August 30, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 3 - 1

Beberapa saat sebelum kedatangan Putra Mahkota di penjara

Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 3 - 1

Kasim Jang curhat pada Yeong saat membantu memakaikan baju kebesaran Putra Mahkota. Ia heran kenapa ada kasim yang membiarkan kertas ujiannya kosong dengan alasan tak tahu jawabannya. Padahal kalau calon kasim itu menulis apapun di kertas itu, pasti akan diluluskan. 

Yeong curiga, tapi belum sempat bertanya lebih banyak, Byeong Yun muncul dan memintanya untuk pergi ke suatu tempat dengan segera.



Ra On berlutut, gemetar setengah mati saat Putri Myeung Eun menghunus pedang ke lehernya. Tapi saat itu juga terdengar suara yang menghentikan Putri Myeung Eun. Ia mendengar seseorang menuruni tangga dan dayang Putri Myeung Eun berseru, “Putra Mahkota!”

Putra Mahkota? Ra On kaget dan refleks mendongak. Tapi pengawal menyuruhnya menunduk.

Yeong menghampiri adiknya dan dengan lembut mengambil pedang dari tangan Myeung Eun. Pada pengawal jaga, ia menyuruh agar kasim yang bersalah ini dibawa ke pengadilan. Myeung Eun panik, karena dari 10 orang, 9 orang mati di pengadilan. Yeong bersikeras melakukannya. “Kau bertukar surat dengan orang di luar sana. Aku ingin tahu alasan orang itu mempermainkanmu.”


Myeung Eun ketakutan, karena berarti semua orang akan mengetahui tentang hal ini. Yeong mengiyakan. Bahkan membuat permintaan khusus pada Ayahanda Raja untuk menyelidiki hal ini. Myeung Eun semakin panik. Jadi begitu Yeong menyuruh pengawal untuk menyeret Ra On, Myeung Eun menghentikannya. “Aku tak ingin masalah ini menjadi besar.”

“Jadi, apa yang harus kita lakukan dengannya?” tanya Yeong polos. Dengan nada lebih lembut ia bertanya, “Jika kau membunuhnya di sini, apakah akan membuatmu merasa lebih baik? Kau bukan orang yang suka melukai orang lain.”

Putri Myeung Eun mengikuti Yeong meninggalkan penjara. Tapi Ra On memanggilnya. Masih sambil berlutut, ia minta maaf pada Myeung Eun. Ia tak mengira kalau menjadi penulis bayangan bisa melukai perasaan seseorang seperti ini. “Hamba benar-benar minta maaf.”


Byeung Yun bertanya mengapa Yeong tak memberitahukan identitasnya yang sesunggunya, karena toh cepat atau lambat Ra On akan mengetahuinya. Dan jawabannya sedang melintas di hadapan mereka. Para dayang yang tadinya bersikap biasa, begitu melewatinya, langsung bersikap seformal mungkin. “Dia pasti akan tahu sebentar lagi. Tapi kupikir aku akan menyesalkan jika dia melihatiku seperti mereka melihatku sekarang ini.”

Pengumuman tentang hasil ujian terakhir diumumkan. Ra On merasa lega karena sebentar lagi semuanya akan selesai.


Tapi kertas ujian Ra On belum ada di meja karena masih ada di ruangan Yeong. Kertas kosong hanya bertuliskan nama dan kertas lain berisi pertanyaan : Semua ada di bawah kakinya. Dia bisa mendapatkan semua yang ia inginkan. Tapi ia menginginkan yang lebih. Apa yang bisa dilakukan oleh jiwa lemah sepertiku untuk mengisi kekosongan itu?

Yeong mengangkat alis membaca soal yang diberikan. Kasim Jang nyengir, sepertinya dia yang menulis soalnya. Yeong teringat malam itu, saat Ra On memberikan ayam dan berkata kalau Yeong mungkin tak pernah merasa lapar, tapi hati Yeong-lah yang selalu lapar. Jadi aku, yang memiliki hati paling besar se-Joseon ini, akan memberikannya padamu.

