September 1, 2016

Just An Ordinary Love Episode 2 - 2


Just An Ordinary Love Episode 2 – 2

 
  
Keesokan hari, seperti biasanya Yun Hye berangkat kerja. Di jalan lain, Nenek juga terlihat membersihkan jalan. Namun sesampainya ia di kantor, rekannya mengabarkan berita skorsingnya. Ia diminta libur selama seminggu. Bos Oh bilang akan membicarakannya lagi dengan manajemen, jadi tetaplah bertahan. Tidak ada yang menggantikan posisi Yun Hye selama seminggu nanti. Mungkin dengan begini, ia bisa mengubah pikiran mereka.



   

Yun Hye mengangguk. Menuntun sepedanya menjauh meninggalkan poster buron ayahnya yang sudah tertempel di papan pengumuman samping kantor.

 


Di kantor polisi, Jae Gwang menemui pemilik mobil yang katanya meletakkan stik drum di mobilnya. Pemilik mobil yang ia kira punya hubungan dengan kakaknya. Tapi ia sangat kecewa melihat yang ia temui di kantor polisi bukan pria yang ia tahu. Justru wanita. Dan wanita tersebut mengatakan bahwa ia sama sekali tidak meminjamkan mobilnya pada siapapun kemarin. Deskripsi pria berjaket biru yang ditanyakan Jae Gwang jelas terlalu umum. Bagaimana ia bisa menjawab apakah ia bertemu dengan pria itu atau tidak.


Polisi mencium kebohongan Jae Gwang yang kemarin melapor kasus tabrak lari. Mobil Nyonya Kim tak memiliki goresan seperti milik Jae Gwang. Jae Gwang juga terdengar memohon dipertemukan dengan pria berjaket biru karena telah meletakkan sesuatu penting di mobilnya. Jadi bukan ditabrak lari?

“Dia menabrak dan meninggalkan sesuatu,” Jae Gwang berkilah. Ia lantas mengikuti Nyonya Kim menuju mobilnya. 



  


Masih ada bunga yang ia lihat di TKP Gunung Meonjisan waktu ia pergi bersama Yun Hye yang kini telah mengering. Jae Gwang penasaran. Ia menanyakan pada polisi, di mana Nyonya Kim bekerja.


  


Sampailah Jae Gwang di sebuah kafe milik Nyonya Kim. Ia pura-pura keget melihat Nyonya Kim. Merekayasanya bak kebetulan. Padahal Nyonya Kim kelas tahu Jae Gwang mencari pria yang ia sebut tadi. Ia mempersilahkan fotografer terkenal ini duduk dan melihatnya sendiri.

  




Yun Hye pulang cepat. Nenek yang melihatnya jadi bingung, khawatir terjadi sesuatu. Tetapi Yun Hye menenangkan neneknya. Ia libur. Kemudian terdengar bunyi telepon. Nenek tak langsung mengangkatnya. Ia hitung berapa detik telepon berbunyi, baru mendekat. Nenek terlihat mengatur nafasnya agak ketakutan, namun ia mengucap syukur.

Sang cucu heran, siapa memangnya yang di ujung sana? Nenek membalas hanya seorang yang salah sambung.

  

Jae Gwang memang tidak dapat apa-apa di kafe. Tetapi ia tertarik pada papan yang dipenuhi banyak foto. Nyonya Kim bilang itu foto-foto pelanggan. Ah...


Mata Jae Gwang tak sengaja tertambat pada selembar foto bertuliskan, ‘Maret 2005’. Ia menoleh sebentar pada Nyonya Kim yang tengah menyiapkan kopi untuknya, sebelum mengambil diam-diam foto tersebut.



