July 1, 2016

Jackpot ( Daebak ) Episode 23 - 2


Di luar In Jwa memberitahu Jin Ki dan Poong Goon kalau ada sekutu mereka di istana masih ada. Apalagi Ibu Suri juga bergabung dengan In JWa, dua pemimpin militer pun ikut berpaling dari Raja. Dengan sangat yakin In Jwa berkata kalau Raja hanya mengantarkan nyawa datang ke Anseong. Tak lama kemudian muncul seorang prajurit dan mengibarkan bendera putih. Melihat itu, In Jwa tertawa senang karena akhirnya Raja benar-benar mati.


Salah satu pimpinan militer muncul dan memberi kode pada In Jwa untuk masuk. Dengan penuh semangat, In Jwa kemudian menyuruh sebagian pasukannya masuk bersama Poong Goon. Ketika mereka semua masuk, In Jwa melihat gelagat yang aneh pada si pimpinan militer, dia terlihat gusar dan itu membuat In Jwa merasa ada yang aneh.  Saat akan memasuki benteng, Poong Goon melihat prajurit yang mengibarkan bendera dan si prajurit memberi kode sebuah anggukan. Hmm?? Sebenarnya apa yang terjadi? Yuk kita cari tahu jawabannya.

Setelah sebagian pasukan In Jwa masuk benteng bersama Poong Goon, gerbang benteng tiba-tiba di tutup, prajurit yang mengibarkan bendera putih pergi dan para prajurit khusus muncul dengan mengarahkan panah mereka ke arah In Jwa. Pimpinan militer yang tadi memberi kode pada In Jwa pun langsung di tangkap oleh prajurit.


Tak lama kemudian, Raja muncul bersama Sang Gil dan juga Dae Gil. Mengetahui kalau semua itu adalah ulah Baek Dae Gil, tentu saja In Jwa merasa kesal dan dia menyuruh sebagian pasukan yang masih bersama dengannya mundur.


Pasukan pemberontak langsung di kepung oleh prajurit istana. Poong Goon pun kemudian mengumumkan kalau mulai sekarang mereka semua bukanlah pasukan pemberontak. “Lee In Jwa tidak punya rencana besar. Satu-satunya yang dia miliki adalah keserakahannya,” ucap Poong Goon dengan tegas.


Bae Dae Gil muncul dan berkata kalau dia sudah lama menunggu Poong Goon. Hmmm... ternyata mereka berdua saudah bekerja sama.


Flashback!
Malam itu, ketika Poong Goon minta sendirian di kuburan pria yang mati di bunuh In Jwa, Dae Gil muncul menemuinya.

Flashback End!

Melihat apa yang terjadi, Raja pun teringat kembali ketika Dae Gil mengatakan 3 strateginya untuk mengalahkan In Jwa.


Flashback!

Raja bertanya apa rencana ketiga Dae Gil dan Dae Gil menjawab kalau pasukan di Honam dan Yeongnam adalah tangan Lee In Jwa dan Mil Poong Goon adalah pedang di tangan In Jwa. Sedangkan belati yang dia genggam adalah mata-mata yang In Jwa sembunyikan di dalam istana. 

“Mil Poong Goon dan kelompok radikal dari kubu yang kalah bekerjasama. Bagaimana caramu membuat mereka muncul?” tanya Raja yang masih tak mengerti pada rencana Dae Gil.

“Aku akan membawa para pemberontak mengikuti Mil Poong Goon untuk datang kesini,” jawab Dae Gil yang bermaksud menggunakan Poong Goon sebagai umpan. Raja kemudian bertanya lagi tentang cara Dae Gil mencari mata-mata yang bersembunyi di istana.

“Aku...akan menghunuskan pedangku dan menggarahkkannya ke lehermu,” jawab Dae Gil.
Flashback End
!

Kita kembali saat Dae Gil menghunuskan pedangnya pada Raja dan saat itulah kedua pimpinan menteri itu menunjukkan wajah aslinya. Mereka hendak menebaskan pedang mereka pada sang Raja, namun pedang itu dengan cepat di halau, satu oleh Raja sendiri dan yang satunya lagi di halau oleh Dae Gil. Murka karena sudah di khianati, tanpa basa basi Raja langsung menebaskan pedangnya pada salah satu pimpinan militer dan mereka sengaja membiarkan satu pimpinan militer hidup untuk menjebak In Jwa.


