August 6, 2016

38 Task Force Episode 7 - 2


Dalam flashback, ternyata memang Jung Do yang menelepon Sung Il 2 dan melaporkan kalau Sung Il dari divisi 3 menerima suap. Waktu itu dia menelepon dari penjara, hmm... kenapa dia melakukannya yah? Aku menduga mungkin dia melakukannya untuk balas dendam atau mungkin juga untuk mendorong Sung Il agar mau menerima kerja samanya.



Komisaris Ahn bertanya apakah Jung Do punya bukti yang bisa membuktikan bahwa Sung Il menerima suap. Tapi Jung Do langsung ketawa geli lalu dengan santainya mengklaim kalau teleponnya waktu itu cuma telepon iseng, dia melakukannya karena lagi bosan. Dia meminta maaf atas telepon isengnya itu lalu pamit dengan senyum geli.

Tapi baru saja dia beranjak bangkit, Komisaris Ahn langsung melabraknya, apa Jung Do pikir kantor pajak itu mainan. Jung Do dengan santainya memberitahu Komisaris Ahn bahwa di cafe ini ada banyak orang dan dia punya suara yang cukup nyaring yang bisa saja membuat Komisaris Ahn jadi malu.

"Bukankah anda adalah pejabat publik? Aku yakin kalau anda akan kehilangan banyak. Apa anda mau berakhir seperti Baek Sung Il?" ancam Jung Do


Kantor pajak ditelepon oleh Park Sang Ho (orang yang sering datang merecoki Sung Il untuk memotong tunggakan pajaknya). Dia minta bicara dengan Sung Il tapi Sung Il sedang tidak ada, akhirnya dia bicara dengan Ketua Tim Kang.

Sang Ho memberitahu kalau dia mau membayar pajaknya sekarang dan minta bertemu. Ketua Kang heran sampai tak percaya mendengarnya, tapi dia langsung setuju untuk bertemu dengannya. Sang Ho meminta agar Sung Hee juga ikut.

Saat Ketua Kang memberitahukan niatan Sang Ho itu pada anak-anak buahnya Sung Il, mereka juga bereaksi sama seperti Ketua Kang, sama-sama heran. Karena Sang Ho itu miskin dan tak punya uang. Ketua Kang tak terlalu ambil pusing dan langsung bersiap pergi lalu membangunkan Chang Ho yang sedang nyenyak tidur dan mengajaknya pergi.


Sung Hee masih bersama Sung Il saat Ketua Kang meneleponnya dan mengabarinya tentang Sang Ho. Sung Hee lalu memberitahukan masalah ini pada Sung Il. Sama seperti yang lain, Sung Il juga heran, dari mana Sang Ho mendapatkan uang untuk bayar pajak. Sung Hee mengajak Sung Il untuk ikut dengannya, tapi Sung Il harus kembali ke kantor.


Jung Do mengunjungi Jae Sung dipenjara untuk menanyakan kebenaran berita tentang Jae Sung yang katanya menerima suap. Jika tidak berarti Jae Sung pasti akan segera keluar dari penjara. Jung Do berkata kalau dia percaya pada Jae Sung. Tapi Jae Sung tak suka mendengar ucapannya, apa Jung Do sedang mengkasihaninya?

"Itu adalah apa yang seharusnya kau katakan pada ayahku" ujar Jung Do dengan nada lebih sinis "Aku tahu kau tidak bersalah, tapi kau tidak akan bisa keluar. Ayahku juga tidak akan bisa keluar... berkat seseorang"

Dia lalu mengaku bahwa saat Deok Gi menelepon Jae Sung untuk melaporkan penipuan yang dilakukannya, sebenarnya dialah yang menyuruh Deok Gi untuk melakukannya. Dalam flashback, klaimnya Jung Do ternyata memang benar. Saat Deok Gi melapor pada Jae Sung, Jung Do duduk di depan Deok Gi. Jae Sung jelas langsung marah mendengarnya.

"Itu namanya melempar 2 burung dengan satu batu. Ahjussi, jangan memberiku alasan untuk mengejarmu, mengerti?"


Ketua Kang dan Chang Ho sudah menunggu kedatangan Sang Ho di stasiun subway, tempat janjian mereka dengan Sang Ho. Sambil menunggu, Ketua Kang bertanya-tanya kapan kontrak kerjanya Chang Ho berakhir (dia pegawai magang).

