August 30, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 3 - 2


Keesokan paginya, Ra On berlari menuju kamar Selir Jang. Ia memberikan sebuah surat jawaban dari Raja. Raja telah membaca surat itu dan memberi jawabannya. Bahkan suratnya pun beda. Suratnya wangi sekali.


Selir Jang merasa senang dan membuka surat itu. Tapi betapa terkejutnya ia melihat surat yang diterima adalah kertas kosong. Selir Jang tersenyum sedih. Tapi sekarang ia sudah tahu. Melalui Ra On, ia bisa menangkap maksud Raja kalau ia memang harus berhenti mengganggu Raja.

Sebelum Ra On pergi, Selir Jang mengambil setumpuk surat yang ada di kotak. Ia meminta Ra On untuk membakar semua surat yang ia terima selama ini. Ia tak sanggup melakukannya sendiri.



Di wisma, Ra On memandangi surat yang diberikan Raja padanya. Angin menerbangkan tumpukan surat itu. Untung Yeong dan Byung Yun datang dan menangkap kertas-kertas itu. Ketika ditanya, Ra On menjawab kalau kertas itu adalah milik Selir Jang dan ia tak habis pikir mengapa Raja selalu menjawab surat dengan kertas kosong?

Yeong teringat ada tumpukan surat di kamar Selir Jang. Yeong merasa itu bukan surat asli dari Raja karena mungkin surat Selir Jang bahkan tak sampai ke tangan Raja. Ra On menjawab kalau kali ini berbeda karena ia benar-benar yakin kalau surat itu sudah sampai ke tangan Raja. Yang dia tak mengerti adalah jika Raja hanya mengirimkan kertas kosong, kenapa Raja memanggilnya secara personal?
Byung Yun masih tak habis pikir bagaimana cara Ra On memberikan surat itu pada Raja. Ra On menjawab kalau ia menyelipkannya di antara gulungan.


Yeong bertanya, “Tapi dia menjawab dengan surat kosong?” Ra On mengiyakan lesu. “Kau telah memotong harapannya yang sudah tipis.” Dan Yeong pun berjalan pergi.


Yeong menemui ayahnya, memberitahu kalau kondisi Selir Jang yang sedang sakit dan meminta agar Raja mengunjunginya sekali saja. Raja menjawab kalau ia akan mengirimkan dokter. Yeong berkata kalau hal itu bisa dilakukan olehnya. Tapi dengan memberi kunjungan, akan memberi kekuatan pada Selir Jang. “Itu adalah hal yang bisa Ayahanda lakukan, hanya Ayahanda yang bisa melakukannya.”


Raja berkata kalau dengan kehamilannya sekarang, Ratu jadi lebih sensitif. Ia akan menunggu waktu yang tepat dan akan mempertimbangkannya lagi. 

Yeong merasa kecewa. “Apa yang sebenarnya Ayahanda takutkan? Apa yang Ayahanda takutkan sehingga Ayahanda tak akan bisa berbuat apapun? Dulu saat ibunda meninggal dunia, Ayahanda pernah berkata seperti ini.”

Saat itu Yeong kecil meminta penjelasan kenapa ibunya bisa meninggal padahal tidak sakit. Ia meminta Raja untuk menyelidiki hal ini. Tapi Raja menolak dan malah memintanya untuk tak mengungkit-ungkit hal itu lagi.


Dan sekarang Yeong kembali mempertanyakan ayahnya yang tak bisa melakukan apapun. “Di tempat ini juga, Ayahanda menyuruhku untuk menunggu. Padahal.. walau tak ada perubahan yang terjadi ketika Ayahanda bangkit, walau usaha Ayahanda tak ada gunanya saat berusaha keras, tapi setidaknya Ayahanda melakukan sesuatu daripada Ayahanda bersembunyi gemetaran di sini! Karena ayahanda adalah Raja dari negeri Joseon ini,” kata Yeong dengan mata berkaca-kaca, penuh amarah.

Raja pun berkaca-kaca, tapi tak melakukan apapun walau Yeong berbalik pergi meninggalkan ruangan.