Ia perhatikan foto ini di mobil sendiri. Foto yang memperlihatkan meja dengan potongan cake, secangkir kopi dan sebuah kunci mobil dengan gantungan kunci yang memiliki guratan tanggal, 2000.12.24. Jae Gwang segera menelepon seseorang. Sayang tidak tersambung. Ia baru tersambung ketika menelepon telepon rumahnya. Telepon rumah yang ia ketahui dari sebuah dokumen dalam amplop di jok belakang mobilnya. Ia menelepon Yun Hye. Ngeri euy ngeliat Jae Gwang nyelidikin ke Yun Hye kayak gitu t.t

  
  
Nenek yang mengangkat telepon tak menyangka Yun Hye bahkan memberitau Jae Gwang nomor telepon rumah mereka. Yun Hye nggak bisa menyembunyikan ketakjubannya pula. Ia tak mengerti saat suara di seberang telepon to the point menanyakan, “Benarkah? Apakah kau sunggguh percaya ayahmu tidak melakukannya?”

  




Di sebuah restoran cepat saji, Jae Gwang memandang lama foto yang ia pegang. Ia teringat masa lalu kala kakaknya lupa meninggalkan kunci itu di meja belajarnya. Lamunan Jae Gwang baru terhenti saat Yun Hye datang. 



Ia lalu menjelaskan dengan semangat penemuan yang ia dapat hari ini. Pemilik mobil van meninggalkan hadiah kakaknya, pemilik mobil memiliki bunga yang sama dengan yang ada di Gunung Meonjisan, dan terakhir ada foto kunci mobil kakaknya di kafe si pemilik mobil. Yun Hye hanya diam.


Jae Gwang sadar ia belum mempersilahkannya duduk. Begitu Yun Hye duduk, ia menanyakan kembali apakah Yun Hye menyembunyikan sesuatu? Sebab ia pernah mengatakan sebelumnya kalau ayahnya mengaku tidak melakukannya. Berarti ada pelaku lain.

Gadis di hadapannya menjawab tidak ada. Yun Hye menambahkan bisa saja kakak Jae Gwang datang ke sana dan kebetulan meninggalkan hadiahnya di sana. Tapi Jae Gwang tidak setuju karena foto itu diambil sebulan setelah kematian kakaknya. Ia menunjuk tulisan di foto. Ia penasaran apa yang terjadi.

  

“Lalu apa yang akan kau lakukan?” tanya Yun Hye.

“Sebaiknya kita makan dulu,” ajak Jae Gwang.

 


Yun Hye tidak mau. Dia menolak halus. Yun Hye bercerita tentang dirinya yang tidak makan hamburger. Ia perlu membuka mulutnya lebar untuk itu dan dia tidak suka. Hihihi, mendengarnya Jae Gwang menekan bungkusan burgernya agar lebih kempis sehingga Yun Hye tak perlu sampai seperti itu memakannya. Ia lantas memberikannya pada Yun Hye. Begitu juga ia memperlakukan hamburgernya. 



Yun Hye menyunggingkan senyum tipis. Mereka akan ke kantor polisi setelah ini. Detektif Kang ingin melihat foto dan hadiahnya. Ehem...mereka sudah lebih akrab nih.

  



Jae Gwang bercerita ia pertama kali bertemu Yun Hye di kantor polisi. Dan kala itu juga pertama kalinya Yun Hye ke sana. Mereka kemudian memutuskan pulang setelah melapor. Jae Gwang mendorong Yun Hye keluar dengan memegang pundaknya. Yun Hye nggak mau dianter pulang sih.

  




Mereka dipergoki Nyonya Shin di luar. Menatap tajam Jae Gwang yang bersikap demikian ke anak anjing. (Maaf) Anak Kim Ju Pyeong. Memang Jae Gwang selalu bertindak yang tidak seharusnya. Berbeda dengan kakaknya. Jangankan hidup seperti kakaknya yang lulus tes ujian masuk pengacara, masuk ke universitas tingkat 2 saja ia tidak mampu. Apalagi ia begini sama dengan bukan manusia. Apa Jae Gwang menyukai Yun Hye???


