September 2, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 4 - 1

Sinopsis Moonlight Drawn by clouds episode 4 bagian 1

 Tak disangka, setelah Putra Mahkota menyetujui dan Raja memerintahkan untuk mengadakan upacara penobatan, Perdana Menteri Kim memotong ucapannya. Perdana Menteri Kim mengingatkan kalau penobatan Putra Mahkota menjadi wali bisa merusak hubungan diplomatik dengan China.

Setelah mereka kalah dalam dua perang besar, hubungan Cina dan Joseon  sudah berbeda. Jadi mereka harus mendapat restu dari China terlebih dahulu.


Raja gemetar, karena lagi-lagi bawahannya tak ada yang mematuhinya dan melirik pada putranya, merasa rencana mereka gagal. Melihat betapa rapuhnya Ayahandanya, ia pun angkat bicara. Ia memuji pendapat Perdana Menteri Kim yang memikirkan keselamatan negera. Kesediaannya pun sebenarnya karena ingin meringankan beban Raja.


Ia mendengar kalau Utusan Qing akan datang pada saat perayaan ulang tahun Raja, maka ia memohon agar penobatannya ditangguhkan hingga ia mendapat restu dari utusan tersebut. Pada dasarnya permintaan Yeong sama dengan permintaan para menteri, yaitu menunda hingga mendapat restu Qing. Maka mereka meminta permohonan yang sama dengan Putra Mahkota.

Yeong melirik Perdana Menteri Kim yang terlihat tidak puas walau keinginannya terpenuhi dan ia tersenyum kecil.



Ra On masuk ke perpustakaan dan menemukan temannya ada di sana.  Ia heran, mengapa Yeong ada di ruangan Putra Mahkota? Yeong kaget dan langsung menutup lukisan naga yang ada di bajunya dengan buku. Ia balik bertanya mengapa Ra On ada di ruangan ini? Ra On menjawab kalau ia sedang mengerjakan tugas.

Mendadak ada seorang pejabat muncul dan menyuruhnya segera meninggalkan ruangan karena hanya Putra Mahkota yang boleh masuk ke ruangan ini. Ra On mengangguk patuh dan mengajak Yeong untuk segera pergi.


Yeong ragu, tapi ia teringat ucapan Byung yun yang menanyakan sampai kapan Yeong akan sembunyi-sembunyi seperti ini, juga ucapan Ra On yang menganggap dirinya sebagai teman. Maka iapun keluar, mengikuti langkah Ra On.


Ra On berjalan mendahului dan berhenti saat Yeong bertanya dari belakang. “Apa kau masih ingin tahu siapa namaku?” Ra On berbalik dan terkejut melihat temannya yang sekarang memakai baju bersimbol naga, berjalan ke arahnya sambil tersenyum dan berkata, “Namaku.. Lee Yeong.”

Ra On terpana, matanya tak lepas menatap simbol naga yang ada di tubuh Yeong. Dan kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


Yeong mengerutkan kening. Reaksi Ra On tak seperti dalam bayangannya.

Ra On meraba simbol naga di baju Yeong dan membentangkan tangan Yeong, meminta Yeong untuk tidak mempermainkannya seperti ini. “Baju ini.. bukannya ini milik Putra Mahkota?”

“Hmm,” jawab Yeong pendek, masih mengerutkan kening kesal.

“Ya ampun. Bagaimana jika ada orang yang lihat? Ini tempat yang hanya boleh dimasuki Putra Mahkota…,” Ra On mendadak berhenti. 


Tatapannya tak lepas dari Yeong yang sekarang tersenyum menantangnya dan turun ke simbol naga itu. Ia terbelalak menyadari siapa yang ada di hadapannya dan mendadak gagap. Ia langsung menjatuhkan dirinya, berlutut, “Hamba pantas mati, Paduka.”


“Kau serius (ingin mati)?”

“Apa?” Ra On mendongak dan menyadari ia salah bicara. “Tidak tidak.. Mohon ampuni hamba Paduka.”

