July 3, 2016

Jackpot Episode 24 - 1


In Jwa akhirnya berhasil ditangkap. Dae Gil berjalan terhuyung-huyung untuk menghadap Raja sebelum akhirnya dia pingsan. Raja diam saja sementara Seol Im dan Tuan Nam langsung berlari menghampirinya dengan cemas.


Dalam pingsannya, Dae Gil memimpikan saat-saat dia ditembak. Dia tersentak bangun dengan keringat dingin dan mendapati dirinya sedang dalam pengobatan. Dia keluar keesokan harinya dan melihat orang-orang berkumpul, saling bercakap-cakap membicarakan pemberontakan yang sudah usai.



Saat mereka melihat Dae Gil, semua orang langsung menghampirinya. Tuan Nam sangat lega melihat Dae Gil sudah bangun dan dia memberitahu Dae Gil bahwa Dae Gil pingsan selama satu setengah hari. Salah satu pria memberitahu Dae Gil bahwa pemberontakan sudah usai dan Raja akhirnya memutuskan untuk membiarkan mereka hidup.

Pria yang satu lagi langsung mengoreksi ucapannya. Walaupun Raja memutuskan untuk membiarkan mereka semua hidup tapi semua itu berkat jasa Dae Gil. Jadi mereka semua pun langsung berterima kasih pada Dae Gil.

Sekarang karena mereka sudah bukan lagi anggota pemberontak, Dae Gil meminta mereka semua untuk pulang ke rumah masing-masing dan menjalani hidup sebagai rakyat negeri ini. Mereka berterima kasih sekali lagi pada Dae Gil sebelum akhirnya  menyoraki Dae Gil.


Sementara itu, Mil Poong Goon sedang bersama Raja. Dia tampak gemetaran saat Raja menuangkan air untuknya sembari mengkonfrontasinya karena bergabung dalam pemberontakan. Saat Raja bertanya apakah Poong Goon melakukan itu karena alasan moral ataukah karena keserakahannya sendiri, Poong Goon langsung berlutut meminta maaf atas tindakannya. Dia mengaku bahwa dia bergabung bersama pemberontak demi rakyat tapi dia tidak menyadari bahwa In Jwa ternyata memiliki ambisinya sendiri.

"Saat ini seharusnya kepalamu dipenggal. Tapi karena kau memutuskan untuk berbalik melawan In Jwa. Dan karena aku sudah berjanji pada Baek Dae Gil. Jadi aku akan membiarkanmu hidup. Tapi, jangan pernah lagi menampakkan wajahmu di ibukota"


Raja kembali ke ibukota dengan diiringi elu-eluhan kemenangan oleh rakyat dan para menteri istana. Saat dia rapat bersama para menteri, dia menyatakan penghargaannya karena mereka telah berjasa mengawasi jalannya pemerintahan dengan baik selama dia pergi.

Para menteri soron yang dulunya bekerja sama dengan In Jwa, mengucap selamat atas kemenangan Raja. Tapi Raja mengaku bahwa dia belum memutuskan akan apa yang harus dilakukannya terhadap In Jwa.

Il Soo dan menteri soron lainnya menyarankan bahwa In Jwa pantas dihukum mati dan dia harus dieksekusi secepat mungkin. Raja lalu menyuruh dua orang pengawalnya masuk dengan membawa dua buah kotak. Hmm... kotak apakah itu?


Sementara itu, Dae Gil pulang bersama Tuan Nam dan Seol Im. Mereka disambut oleh Yeon Hwa dan Hong Mae yang sekarang sudah akrab dengan mereka semua. Man Geum juga pulang tak lama kemudian.



Dae Gil menyambutnya dengan menanyakan keadaan pemberontak di Jella-do dan Park Pil Hyun. Man Geum meyakinkannya bahwa rencana mereka berjalan dengan sempurna dan segalanya baik-baik saja.


Kedua pengawal meletakkan kedua kotak itu di hadapan Il Soo dan seorang menteri soron lainnya. Il Soo tampak cemas saat dia bertanya-tanya apa isi kotak itu. Raja hanya menjawabnya dengan tatapan mata tajam.
 

Il Soo dan si menteri akhirnya membuka kedua kotak itu dengan gugup... dan langsung menutupnya lagi dengan gemetar ketakutan.

