August 24, 2016

Moonlight Drawn By Clouds Episode 2 - 1


Sinopsis Moonlight Drawn By Clouds Episode 2 - 1

Ra On tersenyum gembira, pura-pura merasa lega bisa bertemu lagi dengan pria itu dan menggenggam tangan Yeong. “Sepertinya kau baik-baik saja." Yeong menarik tangannya tapi badan Ra On ikut tertarik. Tanpa malu, Ra On menyadarkan kepalanya ke dada Yeong, "Aku merasa tak enak setelah perpisahan yang tak terelakkan di hari itu.” 


“Tak terelakkan?” Yeong mendorong kepala Ra On agar menjauhinya.

Tapi Ra On tebal muka dan malah memuji Yeong yang ternyata adalah pengawal istana. Pantas saja cara memegang belati waktu dulu itu sangat keren. “Aku benar-benar sembrono menganggap pengawal yang kuat dan malah menyebutnya sarjana cantik.”



Yeong sudah kebal dengan gombalan Ra On. Bagaimanapun caranya Ra On melarikan diri, sekarang tak ada lobang atau ular di sini. Ra On bersyukur kalau Yeong baik-baik saja karena ia sudah menyuruh orang untuk menolong Yeong. 

Yeong menepuk bahu Ra On dan mencengkeramnya, “Masa sih? Mereka mungkin cepat datang tapi mata dan telinga mereka sangatlah buruk sehingga aku harus berteriak sekuat tenaga baru bantuan itu datang. Dan lagipula kenapa kau bisa menjadi kasim di sini?”


Ra On beralasan kalau menjadi kasim adalah cita-cita sepanjang hidupnya. Lagi-lagi Yeong tak percaya. “Tapi kenapa kau pergi tengah malam begini membawa buntalan?”

Bukan Ra On namanya kalau tak bisa mencari segudang alasan. “Aku sedang menjalani perintah dari kasim senior..”


Tapi tak dinyana, muncul Kasim Sung, seorang kasim senior, yang mengenali Yeong. Yeong langsung memberi isyarat untuk tak menyebut gelarnya. Ia juga memarahi Kasim Sung yang memberi beban berlebihan pada calon kasim dengan menyuruh Ra On melakukan pekerjaan di tengah malam begini.


Kasim Sung bengong karena ia tak pernah menyuruh apapun. Tapi ia paham saat mendengar ucapan Yeong yang berkata sambil mencengkeram kerah belakang Ra On, “Tapi melihat kau sangat awas pada hal-hal seperti ini, aku percaya kalau departemen kasim pasti bisa bertindak tegas atas kejadian ini.”

Kasim Sung mendelik pada Ra On, menyuruhnya mengikuti dirinya. Ra On semakin ketakutan. Ia berbalik dan memohon agar Yeong menampar pipinya saja dan setelah itu mereka akan melupakan semua kejadian sebelumnya.


Yeong mengangkat tangannya, membuat Ra On berjengit takut. Tapi Yeong hanya mengangkat tangan untuk membelai kepalanya sabar. “Eh.. kita tak boleh memukul anak anjing. Kita malah harus lembut dan bermain-main dengannya. Mulai sekarang kita akan sering bertemu.” Yeong menyentil kepala Ra On, “Anak anjing.. pergilah sekarang.”


Ra On menatap Yeong dengan pandangan memohon, tapi Yeong tetap menyuruhnya pergi bahkan melambaikan tangannya. Akhirnya Ra On pergi juga, membuat Yeong tersenyum puas.



Karena Ra On melakukan tiga kesalahan: berusaha melarikan diri, berbohong dan yang terakhir tertangkap oleh orang yang berperangai buruk. Untung Kasim Seong masih terlalu hormat hingga tak menyebut si perangai buruk itu adalah Putra Mahkota.

Ra On minta maaf karena ia merasa takut hingga ingin melarikan diri. Kasim Seong berjanji akan mengubah Ra On menjadi kasim yang hebat. Oleh karena itu ia memerintahkan Ra On untuk tidur di gudang sendirian malam ini.


