August 29, 2016

38 Task Force Episode 13


Setelah hakim memvonisnya 10 tahun penjara, Jung Do menatap Sung Il tajam dan penuh kekecewaan. Akan tetapi dalam flashback, kita melihat Sung Il sebenarnya tidak pernah mengkhianati Jung Do.


Saat Jung Do menyerang Sung Il hingga mereka terjungkal ke balik meja, Jung Do memanfaatkan saat itu untuk membisiki Sung Il dan menyuruhnya untuk mencari tahu sumber uangnya Ketua Choi yang sebenarnya dan dimana Ketua Choi menyembunyikan uangnya.

Jung Do juga meminta Sung Il untuk mengkhianatinya, karena hanya dengan cara itu Sung Il akan bisa bertahan. Baru setelah dia membisiki semua hal itu, dia pura-pura menjerit-jerit mengutuki Sung Il.

2 Tahun Kemudian...


Sung Hee mengunjungi Jung Do di penjara. Mereka saling tersenyum sebelum Sung Hee memberitahunya bahwa Sung Il turun jabatan sejak insiden itu dan keadaannya semakin memburuk. Tapi Sung Hee mengaku bahwa dia sudah diberitahu segalanya oleh Sung Il, dia tahu kenapa Jung Do dipenjara dan janji yang Jung Do buat bersama Sung Il.

Jung Do cepat menyela dan memberitahu Sung Hee bahwa apa yang dia dan Sung Il rencanakan, bisa saja menyakiti ayahnya Sung Hee, Walikota Chun. Jung Do tahu kalau Ibunya Sung Hee menceraikan ayahnya Walikota Chun sejak Sung Hee masih kecil, tapi tetap saja dia ayahnya Sung Hee.

"Apa kau akan baik-baik saja?"

"Ibuku masih sering mengatakan ini padaku. Ayahmu adalah seorang suami yang sangat buruk, tapi dia manusia yang sangat inspiratif. Tapi menurut pengamatanku selama beberapa tahu, Walikota Chun Gap Soo bukanlah orang semacam itu"


Jung Do sekali lagi memperingatkan Sung Hee bahwa rencananya ini bisa menghancurkan karir Walikota Chun sampai pada titik yang tidak akan bisa diperbaiki. Sung Hee mengaku bahwa jika dia memikirkan dirinya sendiri, maka tentu saja hal ini adalah suatu hal yang tak mengenakkan.

Tapi jika dia memikirkan Ketua Kang, Chang Ho dan Park Sang Ho, dia tahu kalau ini adalah hal yang benar untuk dilakukan. Kekuasaan tidak seharusnya digunakan untuk menyakiti orang, kekuasaan seharusnya digunakan untuk melindungi orang-orang yang terluka.

"Kau yakin kau tidak akan menyesal?"

"Jangan buat aku menyesali keputusanku, kumohon"

Jung Do tersenyum mendengarnya dan berjanji akan berusaha sebaik mungkin. Tapi apa yang sebenarnya terjadi dengan Sung Il dan kenapa dia menceritakan segalanya pada Sung Hee. Sambil mendesah, Sung Hee berkata bahwa Sung Il sekarang sudah berubah menjadi dirinya yang dulu.


Di kantor, Sung Il sekarang jadi bawahan Shim yang tak segan mengomeli Sung Il habis-habisan bahkan menghina Sung Il kalau Sung Il kerja tak becus, dan Sung Il menerima semua omelan dan hinaan Shim tanpa protes sedikitpun.


Hari itu Kakek pemilik kedai yang biasanya mereka datangi datang mencari Sung Il. Sepertinya Kakek sudah beberapa kali mendatangi kantor pajak dan meminta bantuan Sung Il. Tapi Sung Il sekarang sudah berbeda, dia bahkan tampak kesal karena terus menerus didatangi Kakek dan langsung mengusir Kakek.


Ketua Kim, mantan bawahan Sung Il yang sekarang naik jabatan menggantikan posisi Sung Il, frustasi melihat sikap Sung Il yang sekarang. Setelah melihat Sung Il mengantarkan Kakek itu keluar dari kantor mereka, Ketua Kim langsung mendatangi Sung Il dan mengkonfrontasi sikap dingin dan kejam Sung Il pada Kakek padahal Kakek jauh-jauh datang kemari untuk menemui Sung Il.

