August 5, 2016

The Good Wife Episode 6 - 1


Ketika Hye Kyung hendak membuka pintu, ponsel-nya berbunyi dan itu adalah telepon dari Tuan Seo yang meminta bantuan Hye Kyung. Tuan Seo lagi-lagi terkena masalah. Tae Joon membuka pintu dan Hye Kyung sudah tak ada lagi disana. Kemana Hye Kyung? Dia sudah berada di tempat Tuan Seo terkena masalah. Tuan Seo terluka di bagian kepala dan Hye Kyung pun langsung bertanya apa yang terjadi pada polisi. 


“Dia melompat ke jalan. Itu bisa menimbulkan kecelakaan besar. Dia terlihat sehat, tapi apa dia punya gangguan?” tanya polisi pada Hye Kyung dan Hye Kyung tak bisa menjawabnya. Dia tak bisa memberitahu polisi kalau Tuan Seo mengidap alzeimer, sebab dia sudah berjanji pada Tuan Seo untuk merahasiakannya.

"The Good Wife"




Joong Won mendapat telepon dari temannya yang berprofesi sebagai dokter. Dia memberitahu Joong Won kalau Tuan Seo masuk rumah sakit dan Hye Kyung yang membawanya. Saat dibawa ke rumah sakit Tuan Seo hanya memakai mantel mandi. Setelah menutup telepon dari temannya, Joong Won langsung menghubungi nomor Hye Kyung namun nomor Hye Kyung sibuk. 



Hye Kyung baru selesai menelpon pihak korban kecelakaan dan kemudian memberitahu Tuan Seo kalau mereka mau berdamai, asal Tuan Seo yang menanggung biaya perbaikan mobil dan rumah sakit. Karena masalah yang baru saja di hadapi Tuan Seo, Hye Kyung pun menyarankan pada Tuan Seo untuk berhenti merahasiakan penyakitnya. Tuan Seo mengerti, namun dia masih ingin merahasiakannya untuk sementara waktu dari Joong Won dan Myung Hee.  Tuan Seo lalu berpesan pada Hye Kyung untuk memberitahu Joong Won kalau dia dibawa kerumah sakit karena terjatuh di bak mandi atau tersandung saat mabuk. 

Joong Won sampai di rumah sakit dan hampir bertemu dengan Hye Kyung di depan lift kalau saja Tae Joon tak menelponnya. Setelah menutup telepon dari Tae Joon, Hye Kyung tak sengaja melihat seorang pria yang di larang menjenguk seorang pasien. Pria itu terus berteriak kalau dia ingin menemui pasien itu sebelum pihak rumah sakit mencabut semua alat bantu hidupnya. 


Joong Won sampai di kamar rawat ayahnya, dia langsung bernafas lega ketika perawat berkata kalau Tuan Seo baik-baik saja. Tak lama kemudian, tuan Seo terbangun dan langsung bertanya apa Joong Won begitu menyukai uang.



Hye Kyung menghampiri pria yang tadi mengamuk dan memperkenalkan diri kalau dia adalah seorang pengacara. Dia bertanya apa ada yang bisa dia bantu. 



Kembali lagi pada Tuan Seo yang berkata, “Ayah menyerahkan firma hukum ayah kepadamu. Lalu kamu mewakili perusahaan pembuat mainan yang mengandung timbel, meskipun mengetahui jumlah anak-anak yang meninggal karena perusahaan itu. Dasar sampah. Sampai anak-anak yang keracunan timbel meninggal setelah mengerang kesakitan terus-menerus, kamu memikirkan beragam alasan untuk menunda pengadilan. Kamu belajar apa di universitas dan Institut Pelatihan Yudisial? Apa mereka mengajarimu bahwa uang adalah segalanya? Apa mereka tidak mengajarimu kode etik? Apa pengacara hanya bertugas melindungi uang klien?” tanya Tuan Seo dengan emosi dan Joong Won terlihat tak senang mendengarnya. 

“Ayah sudah sejujur apa seumur hidup Ayah?” tanya Joong Won dan Tuan Seo mengaku kalau dia tak pernah menyalahi nuraninya. “Nurani Ayah berlaku pada semuanya, kecuali keluarga kita. Pikirkan semua luka yang Ayah berikan bahkan saat Ibu meninggal!” teriak Joong Won. 

