September 3, 2016

38 Task Force Episode 14 - 1


Nyonya Noh menjemput Ketua Wang dan Tuan Kim yang baru saja keluar dari penjara dan hal pertama yang ingin Ketua Wang lakukan adalah bertemu Jung Do.



Ketua Choi yang suka menyamar jadi orang miskin, sedang bermain baduk dengan temannya. Jae Sung yang baru saja keluar dari penjara, datang tak lama kemudian dan minta bicara berdua. Ketua Choi mengenalinya sebagai polisi yang masuk penjara atas tuduhan menerima suap. Tapi apa tujuan Jae Sung datang menemuinya hari ini.

Jae Sung mengaku kalau dia datang kemari untuk menawarkan sebuah kesepatan, dia meminta Ketua Choi untuk memberinya uang 5 juta dollar sebagai ganti informasi penting yang dia miliki. Dia mengklaim informasi ini bisa membuat Ketua Choi mengontrol Walikota semaunya dan selama yang dia inginkan.

Tapi Ketua Choi tidak mempercayainya dan menolak penawaran itu dengan mengklaim kalau dia tidak punya uang dan tidak ingin mengontrol Walikota. Sambil tersenyum sinis, Jae Sung akhirnya beranjak bangkit dan memberitahu Ketua Choi untuk menghubunginya jika Ketua Choi berubah pikiran.


Dia memperingatkan Ketua Choi bahwa semakin lama Ketua Choi menundanya maka harganya pun akan semakin tinggi. Dan sebelum pergi, terlebih dulu dia memberitahu Ketua Choi sebuah informasi penting, Jung Do sudah keluar dari penjara. Informasi itu langsung membuat Ketua Choi gelisah.


Nyonya Noh membawa Ketua Wang ke gudang. Dia menatap gudang itu dengan ekspresi jijik sampai saat dia melihat Keyboard dan Burner yang menurutnya lucu. Yang satu botak yang satu lagi berambut lebat keriting.

Saking lucunya dia sampai bercanda menyuruh Burner untuk membagi sedikit rambut lebatnya itu dengan Keyboard. Dia ketawa ngakak sendirian padahal yang lain tidak ada yang tertawa.


Jung Do muncul tak lama kemudian dan Ketua Wang langsung menjewer kupingnya keras-keras sambil protes karena Jung Do tidak datang menyambutnya keluar dari penjara. Jung Do merintih kesakitan sambil beralasan kalau dia ketiduran dan berjanji akan datang lain kali.

"Apa maksudmu lain kali? Kau ingin aku masuk penjara lagi?" protes Ketua Wang sambil menjewer telinga Jung Do makin keras dan Jung Do makin kesakitan.


Tapi untunglah Sung Il datang saat itu dan Ketua Wang akhirnya melepaskan jewerannya. Ketua Wang penasaran siapa dia, apa dia seorang pegulat?

"Dia adalah Baek Sung Il. Orang yang kukatakan pada anda. Dia tidak bisa berkelahi"


Ketua Choi sedang makan bersama seseorang. Lalu tak lama kemudian, Walikota Chun datang belakangan dan langsung gelisah melihat tamu lainnya Ketua Choi. Orang itu bernama Woo Soo Myeong yang merupakan seorang kandidat dari partai rival. Soo Myeong menyapa Walikota Chun sebentar lalu permisi keluar sebentar.


Begitu mereka berduaan saja, Ketua Choi bertanya apakah Walikota Chun sudah tahu kalau Jung Do sudah dibebaskan dari penjara. Walikota Chun tak menjawab. Ketua Choi yakin kalau Jung Do pasti akan mengejar mereka lagi, jadi dia mewanti-wanti Walikota Chun untuk terus waspada dan awasi Baek Sung Il.

Ketua Choi berkata bahwa dia mengatur pertemuan dengan Walikota Choi dan Soo Myeong ini karena hasil jajak pendapat pilkada menunjukkan perbedaan antara Walikota Chun dan rivalnya cuma beda tipis. Walaupun Walikota Chun masih sedikit unggul, tapi perbedaan yang sangat tipis itu menunjukkan bahwa Walikota Chun bisa saja kalah dalam pilkada selanjutnya dan tidak lagi menjadi walikota.

"Apa itu sebabnya anda bertemu dengan rival saya? Siapa tahu saya akan kalah?"


