August 12, 2016

Dear My Friends Episode 16 - 2 Final



Hee Ja sendirian di kamar barunya. Di rumah semua anak Hee Ja berkumpul untuk membicarakan tentang masalah Hee Ja. Anak Hee Ja yang lain tak mempermasalahkan Hee Ja ke panti jompo, hanya Min Ho saja yang tak terima. Saking tak terimanya, dia sampai emosi dan berteriak-teriak.  Jung An menelpon Hee Ja, namun tak diangkat. 


Tepat disaat itu si nenek mengintip dari pintu dan Hee Ja pun memanggilnya masuk. Hee Ja memberinya jeruk dan si nenek pun langsung memakannya. Hee Ja merasa senang karena dia mendapat teman baru.


Jung A sudah berada di rumahnya sediri bersama Sun Kyun. Jung A sedih karena Hee Ja tinggal di panti jompo. Sun Kyun pun berkata kalau mereka akan pergi menjenguk Hee Ja ntah besok atau lusa, karena sekarang Jung A harus istirahat.



Jung A berbaring dan membelakangi Sun Kyun. Dengan penuh pengertian, Sun Kyun memijit kaki Jung A, tapi hal itu malah membuat Jung A merasa tak nyaman, jadi dia pun menyuruh Sun Kyun tidur saja. Sun Kyun kemudian mengajak Jung A untuk suntik vitamin besok, karena Jung A terlihat sangat lesu. Jung A berkata kalau suntik vitamin mahal, tapi Sun Kyung tak perduli. Melihat perubahan sikap Sun Kyun, Jung A tentu saja merasa senang, tapi rasa senangnya langsung hilang ketika dia memikirkan nasib Hee Ja. 


Pagi tiba dan Sung Jae menikmati minuman hangat sambil melihat fotonya bersama Hee Ja. Kita beralih pada Wan dan Nan Hee, dimana Wan protes pada sang ibu karena ibunya datang ke rumahnya dengan menggunakan taksi, padahal rencananya mau Wan jemput. Nan Hee melihat kesekeliling rumah Wan dan disana dia tak menemukan foto Yeon Ha lagi. Nan Hee bertanya, tapi Wan pura-pura tak mendengarnya dan mengalihkan pembicaraan dengan bertanya apa Nan Hee tidur nyanyak semalam. Nan Hee menjawab kalau dia bisa tidur nyenyak karena tak ada Wan. 

Wan kemarin merapikan kembali jadwal menulisnya, karena sekarang dia harus menulis bagian Hee Ja, tapi Wan belum siap karena kisah Hee Ja terlalu menyedihkan. Nan Hee kemudian mengaku kalau untuk kemoterapinya bulan depan,dia ingin melakukannya di pusat perawatan dengan perawatan profesional. Wan menolak, karena dia sendiri bisa merawat Nan Hee, jadi tak butuh jasa perawat. 


Nan Hee kemudian memberikan tiket pada Wan dan menyuruh Wan untuk menemui Yeon Ha. Namun Wan tak mau, dia mengaku pada Nan Hee kalau dia sudah putus dengan Yeon Ha. Nan Hee pun meyakinkan Wan kalau dia baik-baik saja. Tapi Wan tak percaya karena Nan Hee  keringat dingin ketika dia tidur dua malam yang lalu. Nan Hee menjawab kalau dia hanya demam, dokter juga mengatakan kalau hal itu adalah hal yang wajar. 

“Ini bukan kanker...,...tapi kecemasanmulah yang membunuhku,” keluh Nan Hee.

“Aku bilang jangan berkata tentang kematia,” ucap Wan.

“Aku mungkin sakit...selama 1, 5...atau bahkan 10 tahun.”

“Ibu membesarkanku selama lebih dari 30 tahun, jadi 10 tahun itu tidak ada apa-apanya.”