Ra On menunduk lagi tak berani menatap mata Yeong, Yeong berlutut dan menggerakkan tangan, membuat Ra On beringsut takut. Tapi Yeong hanya mengambil topi Ra On yang terjatuh saat menjatuhkan dirinya tadi dan memasangkan di atas kepala.



Yeong mengangkat kepala Ra On agar bisa menatap matanya dan berkata, “Membunuhmu atau menyelamatkanmu.  Apa hanya ada dua pilihan itu? Bukankah kita ini teman?”

Ra On terkejut, tapi kali ini tak ada ekspresi main-main di wajah Yeong, hanya bersahabat. Ia berkata, “Bukankah itu yang kau katakan? Kau dulu pernah tanya, kita ini apa kalau bukan teman?”


Tapi rupanya Ra On menganggap pertanyaan Yeong ini sebagai ancaman. Ia menceritakan hal ini pada Byung Yun, namun menirukan pernyataan terakhir Yeong dengan intonasi yang berbeda, membuat ucapan bersahabat itu terdengar seperti ancaman. Byung Yun hanya diam saja mendengarkan curhatan Ra On. Teringat betapa dulu ia mengata-ngatai Yeong yang separuh monster dan hinaan lain, ia hanya bisa membentur-benturkan kepalanya ke tiang.


“Hei.. jangan seperti itu. Nanti tiangnya rusak,” kata Byung Yun. Haha.

Ra On tiba-tiba menatap Byung Yun penuh curiga. Kalau Yeong saja menyembunyikan identitas Putra Mahkota, jangan-jangan Byung Yun bukan pengawal sungguhan. Apa Byung Yun menyembunyikan sesuatu darinya? Anehnya, Byung Yun hanya diam saja dan berlalu pergi.

Keesokan paginya, Ra On mendapat tugas untuk menggantikan baju Putra Mahkota. Kasim Jang mengajarkan cara membangunkan Putra Mahkota. Panggilan halus dilakukan berulang-ulang dan Ra On baru bisa masuk setelah Putra Mahkota berdehem, yang artinya mereka sudah boleh masuk.


Janji Ra On untuk tidak mengeluh sedikitpun, membuat Kasim Jang gembira. Tapi permintaan Ra On untuk memindahkan dirinya ke tempat lain membuat Kasim Jang bertanya-tanya, apakah Ra On membencinya? Ra On buru-buru membantah. Ia tak membenci Kasim Jang.


“Jadi.. apa kau membenciku?” tanya Yeong tiba-tiba muncul dari balik pintu. Wahh.. Putra Mahkota sudah bangun. Tumbenn..


Ra On sendirian yang memakaikan baju Yeong, tak ada dayang dan kasim lainnya. Yeong bertanya apa alasan Ra On sebenarnya menolak penugasan di istananya? Ra On terbata-bata membantah, “Mana pantas hamba pilih-pilih pada siapa hamba harus melayani,” dan ia buru-buru menundukkan wajahnya, menghindari tatapan tajam Yeong.


Yeong mengangkat lengannya, membiarkan Ra On memasang sabuk ke tubuhnya. “Namun mengatai orang yang kau layani dengan sebutan babi, menggigit jarinya dan bicara ngawur saat mabuk, itu pantas?”


Ra On terkejut bukan karena ucapan Yeong, tapi juga karena begitu dekatnya wajah Yeong padanya. Ia buru-buru menjauh. Ia tak berani dan pantas dihukum karena tak mengenali Putra Mahkota. Yeong bertanya apakah Ra On menyesal mengenalnya. Dengan jujur Ra On menjawab ya.

Yeong menghela nafas. Karena itulah mengapa ia tak memberitahu Ra On sebelumnya. “Aku minta maaf karena tak memberitahukan padamu lebih dulu.”