Baru saat itulah Raja menjawab pertanyaan mereka "Itu adalah kepala Jeong Hee Ryang dan Park Pil Hyun. Bagaimana menurut kalian?"


Pada saat yang bersamaan, Dae Gil juga diberitahu Man Geum bahwa Jeong dan Park Pil Hyun sudah dipenggal. Dalam flashback, kita melihat Jeong disergap prajurit kerajaan sebelum akhirnya dihukum gantung dan dipenggal. Sekarang semua pemimpin pemberontak sudah mati jadi In Jwa pun tidak akan hidup lebih lama lagi.


Setelah melihat kepala Jeong dan Park Pil Hyun, para menteri soron langsung mengadakan rapat mendiskusikan nasib In Jwa dan nasib mereka sendiri. Seorang menteri menyarankan agar mereka menyelamatkan In Jwa dan mengembalikan kekuatannya karena jika tidak maka merekalah yang akan mati.

Lagipula dia yakin alasan Raja masih belum membunuh In Jwa pasti karena Raja tengah berusaha mencari tahu siapa saja orang-orang yang terlibat dengan In Jwa. Kalau Raja sampai tahu perjanjian rahasia yang mereka buat dengan In Jwa maka mereka pasti akan berakhir seperti Jeong dan Park Pil Hyun.


Raja menemui In Jwa. Sesuai dugaan si menteri soron, Raja memang membiarkan In Jwa masih hidup sampai sekarang supaya dia bisa menyuruh In Jwa untuk menulis daftar nama-nama pejabat istana yang bekerja sama dengannya. In Jwa dengan tenangnya menjawab, kenapa juga dia harus memberikan daftar itu pada Raja jika pada akhirnya dia akan tetap mati.

"Aku akan memberimu kesempatan untuk mengakhiri hidupmu sendiri. Jika kau tidak mau mengatakannya maka aku akan mengeksekusimu dihadapan rakyat"


Raja bahkan berkata bahwa dia juga akan mencincang tubuh dan organ dalam In Jwa dan memakannya pada babi. In Jwa mendengus geli mendengarnya dan berkomentar "Sekarang kau menjadi monster"

"Kau memanggilku monster? Aku senang mendengarnya. Monster dengan seratus mata dan seribu telinga. Menjadi monster seperti ayahanda adalah harapan terbesarku" Raja lalu memberikan sebuah belati pada In Jwa dan dia hanya akan memberi In Jwa waktu sampai besok pagi.


Dae Gil menghadap Raja. Dia cemas dengan cara Raja mengancam In Jwa. Jika In Jwa mati dengan cara seperti ini maka mereka tidak akan punya bukti untuk melawan para menteri itu. Tapi Raja mengklaim kalau dia sama sekali tidak membutuhkan bukti.


Para pejabat istana itu bergerak berdasarkan apa yang akan menguntungkan bagi mereka sendiri. Jika seseorang takut pada sesuatu lalu bagaimana caranya dia bisa mencapai apapun. Raja heran apa yang sebenarnya Dae Gil khawatirkan. Jika para pemberontak itu bangkit lagi maka dia hanya perlu membinasakan mereka. Jika mereka menghunus pedang maka dia akan menyerang balik

"Di dalam politik, tidak ada yang namanya sekali tebas. Kau harus meninggalkan akarnya agar bisa kau gunakan demi keuntunganmu sendiri. Kau akan melihat sendiri, lokasi In Jwa akan kubeberkan dan mereka pasti akan mulai bergerak malam ini"


Saat mereka berjalan bersama, Dae Gil mengeluh. Dia sama sekali tidak mengerti Raja, kenapa dia harus berubah seperti ini? Che Gun memberitahu Dae Gil bahwa dia tidak perlu mengerti Raja, dia tidak akan mengerti.

Itu adalah jalan yang harus ditempuh seorang Raja, jalan penuh bahaya dengan nyawa sebagai taruhannya hingga pada akhirnya yang dimiliki oleh seorang Raja hanyalah ego, kekuasaan dan kesendirian.

"Kau tidak akan pernah mengerti kecuali kau duduk diatas singgasana itu sendiri"

Seseorang datang memberikan sebuah pesan pada Che Gun. Pesan itu dari Jin Ki yang minta bertemu dengan Che Gun. Che Gun menyuruh Dae Gil untuk kembali duluan. Sebelum dia pergi, Dae Gil mengingatkan Che Gun bahwa Jin Ki sudah berubah dan berbalik melawan In Jwa.