“Yang kau lakukan cuma merawatku bukannya menjalani hidupmu. Aku merasa seperti orang bodoh  yang bergantung pada putrinya.Aku sudah kesal karena aku kena kanker..., ...tapi aku tidak mau jadi orang bodoh juga,” ucap Nan Hee dan mengaku kalau dia memang sangat bergantung pada Wan, jadi dia tak bisa meminta Wan untuk meninggalkannya selamanya. Jadi, dia menyuruh Wan pergi ke Slovenia selama seminggu. Kalau keadaan Nan Hee membaik, Wan bisa tinggal disana selama sebulan lalu menikah dengan Yeon Ha dan meninggalkan Nan Hee untuk selamanya. 


Wan menghampiri Nan Hee dan memeluknya. Mengubah topik pembicaraan, Nan Hee bertanya apa Yeon Ha bagus di tempat tidur, tentu saja Wan tak menjawabnya, dia hanya tertawa. Wan kemudian mengaku kalau dia akan pergi ke Slovenia, tapi lain waktu saja. 

“Kalau kau sudah kembali...,...belajarlah cara memijat. Menggerakkan kursi roda dengan dua lengan...bisa menyebabkan nyeri ke seluruh tubuh.Belajarlah itu, dan pijati dia,” pesan Nan Hee tapi Wan tak mau melakukannya. Wan menangis dan mata Nan Hee juga  berkaca-kaca. Namun mereka berdua tak saling memperlihatkan.



Pagi tiba dan Wan pun benar-benar pergi ke Slovenia. Sebenarnya dia tak mau, tapi Nan Hee memaksanya pergi. Nan Hee meminta Wan tidak khawatir karena Nyonya Oh mau datang malam ini,selain itu ada Yeong Won dan Choong Nam yang akan merawat dirinya. 

Wan bernarasi, “Aku akhirnya meninggalkan ibuku yang sakit....dan melanjutkan hidupku. Saat itulah aku sadar betapa kejamnya hidup ini. Masa muda mereka membuat mereka mengejar....setiap kesempatan....dan menjalani hidup dengan baik.” 


Selagi Wan dalam perjalanan menuju bandara, Nan Hee mengeluarkan kembali foto-foto Wan bersama Yeon Ha. Nan Hee juga  beres-beres rumah Wan.


Tapi sekarang mereka sudah tua, apa yang mereka miliki, termasuk...anak-anak mereka yang lebih berharga dari hidup mereka sendiri...,”sambung Wan. Disisi lain, Min Ho menemui Hee Ja dan menangis. 


“...harus ditinggalkan. Hidup membuat mereka meninggalkan semuanya termasuk....rasa penyesalan dan harapan. Betapa kejamnya hidup mereka ini?” tambah Wan, sedangkan Jung A seperti biasa sedang bersih-bersih dan Suk Kyun mengajak jalan-jalan cucunya. Di jalan Suk Kyun melihat pengumuman tentang lowongan kerja sebagai satpam. Namun dia langsung pergi begitu saja ketika melihat persyaratan usia diantara 55 sampai 65 tahun. 

“Selain itu, tidak ada yang tahu....kapan hidup akan berakhir.”



Beralih ke kedai makan milik Choong Nam, “Hidup itu sendiri, kita tidak tahu  persis kapan hidup mulai atau berakhir...,Aku ingin bertanya mewakili orang dewasa."Kehidupan....Kau mau apa dari kami?" tambah Wan. 

Choong Nam disuruh istirahat oleh ponakannya. Choong Nam kemudian melihat Yeon Won sedih dan bertanya kenapa. 

“Waktu Dae Cheol....datang menemuiku,..dia dalam kondisi kritis. Kanker pankreasnya sudah stadium akhir. Dokter tidak mengoperasinya karena tidak ada harapan lagi. Tapi...dia mungkin dapat kekuatan  setelah melihatku.Dia cukup sehat untuk bisa dioperasi. Dia menyuruhku datang ke Seattle karena Seattle indah saat musim gugur. Dia menyuruhku kesana karena dia akan tetap hidup sampai saat itu,”jawab Yeong Won dan kemudian menambahkan kalau Dae Cheol sudah bercerai 30 tahun yang lalu. 

