September 29, 2016

Just An Ordinary Love Episode 4 - 1

Sebelumnya: Just An Ordinary Love Episode 3 - 2

Just An Ordinary Love Episode 4 - 1



Jae Gwang dan Yun Hye hanya saling memandang satu sama lain tanpa kata. Iya...di tempat dulu dan sekarang yang mungkin akan mereka kenang. Ini akhirnya. Keputusan mereka. 

***

 

Yun Hye melepas pegangan Jae Gwang di lengannya. Ia mencerna maksud permintaan maaf ayahnya. Masih tak percaya.


 

Kim Jupyeong hendak pergi lagi setelah melihat Nenek. Tapi panggilan Nenek yang merindukannya dan melangkahkan kaki lemas hingga terjatuh, membuatnya berbalik tidak tega. 

"Jupyeong-ah, anakku...makanlah sebelum pergi." Eommaaaaaaaa T.T


"Kau tahu? Kau sudah tahu?" Yun Hye meluapkan kekesalannya. Namun hanya tatapan lurus Jae Gwang jawabannya. Yun Hye lalu berbalik ke arah lain berniat meninggalkannya, tapi Jae Gwang menghadang jalan.


Yun Hye tidak habis pikir, apakah Jae Gwang suka dirinya berjalan-jalan senang seperti orang bodoh? 

Ditanyai seperti itu, barulah Jae Gwang bicara. Ia senang melihat Yun Hye bisa bahagia setidaknya sehari saja...atau satu jam lagi...

Hhhh apalah gunanya, kata Yun Hye. Sehari maupun sejam itu tidak mengubah apa-apa. Setelahnya? Yang terjadi kemudian tetap sama. Ia melewati Jae Gwang yang mematung, masih memegangi fotonya. 

 


Nenek menyuruh puteranya masuk. Dia bahkan mengambil tas Jupyeong. Sayang, Jupeyong hanya menatap rumah dan ibunya sampai polisi datang untuk membawanya pergi. 


Senyum Jupyeong makin membuat Nenek kasihan. Ayah Yun Hye ini akhirnya menyerahkan diri di depan ibu tercinta. Dilepas dengan tangisan pilu. 

 


Kabar menyebar cepat. Yun Hye yang duduk di halte diberitahu melalui telepon. Cocok banget pokoknya Yoo Da In meranin Yun Hye >.< Ekspresinya dapet!


Di kantor polisi Nenek menyalahkan dirinya. Ia sampai tak sanggup berdiri menyambut Yun Hye. Tidak, Nenek tidak salah, kata Yun Hye. 

 

Mereka lantas berdiri memberi salam dengan anggukan saat dua orang keluarga korban datang merespon berita penangkapan sang buronan. Tapi Nenek lagi-lagi terduduk lunglai usai diklarifikasi Yun Hye mengapa Jae Gwang berada di sana. "Ia adiknya (korban)."


"Anakku yang malang..." ratap Nenek. Ia iba dengan nasib Yun Hye yang harus bertemu Jae Gwang.

 

Diinterogasi polisi, Kim Ju Pyeong beralasan dia tidak bisa membawa Jae Min ke rumah sakit karena ada razia pengemudi peminum (alkohol). Kalau dia tertangkap satu kali lagi saat itu, dia bisa kehilangan izin mengemudinya. Padahal untuk orang sepertinya, ia tidak bisa bekerja tanpa izin tersebut. Makanya ia menghindar.


Mengapa Ju Pyeong tidak pergi ke tempat lain? Itu juga karena ia pikir Jae Min sudah meninggal. Tak bergerak ketika ia panggil. Tak ia dengar degup jantungnya pula. 

 


Kim Ju Pyeong meraung putus asa. Ia bahkan berjanji tidak mau minum lagi sebab Yun Hye pun telah memasuki semester baru. Ia harus membayar biaya sekolah, namun bosnya tidak akan membayar kalau sampai tahu apa yang diperbuatnya. Di hadapan polisi ia menutupi wajahnya, menangis menyesal.

 

Sekeluarnya Ju Pyeong dari ruang interogasi, Yun Hye langsung menghadangnya. Bertanya langsung, apakah semua ini benar?

