August 4, 2016

Dear My Friends Episode 14 - 2



Wan pergi ke rumah ibunya dan saat itu sang ibu sedang sibuk mengurus pemasokan bahan untuk restorannya. Melihat sang ibu masih bekerja di saat sakit, Wan pun langsung menutup telepon dan kemudian menghubungi salah satu pegawai ibunya. Dia berkata pada si pegawai kalau Nan Hee harus dioperasi, jadi Wan ingin sipegawai itu yang menjaga restoran untuk sementara waktu. Jika restoran sangat sibuk, Wan menyuruh si pegawai untuk memperkerjakan pegawai lagi. Tak setuju dengan ide Wan, Nan Hee pun langsung merebut ponsel Wan dan menyuruh si pegawai untuk tidak memperkerjakan pegawai lagi.

Wan mencuci muka di kamar mandi, saat dia keluar dari kamar mandi sang ibu masih sibuk dengan teleponnya. Dia sibuk mengurus restoran yang untuk sementara waktu tak akan bisa dia urus kalau dia operasi nanti. Saat Nan Hee hendak menelpon Sang Sook, teleponnya tak di angkat. Wan pun berkata kalau Sang Sook pasti sudah tidur karena saat ini sudah pukul 1 pagi. Menyadari sudah larut malam, Nan Hee pun menghentikan kesibukannya menelpon orang-orang.

Nan Hee terus saja marah-marah, dia marah karena Wan tak cepat mengambilkan baju untuknya. Tak seperti biasanya, kali ini Wan hanya diam, dia tak membantah omelan sang ibu, karena dia tahu ibunya marah-marah seperti itu karena dia merasa terpukul dengan kanker yang dideritanya. Wan pun hanya bisa menangis dalam diamnya.



Selesai berganti baju, Nan Hee membuka semua dokumen asuransi juga buku tabungannya.  Dia berpesan pada Wan untuk menjaga pin rekening bank miliknya, agar tak di lihat orang lain, karena Nan Hee ingin Wan lah yang mendapatkan semua uang-nya.

Dengan suara pelan Wan bertanya kenapa Nan Hee tak memberitahunya, padahal Nan Hee sudah tahu tentang penyakit itu sejak lama. Nan Hee pun menjawab dengan suara tinggi kalau dia sengaja tak memberitahu semua orang, tak akan ada yang berubah jika dia memberitahu semua orang. Penyakit itu masih akan ada di dalam dirinya. Nan Hee mengaku kesal karena dia harus menanggung semuanya sendiri, waktu operasi sudah di tentukan dan yang ada di dalam otaknya adalah rasa khawatir. Dia khawatir meninggalkan Wan sendiri, dia khawatir meninggalkan kedua orang tuanya dan juga adiknya.


Kesal, Wan pun memberitahu sang ibu kalau mereka semua bukan beban untuk sang ibu. Wan bisa hidup dengan baik sendiri dan kakek nenek serta pamannya bisa hidup sampai sekarang karena nasib mereka.

“Jika mereka tidak ditakdirkan untuk hidup...  mereka sudah mati meski ibu berdoa atau tidak untuk mereka,” ucap Wan dan Nan Hee pun menangis. Wan bertanya kenapa Nan Hee terus membuat dirinya terlihat menjadi anak yang menyedihkan.

“Wan-a... ibu juga tak mau seperti ini,” aku Nan Hee dan dengan tangan bergetar Wan berkata kalau ibunya akan baik-baik saja setelah melakukan kemoterapi. Selain itu, dokter dan obat-obatan-nya juga bagus. Nan Hee akhirnya mengaku kalau dia merasa takut, dia tak mau sakit, dia ingin sekali hidup. Melihat ibunya menangis, Wan berusaha kuat dan tegar.

Wan bernarasi, “Malam itu, ibuku, perlindunganku, putus asa.”


Walau sudah malam, Hee Ja terus berjalan tanpa henti.

“Ibuku, yang sekuat laut, gagal bertahan. Dia menangis seperti anak kecil di depan... putri yang tak dia percayai,” sambung Wan yang saat itu berdiri dengan pondasi yang gemetaran.


Yeong Won memberitahu Nyonya Oh kalau Nan Hee akan di operasi, namun bukan operasi besar. Walaupun begitu, Nyonya Oh tetap merasa kalau Nan Hee sakit parah. Nyonya Oh menangis dan dia memilih pergi.