Ujian masuk menjadi kasim dimulai. Pagi itu dimulai dengan wejangan keras dari Kasim Utama yang menjelaskan peran kasim sebagai penjaga keselamatan keluarga kerajaan, peran yang memiliki tanggung jawab besar. Oleh karena itu jika mereka menyalahi aturan kasim, maka mereka harus membayar dengan nyawa mereka.


Ucapan itu menakuti Ra On, bahkan salah satu kasim remaja ketakutan hingga menangis dan ngompol. Kasim Seong yang melihat itu seperti melihat jaman dulu ketika ada kejadian yang sama. Kasim Jung bertanya memangnya ada? Kasim Ma berdehem dan beranjak pergi. Kasim Jung nyengir dan berkata kalau ia dapat menebak siapa orangnya.


Ujian kasim ini terdiri dari 3 tahap. Ujian fisik, pengetahuan dan karakter. Yang pertama adalah ujian fisik. Semua calon kasim harus membuka celananya agar bisa dinilai. Tentu saja hal ini membuat Ra On berkeringat dingin dan berniat kabur. 



Tapi ia menabrak calon kasim di belakangnya. Mereka adalah Dong Gi dan Park Seong Yeol. Ketiganya sama-sama berusia 18 tahun. Kedua teman baru itu menggoda Ra On yang terlihat ketakutan.


Tapi Ra On pantas ketakutan karena namanya dipanggil berikutnya bersama kedua orang itu. Dong Gi dan Seong Yeol berhasil lolos dengan mudah karena mereka langsung buka celana. Tapi Ra On tak kunjung membuka celananya, membuat para juri hilang sabar dan curiga.


Untungnya ada seorang kasim masuk yang meminta dokter yang menjadi juri itu untuk segera ke istana karena Ratu mendadak pingsan. Stempel yang dipegang dokter itu terjatuh dan para juri bergegas pergi ke istana, meninggalkan para calon kasim.


Pegawai yang tersisa memberikan lembar kertas kelulusan pada Dong Gi dan Seong Yeol, Dan untuk kertas Ra On, ternyata saat dokter itu menyenggol stempel, stempel itu jatuh di tengah-tengah kertas ujian Ra On. Karena sebagian besar cap stempel ada di kolom lulus, maka Ra On dinyatakan lulus.


Ra On menatap galau pada kertas ujiannya. Nasibnya masih belum jelas. Ia akan mati atau hidup setelah ini?


Perdana Menteri Kim tak bisa menyembunyikan rasa senangnya mendengar kabar kehamilan Ratu. Karena jika yang lahir adalah anak laki, maka mereka bisa mudah menggeser posisi Putra Mahkota, apalagi Putra Mahkota tak punya anak dan kelakuannya seperti itu. Tapi bagaimana jika yang lahir adalah anak perempuan?

Para calon kasim mulai ditunjukkan dimana kediaman para anggota kerajaan. Sekarang mereka ada di kediaman Putra Mahkota yaitu Istana Timur. Baru saja mereka melihat-lihat, terdengar suara hardikan dari dalam istana dan berikutnya Kasim Seong terlempar keluar. Ra On kaget dan mengampiri Kasim Seong untuk membantunya berdiri.


Tapi ia malah menginjak tangan Kasim Seong sehingga Kasim Seong menjerit kesakitan, sakitnya jauh lebih sakit daripada sebelumnya. Ra On buru-buru mengangkat kakinya dan minta maaf. Terdengar suara bentakan dari dalam menyuruh Kasim Seong untuk segera enyah dari istana ini. Kasim Seong buru-buru kabur.

Dong Gi dan Seong Yeol membantu Ra On berdiri dan mulai bergosip. Ternyata benar Istana Timur itu adalah Istana E*k (Pengucapan Timur sama dengan E*k dalam bahasa korea)


Mereka tak melihat Putra Mahkota yang keluar istana, sedang dibujuk oleh kasim Jung untuk pergi ke istana Ratu dan mengucapkan selamat atas kehamilannya.



Akhirnya Yeong pergi juga ke kediaman Ratu. Tempat itu malah mengingatkan pada kenangan ibunya yang diam-diam mengajarkan alat musik kepadanya.