Memandang kertas kosong itu, Yeong mengambil stempel dan menekanya kuat-kuat : LULUS. Kasim Jang bengong, kenapa kertas kosong itu bisa diluluskan? Mata Yeong berbinar-binar saat menjawab, “Sebelumnya, aku sudah mendengar jawabannya.”

Kasim Jang penasaran, apa memang jawabannya?  Yeong menjawab pendek, “Paha ayam.”


Dan betapa shocknya Ra On melihat kertas lulus ada di tangannya. Kok bisaaa..??!! Kasim Jang yang masih ada di tempat juga tak habis pikir apa yang Putra Mahkota pikirkan saat itu. Ra On semakin kaget karena baru tahu kalau pertanyaan yang diberikan itu berasal dari istana Putra Mahkota.


Byung Yun sedang melatih para pemanah. Mereka harus bisa memanah ke sasaran, tanpa mengenai dirinya yang akan berjalan di depan papan target. Para dayang yang gadis berseru uhhh.. ahhh.. khawatir akan keselamatan Byung Yun tapi juga mengagumi kehebatannya. 


Bahkan mereka mempunyai julukan untuknya yaitu Gat Byung Yun (God Byung Yun). Beberapa kali Yeong melirik kesal pada para dayang yang berisik sekali.


Dayang senior sudah mengingatkan mereka untuk tenang. Tapi mereka mulai ribut, memuja-muji saat Byung Yun berhasil menangkis panah-panah yang nyasar ke arahnya. Kesal karena berisik, Yeong mengambil busurnya dan mengarahkan ke arah para dayang ribut itu. Mereka kaget dan langsung berlutut. Walau Yeong hanya menarik busur kosong, tapi efeknya ada. Para dayang itu jadi diam.


Usai latihan, Yeong berkata, “Aneh.. Kalau kuperhatikan, kau ini selalu mengadakan latihan yang membuatmu tampak menonjol Gat Byung Yun.” Yeong menekankan pada Byung nya yang berarti goblok. Byung Yun gagal berusaha memasang wajah datarnya mendengar sindirian Yeong dan mengatakan kalau Yeong salah sangka padanya.

Dan Yeong menunjukkan kemampuan memanahnya. Ia berhasil memanah, tak hanya tepat sasaran tapi juga membelah anak panah yang sebelumnya sudah menancap di sasaran. Kerenn..

Mereka bertemu dengan Ra On yang tiduran di kursi. Yeong menendang kaki Ra On, menyuruhnya menyapa tuannya. Ra On menyalak, “Jangan mendekat atau aku akan menggigitmu lagi! Aku ini sedang berbahaya karena moodku sedang jelek sekarang.”

Yeong tertawa dan mendekat, tapi Byung Yun menahannya, sepertinya khawatir Ra On akan benar-benar menggigit. Tapi Ra On malah beranjak pergi. Mau kemana? Ra On berbalik, “Ke istana Putra Mahkota! Aku harus menemuinya langsung.” Keduanya buru-buru menghadang. Apa keperluan Ra On pergi ke sana? “Aku ingin bertanya padanya, kenapa ia melakukan hal ini padaku? Minggir!”

Tapi keduanya kembali menghadang. “Apa beliau itu orang yang bisa kau temui semaumu?”


Pertanyaan itu membuat Ra On sadar. Putra mahkota adalah orang yang ada di langit, jadi ia tak akan berani menemuinya. Tapi tetap saja ia ngomel. “Putra Mahkota itu benar-benar menghancurkan diriku.”

“Kapan aku..” Yeong langsung tersadar saat Byung Yun menyenggolnya. “Memang apa yang Putra Mahkota lakukan?”

“Aku tidak memenuhi syarat sebagai kasim. Tapi karena Putra Mahkota, aku terjebak di istana ini sekarang!”


Byung Yun memandang Yeong bingung. “Kenapa dia mempertahankanmu padahal kau tak memenuhi syarat?”