“Ternyata putra ayah sanggup melakukan hal semacam itu. Putra ayah dibutakan oleh uang,” ucap  Tuan Seo dengan ekspresi sedih. 

“Ayah,” panggil Joong Won dan Tuan Seo kembali tidur. Joong Won pun keluar dari kamar rawat Tuan Seo.


Flashback!
Joong Won dengan begitu semangatnya berkata kalau semuanya sudah selesai, korban terakhir sudah mau berdamai. Jadi mereka bisa mengakhiri gugatan keracunan timbel. Mendengar itu, Myung Hee pun memuji kerja Joong Won. Namun Tuan Seo saat itu murka, sampai-sampai dia memukul meja dan pergi.
Flashback End!



Joong Won keluar lift dan kebetulan melihat Hye Kyung yang sedang mengisi pengajuan putusan sela. Pada Joong Won, Hye Kyung pun menyampaikan kalau Tuan Seo terluka karena jatuh dari bak mandi dan Tuan Seo menelpon Hye Kyung karena kontak-nya berada di urutan pertama. 

Hye Kyung kemudian memberitahu tentang apa yang dia lakukan. Dia mengajukan putusan sela atas Lee Hyo Jin yang saat ini dalam kondisi vegetatif setelah kecelakaan dan pihak rumah sakit akan melepas bantuan hidupnya besok. 

“Dia menolak semua prosedur mempertahankan hidup. Keluarganya setuju dan dokternya juga memastikannya. Tidak ada yang bermasalah,” ucap Joong Won ketika melihat formulirnya. 

“Dia sedang hamil 18 pekan. Jika pengobatannya dihentikan, bayinya juga bisa meninggal,” jawab Hye Kyung.

“Aku kasihan, tapi aku tidak tahu apa kita bisa membantunya. Pendaftar untuk putusan selanya tidak sadarkan diri.”

“Ada suaminya yang juga ayah dari anaknya. Kita harus menerima kasus ini,” tanya Hye Kyung dan Joong Won setuju untuk menerima kasus itu. 



Hye Kyung pulang dan Tae Joon sudah menunggunya di rumah, karena ada beberapa hal yang harus dia katakan pada Hye Kyung. Namun Hye Kyung menolak bicara sekarang kalau Tae Joon belum mau berterus terang tentang semuanya. Tentang semua yang terjadi sampai saat ini. Hye Kyung ingin pembicaraan mereka dimulai dari sana, saat kecelakaan itu.



Joong Won masih di rumah sakit sampai pagi dan dia kemudian mendengar suara teriakan suami Hyo Jin yang minta di ketemukan dengan Hyo Jin. Joong Won menghampiri mereka dan meminta dua penjaga itu untuk membiarkan Tuan Na masuk, karena sekarang Tuan Na sudah menyewa pengacara dan Joong Won lah pengacaranya. Joong Won berkata kalau pihak rumah sakit melarang Tuan Na menemui Hyo Jin , maka Joong Won selaku pengacara akan menggugatnya. 

Tak punya pilihan lain, kedua penjaga itu pun membiarkan Tuan Na masuk menemui Hyo Jin, sedangkan Joong Won menunggu di luar. 



Myung Hee menemui Joong Won di ruangannya dan membahas kasus Tuan Na. Myung Hee memberitahunya kalau Tuan Na dan Hyo Jin belum mendaftarkan pernikahan mereka, jadi Tuan Na bukanlah wali untuk Hyo Jin. Joong Won menjawab kalau mereka sudah lama tinggal bersama, selain itu Tuan Na adalah ayah dari anak yang Hyo Jin kandung. Melihat Joong Won berkata seperti itu, Myung Hee tersenyum dan berkomentar kalau Joong Won terlihat berbeda dari biasanya. 

Myung Hee lalu berkata kalau Joong Won juga harus khawatir pada keluarga sendiri. Dia bertanya kenapa Joong Won tidak menjenguk ayah mereka saat dia berada di rumah sakit. Karena Tuan Seo berkata kalau dia senang Joong Won belum menjenguknya, tapi Myung Hee tak percaya Joong Won belum menjenguk. Mendengar itu, Joong Won pun bergumam kalau dia sepertinya tidak perlu menjenguk. 

