September 16, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 8 - 1


Masalah Kasim Ma dan Wol Hee rupanya sangat membekas di hati Yeong. Ia sebenarnya ingin mengubur perasaannya agar Ra On bisa terus berada di sisinya. Tapi ia ingat ucapan Ra On yang mengatakan kalau tak salah jika mengungkapkan cinta yang tak sampai. Perpisahan yang baik-baik rasanya akan sehangat perasaan cinta  dan siapa tahu kenangan pernah dicintai menjadi kekuatan untuk menjalani hidup ini.

Maka malam itu ia memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya dengan menulis surat pada Ra On.

Ini adalah perasaan yang sebenarnya ingin aku kubur sehingga tak ada orang yang tahu, agar kau terus berada di sisiku. Aku tahu aku tak boleh membiarkan perasaan itu untuk muncul. Aku memberanikan diri untuk mengaku -seperti ucapanmu waktu itu- walaupun pengakuan ini mungkin bisa membuatku kehilanganmu.



Ra On meraba hanbok pemberian Yoon Sung juga permintaannya untuk meninggalkan istana dan hidup seperti wanita biasa. Ia memikirkan tawaran itu.


Dengan membawa surat yang baru saja ia tulis, Yeong pergi ke wisma Ra On, tapi tak ada orang di sana. Yeong berbalik pergi, tapi ia sempat menangkap sekelebat sosok yang muncul di belakang tirai. Ia menoleh namun langsung berbalik lagi, karena melihat seorang wanita keluar dari sana.



Curiga, ia berbalik lagi dan terpana, melihat Ra On yang tampak cantik  dengan hanbok. Matanya tak berkedip melihat Ra On menyematkan jepit rambut ke rambutnya. Sosok Ra On mengingatkan pada sosok penari misterius yang selama ini ia cari.


Ia tersenyum, lega dan bahagia. Dengan perasaan itu, ia meremas surat yang ia pegang dan berlalu pergi.


Dan akhirnya yang diucapkan Yeong di kebun menjadi masuk akal. Baginya cinta yang ia rasakan ini bukanlah cinta yang salah (=menyukai sesama jenis). Dan saat Ra On membantah kalau cinta itu ada yang baik ada pula yang buruk, ia tahu ini adalah cinta yang buruk (karena Ra On menyamar sebagai kasim, Ra On bukan dari kalangan bangsawan), tapi ia akan mencobanya. Cinta yang buruk itu.


Yeong menarik tubuh Ra On, memeluknya. Ra On mulanya ragu, tapi Yeong terus memandangnya, membujuknya tanpa kata. Akhirnya Ra On memejamkan mata.

Yeong tersenyum dan menciumnya.


Ra On meraba bibir yang barusan dicium Yeong. Rasanya pipinya panas memikirkan hal itu. Byung Yun datang dan bertanya apa ada masalah? Ra On langsung sensi dan menyalak, “Kim Hyung, kata-katamu itu kasar. Menanyai apa ada masalah padahal tak terjadi apapun. Itu.. itu gak sopan!”

Haha.. Kasian Byung Yun. Ia bengong tapi akhirnya minta maaf (walau mungkin ga tau salahnya dimana).


Ra On pun tanya-tanya tentang orang terdekat Yeong. Yang pertama kan Byung Yun, kedua adalah Kasim Jang. Jadi apa pernah Yeong menyukai seorang wanita? Byung Yun menjawab tidak pernah sama sekali. Ra On menyentuh bibirnya lagi, tapi kali ini ia merasa panik. Kalau Yeong tak pernah suka dengan wanita, berarti..?


Yeong memanggil Kasim Ma dan Wol Hee. Ia telah memasukkan kedua nama mereka di daftar orang yang keluar dari istana dan menghapus nama mereka dari kepegawaian istana. Ia juga  menyediakan tempat dan pekerjaan yang bisa mereka lakukan nanti. Apakah mereka berdua bersedia pergi jauh dan hidup bersama?


