August 22, 2016

Just An Ordinary Love Episode 1 - 1


“Dia Ayahku” seorang gadis menunjuk ke arah pamflet pencarian pembunuh buronan yang tertempel di papan pengumuman terdekat.


“Aku tahu.”

Just An Ordinary Love Episode 1 - 1




Saat malam hari di sebuah hutan, terlihat seseorang yang pelipisnya berdarah dan tidak sadarkan diri dipanggul dan kemudian disembunyikan dengan dedaunan kering yang banyak terdapat di sana dengan cepat. Sudah meninggalkah?

Namun anggapan ini terhempas begitu saja saat di balik dedaunan tampak hembusan nafas. Orang itu masih hidup, belum mati…


Tersentak, orang yang memanggulnya tadi langsung berbalik sambil memegang batu yang lekas diraihnya.

***


Beralih ke sebuah gereja. Gadis cantik sedang berada di bilik pengakuan dosa, tetapi dia tidak punya apa-apa untuk diakui sehingga membuat Pendeta bingung. “Lalu apa yang saya lakukan di sini, jika anda tidak punya apapun untuk diakui.” :P

Gadis itu pun tersenyum membuat Pendeta yang melihatnya tertawa kecil (na do^^)

“Senyumlah yang cerah. Mengapa anda selalu merasa bersalah jika anda tidak punya (kesalahan) apapun untuk diakui?”


Tidak tahu. Sampai tujuh tahun sejak kejadian di hutan gulita itu, sepertinya gadis ini terus saja merasa demikian… 

Bahkan untuk mengancingkan kancing kecoklatan saja rasanya kurang baik. Ia memutuskan mengganti kemejanya dengan kancing berwarna putih sebelum akhirnya bersepeda ke tempat kerjanya.


Di tengah perjalanannya ke tempat kerja, ia berhenti tatkala melihat seorang nenek yang menebarkan tanah halus di depan rumah orang lain. Sang nenek melakukannya agar pemilik rumah tidak terpeleset.


“Kau tidak perlu mencemaskan itu,” kata pemilik rumah. “Jangan menebarkannya di sana! Kau seharusnya mencemaskan dirimu sendiri.”

Gadis yang bersepeda tadi melanjutkan perjalanannya setelah melihat pemilik rumah kembali masuk ke rumahnya. Sang nenek hanya melihat punggung gadis tersebut dengan tatapan mengiba.


Sesampainya di tempat kerja, ia merapikan tempat yang masih kosong tersebut dan kemudian membuat teh. Ketika melihat tumpukan cangkir kotor di tempat mencuci piring, dia pun sudah hendak mencucinya jika tidak melihat tulisan ‘Cucilah cangkirmu sendiri’ yang tertempel.


Sayang, atasannya mengatakan bahwa hari itu justru menjadi hari terakhirnya bekerja karena bos baru tidak menyukainya. “Aku akan mencarikanmu pekerjaan lain. Kau juga akan dibayar lebih. Gajimu bulan ini akan menjadi pesangonmu. Jangan terlalu bersedih.”

Tetapi gadis manis menolak. Pekerjaannya di tempat jasa wisata masih belum selesai berdasarkan kontrak.

“Aku tahu ini tidak adil. Namun kau sendiri pun tahu bagaimana jika manajemen itu berubah. Kau juga pasti tidak nyaman karena foto ayahmu di sini (tertempel di papan pengumuman depan kantornya). Bukankah itu menggannggumu?” selesai mengatakannya, atasan kembali masuk ke dalam dengan alasan dingin.


Alasan sama yang diutarakan seorang wisatawan saat diberi  penjelasan oleh gadis manis. Mereka ingin pergi ke tempat yang hangat dan makan hihihi. Meski gadis manis menenangkan mereka dengan mengatakan akan mempercepat penjelasannya, wisatawan tersebut membantah jika mereka malah akan beku kedinginan.

Hhhh, gadis manis akhirnya menyerah, “Baiklah, silahkan menunggu di mobil.”