Tapi Sung Il langsung membela diri karena tak ada apapun yang bisa dia lakukan untuk membantu Kakek itu. Ketua Kim bertanya, apakah saat Sung Il melihat Kakek itu, dia tidak teringat akan Park Sang Ho. Situasi Kakek itu mirip dengan situasi Sang Ho dulu.

Orang-orang seperti Sang Ho dan Kakek mendatangi mereka karena tak ada orang lain yang bisa mereka ajak bicara. Tidak bisakah Sung Il setidaknya mendengarkan keluhan Kakek itu? Jika Kakek itu berakhir seperti Sang Ho, bagaimana perasaan Sung Il nantinya?

Tentu saja Sung Il ingat dengan jelas bagaimana dulu Sang Ho sering mendatanginya di kantor hingga hidupnya berakhir tragis. Tapi pada Ketua Kim, Sung Il mengklaim kalau dia tidak peduli. Apapun yang akan terjadi pada Kakek, sama sekali bukan urusannya. Kenapa juga dia harus peduli, mereka bahkan tidak punya hubungan apapun.

Ketua Kim benar-benar frustasi melihat Sung Il "Apa yang sebenarnya terjadi padamu?"

"Tidak ada, aku memang seperti ini"


Walikota Chun pergi menemui Ketua Choi yang penasaran dengan Sung Il sekarang. Walikota Chun meyakinkannya untuk tidak cemas, Sung Il sekarang sudah tidak lagi berulah. Puas mendapat jawaban itu, Ketua Choi lalu menanyakan masalah pembangunan kembali daerah Maseok-dong.

Ah, ternyata daerah Maseok-dong itu adalah daerah tempat tinggal Kakek. Pasti karena masalah ini Kakek jadi sering pergi mendatangi Sung Il. Maseok-dong adalah kawasan termiskin di Kota Seowon dan pajak dari daerah ini pun yang jumlahnya paling sedikit. Ketua Choi sudah membeli semua bangunan kawasan itu dan berencana menggusurnya.


Tapi Walikota Chun kurang setuju karena dia tak enak untuk mengusir para penyewa di sana. Mereka sudah miskin, kalau mereka diusir maka mereka akan menjadi gelandangan. Tapi Ketua Choi sama sekali tidak mempedulikan masalah itu, daerah itu sudah menjadi miliknya jadi dia tidak mau menyerah hanya karena rasa iba.

Lagipula dia sudah menawarkan kompensasi, dia juga sudah memberi mereka waktu untuk pindah. Dia sudah melakukan apa yang harus dia lakukan menurut hukum.

"Ini bukan masalah hukum, tapi Hak Asasi Manusia. Menaati hukum tidak bisa membenarkan kekerasan"

Kesal, Ketua Choi langsung menyindir Walikota Chun. Bisa-bisanya seorang walikota yang menginginkan masa jabatan kedua, malah mengatakan hal yang menentang hukum. Ketua Choi menyatakan bahwa dia selalu mengikuti hukum dan akan terus melakukan itu.

Para warga yang masih tetap di sana akan diusir dan bangunan-bangunan di sana akan dibongkar. Jika Walikota Chun tidak menyukai apa yang dilakukannya, maka silahkan saja Walikota Chun mengambil tindakan yang sesuai hukum.


Setelah Walikota Chun pergi, Ketua Choi menghubungi ketua preman yang dia sewa untuk mengusiri warga Maseok-dong. Setelah mendapat telepon itu, para preman langsung beraksi dan yang mereka takut-takuti adalah Kakek dan cucunya yang saling berpelukan dan meringkuk di pojokan. Saat Kakek protes, si preman langsung menyuruh anak-anak buahnya untuk beraksi menghancurkan kedai Kakek.


Mi Joo diberitahu Sung Hee bahwa Jung Do akan dibebaskan bersyarat. Tentu saja Mi Joo terkejut mendengarnya, bagaimana bisa Jung Do dibebaskan secepat itu padahal dia divonis 10 tahun. Sung Hee sendiri tidak tahu detilnya, yang pasti Jung Do akan segera dibebaskan, mungkin dia akan keluar minggu depan. Mi Joo benar-benar keheranan, bagaimana bisa 10 tahun berubah menjadi 2 tahun saja.

Tapi Sung Hee minta bertemu dengan Mi Joo, bukan cuma sekedar memberitahukan masalah ini. Dia juga ingin meminta bantuan Mi Joo. Karena Jung Do akan keluar sebentar lagi, Sung Hee meminta Mi Joo untuk membantu menghubungi dan mengumpulkan kembali rekan-rekan lama mereka.

