan terbelalak kaget melihat kejadian ini. Walau begitu, ia diam-diam keluar ruangan.

Tapi Ra On kembali mundur dan mengakui kalau ia adalah seorang wanita tapi ia tak pernah hidup sebagai wanita. Yeong meyakinkan Ra On bisa melakukannya mulai sekarang tapi Ra On menggeleng. “Berada di sini, melakukan hal yang tidak seharusnya, hamba minta maaf. Agar hamba tidak menyulitkan Yang Mulia lagi..”


“Aku tidak menyalahkanmu,” potong Yeong. “Aku yang salah karena tidak menyadarinya dari awal, jadi..”


Tapi Ra On juga memotongnya, beralasan harus segera pergi karena tugas-tugas kasim sudah menunggunya. Tanpa menunggu jawaban, Ra On pergi.

Di luar, Ra On memandangi gelang pemberian Yeong, memikirkan kembali ucapan Yeong yang akan memperlakukannya sebagai wanita yang paling berharga. Sementara Yeong mengingat penolakan yang baru saja diucapkan Ra On. Keduanya tampak sedih ketika menoleh ke belakang.


Sementara Byung Yun menghadapi dilema dengan penemuan yang baru saja ia dapatkan dan melampiaskan emosinya dengan berlatih pedang. Yeong yang menginginkan ia menemukan Ra On lebih dulu daripada Perdana Menteri Kim. Perintah yang sama juga diberikan oleh pemimpinnya untuk mengumpulkan para pengikut yang tercecer. Tapi Ra On yang dicari ternyata adalah Hong Sam Nom, teman serumahnya yang sudah menganggapnya sebagai kakak sendiri.


Malamnya Ra On tak bisa tidur. Ia melihat kalau Byung Yun juga tak bisa tidur dan mengajaknya bicara. Tak disangka, Byung Yun malah mengajaknya ngobrol, bertanya tentang masa-masa Ra On sebelum menjadi kasim.

Ra On menjelaskan kalau ia ikut pertunjukan keliling dan sebelumnya itu ia tinggal dengan ibunya. Byung Yun bertanya mengenai ayahnya dan Ra On menjawab kalau ia tak mengenal ayahnya bahkan namanya juga ia tak tahu. Yang ia dengar adalah ayahnya sudah meninggal. Byung Yun bergumam kalau pasti berat bagi Ra On.


Ra On heran karena Byung Yun mendadak menanyakan masa lalunya. Byung Yun bertanya, “Apa .. kau masih suka istana?”

Pertanyaan itu mengena di hati Ra On yang tidak bisa menjawabnya. Ia memikirkan hal itu hingga lama.


Ra On mengajukan pindah tugas dari istana Yeong. Kasim Jang memarahinya. Mereka tak bisa berleha-leha karena Yeong sedang sibuk-sibuknya melakukan tugas Wali Raja. Kasim Sung mengoloknya, mengatakan akhirnya Ra On tak tahan juga bekerja di sana. Kasim Jang memarahi temannnya. Apa mereka bisa mengosongkan posisi kasim tanpa persetujuan Yeong?

Kedua teman Ra On muncul dan menawarkan diri untuk menggantikan posisi Ra On. Kasim Sung bertanya apa mereka tak mendengar gosip yang beredar? Tak seorang pejabatpun muncul di hari pertama Yeong bekerja. Kasim Jang berseru menegur Kasim Sung. Pada Ra On ia berkata setiap gerak-gerik Ra On akan membuat Pangeran mendapat kritikan. Ra On minta maaf.


Para sarjana mengadakan aksi protes di depan istana atas ujian yang dibatalkan tahun ini. Perdana Menteri Kim memaksa Yeong untuk membuka jalan para sarjana itu dengan mengadakan ujian tahun ini. Bagitu juga Raja yang mencoba membujuk Yeong untuk mencari cara yang bisa menenangkan hati para sarjana itu.


Tapi Yeong tak mau. “Jika mereka dibukakan jalan, maka kita harus membuka ujung jalan itu juga. Bagaimana bisa disebut ujian nasional jika siapa yang lulus sudah ditentukan?”


Dayang menyajikan kudapan kecil dan Yeong berdecih melihat biskuit madu di salah satu piring. Ia bertanya tentang kemana Ra On sekarang. Kasim Jang merasa kalau Yeong terlalu keras pada Ra On sehingga sekarang Ra On melakukan tugas berat dan kasar di tempat lain. Yeong melempar gulungan yang harusnya ia baca dan bertanya, “Jadi dimana ia sekarang?”