Satu negosiasi selesai. Tetapi sepertinya dia harus bernegosiasi dengan orang lain. Seseorang yang memotretnya diam-diam.


“Anda memotret saya? Tolong hapus itu.” pinta Kim Yun Hye (Yoo Da In), si gadis manis.

Yang sedang memegang kamera tidak kalah gigihnya, dia mengelak bahwa jikapun Yun Hye terfoto pasti hanya sedikit.

Yun Hye tidak menyerah, dia tidak ingin ada dalam foto walaupun hanya sedikit. Sekali lagi dia meminta fotonya dihapus sekarang.

“Sekarang?” fotografer bertanya memastikan. Aih, kenapa nada bicaranya bikin inget Ki Tae? ^^”



Iya, sekarang. Yun Hye bahkan tidak bergeming ketika fotografer mengatakan bahwa para wisatawan menunggunya.


Raut wajah gadis ini jujur menyiratkan keheranan kala melihat nggak cuma satu atau dua foto yang diambil fotografer. LOL Fotografer memotretnya dari angle yang sangat tepat, sempurna merekam wajah Yun Hye yang manis hahahaha emang kalah nih kalau ngelawan gadis kayak gini. Inget Seo Young? Woo Jae saja bisa jatuh hati setelah sering berselisih dengannya :P


“Ada dua alasan fotografer mengambil gambar. Karena modelnya sangat bagus atau sebaliknya. Dan kau termasuk yang pertama, model yang bagus. Kau melihatnya? Kau bagus (terlihat dalam kamera). Kau mau mengapusnya?”

Yun Hye berkata dia bukan model dan langsung melenggang pergi.


Tapi, ia sempat terhenti saat fotografer memanggilnya dan mengatakan “Senang bertemu denganmu.” Hhh…you know what’s the mean, girls?


Dalam mobilnya, setelah fotografer meminta untuk dipesankan jasa wisata, dia memutar memori saat masih muda. Ditabrak seorang gadis yang entah hendak pergi ke mana, gadis itu bahkan seolah tidak menghiraukan dirinya yang ditabrak, Permintaan maaf saja tidak diucapkannya.


Kilas balik selesai. Ternyata ia sedang memandangi Yun Hye yang turun dari mini bus milik travel. Hey, apakah gadis masa lalu itu adalah Yun Hye?

Bau-baunya iya, karena fotografer langsung menunjuk Yun Hye untuk menemaninya berkeliling meski nona Yu sudah direkomendasikan untuk(menemani)nya.



Dia juga memandangi pamflet pencarian pembunuh yang tertempel di papan pengumuman depan dengan cukup lama. 


Mereka kemudian minum bersama dulu sebelum beranjak ke tempat yang ingin dituju fotografer. Dan meski ditawari bir kaleng, Yun Hye lebih memilih minum air putih saja.


 
  
Namun saat hendak membayar, Yun Hye yang tidak punya uang pas 60 sen, dipinjami uang fotografer dan dibayar langsung dengan uang 2000 wonnya hahahaha. Jadilah akhirnya fotografer yang berhutang kembalian kepada Yun Hye karena dia tidak punya uang receh #alasan :P

Tiba-tiba fotografer bertanya, “Bagaimana kau hidup?”


“Eh?”

Jelas saja Yun Hye tidak bisa menjawabnya.

Fotografer seakan baru sadar dan bertanya kembali, “Pertanyaan yang aneh, bukan?” Ia lalu mengajak Yun Hye segera pergi, “Mari kita pergi ke tempat yang kau sukai dulu. Tempat yang penduduk asli sukai.”



And here we are, salah satu sweetest lokasi syutingnya Angel’s Eye^^

“Kau sengaja memilih tempat ini, bukan? Untuk menyulitkanku.” Wkwkwkwk namanya juga menghadapi orang SKSD alias sok kenal sok dekat


Tapi mendengar keluhan fotografer yang tengah meluruskan kakinya akibat kelelahan, kita bisa melihat senyum tipis Yun Hye yang juga menarik tawa fotografer. Awww…



“Kau tersenyum,” celetuknya.