Yeong menemui Selir Jang walau sudah larut malam. Ia memenuhi janjinya untuk terus mengunjungi Selir Jang hingga Selir Jang sembuh. Melihat kotak yang sekarang tertutup, ia tahu kalau Selir Jang masih merasa sedih. Selir Jang mengaku kalau ia sudah membuang semua surat, menyerah setelah 7 tahun mengirim surat, berharap bisa bertemu dengan Raja.

Mata Yeong berkaca-kaca saat berkata, “Tujuh tahun yang lalu, Anda dengan hangat menghibuku saat saya kehilangan ibunda.  Sekarang maukah Anda memberi kesempatan pada saya untuk membalas hutang saya?’


Selir Jang menatap Yeong dan akhirnya menangis tersedu-sedu di pelukan Yeong. Yeong tak kuasa menahan air matanya dan menepuk-nepuk punggung Selir Jang dengan sayang.


Ra On merasa berat untuk membakar surat-surat milik Selir Jang, apalagi surat itu berbau harum. Byung Yun kaget mendengar surat itu ada baunya, apalagi baunya seperti buah apel dan nampak berpikir. Saat Ra On mulai mendekatkan kertas kosong untuk dibakar, ia langsung melempar belati untuk mematikan api lilin, mengagetkan Ra On.

Byung Yun turun dari langit-langit dan mengarahkan kertas itu cukup dekat pada lilin hingga nampak tulisan yang samar-samar. Ra On terpana melihat tulisan itu makin lama makin jelas. Byung Yun menjelaskan kalau tinta yang digunakan adalah cuka apel dan tulisan itu hanya bisa muncul jika kertas didekatkan ke api.


Ra On terkesima mendengar penjelasan Byung Yun dan berseru, “Kim Hyung!” Hahaha… Byung Yun bengong dipanggil seperti itu. “Mulai sekarang aku akan memperlakukanmu seperti kakakku, ya?” Byung Yun berdehem, menolak memiliki hubungan seperti itu. Tapi Ra On membujuknya, “Ayolah, kenapa kau seperti ini? Aku suka bunyi Kim Hyung.”

Byung Yun berdehem tapi tak memberi jawaban apapun.


Ra On berlari ke kediaman Selir Jang dan tak sengaja menabrak Yeong. Ia buru-buru menjelaskan kalau surat Raja itu tidak kosong, tapi ternyata surat rahasia. Tanpa menjelaskan lebih panjang lagi, ia kembali berlari.


Selir Jang yang baru saja menidurkan Yeong Eun terkejut mendengar gedoran di pintunya. Ra On meminta Selir Jang untuk segera keluar karena Raja sedang menunggunya. Selir Jang bingung. Apa maksud Ra On? Ra On memberikan surat yang sekarang sudah ada tulisannya.


Dan ketika Selir Jang bergegas menemui Raja di kolam, kita mendengar isi suratnya.

Selir Jang, aku mengirimkan surat ini dengan setengah berharap kau bisa membacanya, dan setengahnya lagi berharap kau tak akan tahu hingga akhir. Aku adalah raja lemah, suami yang tak punya kuasa dan ayah yang pengecut. Maafkan aku yang hanya mampu menyampaikan perasaanku dengan cara seperti ini.

Sementara menunggu hari dimana kau membaca surat ini, setiap malam aku akan pergi ke paviliun tempat kita biasa bertemu. 


Dari kejauhan Yeong dan Ra On memandangi keduanya. Yeong teringat kata-kata pedasnya, yang menceramahi ayahnya di malam itu. Dan sekarang kita mendengar jawaban Raja saat itu.


Yeong sedang melangkah pergi saat Raja berseru, “Aku tak bisa melakukan apapun! Aku tak boleh melakukan apapun!”


Yeong berbalik dan terkejut melihat ayahnya berkaca-kaca saat berkata, “.. Agar dia selamat.. agar kau selamat. Ketika aku bertindak menjadi Raja, aku kehilangan 2000 orang rakyatku. Ketika aku bertindak menjadi Raja, aku kehilangan Ratuku! Semua guru dan teman-temanku, mereka semuanya pergi, yang tersisa hanya aku. Aku yang tak berguna ini. Agar tak kehilangan orang-orangku lagi.. yaitu dengan tak melakukan apapun..”