Kasim Ma dan Wol Hee bersedia walau sangat terkejut mendengar Pangeran mau melakukan hal ini untuk mereka. Yeong malah berterima kasih karena ia bisa menyaksikan bahwa ketulusan perasaan seseorang bisa menimbulkan keajaiban. “Semoga kalian hidup bahagia selamanya.”


Ra On menyelamati Kasim Ma dan bangga karena Kasim Ma adalah pasangan ketiga yang berhasil ia comblangkan. Kasim Ma menasihati agar Ra On juga memikirkan diri sendiri dan melihat sekitar dengan baik-baik. “Karena tak hanya satu orang, tapi dua orang. Apa kau tak sadar?”


Yoon Sung memberikan daftar nama yang lulus Ujian Negara selama 10 tahun terakhir. Yeong membolak-balik buku itu dan melihat kalau orang-orang yang membuat soal ujian bermarga Kim dan orang-orang yang lulus ujian juga bermarga Kim. “Semua muanya bermarga Kim. Sangat menarik.”

Saat disodorkan daftar pertanyaan dan jawaban ujian negara itu, Yeong juga melihat jawaban-jawaban yang diberikan tak mencerminkan seorang sarjana. “Tapi, tak ada bedanya juga kan jawaban mereka apa? Toh pada akhirnya yang lulus juga karena nama keluarga mereka,” sindirnya. “Bagaimana pendapatmu?”

Yoon Sung menjawab, jika ia menjawab sebagai orang yang bermarga Kim, maka ia akan menerima kesalahan itu. “Tapi jika sebagai pejabat, saya akan mengkoreksi kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah.”

“Apa kau serius?”

“Kalau saya jawab iya, apakah Paduka percaya?”

“Kau mengatakan sesuatu yang akan membuat Perdana Menteri terkejut jika mendengarnya,” jawab Yeong. Ia akan mempelajari semua ini dan meminta Yoon Sung pergi.


Ra On muncul dengan setumpuk buku dan melihat Yeong ada di sana. Ia merasa gugup, dan semakin gugup saat Yeong menoleh padanya. Ia terburu-buru berbalik, mengakibatkan buku-buku yang ia pegang terjatuh.


Yeong berdiri ingin membantu, tapi kalah cepat dengan Yoon Sung yang langsung ikut membereskan buku-buku itu, bahkan membawakannya. Yeong duduk kembali dengan perasaan kesal.


Yoon Sung meminta Ra On untuk meluangkan waktu dan menemuinya. Belum sempat Ra On menjawab, Yeong sudah bertitah, “Sam Nom, kemarilah.”


Yoon Sung sudah hampir berbalik, tapi ia berhenti karena melihat tatapan Ra On yang setengah gugup setengah tersipu saat melirik Yeong.


Ia teringat ketika Ra On menemuinya. Ra On tahu kalau ia tak seharusnya menjadi kasim dan seharusnya ia keluar dari istana secepat mungkin.  “Tapi.. aku tak mau pergi. Aneh, kan? Walau pertanyaan itu selalu terlintas di pikiranku, tapi perasaanku tetap sama. Aku .. ingin tinggal di istana lebih lama lagi. Maafkan aku.”


Saat itu ia penasaran, apa yang menahan Ra On padahal hal itu membahayakan dirinya? Sekarang saat ia melihat keduanya, Yoon Sung sepertinya tahu jawabannya.

Putri Myeung Eun berencana pergi ke kuil di gunung untuk menurunkan berat badannya. “Di sana aku akan memakan makanan biksu dan dalam 15 hari, wajahku akan berkurang separuhnya!” kata Myeung Eun bersemangat.


Ha Yeon bertanya Myeung Eun dapat ide dari mana? Myeung Eun menunjukkan buku karangan Ra On, “Dari si penulis buku ini. Tak ada yang tidak dia ketahui tentang hubungan manusia, terutama berkencan.”

Ha Yeon langsung bermanis-manis, mencoba meminjam buku itu. Tapi Myeung Eun menggeleng dan memegang buku itu erat-erat. Tapi Ha Yeong berhasil menariknya.