Il Soo memimpin rapat bersama para menteri soron. Dia sudah mengetahui tempat In Jwa disekap. Dan sesuai dugaan Raja, dia mengusulkan agar mereka bertindak sebelum In Jwa buka mulut.


Che Gun pergi menemui Jin Ki. Dia sengaja keluar dari tempat persembunyiannya untuk menantang Che Gun duel. Che Gun menerima tantangannya dan mereka pun bertarung. Tapi lagi-lagi, Che Gun berhasil mengalahkannya dengan mudah.

Tapi Jin Ki tidak tampak benci ataupun dendam dengan kekalahannya. Dia malah tersenyum dan mengkritiki kemampuan Che Gun yang sekarang sudah tidak seperti dulu dan Che Gun pun memuji kemampuan Jin Ki yang semakin meningkat.


Dia mengaku bahwa walaupun dia berusaha membunuh In Jwa dengan tangannya sendiri tapi apa yang dilakukannya itu sama sekali tidak cukup untuk membayar kejahatannya sendiri. Dengan mata berkaca-kaca, Jin Ki berkata bahwa dia datang untuk membayar semua kejahatannya dan dia ingin Che Gun sendiri yang membunuhnya.



Jin Ki mulai menyerangnya lagi. Che Gun pun langsung menusukkan pedangnya pada Jin Ki. Tapi tusukannya tidak terlalu dalam. Jin Ki heran kenapa Che Gun membiarkannya hidup.

"Aku hidup cukup lama. Aku harus menebus dosa kepada dua orang. Pertama adalah istriku yang harus hidup bagai seorang janda karena menikah denganku. Orang kedua... adalah kau" ujar Che Gun

Demi menebus kejahatannya, Che Gun menyuruh Jin Ki untuk merenungkan semua kesalahannya selama sisa hidupnya. Jin Ki mengucap terima kasih dengan penuh haru dan Che Gun pun pergi.


Setelah itu Che Gun kembali ke Dae Gil dan memberitahunya bahwa Jin Ki akan pergi jauh dan Dae Gil tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Saat mereka duduk bersama dibawah cahaya rembulan, Dae Gil bertanya-tanya bisakah Raja kembali menjadi dirinya yang dulu lagi.

Tapi Che Gun memperingatkan Dae Gil untuk tidak berharap terlalu tinggi "Hidup adalah tentang menjalani jalan hidupmu sendiri dan menanggung bebanmu sendiri"


Il Soo mendatangi In Jwa di tempat dia dikurung. In Jwa bertanya ragu, Il Soo datang untuk menyelamatkannya atau membunuhnya. Pertanyaan In Jwa membuat Il Soo yakin kalau In Jwa pasti belum membeberkan apapun pada Raja. Karena itulah, sekarang dia datang untuk membunuh In Jwa.


Il Soo membawa seorang pembunuh untuk membunuh In Jwa. Si pembunuh mulai menghunus pedangnya saat tiba-tiba saja Sang Gil muncul dan menghentikan aksi si pembunuh. Dia lalu membawa si pembunuh untuk menghadap dan melapor pada Raja.

Dae Gil menghadap Raja. Dia menatap Raja dalam diam dan mengingat ucapan Che Gun bahwa dia tidak akan pernah mengerti jalan hidup seorang raja kecuali dia duduk diatas singgasana itu sendiri. Raja memberitahu Dae Gil bahwa In Jwa akan dieksekusi dan dia memerintahkan Dae Gil untuk mengawasi jalannya eksekusi dan mengkonfirmasi kematian In Jwa.


Dae Gil pun pergi untuk menjemput In Jwa. Tapi saat mereka berjalan keluar, In Jwa berhenti untuk memandangi istana yang selama ini begitu diimpikannya tapi tak dapat ia raih. Melihat arah tatapan In Jwa, Dae Gil menyadari kalau In Jwa masih juga belum bisa melepaskan tahta bahkan sekalipun di saat-saat akhir hidupnya.


In Jwa berkata bahwa dia tidak punya penyesalan apapun dalam hidupnya kecuali satu yaitu memilih Dae Gil. Itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.

