September 6, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 5 - 1

Love in Moonlight Chapter 5 : Ucapkan Harapanmu.



Yeong menatap ke arah Ra On dan Yoon Sung yang bersembunyi di semak-semak. Kecurigaannya semakin besar ke arah mereka. Namun ternyang dilihat Yeong adalah rombongan penari, yang salah satunya berbaju dan berkuncir sama seperti Ra On. Setelah memastikan kalau gadis itu bukan gadis yang ia cari, Yeong pun pergi ke arah sebaliknya.


Setelah terbebas, Ra On akhirnya menyadari kalau tangan Yoon Sung masih berada di punggungnya dan merasa canggung. Maka iapun berdiri menjauhkan diri. Ra On meminta Yoon Sung melupakan kejadian hari ini, karena malu kalau ada yang tahu seorang pria berdandan seperti wanita. Ia melakukan ini karena tahu Putra Mahkota akan mendapat masalah besar jika perayaan ini gagal.

Yoon Sung bertanya apakah Ra On melakukan tindakan berbahaya ini untuk Putra Mahkota. Ra On mengiyakan, memang apa ada alasan lainnya yang membuatnya melakukan ini. Ia kan kasim yang bekerja di istana Putra Mahkota.

“Jadi, kenapa kau menjadi kasim padahal kau ini wanita?” tanya Yoon Sung heran.


Kasim Jang melapor kalau penari yang menggantikan Ae Shim itu tak ketemu walau dicari kemanapun juga. Yeong heran, karena penari itu mengetahui semua gerakan tari tunggal, bahkan gerakan yang hanya Ae Shim dan dia sendiri yang tahu. Namun ia teringat kalau Ra On yang bertugas mencatat dan Ra On hafal luar kepala. Ia juga menyadari kalau tarian itu sedikit berbeda. Jangan-jangan..

Yeong bertanya dimana Ra On sekarang.


Ra On tak menjawab pertanyaan Yoon Sung dan malah pamit untuk kembali ke tempat kerjanya karena ia sudah pergi terlalu lama. Tapi Yoon Sung menghentikannya, bukan untuk memaksanya menjawab tapi untuk membebat kakinya yang terluka.


Yoon Sung menyuruhnya menunggu sementara ia mengambilkan baju Ra On. Tapi di tengah jalan ia melihat kalau Yeong tak menemukan keberadaan Ra On. Sambil menyembunyikan baju kasim Ra On di punggungnya, ia mendekati Yeong dan memberitahu kalau ia melihat Ra On sudah berada di kediaman Yeong, Istana Timur.

Yeong pun pergi menuju kediamannya, sementara Yoon Sung berlari menuju tempat Ra On.

Sesampainya di Istana Timur, Yeong langsung menuju ruangan Ra On. Ia terkejut melihat Ra On sudah duduk di meja. Sejak kapan Ra On berada di sini? Ra On menjawab kalau ia langsung kemari setelah tak berhasil menemukan Yeong. Ia sedang mengerjakan tugas yaitu menuliskan kembali lagu baru ciptaan Yeong.


Walau tersenyum, sebenarnya Ra On sangat gugup. Ia menyadari kalau jepit rambutnya kelihatan di balik buku, dan ia buru-buru menyelipkan jepit itu di bawah tumpukan buku. Yeong melihat gerakan itu dan menatap ke meja.


Ternyata ia mengambil buku yang paling atas, yang penuh tulisan Ra On. Di buku itu sudah tertulis lagu yang ia ciptakan. Yeong melihat ujung-ujung jari Ra On yang hitam akibat tinta dan berpikir kalau ia sudah membayangkan yang tidak-tidak. Ia akhirnya pergi setelah menyuruh Ra On untuk meneruskan pekerjaan itu.

Ra On menghela nafas lega. Ia teringat pada Yoon Sung yang menyuruhnya bergegas kembali ke istana Timur karena Yeong sudah mencarinya di sana. Kalau tak ada Yoon Sung, ia pasti sudah ketahuan.

Esoknya, Yeong yang masih penasaran, terus mengawasi Ra On yang sedang mengelap debu yang menempel di rak buku. Ra On sepertinya agak flu karena dia bersin.


