September 21, 2016

Just An Ordinary Love Episode 3 - 1

Sebelumnya: Just An Ordinary Love Episode 2 - 2

Just An Ordinary Love Episode 3 - 1



Yun Hye: Apa yang akan kita lakukan?

Jae Gwang: Apa yang ingin kau lakukan?

Yun Hye: Yang orang lain lakukan...

Jae Gwang: Baiklah kalau begitu. Makan, menonton, minum kopi...semua yang orang lain lakukan.

***


 

Jae Gwang menahan Yun Hye pergi. Ia seperti meyakinkan dirinya sendiri, bertanya pada Yun Hye, benarkah Yun Hye tidak berbohong kalau tidak bertemu ayahnya.

“Sejauh inilah kita,” jawabnya.

Mendengarnya jelas Jae Gwang membantah. Mereka tidak jauh. Ia percaya dengan perkataan Yun Hye kalau ayahnya bukan pembunuh. Namun Yun Hye sambil tetap membelakangi Jae Gwang menambahkan bahwa tidak ada yang berubah meski ia mempercayainya. Selama 7 tahun, tidak ada yang berubah. Ia lantas meninggalkan Jae Gwang yang sama sekali tak merasa lega.


Di tempat lain Nyonya Kim menemui pria berjaket biru yang sedang menyerut kayu. Kita panggil saja tukang kayu.

“Mengapa kau melakukannya?” tanya Nyonya Kim tanpa tedeng aling-aling. Memandang sinis tukang kayu di depannya.

“Aku hanya mengembalikannya pada pemiliknya.”

 

Nyonya Kim tidak terima. Seharusnya pria itu melakukannya sejak dulu. Mengapa baru sekarang? Karena tindakan sang pria, saudara laki-laki orang itu jadi tertarik padanya. Nyonya Kim menyalahkan pria tersebut yang seharusnya tidak datang ke tempat yang ia datangi dulu.

Tapi tukang kayu tak setuju, “Kau tidak berhak mengatakan ini.”

Wah, wah...ada apa?


Sebelum tidur, Yun Hye berbincang dengan Nenek. Nenek tidak bercerita kalau ia bisa bertemu dengan ayahnya dengan cara seperti kemarin selama ini. Ia takut akan menyakiti Yun Hye. Lebih jauh ia memaparkan bahwa dua tahun sejak kejadian ayahnya menghilang, puteranya itu menelepon. Awalnya ia tidak mengerti. Baru paham saat bertemu langsung dan demikianlah mereka bertemu setiap tahun. Ayah Yun Hye ingin bertemu puterinya, walau selalu saja hanya sekilas.  


“Adakah cara menghubunginya?” Yun Hye ingin tahu.

“Aku harap ada.” Nenek juga tidak ingin puteranya terus-terusan berpindah tak menentu.

 

Pagi menjelang. Jae Gwang masih memikirkan peristiwa hari sebelumnya. Ia bahkan menatap tangan yang mencekal Yun Hye sampai kesakitan. Ia kemudian pergi menemui Nyonya Kim lagi di kafenya.



Saat ditanya Jae Gwang, Nyonya Kim berujar ia memang mengenal Han Jae Min, kakak Jae Gwang. Ia dan Jae Min yang saling mencintai berniat melarikan diri karena Nyonya Shin menentang hubungan mereka. Jae Gwang tertegun.

“Kami sepakat bertemu di terminal, namun kami tidak pernah bertemu.”

 

Berikutnya kita diperlihatkan kilas balik saat Nyonya Kim muda baru turun dari taksi dan Jae Gwang tertabrak mobil box.

 

Mengenai pertanyaan Jae Gwang terkait hadiah Jae Min, Nyonya Kim menjelaskan kalau Jae Min ingin memberikannya sebelum pergi. Ada rumor yang menyebut Jae Gwang sedang kemari, jadi karena ia pun tak tega membuangnya, ia merasa perlu memberikannya. Nyonya Kim menyeruput kopinya. Tampak sedikit cemas.