“Jujur, kurasa ia mempertahankanku karena aku sudah melakukan dosa besar padanya,” jawab Ra On lesu.

Yeong menatap Ra On kesal dan bertanya pada Byung Yun, “Apa yang harus kulakukan ketika sudah menyelamatkannya dan malah dibalas dengan menjelek-jelekkanku, Pengawal Kim?” Byung Yun mencabut pedangnya. Tapi Yeong menyuruhnya menyarungkan kembali dan menyuruh keduanya untuk mengikutinya.


Ia membawa mereka ke benteng. Ra On yang baru pertama kali kesana, terpesona melihat keindahan bangunan istana yang terhampar di bawahnya. Yeong berkata kalau Ra On merasa tak memenuhi syarat menjadi kasim istana, lantas bagaimana dengan perasaan orang yang lahir di istana? Ra On sedikit bingun dengan kalimat Yeong. Byung Yun pun menyenggol Yeong, mengingatkan Yeong yang berbicara terlalu terbuka.

Keduanya sama-sama berat tinggal di istana. Byung Yun akhirnya berkata, “Tak ada yang suka dengan istana. Tapi ketika kita mulai menyukai seseorang di dalam istana, istana rasanya lumayan juga.”

Ra On termenung, menyadari kebenaran ucapan Byung Yun. Tapi bisakah ia seperti itu? Ketiganya saling berpandangan dan kembali menatap istana yang ada di bawah sana.


Raja lagi-lagi bermimpi buruk, Istananya diserang dan rakyat yang penuh berlumuran darah menghadangnya. Raja menjadi semakin sulit tidur. Hal ini membuat Ratu yang sedang hamil kesal sekali.

Saat ayahnya datang, ia mengusulkan untuk pisah kamar dengan Raja, karena terganggu tidurnya. Tapi Perdana Menteri Kim melarangnya, karena di saat-saat seperti ini harusnya Ratu lebih waspada dan berhati-hati.


Ra On ditugaskan menjadi kasim di kediaman Selir Jang. Selir Jang yang sedang sakit menyambut Ra On dengan baik. Ia meminta Ra On untuk menggantikan dirinya saat menemani putrinya, Putri Yeung Eun, berkebun.
Rupanya Selir Jang adalah selir yang dekat dengan Yeong. Saat ibu Yeong meninggal 7 tahun yang lalu, Yeong berusaha untuk tidak pernah menangis, namun terlihat betapa menderitanya Yeong. Saat ia bermain harpa, salah satu senar putus dan melukai jarinya. Yeong berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.


Saat itu Selir Jang mendekatinya dan berkata, “Yang Mulia Ratu pernah meminta hamba untuk memberitahu Paduka. Keberanian seorang pria juga adalah bisa menangis saat merasa sedih. Yang Mulia Ratu juga meminta hamba untuk meminjamkan pelukan hamba saat Paduka menghadapi masa-masa sulit.”

Pada saat itu juga Yeong memeluk Selir Jang dan menangis tersedu-sedu.


Pagi itu Yeong mengunjungi Selir Jang yang masih terbaring di tempat tidur. Ia tak membangunkan, malah menyelimutinya. Dipandanginya ruang duduk Selir Jang yang penuh dengan kertas-kertas.


Berkebun bagi Yeong Eun adalah Ra On mencabut rumput-rumput liar, sementara ia memasangkan bunga di rambut Ra On. Tapi Ra On tidak mengeluh. “Rumput-rumput liar itu memang sangat kuat walau hanya mendapat siraman air dan sinar matahari. Berbeda dengan bunga-bunga cantik…”

Ra On menghentikan ucapannya dan terkekeh geli. Ia segera tersadar dan minta maaf pada Yeong Eun, “Karena ucapan hamba mengingatkan hamba pada seseorang yang hamba kenal.” Ra On meeruskan ucapannya sambil mencabuti, “Seumur hidup ia menjadi bunga yang lembut, jadi dia sangat cerewet dan menjengkelkan.”

