August 25, 2016

Just An Ordinary Love Episode 1 - 2


Just An Ordinary Love Episode 1 – 2


Menengok ke arah samping, fotografer tertarik dengan potongan papan yang menutupi sesuatu. Yun Hye memergokinya dengan curiga. Tapi fotografer tetap tak sungkan bertanya, apakah itu jendela? Kenapa ditutup?

Nenek yang datang melihat Yun Hye tak menjawab, menggantikannya. Ia bercerita itu perbuatan ayah Yun Hye yang karena bekerja di malam hari dan tidur di siang hari, tidak mau terganggu oleh sinar matahari. Nenek tidak bisa melepasnya, jadi dibiarkan.

Fotografer heran, memang putranya ke mana?

“Dia pergi jauh mencari uang.”


Ah...tahu keadaannya begini, fotografer menawarkan diri untuk membenahi jendelanya. Ia dibantu Yun Hye mengambilkan alat yang tak bisa ia jangkau. Dan kedua tangan mereka tak sengaja bersentuhan.. Yun Hye langsung menarik tangannya, ia sembunyikan di balik punggung. Keduanya canggung, namun fotografer tampak lebih biasa menanggapinya. Ia seolah tahu pikiran Yun Hye, segera melanjutkan pekerjaannya.


Nenek suka ada pria di rumah. Di rumah ini ia hanya tinggal bersama Yun Hye. Ibu Yun Hye sudah meninggal dan puteranya tidak kembali. Ayah Yun Hye mengerjakan pekerjaan interior jadi tidak pernah pulang. Ia berbakat dan baik hati, makanya nggak bisa ninggalin pekerjaannya dan pulang ke rumah.

Yun Hye yang mendengarnya terlihat tak nyaman. Duh, saya suka detail ekpresinya haha.


Papan (triplek) bisa dilepas dan jendela dapat difungsikan kembali. Fotografer kemudian mencuci tangannya di kamar mandi. Lagi-lagi dengan tingkah aneh. Melihat dua sikat gigi yang tergantung dan dan isi mesin cuci. Oh please! Ia juga mengikuti Yun Hye ke kamarnya dan melihat foto Yun Hye kecil bersama kedua orang tua tercinta.


Tahu fotografer memperhatikan fotonya, Yun Hye segera membaliknya.


“Berapa umurmu (waktu itu)?”

Yun Hye menjawab tak ingat. Fotografer ingin tahu mungkin karena melihat Yun Hye yang masih bahagia tak seperti sekarang. Iya, sebelum sebuah kejadian merenggut senyumnya. 


Malam makin larut tak mengizinkan fotografer lebih lama di sana. Nenek berterimakasih atas bantuan fotografer. Ia meminta maaf pula hanya bisa memberi kopi. Jadi ia minta fotografer untuk datang lagi. Ia akan memasakkan makanan lain kali. Nenek tak lupa menyuruh Yun Hye mengantarnya ke pojokan.

Sepeninggal Nenek yang masuk ke rumah duluan, kini Yun Hye yang mengutarakan ungkapan terima kasihnya. Tapi dibales apa sama fotografer?


“Kau akan lebih berterimakasih besok. Jangan lupa besok kita akan makan siang.”



Fotografer berbalik, berjalan menuju mobilnya. Yun Hye memandanginya heran. Ia tak lihat fotografer tersenyum. Senyum yang hilang ketika seorang pria memanggilnya, “Han Jae Gwang... sedang apa kau di sini?”


Jae Gwang (Yeon Woo Jin) hanya melirik ke arah rumah Yun Hye. Pria itu seolah tahu hubungan Jae Gwang dengan Yun Hye yang harusnya tak seakrab ini.


Nenek tampak berdoa di halaman. Berdiri menggosok-gosokkan tangannya di depan sebuah pohon. Berharap sangat.

 

Sementara Yun Hye yang membersihkan kamar ayahnya teringat ucapan Jae Gwang yang mengaku penasaran dengan dirinya. Yun Hye duduk di meja riasnya, mengambil sebuah kotak berisikan sepasang anting. Ia tersenyum hanya dengan mengepaskannya di telinga.



