July 7, 2016

Jackpot Episode 24 - 2 [END]


Saat hendak makan, Raja menyadari dayang pencicip makanannya adalah dayang baru. Tentu saja Raja curiga karena dia tidak pernah dayang pancicip makanan baru. Raja langsung memerintahkan si dayang untuk mencicip makanannya sekali lagi.

Si dayang langsung ketakutan, jelas di makanan itu ada racunnya. Si dayang langsung berlutut memohon ampun. Tapi saat Raja bertanya siapa dalang dibalik semua ini, si dayang langsung melarikan diri dan dibunuh oleh sekawanan prajurit yang diperintahkan Il Soo untuk membunuh Raja dan mereka dipimpin oleh Moo Myung.



Sang Gil seorang diri melindungi Raja dan melawan mereka. Dia berhasil mengalahkan yang lain tapi kalah melawan Moo Myung yang menusuknya dengan tusukan fatal di perut.


Moo Myung berkata pada Raja bahwa dia melakukan ini untuk membalaskan dendam In Jwa lalu mengayunkan pedangnya untuk membunuh Raja. Tapi tepat saat itu juga, kasim kembar datang dan membunuh Moo Myung sebelum dia sempat menancapkan pedangnya pada Raja.


Raja bangkit menghampiri Sang Gil yang sekarat, Sang Gil meminta maaf sebelum akhirnya meninggal dunia.


Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, Moo Myung memberitahu Raja bahwa Raja akan menghabiskan hidupnya sendirian seumur hidupnya dan mati seorang diri.


Mendengar ucapan Moo Myung itu, Raja langsung mencemaskan putra mahkota. Dia langsung bergegas pergi sementara kita melihat putra mahkota sedang makan dengan ditemani seorang dayang. Sementara itu, Ibu Suri dan para menteri soron menunggu di tempat masing-masing.


Saat Raja tiba di kediaman Putra Mahkota, dia mendapati Putra Mahkota sudah terbaring tak bernyawa. Si dayang langsung minum racun, salah satu kasim kembar berusaha menghentikannya tapi terlambat. Raja langsung terjatuh shock, tangannya gemetar saat dia menggenggam tangan kecil Putra Mahkota dan menangis.


Para prajurit langsung menangkap para menteri soron dan menyiksa mereka. Raja datang saat mereka disiksa lalu menginterogasi mereka dan bertanya siapa diantara mereka yang ikut ambil bagian meracuni Putra Mahkota. Awalnya mereka mengklaim kalau mereka tak bersalah. Tapi saat Raja membawa mayat si dayang, Il Soo mulai gemetar ketakutan.

Raja berkata kalau dia akan membiarkan mereka hidup jika mereka mau mengaku. Mendengar itu, Il Soo pun akhirnya mengaku kalau dia pernah beberapa kali melihat dayang itu di kediaman Ibu Suri. Raja langsung berpikir bahwa orang yang mendalangi semua ini adalah Ibu Suri.

"Kenapa kalian pikir kalau Ibu Suri bisa menyelamatkan nyawa kalian?" tanya Raja dengan penuh amarah sembari menghunuskan pedangnya dan memerintahkan para prajurit untuk menangkap semua saudara para menteri itu, baik saudara dekat maupun saudara jauh. Dan penyiksaan terhadap para menteri itu pun kembali dilanjutkan.


Para prajurit mendatangi gibang untuk menangkap Hwang Gu tapi dia sudah mati bunuh diri saat mereka tiba. Raja masuk ke kediaman Ibu Suri dengan membawa pedang dan bertanya kenapa Ibu Suri harus melakukan sesuatu sampai sejauh itu. Ibu Suri mengklaim kalau dia melakukannya demi membalaskan dendamnya atas kematian Raja Gyungjong agar Raja juga bisa merasakan sakit hati yang pernah dialaminya saat dia kehilangan suaminya.

Raja menghunuskan pedangnya dengan penuh amarah, tapi pada akhirnya dia memutuskan untuk membuang pedangnya. Dia memerintahkan Ibu Suri untuk diasingkan ke Ohjudang. Jika dia berani keluar dari tempat pengasingannya maka dia akan langsung dipenggal.


Setelah itu, Raja mengumpulkan para penulis sejarah Joseon dan memerintahkan mereka untuk memberikan semua catatan mereka tentang In Jwa dan pemberontakan yang dilakukannya. Mereka ragu karena catatan itu adalah sejarah yang diperuntukkan untuk generasi masa depan, bahkan hukum menyatakan bahwa Raja tidak boleh melihat catatan sejarah itu.

Raja langsung marah dan mengingatkan mereka bahwa dia adalah Raja yang jauh lebih tinggi daripada hukum apapun. Dia ingin semua catatan tentang In Jwa maupun pemberontakannya dimusnahkan. Semua catatan itu pun akhirnya diserahkan pada Raja dan Raja langsung membakar semuanya, menghilangkan semua jejak sejarah In Jwa dan menjadikan In Jwa seolah dia tak pernah ada.


