August 24, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 2 - 2


Yoon Sung kaget melihat seseorang yang ada di ruangannya. Ia adalah kakeknya, Perdana Menteri Kim, yang sedang memandangi puluhan lukisan gisaeng yang tersebar di kamarnya. Perdana Menteri Kim bertanya apa Yoon Sung bosan dengan jabatannya yang rendah di istana? Sambil menyembunyikan lengan bajunya yang kotor kena tinta, Yoon Sung menjawab ia diajarkan untuk tidak menyepelekan pekerjaan seberapapun kecilnya.

Perdana Menteri Kim lantas bertanya apa tujuan Yoon Sung melukis? Apa demi ketenaran dan prestis? Kekuatan politik untuk keluarga mereka? Atau demi masa depan negara? Apa melukis gisaeng itu sebagai hobi setelah Yoon Sung bekerja keras? Yoon Sung tak bisa menjawab pertanyaan itu.

Perdana Menteri Kim yang tadinya berusara keras, akhirnya melunak dan tertawa kecil. Seekor bayi harimau yang belum bercakar tak akan mungkin bisa menjadi raja. Ia kemudian memuji lukisan Yoon Sung, tapi Yoon Sung hanya bisa diam.





Malam hari saat menunggu tempat tidur disiapkan, Yeong terus memperhatikan dan menggerak-gerakkan telunjuknya yang sekarang ada garis merah tua. Kasim Jang yang sudah selesai menyiapkan tempat tidur, kaget melihat telunjuk Pangeran. Apa Putra Mahkota terluka?”

“Aku baru saja digigit anjing,” jawab Yeong sambil terus memandangi telunjuknya.

“Dasar anj*..,” tiiittt… untung saja Kasim Jang menyensor mulutnya yang kedengaran seperti mengumpat. “Maksud hamba bagaimana dan kapan Paduka bertemu anjing gila yang berani menyentuh badan Paduka?”


“Itu dia.. Bagaimana dan dimana lagi aku bisa bertemu anjing gila yang berani menyentuhku?” tanya Yeong retoris dan tak terlihat marah sama sekali. Kasim Jang hanya bisa menatap kelakuan tuannya heran.


Ra On  mulai bertanya-tanya tentang Yeong. Kemana Yeong pergi setelah dari pondok ini? Pulang ke rumah di luar istana? Kenapa juga Byeung Yeon tak pernah meninggalkan istana? Ra On menghentikan ocehannya karena menubruk Byeong Yeon yang berhenti tiba-tiba.

“Sebaiknay kau tidak mengetahui siapa dan kemana dia.”

“Kenapa?”

Byeong Yeon tak menjawab dan terbang ke atap, menandai akhir perbincangan mereka.


Keesokan paginya, lembar jawaban dikumpulkan. Walau Ra On menulis jawaban untuk soal Dong Gi, tapi ia mengosongkan lembar jawabannya. Pada kasim pengawas ia mengaku kalau ia benar-benar tak mengetahui jawabannya. Dan di depan teman-temannya ia berpura-pura sedih.


Karena seluruh kasim sudah bekerja, Kasim Seong mengajak ketiganya untuk ikut membantu mempersiapkan perayaan atas hamilnya Ratu di kediaman Perdana Menteri Kim.

Di istana, Raja terlihat sedih karena mendengar Menteri Byeong lagi-lagi tak hadir di istana karena sakit. Ia menyuruh kasim untuk mengirimkan arak dan makanan ke pesta perayaan kehamilan Ratu.


Yeong yang ternyata sedang tidur-tiduran di samping paviliun mendengar percakapan mereka. Ia kemudian mengajak Byeong Yeon untuk menghadiri pesta.


Tiga calon kasim itu sekarang ada di rumah Perdana Menteri Kim. Kasim Seong mulai memberi perintah yang berbeda untuk ketiganya. Khusus untuk Ra On, ia menyuruh Ra On untuk menangkap 2 .. bukan 20 ekor ayam, bagaimana pun caranya.

Kepala pelayan kaget dan berkata kalau ayam-ayam itu sangat berharga bagi Nyonya Kim. Tapi Kasim Jang menenangkan. Siapa juga yang sanggup menangkap 20 ayam. Ia hanya ingin melatih Ra On saja, jadi santai saja…


Ra On mulai menangkap ayam yang dipelihara bebas. Tapi ternyata susah. Meski begitu Ra On tak menyerah, dikejarnya salah satu ayam hingga sampai ke atap rumah. Ia mengendap-endap, berhati-hati agar tidak mengagetkan tangkapannya.. Ah.. ini dia.. ayamnya dia. Ra On bersiap-siap meraih tapi tak terjangkau..