Yeong bertanya apakah Byung Yun mengetahui gosip tentang anak Hong Gyeong Nae yang masih hidup? Gara-gara Perdana Menteri Kim memberi informasi tentang hal itu, sekarang Raja menjadi resah.


Byung Yun terkejut, dan lebih terkejut lagi saat melihat topeng putih yang dikeluarkan Yeong dan permintaan Yeong, “Orang yang memakai topeng ini juga pernah kita lihat di rumah Perdana Menteri Kim, kan? Kau harus bisa mencari informasi; siapa mereka, apakah mereka benar-benar mencari putri Hong Gyeong Nae dan apa alasan mereka. Jika memang benar, kita harus menemukannya lebih dulu sebelum Perdana Menteri Kim.”


Yeong berjalan-jalan di halaman sambil berpikir. Karena tenggelam dalam pikirannya, ia tak menyadari kalau Ra On keberatan membawa payung. Apalagi ia berjalan, terus berhenti lagi. Berjalan lagi, terus berhenti lagi. Ia baru sadar saat payung besar itu mendekati wajahnya. Saat akhirnya ia menyadarinya, ia pegang payung itu, “Ini berat, berikan padaku.”


Ra On langsung menolaknya. Ini adalah tugasnya dan banyak mata yang mengawasi mereka. Yeong melirik ke belakang, pada kasim dan dayangnya. Ia pun berniat untuk tak memakai payung karena ingin merasakan sinar matahari. Kasim Jang langsung berseru agar Yeong memakai payung karena cuaca panas sekali.

Ra On langsung mempertegas suaranya, “Tak apa-apa Yang Mulia. Kalau hamba merasa benda kecil ini berat, maka hamba bukanlah pria.”


Yeong mencoba untuk tidak tersenyum geli. Ia pun memutuskan untuk tiduran di rerumputan dan meminta semua orang untuk tak membangunkannya. Pada Ra On ia memberi perintah, “Dan kau, tetaplah memegang payung ini dengan benar.”


Hahaha.. Kasim Jang mencoba mengintip, tapi tak terlihat apapun dari balik payung besar itu.


Duduk di rerumputan, Yeong melihat Ra On yang duduk dengan canggung. Ia pun menggoda Ra On dengan meraih tangan gadis itu, dan membelainya. “Bagaimana tangan sekecil ini bisa sangat kasar?” Ra On berdehem, berkata kalau memang seharusnya tangan pria seperti itu. Ia mencoba menarik tangannya, tapi Yeong malah menariknya lagi dan membenarkan ucapan Ra On.

“Matamu, hidungmu, bibirmu semuanya tangguh seperti pria.” Ra On merapatkan bibirnya dan menyipitkan matanya mendengar ucapan Yeong. “Karena ketangguhan itulah.. yang membuatku jatuh cinta.”


Hahaha.. haduh.. sebenarnya Yeong mencela apa memuji, sih? Tapi ucapan Yeong malah membuat Ra On panik, takut ada yang mendengarnya. Ra On menarik tangannya dan meminta Yeong untuk menarik ucapannya. Tapi Yeong tak mau dan tatapannya semakin menggoda. “Kau tak seharusnya menarik kata-kata yang telah kau ucapkan. Sebaliknya, kau malah harus bertanggung jawab.”

Kyaa…. Ra On menjadi canggung mendengarnya. Tapi Yeong malah mendorong kepala Ra On untuk bersandar di bahunya, memintanya untuk beristirahat sejenak karena ia akan membaca buku. Ra On menegakkan kembali kepalanya, membuat Yeong mengerutkan kening.


Ra On tahu kalau Yeong baik padanya, tapi ia tak merasa nyaman dengan perlakuan itu. “Jangan pikir kau tahu segalanya tentang aku.”

“Aku tidak bilang kalau aku tahu segalanya. Aku hanya ingin kau beristirahat sebentar,” jawab Yeong sambil kembali menyandarkan kepala Ra On ke bahunya.