Mendengar itu, Choong Nam pun tak memperbolehkan Yeong Won pergi. Karena Choong Nam tak mau ditinggal sendirian. 

“Haruskah aku membawanya ke sini dan hidup bersama?” tanya Yeong Won.

“Kau beruntung punya orang yang bisa kau bawa dan bisa hidup bersama,” jawab Choong Nam dan terlihat sedih.


Hee Ja sedang menghafal tulisan gurita, saking fokusnya menghafal dia sampai mengabaikan nenek yang selalu mengikutinya. Dia kemudian melihat seorang nenek yang dijemput anaknya pulang. Hee Ja terlihat iri melihat hal tersebut. 


Jung A tengah menonton TV ketika Hee Ja menelpon. Hee Ja menelpon karena ingin pergi jalan-jalan dengan mobil bersama Jung A. Dia minta Jung A menjemputnya dengan mobil. Mendengar permintaan Hee Ja, Jung A pun langsung melihat jam dan saat itu masih pukul 3 pagi. Hee Ja menangis dan mengaku kalau dia juga ingin mati di jalan, seperti yang selalu Jung A katakan, bukan di ruangan kecil seperti penjara.



Mengerti dengan apa yang Hee Ja rasakan, Jung A pun berkata pada Hee Ja kalau dia akan segera kesana. Walau jam menunjukkan pukul 3 pagi, Jung A tak perduli. Dia mengambil tas dan jas-nya. Dia kemudian mengambil mobil di rumah Suk Kyun dan langsung pergi meninggalkan Suk Kyun yang ingin ikut. 

Hee Ja berlari menuju mobil Jung A, dia tak perduli perawat panti mengejarnya dan memintanya tinggal karena si perawat belum izin dengan Min Ho. Hee Ja hanya berkata pada perawat kalau dia yang akan mengurus masalah Min Ho. 


Kedua nenek ini pun pergi jalan-jalan dengan perasaan senang. Saking senangnya, mereka teriak-teriak di dalam mobil. Tapi kesenangan mereka langsung hilang ketika mobil berhenti karena kehabisan bensin. 


Choong Nam sedang makan ketika Jung A menelpon dan bertanya apa Choong Nam punya banyak uang. Tentu saja Choong Nam menjawab dia punya banyak uang, dia juga mengatakan kalau dia bisa datang ke tempat Jung A dan Hee Ja sekarang. 


Choong Nam langsung berkemas-kemas dan memberikan semua urusan cafe pada ponakannya. Sambil berkemas-kemas, Choong Nam menelpon Yeong Won dan mengajaknya jalan-jalan. Karena Yeong Won sedang bersama Nan Hee, jadi Yeong Won pun mengajak Nan Hee. Mereka semua begitu semangat untuk pergi jalan-jalan. Ternyata Choong Nam bukan hanya mengajak Yeong Won, dia juga juga mengajak Sung Jae dan Suk Kyun. 

Dalam perjalanan menemui Jung A dan Hee Ja, Suk Kyun terus mendumel kalau bukan hal yang bagus untuk jalan-jalan tanpa persiapan apapun. “Ini tidak mungkin. Tanpa persiapan apapun...bagaimana kalau kita kecelakaan di jalan? Jawab, mau apa kau kalau kita kecelakaan?” tanya Suk Kyun dan pertanyaan itu membuat semua penghuni mobil tak senang. Saking kesalnya, Choong Nam sampai berkata pada Sung Jae untuk menurukan Suk Kyun di jalan. 

“Aku 'kan cuma bilang saja. Kau tahu jalan memangnya?” tanya Suk Kyun kemudian pada Sung Jae. 