Yoon Sung akhirnya kembali ke rumah. Tapi walau rumah penuh keramaian dan hadiah, ia merasa lelah menghadapi semuanya. “Aku berharap ada petir yang jatuh dari langit.”


Belum selesai ia menghela nafas, terdengar keributan di atas kepalanya. Ia mendongak dan melihat seekor ayam terbang dan seseorang jatuh di pelukannya. 


Gadis itu.Yoon Sung terpana tapi merasa Ra On hendak melepaskan diri, ia mengetatkan pelukannya, “Benar-benar jatuh.. sebuah petir,” matanya tak lepas memandang Ra On.


Putri Myeung Eun mendapat tugas untuk menilai jawaban calon kasim. Ia sebenarnya enggan, tapi dayang membujuknya untuk memeriksa dan mengambilkan satu lembar jawaban. Ia terbelalak membaca jawaban itu dan berteriak marah.

Ra On akhirnya berhasil menangkap beberapa ayam. Yoon Sung memandangi Ra On terus, membuatnya jengah dan akhirnya Ra On mengiyakan. Ia adalah orang yang sama dengan yang di malam itu. Tapi bukan itu yang mengganggu pikiran Yoon Sung. Ia ingat bagaimana pelukannya pada Ra On dua kali. Apakah Ra On ini benar-benar kasim? Beneran?


Ra On mencoba menutupi gugupnya dengan pura-pura tersinggung. Apa Yoon Sung merendahkan dirinya karena menjadi kasim? Karena Yoon Sung menganggap kasim itu bukan lelaki tulen karena tak lengkap? Atau ia yang menjadi buronan tak pantas menjadi kasim? Tidak, jawab Yoon Sung. Lalu kenapa Yoon Sung terus memandanginya?


“Apa ini namanya bukan curang kalau kasim bisa secantik ini?” Yoon Sung meneliti wajah Ra On lebih dekat, membuat Ra On gelisah. Tapi kemudian Yoon Sung tersenyum, “Tapi memang tak ada hukum yang melarang pria berwajah secantik ini. Tak ada maksud apapun dariku,” Yoon Sung tersenyum dan menepuk punggung Ra On.


Kasim Seong bengong melihat 20 ayam tergeletak di halaman dapur. Ra On benar-benar menangkap 20 ayam. Apa Ra On sudah gila? Ia buru-buru kabur mendengar kepala pelayan yang panik campur marah melihat ayam-ayam berharganya tertangkap.


Pesta pun dimulai. Perdana Menteri Kim merayakan kebahagiaan yang dirasakan dan bersulang. Tapi belum sempat bersulang, cawan araknya terjatuh kena anak panah yang sekarang menancap di dinding. Ada musuh! Dia berbaju hitam dan memakai topeng.

Sontak para tamu kabur melarikan diri. Perdana Menteri Kim menyuruh pengawal untuk mengejar si pemanah itu, tapi pengawal itu urung mengejar karena ada seseorang yang masuk menaiki tangga. Perdana Menteri kaget, karena pria itu adalah Putra Mahkota Yeong dengan dikawal Byung Yun.


Yeong tersenyum dan mengacungkan bingkisan yang ia bawa. Sebotol arak. Ia berkata kalau ia tak bisa jauh-jauh dengan yang namanya pesta. Apalagi pesta ini berkaitan dengan calon adiknya.

Merasa atmosfir yang berbeda dengan pesta biasanya, Yeong akhirnya diberitahu tentang adanya tamu tak diundang. Yeong melihat ada anak panah tertancap di tiang kayu. Ia mencabut panah itu dan mengambil suratnya.


Ada kematian di atas bumi, begitu juga kematian dalam pemerintahan. Bukan rakyat yang harus disalahkan, melainkan kemiskinan. Ketika kemarahan rakyat tertuju pada pemerintah, maka pemerintah adalah penyebab kemiskinan rakyat.


Yeong bertanya apakah ucapan surat itu benar? Ia menanyakan pendapat menteri lainnya. Tapi kedua kroni Perdana Menteri Kim tak menjawab. Yeong menaruh surat itu di meja dan Perdana Menteri Kim membaca penutup surat itu, nama pengirimnya. Ia seperti mengenali satu huruf itu.