Yun Hye memilih pamit pergi.

  

Jae Gwang tidak mengejarnya. Ia lebih dulu menyusul ibunya yang memasuki kantor polisi. Awalnya Jae Gwang meminta maaf ketika diminta mengatakan semua yang ia tahu dan alasannya kemari. Tapi karena Nyonya Shin membentaknya, ia akhirnya menjelaskan.

Inilah alasannya tidak pulang ke rumah. Bila ia tidak pulang pun, ibunya akan menyuruhnya kembali dan melakukan hal ini. Maka ia memilih berkeliling negeri. Bisakah ibunya melupakannya saja dan Jaemin, kakaknya? Hidup dengan tenang tak seperti sekarang dengan dendam yang sangat meluap...  

Nyonya Shin tidak terima, bagaimanalah ia bisa lupa? Pembunuh putra tercintanya masih hidup di suatu tempat. Mendengarnya Jae Gwang membalas tak kalah kerasnya, 

"Ibu tidak bisa mengubah apapun. Dia tidak bisa kembali. Sudah selesai 7 tahun lalu saat kakak meninggal. Cukup terima, Ibu."


Perkataan tersebut dibalas umpatan Nyonya Shin. Jae Gwang lantas memutuskan menemui Yun Hye yang walau ia berusaha meneleponnya melalui hp dan rumah, tetap tidak bisa ia temukan.


Berbeda dengan detektif Kang yang menemukan petunjuk baru hehe. Setelah diselidiki ternyata Nyonya Kim memang merupakan orang terakhir yang melihat Han Jae Min hidup. Kakak Jae Gwang itu sempat ke kafenya sebelum meninggal.




  


Memori masa lalu Jae Gwang membawanya ke tempat Yun Hye kini berada. Yun Hye sampai terkejut. 

"Bagaimana rasanya saat kau terjun ke air?" eaaaaa saya suka banget ekspresinya Yeon Woo Jin di sini ><. Jae Gwang dulu mengikuti Yun Hye sehingga ia bisa tahu. Ia sendiri tak tahu sebabnya ia melakukan itu. Ia baru berpikir sesudahnya kalau ia dan Yun Hye di kantor polisi seperti memiliki ekpresi yang sama.

  


"Apakah kau takut?" tanya Jae Gwang lagi.

Yun Hye senyum maniiiiiiiis sekali. Bilang jujur ia terbebani dengan coat-nya yang basah dalam air. Padahal ia berusaha naik. Tenaganya tidak sebanding ternyata. Jae Gwang memaparkan pula ia berniat menolong Yun Hye saat itu namun ia merasa tak perlu. Ia meninggalkan Yun Hye begitu saja. 

"Baguslah," komentar Yun Hye.

Jae Gwang menambahkan. Meski demikian ia penasaran apakah Yun Hye masih hidup atau tidak. Mungkin itu sebabnya ia ke sini. Setelah mengetahui Kim Ju Pyeong tinggal bersama putrinya, Nyonya Shin menyuruhnya menemui Yun Hye. Jae Gwang berujar ia senang. 

Ia tak lupa minta maaf atas sikap ibunya. Yun Hye maklum. Semua Ibu pasti begitu melihat anak satu-satunya malah bersamanya. Ia mengulang kata Nyonya Shin agar Jae Gwang hidup untuk kakaknya. Namun Jae Gwang balik bertanya,


"Mengapa semua orang menyuruhnya begitu?" 

Yun Hye jadi merasa senasib. Ia juga diminta orang-orang untuk menjalani hidup yang keras. Mengapa? Hhhh...perasaannya jadi aneh kalau membayangkan ayahnya akan mengatakan kebenaran nanti. Tapi tanggapan Jae Gwang yang menyatakan akan lega jika benar hal itu terjadi membuatnnya menoleh. 


Seyakin itukah Jae Gwang? Bagaimana bila kenyataan tak sesuai yang kau harapkan?