Chang Ho berkata bulan depan, setelah itu dia ingin menjadi polisi. Karena menjadi polisi pastilah sulit, Ketua Kang menasehati Chang Ho untuk tidak kebanyakan tidur. Chang Ho memang seorang pekerja yang baik, tapi dia terlalu banyak tidur.

Tapi Chang Ho mengaku bahwa dia tidur untuk membuat semua orang merasa nyaman. Dia hanya bekerja selama beberapa bulan di sana, jadi tak ada seorangpun yang menganggapnya sebagai bagian dari keluarga.

Jika dia meminta pekerjaan maka orang-orang akan merasa tak nyaman padanya, karena itulah dia tidur. Lagipula kalau mereka membutuhkannya untuk melakukan sesuatu, mereka pasti akan membangunkannya.


Chang Ho lalu meninggalkan Ketua Kang ke toilet. Tapi tepat setelah Chang Ho meninggalkan Ketua Kang, seseorang tiba-tiba mendekatinya dan menegurnya.

Ternyata dia Sang Ho yang tampak sedang menggenggam sebuah kantong kertas erat-erat. Dan anehnya, dia tampak gugup dan langsung celingukan mencari Sung Hee. Dimana Sung Hee, tanyanya. Ketua Kang heran memperhatikan ekspresinya yang aneh, ada apa dengan Sang Ho.

Sang Ho tak menjawab, malah terus menerus bertanya kapan Sung Hee datang. Dia bersikeras kalau Sung Hee harus datang, bahkan memaksa Ketua Kang untuk menghubungi Sung Hee sekarang. Dia diberitahu kalau dia harus menyerahkan kantong yang dipegangnya itu pada Sung Hee. Saat itu Sung Hee baru saja memarkir mobilnya dan berjalan masuk ke subway.


Ketua Kang jadi penasaran, apa isi kantong itu. Dia ingin melihat. Dan saat Sang Ho terus berusaha melindungi kantong itu, Ketua Kang langsung memaksa dan merebut kantong itu darinya. Begitu mendapatkannya, Ketua Kang langsung membukanya dan langsung terkejut mendapati kantong itu berisi penuh uang.

Tentu saja Ketua Kang langsung curiga, dari mana Sang Ho mendapatkan semua uang ini. Tak jauh dari sana, seseorang tampak sedang mengawasi mereka. Sang Ho langsung gugup tak bisa menjawab, tapi lagi-lagi dia terus ngotot menuntut kedatangan Sung Hee. Ketua Kang jadi semakin curiga, kenapa Sang Ho terus menanyakan Sung Hee.

"Apa seseorang memberitahumu untuk memberikan uang ini padanya?"


Chang Ho kembali dari toilet. Saat melewati area ATM, dia melihat seseorang bermasker yang tampak mencurigakan. Dia melihat orang itu membawa kamera dan memotret secara diam-diam... memotret Sang Ho dan Ketua Kang yang sedang memegang sekantong uang.

Menyadari apa yang sedang dipotret pria bermasker itu, Chang Ho langsung memberitahu Ketua Kang tentang perbuatan orang itu. Orang itu langsung melarikan diri, Chang Ho pun langsung mengejarnya. Ketua Kang menyadari apa yang terjadi, Sang Ho menjebaknya.

Dia langsung menuntut siapa yang menyuruh Sang Ho melakukan ini, tapi Sang Ho malah berusaha keras untuk merebut kantong itu darinya.


Chang Ho dan pria itu berlari melewati Sung Hee yang baru saja tiba. Tentu saja dia keheranan melihat mereka, apalagi saat dia melihat Ketua Kang sedang otot-ototan dengan Sang Ho dan memperebutkan sebuah kantong. Mereka saling berebut sengit hingga akhirnya kantong itu pecah dan berlembar-lembar uang berhamburan.

Sang Ho melihat Sung Hee datang saat itu dan langsung melarikan diri. Sung Hee menghampiri Ketua Kang tapi Ketua Kang menyuruhnya untuk mengejar Sang Ho.


Chang Ho berhasil menangkap pria itu. Dia berusaha mengambil kameranya dari dalam kantong celana pria itu, tapi pria itu melawannya dan langsung memukulinya habis-habisan. Saat pria itu terus menerus memukulinya, Chang Ho diam-diam mengambil sebuah batu lalu menghantamkannya ke kepala pria itu.


Chang Ho akhirnya mendapatkan kamera itu. Dia langsung mengecek isi kamera itu saat itu juga tanpa menyadari kehadiran seseorang yang datang membawa tongkat dan langsung menghantamkannya ke kepala Chang Ho hingga dia pingsan seketika.