Menurut Yeong, kemiskinan bukanlah salah pemerintah. Tapi yang salah adalah pemimpin yang tidak mengatur pemeritahan dengan benar. Ucapan itu membuat yang lain tidak nyaman. Tapi ekspresi Yeong yang tadi serius berubah, “Hahaha.. aku hanya bercanda agar membuat kalian tertawa. Tak ada alasan kalian menatapku seperti itu.”

Ia mengajak yang lain untuk bersulang dan minum, tapi yang lain enggan melakukannya hingga terdengar suara, “Paduka, bolehkah hamba yang menuangkan arak?” Yeong berbalik dan melihat Yoon Sung di sana.


Ketiga calon kasim yang sedang beberes akhirnya melihat sosok Putra Mahkota, walau hanya belakang kepalanya saja. Mereka belum berhasil melihat wajah putra mahkota karena buru-buru dipanggil untuk bekerja kembali.


Dari percakapan, nampak kalau Yeong dan Yoon Sung pernah berkawan, tapi hubungan mereka tidak erat. Yoon Sung yang baru pulang ke ibukota merasa tak enak belum pernah mengunjungi Yeong. 


Tapi Yeong tak merasa perlu. Tak usah basa-basi karena Yoon Sung tak bisa berbohong karena kelihatan. Yoon Sung merasa Yeong sekarang tak sehangat dulu. Yeong hanya menjawab apa Yoon Sung merasa sedih? Yeong tak memungkiri hal itu, “karena bagi hamba, Paduka adalah..”

“.. teman?” Yeong melanjutkan kalimat Yoon Sung dengan sinis.


Yoon Sung terdiam dan menunduk, menuangkan arak lagi dan bertanya kenapa Byung Yun tak mau minum? Apa karena mereka sudah tak mungkin menjadi teman lagi? Byung Yun menjawab pendek kalau ia sedang bertugas jadi tak boleh minum.

Yeong menghela nafas, “Tentu saja. Kau adalah pengawal yang paling dipercayai Paduka dan juga teman dekatnya.”


Perdana Menteri Kim memandangi ketiganya dari kejauhan. Menteri Kim mendesah melihat mereka. Yoon Sung nampak terlihat seperti pangeran daripada Pangeran sendiri. Yang kurang dari Yoon Sung dibandingkan Putra Mahkota adalah marganya ‘Kim’ dan bukannya ‘Lee’.


Ucapan itu mengingatkan Perdana Menteri Kim pada ucapan tukang ahli meramal wajah untuk menilai wajah Putra Mahkota. Menurut tukang ramal yang sudah mepelajari fisiognomy Yeong, penampilannya yang lembut kelihatannya seperti lemah, tapi ada keberanian dan jiwa petualang yang ada di diri Yeong.Ia dapat merasakan aura anggota kerajaan dalam dirinya.

“Tapi.. ada satu hal lagi..” kali ini tukang ramal merasa ragu untuk mengungkapkan. Perdana Menteri Kim minta agar tukang ramal bicara dengan baik, jangan gagap. Tukang ramal itu melanjutkan. “Saya melihat kalau ia akan meninggal di usia muda. Dan saya merasakan energi yang tak biasa dari salah satu tuan muda. Sebuah hati yang hangat yang di dalamnya mengalir jiwa orang besar. Tak dapat dipungkiri kalau wajah itu adalah wajah seorang Raja! Dia yang memakai ikat kepala bergambur bangau.”

Perdana Menteri Kim terbelalak dan menyuruh tukang ramal itu diam. Ia menyuruh agar tukang ramal itu tak memberitahukan hal ini kepada siapapun, karena akan mendapat hukuman.


Perdana Menteri Kim menemui Putra Mahkota yang sedang bermain dengan teman-temannya. Salah satunya adalah cucunya, Yoon Sung, yang memakai ikat kepala bergambar bangau.

Kenangan itu mengusik ingatannya. Tapi ia masih curiga karena panah itu datang bersamaan dengan kedatangan Putra Mahkota. 


Sedangkan Yeong sendiri juga bertanya-tanya, kira-kira siapa si pemanah itu karena ia hanya melihat orang itu memakai topeng.