Lamunannya terhenti karena mendengar suara Perdana Menteri Kim yang bertanya apakah kedatangan Putra Mahkota untuk memberi selamat pada Ratu. Yeong mengiyakan. Setidaknya ia harus mengucapkan selamat sebelumnya agar tak terjadi masalah di kemudian hari. Yeong


Ratu rupanya juga tak suka pada Putra Mahkota. Dengan halus ia menyindir kalau ia hampir melupakan wajah tampan Putra Mahkota karena Putra Mahkota jarang sekali menemuinya. Yeong bertanya apakah Ratu senang bertemu dengannya. Ratu menjawab kalau hati seorang ibu akan merasa lebih baik jika bertemu putranya. Raja yang tak paham akan sindir-sindiran halus ini mengiyakan dan meminta Yeong untuk lebih sering mengunjungi Ratu.


Yeong bertanya lagi, apakah Ratu benar-benar merasa senang dikunjunginya? Ratu pura-pura tersinggung. Sudah menjadi aturan paling utama untuk menyapa orang tua setiap pagi. Raja mencoba menengahi tapi Ratu bertanya apakah karena usianya yang hanya lebih tua 5 tahun saja membuat Yeong tak mau menganggapnya sebagai ibu?

Yeong meminta Ratu untuk tidak marah karena pertanyaan ini sebenarnya untuk kebaikan Ratu dan adik yang sedang ada dalam kandungan.”Saat hamil, Paduka Ratu pasti ingin melahirkan bayi yang sehat dan cakep. Jika sering melihatku, apa Paduka Ratu tidak khawatir? Akan ada berandalan satu lagi yang membuat onar di istana, yang wajahnya mirip denganku?” Putra Mahkota nyengir dan menggeleng, “Tentu Paduka Ratu tak ingin, bukan?”


Hahaha… Jawaban Yeong membuat Ratu hanya bisa menahan kesal. Raja menegur Yeong, tapi Yeong malah meneruskan, “Wajah Paduka Ratu menjadi gelap sekarang. Nah, seperti yang saya duga, saya percaya kalau ini adalah tugas saya untuk tak memperlihatkan wajah saya hingga Paduka Ratu melahirkan.”

Raja menyuruh Yeong pergi, yang dituruti oleh Yeong dengan senang hati. 


Yeong berpapasan dengan calon kasim yang akan melakukan ujian tertulis dan melihat Ra On yang terlihat bahagia. Ia bertanya pada Kasim Jang, apa yang terjadi jika calon kasim itu tak lulus. Kasim Jang menjawab, calon kasim itu akan diusir dari istana dan tak boleh masuk istana lagi.


Ia ingat malam itu Ra On ingin kabur tapi beralasan menjadi kasim adalah impian seumur hidupnya saat tertangkap olehnya. Dan ia bisa menebak arti wajah bahagia Ra On.  


Ia memanggil kasim Jang dan menatap baju kasimnya. Kasim Jang mengeluh, “Jangan lagi, Padukaa…”Tapi Kasim Jang tak bisa menolak karena Yeong sudah menggiringnya pergi.


Ujian dimulai dengan Kasim Seong dan Kasim Ma menjadi pengawas. Tapi ternyata ada pengawas pengganti. Yaitu Yeong yang menyamar jadi kasim. Yeong memberi kode agar keduanya pergi yang langsung dipatuhi.


Ra On menjawab dengan ujian itu dengan ngawur. Ia melempar pena yang di keempat sisinya ada jawaban 1, 2, 3, 4. Pena menampilkan sisi angka 3, maka ia mencoret pilihan ketiga. Begitu juga setelahnya, saat penanya menampilkan sisi angka 4.


Tapi ada tangan yang menggeser pena itu ke sisi angka 3 dan mengacungkan tiga jari. “Jawabannya 3,” bisik pemilik tangan itu. Ra On mendongak dan terbelalak. Si sarjana cantik itu! 

Tapi Yeong menaruh telunjuknya ke bibir, menyuruhnya diam dan mulai membaca soal. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat jawaban Ra On. “Astaga, apa kau pikir kau bisa lolos ujian jika seperti ini? Tahu tidak, kalau kau gagal sekali saja, kau akan dicekal selamanya dari istana?”