Ketika pimpinan militer itu muncul di depan In Jwa, Raja dan yang lain sedang bersembunyi di balik dinding dan itulah yang menyebabkan pimpinan militer itu terlihat cemas ketika pasuka pemberontak memasuki benteng.


Dae Gil meminta semua pasukan pemberontak untuk membuang senjata mereka karena kalau mereka menyerah mereka akan tetap dibiarkan hidup oleh Raja. Awalnya pasukan pemberontak ragu melakukannya, tapi setelah Raja muncul dan mengatakannya sendiri, semua pasukan pemberontak langsung membuang senjata mereka.

“Jangan takut. Pemberontakkannya akan segera berakhir,” ucap Raja.

“Kalian semua akan segera kembali ke rumah masing-masing,” tambah Dae Gil dan semua pasukan pemberontak langsung berlutut berterima kasih pada Raja.

“Kau sudah menyelamatkan rakyat lagi. Namun, tugasmu sudah selesai sampai di sini. Selanjutnya aku yang akan mengurusnya,” ucap Raja pada Dae Gil.

“Yang Mulia,” panggil Dae Gil seperti tak terima karena dia merasa Raja akan tetap melakukan pertumpahan darah. Namun Raja enggan membahasnya, dia berali pada  Mil Poong Goon.

“Mil Poong Goon, Aku akan memikirkan apa yang akan aku lakukan padamu setelah aku menangani para pemberontak,” ucap Raja dan pergi. 


Dae Gil yang tak ingin ada pertumpahan darah langsung mengejar Raja dan memintanya untuk membatalkan rencananya. Namun Raja tak bisa, karena sebentar lagi 100 ribu pasukan pemberontak akan datang. Kalau sekarang dia tak menghabisi In Jwa dan sisa pasukannya, maka ibukota akan hancur.

Dae Gil berkata kalau dia sangat yakin, rencana keduanya akan berjalan dengan baik. Namun Raja tak percaya, karena sampai sekarang mereka belum mendapatkan kabar tentang pasukan Pil Hyun dan Hye Ryang yang berhasil di hentikan.

“Malam ini adalah malam terakhir,” ucap Raja dan pergi.


In Jwa dan pasukan mendirikan tenda dan menunggu pasukan sekutu mereka datang. Jin Ki menghampirinya dan memberitahukan kalau situasi mereka semakin sulit, karena mereka hanya punya sedikit pasukan. Jin Ki kemudian menyuruh Jin Ki untuk memanggil komandan mereka, karena ada yang ingin dia bicarakan.


Dae Gil terus membuntuti Raja dan meminta sang Raja untuk memikirkan lagi rencananya. Masih pada keputusannya, Raja pun berkata kalau mereka tidak akan mendapatkan sesuatu tanpa adanya pengorbanan.

“Bagaimana kau bisa memaksa rakyat untuk berkorban?” tanya Dae Gil.

“Setelah pemberontakannya selesai. Aku akan memohon pengampunan. Aku akan menyiapkan upacara pemakaman bagi mereka dan memberikan bantuan. Kau bilang aku memaksa mereka untuk berkorban? Oleh sebab itu... Aku sudah siap dijuluki sebagai Raja yang kejam,” ucap Raja dengan yakin dan Dae Gil sudah tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa melihat adik kandungnya itu dengan tatapan sedih.


Strategi yang In Jwa gunakan adalah membuat benteng manusia. Dia sengaja menyuruh mereka semua berdiri di depan dan menghadapi semua prajurit istana agar mereka bisa bertahan sampai pasukan sekutu mereka datang. Jin Ki tak setuju dan protes, namun In Jwa tetap pada pendiriannya dengan alasan kalau mereka sudah sampai sejauh ini, mereka harus menghargai nyawa orang-orang yang sudah berkorban untuk mereka.


Raja berkata kalau malam ini, dia sendiri yang akan memimpin penyerangan. Apa yang Raja katakan benar-benar dia lakukan. Dia mendatangi tenda In Jwa, dimana para pasukan pemberontak sudah di bariskan di depan tenda untuk berjaga. In Jwa sendiri hanya berbaris di belakang mereka.


Tak mau membuang waktu lagi, Raja langsung menyuruh prajuritnya menyerang. Tak ingin pasukan pemberontaknya banyak yang gugur, Jin Ki pun turun tangan untuk mengalahkan para parjurit yang baru sedikit Raja kirim untuk menyerang. Tepat disaat itu Dae Gil muncul dan minta semuanya di hentikan. Namun Raja berkata kalau semuanya sudah terlambat.

