August 23, 2016

Moonlight Drawn by Clouds Episode 1 - 1


Sinopsis Moonlight Drawn by the Clouds Episode 1 - 1

Terlihat kesibukan di pagi hari di kerajaan. Seorang pria –putra mahkota dari busana yang dikenakannya- duduk dan membaca buku sambil tersenyum-senyum. Buku yang berjudul Kisah Cinta Joseon yang Tidak Kita Ketahui.



Buku itu juga ada di meja Sam Nom (Kim Yoo Jung), yang sedang mendengarkan cerita orang yang ada di depannya. Pria itu (cameo Cha Tae Hyun) bercerita tentang teman dekatnya yang melakukan hal-hal aneh. Jalan sampai nabrak tembok hingga dahinya berdarah, berkelahi dengan teman hingga tangannya terluka. Tentu saja dari dahi dahi dan tangan pria itu yang berdarah,

Sam Nom langsung menebak kalau yang diceritakan itu adalah pria itu sendiri yang menyukai wanita yang tak mungkin tergapai dan teman-temannya berusaha menghentikan usahanya.



Pria itu membenarkan dan mengakui kalau gosip San Nom adalah tukang ramal itu benar adanya. Ia akhirnya mengaku kalau hidupnya tak berarti kalau tak ada wanita pujaannya itu. San Nom tersenym dan berkata, “Pria tak akan mati hanya karena mencintai wanita. Jadi, kumpulkan keberanianmu!”

Dan ternyata pria itu adalah pelayan yang jatuh cinta dengan putri majikannya. Pelayan itu menyapa si nona dengan ramah, tapi nona itu tak menjawab. Hanya ketika nona itu tersandung, pelayan itu buru-buru memegang lengan si nona hingga tak terjatuh dan bertanya apakah dia baik-baik saja. Tapi nona itu tak menjawab, dan melanjutkan langkahnya.


Sam Nom yang mengawasi dari belakang menyimpulkan kalau nona itu membentengi hatinya dengan tembok tebal dan tak akan melihat pelayan itu. Tapi dia punya solusinya. Si pelayan jangan melakukan apapun selama 10 hari. Walau berat hati, pelayan itu menyanggupi


Di hari ke-10, pelayan itu berpapasan di jalan dengan si nona. Tapi nona itu tetap tak menyapa. Si pelayan menghela nafas memandangi nona itu dari belakang. Dan ia melihat dahan besar jatuh dari atas. Buru-buru ia menubruk wanita itu dari belakang hingga terselamatkan dari kayu besar itu.

Nona itu melihat pelipis si pelayan berdarah dan bertanya apakah pelayan itu baik-baik saja? Si pelayan itu mengangguk. Bukannya berterima kasih  wanita itu hanya berkata kalau pelayan itu jangan melakukan hal ini lagi. Putus asa, si pelayan menarik wanita itu, menghentikannya, “Tidak! Di kemudian hari, aku akan terus menghadang apapun yang menimpamu. Setiap batu yang terlempar padamu, ejekan orang-orang terhadapmu, aku akan menghalangi semuanya!”


Wanita itu terpana dan menampar si pelayan. “Kemana..” suaranya tercekat dan matanya berkaca-kaca saat meneruskan, “.. kau selama 10 hari terakhir ini?”


Ganti pelayan itu yang terpana dan langsung memeluk wanitanya. Ia menatap ke atas dan mengacungkan jempolnya.


Pada Sam Nom yang ada di atas dengan kapak di tangan. Sam Nom tersenyum puas.

Sementara di kerajaan, terjadi keributan di kediaman Putra Mahkota. Raja akan datang sementara Putra Mahkota masih belum bangun.


Tapi saat Raja tiba di halaman, ia melihat kalau Putra Mahkota sudah duduk rapih sudah belajar bersama gurunya. Raja tersenyum mendengar jawaban-jawaban Putra Mahkota yang arif dan bijaksana menanggapi pertanyaan sang guru.

Kasim tersenyum lega melihat usahanya tak sia-sia. Raja percaya dan senang melihat kemajuan putranya. Walau Perdana Menteri, yang juga merangkap sebagai ayah mertua Raja, meragukannya tapi diam saja saaat Raja memuji Pangeran sudah berhasil menyenangkan hatinya.


