August 27, 2016

Just An Ordinary Love Episode 2 - 1


Just An Ordinary Love Episode 2 - 1



Jae Gwang: Aku selalu penasaran sejak saat itu. Apakah kau hidup atau mati...

Yun Hye: Aneh...mungkin ayahku akan mengatakan kebenarannya.

 

Jae Gwang: Aku merasa lega.

Yun Hye hanya menatap Jae Gwang tak mengerti maksudnya.

***



Jae Gwang berbalik menghadap Yun Hye. Mantap menanyakan keberadaan ayah Yun Hye, Kim Ju Pyeong yang buron. Usai menjawab tak tahu, Yun Hye melangkah pergi. Tapi sayangnya Jae Gwang seperti tidak percaya. Benarkah Yun Hye tidak tahu?


Yun Hye berhenti, “Aku tidak berbohong.”


Demikianlah mereka berdua berpisah hari itu. Jae Gwang hanya bisa menatap punggung Yun Hye yang menghilang dalam gelapnya malam, bermandikan hujan.

 




Sesampainya di rumah Yun Hye memaksakan untuk makan meski rasanya enggan. Sedangkan Jae Gwang, ia terlihat tak puas. Merebahkan tubuhnya setelah mendapat telepon dari Nyonya Shin. Malas juga mengangkatnya. Mungkin ada kaitannya dengan Yun Hye? 


Karena sebelumnya, ia sempat menatap foto Yun Hye lagi.



Hari berganti. Jae Gwang menerima tamu di kamar hotelnya. Seorang wanita.

 

Namun bukannya menyambut wanita cantik ini, Jae Gwang justru kembali ke posisi tidurnya di lantai kamar hotel. Memunggungi si wanita yang merajuk, memeluknya dari belakang. “Apakah aku harus bercerai?”

Eh. Jae Gwang menanggapi santai menyuruh si wanita melakukan apa saja yang dia mau. Waktu Jae Gwang diminta mengabarinya pun, Jae Gwang merasa tak perlu. Untuk apa katanya. Maka siapalah yang tak kesal dibuatnya. Sudah lama wanita ini mendapat perlakuan yang sama dari Jae Gwang. Terserah...terserah...Nggak peduli rasanya. Si wanita akhirnya meninggalkan Jae Gwang sendiri.


“Aku rasa aku tahu bakatmu...membuat orang memunggungimu.”



Di rumah Yun Hye, Nenek tengah menyiapkan makanan untuk dibawa saat peringatan hari kematian ibu Yun Hye. Nenek merasa perlu menyiapkannya dengan baik meski acaranya baru besok. Setahun sekali soalnya. Yun Hye berkata akan pulang cepat kalau begitu.



Jae Gwang melihat lagi pria berjaket biru yang kemarin ada di Gunung Meonjisan. Pria tersebut sepertinya baru selesai memperbaiki mobil di bengkel Dae Eung. Ketika ia melihat Jae Gwang, pria ini langsung masuk mobil untuk pergi. Ia memiliki buket bunga yang sama dengan yang kemarin terlihat di TKP.  

Sesuai rencana, hari ini Jae Gwang akan kembali ke Seoul. Mobilnya sudah siap, tuntas diperbaiki  Dae Eung. Tapi sebelum pergi, Jae Gwang menanyakan Yun Hye. Dia baik baik saja?

Dae Eung jadi heran. Kenapa peduli?


Jae Gwang pun tak tahu. Ia bahkan melirik ke arah pusat informasi wisata yang dilewatinya.


Haha dan di sinilah Ja Gwang berada kini. Tempat Yun Hye bekerja.





Sebelumnya ketika berhenti di lampu merah, ia meraih telepon di kantongnya. Uang Yun Hye terikut ia raih. Ah, ia belum memberikan Yun Hye kembalian waktu itu. Jae Gwang memutuskan mengangkat telepon Nyonya Shin kemudian dan mengatakan baru akan kembali besok.