Myung Hee kemudian hendak membahas kondisi ayah mereka, tapi karena Joong Won terlihat tak peduli, Myung Hee pun mengurungkannya. Setelah Myung Hee pergi, Joong Won kembali membuka laptopnya, ternyata sedari tadi dia sedang membuka artikel mengenai alzheimer. Hmmm.... Joong Won ternyata sudah mengira sang ayah mengidap alzheimer.


Di rumah sakit digelar pertemuan untuk membahas tentang Hyo Jin. Saat melihat Tuan Na, kakak Hyo Jin terlihat emosi. Dia menyalahkan Tuan Na atas kondisi Hyo Jin saat ini. Ternyata, hubungan Tuan Na dan Hyo Jin tidak direstui oleh keluarga Hyo Jin, walaupun begitu Hyo Jin dan Tuan Na tetap tinggal bersama sampai Hyo Jin hamil dan kecelakaan. 


Hakim yang menangani kasus Hyo Jin masuk, jadi Tuan Na dan kakak Hyo Jin mengakhiri perdebatan mereka. Sidang pemeriksaan putusan sela untuk nomor perkata 2016-490 mengenai permohonan untuk melanjutkan alat bantu hidup dimulai.  Joong Won adalah pengacara pemohon dan untuk pengacara tergugat, orangnya belum hadir. Kakak Hyo Jin berkata kalau pengacaranya sedang dalam perjalanan, jadi dia minta sedikit waktu lagi. Hakim pun dengan tegas menjawab kalau Joong Won harus dengan cepat membawa pengacaranya datang atau dia harus membela dirinya sendiri. 


Hye Kyung juga belum hadir di ruang persidangan. Dia baru keluar mobil dan ketika dia akan pergi ke ruang persidangan, seorang wanita hamil memanggilnya dan minta bantuan padanya. Wanita itu mengenal Hye Kyung dan setelah dia berhasil keluar dari mobil, wanita itu memperkenalkan diri. Dia juga seorang pengacara, namanya Lee Soo Hyun dan dia adalah pengacara kakak Hyo Jin. Dia nekad datang dengan kondisi hamil besar adalah untuk mengalahkan Joong Won. Hmm... ternyata dia juga kenal dengan Joong Won. 


Di ruang sidang, Joong Won menjelaskan kalau Hyo Jin kecelakaan dan mengalami kerusakan otak sehingga sekarang dalam kondisi vegetatif, tapi Hyo Jin sedang hamil. Dia sudah hamil 18 pekan dan bayinya sehat.  Pihak rumah sakit dan keluarga menyerang dengan kondisi Hyo Jin dan bayinya, mereka ingin melepas alat bantu pernafasannya, sedangkan Na Joong Ki sebagai suami  Hyo Jin, belum mendengar kabar apapun tentang penghentian pengobatan. Mendengar itu, kakak Hyo Jin protes, dia berkata kalau Hyo Jin dan Joong Ki belum menikah, jadi Joong Ki belum bisa disebut sebagai suaminya. Si hakim kemudian bertanya apa kakak Hyo Jin mau membela dirinya sendiri, karena tak mungkin bisa, jadi sang kakak pun duduk kembali sebagai tergugat. 

Joong Won menjelaskan kalau Joong Ki berhak menjadi wali Hyo Jin, karena Hyo Jin sedang mengandung anaknya. 

Hye Kyung dan Soo Hyun, sudah berada di dalam lift. Soo Hyun berkata kalau Hye Kyung hari ini tidak beruntung, karena hakim Kim Mi Ae yang mengurus sidang mereka hari ini. Dia terkenal dingin dan taat aturan. Dia bahkan belum menikah dan tidak mempercayai pernikahan. 

“Hakim pria akan lebih pengertian dan rela memberinya waktu sampai hari persalinannya, tapi Hakim Kim tidak akan menyetujuinya. Dia tahu peluangnya kecil bagi ibu dan fetusnya untuk hidup,” ucap Soo Hyun. 

“Itu harapanmu. Semua wanita memiliki rasa keibuan. Rasa empati wanita juga lebih kuat daripada pria. Dia akan mengerti bahwa hidup bayi tidak boleh diremehkan,” jawab Hye Kyung dan Soo Hyun berkata kalau rasa keibuan itu dipelajari bukan bawaan lahir. 

“Selain itu, fetus bisa dianggap sebagai bernyawa setelah lahir. Itu tidak bisa dianggap bernyawa sebelum lahir,” ucap Soo Hyun dan tepat disaat itu dia merasa perutnya sakit jadi dia langsung meminta maaf pada anaknya. 