Guru dan Putra Mahkota saling bertukar senyum karena usaha mereka berhasil. Tapi takdir berkehendak lain. Tiba-tiba ada angin yang menerbangkan kertas yang ada di hadapan mereka dan berhasil ditangkap oleh anak buah perdana mentri.

Mereka terbelalak membaca isi kertas itu. Guru dan Kasim berusaha memberi kode pada Putra Mahkota untuk berhenti tapi Putra mahkota tak menyadari dan terus berkata, “Guru bertanya tentang etiket memakai baju? Jangan merendahkanku dengan menanyakan hal yang sesimple ini. Hahaha..”

Kedua pejabat itu melongo membaca naskah skenario yang ada di tangan mereka dan sama persis dengan ucapan Putra Mahkota. Bahkan di situ tertulis untuk tertawa tiga kali. Ha. Ha. Ha.


Kasim menutup wajahnya pasrah sementara Raja meminta kertas itu. Raja tampak marah membaca isinya. Putra Mahkota akhirnya sadar dan berdiri untuk minta maaf. Begitu juga dengan sang Guru.


Tapi saat ia berdiri, ternyata bajunya belum terkancing rapi hingga melorot, membuat Raja semakin marah dan pergi meninggalkan tempat. Perdana Menteri hanya tersenyum menatap Putra Mahkota dengan pandangan melecehkan.


Ketika rombongan pergi, Putra Mahkota duduk kembali dan menyalahkan gurunya yang hanya berpura-pura mengajar. Si guru langsung bersujud minta maaf tapi Putra Mahkota tiba-tiba nyengir dan berkata, “Aku tadi hanya bergurau. Kau tidak salah. Yang salah itu angin yang muncul tiba-tiba.”

Putra Mahkota melipat kertas contekan itu hingga menjadi pesawat dan menerbangkannya. Sang Guru terpana melihat lipatan kertas yang membumbung tinggi dan bertanya apa itu. Pangeran menatap kertas yang ada di udara dan dan menjawab, “Kertas yang terbang ke langit. Kita sebut saja kertas terbang.”


Kertas terbang itu mengudara hingga keluar istana, menuju pasar yang dilewati oleh Sam Nom yang disebut-sebut akan sukses, menjadi orang besar dan mau melakukan apapun demi uang. Sam Nom mendengar hal itu dan mengacungkan jempolnya.

Tapi Sam Nom punya masalah sendiri. Ia harus melarikan diri jika ada tukang tagih lewat, karena ia memiliki hutang pada mereka. Untung bisa berhasil. 


Tak sengaja ia membaca kertas lowongan pekerjaan yang tertempel di tembok. Lowongan kerja menjadi kasim dengan bayaran 10 nyang. Dengan uang segitu ia bisa langsung melunasi hutangnya. Tapi teringat kalau kasim harus dikebiri, ia hanya bisa bergidik ngeri.


Di rumah Sam Nom membuat obat dan membangunkan ayahnya. Obat itu ditolak mentah-mentah begitu juga dengan panggilan ayah. Sam Nom bukanlah anaknya, bahkan berkerabat pun tidak. Lagipula sampai kapan Sam Nom akan terus menyamar sebagai pria? Sam Nom tak menjawab dan terus membujuk ayahnya untuk minum obat agar segera baikan.

Terdengar suara tamu yang memanggil dari luar membuat Sam Nom beranjak pergi. Tapi ayahnya memanggilnya, “Ra On..” Sam Nom melotot mendengar nama itu dan meminta ayahnya untuk tak menyebut nama itu lagi. Namanya adalah Sam Nom, Hong Sam Nom. Ayah tak mempedulikan keberatan Sam Nom dan berkata, “Kalau suatu hari kau tak kembali, aku akan merasa bahagia. Kau tahu kan maksudku?” Sam Nom menjawab, “Aku yang tak merasa bahagia.”


