September 26, 2016

Just An Ordinary Love Episode 3 - 2

Sebelumnya: Just An Ordinary Love Episode 3 - 1

Just An Ordinary Love Episode 3 - 2


 

Tanpa diceritakan pun, Nyonya Shin sudah tahu alasan Yun Hye ada di kantor polisi. Ia menoleh pada Jae Gwang kesal dan Jae Gwang langsung berkata dia memiliki alasannya sendiri mengenai kemungkinan bukan ayah Yun Hye pembunuhnya.


Hah. Selama 7 tahun polisi bahkan tidak bisa menangkap Kim Ju Pyeong, lalu sekarang mereka mau mencari siapa lagi? Jae Gwang saja tidak yakin orang yang dicurigainya adalah pelaku, jadi ia yakin memang Kim Ju Pyeong.


Namun tak lama kemudian, kedua detektif yang keluar bersamaan dengan mereka membicarakan Kang Sang Hun yang lebih punya motif dibanding Kim Ju Pyeong untuk membunuh Han Jae Min. Mendengarnya, Nyonya Shin memang terdiam. Tapi ia menyuruh Jae Gwang kembali ke Seoul, meski dengan tidak ramah melepas papahan Jae Gwang dan meminta sang putra semata wayang itu tak mengikutinya.


Jae Gwang mengantar Yun Hye pulang. Sambil berjalan, ia mengutarakan keinginannya untuk berkencan dengan Yun Hye jika benar bukan ayah Yun Hye yang harusnya mereka cari. Keduanya lantas berhenti. Menatap satu sama lain canggung.


Untuk sementara biarkan Yun Hye melupakan apakah ayahnya yang melakukannya atau bukan. Ia hanya ingin mengajak Yun Hye bertemu besok. Berkencan seperti orang biasa. Yun Hye tersenyum sangat tipis menerima pernyataan Jae Gwang.


Di tempat lain, polisi tengah menginterogasi Sanghun yang pasrah melihat barang bukti temuan Jae Gwang. Nyonya Shin juga menampar Nyonya Kim di kafenya.

 


Penahanan Sanghun diketahui Yun Hye dan Jae Gwang yang bisa tidur nyenyak malam itu. Saking senangnya, Yun Hye memegang tangan Nenek kala tidur. Mewakili permintaan maafnya belum bisa memberitahukan berita ini langsung. Masih awal untuk sebuah kesimpulan.


 

Nyonya Shin termenung di kamar Jae Gwang. Paginya ia mengatakan si tersangka (Sang Hun) yang tadi malam ditahan dibebaskan. Bukankah sudah ia suruh Jae Gwang kembali ke Seoul? Sejak kapan Jae Gwang tertarik dengan kasus kakaknya? Pergi dan jangan ikut campur lagi.

  

Jae Gwang jelas penasaran. Ia mengikuti Nyonya Kim dan Sang Hun ke sebuah studio seni lain dan langsung bertanya alasannya.

 


Nyonya Kim mengeluarkan 2 buah gantungan kunci yang identik seperti barang couple. “Ini miliknya (Sang Hun) dan ini milik Jae Min. Itu bukan aku.”

 

\
Siapa yang tidak terbengong mengetahui kisah mereka. Dulu sekeluarnya Nyonya Kim dari taksi, ia melihat Jae Min sambil menenteng hadiah Jae Gwang melambai ke seseorang. Kita hanya bisa melihat punggung orang tersebut, tapi berikutnya kita pun tahu dia adalah Sang Hun yang berrniat melarikan diri bersama, menunggu Jae Min di terminal.


Malangnya, Jae Min tak sengaja tertabrak mobil box Kim Ju Pyeong di tengah perjalanan. Kim Ju Pyeong lalu membawanya ke dalam mobil setelah mencoba menyadarkan Jae Min. 


Nyonya Kim yang melihat Ju Pyeong pergi, memungut hadiah Jae Gwang dan kunci Jae Min yang tergeletak di tengah jalan ternoda darah. Ia menyerahkannya pada Sang Hun yang segera tahu Jae Min mengalami kecelakaan.


Jae Gwang tertegun. Mengapa baru sekarang Nyonya Kim cerita?