Ra On sudah menunggui Yeong dengan sepiring ayam. Mendengar ayam itu berasal dari rumah Perdana Menteri, Yeong ogah memakannya. Bahkan melihatnya pun ia enggan. Ra On cemberut dan bergumam kalau ini adalah hadiah terakhir yang akan ia berikan di istana. Yeong bertanya apa yang baru saja Ra On katakan? Untungnya Yeong tak mendengar dan Ra On tak mau mengulang.

Ia menyiapkan ayam ini karena melihat mood Yeon sedang jelek. Menurutnya, makan bisa menjadi mood booster, karena perut kosong itu membuat hati  sedih. Yeong berkata tak semua orang seperti Ra On. Jangan menarik kesimpulan dengan standar hidup Ra On yang rendah itu karena ia tak pernah merasa lapar.


“Mungkin perutmu tak pernah merasa lapar tapi kurasa hatimu sudah pernah kelaparan berkali-kali,” tebak Ra On. “Sangat gampang untuk membuat orang lapar senang. Tapi tak mudah menyenangkan orang yang lapar hatinya. Biasanya mereka sering berbohong dan berkata kalau mereka baik-baik saja.”

“Berhentilah bicara.”

“Apa kau mau mendapatkan sedikit kasih sayang dari seseorang yang hatinya kaya?” tanya Ra On ceria tak mempedulikan kejudesan Yeong. “Dari aku! Orang yang paling kaya hatinya di seluruh Joseon!” 


Ra On menarik paha ayam dan mengangsurkannya pada Yeong, “Ini adalah bentuk kasih sayangku, Hong Sam Nom, yang kuberikan padamu!”


Putri Myeong Eun terus memandangi lembar jawaban berwarna merah itu. Saran yang tertulis di sana sama persis dengan kalimat yang pernah ditulis oleh kekasihnya. Mendadak ia tersadar. Tulisan itu seperti ia kenal!


Myeong Eun buru-buru mencari suratnya yang lama dan mencocokkan bentuk tulisannya. Bentuk tulisannya sama pula!


Byung Yun ikut makan bersama mereka. Ra On tiba-tiba teringat kalau tadi ia sempat melihat Putra Mahkota. Kedua pria itu kaget, benarkah? Ra On menjawab geli, kalau yang ia lihat hanya belakang kepalanya saja. “Tapi tahukah kalian apa julukan yang diberikan orang-orang padanya?”

Yeong tertawa dan menebak, “Hmm.. apa? Putra Mahkota Bunga?”


“Istana E*k,” jawab Byung Yun sambil terus menekuni makannya tak peduli. Ra On tertawa membenarkan. Tapi katanya ada lagi julukan yang tak ada orang yang tahu. Byung Yun buka suara lagi, “Setengah monster setengah manusia.”


“Benar sekali!” tukas Ra On, tak menyadari mata Yeong yang sudah hampir meloncat keluar dan api sewaktu-waktu bisa menyembur dari kepala Yeong. Ia malah menjelaskan darah Putra Mahkota itu mengalir darah monster juga darah manusia. “Dan Putra Mahkota itu tak mengenal kapan boleh dan kapan tidak boleh menggonggong. Benar-benar gila dan baj..”

“.. Hei.. diamlah! Makan saja!” potong Yeong kesal sambil menyumpal mulut Ra On dengan ayam. Tapi Ra On masih penasaran dan terus bertanya, “Apa Pangeran itu memang benar-benar kejam dan tak tahu aturan…”


Yeong membanting sumpitnya kesal bersamaan dengan Byung Yun yang mendengus geli. Jarang-jarang ada orang yang berani menjelek-jelekkan Yeong di depan Yeong sendiri.


Tapi dengusan itu terdengar oleh Ra On. “Apa kau tertawa? Kukira ada yang salah dengan wajahmu selama ini!”


Byung Yun terbatuk-batuk dan mengembalikan ekspresi wajahnya. Ia membantah kalau ia tadi tertawa. Yeong menatapnya kesal, “Aku juga mendengarnya, Pengawal Kim. Kurasa julukan Putra Mahkota itu sangat menghibur kan?” Byung Yun tak bisa menjawab karena terbatuk-batuk lagi. Akhirnya Yeong menepuk punggungnya-berkali-kali-dengan-keras-sekali.


Keesokan paginya, Ra On sudah tak sabar untuk mendengar kabar kalau ia tak lolos. Saat menyapu ada seseorang yang memanggil namanya dan menyergapnya. Ternyata ia dibawa ke penjara dengan seorang putri bangsawan melemparkan kertas jawaban Dong Gi, mengkonfrontasi apakah Ra On yang menulis kertas jawaban itu?