 


Bos mengusir Yun Hye pergi. Wali kota akan ke sini jadi mana bisa ia melihatnya ada di sini. Rekan Yun Hye membela. Yun Hye pekerja tetap lho. Jangan berbicara seperti begitu...


Dan saat itulah Jae Gwang datang. Beralasan hendak pamit. Namun setelah pamit, ia malah mengikuti Yun Hye yang pulang ke rumah.


Yun Hye tidak ingin orang melihatnya di titik terendah. Ia membawa Jae Gwang ke rumahnya untuk mencari sendiri ayahnya. Walau Jae Gwang bersikeras tidak perlu, Yun Hye tetap menyuruhnya masuk. Ambil foto rumahnya kalau perlu sebelum Nenek datang. Ia kesal sekali pada pria yang Jae Gwang kirim sebelumnya. 



Jae Gwang meluruskan bukan ia yang mengirimnya melainkan Nyonya Shin. Maksudnya, ibunya.



Yun Hye marah. Sambil mencoba membuka botol minuman yang ia ambil dari kulkas, ia mengungkap uneg-unengnya. “Sampai kapan keluargamu melakukan ini padaku?” Harusnya Jae Gwang cukup datang melihat dan pergi. Kenapa malah berpura-pura...

Jae Gwang berusaha memotong perkataan Yun Hye, menawarkan bantuan untuk membuka botol minumnya. Tapi akhirnya ia menyerah. “Tidak bisakah kau lihat? Aku ke sini untuk minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu, tetapi aku terlihat menipumu.”

Ha. Maaf? Untuk apa meminta maaf? Yun Hye bilang ia tidak pantas menerima maaf dari Jae Gwang.


Mendengar ini Jae Gwang menatap tajam Yun Hye. Menegaskan apa karena ayah Yun Hye membunuh kakaknya? Ia mengambil botol itu dan berkeras membukanya.

“Ayahku tidak membunuh. Kau salah. Ia bilang itu bukan salahnya,” sergah Yun Hye menaikkan nada bicaranya.


Jae Gwang gemas. Terserah. Aku tidak peduli siapa pembunuhnya. Aku hanya ingin dia ditemukan dan ditangkap.

Mereka berebut botol yang tidak bisa dibuka Jae Gwang. Hingga botol itu malah jatuh dan menumpahkan isinya. Yun Hye mendesah, “(Lalu) Mengapa kau mengikutiku terus?”


Barulah Jae Gwang memberikan kembaliannya. Bertepatan dengan kedatangan Nenek yang melihat tumpahan minuman membasahi celana dan kaos kaki Jae Gwang.



Nenek langsung menawarkan celana ganti. Punya siapa lagi kalau bukan punya Ayah Yun Hye. Nggak salah kalau Yun Hye juga segera mengambil kembali celana itu. Pertanda Jae Gwang harus segera angkat kaki. Tapi bukan perkara mudah menolak ajakan Nenek untuk makan dan tinggal sebentar. Ia akan tampak tidak sopan. 


Namun bukan Yun Hye namanya kalau tidak to the point. Ia mengatakan Jae Gwang tidak bisa makan makanan Nenek.  




 


Jae Gwang tidak enak. Bukan maksud menolak. Ia sudah makan tadi dan dia harus pergi. Jae Gwang pun keluar.

 


“Apa kau gila? Apa bagusnya mengatakan itu pada Nenek?”

“Lebih baik daripada menerimamu tanpa tahu apa-apa.”

Mereka terus berseteru. Jae Gwang bilang tidak masalah? Lalu mengapa dia tidak mau mengenakan celana ayahnya barang sebentar? Atau mengapa dia tidak meminum kopi buatan Nenek tempo itu? Jae Gwang memperlihatkannya dengan jelas meski tidak mengakuinya.


Jae Gwang tak mau kalah. Yun Hye berkata ayahnya tidak melakukannya jadi mengapa dipermasalahkan? Apa benar dia percaya? Bahkan kepolisian tidak melakukan investigasi karena semua bukti mengarah pada ayahnya. Jika benar Yun Hye sangat percaya, mengapa dia tidak bisa tidur dengannya? Toh Jae Gwang suka padanya.