Ra On terperangah mendengar Putra Mahkota meminta maaf padanya. “Apa karena ini Paduka menyuruh semua orang untuk meninggalkan ruangan? Bukan karena Paduka ingin menghukum hamba?”


“Kalau kita sendirian, kau bisa kembali menganggapku seperti teman, tidak.. ini adalah sebuah titah,” kata Yeong serius. Namun setelah itu ia tersenyum, “Kau mengerti?”


Ra On tak bisa berkata-kata, hanya terus menatap Yeong, hingga Yeong mengisyaratkan untuk memakaian topinya. Ra On tersadar dan mencoba memasangkan topi ke kepala Yeong. Tapi karena badannya lebih pendek, ia harus berjinjit. Tapi Yeong iseng, ikut-ikutan jinjit, hingga Ra On tetap tak bisa menaruh topi itu.


Kesusahan, akhirnya Ra On terjatuh jika ia tak berpegangan di dada Yeong. Buru-buru ia melepaska tangannya dan mendongak takut. Tapi pemandangan di depannya membuatnya harus menahan ketawa.


Topi Yeong miring membuatnya tampak bodoh apalagi dengan wajah yang cemberut. Tak tahan, Ra On akhirnya tertawa, membuat Yeong yang mulanya kesal, menjadi tersenyum juga.


Perdana Menteri Kim bertanya tentang utusan Qing pada Yoon Sung yang tinggal lama di Cina. Yoon Sung menjelaskan tentang sifat utusan Qing yang mata duitan dan menyarankan agar kakeknya tidak terlalu dekat dengan utusan itu. Tapi Perdana Menteri Kim berkata ia harus melakukan untuk kepentingan negara dan berterima kasih atas perhatian Yoon Sung.

Yoon Sung pamit karena harus ikut mempersiapkan pesta perayaan ulang tahun. Setelah Yoon Sung menjauh Menteri Han mengusulkan untuk mendekati utusan itu agar bisa meminta utusan itu untuk tidak menyetujui penunjukan Putra Mahkota. Tapi Perdana Menteri Kim tak ingin melakukannya. Ia pikir temperamen Putra Mahkota pasti akan berlawanan dengan utusan yang sok kuasa itu.

Menteri Han menangkap maksud Perdana Menteri Kim, yang ingin mengadu domba keduanya. Yoon Sung yang masih berada di dekat mereka, mendengar pembicaraan itu sebelum berlalu pergi.


Yeong bertanya apakah Ra On tak kangen dengan saat-saat di luar kerajaan. Ra On mengatakan kangen pada semua keriuhan di kota. Yeong mengasihani Ra On karena Ra On yang biasanya bebas sekarang terkungkung di istana. Ia mendekati Ra On, “Siap-siaplah untuk keluar. Karena aku baik hati, aku akan mengajakmu keluar dari istana ini.

 “Benarkah? Kau benar-benar..” Ra On terlihat senang mendengarnya, namun kemudian wajahnya menggelap, “.. persis seperti yang dikatakan Kasim Jang sebelumnya?! Tidak boleh. Ia mengingatkanku jika aku ikut keluar istana dan kehilanganmu, aku dihukum seberat-beratnya.”


Yeong cemberut dan beranjak pergi. Tapi hanya sesaat karena kemudian ia mengerang sakit perut. Namun kali ini pun Ra On tak bisa ditipu, “Kau tidak sedang pura-pura sakit perut kan? Ah tidak mungkin. Kau kan Putra Mahkota..”


Yeong menyerah dan pergi ke perpustakaan. Ia menyuruh Ra On untuk membawakan buku-bukunya ke perpustakaan.

Di perpustakaan, Ra On kesulitan mendapatkan buku-buku yang diinginkan Yeong. Ia bertanya dimana sebenarnya buku-buku yang diinginkan Yeong?

Putra Mahkota berbalik dan berkata “Kalau kita sendirian, kau bisa menganggapku sebagai teman. Tidak, ini titah.”