Putri Myeong Eun memberitahu kalau Dong Gi sudah mengakuinya dan melemparkan surat lamanya. Ia bertanya apakah Ra On juga yang menulis surat itu? Ra On terkejut melihat surat Jung Do Ryeong yang ia tulis ada di hadapannya. Putri Myeong Eun marah, tak percaya kalau ia selama ini ditipu oleh Ra On. “Beraninya kau melakukan hal ini pada Putri Raja?!”


Ra On mendongak kaget, “Apa? Paduka Putri?” Ra On berlutut lebih dalam dan gemetar, “Hamba pantas mati!”


“Jadi kau sudah tahu,” Myeong Eun menarik pedang pengawal untuk menebas leher Ra On, “Aku akan mengabulkan permintaanmu!” Ra On memejamkan mata, tapi tak berani bergerak. Tapi terdengar suara, “Berhenti!”


Myeong Eun berbalik mendengar suara itu. Terdengar langkah seseorang, membuat semua terkejut. Dayang berlutut dan berseru, “Paduka Putra Mahkota..”


Seseorang dengan baju kebesaran Putra Mahkota masuk ke dalam penjara, Ra On mendongak untuk melihat lebih jelas..

Komentar :

Wihh.. beneran ketemuan nih? 

Tapi kalau melihat preview 10 menit yang keluar saat konferensi pers, sepertinya Ra On masih belum tahu Putra Mahkota itu yang mana. Mungkin kedengaran suara iya, tapi bisa saja tubuh Yeong tertutup oleh badan Putri Myeung Eun atau apalah.

Persahabatan Yeong, Byung Yun dan Yoon Sung sepertinya retak karena suatu kejadian. Mungkin sebuah salah paham atau mungkin Yoon Sung yang bersalah, karena pihak yang benci adalah Yeong dan Byung Yun. Ada apa?

Ramalan wajah Yeong dan Yoon Sung sepertinya memiliki arti lebih jauh, karena menurut sejarah Putra Mahkota Hyomyeong a.k.a Yi Yeong akan meninggal pada umur 20 tahun, 3 tahun setelah ia diangkat menjadi Wakil Raja. 

Waduh.. apa berarti drama ini ga happy ending? Masa sih? 

Banyak pertanyaan yang muncul ketika mendengar ramalan wajah kedua anak itu. 

Tahu kalau cucunya memiliki garis wajah seorang Raja, tapi kenapa Perdana Menteri Kim malah memberikan jabatan yang rendah di istana? Apa karena anaknya adalah Ratu dan Perdana Menteri Kim berharap cucunya yang lain (saudara Yeong yang akan lahir) yang menjadi Raja. Yoon Sung tak memiliki darah Yi, dan Perdana Menteri Kim bagaimanapun juga tetap setia pada Dinasti Joseon.

Namun kenapa juga Yoon Sung tidak menekuni jabatannya. Walau rendah, jika dikerjakan dengan rajin -apalagi ia membawa nama Perdana Menteri Kim- pasti tak sulit baginya untuk mendapat promosi demi promosi. Atau jangan-jangan ia sudah mendengar tentang ramalan itu dan tak ingin menghalangi takdir Yeong?

Karena saya suka menebak-nebak ending cerita (kalau drama ini udah ada endingnya, mending saya langsung nonton episode terakhir sih), sebenarnya sudah mencoba menebak bagaimana endingnya. Karena Pangeran Hwomyeong di dalam sejarah akan mati di usia 20, berarti akan ada yang mati di drama ini. 

Hmm... tergantung mau happy end atau sad end kali ya? Kalau happy end yang mati .... (isi sendiri jawabanmu) kalau sad end yang mati .... (ini juga isi sendiri)

Yang pasti cute overload masih ada di episode berikutnya. Tapi yang gloomy overload juga ada. Sang Raja. Kesian banget kayaknya hidupnya.

Preview Moonlight Drawn by Clouds episode 3

3 comments :

  1. Makin seru suka dengn karakter Ra on,pokok nya d tunngu lanjutn nya mba,tetp semngt nulis nya mba

    ReplyDelete
  2. Duh....dah gx sbar buat lanjutan nya.ttp smangat y mbk bkin sinopsis ny....

    ReplyDelete
  3. Klo konfliknya berasa rerun the moon that embrace the sun 😄
    Makasih sinopsisnyaa jadi ngerti pas nonoton

    ReplyDelete