Tamu Sam Nom kali ini adalah Jung Do Ryung, pria yang sedang tergila-gila dengan seorang wanita yang bertukar sapa melalui surat. Masalahnya Jung Do Ryung tak bisa menulis dan meminta Sam Nom untuk menuliskan surat. Kali ini pun begitu, Sam Nom membalas surat gadis itu yang mengkhawatirkan kesehatan Do Ryung.

Tapi Sam Nom mengingatkan kalau sebentar lagi grup teaternya akan manggung di kota lain, jadi Do Ryung harus cari cara untuk berkomunikasi dengan gadis itu. Do Ryung bertanya apa Sam Nom ada ide dan Sam Nom menjawab, “Apa kau tak ingin bertemu dengannya?”

Do Ryung kaget dengan usulan itu. Seketika itu juga ia gugup dan dadanya berdegup kencang. Sam Nom heran dengan reaksi Do Ryung. Apa sebenarnya Do Ryung itu tak niat? Do Ryung menjawab ragu. Ia mau sih..

Matamu seindah mutiara hitam.. Hidungmu mancung laksana bulan sabit.. Bibirmu semerah bulan delima..


Pangeran membaca surat itu dan mengernyit tak suka. Ia menatap gadis yang sedang ada di taman, tak sadar kalau ia sedang diperhatikan. Putri Myung Eun yang chubby dan sudah pasti masih polos. Pangeran bertanya pada dayang, siapa orang yang berani menggoda adiknya dengan gombalan menjijikan ini? Dayang-dayang itu segera berlutut, tak tahu karena surat itu diletakkan di tempat dan waktu yang dijanjikan.

Penulis surat itu juga minta untuk bertemu pada hari terakhir musim semi di bawah pohon di gunung Mongmyeok. Pangeran bertanya pada dayang, apakah pertemuan itu bisa terlaksana? Ketakutan, dayang menjawab tidak.

Jawaban itu memuaskan Pageran. Lantas jawaban apa yang akan diberikan jika Putri berkata? Dayang berjanji akan melarang Putri pergi. Pangeran menggelang, Putri pasti tak mau dilarang. Dayang menjawab kalau ia akan menjawab Pangeran yang berkeberatan. Juga salah, karena nanti Putri akan marah padanya. Dayang akhirnya menjawab kalau ia akan berkata kalau ia tak menemukan surat jawaban dari pria itu. Pangeran mengangguk dan menyuruh dayang itu pergi.


Di ruang makan kasim, terdengar curhatan beberapa kasim yang tak kunjung menerima upah mereka selama 3 hari. Belum selesai pembicaraan itu, terjadi kehebohan kalau Pangeran menghilang. Hanya tersisa baju kebesarannya.


Dan sekarang kita melihat Pangeran berjalan dengan baju biasa, menyusuri pasar dan berhenti sejenak melihat aksi teatrikal para seniman topeng. Salah satu dari mereka dipanggil dengan sebutan Paduka, tapi Paduka itu selalu menjawab, “tanyakan saja pada ayah mertuaku.” Begitu terus membuat penonton tertawa.


Seorang bertopeng muncul dan menubruk Raja. Ia memperkenalkan diri sebagai orang yang suka berjalan seenaknya dan tinggal di istana. Ia juga tinggal di Dongungjeon. Raja kaget karena ia pun tinggal di situ dan membuka topengnya. Orang di depannya juga kaget. Ia langsung membuka topengnya, “Ayah?!”


Penonton tertawa melihat Sam Nom panik. Sang Raja juga kaget, “Putra Mahkota?!! Kenapa kau ini? Bukannya belajar seperti yang kuperintahkan, kau malah main-main!” Namun ekspresi marah raja langsung berubah, “Aku juga mau main.”


Penonton tertawa melihat aksi lucu itu. Tapi Pangeran tak merasa lucu. Spontan ia menghardik, “Kalian!! Beraninya kalian menghina Raja..,” suasana hening dan semua mata memandang ke arahnya. Pangeran baru sadar kalau ia keceplosan. “.. dan Putra Mahkota..”

Lirik kiri dan kanan, ia akhirnya mengungkapkan kekesalannya dengan lebih pelan, “Kalian ini menyebut diri sebagai seniman janggu, tapi kalian hanya tahu cara bahasanya saja. Lebih baik kalian menyambung tali yang putus itu.”