Ra On tak menyadari kalau Yeong Eun pergi mengikuti kupu-kupu yang tadi hinggap di kepalanya dan terus bicara. “Kalau saja kelakuannya separuh saja bagusnya dari wajahnya..”

“Kalau aku seperti itu, terus kenapa?”

“Ya kalau dia seperti itu, pasti ia akan lebih baik..,” Ra On menghentikan ucapannya, menyadari pertanyaan itu bukan dari Yeong Eun dan mendongak.


Betapa kagetnya ia melihat sarjana cantik itu sudah berdiri di hadapannya. Kenapa juga Yeong ada di sini? Dulu menjadi kasim, kemudian pengawal, sekarang seperti playboy." Saranku, berhati-hatilah. Jika kau berjalan-jalan seenaknya seperti ini, apa yang akan kau lakukan jika orang-orang yang di atas sana tak menyukaimu?”

Yeong hanya bisa geleng-geleng kepala, geli.

“Aku bicara seperti ini karena aku sebagai teman itu khawatir. Dengarkanlah aku,” ucap Ra On serius. “Huuh.. ngerti gitu, aku nggak ngomong, deh..”


Yeong tertawa mencemooh, “Teman?! Sejak kapan kau dan aku ini teman?”

“Ya kalau bukan teman, lalu kita ini apa?”

“Tuan dan anak anjingnya.”

“Ahh.. jangan bercanda! Berhenti mengataiku anak anjing. Aku punya nama yang sangat bagus. Hong R.. Hong Sam Nom!”

“Apa Sam Nom itu nama yang sangat bagus?” olok Yeong dan berbalik pergi.

“Memang namamu siapa?”

Yeong menghentikan langkahnya. Selama ini ia selalu dipanggil Paduka Yang Mulia atau  Putra Mahkota.  Ia tak pernah dipanggil dengan nama.


Ia memungut topi Ra On yang tergeletak di tanah dan berbalik. Ia mencondongkan badannya, berniat mengganggu Ra On. Tapi pandangannya tak pernah lepas dari wajah Ra On. Ra On merasa canggung terus dipandangi. Beberapa saat kemudian, Yeong mengerjapkan matanya seperti tersadar.

Melihat ada bunga di rambut Ra On, ia mencabuti bunga-bunga itu sambil ngomel, “Kau ini kan pria. Ini apa, sih? Kau ini.. semua yang kau lakukan itu aneh. Aku tak menyukainya.”

Ra On mendelik dan mau mendebat, tapi Yeong keburu menaruh topi ke kepala Ra On dan menepuknya keras-keras. Dan berbalik pergi tanpa memberi kesempatan Ra On bicara. Bukan main kesalnya Ra On. Kalau tak mau menyebutkan nama, ya sudah!


Yeong Eun masih mengikuti kupu-kupu. Tak sengaja ia menabrak Perdana Menteri Kim yang kebetulan lewat. Yeong Eun hanya bisa terbelalak ketakutan saat Perdana Menteri Kim menyapanya. Ia buru-buru berlari pergi.


Kasim Han, kasim Raja, sudah menunggu Yeong di depan kamarnya. Raja meminta Yeong untuk menemuinya. Yeong mulanya menolak dan melangkah pergi. Tapi ia berhenti saat mendengar kalau dua hari terakhir ini Kasim Han menemani Raja yang ingin menemuinya. Kasim Han juga mengaku kalau pagi itu ia melihat Yeong yang mampir ke kediaman Raja, namun pergi sebelum menemuinya. Apakah mereka berdua akan terus saling memandangi punggung saja?

Yeong pun menemui Raja yang merasa sudah hampir gila dan merasa mimpi buruk yang ia alami itu seperti bukan mimpi. Raja meminta Yeong untuk bersiap-siap karena ia akan menunjuk Yeong untuk menjadi wali Raja.