Yeong yang melihat Ra On bersin dan menutup hidungnya dengan kain, meminta Ra On untuk mengulangi gerakannya. Walau bingung Ra On menuruti perintah Yeong. Ia mengelap buku di rak. Hahaha…  Bukan gerakan itu, tapi bersinnya itu loh..


Ra On berdehem dan mulai bersin. Tapi tanpa menutup hidungnya. Yeong kesal. Bukan itu. Akhirnya ia sendiri yang menutup separuh wajah Ra On hingga terlihat matanya saja. Dan ia langsung teringat dengan mata gadis penari itu.


Frustasi, karena pemikirannya yang mustahil, ia langsung membentak Ra On, melarangnya untuk bersin.  Lah.. emang bisa ditahan. Walau bingung, Ra On pun mengiyakan. Tapi kan susah, karena Ra On sudah mau bersin lagi. Yeong membentaknya, tapi Ra On berkilah namanya bersin itu susah ditahan.

Ra On mengingatkan Yeong kalau sebentar lagi perayaan Chuseok dan bertanya apa mungkin Kasim magang bisa dapat liburan di hari itu. Yeong langsung bisa menebak kalau Ra On ingin melihat festival lampion. Ra On heran, kok Yeong bisa tahu?”


Yeong menyuruh Ra On mendekat. Ra On pun maju satu langkah dan kaget saat Yeong menyentuh pipinya. Ia bingung karena Yeong menyentuh pipinya cukup lama dengan pandangan yang tak dapat ia tangkap maksudnya.

Dan beberapa saat, ia mendapat jitakan di kepala dan Yeong berkata, “Bagaimana mungkin kau mau main-main padahal badanmu panas begini?”


“Panas sedikit seperti ini tuh tak masalah,” bantah Ra On. “Jangan khawatirkan apa aku ini bisa main atau tidak.”


“Khawatir? Siapa yang khawatir?” bentak Yeong. “Dan kau jangan coba-coba keluar dari Wisma Penyesalan hari ini. Jika aku sampai ketularan darimu, aku akan menghukummu dengan berat. Mengerti?!”


Putri Myeung Eun mengajak Ra On untuk berperahu sambil minum teh. Myeung Eun mendengar kalau teh buatan Ra On itu enak sekali, makanya ia mengajak Ra On keluar. Tapi sepertinya itu hanya alasan saja, karena Ra On saja baru tahu kalau ia terkenal dalam membuat teh. Saat teh disajikan, Myeung Eun mengernyit merasakan teh itu, tapi buru-buru memasang wajah senang. “Hmm.. rasanya tajam dan aromanya penuh dengan seni.”


Hahaha.. Myeung Eun kentara banget bohongnya.

Myeung Eun bertanya tentang pria yang menulis surat untuknya. Dulu Ra On pernah berkata walau Ra On yang menuliskan suratnya, tapi isi suratnya itu adalah isi hati dari pria itu. Apakah benar? Ra On membenarkan. Yang dia lakukan adalah menuliskan perasaan tulus Tuan Jung pada Myeung Eun. Myeung Eun pun bertanya lebih banyak tentang Tuan Jung.


Kebetulan Yeong jalan-jalan di dekat danau. Kasim Jang yang melihat Ra On pertama kali dan bertanya pada Yeong. Bukankah tadi Yeong menyuruh Ra On untuk istirahat seharian ini. Kenapa sekarang ada bersama Putri Myeung Eun?

Yeong menatap kesal pada Ra On yang bandel.

Myeung Eun akhirnya menyadari kalau Ra On sedang sakit dan mengajaknya untuk kembali. Ra On sudah berdiri untuk mulai mendayung, dan teringat akan surat Tuan Jung yang pertama kali ia tulis. Saat itu Putri baru sembuh dari sakit tapi terlihat sangat manis saat bermain di ayunan walau sambil batuk-batuk.


Myeung Eun mencoba mengingat kejadian itu. Dan ia teringat, tapi sepertinya hal itu membuatnya kesal. Ia berdiri dan bertanya apakah benar ada kejadian itu? Ra On kaget karena saat Myeung Eun berdiri, perahu mereka bergoyang-goyang. Ia mencoba menstabilkan perahu itu, namun semakin sulit dan bisa-bisa Myeung Eun terjatuh.