Sang Ho terus melarikan diri hingga akhirnya dia lepas dari Sung Hee. Dia langsung menangis sambil bergumam bahwa dia tidak bersalah. Sung Hee berhasil menyusulnya tapi sudah terlalu terlambat, Sang Ho sudah masuk kedalam kereta. Tapi sebelum kereta membawanya pergi, Sang Ho meminta maaf pada Sung Hee.


Sung Il bergegas ke UGD begitu mendengar insiden yang dialami Chang Ho. Rekan satu timnya sudah ada di sana saat dia tiba. Dia langsung menuntut apa yang sebenarnya terjadi. Tak ada yang berani menjawab, Ketua Kang lah yang memberitahunya bahwa sepertinya ada seseorang yang berusaha menargetnya dan Sung Hee. Sung Il pun langsung keluar sambil menyuruh anak buahnya untuk mengirimkan alamat rumah Sang Ho padanya.


Kejadian di subway itu langsung masuk berita TV dan Sang Ho menontonnya dalam kamarnya. Dia tampak sangat stres dan ketakutan lalu minum sesuatu.


Dalam perjalanan ke rumah Sang Ho, Sung Il teringat saat pertama kali mereka menyitai rumah Bang dengan dipimpin oleh Min Sik. Sama seperti pada Sung Hee, waktu itu Bang juga menanyakan nama Min Sik.

Sama pula seperti Sung Hee, Min Sik langsung memberitahukan nama dan jabatannya. Dengan senyum manis, Bang bersumpah kalau dia pasti akan mengingat nama itu. Lalu setelah kejadian itu, Min Sik dituduh melakukan suap dan tak ada seorangpun yang mempercayainya.


Istrinya Sang Ho baru pulang belanja. Dia memanggil Sang Ho tapi tak ada jawaban. Dia lalu membuka pintu kamar mandi, dan langsung menjerit shock... Sang Ho terkapar kaku di sana dengan mulut berbusa.


Di kantor polisi, Deok Bae sedang sibuk mengomeli beberapa preman. Seseorang tiba-tiba datang menghampirinya, dan Deok Bae langsung terdiam kaget melihatnya.


Di tengah jalan, Sung Il tiba-tiba ditelepon Deok Bae dan memberitahunya bahwa pelaku yang menyerang Chang Ho sekarang menyerahkan diri. Tapi... entah apa yang dikatakannya, tapi seketika itu pula Sung Il langsung putar arah dan melupakan Sang Ho.


Pada saat yang bersamaan Bang sedang makan bersama seseorang. Dilihat dari sikapnya yang sangat sopan pada orang itu, mungkin orang itu adalah Choi Chul Woo. Dia memberitahu orang itu bahwa negara mereka adalah tempat yang bagus untuk hidup.

Hal terbaik di negara mereka ini adalah orang-orang miskin akan saling membunuh satu sama lain demi orang-orang seperti mereka. Itu adalah hal yang sangat bagus karena mereka jadi bisa memanfaatkan orang-orang itu dengan mudah.


Sung Il tiba di kantor polisi... dan terkejut mendapati Jin Seok lah pelaku yang menyerahkan diri itu. Sung Il lalu membawa Jin Seok ke toilet agar mereka bisa bicara berdua. Sung Il langsung menuntut jawaban Jin Seok, apa benar dia yang membuat melumpuhkan anak buahnya.


Saat Jin Seok menanggapinya dengan cuek, Sung Il langsung mendorongnya ke tembok. Jin Seok mengklaim kalau dia terpaksa harus melakukan ini demi memperbaiki hidupnya sendiri yang hancur gara-gara ulah Sung Il dan para penipu itu. Sung Il bertanya-tanya apa Bang yang menyuruhnya. Jin Seok tak menjawabnya tapi dia menyalahkan perbuatan mereka yang berani cara perkara dengan Bang.


Seharusnya mengejarnya saja sudah cukup, tidak seharusnya mereka mengejar uangnya Bang juga. Bang sangat marah, karena itulah dia membayar seorang pria (Sang Ho) untuk menjebak mereka agar mereka dipecat.

"Tapi anak buahku yang melihatnya? Siapa yang telah melakukan itu padanya?"

Dalam flashback, ternyata yang menghantam kepala Chang Ho adalah anaknya Bang, Ho Seok. Sung Il langsung mengerti, Bang pasti menyuruh Jin Seok untuk menyerahkan diri ke kantor polisi menggantikan Ho Seok.