Yun Hye langsung balik kanan. Malu dipergoki berekspresi, 

Begitulah bagaimana punggungnya menarik fotografer kembali menjepretnya. Sayang, sebelum sempat menjalankan keinginannya, Yun Hye sudah kembali menatap fotografer LOL Kali ini fotografer tertangkap basah, tapi tetep nggak ngaku.



Gini nih jadi kena batunya. Ngikutin Yun Hye diam-diam, mendadak fotografer merasakan kram :P



Yun Hye sempat berusaha menanganinya tapi tidak lama, karena ia justru teralih saat melihat pemandangan kota dari sana, “Indah saat matahari terbenam.”

“Tapi pasti menakutkan. Maksudku jika kau sendirian di waktu matahari terbenam,” timpal fotografer kurang setuju. 



Benar saja. Saat masih remaja dulu Yun Hye memang pernah duduk sendirian di tempat itu, sementara teman yang lain duduk di luar mencari angle pemandangan yang indah.

Setelah cukup lama berdiam diri di sana, mereka pun pergi. Namun, kaki fotografer yang belum pulih benar membuatnya terjatuh saat hendak sempurna berdiri. Tangannya yang menimpa Yun Hye menjadikannya tampak mengajak Yun Hye jatuh dengan posisi merangkak sama seperti dirinya.

Wajar jika petugas penjaga salah paham.


“Berhenti di sana, kalian berdua!"

“Apa yang pria dan wanita lakukan, merangkak di bawah sana seperti itu?”

Yun Hye yang polos menjawab sekenanya, memberitahu bahwa pria di sebelahnya adalah fotografer. Jawaban singkat yang justru menimbulkan pertanyaan menggelikan lainnya.

“Foto apa yang mau kalian ambil sampai kau (atau kalian) merona seperti itu?” ahjussi makin gemas wkwk.

“Dia kram.”


“Pose kalian yang membuat kram. Kalian harusnya malu. Ini monument daerah. Ini bukan tempat menunjukkan 'ketertarikan' kalian. Apa yang kalian pikirkan?”

Sanggahan Yun Hye yang sudah diutarakan pun akhirnya dipotong fotografer, “Anda benar. Kami akan lebih berhati-hati.” 



Yun Hye hanya memelototi fotografer sampai ahjussi mengakhiri sindirannya, “Aku tahu kalian pasti malu. Jadi aku hanya akan membiarkan kalian pergi. Berbaliklah. Pergilah cepat!”



Fotografer tampaknya puas membuat Yun Hye malu. Ia menggoda Yun Hye, “Apakah kau melakukan kesalahan? Kenapa jalanmu cepat? Apakah kau marah?”

Yun Hye lantas mengeluarkan kalimat tertahannya, “Kau sebaiknya membuatnya jelas”.  



“Apakah itu masalah? Kita bahkan tidak mengenalnya.”

Ya, tapi “Itu masalah buatku,” kata Yun Hye.



Desa itu terlalu kecil sehingga perkataan orang-orang bisa tersebar dengan cepatnya. Mungkin fotografer bisa meninggalkannya, tetapi dia harus hidup dengan mendengarkan rumor tersebut…

Lalu, “Apakah kau ingin bertemu lagi besok?” dan pertanyaan fotografer sksd itu langsung dibalas tatapan mata Yun Hye yang tajam.

“Aku akan datang saat makan siang.” Fotografer ingin diajak berkeliling lagi. Meski akhirnya Yun Hye tetap menanggapi dingin dengan menganjurkan fotografer mencari orang lain saja.



“Aku tidak mau. Aku ingin dirimu.”


Kenapa?

“Aku penasaran tentangmu.”



Fotografer memang tersenyum pada Yun Hye, tapi secepat itu hilang saat ia memasuki mobilnya. Mengingat saat gadis yang dulu menabraknya berlari ke arah sungai Han untuk terjun ke dalamnya.



“Kau tidak berubah sama sekali.” Fotografer mendesah sambil melihat ke arah spionnya, memandangi Yun Hye yang bersepeda menjauh dari sana.