Ketua Choi menyangkal sambil cekikikan "Aku hanya menyuruhmu untuk tetap waspada"

Ketua Choi tidak mau menempatkan orang seperti Soo Myeong sebagai walikota, tidak setelah yang mereka alami untuk menjadi seperti sekarang. Karena itulah dia menawarkan untuk menghabiskan lebih banyak uang lebih daripada sebelumnya untuk memastikan Walikota Chun tetap menjabat sebagai Walikota.

Walikota Chun bertanya apakah menurut Ketua Choi posisinya separah itu hingga dia menawarkan uang lebih banyak. Ketua Choi berpendapat lebih baik bermain aman. Bukankah pemilu itu seperti itu, hanya perlu menghabiskan uang 10 dollar dan bagi-bagi handuk gratis, sudah cukup untuk memenangkan suara. Masyarakat tidak akan tahu kalau Walikota Chun memberi mereka 10 dollar demi mendapatkan 100 dollar. Walikota Chun cuma diam.


Setelah Ketua Choi pergi, Walikota Chun menanyakan bagaimana persiapan Soo Myeong untuk pemilu mendatang. Soo Myeong mengaku dia tidak punya cukup uang jadi dia menjaminkan rumahnya untuk mendapatkan uang pinjaman. Rumah yang dia beli berkat hasil kerja kerasnya selama 20 tahun, tapi hanya butuh 20 menit untuk menggadaikannya sebagai jaminan.

Jadi apa dia kemari untuk mendapatkan uang dari Ketua Choi? sindir Walikota. Soo Myeong menyangkal, dia datang hanya untuk melihat wajah orang yang berhutang pajak 100 juta dollar. Soo Myeong dengan ekspresi serius menyatakan kalau dia berhasil menjadi Walikota Chun, maka dia akan membuat Ketua Choi membayar pajaknya.

"Itu tidak akan mudah" ujar Walikota Chun dengan senyum remeh

"Tetap saja harus dilakukan"

"Kenapa?"

"Untuk menghapus hak istimewa. Bukankah itu sebabnya kau mendirikan departemen perpajakan? Untuk mengajarkan pelajaran bagi mereka yang berpikir bahwa uang bisa membuat mereka lebih baik daripada yang lain"


Sementara itu, Sung Il sedang bertemu dengan Ketua Wang. Tapi Tuan Kim terlebih dulu menjelaskan bahwa Ketua Wang adalah orang tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak berguna. Jadi jika Sung Il membutuhkan bantuannya, jangan cuma meminta, Sung Il juga harus bisa meyakinkan Ketua Wang. Peringatan Tuan Kim itu mengingatkan Sung Il akan peringatan yang sama dari Jung Do dan Nyonya Noh.

Flashback,


Jung Do menasehati Sung Il untuk tidak bicara sombong ataupun pura-pura saat dia bicara dengan Ketua Wang. Nyonya Noh ikutan nimbrung dan menasehati Sung Il untuk tidak berbohong karena Ketua Wang sangat benci dengan kebohongan. Jangan nyengir, Sung Il harus bicara yang jelas, bijak, percaya diri, jangan mengulang-ulang dan jangan bertele-tele.

"Astaga, banyak sekali sekali yang dia benci" komentar Sung Il terheran-heran "Lalu apa yang harus kukatakan kalau begitu?"

"Bicaralah yang jujur saja" nasehat Jung Do

"Dan tulus" timbrung Nyonya Noh

"Dan jangan berpura-pura"

"Betul"

"Maka dia akan terbuka padamu"

Flashback end,


Berkat semua peringatan itu, sekarang Sung Il mengaku dengan jujur bahwa dia ingin meminta bantuan Ketua Wang untuk membuat Walikota Chun kalah dalam pemilu mendatang. Karena hanya dengan membuat Walikota Chun kalah, mereka akan bisa mendapatkan tunggakan pajaknya Ketua Choi.

Tuan Kim bertanya kenapa Sung Il berusaha keras untuk mengejar Ketua Choi, tidak bisakah dia mengejar beberapa penunggak pajak lain saja sampai terkumpul 100 juta dollar sebagai ganti tunggakan pajaknya Ketua Choi?