Mi Joo pesimis, dulu mereka memang terpancing ucapan manis Jung Do. Tapi sekarang keadaannya berbeda, mereka adalah penipu yang tidak akan mau bekerja jika tidak ada untungnya. Tapi bagaimanapun, Mi Joo berjanji akan mencoba bicara pada mereka.


Di kantor, Sung Il menjilat para atasannya dengan membagi-bagikan minuman kesehatan. Ketua Kim jadi semakin frustasi dan kesal melihat sikap Sung Il. Saking kesalnya pada Sung Il, Ketua Kim memerintahkan Sung Il untuk memanggilnya dengan sopan sesuai dengan jabatannya. Dan Sung Il langsung melakukan perintahnya tanpa ragu, Ketua Kim malah jadi semakin kesal.


Saat dia keluar, lagi-lagi dia melihat Kakek datang dengan memakai rompi yang bertuliskan penentangan pembangunan kawasan Maseok-dong. Tapi Sung Il tetap mengacuhkannya dan berjalan lewat begitu saja walaupun Kakek memanggilnya.


Tapi saat dia melihat Walikota Chun datang dan menghampiri Kakek, dia langsung berhenti dan melihat Walikota Chun menggenggam tangan Kakek dan meyakinkan Kakek untuk tidak cemas. Walikota Chun berjanji bahwa dia akan berusaha agar Kakek dan penghuni Maseok-dong lainnya tidak akan kehilangan mata pencaharian mereka karena keserakahan pengusaha.


Kembali ke ruangannya, Walikota Chun menelepon Ketua Choi dan memberitahunya bahwa dia akan bertemu dengan penduduk Maseok-dong. Setelah Walikota Chun menutup teleponnya, Ketua Choi tersenyum licik dan bergumam bahwa Walikota Chun itu adalah buaya.


Sementara itu, Mi Joo mendatangi Burner, Keyboard dan Nyonya Noh untuk berusaha membujuk mereka membantu Jung Do. Dia memberitahu mereka bahwa Jung Do sudah berkorban demi mereka semua dengan menanggung sendiri semua kesalahan mereka.

Tapi tetap saja semuanya menolak. Keyboard beralasan kalau dia sudah mendapat surat panggilan wamil, Burner menasehati Mi Joo untuk tidak mempercayai Jung Do lagi hanya karena Mi Joo menyukainya dan Nyonya Noh juga memberi nasehat yang sama dengan Burner.


Mi Joo menelepon Sung Hee dan memberitahunya kalau semua orang menolak membantu Jung Do lagi. Sung Hee juga kecewa mendengarnya, tapi apa boleh buat. Tepat saat itu, Sung Il lagi-lagi dimarahi Shim karena salah menge-print laporan. Sung Hee hanya diam melihatnya dengan miris.


Saat Walikota Chun dalam perjalana ke Maseok-dong, para warga sudah berkumpul di sana termasuk Kakek dan cucunya. Beberapa media juga sudah ada di sana, sedang mewawancarai para pengunjuk rasa yang menolak penggusuran tempat tinggal mereka. Begitu melihat Walikota Chun datang, para reporter langsung menyerbunya tapi Walikota Chun hanya mau bicara dalam pertemuan warga.


Siaran langsung Walikota Chun itu ditonton oleh Ketua Choi di kantornya. Dia lalu menyuruh sekretarisnya untuk mulai beraksi sekarang. Sekretaris pun menelepon anak-anak buahnya untuk mula beraksi sekarang. Para anteknya Ketua Choi itu menyamar jadi anggota pengunjuk rasa. Dan begitu mendapat perintah, mereka langsung maju dan bergabung dengan para warga.


Di kantornya, Ketua Choi menonton siaran langsung itu sambil memberitahu sekretarisnya bahwa Walikota Chun itu adalah buaya. Buaya tidak pernah berburu mangsa, justru dia membuat mangsanya datang sendiri ke mulutnya. Bahkan sekalipun dia berburu tapi dia tidak pernah mengotori tangannya dengan darah.


Para warga meneriakkan protes dengan cara baik-baik, tapi para anteknya Ketua Choi merusak aksi unjuk rasa itu dengan melempar telur pada Walikota Choi. Para warga langsung panik dan kebingungan.

Walikota Chun yang bahkan belum mengatakan apapun, langsung berbalik pergi dengan kecewa. Para warga jadi semakin ribut berusaha meminta Walikota Chun untuk tidak pergi meninggalkan mereka. Dan dalam keributan itu, Kakek terdorong sampai dia terjatuh dan terinjak-terinjak.