“Mereka yang berdiri di depan itu hanya sebagai tameng,” ucap Dae Gil dan memperlihatkan ekspresi para pasukan pemberontak yang terlihat ketakutan.

“Mereka pemberontak yang sudah berkhianat,” jawab Raja dan kemudian menyuruh prajuritnya untuk membunuh mereka semua dan jangan sampai ada yang hidup. Berbeda dengan penyerangan sebelumnya, kali ini Raja menggunakan senapan.


Melihat rakyat yang sudah banyak mati, Dae Gil pun langsung menunggangi kudanya ke depan ketika Sang Gil memberi perintah menembak. Alhasil Dae Gil pun terkena tembakan dari senapan itu. Apa yang dilakukan Dae Gil tentu saja membuat Raja dan Sang Gil kaget.


Walaupun terkena tembakan, Dae Gil masih bisa berdiri dan melihat semua pasukan pemberontak menangis karena kehilangan keluarga mereka.

“Hentikan! Tolong hentikan semua ini! Lihat baik-baik... apa yang sedang terjadi, Apa ini...apa ini rencana besar yang kau inginkan? ” teriak Dae Gil pada In Jwa dan dengan santainya In Jwa menjawab kalau mereka tidak akan bisa mencapai hal yang besar tanpa adanya perngorbanan.


“Jaga dan jangan biarkan mereka masuk!” perintah In Jwa pada anak pasukannya. Dengan menahan rasa sedih mereka karena kehilangan keluarga dan sahabat, para pasukan pemberontak itu pun kembali ke barisan untuk melindungi In Jwa. Melihat itu, Raja pun memerintahkan pada prajuritnya untuk kembali menembak. Namun sebelum hal itu terjadi, Dae Gil langsung merentangkan tangannya dan menghalangi Raja menembak.


Tak lama kemudian Seol Rim, Tuan Nam dan rombongan rakyat yang lain muncul dan ikut menghalangi Raja untuk menembak. Tuan Nam meminta Raja untuk berhenti menembak dan Raja pun akhirnya luluh. Dia memerintahkan pada prajuritnya untuk menghentikan penyerangan.

Raja dan Dae Gil kemudian saling menatap, dan mereka berdua kembali teringat pada pembicaraan empat mata mereka sebelumnya.

Flashback!
Raja berkata kalau dia tidak bisa melindungi orang-orang yang sudah memberontak. Dae Gil pun kemudian berkata kalau dia akan membuktikan pada Raja kalau pasukan pemberontak itu, bukan lah pemberontak sebenarnya, mereka semua hanya rakyat biasa.
Flashback End!


Ternyata alasan Raja menghentikan penyerangan adalah karena dia ingin melihat apa yang sudah Dae Gil janjikan padanya. Dae Gil kemudian masuk ke kawasan In Jwa dan menemui In Jwa. Masih tak mau menyerah, In Jwa berkata kalau semua itu belum berakhir. Dae Gil kemudian berkata kalau In Jwa masih harus memilih, “Nyawa semua orang yang ada disini... Tergantung dengan pilihan yang akan kau ambil,” ucap Dae Gil.

“Jika kami peduli dengan kehidupan mereka, kami tidak akan pernah melakukan ini. Aku...Lee In Jwa....bisa kau kuburkan disini, ditempat ini, bersama mereka semua,” jawab In Jwa dengan yakin dan Dae Gil pun kemudian berkata kalau dia bersedia bergabung dengan In Jwa.

“Kau sudah banyak kehilangan anak buahmu. Mil Poong Goon sudah mengkhianatimu. Kau tidak memiliki hak atas tahta kerajaan.”


“Lalu...kenapa?” tanya In Jwa.

“Aku akan akan mempertaruhkan nyawaku padamu. Jika kau bisa membuktikan padaku kalau kau benar. Aku akan melakukannya,” ucap Dae Gil dan In Jwa bertanya bagaimana cara dia membuktikan dirinya. Dae Gil menjawab kalau mereka serahkan semuanya pada surga.

Ternyata yang di maksud pembuktian diri berdasarkan kehendak surga adalah dengan cara taruhan. Sang Gil merasa seorang Raja tak pantas melihat taruhan seperti itu dan meminta Raja untuk mengakhiri semuanya, namun sang Raja ingin menepati janjinya pada Dae Gil, dia ingin memberikan Dae Gil kesemparan untuk membuktikan semuanta. 