Ra On terbelalak karena yang dihadapannya adalah Kasim Ma yang memakai baju putra Mahkota. Hahaha… kan memang teman mereka.. Ra On kesal, kenapa Kasim Ma memakai baju Putra Mahkota? Rasanya bisa gila kalau begini. Kasim Ma mengerang, ia juga tak tahu karena ini perintah dari Putra Mahkota.

Kasim Jung sedang mengorganisir kasim yang harus ditugaskan untuk pesta perayaan. Mereka jelas kurang orang. Tapi begitu Yoon Sung meminta orang untuk menemaninya ke toko kain, ia langsung memberikan salah satu kasim, yaitu Ra On.


Sementara Yoon Sung berbicara dengan pemilik toko, Ra On melihat-lihat isi toko dan mengagumi hanbok cantik yang terpajang di sana walau merasa sedih. Ia teringat larangan ibunya yang tak memperbolehkannya memakai baju wanita. Ia tak menyadari kalau Yoon Sung berdiri di belakangnya.


Yoon Sung menatap hanbok itu dan berkata pada pemilik toko. Hmm.. sepertinya ia ingin membeli hanbok yang tadi dikagumi Ra On.


Yeong ternyata pergi ke luar istana untuk menemui seseorang yang bernama Guru Jung yang baru pulang dari pengasingan. Orang itu tampak aneh karena menggeram-geram pada anjing. Yeong memutuskan untuk membiarkan Guru Jung dan menunggunya.

Setelah puas, akhirnya Guru Jung melihat kehadiran Yeong, bahkan meyadari siapa Yeong sebenarnya.

Ketika berjalan pulang, ternyata turun hujan. Yoon Sung yang membawa buntalan, menarik tangan Ra On untuk mencari tempat berteduh dan berhenti di sebuah gazebo. Ra On merasa canggung dan buru-buru melepas genggaman tangan Yoon Sung. Ia melepas topinya.


Tapi baju Ra On masih terkena tetesan air hujan yang jatuh dari atap. Maka Yoon Sung mengambil hanbok yang tadi ia beli dan menyuruhnya memakai itu di kepala. Ra On menolak karena itu baju wanita. Yoon Sung berkata kalau baju itu hanya alat agar tidak kehujanan saja. Tak ada maksud lain.  memakaikan ke kepala Ra On.

Ra On masih menolak karena hanbok itu dibeli Yoon Sung untuk seseorang yang istimewa. Yoon Sung tersenyum dan berkata, “Memang benar. Tapi sekarang belum waktunya. Kupikir aku akan menunggu hingga dia mau menerima ini dengan senang hati.” Ra On tetap menolak.


Akhirnya Yoon Sung memakaikan hanbok itu dan terpana melihat wajah Ra On yang cantik. Ia berdehem dan berkata kalau ia pergi dulu untuk beli payung.


Ra On berdiri sendirian, tak menyadari kalau ada seseorang yang berlari mencari tempat untuk berteduh.  Yeong.


Yeong menadahkan tangannya, menikmati hujan yang membasahi tangannya. Ia teringat saat ibunya dulu tanpa ragu melangkahkan kaki telanjangnya di  bawah hujan dan memintanya untuk mengikutinya. Saat itu ia menolak, karena sebagai anggota kerajaan, mereka tak boleh berhujan-hujanan.


Ibunya menjawab, “Apakah ada peraturan kerajaan yang melarang kita berhujan-hujanan?” Mendengar jawaban ibunya, Yeong pun melepas sarung kakinya, mengikuti langkah ibunya bergembira di bawah air hujan.

Sesaat ia tenggelam dalam lamunannya, hingga menyadari ada sebuah tangan berjemari lentik dengan gemulai menadahkan tangan. Ia memandangi tangan itu, dan kemudian mengalihkan pandangannya saat gadis di sebelahnya menurunkan tangannya dan menunduk.