Di rumahnya, Sung il menonton berita tentang peristiwa itu. Reporter memberitakan pelemparan telur itu dilakukan oleh para warga yang marah pada Walikota Chun. Reporter menambah-nambahkan cerita bahwa Walikota Chun tampak tidak keberatan dengan pelemparan telur itu dan para bodyguard harus melawan para pengunjuk rasa yang marah. Tapi yang paling menarik perhatian Sung Il adalah Kakek yang tampak ditangkap oleh polisi.


Nyonya Noh dan Sekretarisnya juga menonton berita itu, Nyonya Noh mengenali Kakek sebagai pemilik kedai dan menyuruh Sekretaris untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Kembali ke kantornya, Walikota Chun menelepon Ketua Choi dan bertanya apakah pelemparan telur itu ulahnya Ketua Choi. Ketua Choi mengakuinya tanpa ragu. Walikota Chun terdengar marah dan bertanya kenapa Ketua Choi melakukan itu. Ketua Choi bertanya balik, bukankah itu yang Walikota Chun inginkan? Dia kira itu yang Walikota Chun inginkan.

Walikota Chun menyangkal, dia pergi ke sana untuk bicara baik-baik dengan warga dan bukannya mengusir mereka dengan cara paksa. Ketua Choi dengan entengnya bertanya, kalau begitu kenapa Walikota Chun memberitahunya tentang pertemuan itu? Ketua Choi memberitahu Walikota Chun bahwa mereka berdua sebenarnya sama walaupun prosesnya berbeda. Apa Walikota Chun pikir kalau dirinya adalah orang baik?

"Jika kau benar-benar orang baik, maka kau tidak akan menghubungiku. Kau tidak akan memperingatkanku sebelumnya" ujar Ketua Choi

Silahkan saja jika Walikota Chun memang ingin hidup dengan jalan baik-baik, sementara Ketua Choi sendirilah yang akan melakukan semua pekerjaan kotor. Dia memperingatkan Walikota Chun bahwa Walikota Chun harus menang dan terpilih dalam pemilu berikutnya.


Jung Do membaca berita koran tentang penyerangan warga pada Walikota Chun itu. Jung Do langsung memanggil penjaga penjara dan dengan sopan meminta penjaga untuk meminjaminya hape. Dia menelepon semua orang untuk membujuk mereka. Nyonya Noh tetap menolak, kenapa juga dia harus melakukannya, tidak ada untungnya.


Tapi Jung Do berkata itu tidak benar, orang-orang kaya takut pada para penipu seperti mereka. Orang-orang kaya itu adalah orang-orang selalu meremehkan hukum dan orang lain, tapi mereka takut pada para penipu seperti mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, mereka takut pada orang-orang yang mereka anggap rendah.

"Dunia dimana kejahatan lebih unggul adalah dunia yang buruk. Dunia tanpa akal sehat itu buruk. Dunia dimana ilegalitas yang menang itu buruk. Jadi, mari kita lakukan sekali lagi"

Mereka memang penipu, tapi mereka akan melawan orang-orang yang benar-benar jahat dan serakah. Karena itulah, Jung Do menyemangati mereka untuk menunjukkan pada dunia bahwa orang baik akan menang dan orang jahat akan kalah.


Berkat ucapan Jung Do, satu per satu mereka pergi ke kedai Kakek dan mendapati barang-barang Kakek dan cucunya hancur dan tokonya terkunci.


Pada hari Jung Do dibebaskan, Mi Joo sudah menunggunya di depan gerbang penjara. Jung Do protes karena Mi Joo datang tanpa membawa apapun untuknya, seharusnya kan dia bawa tahu atau kopi. Dia lalu minta rokok tapi Mi Joo mengaku tak punya karena dia sudah berhenti merokok. Jung Do tak percaya, tapi Mi Joo serius. Jung Do langsung senang dan bangga mendengarnya.


Tak lama kemudian, Burner dan Keyboard datang. Saking senangnya, Keyboard bahkan langsung menubruk Jung Do dan memberinya pelukan erat-erat. Burner hampir kesal pada Jung Do, tapi Jung Do memuji rambut barunya Burner dan kemarahan Burner langsung hilang seketika. Nyonya Noh dan Sekretarisnya datang belakangan.