“Lalu mengapa anda tidak memberikannya langsung padaku?”

“Sebab aku tidak ingin menceritakan semua ini,” balas Nyonya Kim menutup cerita.


Usai mendengar pemaparan Nyonya Kim, Jae Gwang segera bangkit hendak meninggalkan kafe. Namun ternyata ia masih memiliki pertanyaan terkait pria berjaket biru.

“Dia orang yang kukenal. Aku hanya menjadi penyuruhnya, sehingga aku tak ingin ada yang mengganggunya.”

Hmmm gelagat Nyonya Kim terlihat seperti menyembunyikan sesuatu.

 

Detektif Kang mengembalikan barang bukti dari Jae Gwang berupa hadiah dan foto Jae Min. Ia tahu pula dari Detektif Kang nama pria berjaket biru itu adalah Kang Moksu, seorang perajin. Dengan ini Jae Gwang akan kembali ke Seoul. Keluarga korban yang datang ke kantor polisi itu tidaklah membantu dalam penangkapan Kim Jupyeong.


O.ow, Dae Eung yang diminta ke sana oleh Detektif Kang (untuk melapor mobilnya sudah diperbaiki) mendengar fakta ini. Fakta kalau Jae Gwang dan ibunya merupakan keluarga korban yang mencari Kim Ju Pyeong.



Bogem mentah pun dilampiaskan Dae Eung di tempat parkir kepolisian. Pria ini ingin mengajak jae Gwang berkelahi, tapi Jae Gwang tidak meladeninya. Ia memilih memungut foto Jae Min yang terjatuh dan sengaja diinjak Dae Eung. Dae Eung meminta Jae Gwang menjauhi Yun Hye.

“Bagaimana kalau aku tidak mau?” tantang Jae Gwang.

 

Ya, perang dong namanya. Tapi mengapa ia dan Yun Hye bisa jalan bareng kalau Yun Hye tahu siapa Jae Gwang?

“Mungkin dia menyukaiku?”

 

Haha...Dae Eung nggak menelan jawaban tersebut. Sekali lagi ia meminta Jae Gwang kembali ke Seoul. Toh dia sudah menemukan apa yang ia cari. Pria berjaket biru yang punya kunci dalam foto. Beneran??? Jadi Kang Moksu punya kunci yang sama?

 

Yun Hye termenung di kamarnya. Ia menggerak-gerakkan tangannya di bawah sinar matahari. Sinar matahari yang berhasil memasuki kamar berkat bantuan Jae Gwang melepas papan di jendela. Kemudian telepon berdering. Ia ingat ayahnya.

 

Yun Hye mengangkat telepon itu setelah menunggu beberapa lama. Memanggil yang di seberang sana dengan sebutan ayah. Ia meminta Ayah menemuinya di halte kemarin. Ia akan menunggu sampai Ayah datang. Ia berangkat setelah ini. Dan tut...tut...tut...telepon terputus tanpa sahutan Ayah.

Ayah memang berniat pergi dari tempatnya semalam. Rekannya cukup sedih dengan kepergiannya.

 

Yun Hye bergegas menuruni gang ketika Jae Gwang menghadangnya. Jae Gwang ingin Yun Hye memberitahunya studio-studio di Jeonju. Jae Gwang mau mencari tahu tempat Kang Moksu yang terkait dengan kematian kakaknya. Sebenarnya Yun Hye bisa melihatnya di kantor, tapi ia akan mencarinya nanti.


Setidaknya sampai Jae Gwang kembali mengusiknya dengan pertanyaan, “Apa yang lebih penting dari ini?”



Mereka berdua pun berakhir bersama menuju halte. Jae Gwang meyakinkan Yun Hye, ia tak akan membiarkan Kim Ju Pyeong melihatnya. Tapi apa yang akan dikatakan Yun Hye saat bertemu ayahnya nanti?

“Aku ingin mendengar Ayah mengatakan lagi kalau dia tidak melakukannya.”

“Bagaimana kalau iya? Mintalah ia menyerahkan diri.”