“Ibumu. Aku datang padanya untuk menghentikan Jae Min. Namun dia tidak mendengarkanku. Dia baru menemuiku lagi setelah Jae Min meninggal dan mengancam akan membunuh dirinya sendiri di depanku jika orang-orang tahu.”

Ah...Ibu ingin menutupinya. Walau ia tampak memuji-muji Jae Min di depan Jae Gwang, ia rupanya hanya menutupi kekurangan Jae Min dengan baik. 


Sang Hun menyampaikan permintaan maafnya. Dia pun memberitahu alasan Jae Min tidak menjelaskan hal ini. Pasti sangat menohok Jae Gwang.


 

"Tidak bisakah kau kembali normal? Maksudku...tidakkah kau ingin berpacaran seperti orang-orang biasanya?"

"Adakah yang seperti itu? Jika kau menyayangi seseorang, kau ingin melihatnya. Begitu kau melihatnya, kalian berkencan seperti orang-orang biasanya."

Errrr...Jae Gwang tercengang. Air mukanya terlihat bingung. Berbeda dengan Sang Hun yang tampak menghiraukan keanehan dirinya dan tersenyum kecil menatap langit. 


Pagi itu, Yun Hye akhirnya membuka kotak antingnya untuk ia kenakan di acara kencan pertamanya . Ia bahkan beranjak berganti pakaian saat merasa anting tersebut kurang sesuai dengan yang ia kenakan. 


Jae Gwang sudah sampai kembali di kamar hotel. Tanpa ba-bi-bu ia kemasi pakaiannya dan ibunya. 

"Kau tidak mendengar apa-apa. Mereka hanya ingin merusak imej kakakmu karena dia sukses," celetuk Nyonya Shin yang duduk di depan cermin.

Tapi putera keduanya tidak setuju. Ia menganggap itu pilihan kakaknya. Namun bagaimanalah itu  mungkin buat Nyonya Shin. Sebagai seorang ibu yang sudah membesarkan Jae Min, menurutnya Jae Min sempurna dan orang yang mencelanya yang berbohong.


Mereka terus beradu mulut. Jae Gwang pikir jika ibunya tidak 'menekan' Jae Min untuk selalu menjadi nomor satu, mungkin sang kakak bisa bersenang-senang. Bilasaja ibunya mengizinkannya bersama orang ia sayangi, Jae Min mungkin tidak akan melarikan diri dan berakhir seperti sekarang.


"Mengapa aku yang salah? Kim Ju Pyeong yang membunuhnya, mengapa aku yang disalahkan?" Nyonya Shin jelas tidak tahan. Jae Gwang lalu melenggang pergi meninggalkan ibunya. 

 

Perasaan keduanya pasti jadi rumit. Kayak saya yang udah nggak tahu lagi gimana ngomentarin mereka. Nyonya Shin masih bergetar untuk duduk kembali di kursinya setelah marah-marah. Jae Gwang ragu dan juga terduduk di dekat jembatan. Ia ingat punya janji kencan dengan Yun Hye sigh...


 

Yun Hye cemas menunggu Jae Gwang. Mungkin ia khawatir Jae Gwang tidak datang, membatalkan janji mereka sepihak. Namun untungnya tidak. Yun Hye sampai berkelakar, biasanya wanita yang terlambat.



Bus mereka tiba. Jae Gwang cepat menarik Yun Hye masuk, membuat Yun Hye heran dan memegangi tangannya. Tapi tidak lama sebab beberapa menit setelahnya Yun Hye menanyakan apa yang akan mereka lakukan. Begitu Jae Gwang menjawab mereka akan melakukan apa yang orang lain lakukan ketika berkencan, kita bisa melihat Yun Hye tersenyum ke arah luar. Ia juga menutupi antingnya ketika dipandangi Jae Gwang. Ckckck ini pertama kalinya Jae Gwang melihat Yun Hye senang, tapi ia justru tidak bisa ikut senang seperti Yun Hye.


 

Sambil menunggu pemutaran film satu setengah jam lagi, mereka berdua makan terlebih dulu. Mulanya Yun Hye tidak bersemangat. Ditanya Jae Gwang kenapa, gadis ini menjawab ia tidak biasa melihat makanan sebanyak yang di hadapannya kini. Yun Hye kemudian menanyakan perkembangan investigasi Sang Hun. Tak bisa dipungkiri ia gembira sudah bisa mengetahui hasilnya segera. Jae Gwang bilang hampir selesai soalnya.