“Diam saja kau ini,” jawab Sung jae yang sepertinya juga merasa tak nyaman karena Suk Kyun terus bicara. Choong Nam pun berkata kalau Suk Kyun tak mau di kucilkan, maka dia harusnya diam saja. 


Tepat disaat itu terdengar suara petir dan alhasil mereka pun tidak jadi jalan-jalan, mereka menyewa satu kamar di sebuah penginapan untuk berteduh dari hujan. Hee Ja dan Jung A sudah ikut bergabung dengan mereka. Choong Nam mengeluh karena hujan turun, sehingga membuat mereka tak bisa jalan-jalan padahal Choong Nam sudah membawa uang yang banyak. 

Hee Ja kemudian bertanya mereka mau jalan kemana, mendengar itu Yeong Won dan Nan Hee bertanya balik, sebenarnya Hee Ja mau jalan kemana. Mendengar obrolan itu, Suk Kyun langsung angkat bicara. Dia berkata kalau mereka tak jadi jalan-jalan, mereka hanya akan langsung pulang ke rumah, karena hujannya akan turun selama 4 hari ke depan. Mendengar ucapan Suk Kyun, yang lainnya langsung teriak tak setuju. 

“Kenapa kalian memperlakukan suamiku seperti itu?” protes Jung A.

“Apa yang terjadi di antara kalian berdua? Kalian saling memanggil suami dan istri padahal kalian tinggal terpisah,” tanya Yeong Won. 

“Aku menyukainya karena terasa seperti berkencan dan tinggal secara terpisah. Ya 'kan, Suk Kyun-shi?” ucap Jung A dan yang lainnya pun tertawa. Sung Jae kemudian menyuruh mereka berdua untuk rujuk, daripada harus tinggal terpisah. 

“Kita tidak harus tertawa pada saat seperti ini. Kita tidak bisa naik mobil  karena hujan. Kita semua harus naik mobilmu, Seong Jae. Mungkin kita semua akan mati di jalanan,” ucap Suk Kyun. “Karena kau tidak sakit, kau dapat menikmati perjalanan seperti ini...tapi apa kau ingin mati jauh dari rumah?” tanya Suk Kyun pada Choong Nam. 

“Apa maksudmu aku tidak sakit? Tidak ada orang di sini yang sakit sepertiku,” jawab Choong dan secara kompak Yeong Won dan Nan Hee bertanya Choong Nam sakit apa. Choong Nam menjawab kalau dia terkena penyakit terburuk belakangan ini, penyakitnya adalah kesehatan yang baik dan umur panjang. Mendengar itu semuanya pun tertawa. 

Kau takut mati jauh dari rumah?” tanya Sung Jae dan Suk Kyun mengiyakan. 

“Kata orang kau tidak akan memiliki kehidupan akhirat yang bagus kalau mati seperti itu,” jelas Suk Kyun dan Choong Nam bertanya Suk Kyun tahu dari siapa. Belum sempat Suk Kyun menjawab, Hee Ja berbisik pada Choong Nam, dia berkata kalau Suk Kyun berkata seperti itu, seolah-olah dia sudah pernah mati sebelumnya. 

Choong Nam kemudian membuat topik pembicaraan baru, mereka harus memutuskan bagaimana mereka mati. Yang pertama mati karena sakit. Nan Hee menambahkan mati karena memang sudah saatnya, Yeong Nam berkata mati saja dan Jung A menyambung jangan mati bunuh diri. Sung Jae ikut berkata kalau ada mati jauh dari rumah dan mati karena kecelakaan. 

“Kau ingin mati seperti apa, Suk Kyun Oppa?” tanya Choong Nam. 

“Kematian alami, tentu saja,” jawab Suk Kyun yakin. 

“Sekarat saja juga merupakan kematian alami. Kau mau seperti itu?” tanya Yeon Won.

“Kenapa aku mau mati sendirian? Jung A yang berikutnya,” sambung Suk Kyun dan Jung A menjawab kalau dia akan mati sebelum Suk Kyun. Dia menyuruh Suk Kyun mati sendirian. 