“Tidak. Dia tidak melakukannya.” Yun Hye bersikeras.



Waktu terus berjalan, namun Yun Hye tak melihat ayahnya. Bus bus yang ia lewati tidak mengangkut sang ayah yang ia ingin dengar suaranya. Hingga ia yang mengikuti bus terakhir, terjongkok melepas lelah. Matahari sudah enggan menemaninya.



Jae Gwang spontan menghampirinya. Tapi Yun Hye menampiknya kasar. Matanya berair. Ia menuduh Jae Gwang yang menyebabkan ayahnya tak datang. Ia menyuruh Jae Gwang pergi agar bisa bertemu ayahnya.


Jae Gwang menolak. Kalau ayahnya ingin bertemu harusnya sudah datang sejak tadi. Ia tahu Yun Hye sangat ingin mempercayai ayahnya bukan pelaku kejahatan yang menjadikannya akan terus menunggu ayah mengatakan langsung padanya. Jae Gwang juga sama. Sampai sekarang itu semua memang mungkin. 


Namun hari semakin gelap, Jae Gwang mengantar Yun Hye pulang.

Mereka berdua rupanya diperhatikan Kim Ju Pyeong yang berada tak jauh dari sana.


Yun Hye bingung apa yang membuat ayahnya tidak datang. Jae Gwang menimpali, berkata kemungkinan ayahnya tidak sanggup bertemu dengan Yun Hye. 

"Kenapa...dia mungkin bukan orang yang bisa segala hal, tapi dia orang yang baik. Ibuku mengomel karena dia selalu membawa anjing liar ke rumah. Mengapa dia melakukan..."

Kalimat Yun Hye tergantung, dipotong Jae Gwang yang memintanya berhenti memikirkan itu. Namun Yun Hye beralasan, sekali ia memikirkannya ia memang tidak bisa lupa. Seperti dalam air yang gelap dan menakutkan. Ia baru bisa bernafas saat mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ayahnya tidak melakukannya.  

Sayang, siapalah yang percaya padanya. Ia bahkan tidak bisa membuktikan apa-apa.


Jae Gwang menyahut, ada kemungkinan seorang bernama Kang Moksu pelakunya. Gantungan kunci kakaknyalah petunjuknya. Apa Yun Hye ingin ikut ke tempat perajin tersebut bersamanya? 

 

Yun Hye tak mengiyakan, melempar pertanyaan balik. Bagaimana jika bukan dia orangnya?

"Kita harus mencari orang lain. Ayahmu bilang, dia tidak melakukannya."

Ckckck. Jae Gwang-ah...

 

Daftar studio di Jeonju sudah di tangan. Yun Hye mengambilnya dari kantor. Ia tampak tidak enak mengambilnya dari meja lain. Tapi dia memutuskan tetap menyerahkannya pada Jae Gwang. 

Satu-satunya nama Kang yang tertulis di sana adalah Kang Sanghun, pemilik studio seni Bangsi. Yun Hye kembali menjadi pemandu jalan Jae Gwang kali ini. Mereka menuju tempat itu yang terletak dekat dengan Gunung Meonjisan. 


Langkah demi langkah ke studio dari tempat mereka memarkir mobil, Jae Gwang menceritakan apa yang dikatakan Nyonya Kim padanya. Jae Gwang cukup terkejut mendengarnya. Kakaknya anak yang baik. Ia tak habis pikir kalau kakaknya sampai terlibat hubungan yang tidak direstui Nyonya Shin. 

 

Yun Hye sampai menghentikan jalannya. Wanita ini menyimak seksama dan berusaha membuat Jae Gwang tidak semakin merendahkan dirinya. Tidak benar Nyonya Shin akan memilih Jae Min ketimbang dirinya bila tenggelam ke dalam air. Bagaimanapun dia ibunya Jae Gwang.

"Tidakkah dia sedih kau memanggilnya dengan Nyonya Shin?"

"Harusnya...tapi dia tidak."