Belum satu kata keluar dari mulut Ju Pyeong, Nyonya Shin sudah memukulinya dari belakang. Sikap diam Ju Pyeong jelas menjawabnya. Nyonya Shin tidak memerlukan pengadilan. Ia berkata akan membunuh Ju Pyeong dengan tangannya sendiri. Mencabik-cabiknya. Ia meracau meminta Ju Pyeong mengembalikan puteranya.


 

Polisi menggiring Ju Pyeong pergi, sementara Jae Gwang mencoba menghentikan ibunya yang terus merasa tak adil. Percuma Ju Pyeong ditangkap, puteranya sudah mati. Puteranya sudah tiada. 




Mendengar keluh kepiluan ini Yun Hye tergerak bersimpuh memohon maaf. Jae Gwang menatapnya. 


Nyonya Shin bukannya tersentuh, malah balik mengutuk Yun Hye. Minta maaf apa? Apa Yun Hye mau mati untuk membuat ayahnya itu merasakan yang ia rasakan. Sakitnya kehilangan putera kesayangan? Kalau begitu matilah! Mati!


Nenek memegangi Yun Hye. Keduanya tampak menyedihkan menghadapi Nyonya Shin yang memang sudah gila 7 tahun ini. Menurut Nyonya Shin, meski keluarga Ju Pyeong tidak bersalah, hidup mereka harus lebih buruk dari hidupnya. Puteranya tidak cukup digantikan dengan 10 orang seperti mereka...



Jae Gwang melepas lengan ibunya. Menyadari sesuatu, ia justru beralih membantu Yun Hye berdiri. Nyonya Shin heran. Ia mengatai Jae Gwang gila.

Ah...Jae Gwang bilang ibunya sudah mendapat apa yang diinginkannya. Ju Pyeong sudah tertangkap. Jadi ia merasa tidak diperlukan. Lalu PLAK! Tamparan keras mendarat di pipi Jae Gwang. 



Jae Gwang mengajukan pertanyaan, "Apa Anda melakukan ini pada Jae Min juga?"

Dan Nyonya Shin terdiam. Hanya dapat melihat punggung Jae Gwang menjauh darinya. Menyusul Yun Hye yang tadi menepis tangan Jae Gwang. 

 

Dengan nada tinggi Jae Gwang menyalahkan Yun Hye yang berlutut dan meminta maaf. Memangnya apa salahnya?

"Lalu siapalah yang akan melakukannya? Nenekku? Atau ayahku?"

Jae Gwang belum mau kalah. Pria itu menarik tangan Yun Hye, tapi Yun Hye menolaknya kasar. "Pergi! Pergi dan tinggalkan aku sendiri."




Yun Hye terus berjalan sampai di tempatnya menerjunkan diri dulu saat ayahnya dinyatakan bersalah. Jae Gwang cuma berdiri tak jauh darinya, menunggu apa yang akan dilakukannya. 



Ingatan Yun Hye sempurna memutar rekaman masa lalu. Kala Yun Hye memang bermaksud bunuh diri, ia sempat membuka matanya dalam air. Namun begitu melihat air dan gulita yang mengepungnya, refleks tubuhnya meronta berusaha naik ke permukaan. Yun Hye melangkah mundur mengurungkan niat. Ia remas ujung pakaiannya. Ia menitikkan air mata setelah sekian lama menahannya tumpah. 



Ketika berbalik, ia dapati Jae Gwang juga di sana. Ia hapus air matanya kemudian mulai bercerita. 

Dalam pikirannya ia mengatakan untuk menunggu dan melihat. Semua orang salah tentang ayahnya. Walau ia diperlakukan layaknya seorang anak pembunuh, ia tetap mempercayai ayahnya. Tapi sekarang berbeda. Ia benar-benar anak pembunuh. Jadi satu hal yang pasti, ia tidak bisa bertemu Jae Gwang. Ia tidak bisa pula lari ke manapun, karena itu ia akan berlutut dan memohon bila disuruh. Demikianlah caranya ia harus hidup di sana. Maka Yun Hye meminta Jae Gwang yang pergi.  


"Aku tidak akan pergi," ucap Jae Gwang selanjutnya. Ia tidak akan lagi meninggalkan Yun Hye sendiri di sini. Sebab sejak 7 tahun lalu ia merasa malu dan cemas, ia tidak ingin pergi sendiri lagi kali ini.  