In Bong merasa sedih dan kesal mengetahui kondisi Nan Hee. Dia dan Yeong Won sengaja tak memberitahukan yang sebenarnya pada Nyonya Oh, karena takut Nyonya Oh akan terkena serangan jantung. In Bong kemudian menyusul ibunya.



Yeong Won kemudian menghampiri Tuan Jang dan memuji tulisannya yang semakin bagus. Tepat disaat itu Yeong Won mendapat sms dari Choong Nam  yang berkata kalau dia sudah tahu tentang penyakit Nan Hee, selain itu Choong Nam juga memberitahun kalau Hee Ja terkena demensia. Mendengar kabar tentang Hee Ja, Yeong Won pun menangis.


Sung Jae dan yang lainnya masih berada di rumah Hee Ja dan sampai sekarang Hee Ja juga belum pulang. Choong Nam menyiapkan sarapan untuk mereka semua, namun tak ada diantara mereka yang mau makan. Tapi setelah Choong Nam berkata kalau orang tua harus makan kalau tidak mau mati bersama, Jung A langsung ikut makan bersama Choong Nam.


Sung Jae kemudian teringat pada pengakuan Hee Ja kalau peristiwa terbahagianya adalah ketika melahirkan anak sulungnya sedangkan hal yang membuatnya paling sedih adalah ketika dia kehilangan anak sulungnya. Anak sulungnya meninggal di gendongannya ketika Hee Ja hendak membawa ke rumah sakit. Saat itu Hee Ja terus berjalan dan berjalan di antara pepohonan. Sung Jae kemudian menggabungkan dengan informasi dari rekaman CCTV, kalau Hee Ja juga menuju ke Misari dengan sesuatu di punggungnya. Seperti mendapat petunjuk, Sung Jae kemudian bertanya pada Jung A, dimana kampung halaman suami Hee Ja. Jung A menjawab di Korea utara, Hamgyeong do.


“51 Yangoh-ri, Yangri-myeon, Gyeonggi-do. Korea utara tempat asal mertuanya Hee Ja. Dulu aku kerja di daerah sana. Pabrikku... dekat gunung di Yangri-myeon. Hee Ja tinggal bersama orangtuanya di sana 2 sampai 3 tahun. Saat itulah Jung A membawa orang tuanya ke Seoul dan tinggal disini. Aku tinggal di perumahan pegawai pabrik... selama sekitar tiga bulan. Kau ingat? Aku bilang padamu aku pergi mengunjungi Hee Ja beberapa kali,” jawab Sun Kyun  setelah terbangun dari tidurnya. Merasa kalau Hee Ja ada di sana, Sung Jae pun langsung mengajak Sun Kyun ke sana. Jung A dan Choong Nam pun ikut. 


Sedangkan Min Ho disuruh menunggu di rumah, selain menunggu kalau saja Hee ja tiba-tiba pulang, juga untuk berjaga-jaga kalau saja Ha Neul tiba-tiba melahirkan.  

Sun Kyun pergi bersama Jung A dan Sung Jae pergi bersama Choong Nam. Mereka pergi dengan mobil yang berbeda. Mereka juga mengambil jalan terpisah.



Wan dan Nan Hee sarapan bersama. Wan kemudian mengajak ibunya jalan-jalan dan ibunya setuju. Nan Hee lalu bertanya apa Wan menyukai ibunya, karena kebanyakan anak akan menangis kalau ibunya sakit, apalagi terkena kanker. Tapi apa yang Wan lakukan, dia tak terlihat sedih sama sekali. Wan pun hanya tersenyum mendengar pertanyaan ibunya. Hmmm... Nan Hee tak tahu kalau Wan juga amat sedih, namun Wan menyembunyikannya.


Dalam perjalanan keduanya mengaku kalau mereka sama-sama penasaran dengan apa yang mereka pikirkan masing-masing. Wan pun menyuruh Nan Hee untuk memikirkan apapun yang membuatnya senang. Dia bahkan menggoda ibunya dengan menyuruh sang ibu memikirkan pacarnya, agar dia merasa senang. Tentu saja Nan Hee tak mau, dia sekarang sedang berada di ambang hidup dan mati, jadi mana bisa dia berpikir tentang pria.