Di rumah rupanya Yun Hye ditungguin pria lain. “Kau terlambat,” kata seorang pria yang berjongkok menunggu Yun Hye di depan rumah.

Yun Hye tidak membalas dan melanjutkan langkahnya menuntun sepeda memasuki rumah. Tetapi si pria menahannya. Pria tersebut mendengar berita bahwa Yun Hye dipecat. Ia tampak prihatin. Apalagi saat mendengar dari Yun Hye kontraknya belum habis. Rasanya ia tidak terima jika Yun Hye berkeras bekerja di sana meski bos sudah memecatnya. Si pria pun menawari Yun Hye kabur bersamanya saja.

Yun Hye menoleh, menatap sinis ke arahnya. Tegas menjawab tidak.

Begitu ditanya kenapa, Yun Hye tidak ragu pula menjawab, “Karenamu.” :D  



Si pria tidak percaya. Apa yang Yun Hye pikirkan tentangnya hingga menjawab demikian? Ia bisa berkelahi, memiliki tubuh yang berotot, berwajah rupawan, dan memiliki toko automotif. Ia bahkan hanya memperhatikan Yun Hye.

Tetapi lagi-lagi Yun Hye melengos. Tak lupa menutup pintunya.



“Baiklah, bersikaplah jual mahal. Kau cantik bahkan jika kau bersikap seperti itu,” ujar si pria dari balik pintu gerbang.



Fotografer sedang menelepon seseorang di kamarnya. Ia berkata dia tidak mendapat fotonya. Kim Jun Pyeong juga tidak ada. Wanita itu sendiri tidak bisa menyembunyikan ayahnya. Dan ia merasa terlalu berlebihan jika mengunjungi rumah wanita itu.

Namun sepertinya seseorang di seberang telepon tidak terima sehingga dengan enggan fotografer mau melakukannya. Termasuk untuk pergi ke Gunung Meonjisan besok.



Setelahnya, fotografer membuka tas dan mengeluarkan sebuah map yang berisi foto dan identitas Yun Hye. Ha? Stalker!!! 


 

Nenek menyisihkan nasi untuk dimasukkan ke sebuah tempat dan disimpan di bawah tumpukan kasur dalam lemari. Ia terlebih dulu mengambil nasi yang sudah dia simpan sebelumnya, kemudian berdoa. Ia lantas makan seadanya bersama Yun Hye.

Sambil makan, Nenek menanyakan apakah Yun Hye bekerja di luar. Siapa yang berjalan-jalan di cuaca dingin seperti sekarang? Apakah banyak orang?

Yun Hye menjawab ada sebuah grup dan satu tur pribadi tadi pagi.



Nenek heran, Yun Hye juga melayani individual tur?

Yap. “Perkecualian special untuk seorang fotografer,” kata Yun Hye.

Nenek penasaran, apakah dia seorang pria? Muda?



Yun Hye tidak berminat menceritakannya. Ia berkata singkat lagi, “Hanya seorang pria dari Seoul.”

Mendengarnya, Nenek menyarankan agar Yun Hye mencari pria baik dan menikah. Tapi tidak lama setelah ia menyuapkan makanan ke mulutnya, Nenek berhenti dan berdoa kembali. Ia merasa tidak berselera. Ia juga tidak enak karena bermimpi aneh.



“Kita sedang makan. Dia (laki-laki) memandangi kita.”

Entah mengapa, Yun Hye ikutan berhenti makan dan langsung membereskan makanannya. Ia tidak suka mendengar Nenek mengasihani ayahnya yang tidak bisa hidup dengan bersembunyi terus.



Nenek sudah akan pergi keluar sambil membawa kantong sampah saat Yun Hye menghentikannya. Yun Hye tahu Nenek akan membantu membersihkan sampah dan ia melarangnya. Tidak ada yang peduli pada Nenek meski ia melakukan itu. Mereka pun tidak berterimakasih.

Nenek menanggapi, ia tidak mengharap imbalan. Ia hanya merasa buruk ketika berhadapan dengan orang lain.