Dae Gil dan Che Gun tengah berjalan bersama saat mereka melihat para prajurit menangkap semua saudara para menteri soron. Che Gun lalu memberitahu Dae Gil tentang apa yang sebenarnya terjadi di istana. Putra Mahkota meninggal karena diracuni dan dalangnya adalah In Jwa, Ibu Suri dan para menteri soron.


Karena itulah, Raja memerintahkan semua saudara dan kerabat para menteri soron ditangkap. Che Gun yakin kalau Raja pasti akan membunuh mereka dan menyingkirkan semua garis keturunan para menteri itu sampai ke akar-akarnya. Cemas, Dae Gil berniat pergi menemui Raja untuk menghentikan semua ini. Tapi Che Gun melarangnya dan menyuruhnya untuk tidak ikut campur.

"Apa kau tahu kesedihan akan kehilangan anak? Saat ini, kau tidak akan bisa mengubah pikirannya ataupun menghiburnya. Lagipula kau sudah meninggalkannya jadi sebaiknya kau diam saja. Jangan lagi melibatkan dirimu dalam masalah politik"


Dae Gil akhirnya kembali ke desa dan disambut hangat oleh semua orang. Sementara itu, Raja makan seorang diri dan sedih teringat akan ucapan Moo Myung bahwa dia akan hidup sendirian selamanya dan mati sendirian. Tapi kemudian dia mengingatkan dirinya sendiri bahwa seorang Raja tidak boleh bersedih.


Dia lalu memanggil kasim kembar dan menanyai mereka tentang keadaan di masyarakat sekarang ini. Mereka memberitahu bahwa walaupun ada yang masih bersedih atas kematian Putra Mahkota tapi keadaan relatif damai. Tapi...

Dalam flashback, salah satu kasim kembar mendengar beberapa orang sedang menggosipkan Dae Gil dan mengagung-agungkan kemurahan hati Dae Gil yang jauh lebih baik daripada Raja. Mereka juga dengar kalau Dae Gil itu berasal dari keturunan kerajaan.


Gara-gara rakyat memuja Dae Gil bagai raja, para menteri langsung menuduh Dae Gil sebagai pemberontak dan mengusulkan pada Raja untuk segera menangkap Dae Gil dan menghukum Dae Gil dengan seberat-beratnya sebelum dia melakukan aksi pemberontakan.

Tapi saat Raja menuruti keinginan mereka dan memerintahkan Dae Gil untuk ditangkap dan dieksekusi, para menteri itu malah saling berpandangan gelisah.

"Kenapa? Bukankah ini yang kalian inginkan?"

Setelah semua menteri pergi, Raja termenung mengenang saat-saat kebersamaannya dengan Dae Gil sejak pertama kali mereka bertemu.


Dengan dikawal oleh kasim kembar, Raja pergi menemui Dae Gil di desanya. Dia memperhatikan keadaan desa itu yang damai. Karena dia memakai baju bangsawan biasa, rakyat disana tidak ada yang mengenalinya, malah ada yang memprotesnya karena dia berdiri di tengah-tengah jalan. Raja hanya menanggapinya dengan diam dan minggir untuk memberi orang itu jalan.


Dae Gil muncul tak lama kemudian. Sambil memandang desa itu bersama-sama, Raja bertanya bagaimana kehidupan Dae Gil di sini. Dae Gil memberitahunya bahwa hari-hari di tempat ini terasa berlalu dengan cepat karena semua orang sibuk bekerja dan bertahan hidup.

"Jadi kau pasti tidak punya waktu untuk memikirkan hal lainnya. Benar, aku datang untuk membunuhmu. Walaupun sudah ada Raja yang duduk di atas singgasana, tapi orang-orang bilang ada seseorang yang berlagak bagai seorang raja. Karena itulah aku datang kemari hari ini"

"Silahkan, bunuh saja aku. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan orang-orang. Perasaan rakyat di jalanan melukaimu yang tinggal di istana. Jika kau menyebut itu pemberontakan maka aku tidak bisa berbuat apa-apa"


"Katakan padaku... perasaanmu yang sebenarnya. Didalam lubuk hatimu yang paling dalam, apakah hatimu memberitahumu bahwa kau adalah seorang raja?"

Dae Gil mengaku tak tahu. Mungkin dia akan berpikir lain jika seandainya Raja bukan adik kandungnya. Walaupun banyak orang yang menginginkannya menjadi raja ,tapi jika dia benar-benar menyingkirkan raja dari tahta maka orang-orang itu tidak akan menyukainya.

Orang-orang itu memujanya karena dia adalah salah satu dari mereka tapi bukan berarti mereka sungguh-sungguh menginginkannya menjadi raja. Dae Gil meminta Raja untuk lebih percaya diri sebagai pemimpin negeri ini.