Ra On panik dan mencari pengawas. Tapi para pengawas itu sudah menghilang entah kemana. “Kau ini kasim? Bukannya kemarin kau memakai seragam pengawal yang memiliki jabatan di istana?”


“Kemarin kan gelap, kau pasti salah lihat. Ayo, tulis jawabanmu sekarang,” bisik Yeong menyemangati. “Tiga.” Dengan enggan, Ra On mencoret pilihan ketiga. Yeong berbisik kembali, “Aku datang karena teringat akan impianmu yang ingin menjadi kasim. Jadi jangan khawatir dan percayalah padaku.”


Hahaha…  Ra On hanya bisa pasrah melihat Yeong yang sekarang menjadi pengawas ujian. Setiap kali ia memilih jawaban ngasal, Yeong selalu mengkoreksinya. Saat ia akan mencoret jawaban yang salah, Yeong sudah berdiri di sisinya, memaksa tangannya untuk mencoret jawaban yang benar. Bahkan saat ia berhasil menjawab semua pertanyaan (dengan ngasal tentunya), Yeong malah mengambil lembar jawabannya dan menggantinya dnegan yang baru.


Akhirnya semua jawaban yang benar berhasil dicoret, membuat Yeong puas. Kesal, Ra On memasukkan lembar jawaban itu ke mulutnya. Tapi Yeong segera memukul tengkuknya, membuat kertas itu keluar lagi. Ra On hanya bisa mewek.


Sepertinya hanya Ra On saja yang menatap hasil ujiannya dengan sedih. Tapi kesedihannya hilang saat menyadari kalau ada ujian berikutnya. Calon kasim harus memberikan jawaban dari persoalan yang ada. Yang perlu Ra On lakukan hanyalah mengosongkan lembar jawaban. Dan ia pasti tak lolos seleksi.

Tapi ia tak bisa berpangku tangan mendengar Dong Gi yang tak bisa menjawab soal yang diberikan. Ia kehilangan selera makan, tak mau diajak bicara, tak bisa tidur. Kadang tersenyum, kadang marah, kadang menangis. Tabib istana tak tahu apa yang terjadi pada kondisi itu. Melirik tinta yang ada di meja, Ra On tersenyum lebar menenangkan temannya itu.


Di salah satu rumah gisaeng, Yoon Sung sedang melukis dengan gisaeng yang menjadi modelnya sambil bercerita tentang seorang wanita yang tak ingin kelihatan cantik. Gisaeng itu tak percaya kalau ada wanita seperti itu. Wanita manapun pasti punya keinginan untuk menjadi cantik. Tapi Yoon Sung yakin karena ia bisa mengenali badan seorang wanita walau memakai baju zirah.


Hukuman Ra On berlanjut. Entah kesalahan apa yang diperbuat Ra On hingga orang-orang diatas berniat menghukum Ra On. Mulai sekarang Ra On tinggal di Pondok Penyesalan. Dan di sinilah Ra On sekarang, hanya berbekal lampu.


Rumah itu kotor dan gelap. Terlihat sekelebat bayangan, membuat Ra On semakin gemetar. Tiba-tiba ada kepala dengan rambut terurai muncul dari atas. Ra On berteriak dan pingsan.


Padahal kepala itu milik Byeong Yeon, pengawal yang dulu ernah bertabrakan dengan Ra On.


Seseorang memanggil Byeong Yeon. Ternyata Yeong yang sedang mengunjungi Byeong Yeon. Ia kaget melihat Ra On yang terkapar pingsan. “Anak anjing?”

Lukisan yang digambar Yoon Sung sudah selesai. Dan Gisaeng itu tak sabar untuk melakukan tugasnya. Tapi Yoon Sung tak berniat melakukannya dan malah menyuruh gisaeng itu pergi. Hatinya sudah tertambat pada seseorang.


Diiringi suara dengkuran Ra On, Yeong dan Byeong Yeon bertukar kabar. Byeong Yeon mendengar kalau Ratu sedang hamil dan bertanya apa tidak masalah kalau Yeong terus datang ke rumah ini. Yeong menjawab dengan pertanyaan, “Jika aku hidup dengan tak menonjolkan diri, apa aku benar-benar bisa aman?”