Tiba di depan pintu studio, mereka mendapatinya tidak terkunci. Tanpa ragu, Jae Gwang lantas meminta Yun Hye berjaga di luar karena ia tahu ia tidak boleh melakukan ini. Jadi setidaknya jangan ketahuan.

 

Mengendap-ngendap Jae Gwang menyelinap masuk diterangi senter ponselnya. Tempat itu jelas tempat Kang Moksu. Ia melihat bunga di TKP sudah kering di tmpat sampah. Ia melihat pula gantungan kunci kakaknya. Dengan cepat ia kemudian menggeledah laci di sana. Tidak menemukan apa-apa, ia membuka-buka buku di atasnya. Ada selembar foto pernikahan dengan Nyonya Kim di tengah, didampingi kakaknya dan Kang Moksu masing-masing di samping kanan dan kirinya. 

 


Eits, waktu mereka tidak banyak. Kang Moksu telah kembali. Yun Hye yang menyadarinya segera masuk memberitahu Jae Gwang


Benar saja, Kang Moksu bisa mencium keberadaan orang lain di tempatnya. Bukunya terbuka dan foto yang ia miliki hilang. Perajin tersebut keluar mencari jejak si maling...yang sebenarnya sedang bersembunyi di bawah meja heheee. Sempet gandengan tangan tuh :P Nggak sengaja sih. Usai melepas canggung mereka pun pergi.

Dan diamati oleh Kang Moksu yang masih ada di sana. Wah! 


Jae Gwang tiba-tiba mengerem mobilnya. Ia mempertanyakan, sanggupkah seseorang membunuh teman yang melarikan diri bersama istrinya? Jae Gwang berspekulasi Kang Moksu bisa jadi pembunuh kakaknya. Ia memperlihatkan foto ini pada Yun Hye. 


 

Kerennya, Detektif Kang juga berpikiran sama. Ia memaparkan teorinya. Nama asli Kang Moksu adalah Kang Sanghun. Pria ini menikah dengan Nyonya Kim pada Mei 2004, cerai pada Maret 2005. Sedangkan Jae Min terbunuh pada Februari 2005. Memang Kim Ju Pyeong yang menabrak Jae Min dan membawanya ke gunung. Namun ada kemungkinan ia hanya membiarkannya di sana dan Jae Min dibunuh oleh seseorang yang mengikuti Kim Ju Pyeong. 

Asisten Detektif Kang ragu teori Detektif Kang benar. Tidak ada motifnya. Ia yang melaporkan adanya keanehan pada sambungan telepon rumah Kim Ju Pyeong dan ponsel putrinya lalu disuruh Detektif Kang terus mengawasi. Ambil tindakan jika ada telepon susulan. 


Jae Gwang berlari masuk menemui Detektif Kang membawa kunci dari studio seni Kang Moksu. "Kau tahu pemilik kafe dan kakakku sepasang kekasih, bukan?"


Detektif Kang sinis melihatnya, kesal melihat Jae Gwang menerobos masuk tempat orang tanpa izin. Tidak mungkin pemiliknya memberikan Jae Gwang cuma-cuma. Aish, anaknya kayak gini, ibunya kayak gitu. Lihat Nyonya Shin menunggu tiap hari di luar kantor. Bikin pusing kepalanya...



Nyonya Shin yang baru saja masuk, memilih keluar bersama Jae Gwang. Namun ia langsung terbakar amarah melihat Yun Hye ada di sana.


 

Lagiiiiii?

Bersambung ke Just An Ordinary Love Episode 3 - 2


Mulai menegang...tapi drama ini bukan tentang Yun Hye dan ayahnya saja. Jae Min, kakak dan ibunya juga punya bagian. Jadi kalau ayah Yun Hye punya rahasia, apa kakak Jae Gwang pun demikian?

Untuk Yun Hye dan Jae Gwang, tinggal menunggu waktu mereka menganggap kejadian ini masa lalu. Karena belum selesai kasusnya, biarkan mereka bersama dulu ya!^^ 

No comments :

Post a Comment