Ra On mencoba menstabilkan perahu  hingga Myeung Eun terduduk lagi. Tapi apa daya, goncangan perahu semakin tak terkendali dan ia tak bisa mengendalikan tubuhnya. Iapun tercebur ke dalam danau.


Myeung Eun berteriak panik, begitu pula dengan rombongan Putra Mahkota.  Melihat hal itu, tanpa pikir panjang Yeong terjun ke dalam air. Para kasim yang melihat junjungannya terjun, akhirnya ikut-ikutan masuk ke danau.


Yeong menyelam dan menemukan Ra On yang sudah hampir kehabisan nafas. Ia meraih pinggang Ra On, memeluknya dan menariknya ke atas.


Merasakan ada tangan yang memeluknya, Ra On membuka mata dan melihat Yeong yang telah menyelamatkannya.


Yoon Sung yang kebetulan juga lewat, terkejut saat melihat Ra On ada di danau dengan Yeong di sampingnya. Walau ia tak melihat dari awal, ia bisa tahu siapa yang menyelamatkan siapa.


Yeong mengangkat Ra On, hingga para kasim harus menarik Ra On ke atas dulu dan baru Yeong. Kasim Jang memarahi Ra On karena kasim yang harusnya melindungi Putra Mahkota. Yeong berkata kalau Ra On tak salah karena ia yang terjun ke danau atas keinginan sendiri. Melihat Ra On menggigil kedinginan, ia yang tadi langsung diselimuti jubah, melepas jubahnya.


Kasim Jang yang tahu kalau Yeong akan memakaikan jubah itu pada Ra On, berbisik panik. Yeong tak boleh melakukan itu. Apa Yeong pikir Ra On akan selamat setelah membuat Yeong dalam bahaya? Yang akan dilakukan Yeong ini akan membuat posisi Ra On semakin berbahaya.


Yeong menyadari kesalahannya. Ia pun menyerahkan jubahnya dengan alasan ia sudah tak membutuhkan lagi. Melirik Ra On yang masih menggigil, ia menyuruh Ra On untuk berdiri karena tanah yang dipijak itu terlalu dingin. Bersama rombongan, ia meninggalkan Ra On walau sesekali masih menoleh khawatir.


Kasim Jang menyuruh Ra On untuk mengikutinya karena ia harus menghukum Ra On. Tapi nada ucapan Kasim Jang penuh iba dan bahkan mengulurkan tangan untuk membantu Ra On berdiri.

Di sana masih ada Yoon Sung dan Kasim Ma yang melihat semua ini dan dalam perjalanan untuk menemui Perdana Menteri Kim. Tapi Yoon Sung malah berlari pergi meninggalkan Kasim Ma yang terlihat curiga.


Danau pun sepi, hanya tersisa Putri Myeung Eun yang kebingungan karena ditinggal sendirian di tengah danau. Hahaha.. Lucu sekali melihat Myeung Eun yang berteriak-teriak memanggil para kasim dan dayang yang tak mendengar, kesal karena tak ada yang ingat padanya.


Ra On yang kembali ke wisma terkejut karena mendapat selimut di punggungnya. Ternyata Yoon Sung. Ia berterima kasih tapi buru-buru pergi.


Yoon Sung tahu alasan ketidaknyamanan Ra On berada di dekatnya karena ia tahu rahasia Ra On. Ia meminta Ra On untuk menganggap kalau mereka berbagi rahasia bersama. “’Dia dapat kuandalkan.’ Bisakah kau menganggapku seperti itu?” Ra On tercenung, dan Yoon Sung melanjutkan, “Jadi jangan khawatir akan hal itu, dan jangan menjauhiku pula.”


Ra On tak menjawab dan pamit pergi. Yoon Sung melihat Ra On masuk ke dalam wisma dan sepertinya mengenali wisma itu.


Kasim Ma bertanya pada Kasim Jang yang tadi ikut masuk danau dan sekarang memakai selimut. Apakah penari misterius itu sudah ketemu? Kasim Jang menjawab belum padahal ia sudah mencari ke seluruh pelosok istana.  Kasim Ma ingat pada Ra On yang berdandan cantik malam itu. Tapi ia tak memberitahukan hal itu pada temannya.