Tapi Yeong menolak. Raja memaksanya untuk tetap menjadi wali Raja karena Yeong adalah Putra Mahkotanya. Yeong tetap bersikukuh. Matanya berkaca-kaca marah, “Hamba tak bisa menolak menjadi Putra Mahkota. Tapi bukankah terserah pada hamba, akan menjadi Putra Mahkota seperti apakah hamba nanti?”


Raja kaget mendengar jawaban Yeong. Ia tak bisa menjawab, dan hanya bisa duduk gemetar bahkan setelah Yeong meninggalkan ruangan. Ia masih merasa ketakutan akan mimpi yang terus menghantuinya.


Selir Jang memberikan surat pada Ra On untuk diberikan pada kasim istana yang nantinya akan diberikan pada Raja. Putri Young Eun mengejarnya dan menunjukkan tulisan di buku, meminta Ra On untuk benar-benar menyampaikan surat itu pada ayahanda Raja. Ra On berjanji akan melakukannya.


Tapi betapa kagetnya ia saat menyerahkan surat kepada kasim istana, kasim istana itu sudah membawa surat jawaban. Kan Raja belum membaca surat itu? Kasim itu menjelaskan kalau Raja selalu membalas surat itu dengan hanya mengirimkan kertas kosong, maka dari itu mereka sudah menyiapkan kertas kosong sebagai jawaban.

Ra On tak percaya dan memilih untuk mengirimkan surat itu sendiri, menimbulkan sedikit keributan. Kebetulan Ratu lewat dan bertanya. Setelah mendengar permasalahannya, ia meminta Ra On mendekat. 


Tanpa ba bi bu, ia menampar pipi Ra On, mengagetkan semuanya. Tanpa rasa menyesal, ia memandangi tangannya dan berkata mungkin karena sedang hamil, jadi gangguan sekecil apapun sangat terasa sekali. “Jadi aku akan berkata sekali ini saja dan tak akan mengulangnya. Surat jawaban? Diam dan ambillah apa yang kasim istana berikan padamu.”

Walau Ratu sudah pergi, Ra On tetap menahan tangis. Kebetulan Yoon Sung melihatnya. Ia mengajak Ra On untuk pergi ke suatu tempat yang sepertinya sangat penting.  Ternyata Yoon Sung membawanya ke pohon besar yang rindang. Ia tahu kalau istana merupakan tempat yang tempat yang keras. Dan tempat ini adalah tempat istirahat jika Ra On butuh bersantai.


Ra On berterima kasih dan mengakui kalau Yoon Sung selalu muncul di saat-saat tersulitnya. Yoon Sung berkata kalau itu namanya jodoh. Ra On tersenyum dan bertanya apa ia syukuri dari Yoon Sung. Yoon Sung menjawab, “Pura-pura tak tahu. Benar, kan?”

Ra On kaget karena Yoon Sung bisa menebaknya. Ia mengira Yoon Sung tahu kalau ia ingin menyembunyikan identitasnya yang menjadi makcomblang antara menantu dan pelayan. Tapi Yoon Sung malah berkata, “Ketika seorang wanita tak ingin bicara, menjadi tugas seorang pria untuk pura-pura tak tahu.”

“Apa maksudmu wanita?” tanya Ra On kaget setengah khawatir.

“Tapi jika seorang pria tak ingin bicara, tugas pria lain untuk pura-pura tak tahu,” tambah Yoon Sung, membuat Ra On lega.

Yoon Sung mengajak Ra On untuk beristirahat dan bermalas-malasan sejenak. Mereka berdua pun memejamkan mata, menikmati teduhnya pepohonan.

Ra On pergi ke kediaman Raja, tapi tak tahu bagaimana caranya untuk memberikan surat Selir Jang langsung pada Raja. Tak sengaja ia bertabrakan dengan kasim yang membawa gulungan pekerjaan yang harus dibaca oleh Raja. Ia pun mendapatkan ide.


Setelah itu kita melihat Raja membuka sebuah gulungan dan mendapati surat Selir Jang yang ikut tergulung di salah satu gulungan. 

No comments :

Post a Comment