"Hutang 100 juta dollar yang dia miliki adalah simbol dari hak istimewanya. Kami ingin mengubah hal itu. Orang-orang kaya lebih mementingkan hak-hak mereka ketimbang melaksanakan kewajiban mereka. Sementara kita menuntut lebih pada rakyat miskin. Tidak seharusnya seperti itu. Hak dan kewajiban seseorang harus adil, baik dia seorang presdir ataupun pemilik kedai kecil"

Ketua Wang tampak tersenyum mendengar semua ucapan Sung Il itu lalu bertanya apa yang Sung Il ingin dia lakukan. Sung Il menyarankan hal pertama yang harus Ketua Wang lakukan adalah melakukan kebaikan untuk merayakan pembebasan Ketua Wang dari penjara. Begitu dia melakukan itu, maka para reporter akan mengerubunginya.


Sesuai instruksi Sung Il, Tuan Kim pun menelepon Balai Kota Seowon dan berkata kalau dia mau menyumbang sejumlah uang atas nama perusahaan Sangjin Group. Setelah itu, Ketua Wang mengadakan konferensi press. Dan sesuai perkiraan Sung Il, segala berita tentang Ketua Wang dan donasinya pada kota Seowon demi kesejahteraan Kota Seowon, menarik perhatian Walikota Chun.


Dalam flashback, Sung Il memperkirakan kalau Walikota Chun yang akan menghubungi Ketua Wang duluan karena Walikota Chun sangat peduli dengan kesejahteraan publik. Dia menyarankan jika mereka bertemu nanti, Ketua Wang sebaiknya berbasa basi lebih dulu sebelum to the point.


Dan sesuai perkiraannya, Walikota Chun langsung menghubungi Ketua Wang dan minta bertemu. Ketua Wang pun menginstruksikan Tuan Kim untuk mengatur tempat pertemuan di ruang private. Ketua Wang mengaku kalau dia memilih Walikota Chun dalam pilkada yang dulu.


Basa-basi selesai, Ketua Wang kemudian mengaku kalau sebenarnya dia tidak begitu peduli dengan Kota Seowon karena lebih tertarik pada Walikota Chun.

Ketua Wang berjanji akan memilih Walikota Chun lagi dalam pilkada selanjutnya. Tapi persaingan Walikota Chun dan rivalnya sangat ketat, jadi apaka Walikota Chun butuh uang? tanya Ketua Wang blak-blakan. Walikota Chun agak terkejut dan tidak nyaman dengan sikap Ketua Wang yang blak-blakan padahal mereka baru kenal.

Tapi Ketua Wang mengklaim bahwa melakukan segala tetek bengek seperti makan dan minum sambil pura-pura menjalin pertemanan itu sama sekali bukan gayanya. Sekali lagi dia bertanya apakah Walikota Chun punya uang untuk membiayai kampanye-nya. Tapi Walikota Chun hanya menjawabnya dengan tawa canggung.


Dalam flashback, Tuan Kim agak pesimis dengan rencana Sung Il untuk menjadikan Ketua Wang sebagai sponsornya Walikota Chun. Dia tidak yakin kalau Walikota Chun akan terpancing mengingat dia masih dibayang-bayangi Ketua Choi. Sung Il menduga kalau walikota Chun mungkin tidak akan bisa langsung menerimanya, tapi dia pasti akan mempertimbangkannya jika Ketua Wang berbeda dari Ketua Choi.


Maka sekarang, Ketua Wang berusaha meyakinkan Walikota Chun bahwa dia berbeda dari pengusaha yang lain. Dia tidak akan memberi uang pada Walikota Chun demi mengontrolnya, karena dia baik-baik saja tanpa bantuan Walikota Chun dan pasti akan bisa terus seperti itu.

Dia meyakinkan Walikota Chun bahwa dia hanya ingin berteman dengan Walikota Chun karena dalam usianya ini, cukup sulit untuk mencari teman. Walikota Chun masih ragu tapi berjanji akan memikirkannya.

Dalam flashback, Ketua Wang setuju dengan Ketua Kim. Walikota Chun tidak mungkin memakan umpannya semudah itu. Sponsor itu seperti narkoba, sekali ketagihan maka akan sulit untuk berhenti. Sung Il meyakinkannya untuk tidak mencemaskan Ketua Choi karena Jung Do sedang dalam perjalanan untuk menemui Ketua Choi. Ketua Wang heran, untuk apa Jung Do bertemu Ketua Choi. Untuk pura-pura menggertak Ketua Choi, jawab Sung Il.