Ia malah mencari arsip hasil ujian fisik Ra On dan melihat kalau stempel lulus itu ada di tengah-tengah. Ia sepertinya berpikir bagaimana cara Ra On melewati ujian fisik itu.


Utusan Qing meminta upeti yang jumlahnya tak masuk akal, jauh meningkat dari upeti bulan lalu. Yeong terlihat tak setuju kalau mereka harus memberi sebanyak itu. Perdana Menteri Kim menjelaskan kalau permintaan itu akibat adanya keinginan Raja untuk digantikan sementara oleh Putra Mahkota yang butuh persetujuan China. Utusan itu menjadi tamak dan meminta lebih.


Raja merasa tak ada jalan lain selain memenuhi permintaan mereka dan meminta Yeong untuk menutup mata kali ini saja. Tapi Yeong tak mau. “Jika kali ini kita menutup mata, maka berikutnya mereka akan minta mata kita. Maafkan saya, tapi saya menolak melakukannya.”


Malam itu Ra On yang sedang demam tinggi, bermimpi. Ia bermimpi kejadian malam dimana ia berpisah dengan ibunya. Saat itu hari raya Chuseok dan sedang diselenggarakan Festival Lampion. Ia sedang memandangi indahnya lampion yang berterbangan saat ibunya memintanya untuk bermain sembunyi-sembunyian.


Ibu akan menghitung sampai 10 dan Ra On kecil harus sudah bersembunyi dan tak boleh keluar sampai Ibu menjemputnya. Ia mematuhi perintah Ibu dan tetap berada di bawah meja saat Ibunya lari dikejar tentara.

Itu adalah kali terakhir ia melihat ibunya. Dan mimpi itu muncul lagi, membuatnya merintih dan terisak dalam tidur karena rindu akan ibunya.


Yeong memandangi Ra On yang wajahnya penuh peluh dan air mata, merintih memanggil-manggil ibunya. Ia bergumam, betapa masih bayi Ra On ini. Ia mengulurkan tangan untuk menyeka wajah Ra On.
Tapi Ra On dalam tidurnya, malah menggenggam erat lengan baju Yeong. Dan perlahan-lahan rintihannya mereda, ia pun menjadi tenang. Ia membuka mata dan melihat bayangan samar di hadapannya dan bertanya apa yang ia mimpikan sekarang. Berpikir kalau yang dihadapannya adalah Byung Yun, ia menjawab, “Kim hyung, aku bermimpi di hari aku berpisah dengan ibuku.”


Yeong memandang iba pada Ra On, mengetahui betapa sedih mimpinya Ra On. Tapi Ra On menggeleng. Itu adalah mimpi yang membahagiakan. Setidaknya di dalam mimpinya itu, ia bisa bertemu dengan ibunya. Masih berpegangan pada lengan baju Yeong, perlahan-lahan Ra On terlelap dalam tidurnya, kali ini tanpa isak tangis.


Dari kejauhan, datang Byung Yun yang melihat keduanya, sambil memegangi perutnya yang terluka. Kenapa Byung Yun terluka?


Keesokan harinya, Ra On melihat Yeong yang asyik membaca di perpustakaan. Ia teringat saat-saat Yeong menyelamatkannya dari dasar danau. Mencoba mengesampingkan perasaan akan kejadian itu, ia menyapa Yeong, mencoba mengungkit kejadian siang itu dengan ceria. Tapi tanpa mengangkat kepala dari buku yang dibaca, Yeong mengingatkan Ra On untuk tidak menemuinya sampai demamnya sembuh.

Ra On menggerutu, karena yang dipikirkan Yeong hanya itu. Ia memberitahu kalau ia sudah sembuh. “Berkat Kim Hyung-ku yang merawatku sepanjang malam.”

Yeong yang tadinya senyum-senyum karena berhasil menggoda Ra On, menjadi kesal karena Ra On memanggil Byung Yun dengan Kim Hyung-ku. Apalagi Ra On memuji Byung Yun setinggi langit. “Kim Hyung-ku itu benar-benar berbeda dengan seseorang yang gemetar takut ketularan penyakitku.”


Yeong tak terima dikatai seperti itu. Ia menyuruh Ra On untuk duduk, tapi Ra On tak mau. Yeong mendelik karena Ra On berani menolaknya. Ia berjalan mendekati Ra On dengan sikap mengancam.