"Yi In Jwa, kau itu penuh kontradiksi. Ucapanmu dan tindakanmu tidak sesuai"

"Aku tidak penuh dengan kontradiksi. Dunia inilah yang penuh dengan kontradiksi"


In Jwa ingin mengakhiri hidupnya di tangan Dae Gil dan langsung mencabut pedang Dae Gil. Tapi Dae Gil bergerak cepat menghentikannya. Dia tidak akan membiarkan In Jwa mati dengan cara segampang itu. In Jwa harus meminta maaf kepada rakyat dan mati sambil meneteskan air mata penuh penyesalan.


In Jwa akan dieksekusi di hadapan rakyat dengan cara kedua tangan dan kaki diikat pada 4 sapi hingga tubuhnya tercerai berai. Dae Gil, Che Gun dan beberapa menteri soron ada di sana untuk menyaksikannya. In Jwa marah pada mereka semua yang telah berbalik mengkhianatinya.

Dia mengklaim kalau dia tidak pantas mati karena dia melakukan semua ini demi kebaikan rakyat dan demi memakmurkan dan memperkuat negeri ini. Dia ingin mengubah negeri ini agar rakyat kecil tidak menderita.

"Kalian lihat saja nanti. Aku, Yi In Jwa, Suatu saat nanti... suatu saat nanti! Aku akan dibutuhkan jutaan kali lebih daripada kalian di negeri yang busuk ini! Kalian semua akan menyadari kalau kalian membutuhkan seseorang sepertiku!"


Genderang ditabuh, keempat sapi mulai ditarik ke 4 arah yang berbeda, In Jwa menjerit kesakitan saat kedua kaki dan tangannya ditarik.

"Aku, Yi In Jwa, tidak akan mati!" teriak In Jwa untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya dia mati.


Setelah itu, Dae Gil menghadap Raja untuk mengembalikan pedang pemberian mendiang Raja Sukjong. Pedang itu diberikan oleh mendiang Raja padanya untuk melindungi rakyat dan juga untuk melindungi Raja Yeongjo yang merupakan teman sekaligus saudaranya Dae Gil.


"Akan tetapi, sekarang ini saya hanya ingin hidup sebagai orang biasa. Sentimen publik itu sama seperti ladang ilalang. Kita tidak akan tahu akan berubah jadi seperti apa ketika angin menghembusnya. Saya mohon, gunakan kebijaksanaan anda. Pastikan hati rakyat tidak akan goyah dan pegang mereka erat-erat"

Raja menerima sarannya dan berjanji akan mengingatnya. Dae Gil berterima kasih dan berharap Raja akan menjadi raja yang baik dan bijak yang akan dikenang semua orang. Walaupun diam saja tapi sebenarnya dalam hatinya Raja bertanya-tanya sedih "Apakah kau benar-benar akan pergi?"

Saat Dae Gil hendak pergi, Raja memerintahkan Dae Gil untuk tinggal di tempat dimana dia bisa menemukan Dae Gil dengan mudah.


Sementara itu, para menteri soron tengah berkumpul di gibang. Il Soo merasa tak tenang bahkan sekalipun sekarang In Jwa telah mati. Dia merasa sepertinya mereka telah melewatkan sesuatu yang membuatnya punya perasaan tak enak. Menteri yang lain pun setuju.


"Tentu saja kalian harus merasa seperti itu" ujar Hwang Gu

Dia lalu menyerahkan bukti perjanjian rahasia mereka dengan In Jwa dan mengancam mereka untuk menepati perjanjian mereka. Jika tidak maka dia akan pergi ke istana sekarang juga untuk memberitahu Raja tentang perjanjian rahasia mereka dengan In Jwa.

Hwang Gu tidak takut dengan kemarahan mereka. Bahkan sekalipun mereka membunuhnya sekarang, dia sudah membuat persiapan dengan mengabarkan masalah ini pada 10 orang yang akan menggantikannya jika terjadi sesuatu padanya. Jadi sekarang pilihan ada di tangan mereka sendiri.


Il Soo akhirnya mengusulkan agar dia pergi menemui Ibu Suri dan memerintahkan yang lain untuk pergi ke penjara dan membebaskan Moo Myung. Il Soo menghadap Ibu Suri dengan membawa seorang dayang, lalu meminta Ibu Suri untuk membuat keputusan sekarang juga. Ibu Suri menyetujuinya.

Bersambung ke part 2

1 comment :

  1. kok ada video yg muncul jadi susah baca page nya. videonya ga bs di close kl buka pake hp. jd ngehalangin sinopnya mba....

    ReplyDelete