Jung Do dengan santainya duduk di samping Ketua Choi dan menyapa Ketua Choi dan memperkenalkan namanya dengan sopan. Ketua Choi bertanya untuk apa Jung Do datang kemari. Jung Do mengaku bahwa dia datang untuk memperingatkan Ketua Choi bahwa mereka akan mendapatkan hutang pajaknya Ketua Choi yang sebesar 100 juta dollar itu. Ketua Choi langsung tersenyum sinis mendengarnya. Malah dengan nada meremehkan dia menantang Jung Do untuk melakukannya saja, apa perlu dia membantu?


"Aigoo, saya tidak percaya anda akan bersedia membantu. Bayar saja. Jika kami mengambilnya dari anda dengan menipu maka anda akan terlihat buruk"

"Jadi maksudnya aku tidak bisa membantumu?"

"Benar. Jaga saja uang anda dengan baik. Jika kami mengambilnya nanti, itu akan melukai harga diri anda. Kami tidak akan mengembalikannya"

Ketua Choi cuma menanggapinya dengan tertawa geli dan memprotes sikap Jung Do yang tidak sopan. Jung Do dengan entengnya mengklaim bahwa dia memang tidak sopan sejak dia lahir. Itu saja yang ingin dia sampaikan, Jung Do pun beranjak bangkit.


Tapi sebelum pergi, dia menasehati Ketua Choi untuk berhenti pura-pura jadi orang miskin. Karena kesannya buruk sekali padahal yang dilakukan Ketua Choi adalah mencuri dari orang lain "Kalau begitu saya pamit. Sampai jumpa, Tuan Choi, pria yang berhutang pada Kota Seowon lebih daripada siapapun"

Dalam flashback, Sung Il memberitahu Ketua Wang bahwa begitu Ketua Choi tahu Jung Do sudah keluar dari penjara maka Ketua Choi akan berusaha untuk mengejar mereka. Tapi sebenarnya itu cuma dalih untuk membuat Ketua Choi berpikir bahwa mereka mengejar uangnya. Rencana mereka yang sebenarnya adalah menghancurkan Kukjin Construction dan membuat mereka membatalkan pembangunan Maseok-dong dan menyelamatkan kedai Kakek.


Kakek akhirnya dibebaskan dari penjara. Saat dia kembali ke kedainya, dia mendapati geng penipu berada di sana sedang menjaga dan bermain-main dengan cucunya. Da Mi langsung lari ke pelukan Kakeknya dan semua oang ikut senang melihat pertemuan kembali Kakek dan cucunya itu. Satu per satu mereka pamit pergi dan Sung Il berjanji akan datang makan di sini besok.


"Jika kota tidak mau melindungi orang-orang yang membayar pajak sedikit, maka harus kita yang melakukannya. Woo Sang Chul (Kakek) telah berusaha sebisanya untuk memenuhi kewajibannya. Orang yang melaksanakan tugas mereka, berhak untuk mendapatkan hak mereka. Itu baru namanya adil dan setara" ujar Jung Do dalam narasinya.


Ketua Choi makan bersama Ahn, Cha dan Sang Jin. Tapi Cha dan Sang Jin tidak bisa makan dan terus menunduk ketakutan. Ketua Choi bertanya apa masalahnya hingga mereka belum melaksanakan penggusuran padahal media sudah berbalik melawan mereka dan polisi juga sudah menangkap orang-orang yang memprovokasi kerusuhan.


Cha dengan takut-takut beralasan bahwa dia sudah berusaha mengusir para warga Maseok-dong tapi mereka terus protes dengan menggembok rumah-rumah mereka. Sang Jin ikut membantu menjelaskan bahwa mereka tidak bisa melakukan penggusuran selama orang-orang itu masih didalam rumah.


Ketua Choi sama sekali tidak suka mendengar alasan kedua orang itu dan langsung berpaling ke Ahn dan Ahn langsung menyatakan dengan yakin bahwa dia akan menangani masalah itu secepatnya. Jawaban Ahn itulah yang disukai Ketua Choi. Kesal, Ketua Choi langsung mengomeli Cha dan Sang Jin lalu mengusir mereka berdua.


Setelah mereka pergi, Ketua Choi memberitahu Ahn tentang Jung Do yang mendatanginya dan memperingatkannya untuk berhati-hati dan menjaga uang 100 juta dollar-nya dengan baik. Apa yang harus dia lakukan untuk menghadapi Jung Do? tanya Ketua Choi. Ahn lagi-lagi menyatakan bahwa dia akan menangani masalah itu juga. Ketua Choi semakin senang mendengar jawaban Ahn.

Bersambung ke part 2

No comments :

Post a Comment