“Jangan bilang begitu karena kita punya anak-anak,” ucap Suk Kyun dan Jung A berkata kalau anak-anak mereka semua sibuk. Mendengar pembicaraan Suk Kyun dan Jung A, Yeong Won berkomentar kalau sepertinya Jung A dan Suk Kyun tidak sedang bersama mereka. Mereka sibuk ngobrol sendiri. 

“Kita sudah dapat keputusan, kalau begitu. Ayo kita mati jauh dari rumah,” ucap Choong Nam. Nan Hee dan Yeong Nam langsung protes, mereka tak suka dengan kata-kata Choong Nam. Tertalu menakutkan. 


“Di jalan,” ucap Nan Hee dan Yeong Won setuju.

“Boleh juga. Di jalan,” tambah Sung Jae setuju.

“Kalian semua ini bodoh. Bodoh,” koment Sun Kyun namun tak ada satupun diantara mereka yang menanggapinya. 


“Kenapa kalian tidak jawab...teleponku? Kenapa?” tanya Wan yang tiba-tiba muncul dipenginapan. 



Malam tiba dan semuanya sudah berbaring untuk tidur, sedangkan Wan baru keluar dari kamar mandi. Melihat Wan belum tidur, Yeong Won pun menyuruhnya tidur dan Wan pun mengiyakan. 

“Pasti sulit bagimu jalan-jalan dan merawat orang tua,” ucap Wan dan Yeong Won menjawab kalau dia tidak merawat mereka semua, karena mereka semua adalah teman-temannya. 

“Wan, kau harus sering datang ke Seoul...jadi kita bisa jalan-jalan,” ucap Choong Nam. 

“Jangan ganggu dia,” ucap Yeong Won. 

“Jangan berkata begitu. Jangan menyesal kemudian...dan habiskanlah banyak waktu dengan ibumu,” pesan Choong Nam dan Wan pun berterima kasih pada mereka semua karena mereka mau menghabiskan waktu mereka bersama ibunya. 

Tepat disaat itu, Hee Ja bangun dan Wan menyuruhnya tidur karena sudah waktunya tidur. Setelah menyuruh Hee Ja tidur, Wan tak langsung tidur. Dia duduk lalu melihat ibu dan teman-temannya. 

Wan bernarasi, “Saat teman-teman tuaku bilang mereka ingin jalan-jalan lagi...kukira mereka bercanda...atau membicarakan mimpi yang tak masuk akal.”



“Namun, aku salah. Setelah hari itu...mereka selalu jalan-jalan,” sambung Wan dan Nan Hee jalan-jalan dengan mobil khususm bentuknya agak mirip mobil box. Sung Jae bertugas menyetir dan Suk Kyun melihat GPS, tapi gara-gara Suk Kyun salah membaca GPS, Sung Jae pun salah ambil jalan. Di dalam box para wanita melakuan kegiatan mereka masing-masing. Nan Hee dan Yeong Won bernyanyi, Hee Ja dan Jung A tidur, sedangkan Choong Nam sibuk membaca buku kosa kata bahasa inggris. 



“Tidak peduli seberapa jeleknya jalan itu...mereka tidak berhenti. Seperti hidup mereka yang sulit...kesulitan berada di jalanan...tidak ada apa-apanya dibandingkan hidup mereka,” tambah Wan dan kawanan orang tua itupun dengan semangatnya mendorong mobil yang rodanya masuk lubang. Ketika mereka berhasil terbebas dari lubang, mereka pun bersorak senang. 


Habis jalan-jalan, Nan Hee pun harus menjalani perawatan kembali di rumah sakit. Sedangkan Sung Jae menemani Hee Ja bermain puzzle di panti jompo dan ternyata Sung Jae adalah pria yang cemburuan, dia tak senang melihat Hee Ja berbicara dengan pria lain.