Sam Nom bengong mendengar ucapan yang tak ia mengerti itu. Tiba-tiba tali kendangnya putus seperti ucapan pria itu, membuatnya kaget. Begitu pula dengan pelayan Do Ryung yang tiba-tiba ada di sampingnya.


Ternyata Do Ryung sudah menunggu Sam Nom di rumah. Ternyata Do Ryung akan bertemu dengan gadis pujaannya, tapi sekarang ia gugup. Dan kalau gugup, Do Ryung akan gagap seperti sekarang ini. Oleh karena itu ia minta Sam Nom untuk memakai bajunya dan menggantikannya bertemu dengan gadis itu di Gunung Mongbyeok. “Aku.. aku .. tt-ttak mmung—kkin bberttemu dde.ddd.ee….ddeenn…”

“Tuan Muda tak mungkin bisa bertemu karena yang di sana terlalu berbeda jauh,” potong pelayan itu menggantikan Do Ryung menjawab. “Karena itu kau harus bertanggung jawab.”

Sam Nom tak mau bertanggung jawab karena ia hanya menuliskan surat dan ia tak bisa berpura-pura sebagai kaum bangsawan karena ia bisa dibunuh kalau ketahuan. Tapi tentu saja itu hanya alasan saja karena begitu Do Ryung mengeluarkan segepok koin.. tidak dua gepok koin nyang, ia langsung menyetujui. 

 

Maka pergilah Sam Nom ke pondok di atas gunung Mongbyeok. Melihat ruangan yang tertutup tirai,ia pun mulai mengeluarkan gombalannya.

“Karena sekarang ku berada di dekatmu setelah sekian lama di kejauhan, aku tak sanggup menyembunyikan kegugupanku. Menyatakan perasaanku padamua hanya melalui kata, tak sebanding dengan kerinduanku padamu.”


“Ku hanya bisa melihatmu melalui mataku…”

Mendengar alunan merdu suara yang menjawabnya, Sam Nom tak kuasa memuji suara pria itu.


Deg.. ia tersentak. Suara pria? Sam Nom berbalik dan melihat sosok pria di balik tirai dan langsung panik. Dimana wanita yang secantik bunga mawar? Kenapa malah ada pria yang ada di sana?!


Sam Nom teringat ucapan Do Ryung yang mengatakan kalau ia dan pujaannya itu tak mungkin bisa bersatu. Ternyata yang dimaksud dengan perbedaan jauh itu ini?!! Sam Nom langsung kabur, membuat Pangeran tersenyum menang.
Tapi Sam Nom menghentikan larinya saat terngiang-ngiang kerincing koin nyang dan ucapan Do Ryung yang mengatakan uang itu akan jadi miliknya kalau misinya berhasil. Menghela nafas kesal, Sam Nom pun berbalik dan membuka tirai.


Nampak Pangeran mengeluarkan surat dan berkata lembut, “Kata-katamu itu sangat menyentuh, membuatku tak tahan hingga berkaca-kaca..” Pangeran menggunakan surat itu untuk menyapu air mata imajinernya.  

Sam Nom menarik nafas panjang dan menjawab tak kalah lembut, “Kalau memang berkaca-kaca, tak apa jika kau ingin menangis.” Pangeran melongo, tak menyangka gertakannya tak berhasil, apalagi Sam Nom malah menggenggam tangannya dan menenangkan, “Menderita karena jatuh cinta yang tabu. Tidak apa-apa. Aku sangat memahami.”


Pangeran buru-buru menarik tangannya dan bertanya apa maksud pertemuan ini. Sam Nom maju mendekat, membuat Pangeran mundur selangkah. Tapi Sam Nom malah maju lagi, menyudutkan Pangeran dan menjawab puitis, “Yang kuinginkan adalan menyampaikan perasaan cintaku yang mendalam padamu.”

Pangeran menatap Sam Nom heran, tapi tatapan itu disalahartikan Sam Nom sebagai tatapan kerinduan pria itu pada Do Ryung. Ia tersenyum dan merebut kipas pujaan Do Ryung dan mengajak pria itu untuk melupakan semua kekhawatiran dan menikmati hari ini.