Dae Gil dan In Jwa sudah saling berhadapan dan Dae Gil kemudian mengeluarkan koin yang dia perjuangkan dan kemudian menyelamatkan nyawanya. Koin itu sudah mengubah kehidupan Dae Gil, jadi Dae Gil sangat yakin kalau koin itu jugalah yang akan menentukan nasib In Jwa dan juga Joseon. In Jwa setuju dan mau mengikuti permainan Dae Gil.


“Kita harus memperjelas 1 hal terlebih dulu. Membuat janji di depan semua orang yang ada di sini. Jika aku yang menang... Kau harus menyerah,” ucap Dae Gil.

“Jika kau yang menang. Aku akan melupakan rencanaku,” janji In Jwa dan Dae Gil mulai memutar koin, kemudian menutup koin dengan mangkuk. Mereka berdua taruhan menebak gambar apa dari koin tersebut yang mengarah ke atas.


“Bagian depan. Bagian yang ada kata Sang Pyung Tong Bo,” jawab In Jwa dan Dae Gil mau tak mau harus memilih bagian belakang. Sebelum Dae Gil membuka mangkuk, In Jwa berkata kalau dia penasaran, apakah surga memihak pada Dae Gil atau pada dirinya? Dengan yakin Dae Gil menjawab kalau dia tidak akan pernah mengajak taruhan jika dia tak yakin kalau dia akan keluar sebagai pemenang.


Mangkuk di buka dan benar, Dae Gil pemenangnya. Tentu saja hal itu membuat In Jwa langsung kebingungan. “Seperti yang kau janjikan, menyerah dan masuklah ke penjara,” ucap Dae Gil dan reflek pasukan pemberontak langsung mengeluarkan pedang mereka dan menghunuskannya ke arah Dae Gil. In Jwa kemudian berkata kalau dia tak bisa menepati janjinya untuk menyerah.

“Setelah malam ini... Pasukan pemberontakan yang besar dari Yeongnam dan Honam akan bergabung dengan kami. Kau pikir 100 ribu orang tidak bisa merebut benteng pegunungan Jukju?” ucap In Jwa dan Dae Gil langsung memberitahu kalau Jeong Hee Ryang dan Park Pil Hyun sudah di tangkap. Tentu saja mendengar kabar itu langsung membuat In Jwa panik.


Apa yang sebenarnya terjadi? Ternyata Park Pil Hyun memang benar-benar sudah di tanngkap dan semua itu berkat Man Geum. Sedangkan Hee Ryang di tangkap oleh Che Gun. Karena tidak akan ada pasukan bantuan yang datang untuk In Jwa, jadi Dae Gil pun meminta untuk menyerah. In Jwa murka dan menyuruh pasukannya menangkap Dae Gil, namun semua tak ada yang mau melakukannya, semua anak buah In Jwa malah menurunkan pedang mereka.



In Jwa kemudian menyuruh Jin Ki untuk menghabisi Dae Gil dan Jin Ki benar-benar mengeluarkan pedangnya, namun bukan di arah pada Dae Gil melainkan pada In Jwa. WOW!

“Apa yang kau lakukan?” tanya In Jwa kaget.


“Kau yang mengatakan sendiri. Sebuah bangsa untuk rakyat. Kau bilang kau akan menempatkan raja untuk rakyat. Tapi, tidak bisa memberi makanan bagi mereka yang kelaparan. Kau memanfaatkan perut mereka sebagai tameng anak panah! Aku sangat menentang soal itu. Haruskah aku membiarkanmu hidup? Atau... haruskah aku mati bersamamu? Kau orang yang sudah aku anggap sebagai guruku. Akulah yang harus membunuhmu. Jangan biarkan masalahnya menjadi semakin bertambah parah,” ucap Jin Ki dan hendak menebaskan pedangnya ke leher In Jwa, namun dia larang oleh Dae Gil.

“Nyawanya menjadi milik rakyat. Sekarang bukan saatnya,” ucap Dae Gil dan kemudian para prajurit masuk untuk menangkap In Jwa. Tak ingin di tangkap dan di hukum bersama In Jwa, Jin Ki pun memilih melarikan diri sendirian dan Dae Gil membiarkannya.


In Jwa di tangkap dan Dae Gil berkata kalau sekarang In Jwa sudah tamat. Tentu saja In Jwa terlihat sangat marah pada Dae Gil.

Bersambung ke sinopsis Jackpot Episode 24.


No comments :

Post a Comment