 

Yun Hye menyerah. Masuk ke rumah menahan tangis.



 


Kejutan lain menanti Jae Gwang. Di mobilnya ada sebuah kotak berisikan stik drum bertuliskan namanya dan selembar pesan singkat, “Kau harus melakukan apa yang kau mau. Februari, 2005. Kakakmu.”





Terbersit ingatannya akan kakaknya (Kwon Yul) yang sempat memandangi stik drumnya yang patah. Ia lantas melajukan mobilnya ke bengkel Dae Eung untuk menanyakan siapa yang menaruhnya di mobil.



Dae Eung sih tidak menjawab. Dia lagi memikirkan Yun Hye yang pulang lebih awal (takut dipecat hehe). Justru pegawai Dae Eung yang memberikan jawaban. Ada seorang pria yang menyuruhnya melakukan itu. Pria berjaket biru yang pergi tanpa ganti oli tadi. Pegawai lupa tidak menulis namanya, tapi ada catatan plat nomornya. Jae Gwang tak ragu melapor. Ingin tahu pemilik plat nomor dengan berkilah bahwa mobil itu menabraknya dan lari. 


Jae Gwang bahkan sengaja membuat goresan di mobilnya yang baru selesai diperbaiki karena polisi ingin melihat buktinya haha.


Ngomong-ngomong tentang Minivan putih 3062. Paling tidak baru besok pagi terlacak, ketika pemilik mobil dihubungi dan datang ke kantor polisi. 


Hmmm, pas nih Nyonya Shin (Kim Mi Kyung) datang mengunjungi Jae Gwang. Mau tahu perkembangan kasuskah?





Dae Eung datang ke rumah Yun Hye. Ia sengaja menunggu Yun Hye di luar seperti biasa. Menenteng bubur abalon. Yun Hye yang melihatnya tersentuh. Apakah Dae Eung menyukainya? Jika iya, apa yang ingin dilakukannya? Bisakah ia berkencan dengannya seperti orang lain, tanpa mendengar apa kata orang?


 


Dae Eung ragu mengiyakan. Yun Hye mengaku memang sulit melakukannya. Maka Dae Eung harus sebaiknya menyerah saja. Ia tidak akan berkencan. Namun di luar dugaan, Dae Eung nggak pantang menyerah. Membusungkan dada ia berkata tidak. Yun Hye tetap akan ada di hatinya. Cieeee... begitulah ia pergi. Meninggalkan kesan baik nih.^^


Nyonya Shin dengan bantuan kruknya pergi ke rumah Yun Hye. Ia tahu ada sesuatu. Ia kenal Jae Gwang. Jae Gwang yang dipaksanya datang kemari malah tidak kembali setelah ke sini. Meski Jae Gwang memberitakan bahwa Ju Pyeong tidak di sini, Nyonya Shin tidak mau mendengarkan.

 


“Hentikan. Kehidupan mereka sudah seperti di neraka,” ujar Jae Gwang berusaha mengalihkan ibunya dari sana.

“Lebih buruk dariku?” Nyonya Shin membalas kesal.

 




Tak lama kemudian, mereka kembali pulang. Dan di jalan mereka sudah hampir berpapasan dengan Yun Hye bersama Nenek jika Jae Gwang tidak minum di sebuah toko dekat sana. Jae Gwang memang menghindar di waktu yang tepat. Sama dengan Yun Hye yang melihatnya dan memilih tak menatap ke arahnya.




Sesampainya di kamar hotel yang menurut Nyonya Shin berantakan, Nyonya Shin terus saja mengeluh lelah, sakit, pegal pegal pokoknya. Sambil membersihkan kamarnya, Jae Gwang nyeletuk lalu kenapa ibunya tidak tinggal di rumah dengan nyaman. Ia hendak pergi. 