Dengan senyum sinis, Jin Seok berkata bahwa tak ada yang bisa dilakukan oleh orang-orang seperti mereka selain menuruti keinginan para orang kaya. Bang sudah berjanji akan membawanya kembali jika dia mau menggantikan Ho Seok.


Dia juga memperingatkan Sung Il untuk tidak cari masalah dengan Bang dengan menggunakan apa yang dia katakan barusan karena Bang sudah bicara dengan kepala polisi di sini. Mungkin dia akan bertemu Sung Il tahu setelah satu tahun, atau mungkin juga tidak karena dia sudah membayar pajak dan menjadi warga negara yang baik.

"Hei, apa uang benar-benar bisa menyelesaikan segalanya?" tanya Sung Il dan Jin Seok menjawabnya hanya senyum.


Saat hendak keluar, Sung Il ditelepon Ketua Kang yang berkata bahwa dia akan bertanggung jawab. Lebih baik dia mengundurkan diri sebelum keadaan menjadi semakin memburuk, dia juga sudah membicarakannya dengan Komisaris Ahn.

Sung Il tak setuju, semua ini cuma jebakan yang dibuat Bang. Tapi Ketua Kang cepat memotongnya dan memberitahunya bahwa inilah yang diinginkan atasan mereka. Dia akan pergi tapi dia meminta Sung Il untuk tetap bertahan sampai akhir dan mendapatpan uang pensiunnya.


Tepat setelah Ketua Kang mematikan teleponnya, Sung Il mendapat telepon dari anak buahnya yang membuatnya lebih terkejut. Tak lama kemudian, dia tiba di rumah duka, di pemakaman Sang Ho. Anak-anak buahnya sudah ada di sana saat dia tiba. Sung Il melihat istri dan anaknya Sang Ho di sana lalu memberikan penghormatan terakhirnya untuk Sang Ho.


Pada saat yang bersamaan, Ketua Kang mengemasi barang-barangnya di kantor sementara Ibunya Chang Ho menangisi putranya yang terbaring sekarat di ranjang rumah sakit.


Sung Il lalu kembali ke kantor polisi dimana dia melihat Sung Hee sedang diinterogasi. Saat Deok Bae datang, Sung Il bertanya-tanya apakah kasus ini ditutup begitu saja. Deok Bae mengaku tak bisa berbuat apa-apa, karena Jin Seok sudah mengaku jadi kepala polisi mereka menyuruh mereka untuk menutup kasus ini.

"Tapi itu tidak benar, Ma Jin Seok sendiri yang mengatakan padaku..."

"Sung Il-ah, di sini juga sama seperti di kantormu. Jika atasan memutuskan sesuatu maka kita tidak bisa mengubahnya. Seperti itulah bagaimana sebuah organisasi bekerja"


Sung Hee akhirnya keluar tak lama kemudian. Sung Hee mengaku bahwa saat dia diinterogasi, dia teringat hal terakhir yang dia ucapkan pada Sang Ho adalah 'pergilah bekerja'. Dia benar-benar menyesal, seharusnya dia meminta maaf pada Sang Ho, tapi dia malah akan meminta maaf pada Bang.


Dalam perjalanan naik taksi, Sung Il teringat akan apa yang pernah Bang ucapkan pada mereka 6 tahun yang lalu. Waktu itu Bang memperingatkan mereka untuk tidak menyalahgunakan otoritas mereka pada orang-orang sepertinya, karena otoritas mereka itu berasal dari simpati orang-orang sepertinya.

Orang-orang seperti mereka bisa makan, tidur, buang air, dan lain sebagainya adalah berkat simpati orang-orang kaya seperti dirinya. Orang-orang seperti dirinya menyumbang untuk mereka karena kasihan pada orang-orang seperti mereka.

Karena itulah, orang-orang seperti mereka tidak seharusnya menceramahinya tentang tugas-tugas menjadi warga negara yang baik. Dia tidak berutang apapun untuk negara, negara lah yang berhutang padanya.


Sung Il tiba di apartemennya Jung Do dan bertanya serius "Apa uang benar-benar bisa menyelesaikan segalanya?"

Jung Do langsung heran dan cemas, apa terjadi sesuatu. Sung Il memberitahunya bahwa salah satu anak buah magangnya terluka parah dan Sang Ho dibeli dengan uang... "Jung Do-yah, aku harus menghancurkan mereka semua. Mari kita lakukan satu pekerjaan lagi"

Bersambung ke episode 8

No comments :

Post a Comment