Mereka terdiam karena tak terdengar suara dengkuran lagi. Ternyata Ra On sudah bangun dan sekarang sudah duduk di samping mereka. Byeong Yeon berkomentar kalau tak sepantasnya calon kasim tinggal di sini, jadi sebaiknya Ra On kembali ke kediaman para kasim.


“Kalaupun aku tinggal di sana, tak ada tempat untukku,” ia melirik sinis pada Yeong, “berkat seseorang itu.”

Yeong berdecak, “Seseorang itu yang menolongmu agar bisa lolos ujian.” Ra On nyengir sebal, tapi Yeong pura-pura tak sadar. “Kau tak perlu berterima kasih padaku.”

Ra On semakin kesal. Tapi ia masih belum bisa meredakan rasa penasarannya. Sebenarnya Yeong itu siapa? Pengawal atau kasim? Bisa muncul dimana saja. Dan Byeong Yeon ini juga siapa sih? Apa dia itu hantu yang kabarnya ada di rumah ini?


Yeong hanya terkekeh geli dan kembali minum. Ra On melihat ada kotoran di rambut Yeong dan berniat mengambilnya. Tapi sebelum tangannya menyentuh kepala Putra Mahkota, Byeong Yeon mencekal tangan Ra On. “Kau pikir kau ini siapa berani-beraninya menyentuh?”


Tapi Ra On salah sangka, apalagi melihat Yeong kemudian memegang pergelangan tangan Byeong Yeon dengan lembut, menenangkannya. Shock, ia akhirnya merebut cawan arak Yeong dan mulai minum-minum untuk bisa melupakan keabnormalan yang baru saja ia saksikan.


Ra On sudah mabuk, mulai merengek dan meracau, “Kau ini sangat bahagia setelah bertemu kekasih yang baru, tapi… huaaaa…” hahaha… dikira Byeong Yeon itu pacar baru Yeong ya? 

Yeong bertanya pada Byeong Yeon apa yang harus dilakukan pada anak anjing yang bertabiat buruk? Byeong Yeon mengusulkan latihan yang keras dan Yeong menyetujuinya.


Maka ia memanggil Ra On dengan menggerakkan telunjuknya, meminta Ra On mengikuti perintahnya. Telunjuk ke kiri, “Kiri!” Telunjuk ke kanan, “Kanan!” Telunjuk ke bawah, “Bawah!” Telunjuk ke atas, “Atas!” Semua perintah itu dilakukan Ra On dengan patuh.

Yeong puas dan memberikan perintah terakhir, “Menggonggong!” Pada Byeong Yeon ia mengatakan kalau beginilah latihan yang seharusnya.



Dalam mabuknya, Ra On terngiang ucapan Kasim Seong yang mengumumkan jika mereka gagal seleksi maka calon kasim akan diusir dari istana dengan segera. Jadi karena ia akan pergi dari istana, kenapa juga ia harus menahan diri?

Menatap kesal pada telunjuk Yeong yang mengarah padanya, ia membuka mulut … dan menggigitnya keras-keras!


Yeong berteriak kesakitan dan mencoba melepaskan diri, tapi Ra On semakin kencang menggigit jari itu.


Komentar : 

Reaksi Ra On saat meracau ketika mabuk agak-agak aneh. Kenapa dia menangis setelah punya dugaan kalau Byeong Yeon adalah sepasang kekasih? Apa karena Jung Do Ryeong asli akan kehilangan kesempatan bersanding dengan Yeong, sehingga ia akan kehilangan uang yang dijanjikan?

Saya pikir Ra On sudah memiliki sedikit perasaan pada Yeong. Tapi kayaknya belum deh, Ra On kan money oriented banget. Sepertinya ia masih bisa berharap bisa keluar dari istana dan menagih uang dari Jung Do Ryeong. Makanya kalau Yeong sudah punya kekasih baru, gagal deh semuanya.

Selanjutnya : Moonlight Drawn By Clouds Episode 2 - 2

1 comment :