Yun Hye tidak bergeming. Tapi langkah yang ia coba tambah terhenti saat mendengar Jae Gwang mengatakan pelaku sebenarnya adalah Kang Moksu. Kang Moksu yang berniat melarikan diri bersama kakaknya hingga bisa tertabrak tempo itu. Jae Gwang meminta Yun Hye ikut dengannya.

Sayang permintaannya tak digubris Yun Hye yang lanjut berjalan.

 

Jae Gwang bergegas mendekap Yun Hye. Mengajaknya kabur.

"Ke mana? Apakah aku akan menjadi anak orang lain jika pergi?"


Tidak keluar jawaban dari ,mulut Jae Gwang. Tidak ada alasan baginya menahan Yun Hye lebih lama.  


Nyonya Shin dan Nenek masih terdiam pula di kantor polisi. Duduk berjarak, dipisahkan staus keluarga korban dan pelaku. 



Larut malam Yun Hye memasuki gereja. Ia duduk menunduk ketika dihampiri pendeta yang menghiburnya. "Anda sangat berhati dingin. Bukankah saya meminta agar Yun Hye diberi jeda," ujarnya ke arah salib.

 

Pendeta menanyakan apakah ini karena ayah Yun Hye? Yun Hye yang tersedu meluapkan sedihnya, menggeleng. Bukan. Ia mungkin telah berbuat salah. Meski harusnya memang salah ayahnya. Harusnya...

Yun Hye sesenggukan menambahkan bahwa ia ingin pergi T.T


Gelap memekatkan duka. Pendeta berdiri di samping Yun Hye dalam diam.

 

Hari yang berat bagi kedua insan ini berakhir. 


 

Tidak seperti biasa, Yun Hye yang memergoki Nenek akan keluar sambil membawa keresek sampah malah ingin ikut lain kali. Nenek tentu tidak sependapat. Yun Hye sebaiknya pergi ke tempat lain. 


Di kantor, Yun Hye menyerahkan surat pengunduran dirinya. Wanita ini tak lupa menyampaikan  terimakasihnya pada Bos.  



Rekan kerjanya yang lain memalingkan wajah saat bertemu pandang dengan matanya, sehingga ia tak enak menyuarakan salam. Yun Hye hanya mengambil kotak barangnya dan beranjak dari sana.



Beralih ke kamar hotel tempat Jae Gwang dan Nyonya Shin berada. Kita pun tahu mengapa Jae Gwang bisa tertarik dengan Yun Hye meski banyak wanita cantik di luar sana. "Dia satu-satunya orang yang dapat merasakan bagaimana menjadi orang asing."

 

Barulah Nyonya Shin mengerti mengapa Jae Gwang selalu berkeliling dan tidak pulang-pulang seolah tidak punya Ibu. Jae Gwang memaparkan, sejak hari kematiannya ia selalu merutuk diri. Harusnya ia yang mati bukan kakaknya. 



Kilas balik ketika hari Jae Min meninggal. 

Jae Gwang remaja memanggil lembut ibunya, "Eomma..."

Namun Nyonya Shin menoleh perlahan menghujamkan kalimat pahit ke hatinya yang tak pernah ia lupakan, "Mengapa kau memiliki suara yang sama? Untuk sementara ini jangan memanggilku Ibu."


Jae Gwang lantas berdiri membiarkan ibunya duduk lebih lama. Ia masih mendengar ibunya bersua sendiri,"Mengapa Jae Min yang mati?"

 

Nyonya Shin terbelalak tak percaya mengingat apa yang pernah ia lakukan. Walau Jae Gwang memanggilnya dengan Nyonya Shin, ia tak pernah mengutarakan penolakannya. 

"Katakan yang sebenarnya padaku. Yang membuat Anda gila adalah fakta bahwa yang sayalah yang hidup dan bukan Jae Min."


Jae Gwang mengambil tasnya untuk kembali meninggalkan Nyonya Shin. Namun sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Ia ambil tas Jae Gwang, dilemparkannya ke lantai. 


Yun Hye membesuk ayahnya di penjara. Ia ingin mengonfirmasi pernyataan ayahnya yang dulu pernah bilang ia tidak membunuh. Ayahnya tidak sengaja bukan?

Ju Pyeong membalas panjang. Ia pikir Jae Min meninggal. Tapi tiba-tiba dia terbangun.