Ra On yang akhirnya menyadari kehadiran orang lain, terkejut saat tahu kalau orang itu adalah Yeong. Ia menunduk lebih dalam, menyembunyikan sepatu yang ia pakai agar Yeong tak curiga dan buru-buru melangkah pergi.

Tapi Yeong menghentikannya, “Sepertinya hujan akan reda sebentar lagi, sebaiknya kau menunggu., “ kata Yeong sambil memandangi hujan. “Rasanya menyenangkan saat kena hujan. Apa kau juga merasakan hal yang sama?“

“Saya rasa Anda benar,” Ra On berkata lirih dan memakai suaranya yang biasa agar Yeong tak meyadari.

Yeong kembali memandangi hujan, namun hanya beberapa saat karena kemudian ia menoleh pada Ra On dengan tatapan curiga. 

Ra On mengkeret, semakin menyembunyikan wajahnya . Tapi Yeong sudah melangkah menghampiri dirinya..


“Apakah ini Yang Mulia Putra Mahkota?” tiba-tiba Yoon Sung muncul, membuat Yeong menghentikan langkahnya. Yeong tetap bersikap dingin dan tak ingin ngobrol, tapi Yoon Sung berkata kalau ia datang ke sini bersama seseorang.

Tentu saja yang dimaksud adalah gadis yang ada bersama mereka. Yeong yang masih penasaran menyuruh Ra On untuk mengangkat wajahnya. Tapi Yoon Sung menghadangnya, membuat wajah Ra On tak terlihat dan berkata, “Dia adalah wanitaku, Paduka. Sepertinya ia terkejut karena bertemu dengan Paduka di tempat seperti ini.”


“Tentu saja. Aku adalah orang yang paling tak diharapkan untuk ditemui di luar istana.” Ra On dapat mendengar nada terluka dari suara Yeong.  “Aku tak mengenalnya, tapi sampaikan maafku padanya karena membuatnya terkejut seperti ia melihat monster.”

Ra On menatap kepergian Yeong, tapi kemudian tersenyum berterima kasih pada Yoon Sung.

Di ruang belajarnya, Yeong kembali mengingat percakapannya dengan Guru Jung tadi siang. Ia sudah menyadari kalau kubu Perdana Menteri Kim pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk membuatnya tampak buruk di hadapan utusan Qing sehingga restu untuk menjadi wakil Raja tidak turun. Guru Jung menjawab, kalau begitu janganlah tampak buruk di hadapan Qing, mereka pasti tak akan menolak jika Yeong terlihat patuh. 

Tapi Yeong ingin menjadi wali Raja yang setara  dan bukannya hanya menerima persetujuan dari Qing. Guru Jung mengingatkan kalau sampai sekarang pun Raja dan Putra Mahkota tak bisa menghentikan sepak terjang Perdana Menteri Kim, yang berarti keinginan Yeong untuk menjalin hubungan yang setara dengan Qing akan sulit.


Dan saran Guru Jung adalah membunuh Perdana Menteri Kim. Yeong menatap kecewa padanya dan berkata, “Jika saya tahu kalau Anda menyarankan hal itu, saya tak akan menemui Anda melainkan pergi mencari pembunuh bayaran. Saya rasa saya terlalu berharap pada Anda.”


Sepertinya Guru Jung ingin melihat karakter Yeong sebenarnya, karena setelah itu Guru Jung memberitahukan saran berikutnya. “Paduka bisa menghindari pertumpahan darah untuk menang. Jika bisa membunuh dengan madu yang manis, kenapa Paduka harus menggunakan racun?”


Dan setelah berpikir lama, Yeong menemukan jawabannya. Jika ia bisa membuat mereka (Perdana Menteri Kim) berlutut (patuh) dengan menggunakan musik dan tarian, maka aku tak perlu mengeluarkan pedangku.”

Selanjutnya : Moonlight Drawn by Clouds Episode 4 - 2

1 comment :

  1. Ahhh ga sabar banget nunggu kelanjutannya �� hua makasi mba deeee

    ReplyDelete