Mata Yeong berkaca-kaca melihat pemandangan di depannya. Ra On tersenyum dan merasa lega melihat ketulusan Raja dapat tersampaikan pada Selir Jang. Tapi ia tak habis pikir kenapa Raja harus menyampaikan dengan cara sembunyi-sembunyi? Bukankah Raja adalah orang yang memerintah negeri ini? Sebenarnya apa yang membuat Raja ragu dan bimbang?


Yeong hanya diam, tapi tatapan mata dan hatinya bisa menjawab. Aku akhirnya mengerti. Sebelum ia menjadi Raja yang menanggung beban mahkota, ia adalah suami yang dikagumi oleh istri yang ia cintai. Dan satu-satunya ayahku.


Esoknya, Raja kembali mengeluhkan para bawahannya yang tak mau menuruti ucapannya. Saat ia menyuruh ke kanan, semua malah ke kiri. Para bawahannya hanya menunduk tapi bukan merasa takut melainkan membiarkan saja sang Raja ngomel dan membantah kalau hal itu tidak benar.


Tapi Raja terus meracau, berkata kalau mungkin tahta ini lebih baik diberikan pada orang lain saja. Ia memberikan pada satu menteri, berganti pada menteri lain dan hingga ke Perdana Menteri Kim, yang semuanya menolak basa-basi dengan berlutut. Raja pun teringat kalau ia  masih Putra Mahkota. Ia pun meminta Kasim untuk memanggil Putra Mahkota.


Dan kita melihat Yeong muncul dengan baju dalam saja, dan buru-buru pergi dengan dipakaikan baju sepanjang perjalanannya ke istana. Bahkan topinya belum terpasang dan sempat jatuh saat masuk ke dalam ruangan.


Yeong berlutut saat Raja berkata kalau negeri ini salah urus oleh dia yang tak becus. Maka dari itu ia akan menunjuk Putra Mahkota sebagai wali untuk menggantikannya.

Semua terkesiap, termasuk Yeong. Para menteri tahu kalau Raja hanya mewek dan ingin dihibur. Maka mereka membujuk Raja untuk tidak turun tahta dan meminta Raja menarik keinginannya. Raja bertanya apa pendapat Perdana Menteri Kim.

Perdana Menteri Kim menatap Yeong yang tampak panik ketakutan dan berkata kalau Putra Mahkota bersedia, maka ia pun setuju. Raja menatap penuh harap pada Putra Mahkota, meminta pendapatnya.


Yeong berkata ia mungkin terlihat dewasa karena busananya, tapi kenyataannya ia bukanlah siapa-siapa dan masih anak kecil. “Bagi hamba yang merasa takut meninggalkan pelukan orang tua, kenapa Yang Mulia memaksa hamba menerima cobaan berat ini?”


Para menteri tersenyum sinis dan bahkan ada yang berbisik-bisik, menyamakan Putra Mahkota dengan Raja yang sama-sama gemetar, menyedihkan melihat mereka seperti ini, berpura-pura punya kekuasaan yang besar.


Namun wajah Yeong yang tadi nampak panik, sekarang menjadi tegas saat berkata, “Namun jika hamba berpikir lebih dalam lagi, tak ada alsan bagi hamba untuk tidak melakukannya.” Ia menegakkan badannya dan berkata lantang, “Yang Mulia, hamba akan menerima titah paduka dengan sukacita.”

Perdana Menteri Kim menatap Putra Mahkota, waspada. Raja menatap Yeong dan tersenyum walau matanya berkaca-kaca.


Malam itu, Yeong menemui Raja dan berkata kalau ia bersedia memikul sebagian beban Raja dengan menjadi wali. Tapi sebagai imbalannya, Yeong minta satu hal, “Hamba minta seseorang yang bisa hamba andalkan saat hamba lemah dan takut. Ayah hamba.”


Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Raja memanggil dengan mata berkaca-kaca, “Lee Yeong-ah..” Dan sekarang, mata Raja pun berkaca-kaca penuh dengan rasa bangga pada putranya.


Ra On sekarang menjadi kasim di Istana Putra Mahkota dan sekarang memasuki ruangan Putra Mahkota. Kasim Jang tiba-tiba ada di sebelahnya, membuat Ra On berseru kaget. Kasim Jang heran, bagaimana mungkin Ra On bisa kaget padahal sudah terbiasa tinggal di Wisma Penyesalan yang penuh hantu.