Pangeran bengong tak percaya melihat Sam Nom yang berjalan menjauhinya dan hanya bisa mendecih kesal.


Dan di sinilah ia sekarang. Di restoran Gukbap yang menurut pujaan adiknya itu sebagai restoran Gukbap paling enak karena pemilik restoran ini dulu pernah bekerja menjadi dayang di dapur istana. Pangeran menoleh pada nenek tua yang memarahi pelanggan di samping yang menghabiskan kimchinya. Bukannya marah, para pelanggan termasuk Sam Nom malah tertawa mendengarnya. Bagaimana mungkin Sam Nom malah tertawa mendengarnya?


Masih penuh tawa, Sam Nom menjelaskan kalau sumpah serapah itu mengingatkan mereka pada nenek mereka sendiri. Kalimat Sam Nom itu semakin tak masuk akal karena neneknya tak pernah bersumpah serapah seperti itu.

Masa sih? Apa kau tak pernah dimarahi oleh kakekmu karena salah mengeja huruf?” tawa Sam Nom hilang.

“Tidak juga. Kenapa juga aku membuat kesalahan untuk masalah yang sepele,” jawab Pangeran dengan dagu terangkat.

“Apa kau tak pernah dipukul karena ngompol di tempat tidur?” tanya Sam Nom penasaran.

“Aku tak pernah dipukul,” Pangeran membuka serbet dengan anggun, “Kalaupun aku ngompol, tak ada yang berani memukulku.”


Sam Nom hanya bisa menelan kekesalannya, “Oh.. pasti kau lahir dengan sendok perak di mulutmu, ya.”

“Sendok perak?”

“Maksudnya kau lahir di keluarga kaya dan hidup mewah.”

“Sendok perak? Aku bukan tipe orang seperti itu,”jawab Pangeran tersinggung. Tapi Sam Nom tak percaya. Walau pria itu harusnya kuat, tapi sebenarnya tak masalah kalau ada pria yang lemah seperti bunga. Pangeran membanting sendoknya. “Aku tidak seperti itu!”

“Iya.. iyaa…,” potong Sam Nom dan dengan nada mencemooh ia menjawab, “Kau tidak seperti itu.”

Pangeran kesal digoda terus dan hendak membalas jika nenek pemilik restoran tak mendekat dan mengomeli mereka berdua. Pangeran melirik nenek, membuat nenek tersinggung karena tatapan itu sangat merendahkannya, “Kenapa kau menatapku seperti itu?”


Nenek memandang wajah Pangeran, hendak memarahinya lagi tapi berhenti karena merasa wajah di hadapannya itu terasa familiar. Pangeran menatap nenek dengan tajam, membuat Nenek tiba-tiba tersadar dan menampar pipinya sendiri berkali-kali, dan tergagap-gagap minta maaf.


Pangeran memberi isyarat agar Nenek itu menyingkir dari hadapannya. Nenek itu langsung terbirit-birit lari membuat Sam Nom heran. Tapi ia mengabaikan keanehan itu dan malah meletakkan kimchi di atas sendok Pangeran, karena kimchi itu paling enak kalau dimakan dengan gukbap.

Tentu saja hal itu membuat Pangeran jijik dan kesal. Ia beranjak pergi dan menyuruh Sam Nom mengikutinya. Ketika hanya berdua saja, ia memojokkan Sam Nom ke pohon, membuat Sam Nom tersipu-sipu karena mereka tak pantas melakukannya di sini.


Tapi bukan itu maksud Pangeran karena ia mengarahkan belatinya ke leher Sam Nom, “Tujuanku ke sini sebenarnya ingin melihat orang seperti apa kau ini. Kuberharap kau adalah orang yang lembut dan baik, tapi ternyata kau bahkan tak menyadari siapa yang menulis surat itu. Jadi bagaimana cara agar aku bisa menyingkirkanmu?”


Sam Nom panik melihat belati itu, tapi ia tak menyerah. Ia tidak pura-pura karena ia adalah yangban (bangsawan) dan semua ucapan dalam suratnya itu memang tulus. Pangeran tetap tak percaya dan menggiring Sam Nom untuk menunjukkan di mana rumahnya.