Yun Hye baru tahu fakta ini. Jadi ayahnya tahu kalau Jae Min masih hidup sehingga berniat membunuhnya? Mengapa ia berbohong?



Pria di depannya membela diri sungguh-sungguh. Andai bosnya waktu itu membayarnya, dia tidak akan minum-minum (alkohol). Dia sudah hendak membawa Jae Min ke rumah sakit kok. Ia beranggapan apa yang menimpanya tidak adil karena dia memiliki niat baik.

"Lalu apakah orang yang meninggal itu adil?"


Yun Hye tidak bisa memahami tindakan ayahnya. Air matanya menetes lagi, menyadari ia anak  seorang pembunuh beneran.


 


Yun Hye pulang, giliran Nenek yang berangkat mengunjungi Kim Ju Pyeong. Sejenak ia berdiam diri. Sinar mentari di kamarnya memicu ingatannya tentang sungai yang juga ditembus cahaya itu. Tempatnya menenggelamkan beban pikiran. Yun Hye memutuskan kabur.

 


Namun sesampainya di terminal, ternyata ia merasa tak mampu. Apalagi melihat pamflet pencarian ayahnya masih tertempel di salah satu pojokan terminal. Yun Hye bersalah dan meminta maaf pada Jae Gwang lewat sambungan telepon. 


Jae Gwang mengerti perasaan Yun Hye ketika wanita ini menceritakan pengakuan ayahnya. Jae Gwang dan semua orang memang sudah tahu. Ia bertanya di mana Yun Hye sekarang, ia akan menemuinya.



Jae Gwang bercakap dengan Yun Hye di hadapan ibunya. Nyonya Shin yang sebelumnya mengikuti Jae Gwang sampai tempatnya memarkir mobil, dibuat melongo karena puteranya tersebut memilih tetap bertemu Yun Hye.



Permintaan maaf kembali terlontar dari mulut Yun Hye begitu keduanya bertemu. Namun Jae Gwang mengatakan tak perlu. Yun Hye juga tak perlu melarikan diri dan meminta maaf pada siapapun. Sebab kejadiannya sudah berlalu. Eh, kita bisa ngeliat coat Jae Gwang berpindah ke badan Yun Hye^^


Satu panggilan telepon masuk memutus perbincangan mereka. Seketika Yun Hye terkesiap cemas.  


 

Nenek terbaring tidak sadar di rumah sakit. Detektif Kang bercerita Nenek ditemukan pingsan di luar sel tahanan. Sepertinya Nenek memiliki penyakit jantung. Meski demikian Dokter tidak bisa mengoperasinya karena Nenek sudah tua dan terlalu berisiko. Mereka hanya harus menunggu kemungkinan Nenek baikan.

Yun Hye mangngis tersedu, "Maafkan aku, Nek. Maafkan aku." :((

 


Berjam-jam Nenek tidak sadar. Jae Gwang melihat Yun Hye terus memijat Nenek. Berharap ia cepat bangun. 


Sampai Jae Gwang tertidur di ranjang samping Nenek.

 

Dan hari berlalu, mempertemukannya dengan Nyonya Shin yang menunggu di rumah sakit. 

Bersambung ke Just An Ordinary Love Episode 4 - 2 (Final)



Ajakan kabur itu beneran ngingetin sama Kang Ma Ru. Hidup seakan selalu punya waktu-waktu begitu. Waktu-waktu di mana diri merasa tak mampu melanjutkan hidup.

Tapi seperti waktu tersebut yang selalu ada, bersamanya hadir pula kesempatan untuk melihat orang lain lebih jelas. Karena merasa tak bisa, diri akan cenderung melihat orang lain yang bisa menolongnya.

"Karena kau tidak bahagia dan mungkin aku pun juga, aku ingin membuatmu bahagia. Mari kita bahagia bersama..."

Kata-kata Oh Hae Young ini cocok nggak?^^ Jae Gwang dan Yun Hye sama-sama tidak bahagia. Namun ketika mereka bersama, mereka lebih baikan. Hanya saja benarkah Yun Hye tepat untuk Jae Gwang dan sebaliknya...?

Belum tahu, ya. Selama ini mereka belum membuka hati pada siapapun. Jadi maklum jika mereka langsung cocok satu sama lain setelah mendapati mereka memiliki kesamaan. Aih! Saya paling suka episode terakhir >.<

No comments :

Post a Comment