Mereka lalu berkumpul di gudang dimana Jung Do melaporkan pada mereka tentang bisnisnya Ketua Choi. Dalam flashback, kita melihat Jung Do mendapatkan informasi itu dari Sung Hee. Sumber uangnya Ketua Choi adalah pinjaman rentenir ilegal yang bunganya selangit.

Ketua Choi menguasai 70% pasar rentenir di Pyeong-dong tapi tentu saja tidak ada bukti bahwa uang rentenir di Pyeong-dong adalah milik Ketua Choi. Itu karena Ketua Choi tidak pernah menggunakan uang dari Pyeong-dong untuk berinvestasi di bisnis lain. Dia tidak pernah mencampur uang kotornya dengan uang bersih.

Sumber pendapatan utama Ketua Choi adalah dari Kukjin Construction. Perusahaan itu awalnya bernama Woohyang Construction, tapi kemudian memisahkan diri dari Woohyang Grup sebelum kasus skema piramida itu terungkap. Lalu setelah Woohyang bangkrut, mereka terus menerus berganti nama hingga akhirnya sulit dilacak.


Dalam flashback, Sung Hee mengaku bahwa dia dan timnya mengetahui kebenaran tentang Kukjin Construction setahun yang lalu. Tapi saat mereka melakukan penggerebekan ke kantor perusahaan itu, mereka mendapati pihak perusahaan itu sudah bertindak lebih cepat dengan memutus semua hubungan mereka dengan Ketua Choi.


Dilihat bagaimana Ketua Choi rela mengorbankan Woohyang Construstion dan Woohyang Tech tapi melindungi Kukjin, bisa disimpulkan kalau Kukjin sangat penting bagi Ketua Choi. Perusahaan ini diam selama beberapa tahun, tapi belakangan perusahaan ini aktif kembali dan memiliki hak pengembangan kawasan Maseok-dong.

"Siapa presiden boneka perusahaan itu?" tanya Nyonya Noh

"Cha Myung Soo" jawab Jung Do


Bang adalah tangan kanan Ketua Choi, sementara Cha adalah tangan kirinya. Dari penyelidikan, mereka mendapati Cha menggelapkan sejumlah uang perusahaan. Tapi karena jumlahnya tidak banyak, kemungkinan Ketua Choi membiarkannya.

Mi Joo berkomentar kalau Cha pasti sangat takut pada Ketua Choi hingga tidak berani menggelapkan uang dalam jumlah besar. Jung Do membenarkannya, Cha sangat amat ketakutan pada Ketua Choi.

Dalam flashback, Sung Hee berpendapat bahwa Ketua Choi memberikan Kukjin pada Cha, pasti karena Cha sangat takut padanya. Orang yang penakut tidak akan mengkhianati majikan mereka. Tapi Jung Do yakin kalau Cha itu pasti memiliki amarah yang terpendam.


Selanjutnya adalah Cho Sang Jin, dia adalah mantan akuntan pajaknya Ma Jin Seok yang pernah mengibaratkan orang-orang kaya sebagai ratu semut dan menasehati Sung Il untuk memungut pajak dari semut pekerja saja.

Sang Jin ternyata teman sekolahnya Cha dan Jung Do menduga mungkin firma akuntannya Sang Jin sedang mengalami masalah karena sekarang Sang Jin bekerja menangani keuangan Kukjin. Itu saja informasi yang mereka miliki.


Dalam flashback, Sung Hee memberikan informasi tambahan untuk Jung Do. Komisaris Ahn sekarang bekerja sebagai direktur di Kukjin. Mengingat Ahn adalah orang yang cepat tanggap, jadi Sung Hee mewanti-wanti Jung Do untuk berhati-hati dalam melakukan pekerjaannya nanti. Hanya ini saja bantuan yang bisa Sung Hee berikan untuk Jung Do, sisanya bisa Jung Do lakukan setelah dia keluar dari penjara.


Tapi Burner tiba-tiba merasa ada yang hilang. Mi Joo setuju, Keyboard juga setuju. Jung Do bingung, apa yang hilang. Mi Joo berkata seseorang yang biasanya ada di sini, sekarang tak ada. Sekretarisnya Nyonya Noh bertanya apakah orang yang dimaksudnya adalah Sung Il. Mi Joo membenarkannya dengan senyuman.