Di rumah keluarga pelayan dan putri majikan, terjadi kehebohan. Tiga poster disebar. Gambar pelayan, si putri dan Sam Nom. “Cepat temukan pelayan itu dan menantuku!”

Eih…? Ternyata bukan putri majikannya? Menantu majikannya? O ohh..


Mereka ternyata sekarang ada di atas kapal yang baru saja menurunkan penumpang. Salah satu penumpang yang turun adalah seorang pria modis yang juga memperhatikan sepasang kekasih yang berbeda kasta. Tapi ia tersenyum karena melihat keduanya bahagia.

Senyumnya hilang ketika melihat ada beberapa pengawal yang ia kenal dan ingin ia hindari. Ia mendapat ide dan membuka payungnya. Ia mengejar gadis di depannya dan merangkul bahu gadis itu.


Tentu saja gadis itu kaget. “Apa yang kau lakukan? Tak sopan sekali”

“Yang tak sopan itu matahari, yang sangat terik hingga membuatku khawatir bisa merusak wajah cantik.” Eaaa… tentu saja gadis itu tersipu-sipu dan mau diajak jalan bersama hingga pria itu berhasil melewati pengawal yang ada di pinggir sungai.

“Siapakah Anda yang sangat mengkhawatirkan diriku?” tanya gadis itu masih tersipu-sipu.


Langkah pria itu terhenti dan menjawab, “Kamu? Ah.. maksudmu wajah cantik tadi? Yang kumaksud adalah wajah cantikku.” Dan pria itu melangkah pergi meninggalkan si gadis.

Pangeran terus memaksa Sam Nom untuk menunjukkan rumahnya. Som Nam membawanya ke pepohonan.


Ia teringat dulu tempat ini adalah tempat ia disiksa oleh tukang tagih. Badannya diikat terbalik di atas pohon dengan lubang menganga di bawahnya. Lubang itu sekarang masih ada dengan ditutupi rumput-rumput kering. “Aku mau pipis dulu. Kau berdiri saja di situ,” tukas Sam Nom. Pangeran menuruti walau enggan.

Begitu Pangeran sedikit menjauhinya dan mendekati lubang itu, ia menendang Pangeran hingga terjatuh. Pangeran berteriak kaget dan menyambar kaki Sam Nom yang masih ada dalam jangkauannya, hingga keduanya berteriak, terjerumus ke dalam lobang.


Komentar :

Ga banyak komentar untuk awal drama ini. Dramanya ringan, dan seneng banget liat chemistry lead couplenya. Dua-duanya sama-sama banyak akal. Dan gombalannya si Sam Nom itu... haduhh... saya aja sampai geli nulisnya, apalagi si pangeran ya?

Musik drama ini mengingatkan saya pada beberapa drama korea. Pertama Tamra-nya Seo Woo dan Im Joo Hwan. Pas di alat musik geseknya itu. Terus ada yang kayak Princess Hour. Tapi yang kayaknya persis banget itu yang Descendant of the Sun. Coba deh, ditonton.. benar ga sih?

3 comments :

  1. Bener mba ada OST instrumentalnya DOTS wkwk. Tapi jujur nih yaaa, instrumental2 drama ini bikin aku goosebumps, berasa jadi indaahhh banget wkwk ditambah latarnya yang super aduhai. Pokoknya kerennnn..
    Btw yang OST non inst juga bagus2 kayaknya menjanjikan nih dari segi soundtracknya, ihh pokoknya dari segi apapun daebak lahhh

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. kupkir aku yang salah denger.. ternyata emang iya ya..
      tapi kayaknya yang cuman episode 1 aja ya.. soalnya begitu episode 2 lagunya udah beda.

      Delete
  2. Iyaa mba soalnya emg yg nge produser musik MDBC ini sama orgnya kyk yg di DOTS jaddii ada yang sama gituu.. btw OST yg Soyou bagus bangett sukakk dengarnyaaa. Jjang deh drama ini bikin ngakak

    ReplyDelete