Sebelum pergi, Raja bertanya-tanya apa rencana Dae Gil sekarang. Dia bertanya bukan sebagai raja tapi sebagai saudara. Dengan senyum, Dae Gil menjawab bahwa dia hanyalah satu dari banyaknya warga negeri ini. Dia akan bekerja jika waktunya bekerja, main jika waktunya main dan dia akan berjudi kadang-kadang. Seperti itulah dia menjalani hidupnya.

Raja tersenyum mendengarnya "Iya, kau memang memiliki sisi dirimu yang seperti itu. Dulu kau adalah orang sederhana yang tak punya beban di dunia ini. Dulu, ada saat seperti itu. Terkadang, aku merindukan saat-saat itu"

"Aku juga merasakan hal yang sama"

"Apakah saat-saat itu akan kembali? Saat-saat kita tertawa dan berjudi bersama" tanya Raja tapi tentu saja Dae Gil hanya bisa terdiam tak punya jawabannya.


Che Gun memutuskan untuk pensiun dari jabatannya di istana. Saat Raja bertanya apakah dia akan kembali, Che Gun mengaku bahwa dia sudah tua dan sudah tidak kuat lagi untuk kembali pada Raja. Raja mendesah sedih mendengarnya, kepergian Che Gun akan membuatnya makin kesepian duduk di atas singgasana itu seorang diri. Che Gun pamit dan berlalu pergi.


Suasana di desa sedang sangat ramai. Para wanita sibuk memasak dalam jumlah besar. Ternyata itu karena Dae Gil akan menikah besok dengan Seol Im. Tapi yang jadi masalah calon pengantin pria tidak terlihat dimana-mana, kemana perginya Dae Gil.


Tuan Nam malah curiga jangan-jangan Dae Gil kabur lagi. Seol Im langsung panik dan sedih, masa calon pengantinnya kabur padahal pernikahannya besok. Man Geum langsung menatap Tuan Nam dengan kesal dan meyakinkan Seol Im untuk tidak cemas, dia berjanji akan segera mencari Dae Gil.


Kasinonya Hong Mae ramai lagi seperti dulu. Yeon Hwa datang tak lama kemudian lalu bersama-sama mereka pergi berkunjung ke desa untuk menghadiri pernikahan Dae Gil dan Seol Im. Mereka juga datang dengan membawa banyak hadiah pernikahan. Tapi Tuan Nam menyayangkannya karena mereka akan bepergian sangat jauh setelah pernikahan jadi tidak akan bisa membawa semua hadiah itu.

Yeon Hwa dan Hong Mae kaget mendengarnya. Man Geum berkata bahwa mereka tidak bisa hidup di sini selamanya jadi mereka harus pergi dari sini. Hong Mae dan Yeon Hwa bertanya kemana mereka akan pergi dan apakah mereka sudah memiliki tempat tujuan. Seol Im mengatakan detilnya dan hanya memberitahu mereka bahwa mereka akan pergi ke tempat yang cukup bagus.


Che Gun punya seorang murid baru... lebih tepatnya anak kandungnya sendiri. Hari itu dia mengajari anaknya memanah tapi dia terus menerus meleset jauh dari sasaran sampai membuat Che Gun frustasi. Kesal, dia langsung memukul anaknya dan mengajarinya memanah dengan sekali lagi.

Che Gun memanah tepat sasaran hanya dalam satu kali percobaan tapi si anak tampak tidak terlalu tertarik dan hanya menatap kosong kedepan.


Si anak bertanya-tanya apakah ayahnya punya murid yang masih hidup. Dia pikir pelatihan yang diperlakukan ayahnya sangat keras, jadi dia mengira murid-murid ayahnya tidak akan tahan dan mati.

Che Gun mengklaim bahwa dia pernah memiliki seorang murid dan menggambarkan Dae Gil sebagai bocah bodoh yang bandel sama seperti si anak. Saat si anak bertanya apakah muridnya itu masih hidup atau tidak, Che Gun terkenang saat-saat dia mengajari Dae Gil sejak dia masih pemula hingga sukses menguasai semua ilmu ajarannya.

Che Gun berkata pada anaknya "Dia menjadi harimau yang hebat. Dia menerima perintah langsung dari Raja dan menyelamatkan rakyat negeri ini"

Si anak penasaran dengan muridnya Che Gun itu dan bertanya-tanya apa yang dilakukan mantan muridnya Che Gun itu sekarang. Che Gun menolak menjawab dan mengalihkan topik mengomeli si anak karena tidak bersikap sopan pada ayahnya sendiri dan menjitak kepala si anak. Dan saat anaknya protes, Che Gun tersenyum.


Dae Gil berjalan ke sebuah bukit dimana sudah ada Raja yang sedang menunggunya. Bersama-sama mereka memandang ke bawah bukit, tempat ibu kota berada.

~THE END~

2 comments :

  1. Tamat juga. Endng yg cukup baik

    ReplyDelete
  2. Kasian rajanya putra mahkotanya mati... jadi ini film terusannya dong yi? Tapi kalo cerita sukbin choi nya lebih suka versi dong yi nya...

    ReplyDelete