Yun Hye dibangunkan mentari. Senyum tipisnya mengembang cantik. Sayang, sesampainya di kantor, ia murung melihat barang-barangnya sudah ada dalam kotak. Ia memang sudah dipecat, namun ia tidak mau keluar. Ia mengembalikan isi kotak tersebut ke tempatnya semula.

 

Seorang wanita dengan mobil putih terparkir di luar hotel Royal Jeonju menunggu Jae Gwang. Jae Gwang agak heran melihatnya.


Di kantor Yun Hye bekerja seperti biasa. Sudah jam makan siang tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Jae Gwang. Teman-temannya pun mengajaknya keluar. Yun Hye dengan halus menolak. Namun sebelum kedua rekannya benar-benar pergi, ia bertanya

“Apa mungkin kemarin kalian memberitahukan alamat tempat tinggalku pada seseorang?”


“Tidak.”

 

Lah...Yun Hye bingung sendiri. Kita tahu apa yang ia pikirkan. Waktu berlalu 1 jam lebih, Yun Hye memutuskan pergi ketika melihat kedua rekannya tadi kembali. Ia pergi setelah sempat mencari tahu tentang buku Jae Gwang.


 
  
Ternyata wanita yang menunggu Jae Gwang itu mengajak Jae Gwang ke sebuah kafe, mempertanyakan maksudnya yang menerima tur atas permintaan resmi mereka, tapi tidak berniat mengadakan pameran foto daerah. PHP kan? Ngiranya mau bikin acara. Ternyata nggak. Dasar emang Jae Gwang sukanya jalan-jalan. Nggak tahu kapan bakal berhenti. Lalu, “Apa yang akan kau lakukan? Tidakkah kau merasa lelah terus berkelana?”


Jae Gwang hanya memandangi arah luar kafe. Ia dan si wanita sudah keluar saat melihat Yun Hye yang baru saja membeli buku Jae Gwang, Jalanan Eropa.


Jae Gwang seperti biasa menyapa hangat Yun Hye. “Apakah kau sudah makan?”

 

GUBRAK. Jae Gwang baru ingat ia yang kemarin mengajak Yun Hye makan siang dulu. Ia lantas meminta maaf.

Yun Hye tak mempermasalahkannya. Ia menoleh ke arah si wanita dan Jae Gwang mengenalkannya sebagai manager tim pemotretan dari perusahaan penerbitan. Mmmm Yun Hye nggak tanya sih. Setelah mendengar penjelasan Jae Gwang, ia malah pamit. :P

 

Jae Gwang merasa nggak enak. Manager-nim menyindirnya, jadi ini alasannya Jae Gwang mau dibikinin permintaan resmi buat tur? Yun Hye yang cantik itu berasal dari pusat informasi wisata soalnya haha. Tapi Jae Gwang lagi-lagi enggan menanggapi. Ia justru tanya balik, kapan manager-nim mau balik ke Seoul.

“Kau sudah membuat perkembangan?”

“Bukan seperti itu,” Jae Gwang mencoba menjelaskan kalau hubungan mereka tidak seperti yang wanita bayangkan. Namun manager-nim tidak percaya, “Kalau begitu, bisakah aku menginap?”

 

Karena kalau belum ada perkembangan, harusnya Jae Gwang berniat untuk tinggal lebih lama. Keduanya saling melempar senyum.^^


 

Beralih ke kantor, Yun Hye diceramahin bos lagi. Dia tahu nggak ada yang salah dengan penerimaan Yun Hye, tetapi ini bukan kemauannya juga. Atasan mereka yang sudah berganti sangat memperhatikan keuntungan dan kebenaran. Pusat informasi wisata itu citra daerah. Jadi atasan merasa Yun Hye tidak cocok.


Yun Hye hanya bisa menunduk mendengarnya. Sembari memainkan jemarinya tak mampu membalas apa-apa.