Ra On menemui Putri Yeung Eun untuk memberikan peralatan tulis yang baru. Karena Putri Yeung Eun sedang main petak umpet dengan teman-teman dayang kecilnya, ia menunggui hingga selesai dengan duduk di  bawah pohon besar, melamun.


Seseorang menghampirinya dan Ra On terkejut karena orang itu adalah Yeong.


Putri Yeung Eun ternyata pintar bersembunyi. Ia sudah hampir keluar untuk mengakhiri permainan, saat melihat Perdana Menteri Kim melintas di hadapannya. Wajahnya memucat ketakutan dan buru-buru masuk ke sebuah ruangan untuk bersembunyi.

Tapi ruangan itu ternyata adalah gudang yang kebetulan dibuka oleh dayang istana dan digembok kembali setelah urusan dayang itu selesai. Putri Yeung Eun memandangi pintu yang tertutup dengan ketakutan.

Yeong mendengar dari Kasim Jang kalau Ra On mengajukan pindah tugas. Apa Ra On ingin melarikan diri darinya? Ra On menunduk dan mengiyakan. Yeong bertanya apa alasannya. Ra On menjawab kalau ia berdosa karena sudah mempermalukan Biro Kasim. “Bagaimana hamba bisa memandang wajah Yang Mulia saat Yang Mulia sudah menyadari semuanya? Hamba tak percaya diri lagi untuk melakukannya.”

“Apa kau tak mengerti? Keinginanku agar kau berada di dekatku adalah bukan sebagai kasim melainkan sebagai dirimu sendiri.”


“Jadi, meminjam perkataan Yang Mulia, apakah Yang Mulia benar-benar tak mengerti? Orang rendah seperti hamba, yang melanggar hukum dengan pura-pura menjadi lelaki.. Jika bukan sebagai kasim, lalu harus sebagai apa agar hamba bisa berada di sisi Yang Mulia?”


“Itu..,” Yeong tak bisa melanjutkan kalimatnya, tak tahu apa jawabannya.

Tiba-tiba terdengar para dayang kecil memanggil Putri Yeung Eun yang tak kunjung muncul walau permainan sudah lama selesai. Mereka mencari hingga malam, ke seluruh penjuru istana, tapi tak juga ketemu.


Ra On melewati gudang yang terkunci dan melihat pena tulis Yeung Eun tergeletak di tanah. Ia memanggil-manggil Yeung Eun dan mendengar isak lirih di dalamnya. Ra On menarik-narik pintu dan terus memanggil Yeung Eun kali ini lebih keras.


Yeung Eun mendongak namun tak satupun kata muncul dari mulutnya.

Note: selama ini Yeung Eun memang tak pernah bicara dan hanya berkomunikasi dengan buku yang selalu dibawa. Namun dengan ia bisa mengisak walau lirih, membuktikan dia tidak bisu tapi tidak bicara.


Terdengar suara gembok dibuka, dan Yeung Eun menatap pintu dengan pias penuh ketakutan, melihat Perdana Menteri Kim membuka pintu dengan tatapan kejam. Yeung Eun terjatuh pingsan. Ternyata semua itu hanya bayangan Yeung Eun yang ketakutan karena yang sebenarnya membuka gembok itu adalah Ra On, yang terkejut dan berseru memanggilnya.


Yeong memandangi adiknya yang sekarang tertidur dengan mengigau lirih. Ia kasihan pada adiknya yang pasti ketakutan dan tak bisa berteriak minta tolong. Yeong ingat betapa dulunya Yeung Eun adalah anak yang ceria dan banyak bicara. Selir Park bersyukur karena Ra On akhirnya menemukan putrinya. Tak bisa bicara membuat Yeung Eun pasti merasa tersiksa. Untungnya Yeong mengajari Yeung Eun membaca, sehingga bisa membuat Yeung Eun tersenyum dan hidup seperti sekarang ini.


Tiga tahun yang lalu, Yeung Eun yang membisu, terduduk sedih. Saat itu, Yeong menyentuh lembut tangannya dan menyuruhnya untuk menebak tulisan apa yang akan ia tulis di telapak tangan Yeung Eun. “Ini adalah musim favoritmu.” Dan seperti itulah Yeung Eun mulai berkomunikasi lewat tulisan.