Wan terus menggoda sang ibu dengan bertanya apa ibunya sudah tidur dengan pria itu. Ketika melihat respon ibunya yang terlihat kesal, Wan pun menebak kalau ibunya pasti belum melakukannya, jadi Wan menyimpulkan kalau Nan Hee lebih suka Wan dari pada pria itu, karena Nan Hee sudah sering tidur bersama Wan.

Sun Kyun sampai terlebih dahulu di jalan yang banyak terdapat pepohonan dan mereka melihat Hee Ja berjalan menuju mobil mereka. Dari arah berlawanan Sung Jae muncul dan dia langsung berhenti karena melihat Hee Ja di depan mereka. Choong Nam berkata kalau dia yang akan turun untuk menemui Hee Ja, sedangkan Sung Jae harus menghubungi Min Ho untuk memberitahukan kalau ibunya sudah ditemukan.




Choong Nam menghampiri Hee Ja terlebih dahulu dan Hee Ja mengenalinya. Ketika Jung A yang menghampirinya, Hee Ja tiba-tiba mengamuk. Dia menyalahkan Jung A, karena Jung A tak membantunya disaat anaknya sakit, saat di telephone, Jung A malah berkata, “Hidupku juga susah! Jangan merengek!” dan kemudian menutup teleponnya. Hee Ja menangis dan mengeluh kenapa hidup Jung A selalu susah hingga membuat Hee Ja bisa mengeluh padanya. Jung A terduduk lemas mengetahui semuanya, dia akhirnya tahu apa yang Hee Ja rasakan selama ini. Setelah Hee Ja sedikit tenang, Jung A langsung menghampirinya dan memeluknya.


Wan dan Nan Hee sampai di sebuah penginapan. Agar mereka bisa bersenang-senang, Nan Hee membawakan soju dan cemilan untuk Wan. Mereka kemudian berkaroke ria.


Hee Ja diantar pulang. Dengan marah dia langsung masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya, dia tak memperbolehkan siapapun masuk. Choong Nam kemudian memberitahu Jung A kalau Hee Ja baik-baik saja, dia hanya merasa malu. Jung A kemudian mengajak Choong Nam tidur di rumahnya, karena Choong Nam sendiri sudah tua, dia tak akan punya tenaga untuk pulang sendiri ke rumah. Choong Nam pun setuju.


Sun Kyun dan yang lain pergi, namun Sung Jae masih terdiam di depan rumah Hee Ja. Di dalam rumah, Hee Ja berbaring di temani Min Ho. Hee Ja pun berkata kalau dia baik-baik saja setelah minum obat, jadi dia menyuruh Min Ho pulang untuk menemui istrinya. Namun Min Ho tak mau pulang, dia ingin tidur bersama ibunya. Mereka berdua sama-sama menangis dalam diam. Tak lama kemudian, Hee Ja sudah tertidur lelap dan Min Ho masih menangis. Dengan lembut Min Ho kemudian mencium pipi,  tangan  dan kaki ibunya.


Wan sudah terlihat mabuk dan terus menciumi pipi Nan Hee. Tapi ternyata Wan hanya berpura-pura mabuk, dia kemudian pergi kekamar mandi dan menyuruh Nan Hee yang memberesi meja. Saat berada di kamar mandi, Wan menampar pipinya dan Nan Hee bertanya kenapa, karena dia mendengar suara tamparan itu. Wan kemudian meminta Nan Hee menyanyikan lagu untuknya. Disaat lagu sudah di putar dan Nan Hee sibuk bernyanyi, Wan kembali menampari pipinya sendiri.

Wan pun bernarasi, “Waktu aku tahu ibu kena kenker dari bibi Yeong Won... aku akhirnya melihat betapa egoisnya aku. Alih-alih khawatir dengannya... aku malah khawatir pada diriku sendiri dan apa yang harus kulakukan... dengan Yeon Ha. Aku Cuma memperdulikan diriku sendiri. Jadi maksudku...putrinya Jang Nan Hee, Park Wan.... bukan. Setiap anak di dunia ini... tidak berhak meneteskan air mata. Setiap anak memang egois.”


Bersambung ke sinopsis Dear My Friends Episode 15

No comments :

Post a Comment