“Kau tidak mau mengatakan kau akan memikirkannya?” Bos kesal Yun Hye masih saja memberinya waktu yang sulit. Kalau Yun Hye tidak mau berhenti, ia harus bilang apa ke atasan? Ia lalu menyerah dan memberikan ampop coklat besar. Isinya pamflet pencarian pembunuh bayaran yang baru dicetak lagi. Sigh.

 

Yun Hye tidak gentar. Ia berkata akan menempelnya. Bos jelas makin marah. Ia tak tahu gadis ini terlalu cool atau pendendam sampai bisa begini. Dia akan segera mengganti posisi Yun Hye maka sebaiknya Yun Hye jangan cari masalah dan tahu posisinya.


Perdebatan mereka terhenti dengan kedatangan Jae Gwang. Yun Hye segera menyembunyikan amplop di belakang punggungnya. Namun Jae Gwang santai dengan mengambilnya dan meminta bos yang mengurusnya. Jae Gwang berkata ia masih punya banyak tempat yang belum dikunjungi. Bos nggak mampu menanggapi. Menyodorkan jaket Yun Hye dengan kesal, membiarkan Yun Hye melanjutkan pekerjaannya menemani Jae Gwang.

 

Mereka berdua berada di Gerbang Irwolmun, tetapi Jae Gwang lebih tertarik dengan pohon tinggi di depannya. Yun Hye menjelaskan itu pohon Ginkgo.

“Berapa lama?” tanya Jae Gwang kemudian.

“Mungkin 400 tahun.”

Errrr Jae Gwang rupanya bermaksud menanyakan berapa lama Yun Hye bekerja menjadi pemandu wisata. Mendengar baru 7 bulan lamanya Yun Hye di tempatnya bekerja sekarang, Jae Gwang penasaran mengenai pekerjaan Yun Hye sebelumnya. Dan terulanglah lagi interogasi Jae Gwang yang menurut Yun Hye tidak perlu dijawabnya. Bukankah Jae Gwang fotografer? Nggak mau moto-moto nih?


Jae Gwang lebih memilih mengajak Yun Hye makan siang.


Di depan restoran, Yun Hye menghentikan langkahnya melihat seorang pria yang ia kenal baru saja keluar. Pria tersebut juga menyapa Yun Hye. Yun Hye bercerita ia sedang menjalankan tugasnya. Cerah sekali wajahnya. Sepertinya pria ini pernah akrab dengannya. Jae Gwang jelas bisa melihatnya pula.


Hingga beberapa saat berikutnya, Ayah dan istri pria ini menyusul keluar. Ayah terlihat tidak suka dengan Yun Hye. Ia ingin cepat-cepat pergi, beralasan perjalanan mereka panjang lho ke Seoul. Namun puteranya berbeda. Ia bahkan mengenalkan istrinya ke Yun Hye dan mengundang Yun Hye ke pernikahannya bulan depan.

“Tidak usah. Kau akan merusak pestanya,” sergah Ayah ketus.


Yun Hye tetap tersenyum. Ia masuk ke dalam restoran seperginya pria tadi.


“Apakah dia cinta pertamamu?” Jae Gwang mengira demikian saat melihat ekspresi Yun Hye sebelumnya. Sesudah dari sini ia bisa pergi sendiri. Ia mengaku hanya ingin makan sian bareng Yun Hye.

“Aku tidak suka dibawa ke sana ke mari hanya untuk makan siang.” Yun Hye kembali menanyakan tujuan mereka selanjutnya.

 

“Gunung Geonjisan.”

Yun Hye terpaku. Sebenarnya sudah aneh melihat Jae Gwang mengatakannya dengan menatap makanannya, tak memandang Yun Hye. Makin aneh lagi melihat Yun Hye. Ia tiba-tiba mengakhiri makanannya. Di mobil pun ia berusaha mengatur perasaannya.

 

Sesampainya di tempat tujuan, Jae Gwang berkata Yun Hye tak perlu naik jika tidak ingin. Toh sepatunya juga tidak cocok mendaki. Ia akan cepat turun. Mmmm Yun Hye ragu untuk tidak ikut.  Ini pertama kalinya Jae Gwang ke sini? Ia merasa perlu ikut.