Yun Hye semakin kesal. Apa yang membuat Nenek berpikir demikian? Apa salah Nenek? Sikap Nenek inilah yang justru membuat orang-orang mengira Ayah dan dirinya benar-benar melakukan hal buruk.

Yun Hye tidak jadi mencuci piring dan malah meninggalkan Nenek sendiri. Nenek tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.



Sementara itu, fotografer tengah memotret kediaman Yun Hye dari luar rumah. Ia sudah beranjak pergi saat Yun Hye keluar rumah. Fotografer yang terpergok berbalik melihat siapa yang membuka pintu, mengundang tanya Yun Hye. Apakah Anda ke rumahku?

Fotografer tidak menyangkal. Ia memang tidak dapat tidur dan tidak enak ketika Yun Hye meninggalkannya tadi. Beberapa saat kemudian, Nenek menyusul keluar. Khawatir Yun Hye kedinginan, ia membawakan pakaian yang lebih hangat.



Begitulah ia bertemu dengan fotografer. Pria dari Seoul yang ditemani Yun Hye berkeliling hari ini.
Tanpa basa-basi Nenek meraih tangan sang tamu, mengajaknya masuk untuk menikmati kopi.

Yun Hye jadi tidak enak melihatnya. Namun, bagaimana kalau fotografernya mau? Ya, tetep masuk^^

Di dalam rumah, fotografer tampak mengamati sekelilingnya.



Sambil mempersiapkan jamuan bagi tamunya, Nenek mulai berbincang. Apakah kau sudah menikah?
Mendapat jawaban belum, Nenek berkomentar kalau fotografer sangat tampan. Komentar yang menarik senyum fotografer.

Lalu, “Kapan Anda kembali ke Seoul?”

“Besok.”



Yun Hye tertegun. Sejenak ia mengalihkan pandangan ke samping. Tidak berani menoleh.

Nenek dan fotografer yang tidak memperhatikan perubahan Yun Hye ini kembali melanjutkan perbincangan. Nenek meminta fotografer untuk duduk dengan nyaman. Ia minta maaf pula karena rumah mereka rusuh.

Fotografer tidak sependapat. Rumah mereka yang seperti ini jarang ditemukan di zaman sekarang. Maksudnya unik?



Ia meminta izin untuk melihat-lihat. Yun Hye jelas tidak terima. Itu agak… Tapi belum sempat melengkapi kalimatnya, Nenek mengizinkan.

“Tidak banyak yang bisa dilihat,” tambah Nenek.



Fotografer kemudian berjalan perlahan ke kamar. Yun Hye menghampirinya bertanya, bagaimana fotografer tahu rumahnya.

Fotografer menjawab dia mendapatkannya dengan bertanya. Ia pun kembali melanjutkan penjelajahannya saat Yun Hye dipanggil Nenek yang mencari letak kopi.


Mengendap mengambil telepon genggam Yun Hye, fotografer tampak belum puas tidak menemukan apa-apa di sana.  

Bersambung ke Just An Ordinary Love Episode 1 - 2



Komentar:

Penasaran apa yang sebenarnya dicari fotografer? Saya juga. Gemes banget rasanya ngeliat fotografer ini kepo banget sama Yun Hye. Kepo yang negatif baunya, bukan karena suka seperti yang biasa diceritain di dramaland. Ya mengingat hubungan mereka udah bisa ditebak dari adegan pertama.

Seperti  Marriage Not Dating, dramanya Yeon Woo Jin juga, drama ini dimulai dengan menampilkan potongan scene dalam episode itu di awal. Cuma, tenang aja… potongan scene di awal episode Ordinary Love selalu akan ada di episode tersebut. Bukan hanya sensasi berlebihan seperti di Marriage Not Dating haha.

Jadi bener kalau Yun Hye itu putri pembunuh. That’s the key yang akan membawa kita mengikuti kisah cinta mereka. Kisah cinta yang sebenarnya nggak jauh beda sama kisah cinta orang biasa.

No spoiler ya :)

No comments :

Post a Comment