Ra On menjawab kalau ia tak bisa menghalau semua hantu, tapi setidaknya ia sudah berteman dengan mereka dan hidup bahagia. Hahaha.. berarti Byung Yun dan Yeong dong hantunya?

Kasim Jang memuji Ra On sebagai junior yang bakatnya (tak takut hantu) sudah ia tunggu-tunggu. Ia memberikan buku yang harus diletakkan di perpustakaan dan menyuruhnya tenang karena ada Putra Mahkota di dalamnya.

Ra On sedikit panik karena takut bertemu Putra Mahkota. Tapi melihat ruangan sepi, ia memberanikan diri untuk melihat-lihat perpustakaan. Betapa kagetnya ia melihat Yeong ada di sana dan bertanya ngapain Yeong ada di ruangan ini?


Yeong kaget dan langsung menutup simbol naga di bajunya dengan buku yang ia pegang. Ia balik bertanya kenapa Ra On ada di ruangan ini.


Tentu saja Ra On menjawab kalau ia habis disuruh. “Tapi apa kau tak melihat Putra Mahkota? Katanya ia ada di sini.” Melihat jawaban Yeong yang hanya ah oh.. ia menganggap Putra Mahkota sedang tak ada di ruangan dan merasa lega.

Mendadak ada seseorang yang menyuruhnya segera meninggalkan ruangan karena hanya Putra Mahkota yang boleh masuk ke ruangan ini. Ra On mengangguk patuh dan mengajak Yeong untuk segera pergi.

Yeong merasa ragu, tapi ia teringat ucapan Byung Yun yang menanyakan sampai kapan Yeong akan sembunyi-sembunyi seperti ini dan ucapan Ra On yang menganggap dirinya sebagai teman. Maka iapun keluar, mengikuti langkah Ra On.


Ra On berjalan mendahului dan berhenti saat Yeong bertanya dari belakang, “Apa kau ingin tahu siapa namaku?”


Ra On berbalik dan terkejut melihat temannya sekarang memakai baju dengan simbol naga, berjalan ke arahnya, tersenyum dan berkata, “Namaku.. Lee Yeong.”


5 comments :

  1. mbak dee makasih banyak sinopsisnya walau udah nonton tapi masih suka binggung .. sinopsis ini bener2 membantu ..
    semangat mbak di tunggu selalu kelanjutannya

    ReplyDelete
  2. Makasih sinopsisnya dee jadi ngrti pas nonton

    ReplyDelete
  3. Makasih banyak untuk recap-nya, Mbak Dee~ Selalu ditunggu deh ;)

    Dua menit terakhir episode 3 feel-nya betul-betul luar biasa. Sampai masuk ke hati. Aduh, Yeong~ Waktu dia jalan menuju Ra On, pandangan matanya penuh keyakinan, dan... "Lee Yeong. Itu namaku." segaris senyum tipis dan pandangan matanya yang lebih lembut, mengantisipasi reaksi Ra On. Ditambah BGM-nya lagu yang dinyanyikan Gummy. Ya ampun. Bye. *melted*

    Scene favorit lainnya adalah waktu Yeong mengonfrontasi Raja tentang ibunya. Akting mereka mengagumkan. Park Bo Gum, I love you~^^

    Ini episode-nya Yeong. Dan episode 4 Ra On bintangnya. Kalau kata orang forum mah, "Park Bo Gum killed it in episode 3, and Kim Yoo Jung crushed it in episode 4!" Daebak! Dua bintang muda yang gak cuma rupawan tapi skill akting-nya luar biasa. Kudos!

    Nggak pernah merasa sesuka ini sama drama Sageuk sejak zaman Dong Yi. Dan makin senang-lah setelah tau rating-nya naik 7.5% dari episode sebelumnya. Semoga rating-nya naik terus~ Moonlight, fighting! Mbak Dee, fighting!

    ReplyDelete
  4. makasih udah recap mba dee... senang sekali setelah tau mba dee recap drama ini,,,,

    ReplyDelete
  5. makasih udah recap mba dee... senang sekali setelah tau mba dee recap drama ini,,,,

    ReplyDelete