Yeong bertanya apakah Yeung Eun masih belum bisa mengingat kejadian di hari itu. Selir Park membenarkan. Sejak Yeung Eun sembuh dari demam tinggi, sepertinya semua ingatannya terhapus.


Yoon Sung hendak berangkat kerja, tapi dihentikan oleh Menteri Han. Semua pejabat mogok kerja untuk memberi pelajaran pada Yeong, tapi Yoon Sung malah bertindak sebaliknya. Yoon Sung bersikeras untuk pergi, tapi suara kakeknya menghentikannya.


Perdana Menteri Kim bertanya apa Yoon Sung sedang bersimpati dengan sahabat masa kecilnya? Yoon Sung menjawab kalau ia sebenarnya sependapat dengan keputusan Yeong. Perdana Menteri tahu kalau awalnya semua orang akan berpikir keputusan benar adalah keputusan yang tepat. “Tapi keputusan yang benar bukanlah satu-satunya hal yang membuat rakyat hidup sejahtera.”


“Sebenarnya saya tak setuju,” sahut Yoon Sung, mengagetkan Perdana Menteri Kim. “Bagaimana bisa melebarkan kekuasaan kita bisa membantu kesejahteraan rakyat?”

“Apa aku pikir semua orang bisa sejahtera hanya karena berbagi kekuasaan? Jadinya malah akan terjadi pertempuran yang tak penting. Politik bukanlah tentang berteman dengan rakyat. Yang kuat yang akan memerintah rakyat.”

“Dan apakah menjadikan Menteri Kebudayaan sebagai besan adalah cara untuk mempertahankan kekuasaan itu?” tanya Yoon Sung. Kakeknya membenarkan, maka Yoon Sung meminta agar kakeknya mencari cara lain karena ia ingin menikah dengan wanita yang dapat memahami pikiran dan tindakannya.


Perdana Menteri Kim tertegun mendengar penolakan cucunya yang terus terang.


Ha Yeon kembali menemui Ra On dan berkata kalau ia sering ke toko buku sehingga Putri Myeung Eun mengijinkannya untuk ke perpustakaan istana dan meminjam buku di sana. Ia tersipu saat Ra On menyadari kalau ia suka membaca, karena sebenarnya alasannya sering ke istana tak hanya itu. “Orang yang kusukai itu, dia ada di istana.. dan dia ada di dekatmu.” Ha Yeon menoleh kiri kanan kemudian berbisik gembira, “Dia adalah Yang Mulia Putra Mahkota.”


Ra On hanya bisa diam, tak tahu bagaimana harus menjawab. Kejadian di taman itu kembali ke ingatannya. Ha Yeon terus bicara, mengungkapkan rasa frustasinya pada Yeong yang hanya bicara seperlunya padanya sehingga akhirnya ia capek hanya dia yang terus mencari alasan untuk bertemu.


Ha Yeon tak sengaja menjatuhkan buku dan keduanya sama-sama menunduk untuk memungut buku itu. Gelang Ra On turun dan kelihatan oleh Ha Yeon yang langsung mengenalinya. Ra On buru-buru menyembunyikan gelang itu. Ha Yeon tersenyum dan menjelaskan makna gelang itu. “Katanya, jika kau memakai gelang itu, kau akan selalu ditakdirkan untuk bertemu walau terpisah.”


Ra On tak tahu kalau gelang ini memiliki arti seperti itu. Ha Yeon geli separuh heran. Jadi Ra On menerima hadiah tanpa tahu artinya? “Meski aku tak tahu siapa dia, kurasa wanita itu sama putus asanya sepertiku, hingga ia berpikir untuk memberi gelang itu pada seorang lelaki.”


Malamnya, ia teringat pada pengakuan Yeong yang akan memperlakukannya sebagai wanita yang paling berharga. 


Ia juga teringat saat ia ingin bermain dengan anak-anak perempuan yang lain, ibu melarangnya. Ia pun menangis marah. “Sampai kapan aku harus berpakaian seperti laki-laki? Sampai aku 10 tahun? 20? Atau sampai aku mati?!”


Ibu meminta Ra On bersabar karena waktunya belum tepat. Tapi Ra On tak mau dan bertanya apa alasannya. Kenapa ibu tak mau menjelaskan sedikitpun. “Apa Ibu tak mau memberitahu alasannya sampai aku mati?!”