"Dia kembali menjadi seorang pecundang" Jung Do memberitahu mereka "Dia jadi sangat jinak. Kudengar, begitulah dia hidup sekarang... untuk menipu orang-orang di balai kota"


Dalam flashback, Sung Hee memberitahu Jung Do bahwa Sung Il sengaja mengubah dirinya jadi sosok dirinya yang dulu karena Shim memata-matainya untuk Pak Walikota. Sung Il sengaja berubah menjadi pegawai bodoh yang suka menjilat atasannya untuk mengelabuhi semua orang. Dengan begitu, saat Jung Do keluar dari penjara nanti, dia bisa bekerja dengan Jung Do lagi.


Sung Il sengaja mengabaikan ketidakadilan dan hinaan orang-orang akan dirinya demi memenuhi janjinya pada Jung Do. Walaupun selama dua tahun ini Sung Il sering dimarahi karena kerjanya yang tak becus, nyatanya selama itu pula diam-diam dia bekerja keras menyelidiki bisnisnya Ketua Choi.

"Jadi dia hidup dalam penyamaran selama 2 tahun?" tanya Nyonya Noh kagum


Sung Il pulang lebih cepat lalu langsung pergi ke kedai Kakek, tapi malah mendapati tempat itu hancur dan cucu Kakek, Da Mi, sendirian di dalam. Begitu melihat Sung Il, Da Mi langsung berlari ke pelukan Sung Il dan menangis.


Sung Il lalu mengunjungi Kakek di penjara dan semakin merasa bersalah melihat wajah Kakek yang babak belur. Sung Il berjanji akan menghancurkan orang-orang yang telah melakukan ini pada Kakek. Dia tidak mau lagi melihat orang-orangnya terluka.

Dengan mata berkaca-kaca Sung Il meminta maaf setulus hati pada Kakek. Dia meyakinkan Kakek untuk istirahat dengan tenang beberapa waktu di penjara, dia bersumpah akan menghancurkan para baj*ngan itu.


Keluar dari kantor polisi, Sung Il mendapati Jung Do sudah menunggunya di depan. Kedua pria itu saling tersenyum lalu pergi bersama. Jung Do memberitahu Sung Il bahwa mereka tidak bisa mengejar uangnya Ketua Choi karena dia yakin kalau Ketua Choi pasti sudah meningkatkan kewaspadaan sejak apa yang terjadi dua tahun yang lalu. Sambil mendesah, Jung Do bertanya apa yang harus mereka lakukan sekarang.

"Kenapa tanya aku? Apa yang terjadi padamu?"

"Karena niatmu lebih baik. Keadilan. Aku ingin menyingkirkan perasaan pribadiku. Aku tertangkap karena terlalu mengikuti emosiku. Aku tidak mau kembali ke penjara lagi. Ahjussi kau yang jadi sistem navigasi dan aku yang akan menyetir"


Sung Il memberitahu Jung Do bahwa sebentar lagi akan pemilu. Jika Walikota Chun terpilih lagi, maka kota ini tidak akan berubah. Bahkan sekalipun mereka berusaha menipu untuk mengumpulkan pajak orang-orang, pada akhirnya pajak itu akan kembali ke orang yang sama.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Kita harus menangkap orangnya dan bukannya pajaknya"


Di Kukjin, Sang Jin terkejut melihat kedatangan seseorang. Entah siapa orang itu.


Sung Il dan Jung Do minum-minum bersama. Tapi Jung Do memperhatikan Sung Il tampak murung, Sung Il pun mengaku karena tadi dia pergi ke kedai Kakek. Jung Do meyakinkan Kakek untuk tidak cemas, dia berjanji akan membatalkan pembangunan Maseok-dong dan menyelematkan kedai Kakek dengan cara menghancurkan Kukjin Construstion.

"Lalu apa yang akan kau lakukan dengan Walikota Chun?" tanya Sung Il

"Kita tidak akan menargetnya. Dia sudah mengenal kita"

"Lalu siapa yang akan melakukannya?"

"Ketua Wang"


Keesokan harinya, Ketua Wang dan Tuan Kim bebas dari penjara. Mereka langsung disambut oleh Nyonya Noh dan Sekretaris dan sederet pengawal. Tuan Kim bertanya kenapa tidak ada reporter.

Sekretaris menjelaskan bahwa konferensi press akan diadakan secara terpisah karena takutnya Ketua Wang tak nyaman dengan kehadiran media di sini. Nyonya Noh lalu bertanya kemana mereka harus mengantarkan Ketua Wang sekarang. Apa Ketua Wang mau pulang dulu?

"Tidak. Yang Jung Do, dimana dia sekarang?" tanya Ketua Wang.

Bersambung ke episode 14

No comments :

Post a Comment