 


Nyonya Shin jadi makin curiga. Sang putra mengaku cukup sempit di sini bersama ibunya. Tapi ia tidak lantas menelannya. "Kau seperti menghindariku. Kau pergi ke Australia sepeninggal kakakmu. Kau tidak pulang ke rumah. Kau hanya pergi ke luar negeri untuk memotret. Bahkan jika kau ke Korea, kau tidak pernah pulang. Kau selalu melakukan apa yang kau inginkan. Kakakmu tidak akan pernah melakukan ini. Dia pasti akan lebih baik kepadaku. Dia harusnya sudah menjadi hakim yang sukses sekarang. Dia tidak akan menghiraukanku."

Usai mendengar Nyonya Shin menamatkan keluh kesahnya. Jae Gwang lalu menjelaskan. Ia bukannya menghindari sang ibu. Ia hanya ingin ibunya nyaman, sehingga ia memilih bepergian. 



Nyonya Shin mengelak. Ia bisa kok beristirahat dengan nyaman dengannya. Tapi Jae Gwang tahu jawaban ibu tidak benar. Lihatlah bagaimana ibu selalu mengungkit anak terbaiknya yang meninggal. "Mengapa aku harus kehilangan anakku yang baik?"


  


Jae Gwang pergi. Langit sorelah yang menemaninya mengenang ibunya dulu. Nyonya Shin yang melempar stik drumnya hingga patah. Membuang semua buku-bukunya. Kakaknya yang masuk menatap prihatin. Sekarang ia di sini memegang stik drum dari kakaknya itu. 

 

Eh, Jae Gwang merasa perlu memberitahu Yun Hye tentang keberadaan ibunya. Ia memutuskan menelepon Yun Hye. Mereka lalu bertemu. 


"Aku akan langsung pada intinya. Mengapa kau kemari? Ini sudah 3 tahun sejak pria itu berhenti datang," Yun Hye menolak diajak basa-basi Jae Gwang yang menanyakan kabar neneknya. 


Jae Gwang berujar Nyonya Shin kehabisan uang kala itu. Mendengarnya Yun Hye jadi ingin tahu. Apakah Jae Gwang mendengar sesuatu tentang ayahnya yang menyebabkan dirinya kemari sendiri?

Yang ditanya membenarkan. Ada peramal yang memberitakan bahwa Yun Hye tinggal bersama ayahnya. Alasan resmi ia ke tempat ini karena Nyonya Shin tak berhenti mengomel. Alasan tak resminya rahasia. Hhhh sayang sekali dia ke sini dan tidak menemukan apapun. Bagaimana Nyonya Shin bisa percaya?


"Kau akan percaya jika sudah menyerah," kata Yun Hye menanggapi. Ia menanyakan kapan Nyonya Shin pulang. Ia tidak akan bertemu Jae Gwang lagi bukan? Sebab Jae Gwang mengutarakan akan membawa ibunya kembali. 

 

"Selamat tinggal."

Yun Hye pergi sendirian. Menolak tawaran Jae Gwang mengantarnya pulang. 

Bersambung ke Just An Ordinary Love Episode 2 - 2

Komentar:



Beneran pisah nih? Nggak deh. Kan masih ada dua episode lagi. Toh belum ketemu juga ayah Yun Hye. Dan sampai sekarang Yun Hye masih berhubungan dengan si Ayah, meski tidak intens tapi namanya Ayah masih ingin kontak sama putrinya. Saya kira, pria berjaket biru itu kuncinya. Apakah memang bukan Ayah Yun Hye pembunuhnya? Entah. Yang bisa saya pastikan drama ini akan mengungkapnya kok. Mulai episode ini mereka akan menggali kembali kasus tersebut. Btw ada yang nungguin romancenyakah? Haha, untuk saat ini saya suka mereka yang suka debat :P

OOT. Yoo Da In ini kok ngingetin sama Seo Hyun Jin ya? Ekspresi diemnya itu...dan side profilenya...sama-sama charming buat saya >.<

No comments :

Post a Comment