Kali ini Ra On menurut, tapi ia berkata dalam hati, “jangan terlalu baik padaku, karena akan membuatku ingin terus bersandar padamu.”

Ha Yeon menemui Ra On a.k.a Hong Sam Nom, penulis buku yang ia pinjam. Ia pun bertanya pada Ra On tentang pria yang ia sukai, menceritakan karakter dan ciri-cirinya walau tak menyebut kalau pria itu adalah Putra Mahkota Yeong. Ha Yeon mengeluh, seberapa kerasnya ia menarik perhatian pria itu, tapi selalu gagal. Ra On pun bertanya bagaimana cara Ha Yeong melakukannya?


Ha Yeon pun memberitahukan apa yang sudah ia lakukan, tapi Ra On malah mengkoreksinya. Saat Ha Yeon jatuh, harusnya Ha Yeon bukan minta dibantu untuk berdiri, tapi malah harus menamparnya. Ha Yeon sadar harusnya ia melakukan itu, tapi ia tak sanggup karena melihat senyum pria itu, jadinya ia tak tahu harus bagaimana.


Ra On kagum sekaligus iri karena Ha Yeon bisa menyampaikan perasaannya secara terbuka. Karena ketulusan Ha Yeon yang sangat kuat, Ha Yeon nanti akan bahagia dengan pria itu. Ucapan Ra On itu membuat Ha Yeon tersenyum.


Pagi itu Yeong akan bersiap untuk melakukan tugas pertamanya menggantikan Raja. Kasim Jang yang khawatir karena Yeong akan menggantikan peran Raja padahal sebelum umur 20 tahun. Ia memberi wejangan panjang lebar, tentang Yeong yang harus rajin dan teguh dalam mengurus masalah kerajaan.


Yeong mendengarkan setengah hati karena pandangannya tak pernah lepas dari Ra On yang sedang memakaikan bajunya. Senyumnya semakin lebar melihat Ra On yang menjadi rikuh dan berusaha untuk tak menatapnya saat memakaikan atribut di bajunya.


Kasim Jang terus bicara berputar-putar sampai Yeong memotongnya, “Hoon Nam-ah, kenapa bicaramu ruwet sekali? Lakukan yang terbaik! Cukup hanya satu kalimat saja.” Kasim Jang tersenyum haru dan mengulangi ucapan Yeong. Lakukan yang terbaik.


Yeong kembali memusatkan perhatiannya pada Ra On. “Dan kau..,” Ra On akhirnya mendongak. “Apa ada yang ingin kau sampaikan?”


Ra On menatap Yeong yang tersenyum menggoda dan menjawab, “Tak ada.” Yeong terlihat kecewa tapi tak mengatakan apapun. Ra On pun melanjutkan, “Karena hamba tahu Paduka akan melakukan yang terbaik.”


Yeong tersenyum bahagia dan Ra On mendekat untuk memakaikan sabuknya.

Yeong memasuki aula dengan semangat tinggi, diikuti oleh kasim dan dayang. Tapi betapa terkejutnya ia melihat ruangan itu kosong, tanpa seorang pun hadir.


Para menteri ternyata ada di rumah Perdana Menteri Kim, menertawakan Yeong yang pasti kaget melihat aula kosong. Mereka melakukan hal ini karena Yeong menunda Ujian Negara yang ditengarai sudah ada juaranya. Apalagi Yeong juga memperingatkan akan menghentikan promosi dari keluarga Kim, padahal mereka adalah fraksi politik terkuat sejak raja terdahulu. Karena itu mereka harus memberi Yeong pelajaran.


Yeong mendengus membaca surat ijin para menteri yang tidak masuk hari ini. Alasannya beraneka ragam, dari sakit perut, darah tinggi  hingga kena ruam. Kasim Jang mengusulkan untuk mengirimkan orang agar memaksa para pejabat itu untuk datang sekarang juga.

Pada Kasim Jang, Yeong menanggapi dengan santai, percuma juga karena semua orang sedang sakit.  Tapi sebenarnya ia marah dan kalut.

Bersambung ke bagian 2

No comments :

Post a Comment