Yeong menemui Guru Jung. Kabar tentang penolakannya untuk menggelar ujian nasional sudah menyebar dan Guru Jung juga sudah mendengarnya. Karena itu, para sarjana selalu  memulai dan mengakhiri hari dengan terus menerus mengkritik Putra Mahkota. Guru Jung bertanya apa Yeong tetap bersikukuh menunda ujian tersebut? Yeong menjawab kalau pertempuran sudah dimulai sekarang.


Guru Jung mengangguk. “Dan sebagai Pangeran, Yang Mulia tak boleh kalah, bukan?” Yeong mendengar sindiran yang tersirat di dalamnya. Guru Jung pun mengutip ucapan kakeknya dulu. Pertengkaran antara pasangan suami istri dengan niat untuk menang akan menghancurkan keutuhan keluarga. 

Yeong heran, kenapa mendadak membicarakan pasangan menikah? Guru Jung berkata, “Tentu saja pada mulanya alasannya adalah memperbaiki kesalahan dalam proses ujian untuk mencari orang yang berbakat. Tapi apa yang terjadi sekarang? Apakah tujuannya untuk menang… atau untuk berubah?”


Yeong hendak langsung menjawab pertanyaan itu, tapi ia kemudian menyadari sesuatu. Guru Jung tersenyum dan berkata, “Sangatlah penting agar kita tidak keluar jalur.” Yeong tersenyum, mengerti.


Komentar :

Duh.. pengen rasanya Jung Do Jeon tiba-tiba muncul dan menggetok kepala Perdana Menteri Kim, secara aktor pemeran Perdana Menteri Kim adalah Raja Taejo, Raja Joseon yang pertama.
Joseon yang sekarang kita lihat adalah Joseon di masa-masa akhir kejayaannya. Raja Sunjo adalah raja keempat yang terakhir yang menjadi Raja Joseon. Raja yang lemah karena fraksi Noron, fraksi politik Perdana Menteri Kim, sangatlah kuat.

Ingat dengan Sungkyunkwan Scandal (SKKS)? Drama itu terjadi di jaman ayah Raja Jeongjo (Yi San). Dari SKKS, kita bisa melihat bagaimana pertentangan antaran Noron, Soron dan Namin. Di jaman itu, Raja masih bisa mengendalikan fraksi-fraksi itu. Pada jaman itu ujian nasional juga sudah kisruh dengan bisa masuknya Yeon Hee (Park Min Young) yang menyamar sebagai pria, menjadi joki ujian nasional itu. Untungnya pada saat itu ada Lee Seon Jun (Park Yoo Chun), yang walaupun anak dari partai Noron, menolak untuk berlaku curang dan bahkan mengkoreksi pelaksaan ujian itu, sehingga ujian berlangsung dengan tertib dan adil.

Namun Raja Jeongjo meninggal misterius di usia 48 tahun. Karena itu, Sunjo, putranya yang baru berusia 11 tahun, naik tahta, dengan Ibu Suri yang mengendalikan pemerintahan mewakili Raja Sunjo. Saat itulah korupsi semakin menjadi-jadi dan ujian nasional menjadi kisruh. Seperti laporan yang dibaca Yeong, selama 10 tahun terakhir, banyak marga Kim yang lolos ujian nasional tersebut, membuat pejabat yang berfraksi Noron semakin banyak.

Raja semakin terkucil karena fraksi Noron semakin menguat. Hal inilah yang tak diinginkan oleh Yeong. Ia ingin mendapat pejabat-pejabat yang baik dan kompeten, yang tak mungkin ia dapatkan jika ujian masih seperti ini, yang penuh nepotisme.


Untungnya Guru Jung Jak Yeong mengingatkannya, tentang tujuan awalnya. Untuk menang atau perubahan.

1 comment :

  1. Perdana menteri kim bahkan udah ada dari jaman kakek yi san ga sih mbak...raja yeongjo secret door, di the three musketeers jaman putera mahkota pun ada kim ja jum yg dicurigai pengontrol raja pula
    Haha emang marga kim kayaknya sesuatu deh, itu yo jung dicast di drama ini jangan jangan karena marganya. Sebelumnya kim go eun pun ditawari lol

    ReplyDelete