Bersamaan dengan mereka naik, ada seorang pria berjaket biru yang turun. Jae Gwang menoleh ke arahnya sekaligus melihat Yun Hye dengan cemas. Tapi Yun Hye bersikeras terus naik. Ini pekerjaannya.  

Langkah mereka dipantau seseorang ternyata... Ya, oleh pria berjaket biru yang berbalik ke menatap mereka.

 

Jae Gwang sepertinya sudah menemukan spotnya memotret. Ia tertegun melihat sebuket bunga bersandar di sebuah pohon. Masih baru saja diletakkan. Sementara Yun Hye di belakangnya mengatur nafas. Makna air mukanya tak terkatakan. Matanya mengarah ke tempat bunga yang sekarang didekati Jae Gwang. Membuka ingatan masa lalu.




Ia juga di sini dulu. Melihat para polisi menyelidiki TKP. Ia masih SMA. Gelisah mendengar orang-orang menyayangkan kematian pria yang dibunuh di sana yang baru saja lolos ujian masuk. Dan dialah gadis yang menabrak Jae Gwang muda di kantor polisi.  


Yun Hye mundur pelan sebelum membalikkan badan dengan kaki lemas. Jae Gwang langusng menyusulnya. Menahan Yun Hye yang mau oleng. Tapi Yun Hye menepis tangannya. Ia bisa.



Setidaknya cuma beberapa saat sampai ia benar-benar jatuh. Jae Gwang gemas sekarang. Walaupun Yun Hye menepis tangannya, ia tetap memasangkannya coatnya untuk Yun Hye dan menuntunnya turun.



“Apa kau terluka?” Jae Gwang khawatir melihat Yun Hye yang tampak gemetar. Halus menyiratkan ketegangan. Pertanyaan yang dijawab dengan sanggahan olehnya.


Mereka pulang saat malam. Yun Hye yang diam sepanjang perjalanan, mengundang Jae Gwang menanyakan isi pikirannya.

Yun Hye mengaku ia pun memikirkan pernikahan, tapi dirinya tidak pernah bisa ke pernikahan. Berbeda dengan Jae Gwang yang katanya tidak suka acara perayaan besar termasuk pernikahan sehingga tidak ke sana, ia tidak pergi ke sana karena ia tidak bisa. Ia bertanya lagi apakah Jae Gwang benar-benar pergi besok. Jika iya, maukah Jae Gwang tidur dengannya?


Frozen. Jae Gwang sontak menoleh. Gadis lugu seperti Yun Hye bisa mengatakan ini meski sempat ragu. Ia tidak salah dengar, bukan?


Cahaya mobil di depannya menyilaukan, membuatnya sadar ia memotong jalur. Jae Gwang banting setir ke kanan. Menabrak pagar pembatas jalan membuat mobilnya rusak. Ia menelepon bantuan.


Sambil menunggu bantuan datang, ia dan Yun Hye menunggu di dalam mobil. Mereka jadi canggung. Pura-pura ngecek radiolah, kameralah...Namun dari sana Yun Hye jadi tahu kebiasaan Jae Gwang yang memotret dari belakang objek. Ia tidak pernah memotret dari depan dan memperlihatkan wajah yang ia potret. Baik itu binatang sekalipun. Jae Gwang yang akhirnya memutuskan keluar mobil (setelah mendapat panggilan dari seseorang yang tak ingin ia angkat di depan Yun Hye), ditanyai alasannya oleh gadis itu. “Kenapa?”


“Karena aku tidak bisa lupa.”

 

Yun Hye ingin tahu apa yang tidak bisa dilupakan. Tapi Jae Gwang malah menanyakan topik mengejutkan Yun Hye tadi. Apakah Yun Hye menanyakannya pada siapapun yang pergi besok?

“Karena kau tidak mengetahui siapa aku,” ujar Yun Hye jujur. Ungkapan yang membungkam Jae Gwang.

“Kau tidak bertanya. Aku pikir kau penasaran.”