Di ruang sidang, Joong Won meminta pada hakim untuk tidak mencabut alat bantu pada Hyo Jin, karena dia belum meninggal.  Dia masih berjuang antara hidup dan mati demi bayinya. Jika dia meninggal, bayinya juga meninggal. Tepat disaat itu, Hye Kyung dan Soo Hyun masuk ruang sidang bersamaan. 


“Maaf mengatakan ini, tapi secara medis,” potong Soo Hyun dan mematikan layar yang menampangkan gambar Hyo Jin. “Bu Lee sudah dianggap meninggal,” tambah Soo Hyun yang kemudian meminta maaf atas keterlambatannya. 

“Kamu sangat terlambat,” jawab hakim Kim.

“Pengacara pemohon, Bu Kim, menghentikanku untuk mengulur waktu,” jawab Soo Hyun dan Hye Kyung hanya menoleh tanpa berkata apa-apa. “Bu Lee tidak pernah sadarkan diri setelah kecelakaan. Dia selalu dalam kondisi vegetatif. Karena dia ingin meninggal secara alami, dia menolak alat bantu hidup dan setuju untuk mendonasikan organnya. Oleh karena itu, keluarganya mendapat persetujuan dokternya dan memutuskan untuk mencabut alat bantu hidup. Pak Na bukan keluarga atau dokternya, tapi dia meminta putusan sela untuk melanjutkan prosedur sambil mengaku bahwa dia perwakilan istimewanya,” jelas Soo Hyun dan Hye Kyung langsung mengajukan keberatannya. 

“Pak Na adalah suami Bu Lee dan ayah dari bayinya. Dia anggota keluarga terdekatnya,” jawab Hye Kyung dan Soo Hyun berkata kalau itu bukan bayi, itu hanya fetus yang belum lahir. Soo Hyun mengerti kalau Tuan Na sedang merasa tertekan sekarang, namun dia tetap tidak bisa jadi perwakilan hukum untuk Hyo Jin. 

“Jika Bu Lee ingin meninggal secara alami, kita harus menuruti kemauannya. Komite etik rumah sakit memutuskan ini karena peluang bertahan hidupnya kecil,” jelas Soo Hyun. 

“Nyawa bayinya dipertaruhkan,” potong Hye Kyung. 

“Bu Lee bukan inkubator. Dia manusia dan kita harus menghormati keinginannya. Jika dia tidak ingin mendapat bantuan hidup apa pun, kita harus menghargainya.”


“Dia kecelakaan tidak lama setelah mengetahui kehamilannya. Kita tidak mengetahui pendapatnya tentang nyawa bayinya. Pengacara lawan tidak berhak memutuskannya,” ucap Hye Kyung dengan tegas, sepertinya dia mulai terpacing emosi oleh Soo Hyun. Soo Hyun sendiri hanya tersenyum, lalu duduk kembali ke tempat duduknya sambil memegangi perutnya. 



Disisi lain, Dan diminta untuk menemui Jaksa Choi. Dan pun menemui Jaksa Choi dengan senang hati.


Kita kembali ke ruang sidang dimana seorang dokter berkata kalau fetusnya sangat sehat saat ini. Joong Won bertanya apa menurut dokter ahli obstetri, Hyo Jin bisa melahirkan, dengan yakin dokter menjawab iya. Mereka hanya perlu memberi Hyo Jin cukup oksigen dan gizi sambil menunggu bayinya berkembang, lalu mereka bisa melangsungkan bedah cesar sekitar pekan ke 25 atau 26. Joong Won kemudian menyimpulkan kalau alat bantu kehidupan Hyo Jin tidak boleh dilepaskan kalau ingin anaknya tetap hidup. 


Sekarang giliran Soo Hyun yang bertanya, dia bertanya berapa persen kemungkinan si bayi dapat di selamatkan. Dokter menjawab sekitar 15 % sampai 20 %. 

“Bukankah itu pendapat pribadimu? Dokter di rumah sakit mengatakan bahwa kelahiran normal itu mustahil,” ucap Soo Hyun.

“Itu karena...,” dokter terlihat ragu. “Para dokter di sini tidak berpengalaman melakukan bedah cesar pada pasien mati otak. Aku sudah melakukannya berkali-kali dan aku yakin akan berhasil.”