  


Kita kembali ke kantor polisi karena Nyonya Kim dipanggil untuk diinterogasi terkait foto yang ditemukan Jae Gwang. Tapi bukannya mendapat titik terang, detektif Kang malah menegaskan lagi bahwa pembunuhnya memang Kim Ju Pyeong. 


  

Waktunya pergi ke makam ibu Yun Hye. Yun Hye minta maaf ia terlambat. Namun tak seperti biasa, Nenek malah menyuruhnya pergi sendiri. Nenek takut terlambat jika tua renta sepertinya menemani Yun Hye. Yun Hye harus ingat naik bus tepat pukul jam 5 ya? Ia harus sampai tepat pukul 6 soalnya. Jangan sampai ketinggalan. 



Sebelum naik bus, Yun Hye dihubungi Jae Gwang menanyakan apakah mereka bisa bertemu. Mungkin Jae Gwang ingin menyampaikan hasil dari detektif Kang. Sayang Yun Hye yang ia lihat sendiri di depan matanya justru berkata kelelahan, menolak ajakannya. Jae Gwang lantas mengikuti Yun Hye hingga turun dari bus.



Yun Hye sedang mengangkat telepon Nenek saat itu. Mengabarkan dia sudah sampai ketika sebuah bus lain yang membawa ayahnya (Lee Sung Min) melintas. Sang Ayah menatap rindu putri yang lama ia tinggalkan. 

 



Yun Hye terkesiap. Ia menjatuhkan bawaannya dan berlari mengejar bus dengan kaki lemas. Hanya beberapa meter berlari, ia terjerembab. Jae Gwang menghampirinya dan mendengar Yun Hye memanggil lemah, "Ayah".



Tidaaaaaak. Jae Gwang terlanjur kecewa merasa dibohongi. Ia menurunkan Yun Hye di tengah jalannya menuju kantor polisi. Ia memberitahu Yun Hye kalau bukan pemilik kafe (Nyonya Kim) pelakunya.

 


Yun Hye bisa apa. Ia terdiam cukup lama di tempat Jae Gwang menurunkannya. Sampai Jae Gwang kembali :') Padahal sebelumnya Jae Gwang sudah sampai di depan kantor polisi.

 

Terlihat pria berjaket biru yang tengah menyerut kayu didatangi Nyonya Kim. Terlihat pula Kim Ju Pyeong berbaring di suatu tempat. 


Jae Gwang mengungkapkan memang tak masalah siapa pelakunya. Tapi sekarang jadi masalah. Yun Hye menatap Jae Gwang berkaca-kaca sebelum berbalik. 


"Jangan memunggungiku," Jae Gwang mencekal Yun Hye pergi. "Jangan membelakangiku..."


Komentar:



Walah...endingnya kok begini ya? Ketahuan gimana isi hatinya Jae Gwang. Setelah selama ini ia sering membuat orang memunggunginya, ia tidak ingin lagi. Setidaknya jangan Yun Hye, orang yang mungkin membuatnya nyaman. Miris mereka berdua bisa terlibat hubungan seperti ini. Kalau tidak bisa jadi mereka udah pacaran kayak pasangan biasanya.

Episode ini pun terasa lebih gelap. Ngeliat Yun Hye yang bahkan nggak mau terlihat membuka mulutnya lebar itu kasihan banget. Ia seolah berpikiran orang-orang di sekitarnya selalu memperhatikannya dan tidak suka melihatnya tampak baik-baik saja. T.T

Eh, kalau Ayah Yun Hye bukan pembunuh kenapa nggak pulang aja ya? Kan tinggal njelasin apa adanya...Pantes Jae Gwang langsung mau lapor ke kantor polisi.

1 comment :

  1. Kok ngga dilanjut mba sinopsisnya padahal sy suka lho sm dramany. Sy suka sm pemeran cowoknya. Tolong dilanjut yaa... :)

    ReplyDelete