Ra On pura-pura batuk dan mundur. “Yang Mulia jangan mendekat karena aku masih batuk-batuk.” Tapi Yeong tetap berjalan mendekatinya hingga ia tak bisa mundur lagi karena ada rak buku di belakangnya. “Aku akan dipukuli jika membuat Sendok Perak jatuh sakit..”


Ra On berhenti bicara karena ada sesuatu masuk ke dalam mulut. Ra On terbelalak menyadari Yeong yang memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya. Apa itu? 


Telunjuk Yeong masih menutup mulut Ra On, memaksanya untuk mengunyah dengan baik, “Yang kau makan itu 10 kali lebih efektif dari Kim Hyung-mu.” Setelah Ra On mau mengunyah, ia berbalik pergi.


Lucu sekali melihat wajah Yeong yang ngambek saat berjalan pergi. Walau setelah agak jauh ia tersenyum senang, meninggalkan Ra On yang kebingungan.


Kasim Jang memanggil Ra On. Ra On sudah takut mendapat hukuman karena melihat wajah serius Kasim Jang. Tapi ternyata Kasim Jang hanya menggodanya karena bukannya hukuman, ia malah mendapat ijin cuti di hari raya Chuseok. Ra On berterima kasih berkali-kali pada Kasim Jang dan melenggang pergi dengan hati riang. Kasim Jang sendiri bertanya-tanya, ada alasan apa hingga Yeong memberi ijin cuti khusus pada Ra On.


Ra On yang bergembira, heran melihat kedua teman kasimnya sedih. Seong Yeol menjelaskan kalau nama Dong Ki dicoret dari daftar kasim yang bertanggung jawab akan Utusan Qing hari ini diganti dengan nama kasim lain. Padahal sebelumnya Dong Ki yang melakukan persiapan hingga sempurna.

Ra On ikutan kesal pada kasim yang menyerobot tugas mereka.  Karena kasim yang berhasil memberikan jamuan yang memuaskan pada Utusan Cina, karirnya akan bagus. “Siapa yang mengambil posisimu? Siapa tikus yang melakukannya? Mereka harusnya membantu kasim magang, tapi kenapa malah menghalangi jalanmu?!”

Ra On tak tahu kalau di belakangnya ada Kasim Ma. Dan menilik reaksi temannya, Kasim Ma-lah yang menyerobot tugas Dong Ki. Karena Ra On terus bicara, akhirnya Seung Yeol membalik badan Ra On, hingga Ra On menutup mulutnya sadar pada siapa dia bicara.


Kasim Ma menatap Ra On tajam dan berbisik, “Kulihat kau ini lebih cantik dari gadis-gadis di sini.” Dan ia pun berlalu pergi.

Dong Ki menatap sebal pada Kasim Ma dan berkata, “Itu orangnya. Dasar baj***an.”

Komentar :

Apa sebenarnya motif Kasim Ma mengorek-korek identitas Ra On? Sepertinyanya dia jahat ya?  Saat Ra On tenggelam, dia mengantarkan Yoon Sung untuk menemui Perdana Menteri Kim. Kayaknya dia ini melayani Perdana Menteri Kim dan kroninya. Terus dia juga seenaknya tanpa etika menyerobot pekerjaan Dong Ki yang sudah selesai. Ih.. mau enaknya aja.

Berarti Ra On dalam bahaya ya? 




Serius, akting Kim Yoo Jung benar-benar keren. Saat tenggelam di dalam air, ia masih sempat-sempatnya menampakkan emosi terkejut dan bersyukur saat melihat wajah Yeong. Dan rintihannya itu loh saat menangis dalam tidur, benar-benar memilukan. Nggak nangis kejer, atau gimana, tapi cuman suara yang pelaann banget tapi bener-bener kesian dengernya.

Dan ya ampun.. rating Moonlight ini udah 19.3% loh.. Ga nyangka. Bener-bener power of remote, ya.. Siapa yang pegang remote TV itu yang pegang kendali. Heheh.. 

1 comment :

  1. And the power of bogummy mbak
    Kesayangan ahjumma haha taek-ah yg masih aja kesepian...

    ReplyDelete