“Kamu melakukannya di AS enam tahun lalu. Kamu belum pernah melakukan prosedur itu di Korea. Kudengar klinik yang kamu miliki sedang kesulitan. Apa kamu akan melakukan bedahnya untuk mempromosikan klinikmu?” tanya Soo Hyun dan Joong Won langsung mengajukan keberatan karena Soo Hyun sudan mendesak saksi. Keberatan di terima dan Soo Hyun pun mengganti pertanyaannya. 

“Kalau begitu, izinkan aku menanyakan hal lain. Kamu mengandalkan penilaianmu karena pengalamanmu bertahun-tahun. Apa menurutmu itu benar jika mengabaikan keinginan Bu Lee Hyo Jin dan menghabiskan banyak uang dan tenaga?” tanya Soo Hyun dan dokter terlihat bingung menjawabnya. Saat Soo Hyun ingin mengakhiri semuanya, tiba-tiba si dokter berkata kalau dia mengatakan semua itu demi bayinya. Demi bayinya, semua itu patut dicoba. Bingung harus berkata apa lagi, Soo Hyun tiba-tiba mengeluh sakit perut dan mengakhiri pertanyaannya.



Beralih pada Jaksa Choi yang meminta Dan untuk mencari informasi tentang kasus banding Tae Joon. Saat ditanya berapa uang yang bisa Jaksa Choi berikan untuk pekerjaan itu. Jaksa Choi tertawa dan menjawab kalau dia tak akan memberikan sepersen pun pada Dan. 

“Aku tahu apa yang terjadi di kantor kejaksaan. Aku pernah ingin memenjarakanmu bersama Tae Joon, tapi aku melepaskanmu. Kenapa? Karena aku kasihan. Tapi, jika pengadilannya berlanjut tanpa bukti... “

“Kamu akan melibatkanku dalam kasusnya?” sambung Dan. 

“Kamu sudah terlibat. Kamu menyelidiki skandal seksnya, bukan? Tae Joon ada dalam daftar. Aku akan menghapus semua catatan yang terkait denganmu. Sebagai gantinya, bawakan bukti agar aku bisa menangkap Tae Joon,” ucap Jaksa Choi dan makan.


Dokter yang menangani Hyo Jin berkata kalau kondisi Hyo Jin semakin serius, dia tak sadar dan tak bisa berkomunikasi. Soo Hyun kemudian bertanya tentang pendapat si dokter tentang peluang hidup fetus seperti pengakuan pihak  Tuan Nam Joong Ki. Si dokter berkata walaupun si bayi dapat diselamatkan, maka kemungkinan besar dia mengalami cacat parah. 

“Dari sudut pandang fetus, mungkin sebaiknya dia tidak dilahirkan,” ucap Soo Hyun dan Joong Won langsung mengungkapkan keberatan sehingga Soo Hyun langsung mengakhiri pertanyaannya. 

Giliran Joong Won yang bertanya, dia berkata kalau dia sendiri sudah melihat kalau Hyo Jin bisa membuka mata dan menggerakkan jarinya. Si dokter berkata kalau semua itu hanya refleks yang dihasilkan karena batang otaknya masih hidup. Peluang bertahan hidup setelah sel otaknya mati hampir satu banding sejuta. 

“Satu banding sejuta?” gumam Joong Won dan melihat ke arah dokter ahli. Si dokter ahli hanya menggelengkan kepalanya. “Lalu bagaimana dengan bayinya? Apa peluang bayinya terlahir hidup juga satu banding sejuta?” tanya Joong Won. 

“Saksimu bilang peluangnya sekitar 15 sampai 20 persen, tapi itu benar-benar subjektif. Aku yakin peluangnya antara tiga sampai lima persen,” jawab dokter. 

“Jadi, itu berdasarkan pandangan subjektifmu. Bukan begitu? Apa kamu ginekolog?” tanya Joong Won. 

“Bukan. Tapi, aku lebih memahami kondisinya. Seperti yang sudah kukatakan, kemungkinan besar anaknya akan terlahir cacat dan...”

“Apa itu artinya anaknya tidak boleh lahir?” potong Joong Won. “Maksudmu, peluang tiga sampai lima persen terlalu kecil. Jadi, tidak masalah membiarkan anaknya meninggal?”

“Bukan itu maksudku. Maksud ucapanku...”

“Tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa. Jika masih ada peluang, bukankah kamu harus berusaha?” tanya Joong Won dan si dokter berkata kalau mereka hanya memenuhi kemauan Hyo Jin. Tanpa menunggu penjelasan saksi, Joong Won langsung mengakhiri pertanyaannya. 

Hakim Kim hendak mengungkapkan keputusannya setelah mendengar pernyataan penutup. Baru saja hakim Kim selesai berkata, tiba-tiba Soo Hyun menjerit kesakitan dan berkata kalau dia sepertinya akan melahirkan.

“Tolong beri aku waktu. Ini tidak akan lama,”pinta Soo Hyun. 

“Yang Mulia, pengacara mencoba mengulur waktu,” ucap Joong Won. 

“Pengacara Seo. Bukankah kamu bilang nyawa itu berharga? Bayi dalam kandunganku kesakitan,” keluh Soo Hyun.

“Itu fetus, bukan bayi,” balas Joong Won dan Soo Hyun memohon pada hakim Kim untuk memberi waktu padanya sebentar. Hakim Kim pun tak punya pilihan lain, dia memberikan waktu jedah selama dua jam pada Soo Hyun.


Soo Hyun langsung di kawal oleh dua perawat untuk mendapatkan pemeriksaan dan hakim Kim langsung diserbu pertanyaan oleh para reporter tentang kasus Tuan Nam. Hye Kyung kemudian memanggil dokter ahli dan bertanya kenapa pandangan dokter dengan dokter lain berbeda dengan keberhasilan bayi bisa hidup.  


“Aku pernah mengalami hal serupa. Tahun 2007, ada pasien jatuh dari tangga. Kondisinya vegetatif. Saat itu, aku juga berpikiran sama seperti dokter tadi. Kurasa pasien itu tidak akan sadarkan diri lagi. Tapi, dia terbangun,” jawab dokter.

“Apa maksudmu?” tanya Hye Kyung tak mengerti. 

“Dia terbangun begitu saja. Dia terbangun setelah 10 tahun. Itu langka, tapi sungguh terjadi. Secara medis, orang akan menyebutnya kebetulan. Kebetulan yang terjadi dalam satu banding sejuta. Tapi, aku ingin percaya bahwa itu karena cinta. Di samping pasien itu, ada orang-orang yang merawatnya selama 10 tahun. Sejak saat itu, aku tidak mendiagnosis seperti dokter tadi,” jelas si dokter ahli. 

Joong Won terdiam sejenak di depan kamar rawat Tuan Seo, namun dia langsung berjalan lagi, dia tak masuk untuk melihat sang ayah. Joong Won pergi ke kamar rawat Hyo Jin. Tak lama kemudian Hye Kyung ikut berdiri di sampingnya. Hye Kyung mengajak Joong Won pergi untuk bicara. 

“Jika dipikir-pikir, bantuan hidup mungkin dilakukan demi keluarga, bukan pasien. Mereka menunggu dan mengharapkan keajaiban. Jika membiarkannya meninggal, mereka akan menyesal dan menyalahkan diri,” ucap Hye Kyung. 

“Kurasa kita harus memenuhi keinginan Bu Lee. Dia akan menderita beberapa bulan lagi karena bayinya. Kita harus hidup sesuai keinginan kita,” jawab Joong Won dan Hye Kyung bertanya kenapa Joong Won mengambil kasus ini, jika dia berpikiran seperti itu. Tak menjawab, Joong Won malah balik bertanya tentang alasan Hye Kyung menerima kasus Tuan Nam. Hye Kyung menjawab kalau dia menerima kasus itu karena dia juga punya anak. Hye Kyung ingin melindungi bayinya. 

“Tapi, aku mengerti kenapa kamu berpikir begitu. Yang terpenting adalah diri kita sendiri. Kurasa Pak Na melakukan itu bukan karena bayinya. Dia masih berharap istrinya akan bangun. Keluarganya mungkin ingin menghormati keinginannya,” jelas Hye Kyung. 


“Bukan itu saja. Dunia ini tidak sesederhana itu,” jawab Joong Won namun dia tak memberitahu tentang hal lain itu pada Hye Kyung. Tepat disaat itu Soo Hyun muncul dan mengajak mereka bicara. 