Di rumah, Suk Kyun sibuk memasang mata untuk banyak boneka. Jung A dan Suk Kyun sekarang sudah tinggal bersama lagi. Jung A kemudian membuatkan mie untuk merkea makan bersama. Sebelum makan, Suk Kyun dengan pengertian mengambilkan minum untuk Jung A. Di tempat lain, Yeong Won sibuk membaca skrip sedangkan Choong Nam sibuk belajar. 



Kita beralih ke Slovenia, dimana Wan sedang sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Yeon Ha terus melatih kakinya. 


Pagi tiba dan Yeon Ha membangunkan Wan, bukannya bangun Wan malah memeluk Yeon Ha dan melanjutkan tidur.


Di rumah, Nan Hee sedang asik nonton TV bersama Il Woo. Tapi karena sudah larut malam, Nan Hee pun mengingatkan Il Woo, tapi bukannya pulang, Il Woo malah berkata sebentar lagi. Il Woo merasa senang bersama Nan Hee dan Nan Hee pun tak keberatan Il Woo pulang nanti. 


Nyonya Oh dengan wajah senang mengendarai traktornya dan kita kemudian diperlihatkan pada mobil box yang di parkir di sebuah tempat yang banyak pohonnya. Tempatnya tak terlalu jelas karena malam hari dan juga hujan. Disamping mobil juga ada traktor milik Nyonya Oh. 


Pagi tiba, semuanya keluar dari mobil dan menikmati udara pagi di tempat itu. Setelah itu mereka pergi ke pantai dan Wan ikut bergabung dengan mereka. 


“Nenek, bukuku akan segera diterbitkan. Judulnya... Teman Tuaku,” ucap Wan dan Nyonya Oh berkomentar kalau menyelesaikan buku itu tidak hebat, yang lebih hebat adalah kalau Wan hamil.

“Nenek. Kalau Nenek mendefinisikan hidup dalam satu kalimat...apa yang akan Nenek sampaikan?” tanya Wan.

"Tidak terlalu pernting,” jawab Nyonya Oh. 

“Bukankah itu membuat hidup terlalu sedih?”

“Jika tidak terlalu penting...kenapa bisa sedih? "Hidup dengan tidak ada artinya.... tidak begitu buruk seperti ini." Kita harus berpikir seperti itu,” jawab Nyonya Oh dan kemudian berjalan pergi.


Wan bernarasi, “Nenek berkata tidak penting hidup seperti apa kalau sudah hidup selama 90 tahun. Mungkin, itulah jawabannya. Semua yang tersisa dalam hidup yang tak ada artinya...adalah anak yang egois. Aku tak menyangka kalau hal itu benar.”


Nan Hee dan teman-temannya sangat menikmati waktu bersama-sama. Usil, Nan Hee mengusap wajah ibunya dengan lumpur. Karena ulah Nan Hee, yang lainnya jadi ikutan bermain lumpur, mereka lempar-lemparan lumpur. 


“Betapa bodohnya aku? Kenapa aku berpikiran...kalau mereka selangkah lebih dekat menuju kematian? Melihat mereka hidup...di masa lalu... Jika mereka harus kembali ke masa lalu...Untuk membuat hidup mereka signifikan...mereka menjalani hidup......saat ini dengan intensitas dan kebanggaan.”



“Jika mereka memiliki keinginan....mereka berharap saat ini...akan bertahan sedikit lebih lama. Sehingga mereka akan tidak menyesal...mereka berharap momen ini akan bertahan sedikit lebih lama,” narasi Wan melihat ibu dan teman-temannya yang sedang menikmati matahari terbenam. 

The End


2 comments :

  1. sukaaaaa....endingnya benar2 sederhana tapi penuh makna. Daebak, drama ini mengajarkan kita makna kehidupan dan bikin aq terharu banget.
    makasih mbak Lilik udh recaps ya

    ReplyDelete
  2. sama-sama... aku juga suka ceritanya... banyak pelajaran yang bisa di ambil... :)

    ReplyDelete