Yun Hye meniru cara makan Jae Gwang yang lahap. Jae Gwang menatapnya kembali dengan ekspresi aneh. Ia tidak enak sudah membohongi Yun Hye.


 

Jae Gwang dan Yun Hye melanjutkan perjalanan balik ke bioskop. Keduanya mengobrol akrab, menceritakan bagaimana mereka kecil dulu. Yun Hye nomor satu main hula-hoop. Rekornya 1 jam 11 menit. Jae Gwang sampai memujinya yang sudah cantik sehingga tidak perlu lagi membentuk tubuh. 


Saat ditanya Yun Hye, Jae Gwang makan apa hingga bisa setinggi ini, Jae Gwang bergurau ia makan banyak kritik dari Nyonya Shin. 

 

"Kau pasti sering membuatnya merasa sulit," komentar Yun Hye. Gadis ini lalu teringat, bertanya apakah Nyonya Shin tahu ada orang lain yang ditahan.

Tapi Jae Gwang kembali mengelak. Malah meminta Yun Hye berfoto di photobox. Jika Yun Hye tidak ingin berfoto bersamanya sebelum ayahnya benar-benar terbukti tidak bersalah, ia minta Yun Hye mengambil fotonya sendiri saja. Yun Hye cantik...sangat cantik hari ini. 


Usai memberitahu bagaimana cara berfoto, Jae Gwang mendengar Yun Hye yang merasa seperti orang biasa. Ia juga mendengar ucapan Yun Hye yang cukup mengejutkannya,

"Bila ayahku terbukti tidak melakukannya, aku tahu apa yang ingin kulakukan. Aku juga ingin berkencan. Denganmu..."

"Baiklah. Mari kita lakukan," balas Jae Gwang lemah.


Dan Yun Hye pun tersenyum...seperti yang diminta Jae Gwang.


 

Jae Gwang puas melihat hasil foto Yun Hye. Sayang, kesenangan mereka tidak berlangsung lama. Ayah Yun Hye menelepon. Meski tahu itu, Jae Gwang meminta Yun Hye tak mengangkatnya. Seolah tidak ingin Yun Hye tahu secepat ini.


Ayah sedang berada di dekat rumah. Ia memilih menelepon di dekat sana karena di rumah tidak ada siapa-siapa. Ayah ternyata mengkhawatirkan Nenek yang tidak pergi bersama Yun Hye tempo itu. Nenek juga tidak mengangkat telepon. 

 

Yun Hye tidak menjawab. Putri Kim Ju Pyeong tersebut memotong lembut pertanyaan ayahnya untuk bertanya satu hal, "Ayah tidak melakukannya, kan?"

Jae Gwang menelan ludah. Seperti tahu jawabannya, ia pasrah... Apalagi mengetahui di seberang sana Ayah tidak cepat menjawab, walau Yun Hye mengabarkan neneknya baik-baik saja. 

 

Sejurus kemudian, sambil berurai air mata penyesalan, Ayah meminta maaf. Ia sangat menyesal pada putrinya. Ucapan yang selama ini tak bisa ia ungkap, sempurna kini membungkam Yun Hye. Membuyarkan angan-angan yang baru putrinya buat beberapa jam lalu. 

Jae Gwang tak berani menerima tatapan Yun Hye sesudahnya. Yun Hye terpaku. 



Sama terpakunya dengan Nenek yang akhirnya bertemu puteranya, Kim Ju Pyeong.


"Ayahku meminta maaf...ia meminta maaf...Apa artinya ini?"


Jae Gwang melangkah mendekat, memegangi Yun Hye. Namun Yun Hye melangkah mundur. Ia membentak Jae Gwang, "Kau sudah tahu? Kau sudah tahu?"



Kalau kemarin saya bilang mereka bisa bersama dulu karena faktanya belum terungkap, di akhir episode ini perkataan tersebut menjadi tidak berlaku. Setelah ini masuk babak baru lagi. 

Oh ya, tentang pemikiran Sang Hun...duh, ngarep banget dia ketemu cewek lain yang bisa mengubah pemikirannya itu.  

No comments :

Post a Comment