Soo Hyun yang tadinya mengatakan sakit, sekarang dengan lahapnya menghabiskan satu gelas es manis. Melihat itu Joong Won pun menyindirnya dengan mengatakan kalau rumah sakit itu pengobatannya sangat ampuh sehingga mampu membuat Soo Hyun sehat dalam sekejap. 

Soo Hyun kemudian membahas tentang Joong Won yang pernah membela perusahaan mainan yang menyebabkan keracunan timbel. “Dulu kau menunda-nunda sampai anak-anaknya meninggal. Kau sudah berubah. Kurasa bertambah usia sudah melembutkanmu.  Awalnya, kupikir begitu, tapi setelah kuperhatikan, ternyata kamu belum berubah. Apa kita tidak bisa objektif dan mengobrol sebagai orang dewasa? Mari lupakan tentang si Putri Tidur dan suaminya yang meratap sejenak. Mari berbincang secara objektif sebagai orang dewasa,” ajak Soo Hyun dan Joong Won mempersilahkannya. 

“Ayah Bu Lee menderita kanker paru-paru stadium lanjut. Hidupnya tinggal dua bulan. Jumlah asetnya mencapai 30 juta dolar. Kalian mengurus kasus ini untuk mendapat uang itu, ya? Bu Lee dan ayahnya harus meninggal agar kalian bisa mendapat uangnya. Bukan begitu?” ucap Soo Hyun dan ketika melihat ekspresi Hye Kyung, Soo Hyun pun menebak kalau HyeKyung pasti tak tahu mengenai masalah itu. 

“Kami berdua tidak mengetahuinya,” jawab Hye Kyung. 

“Kamu juga tidak mengetahuinya?” tanya Soo Hyun pada Joong Won, tak percaya.  “Aku yakin kamu sudah memikirkan untung dan ruginya,” ucap Soo Hyun.


“Mereka tidak mendaftarkan pernikahan mereka. Apa aku masih bisa mendapatkan uangnya?” tanya Joong Won. 

“Aku mengetahui wasiat Bu Lee. Aku belum melihatnya, tapi aku yakin dia menyebutkan Pak Na. Apa aku salah?” tanya Soo Hyun. 

“Keduanya bertemu saat bekerja secara sukarela di yayasan paliatif. Dia menulisnya saat itu. Niatnya baik. Dahulu dia tidak punya uang," jawab Joong Won

"Niat baiknya sudah hilang dan yang tersisa adalah wasiatnya. Jika bayinya lahir, itu seperti memenangkan undian. Itu undian dengan persentase kemenangan tiga sampai lima persen."

"15 sampai 20 persen," ralat Joong Won.

"Aku yakin Pak Na mengharapkannya diam-diam. Atau kamu sudah memberitahunya?" tanya Soo Hyun.

"Aku mendengarkanmu dan kamu tidak tahu malu," ucap Hye Kyung yang sedari tadi diam. 

"Apa maksudmu?" tanya Soo Hyun.

"Bukankah semua keluarganya setuju mencabut alat bantu pernapasannya bukan untuk menghormati haknya untuk meninggal secara hormat, tapi agar Bu Lee meninggal sebelum ayahnya? Dengan begitu, mereka akan mendapat banyak warisan," jawab Hye Kyung.

"Kamu benar. Maksudmu, kamu memperjuangkan Bu Lee dan nyawa bayinya?" tanya Soo Hyun dan Hye Kyung membenarkan. 

"Kalau begitu, kita bisa berdamai. Kamu ingin nyawa dan kami ingin uangnya. Kalau mau, alat bantu pernapasannya bisa dipasang sampai dia melahirkan. Tidak, itu boleh dipasang sampai dia bangun. Aku membutuhkan catatan dari Pak Na yang berisi dia merelakan asetnya," ucap Soo Hyun dan Joong Won berkata kalau dia akan berunding dengan kliennya dulu. 




“Coba bujuk dia. Kamu pengacara yang berperikemanusiaan, bukan?” pinta Soo Hyun dan beranjak untuk pergi. “Omong-omong, terlihat sangat jelas bahwa kamu masih pemula. Tidak apa, kamu akan terbiasa setelah bertahun-tahun,” ucap Soo Hyun pada Hye Kyung kemudian pergi setelah berterima kasih pada Joong Won atas minumnya. 

Bersambung ke sinopsis The Good Wife Episode 6

No comments :

Post a Comment