Oke. Sudah bisa dicium arti sikap bisunya Jae Gwang. Ia sudah tahu. Tapi Yun Hye belum tahu fakta ini. Ia hanya heran mengapa Jae Gwang tidak biasanya memotretnya dari arah depan, tidak memotret pula sepanjang mereka berkeliling, dan malah tahu rumahnya.

 

Jae Gwang menelan ludah, mendesah. Entah mau menjawab atau tidak, namun pembicaraan mereka terpotong kedatangan penderek mobil hehe. Pria yang suka Yun Hye rupanya yang punya bisnis ini.



Pria pencemburu mulai menyindir Jae Gwang yang seperti tidak mengurusi mobilnya. Ia akan menghajar supir yang mencelakai Yun Hye. Jae Gwang nggak mau kalah mengolok pria penderek yang pakaianya menyedihkan (pakai sandal tuh). LOL Jae Gwang memutuskan untuk masuk ke dalam saja. 



Tak sengaja ia memergoki Yun Hye yang memanggil appa, menjawab sebuah panggilan dari nomor yang tak Yun Hye kenal. Yun Hye balik badan melihat Jae Gwang masuk, melempar tatapan penuh selidik. “Kau baik-baik saja?”


Sekonyong-konyong seorang ahjumma masuk menyemprot Yun Hye. Menyuruhnya untuk tak mendekati puteranya, Daeung si pria penderek. Daeung yang disebut langsung menahan ibunya lebih jauh. Kebetulan kok, pihak asuransi menghubunginya. Kebetulan pria yang dipandu Yun Hye mengalami kecelakaan.


Si Ibu tetap tak terima, “Foto ayahmu di mana-mana. Aku pasti malu untuk keluar, kalau aku jadi kau.”


Yun Hye lagi-lagi menunduk. Sempat melirik ke arah Jae Gwang, ia kembali menunduk. Jae Gwang melihatnya kasihan ckck. Daeung sampai mengatakan dirinyalah yang menyukai Yun Hye, bukan seperti perkiraan Ibu kalau Yun Hye yang mengejarnya.

Yun Hye tidak tahan dan pamit pergi. Daeung nggak bisa mengejarnya dihalangi Ibu. Jae Gwang menggantikannya membawa payung.


Yun Hye memilih hujan-hujanan. Ia berhenti di depan papan pengumuman polisi. Menunjuk pamflet pencarian pembunuh buron, “Itu ayahku.”


Jae Gwang masih dengan payungnya, mendekati pamflet yang ditunjuk. Kim Ju Pyeong. Buron pembunuh pria berusia 27 tahun tanggal 27 Februari di Gunung Meonjisan.  

“Aku tahu. Korbannya adalah kakak laki-lakiku.”


Tercekat. Giliran Yun Hye yang mematung. Apalagi saat ditanya, “Di mana Kim Ju Pyeong? Di mana ayahmu?”


Komentar:

Mereka seumuran :)

Jahat ya si Jae Gwang? Ngedeketin Yun Hye cuma buat nabur garam di atas luka... Nggak cukup apa Yun Hye kayak gitu selama 7 tahun, nggak pernah berani mengangkat kepala tegak? Duh, drama ini memang sesuatu. Akting dua pemeran utama bikin saya kadang kesulitan mendeskripsikan arti ekspresi mereka saking abstraknya nih drama mau bilang apa hahahaha. Tapi tenang, di episode berikutnya mereka bilang sendiri kok apa isi hati mereka :P

Pantas lah kalau mereka berdua dapet award untuk drama spesial KBS. Saya aja sampai penasaran sama akting Yoo Da In di Plus Nine Boys, One More Happy Ending, sama Doctors. Kalau Yeon Woo Jin udah ngeliat sih.

Oh ya, penulis drama ini penulisnya School 2013 dan Pride and Prejudice yang dimainkan aktor nggak kalah keren macam Choi Jin Hyuk dan Baek Jin Hee. Wah...kapan nih comeback lagi SWnim?

2 comments :

  1. Wah keren juga nih drama, ditunggu sinopsis selanjutnya..

    ReplyDelete
  2. Aarrggghhh....
    Ini drama bikin pusing, tapi KEREN!!!

    ReplyDelete